Tuntutlah Ilmu ke Cina Bukan Sabda Rasulullah
8,739 viewsPERINGATAN !!! Jangan hanya membaca judulnya saja. Baca isi, atau paling tidak kesimpulannya.
“Tuntutlah ilmu, walaupun ke negeri Cina”
(HR. Ibnu Addi dalam Al-Kamil (207/2), Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (2/106), Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (9/364), Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhol (241/324), Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ (1/7-8), dan lainnya, semuanya dari jalur Al-Hasan bin ‘Athiyah, ia berkata, Abu ‘Atikah Thorif bin Sulaiman telah menceritakan kami dari Anas secara marfu’)
Kita sudah sangat sering mendengarkan kalimat diatas dari cermah ataupun khutbah Jumat. Tidak sedikit “da’i” yang menyatakan kalimat tersebut merupakan ucapan Rasulullah.
Tapi tahukah anda bahwasannya menurut ahli hadis kalimat itu bukan berasal dari sabda Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam.
Ini adalah hadits dhaif jiddan (lemah sekali), bahkan sebagian ahli hadits menghukuminya sebagai hadits batil, tidak ada asalnya.
Ibnul Jauziy –rahimahullah- berkata dalam Al-Maudhu’at (1/215) berkata, ‘’Ibnu Hibban berkata, hadits ini batil, tidak ada asalnya’’.
Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah- menilai hadits ini sebagai hadits batil dan lemah dalam Silsilatul Ahaadiits Adh-Dha’iifah jilid I nomor hadits 416.
Ibnu Hibban berkata, “Hadis tersebut bathil, tidak bersumber (dari Nabi Sallahu alaihi wassalam) sama sekali. Hadis di atas disebutkan di hadapan Imam Ahmad lantas beliau mengingkari dan membantah keras hal tersebut.”
As-Suyuthiy dalam Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah (1/193) menyebutkan dua jalur lain bagi hadits ini, barangkali bisa menguatkan hadits di atas. Ternyata, kedua jalur tersebut sama nasibnya dengan hadits di atas, bahkan lebih parah. Jalur yang pertama, terdapat seorang rawi pendusta, yaitu Ya’qub bin Ishaq Al-Asqalaniy.
Jalur yang kedua, terdapat rawi yang suka memalsukan hadits, yaitu Al-Juwaibariy. Ringkasnya, hadits ini batil, tidak boleh diamalkan, dijadikan hujjah, dan diyakini sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Diriwayatkan dari Abu al-’Atikah : Pada sanad hadith ini adanya Abu al-’Atikah yang tidak dikenali, dan tidak ada bagi hadith ini asal-usulnya. (al-Bazzar di dalam al-Bahr al-Zukhar)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Batil, tidak ada asal baginya (Ibn Hibban di dalam al-Majruhin)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah. : Dengan sanad ini ianya Batil, terdapat Ahmad al-Juwaibari dia adalah seorang pemalsu hadith. (Ibn ‘Adiy di dalam al-Kamil fi al-Dhu’afa’)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Matannya masyhur dan isnadnya dhoif, ia diriwayatkan juga dari beberapa bentuk, semuanya dhoief/lemah. (al-Baihaqi di dalam Sya’b al-Iman)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Di dalam sanadnya ada Abu ‘Atikah Torif bin Salman, sangat mungkar hadith. (Ibn al-Qaisarani di dalam Tazkirah al-Huffaz)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Diriwayatkan melalui dua sanad, kedua-duanya dhoief. (Ibn al-Qaisarani di dalam Dakhirah al-Huffaz)
Ibn al-Jauzi di dalam al-Maudhu’aat : Tidak sahih.
al-Sakhawi di dalam al-Maqasid al-Hasanah : Lemah.
al-Zarqani di dalam Mukhtasar al-Maqasid : Lemah.
al-’Ajluni di dalam Kasyf al-Khafa’ : Lemah.
al-’Ajluni di dalam Kasf al-Khafa’ : Di dalamnya ada pendusta
Adapun perkataan Al Mizziy yang mengatakan bahwa hadits ini bisa diangkat hingga derajat hasan karena dilihat dari banyak jalan, pendapat ini tidaklah bagus (kurang tepat). Alasannya, karena banyak jalur dari hadits ini dipenuhi oleh orang-orang pendusta, yang dituduh dusta, suka memalsukan hadits dan semacamnya. Sehingga hadits ini tidak mungkin bisa terangkat sampai derajat hasan.
Adapun Al Hafizh Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan bahwa sebagian jalan dari hadits ini ada yang sholih (dinilai baik). Maka kita terlebih dahulu melacak jalur yang dikatakan sholih ini sampai jelas status dari periwayat-periwayat dalam hadits ini. Namun dalam kasus semacam ini, penilaian negatif terhadap hadits ini (jarh) lebih didahulukan daripada penilaian positif (ta’dil) dan penilaian dho’if terhadap hadits lebih harus didahulukan daripada penilaian shohih sampai ada kejelasan shohihnya hadits ini dari sisi sanadnya. Dan syarat hadits dikatakan shohih adalah semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat). Inilah syarat-syarat yang dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab Mustholah Hadits (memahami ilmu hadits).
Bagaimanapun juga, dalam setiap situasi dan kondisi, cukuplah kiranya berpedoman pada sekian banyak nash-nash (dari Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam) yang memberikan semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu serta keutamaan dalam meraihnya. Sebagaimana halnya sabda Rasulullah Salallahu alaihi wassalam yang berbunyi :
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”
HR. Ibnu Majah no. 220 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dan diriwayatkan oleh sekelompok ahli ilmu, diantara mereka adalah Ath-Thabrany, Al-Khatib, Al-Baihaqy dan lainnya, dari riwayat Anas, Ibnu Sa’id dan yang lainnya — Semoga Allah senantiasa meridhai mereka.
Begitu juga sabda Rasulullah yang berbunyi :
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu di dalamnya, maka Allah akan menuntunnya menuju jalan di antara jalan-jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat akan mengepakkan sayap-sayap mereka untuk sang penuntut ilmu, karena ridha (terhadap apa yang ia perbuat). Dan sesungguhnya, orang yang berilmu itu akan dimohonkan apapun oleh seluruh penghuni langit dan bumi serta ikan-ikan di perut laut. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan seorang ahli ibadah, adalah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang di angkasa. Sesungguhnya para ahli ilmu (ulama) adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya, para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan juga dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu semata. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sejatinya ia telah mengambil bagian yang banyak.”
(Hadis sahih : diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), At-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no.223), dan Ibnu Hibban (no.80 al-Mawaarid), lafadz ini milih Ahmad, dari Sahabat Abu Darda’ radhiyallaahu’anhu.)
Kesimpulan :
Kalau ada yang Sahih (sah) mengapa pakai yang dhoif (lemah) ?
Bolehlah kita memberi nasihat tuntutlah ilmu setinggi2nya, tuntutlah ilmu sampai ke ujung dunia, ke Cina, Jepang, dll. Tapi tidak boleh mengatasnamakan hal tersebut berasal dari Rasulullah Sallahuallaihi Wassalam.
Wallahua’lam bishowab.
Penulis : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/tuntutlah-ilmu-ke-cina-bukan-sabda-rasulullah/
Referensi :
- Hadits-Hadits Dha’if Populer, Syeikh Abdul Aziz As-Sadhan
- Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 01 Tahun I
- Al-Qayyim
- Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 22/233-234, Asy Syamilah
- Larangan yang Terlupakan
- Tinggalkan jika bertentangan dengan Al-Quran dan Hadis
- Selamat Idul Fitri ala Rasulullah SAW
- Sedang UTS, jarang Nge-Blog
- Khasiat Kurma
- Solusi Mudah Menentukan Hari Raya Idul Fitri
- FK Sumatera
- Toko Buku Islam di Seluruh Indonesia
- Ucapan “Shodaqollahul Adhim” Quran Bidah
- Islam Melarang Bom Bunuh Diri

Kirim ke Teman di Facebook










aye pernah denger juga kalau hadith ini palsu. .. apalagi kalau menuntut ilmunya sampe ke amrik, trus jadi liberal lagi, masya Allah
Saya ga komentar soal agamanya, tp menurut saya maksudnya bukan harafiah ke negara ‘China’, tapi lebih ke : menuntut ilmu ‘setinggi-tingginya’, tanpa batasan..
ah yang penting makna-nya aja kalo buat saya mah..
Dimanapun ilmu itu dicari, yang lebih penting adalah pengamalannya
Sekarang di tengah keterpurukan di segala bidang, menuntut ilmu kemana mana aja tidak masalah. Kita masih perlu banyak belajar dan belajar.
Jangan heran kelak muncul pepatah ‘tuntutlah ilmu, walau ke negeri blogospher’
dah lama aku denger hadits ini ga jelas sanadnya (pendeknya dhoif lah), tp belum dapet keterangan rinci mengapa begitu. alhamdulillah ada disini
cina emang terkenal akan ketinggian nilai seni budaya serta strategi perang ala sun tzu, mungkin itu yg mengispirasi para pembuat hadist palsu
TUNTUTLAH ILMU SETINGGI BINTANG..TOH KALO MELESET, MAKA AKAN BERADA DIANTARA BINTANG2..
pada masa rasulullah, negeri cina sedang berada dipuncak kejayaan. pada saat itu perekonomian, teknologi, ilmu pengetahuan, militer dll dikuasai oleh cina. demikian mengapa rasulullah mereferensikan cina.
kejayaan cina memang sempat hilang, sehingga muncullah anggapan bahwa hadist tersebut palsu.
yang penting maknanya harus dipahami, sesusah apapun kita harus terus belajar.
ini dia yg aLe cari,
secar dulu waktu sering isi materi (organisasi)
ketika pakai kalimat ‘tuntutlah ilmu…dst’ itu ga pake itu hadis nabi..
*karena ragu*
dan skr jd smakin jelas
Saya pernah melakukan pencarian mengenai hal ini dulu (saat saya masih duduk di bangku SMP) dan mendapatkan jawabannya dari sebuah buku yang saya sudah lupa judulnya
Membaca posting bung Rosyidi ini membuat saya jadi ingat kembali. Thanks atas artikelnya, semoga bisa bermanfaat bagi yang lainnya.
Btw, berdasarkan pengamatan saya, kalimat ini sekarang memang sudah jarang dipergunakan lho.
hadist itu mmg bukan dari rasulullah.
oya, ttg “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”
kl agam punya referensinya, tolong disharing di blog ini juga, yg wajib dipelajari itu ilmu apa aja. soalnya ada yang berpendapat bahwa yg wajib itu ilmu agama macam hadist dll, sedangkan ilmu keduniawian macam kedokteran, teknik, dll bukan kewajiban melainkan dibolehkan.
kl aku menganggap apa yg ada di bumi ini juga perlu dan wajib dipelajari namun blm nemu dalilnya.
Hemmm.. menarik gam postingmu… dan komentar yang ada di sini… Oh iya, makasih atas sarannya tuk update postingku.. Lagi sibuk sidang TA soalnya.. Btw, menuntut ilmu memang wajib.. tiap orang yang ingin selamat di dunia dan akhirat wajib dengan ilmu….
Memang hadist itu palsu… dan sebaiknya tidak digunakan untuk mengingatkan jama’ah.. soalnya aku juga masih sering denger di Jamaah shalat jum’at…
Di sebuah plang, pernah menemui ada tulisan “Cinta Negara adalah Sebagian dari Iman”
Subhanallah, kok saya baru tau ya?
ternyata ilmu yang saya miliki memang sangat sedikit,
thx, bermanfaat sekali
Makanya saya rada hati – hati klo menggunakan hadist. Malah yang saya baru tahu klo bersalaman setelah sholat itu mengarah ke bid’ah, ada di buku Bid’ah Bid’ah …. lupa belakangnya, nanti saya coba updet..
Mari berpikir cerdas
china, calon negara adidaya, terdapat banyak hal-hal yang indah dinegeri china, gunung yang indah, sungai yang indah, bangunan yang perkasa, jembatan terpanjang, bendungan terbesar dunia, kota-kota china yang maju, penduduk terbesar didunia, kebudayaan tertua didunia, mengenal Dzat Tuhan, Tao, sebagai Dzat pencipta, Yang Maha Menguasai, menghidupkan semua makhluk, yang memelihara laksa makhluk, mengedarkan surya dan rembulan, yang ada dengan sendirinya, Tiada dilahirkan, Tiada musnah, itulah ajaran Tao, dari Lao Tze, 3000 sbelum masehi, atau 5000 tahun yang lalu, sudah mengenal hakikat Tuhan, jauh sebelum islam itu ada.
@ John
Nggak hanya china yang hebat kalau diukur dari SDA maupun peninggalannya. Khilafah(daulah) Islam juga pernah berjaya ratusan tahun dan eksis selama +- 13 abad. Dan ketika khilafah Islam yang menjadi negara adidaya, tidak semena2 seperti AS sekarang. Bahkan banyak rakyat di luar khilafah yang ingin agar negerinya segera dikuasai negeri ini. Hukumnya didasarkan pada syariat, hukum Tuhan. Jadi bisa dibayangkan kalau memang agama Islam adalah agama yang sempurna.
* flashback kejayaan Islam di masa lalu aja
ketika islam baru ada (400 masehi) dikala itu, diibaratkan seorang anak yang baru belajar merangkak untuk menggapai sang Kekasih, untuk bertemu sang Kekasih.
dan Taoism(di China) dikala itu(400 masehi), diibaratkan seorang anak yang telah beranjak dewasa dalam bertemu sang Kekasih dan telah melihat sang Kekasih, serta duduk disamping Kekasih, Tuhan Sang Pencipta.
maka tidaklah heran, bila ada hadist yang berbunyi : “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”
Alhamdulillah…
Soalnya diriku ingin menuntut ilmu ke tokto
kok keturunan Musa bengal betul ya, Israel, dan keturunan Nabi Isa, Amerika dan Eropa dan Australia, Brazil, juga Rusia, dan juga keturunan China, india, afrka, bego amat ya keturunan mereka, tidak tahu kalo sesungguhnya nenek moyang mereka adalah Islam juga.
apa mungkin nenek moyangnya yang salah? tidak diberitahu kalau sejak zaman Nabi Nabi itu ada, bahwasanya mereka adalah umat Islam, dan keturunan-keturunannya diberitahu sejak pertama kalo bapaknya, datuknya, nenek moyangnya, hingga manusia pertama adalah Islam semua. coba seandainya diberitahu dari dulu sekali sebelum ada Nabi Muhammad, Isa, atau Nabi Ibrahim, maka sejak dari zaman purba dulu, tentu semua umat manusia sudah Islam, dan tidak ada satupun keturunannya yang masuk neraka jahanam selamanya. Siapa yang salah?
Wah hadis ini sih populer banget, bahkan pas ujian agama Islam di SMP dulu salah satu pertanyaan yng saya dapat mengenai hadis ini.
Nb: Agam keblog yah, ada tugas buat kamu. Sukron!
Allah menunjuki siapa saja yang dikehendakiNya dan menutup hati siapa saja yang dikehendakiNya.
“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak ditipu syaitan) maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
perbuat” (QS. Fathir:8)
Mungkin karena itulah diwajibkan bagi setiap Muslim untuk menuntut ilmu (agama).
Ass….ehe..thanks atas ilmunya. oiya salam kenal mas Rosyidi
Wahhh, baru tahu ada blog keren gini. Infonya bagus-bagus lagi. Salam kenal ya….
Memang banyak istilah populer yang dianggap sebagai hadits, seperti ungkapan “Kembali dari Jihad kecil ke Jihad Besar yaitu melawan hawa nafsu” itu bukan hadits, silakan baca selengkapnya di eramuslim. Dan masih banyak lagi yang lainnya..
Assalamualaikum!!!
Wah mas Thanks ya Informasinya! aku sering online lo ma web ya mas? Banyak Ilmu – ilmu yang saya ambil dari blog ini. Salam kenal ya?
Matur nuwun nggih???? ^_^
Artikel yang bagus…
salam kenal…
artikelnya bagus sekali, boleh kenalan?
Saya sangat setuju sekali dengan kesimpulan yang diambil oleh Mas Agam bahwa kita tidak boleh mengambil hadis atau sebagai rujukan yang ternyata masih belum jelas kesahihanya walaupun hanya sedikit dengan mengatas namakan Rosululloh SAW dengan mengingatkan beberapa hadis nabi yang berbunyi :
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berdusta tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”. (HR Muttafaqun ‘alaihi).
kutukan, penuh kutukan, sebaiknya Ia tidak menciptakan makhluk. Mau apa Dia hanya sendiri. Dia sengaja ciptakan neraka dan tertawa ha ha ha melihat makhlukNya disiksa, Allah Allah wajarlah bila yang mulia Al hallaj menentang kediktatoranMu. Allah Allah sungguh aku juga mnentangMu, menentang kediktatoranMu.
jika aku menyembah Engkau hanya karena takut neraka, masukkanlah aku kedalam neraka.
jika aku menyembah Engkau hanya mnyukai surga, janganlah masukkan aku kedalam surga itu. sungguh aku menymbah Engkau karena hanya Engkau semata, jangan sembunyikan dariku keindahanMu.
kutukan, mendoakan kutukan pada sesama ciptaanNya agar masuk neraka, sungguh terlalu. lihat yang mulia rabi’ah, betapa baiknya dia, yang berharap sesama ciptaanNya tidak ada yang disiksa. dampak cinta rabi’ah pada Allah sungguh luar biasa, hingga ia juga mencintai manusia seluruhnya sebagai hamba-hamba Allah, dia mengatakan ” ya Allah, nanti kalau diakhirat jadikanlah tubuhku sedemikian besar, sehingga memenuhi ruang neraka, agar tidak ada lagi seorang hambaMu yang dimasukkan ke neraka.
inilah namanya kasih sayang pada sesama makhluk ciptaanNya yang bebas diskriminasi.
untuk komentar no.34
Sungguh keterlaluan, hanya karena satu bunyi ayat hadist ini, engkau menyamakan tetua muslim masa lalu itu sebagai pendusta bagi rasul. Dan sekonyong-konyongnya kamu telah memakai nama rasul kalau mereka telah berdusta pada rasul, dan berharap tetua muslim pada masa lalu yang menyampaikan hadist ini sebagai penghuni neraka. Sungguh lancang engkau.
Saudara/i muslimin dan muslimah yang dikasih Allah.
jangan terlalu serius menanggapi ayat “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.
itu mungkin hanyalah salah satu majas bahasa.
yang berarti Tuntutlah ilmu setinggi mungkin.
Salam.
ya memang, kalau itu salah, ak yakin akan g baik juga buat kita, kalau itu benar (maksudnya: perawinya benar) pasti itu bermanfat buat kita. kalau gitu sekarang ak g ngebet nyari ilmu k cina dong, mendingan ke madinah/makkah kali ya… yang tentunya pasti kan banyak ilmu yang bermanfaat.
A nanya, gimana kalau hadist tentang adzan untuk anak yang baru lahir itu, katanya hadistnya lemah juga? kalau memang benar, hal apa yang harus dilaksanakan pertama kali tuk anak yang baru lahir menurut nabi?
jazakalloh
tidak tahu juga apa itu bohong atau tidak??
seandainya itu tidak bohong, justru kita yang meng
fitnha tetua itu kalau mereka telah berbohong.
saya rasa itu tidak terlalu bermasalah hadist sperti itu,
cuma majas bahasa saja,
kecuali ada hadist yang bilang kencing unta jadi obat,
nah itu baru diragukan? apa benar dari rasul.
—
Assalamu’alaikum wr. wb.
” menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim ”
Mohon mas Rosyidi jelaskan :
(1) Apa yang dimaksud dengan ilmu . Apakah hanya terbatas ilmu-ilmu agama( yang berkaitan dengan Qur’an hadits ) saja?
(2) Bagaimana dengan ilmu-ilmu umum, misalnya sains, teknologi , sosial budaya dsb ?
(3) Mohon diberikan dalil-dalil sohih untuk mendukung jawaban di atas agar lebih mantap!
Wassalamu’alaikum wr.wb
Kang mardi
Sebaiknya Yg buat ini blog harus ngaji dl ke ulama2 nih.Jgn ngaji nya dr buku2,majalah islam yg bisa juga penulisnya itu kafir alias musuh islam yg ga jelas asal-usulnya….ALLAHU AKBAR
ya udah biar kamu senang deh
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Arab”
belajarnya di pesantren … ilmu2 laen FISIKA, KIMIA, KEDOKTERAN, SAINS, COMPUTER dan ilmu2 sekolahan diganti aja dgn Ilmu Islam (ARAB) dan juga JIHAD
sekalian juga gak usah pakai barang2 buatan kafir
(karena bukan produk Arab)
rosyidi:
Jika anda sudah merasa pintar dalam ilmu hadis, ….
->
menurut saya Anda kelewat merasa kepintaran tuh, sampe2 ini saja dijadikan masalah besar …
biarlah orang yg lebih berwenang yg ngurusin itu, ngapain kita ikut2an memperuncing masalah hadis
Dokter aja kalo kasih resep kadang suka lihat bukunya lage,
takut salah kasih resep meskipun dia udah Dokter
(biar kalo dituntut, yg disalahin yg buat bukunya)
ngomong2 ini blog agama ya? ini blognya kira2 HALAL gak ya?
banyak iklan2 bisnis yg gak ISLAMI dari non Islam …
—
Rosyidi:
Meskipun kita menganggapnya baik, tapi SELURUH ULAMA SEPAKAT tidak memperbolehkan hal tersebut.
->
he he pinter deh kamu
rosyidi:
Tapi tidak boleh mengatasnamakan hal tersebut berasal dari Rasulullah Sallahuallaihi Wassalam.
–>
kalo rasulullah sallahuallaihi wassalam kasih pesan bunuh orang yg bukan Islam dgn alasan apapun trus kamu turuti ya?
saya merasa kasihan dgn Anda, karena Anda tidak menggunakan Hati nurani dan logika Anda, dalil yg Anda gunakan adalah
karena itu PERINTAH dari tuhan kami
maksud teman kamu baik, tapi kamu ngotot dgn opini kamu
coba kamu pikir deh, kemana pihak berwenang yg ngurusin ini?
kenapa tidak ditiadakan dolo sementara dari awal supaya umatnya tidak gonjang-ganjing kalimat tsb (tolong pikirin deh)
kenapa mereka biarin aja? sedangkan Anda sewot minta ampun,
padahal wewenang Anda tidak sebesar mereka
kalo anda merasa jago tentang Islam neh coba debat dgn orang
yg sudah murtad dari Islam
(saya katakan jago krn Anda seperti orang yg sudah pakar)
neh webnya, gua gak mampu, mungkin elo mampu
woi semuanya salah yg benar itu kata sikus hadistnya tuh palsu……….
Setau saya, Memang banyak hadits palsu (Dhaif) beredar yg dirasa pendengar itu baik yg diyakini mereka dan memang menganggap itu perkataan Rasulullah, padahal sebenarnya yg mesti intropeksi adalah kita sendiri, bagamana kita mempelajari ilmu al-hadits bagaimana kita mencari ilmu agama sedalam2nya, agar tidak tersesat dan menyimpang dari Alquran dan Hadits shahih. jd bagus kalo memang antum punya ilmu yg harus diberikan kepada orang2 yg awam ilmu. asal semua harus ada dasar dari para ulama ahlussunnah yg hidup di jaman sekarang. buat kita merujuk karena memang mereka yg mengetahui dasar2 hadits. Jazzakumullah khairan
lihat kedepan yg terpenting kita belajar dan belajar kenapa meributkan sahih dan tidaknya? nanti kita berhenti dan ragu untuk belajar dan belajar….saya curiga orang yg selalu buka forum membahas yg sdh baik ini yg akan membuat ragu dan berhenti utk berbuat baik,msh banyak hal lain yg perlu kita bahas dan perbaiki di negeri ini…tanks.
Rosyidi :Sepertinya anda belum membaca artikel diatas dengan seksama.
Derajat suatu hadis (Sahih, Dhoif, dll) sangatlah penting.
Islam bukan agama yang melihat hasilnya.
Tapi melihat prosesnya.
Contoh, si Fulan mendapatkan gula. Hasilnya sudah terlihat jelas Gula. Gula itu halal. Tapi kita lihat dulu proses dia mendapatkannya.
Kalau dia mendapatkan dari membeli gula itu tetap halal. Tapi kalau dia mendapatkannya dari mencuri, maka gula itu jadi haram.
***tetapi bagaimanapula jika makanan yang dicuri sprti roti/gula, sebenarnya diperlukan oleh anak yang sedang kelaparan ,bukankah si ibu/bapa yang terpaksa mencuri bagi memastikan anaknya tidak mati kelaparan? Mereka,biarpun mencuri tetap punya tanggungjawab sebagai ibu/bapa untuk menyelamatkan anak mereka? Bukankah ia juga bergantung kepada niat? aku musykil sekali..
kok repot2 mengoreksi saudara se IMAN. Berbuatlah yang lebih nyata untuk Ummat
Artikel ini mungkin juga bisa dibaca sebagai “pelengkap” … Wallahu’alam bissawab.
Sebagai contoh, Mufti termuda kita (Mufti Perlis) baru-baru ini membuat kenyataan di dalam Berita Harian pada 5hb Januari 2007 bahawa ramai di kalangan ustaz-ustaz kita yang mengajar di masjid dan surau membacakan hadis palsu. Beliau mendakwa bahawa hadis : “Tuntutlah ilmu walau sehingga ke negeri China ” merupakan hadis palsu. Mufti itu mengajak kita supaya merujuk kepada beberapa kitab yang diisyaratkannya. Tetapi beliau sendiri tidak meluahkan isi sebenar kandungan kitab-kitab yang menjadi rujukannya itu. Ini satu metodologi penyembunyian fakta secara terhormat. Dan bukan dari prinsip kesarjanaan dalam Islam.
Marilah kita sama-sama membuka minda untuk menilai status hadis : “Tuntutlah Ilmu walau sehingga ke negeri China ” dengan sejelas-jelasnya. Apakah dakwaan Mufti termuda itu boleh dianggap sebagai satu fakta yang benar?
Sebenarnya, hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Rabi’ di dalam Musnadnya pada Bab Menuntut Ilmu dan kelebihannya hadis bernombor 18. (lihat al-Rabi’ bin Habib bin Umar al-Basri, Musnad al-Rabi’, cetakan Dar al-Hikmah : Bayrut, 1415H, tahkik Muhammad Idris, juz 1 m/s 29)
Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Syuab al-Iman, hadis bernombor 1663. (lihat Abu Bakar Ahmad bin Hussein al-Baihaqi, Syuab al-Iman, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Bayrut, Cet Pertama, 1410H, tahkik : Muhd Sa’id Basyuni Zaghlul, juz 2 m/s 253).
Hadis ini juga disebut di dalam Musnad al-Bazzar bernombor 95. Akan tetapi al-Bazzar menolaknya dengan menarafkan sebagai palsu. Atas alasan Abi ‘Atikah merupakan perawi yang tidak dikenalinya. (Abu Bakar Ahmad bin Amru al-Bazzar, Musnad al-Bazzar, Muassasah Ulum al-Qur’an : Bayrut, Cet Pertama, 1409H, tahkik : Dr Mahfuz al-Rahman Zainullah, juz 1 m/s 75)
Hadis ini juga disebutkan oleh Abi Syujak Syarawaih al-Hamazani di dalam Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab bernombor 236. (lihat al-Hamazani, Firdaus bi Matsur al-Khitab, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Bayrut, Cet Pertama, tahkik: Muhd Sa’id Basyuni Zaghlul 1986M, juz 1 m/s 7
Soalnya, apakah para ulamak yang meriwayatkan hadis ini dan mengabadikan di dalam kitab karangan mereka boleh kita kategorikan sebagai pemalsu hadis. Masya Allah, jikalau Tuan Mufti tetap berpendapat sedemikian ternyata Tuan Mufti tidak menguasai seni ilmu hadis. Maksudnya ialah keupayaan dalam memahami kedudukan hadis, kecacatan hadis dan feqh al-Hadis itu sendiri. Justeru, apakah nilai disebalik MA dan PHD hadis yang tuan miliki.
Sekarang marilah kita sama-sama menelusuri perbincangan tentang status hadis ini. Imam Abd Rauf al-Munawi di dalam Fayd al-Qadhir Syarh Jami’ al-Saghir ketika membuat ulasan terhadap hadis ini mengatakan : “Al-Baihaqi mengatakan matannya (hadis ini) masyhur akan tetapi isnadnya dha’if. Dan diriwayatkan daripada (beberapa) sanad yang lain yang sempurna kedudukannya. Manakala Ibn Abd al-Barr di dalam kitabnya Fadhl al-Ilmi (Kelebihan Menuntut Ilmu) meriwayatkan hadis ini daripada Jaafar bin Muhammad al-Zaghuni daripada Ahmad bin Abi Suraij al-Razi daripada Hamad bin Khalid al-Khayyath daripada Tharif bin Salman bin ‘Atikah daripada Anas ‘Ad daripada Muhammad bin Hasan bin Qutaibah daripada Abbas bin Abi Ismail daripada Hassan bin ‘Athiyyah al-Kufi daripada Abi ‘Atikah daripada Anas.
Bagi saya, apa yang dijelaskan oleh Imam al-Munawi ini hampir sama nadanya dengan kenyataan Ibn Hajar al-Asqalani di dalam kitabnya Lisan al-Mizan (Ibn Hajar al-Asqalan, Lisan al-Mizan, Muassasah al-A’lami: Bayrut, Cet ke-3, 1986M, juz 6 m/s 304)
Al-Munawi meneruskan ulasannya : “Dan Ibn Hibban mengatakan hadis ini hadis yang bathil yang tidak ada sumbernya berdasarkan hujjah bahawa al-Hassan (perawi hadis ini) merupakan perawi yang dhaif. Manakala Abi ‘Atikah (merupakan seorang) perawi yang munkar. Dan di dalam kitab al-Mizan dijelaskan bahawa riwayat Abu ‘Atikah daripada Anas diperselisihkan tentang namanya dan periwayatannya adalah dhaif sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi.
Imam al-Sakhawi pula dan lain-lain ulamak mengatakan : “Hadis ini dhaif (*bukan palsu seperti dakwaan Dr. Asri) berdasarkan kepada dua faktor. Dan Ibn Hibban mengatakan hadis ini hadis yang bathil yang tidak ada sumbernya. Manakala Ibn al-Jauzi menarafkan ia sebagai hadis yang direka. Dan kami memilih atau menuruti pendapat al-Mizzi (Imam al-Hafiz Jamaluddin al-Mizzi yang mengatakan bahawa hadis ini diriwayatkan dengan beberapa riwayat dan apabila dicantumkan dengan sebahagian riwayat yang lain kemungkinan ia mencapai standard hadis hasan. Dan al-Dhahabi mengatakan di dalam Talkhis al-Wahiyat bahawa hadis ini diriwayatkan dengan banyak riwayat. Sebahagian bertaraf waahiyat (amat lemah) dan sebahagiannya sholeh… (baik).” (Abd Rauf al-Munawi, Fayd al-Qadir Syarh Jami’ al-Soghir, Maktabah al-Tijariah al-Kubra : Mesir, Cetakan Pertama, 1306H m/s 543 juz 1)
Tidak cukup dengan keterangan di atas, marilah kita sama-sama meneliti pula apa yang dikemukakan oleh Imam al-Ajlouni di dalam kitabnya Kasyf al-Khafa’ li Muzil al-Ilbas Ketika membahaskan hadis “Menuntut ilmu satu kefardhuan bagi setiap individu muslim” beliau mengatakan : “Hadis riwayat Abi ‘Atikah (pada awal lafaznya) Tuntutlah ilmu walau sehingga ke negeri China dan keduanya (lafaz akhir)” terdapat beberapa komentar. Ibn Abd al-Barr juga meriwayatkan daripada Anas dengan riwayat yang banyak. Tetapi keseluruhannya mempunyai kecacatan dan tiada hujjah padanya dari sudut isnad menurut pakar hadis.”
Katanya lagi : “Menurut al-Bazzar hadis ini diriwayatkan daripada Anas dengan sanad-sanad yang amat lemah. Dan yang paling hasannya ialah apa yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Salam secara marfuk daripada Anas. Dan tidak diketahui orang yang meriwayatkan daripada Ibrahim bin Salam kecuali Abu ‘Asim. Manakala pada perbincangan hadis bab (Bab Ilmu) telah dikemukakan riwayat-riwayat daripada Ubai, Jabir, Huzaifah, al-Hussein bin ‘Ali, Ibn Abbas, IbnUmar, Ali, Ibn Mas’ud, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Um Hani’ dan lain-lain. Ringkasnya (menurut kami) ialah berdasarkan apa yang ditakhrijkan oleh al-Iraqi terhadap kitab Ihya’ Ulumuddin karangan al-Ghazali…”
Selanjutnya al-Ajlouni mengulangi pendirian al-Baihaqi terhadap hadis ini. Di samping itu, beliau mengemukakan pendapat Imam Ahmad terhadap hadis ini berdasarkan apa yang dinukilkan daripadanya Ibn al-jauzi di dalam Ilal al-Mutanahiyah dengan katanya : “Hadis ini tidak tsabit sesuatupun berkaitan dengan hadis bab menurut pandangan kami.”
Katanya : “Dan demikian juga pandangan Ishaq Ibn Rahawiyah dan Abu Ali al-Nesyaburi. Manakala Ibn al-Solah mengisyaratkannya sebagai hadis masyhur yang tidak bertaraf sahih. Dan pendapat ini diikuti oleh Imam al-Hakim. Akan tetapi al-Iraqi mengatakan sesetengah ulamak hadis mentashihkannya dengan beberapa isyarat sebagaimana yang dijelaskan beliau dalam ulasan beliau terhadap Ihya’ Ulumuddin.
Katanya lagi : “Imam al-Mizzi pula mengatakan : “Isyarat hadis ini mencapai status hasan sebagaimana yang didapati di dalam Maqasid al-Hasanah. Manakala Ibn Hajar al-Asqalani di dalam al-Lali’ selepas meriwayatkan pelbagai riwayat dari Ali, Ibn Mas’ud, Anas Ibn Umar, Ibn Abbas, Jabir dan Abi Said mengatakan bahawa pada hadis ini terdapat beberapa pandangan.” (Syeikh Ismail b Muhammad al-Ajlouni, Kasyf al-Khafa’ li Muzil al-Ilbas, Cet ke-4 Muassasah al-Risalah, Bayrut, 1405H, tahkik Ahmad al-Qallasy m/s 56-57 juz 2)
Kesimpulannya, berdasarkan keterangan di atas jelaslah kepada kita bahawa hadis : “Tuntutlah ilmu walau ke negeri China ” diriwayatkan dengan banyak riwayat. Sebahagian dari riwayat tersebut berstatus dhaif. Akan tetapi apabila dihimpunkan dengan beberapa riwayat yang dhaif dan didatangkan dengan beberapa syahid (kesaksian) yang lain riwayat dhaif tersebut akan mencapai status hasan.
Manakala beberapa riwayat yang bertaraf amat lemah dan berstatus munkar atau palsu ditolak oleh para ulamak sebagai hujjah dalam kelasnya. Hal ini diputuskan berdasarkan kepada kedudukan kedudukan perawi dalam sanad-sanad yang tersendiri sebagaimana yang diperjelaskan di atas. Dan ketentuan ini amat mudah difahami bagi mereka yang mendalami ilmu hadis. Sayangnya Mufti Baru kita menggunakan metodologi bersifat hukmi semata tanpa tafsili. Iaitu dengan menghukum hadis ini palsu secara total. Apakah ini satu estetika ilmiah yang boleh dikongsi bersama?.
Di samping keterangan menerusi kitab-kitab di atas, banyak lagi keterangan yang boleh dinukilkan di sini melalui beberapa kitab. Antaranya melalui kitab al-Kamil fi Dhua’fa al-Rijal, al-Majruhin,Ttarikh al-Baghdad, al-Tadwin fi Akhbar Qazwin, Kasyf al-Dzunun, Abjad al-Ulum dan lain-lain. Namun penulis menyingkatkan perbincangan untuk memberi focus perbincangan kita. Tetapi penulis tidak teragak-agak untuk menghuraikannya secara lebih lanjut jika keadaan memerlukan.
Selain keperihalan sanad, marilah kita menganalisa sedikit tentang kedudukan matannya. Matan hadis ini adalah jelas berstatus masyhur sebagaimana penjelasan Imam al-Baihaqi. Tidak cukup dengan itu, para ulamak tidak lupa untuk menghuraikan matan hadis ini. Buktinya, Imam Al-Ajouni ketika menukilkan huraian al-Baihaqi dengan katanya : “Hadis ini (menuntut kita) untuk mempelajari ilmu yang bersifat umum yang mana seseorang tidak patut jahil mengenainya. Ataupun ia bermaksud satu tuntutan menimba ilmu-ilmu yang bersifat khusus. Atau yang dimaksudkan dengan tuntutan “Menuntut ilmu satu kefardhuan bagi setiap individu muslim” sehingga seseorang itu mampu melaksanakan tuntutan yang memenuhi keatas dirinya…”
Selain huraian Ibn Abd al-Barr, al-Baihaqi, al-Ajlouni, al-Munawi,al- Sakhawi, hadis ini juga turut dihurai oleh Imam Abdullah ‘Alawi al-Haddad di dalam Nasha ih’ al-Diniyyah wa Wasoya al-Imaniyyah. Dan intisari kitab ini pula diajarkan oleh Tuan-tuan Guru dan Ustaz-ustaz kita. Apakah aktiviti seperti ini dikira sebagai penyampai hadis palsu. Maka buatlah pemerhatian yang sebaik-baiknya sebelum melontarkan tuduhan terhadap sesuatu perkara.
Secara realitinya pula, matan hadis ini tepat dengan apa yang berlaku pada hari ini. Walaupun Rasulullah SAW tidak pernah sampai ke negeri China , namun wawasan pemikiran Baginda SAW terlebih dulu sampai ke sana . Bukankah China dulu dan kini terkenal dengan industri pembuatan tembikar/kaca, kertas, kain sutera, jarum, barangan mainan, produk pertanian dan barangan tiruan.
Malah dunia mana pada hari ini tidak diduduki orang cina. Dan terbukti pada hari ini bahawa orang cina yang menguasai ekonomi sehingga ekonomi Amerika pun turut tergugat dengan peranan yang dimainkan China . Mereka yang menjadi gergasi Ekonomi di alaf baru. Justeru, apa salahnya kita mempelajari sikap yang baik, disiplin, kemahiran dan teknologi mereka. Tuan Mufti sendiri ada menyentuh hakikat ini pada tulisan di akhbar Berita Harian pada 4hb. Namun pada tulisan 5hb Januari 2007 beliau sendiri menulis di bawah sedar.
Kesimpulannya, semua keterangan ini membuktikan kepada kita bahawa para ulamak tidak seia sekata dalam menentukan hadis ini. Apa yang jelas ialah status hadis ini ditentukan berdasarkan kepada susur galur periwayatan sanad-sanadnya yang banyak. Hasilnya, ada riwayat yang berstatus dhaif dan palsu. Walaupun dhaif jika dihimpunkan dengan beberapa periwayatan dan kesaksian yang lain ia akan mencapai taraf hasan. Apabila ia bertaraf dhaif ataupun hasan ternyata ia boleh diamalkan menerusi disiplin ilmu hadis.
Buktinya, Al-Imam al-Nawawi –secara masyhur- di dalam al-Arba’in mengatakan bahawa para fuqaha’ dan muhaddithin telah bersepakat untuk menerima pakai hadis dhaif dalam bab Fadha’il a’mal (kelebihan untuk beramal) dan Bab Etika serta tidak ianya tidak berstatus palsu. Justeru, jika Tuan Mufti mendakwa ianya palsu mengapa Tuan Mufti tidak memperincikan sanad-sanadnya yang palsu itu sebagaimana menurut disiplin ilmu hadis.
Sayangnya, Mufti Baru kita seakan sengaja menyembunyikan fakta ini. Dimana nilai kesarjanaan yang dilaung-laungkannya . Amat malang , kerana berasaskan kepada fakta yang disembunyikan ini, beliau membuat kecaman terbuka terhadap Tuan-tuan Guru dan Ustaz-ustaz kita bahawa kebanyakkan mereka menyampaikan ilmu agama dengan hadis palsu.
Senario ini sedikit sebanyak mendatangkan fitnah kepada mereka. Masya Allah. Jika ada benarnya dakwaan Mufti baru ini, saya meminta Tuan Mufti kemukakan butiran individu tersebut, lokasi pengajaran mereka, sanad dan matan yang dibawa mereka untuk dimuzakarahkan (* Jangan menuduh macam orang yang tiada kesarjanaan). Hal ini penting supaya Tuan Mufti tidak menuduh secara sembarangan. Dan maruah Tuan Mufti tidak tercemar di mata masyarakat. Walaupun asas untuk mendakwa bahawa hadis ini sebagai hadis yang palsu ada. Tetapi asas al-Bazzar, Ibn Hibban dan Ibn al-Jauzi itu berteraskan kepada perawi yang dikritik mereka. Manakala perawi yang dikritik pula dipandang sebagai dhaif oleh majority ulamak yang lain. Akhirnya menimbulkan kekhilafan dalam penarafan hadis. Justeru, perselisihan ini tidak wajar dijadikan asas untuk dimuktamadkan sebagai hadis palsu. Apatah lagi ia hendak digunakan sebagai hujjah untuk menuduh pihak yang tidak sependapat dengan kita.
Nampaknya, mutiara-mutiara ilmiah dan hikmah kita semakin hilang apabila institusi agama diterajui oleh mereka yang jahil dalam disiplin ilmu ini. Lantaran itu, tidak bhairanlah jikalau ada suara-suara sumbang yang mengkritik ulamak dan pendakwah secara menghina bukannya bersifat membina. Dan tidak syak bahawa inilah seni penyelewengan yang terhormat dalam agama. Semoga Allah mengurniakan hidayah kepada kita semua terhadap apa yang disukai lagi diredhaiNya.
Ustaz Zamihan Mat Zin al-Ghari, ialah Ahli Lembaga Penasihat Darul Hadis – PAKSI
menarik, seperti kusir debat berebut pepesan kosong. padahal maksud ts simple.
masalah bergeser ke eksistensi
ternyata ini sangat lemah ya …. tp kenapa masih ada ulama yang menggunakannya utk mofitasi
Dear mas John sama Evan, jadi yang dipermasalahkan di sini adalah bukan perihal menuntut ilmunya, melainkan perihal keshahihan hadits cinta itu….. Kalo kita bicara hadits ini asalnya dari Rasulullah, padahal ternyata Rasulullah tidak pernah mengatakan hal tersebut maka konsekuensinya akan sangat berat
BARANGSIAPA YANG BERDUSTA ATAS NAMAKU (MENGATAKAN SESUATU SEBAGAI HADITS RASUL TETAPI BUKAN) MAKA BERSIAPLAH MENEMPATI TEMPAT DUDUKNYA DI NERAKA. (H.R. BUKHARI)
Semoga bermanfaat