Tuntutlah Ilmu ke Cina Bukan Sabda Rasulullah

8,739 views

PERINGATAN !!! Jangan hanya membaca judulnya saja. Baca isi, atau paling tidak kesimpulannya.

“Tuntutlah ilmu, walaupun ke negeri Cina”

windowslivewriter23472dae89ed 59d5china map flag thumb islam Tuntutlah Ilmu ke Cina Bukan Sabda Rasulullah(HR. Ibnu Addi dalam Al-Kamil (207/2), Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (2/106), Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (9/364), Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhol (241/324), Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ (1/7-8), dan lainnya, semuanya dari jalur Al-Hasan bin ‘Athiyah, ia berkata, Abu ‘Atikah Thorif bin Sulaiman telah menceritakan kami dari Anas secara marfu’)

Kita sudah sangat sering mendengarkan kalimat diatas dari cermah ataupun khutbah Jumat. Tidak sedikit “da’i” yang menyatakan kalimat tersebut merupakan ucapan Rasulullah.

Tapi tahukah anda bahwasannya menurut ahli hadis kalimat itu bukan berasal dari sabda Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam.

Ini adalah hadits dhaif jiddan (lemah sekali), bahkan sebagian ahli hadits menghukuminya sebagai hadits batil, tidak ada asalnya.

Ibnul Jauziy –rahimahullah- berkata dalam Al-Maudhu’at (1/215) berkata, ‘’Ibnu Hibban berkata, hadits ini batil, tidak ada asalnya’’.

.

Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah- menilai hadits ini sebagai hadits batil dan lemah dalam Silsilatul Ahaadiits Adh-Dha’iifah jilid I nomor hadits 416.

Ibnu Hibban berkata, “Hadis tersebut bathil, tidak bersumber (dari Nabi Sallahu alaihi wassalam) sama sekali. Hadis di atas disebutkan di hadapan Imam Ahmad lantas beliau mengingkari dan membantah keras hal tersebut.”

As-Suyuthiy dalam Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah (1/193) menyebutkan dua jalur lain bagi hadits ini, barangkali bisa menguatkan hadits di atas. Ternyata, kedua jalur tersebut sama nasibnya dengan hadits di atas, bahkan lebih parah. Jalur yang pertama, terdapat seorang rawi pendusta, yaitu Ya’qub bin Ishaq Al-Asqalaniy.
Jalur yang kedua, terdapat rawi yang suka memalsukan hadits, yaitu Al-Juwaibariy. Ringkasnya, hadits ini batil, tidak boleh diamalkan, dijadikan hujjah, dan diyakini sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Diriwayatkan dari Abu al-’Atikah : Pada sanad hadith ini adanya Abu al-’Atikah yang tidak dikenali, dan tidak ada bagi hadith ini asal-usulnya. (al-Bazzar di dalam al-Bahr al-Zukhar)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Batil, tidak ada asal baginya (Ibn Hibban di dalam al-Majruhin)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah. : Dengan sanad ini ianya Batil, terdapat Ahmad al-Juwaibari dia adalah seorang pemalsu hadith. (Ibn ‘Adiy di dalam al-Kamil fi al-Dhu’afa’)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Matannya masyhur dan isnadnya dhoif, ia diriwayatkan juga dari beberapa bentuk, semuanya dhoief/lemah. (al-Baihaqi di dalam Sya’b al-Iman)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Di dalam sanadnya ada Abu ‘Atikah Torif bin Salman, sangat mungkar hadith. (Ibn al-Qaisarani di dalam Tazkirah al-Huffaz)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Diriwayatkan melalui dua sanad, kedua-duanya dhoief. (Ibn al-Qaisarani di dalam Dakhirah al-Huffaz)

Ibn al-Jauzi di dalam al-Maudhu’aat : Tidak sahih.

al-Sakhawi di dalam al-Maqasid al-Hasanah : Lemah.

al-Zarqani di dalam Mukhtasar al-Maqasid : Lemah.

.

al-’Ajluni di dalam Kasyf al-Khafa’ : Lemah.

al-’Ajluni di dalam Kasf al-Khafa’ : Di dalamnya ada pendusta

Adapun perkataan Al Mizziy yang mengatakan bahwa hadits ini bisa diangkat hingga derajat hasan karena dilihat dari banyak jalan, pendapat ini tidaklah bagus (kurang tepat). Alasannya, karena banyak jalur dari hadits ini dipenuhi oleh orang-orang pendusta, yang dituduh dusta, suka memalsukan hadits dan semacamnya. Sehingga hadits ini tidak mungkin bisa terangkat sampai derajat hasan.

Adapun Al Hafizh Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan bahwa sebagian jalan dari hadits ini ada yang sholih (dinilai baik). Maka kita terlebih dahulu melacak jalur yang dikatakan sholih ini sampai jelas status dari periwayat-periwayat dalam hadits ini. Namun dalam kasus semacam ini, penilaian negatif terhadap hadits ini (jarh) lebih didahulukan daripada penilaian positif (ta’dil) dan penilaian dho’if terhadap hadits lebih harus didahulukan daripada penilaian shohih sampai ada kejelasan shohihnya hadits ini dari sisi sanadnya. Dan syarat hadits dikatakan shohih adalah semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat). Inilah syarat-syarat yang dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab Mustholah Hadits (memahami ilmu hadits).

Bagaimanapun juga, dalam setiap situasi dan kondisi, cukuplah kiranya berpedoman pada sekian banyak nash-nash (dari Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam) yang memberikan semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu serta keutamaan dalam meraihnya. Sebagaimana halnya sabda Rasulullah Salallahu alaihi wassalam yang berbunyi :

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”

HR. Ibnu Majah no. 220 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dan diriwayatkan oleh sekelompok ahli ilmu, diantara mereka adalah Ath-Thabrany, Al-Khatib, Al-Baihaqy dan lainnya, dari riwayat Anas, Ibnu Sa’id dan yang lainnya — Semoga Allah senantiasa meridhai mereka.

Begitu juga sabda Rasulullah yang berbunyi :

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu di dalamnya, maka Allah akan menuntunnya menuju jalan di antara jalan-jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat akan mengepakkan sayap-sayap mereka untuk sang penuntut ilmu, karena ridha (terhadap apa yang ia perbuat). Dan sesungguhnya, orang yang berilmu itu akan dimohonkan apapun oleh seluruh penghuni langit dan bumi serta ikan-ikan di perut laut. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan seorang ahli ibadah, adalah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang di angkasa. Sesungguhnya para ahli ilmu (ulama) adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya, para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan juga dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu semata. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sejatinya ia telah mengambil bagian yang banyak.”
(Hadis sahih : diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), At-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no.223), dan Ibnu Hibban (no.80 al-Mawaarid), lafadz ini milih Ahmad, dari Sahabat Abu Darda’ radhiyallaahu’anhu.)

Kesimpulan :

Kalau ada yang Sahih (sah) mengapa pakai yang dhoif (lemah) ?
Bolehlah kita memberi nasihat tuntutlah ilmu setinggi2nya, tuntutlah ilmu sampai ke ujung dunia, ke Cina, Jepang, dll. Tapi tidak boleh mengatasnamakan hal tersebut berasal dari Rasulullah Sallahuallaihi Wassalam.

Wallahua’lam bishowab.

Penulis : Agam Rosyidi

URL : http://rosyidi.com/tuntutlah-ilmu-ke-cina-bukan-sabda-rasulullah/

Referensi :

  • Hadits-Hadits Dha’if Populer, Syeikh Abdul Aziz As-Sadhan
  • Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 01 Tahun I
  • Al-Qayyim
  • Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 22/233-234, Asy Syamilah
Related Posts (Artikel Terkait) : sabda rasulullah, pidato menuntut ilmu, sabda rasul, tuntutlah ilmu sampai ke negeri china, tuntutlah ilmu, tuntutlah ilmu hingga ke negeri china, pidato tentang menuntut ilmu, tuntutlah ilmu ke negeri china, tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina, sabda rasulullah tentang ilmu, sabda rosul, tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina, teks pidato menuntut ilmu, tuntutlah ilmu ke negeri cina, naskah pidato tentang menuntut ilmu, hadis rasulullah tentang ilmu, ilmu china, menuntut ilmu hingga ke negeri china, cina, sabda nabi tentang ilmu, teks pidato tentang menuntut ilmu, ceramah tentang menuntut ilmu, sabda nabi tentang menuntut ilmu, tuntutlah ilmu ke negri cina, sabda sabda rasul, tuntutlah ilmu sehingga ke negeri china, ceramah agama tuntutlah ilmu sampai ke negeri china, pidato tentang ilmu, pidato tuntutlah ilmu ke negeri cina, tuntutlah ilmu walau ke negeri cina, sabda rasulullah tentang menuntut ilmu, teks pidato tentang ilmu, sabda rasullulah, pidato tentang keutamaan menuntut ilmu, hadis berkaitan menuntut ilmu, teks pidato tentang kewajiban menuntut ilmu, teks pidato tentang mencari ilmu, teks pidato dg judul ilmu, kewjiban menuntut ilmu menurut hukum negara, hadis menuntut ilmu, pidato tentang mencari ilmu, dalil menuntut ilmu, hadis tuntutlah ilmu, HADIS BEKAITAN TUNTUT ILMU HINGGA KE NEGERI CINA, ilmu cina, pidato tentang hadits, tuntutlah ilmu cina, pidato menuntut ilmu menurut islam, teks hadits kewajiban menuntut ilmu, kelebihan menuntut ilmu
Kirim ke Teman di Facebook
idwebspace

Komentar

54 Komentar pada “Tuntutlah Ilmu ke Cina Bukan Sabda Rasulullah”
  1. kus says:

    aye pernah denger juga kalau hadith ini palsu. .. apalagi kalau menuntut ilmunya sampe ke amrik, trus jadi liberal lagi, masya Allah:o

  2. Jiewa says:

    Saya ga komentar soal agamanya, tp menurut saya maksudnya bukan harafiah ke negara ‘China’, tapi lebih ke : menuntut ilmu ‘setinggi-tingginya’, tanpa batasan.. :)

  3. jimmy says:

    ah yang penting makna-nya aja kalo buat saya mah..

  4. faizal says:

    Dimanapun ilmu itu dicari, yang lebih penting adalah pengamalannya :)>-

  5. BlogDokter says:

    Sekarang di tengah keterpurukan di segala bidang, menuntut ilmu kemana mana aja tidak masalah. Kita masih perlu banyak belajar dan belajar.

    Jangan heran kelak muncul pepatah ‘tuntutlah ilmu, walau ke negeri blogospher’ :d

  6. dianz says:

    dah lama aku denger hadits ini ga jelas sanadnya (pendeknya dhoif lah), tp belum dapet keterangan rinci mengapa begitu. alhamdulillah ada disini :)

  7. toim says:

    cina emang terkenal akan ketinggian nilai seni budaya serta strategi perang ala sun tzu, mungkin itu yg mengispirasi para pembuat hadist palsu :D

    Rosyidi :Sebenarnya strategi perang sun tzu baru diterapkan dalam berbagai bidang terutama di bidang ekonomi jauh setelah sun tzu hidup. Jadi sun tzu sendiri kala itu tidak akan menyangka kalau strategi perangnya bisa dimanfaatkan di bidang lain.

  8. cempluk says:

    TUNTUTLAH ILMU SETINGGI BINTANG..TOH KALO MELESET, MAKA AKAN BERADA DIANTARA BINTANG2..

  9. pada masa rasulullah, negeri cina sedang berada dipuncak kejayaan. pada saat itu perekonomian, teknologi, ilmu pengetahuan, militer dll dikuasai oleh cina. demikian mengapa rasulullah mereferensikan cina.

    kejayaan cina memang sempat hilang, sehingga muncullah anggapan bahwa hadist tersebut palsu.

    yang penting maknanya harus dipahami, sesusah apapun kita harus terus belajar.

    Rosyidi :Yang jadi masalah bukan terletak pada hilangnya kejayaan Cina. Tetapi rawi hadis tersebut yang dianggap pendusta dan rawi yang suka memalsu hadis. Telah dijelaskan diatas, banyak ahli hadis yang menolak hadis tersebut. Dan saya belum pernah mendengar ada yang menggapnya sahih.
    Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa itu merupakan perkataan Rasulullah.
    Jika ingin menyampaikan dalil seputar mencari ilmu. Lebih baik memakai hadis pada dua paragraf terakhir sebelum kesimpulan.

  10. aLe says:

    ini dia yg aLe cari,
    secar dulu waktu sering isi materi (organisasi)
    ketika pakai kalimat ‘tuntutlah ilmu…dst’ itu ga pake itu hadis nabi..
    *karena ragu*
    dan skr jd smakin jelas :)

  11. Riyogarta says:

    Saya pernah melakukan pencarian mengenai hal ini dulu (saat saya masih duduk di bangku SMP) dan mendapatkan jawabannya dari sebuah buku yang saya sudah lupa judulnya :(
    Membaca posting bung Rosyidi ini membuat saya jadi ingat kembali. Thanks atas artikelnya, semoga bisa bermanfaat bagi yang lainnya.

    Btw, berdasarkan pengamatan saya, kalimat ini sekarang memang sudah jarang dipergunakan lho.

  12. lady says:

    hadist itu mmg bukan dari rasulullah.

    oya, ttg “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”
    kl agam punya referensinya, tolong disharing di blog ini juga, yg wajib dipelajari itu ilmu apa aja. soalnya ada yang berpendapat bahwa yg wajib itu ilmu agama macam hadist dll, sedangkan ilmu keduniawian macam kedokteran, teknik, dll bukan kewajiban melainkan dibolehkan.

    kl aku menganggap apa yg ada di bumi ini juga perlu dan wajib dipelajari namun blm nemu dalilnya.

  13. Sugiyono says:

    Hemmm.. menarik gam postingmu… dan komentar yang ada di sini… Oh iya, makasih atas sarannya tuk update postingku.. Lagi sibuk sidang TA soalnya.. Btw, menuntut ilmu memang wajib.. tiap orang yang ingin selamat di dunia dan akhirat wajib dengan ilmu….

    Memang hadist itu palsu… dan sebaiknya tidak digunakan untuk mengingatkan jama’ah.. soalnya aku juga masih sering denger di Jamaah shalat jum’at…:(

  14. :)>- Oh iya ta, bru tau aku. Terlepas itu hadis lemah, kuat atau apalah, menurutku kl emang memberi input yang bagus gak masalah.toh jk orang mengira itu hadist dari nabi, toh nabi juga yang dapat nilai plusnya. Bukan begutu ustadz?

    Rosyidi :Meskipun kita menganggapnya baik, tapi seluruh ulama sepakat tidak memperbolehkan hal tersebut. Karena itu sama dengan berdusta atas nama Rasulullah.
    Dapat dianalogikan seperti ini : misalnya si A mengatakan si B kaya, banyak duit, punya rumah banyak. Tapi ternyata si B tidak kaya, dan hidup pas-pasan. Walaupun tujuannya baik, ingin mengangkat derajat si B, tapi itu tetap saja berdusta. Dan si B juga belum tentu senang dengan hal tersebut.

  15. mr.bambang says:

    Di sebuah plang, pernah menemui ada tulisan “Cinta Negara adalah Sebagian dari Iman” :d

  16. Hair says:

    Subhanallah, kok saya baru tau ya?
    ternyata ilmu yang saya miliki memang sangat sedikit,

  17. riza says:

    thx, bermanfaat sekali

  18. suprie says:

    Makanya saya rada hati – hati klo menggunakan hadist. Malah yang saya baru tahu klo bersalaman setelah sholat itu mengarah ke bid’ah, ada di buku Bid’ah Bid’ah …. lupa belakangnya, nanti saya coba updet..

    Rosyidi :mungkin “bid’ah bid’ah yang dianggap sunah”, aku gak punya buku itu, tapi pernah denger. Banyak buku2 serupa. Kalo yg aku punya Tanya Jawab Bid’ah dalam Ibadah.

  19. pututik says:

    Mari berpikir cerdas :)>-

  20. john says:

    china, calon negara adidaya, terdapat banyak hal-hal yang indah dinegeri china, gunung yang indah, sungai yang indah, bangunan yang perkasa, jembatan terpanjang, bendungan terbesar dunia, kota-kota china yang maju, penduduk terbesar didunia, kebudayaan tertua didunia, mengenal Dzat Tuhan, Tao, sebagai Dzat pencipta, Yang Maha Menguasai, menghidupkan semua makhluk, yang memelihara laksa makhluk, mengedarkan surya dan rembulan, yang ada dengan sendirinya, Tiada dilahirkan, Tiada musnah, itulah ajaran Tao, dari Lao Tze, 3000 sbelum masehi, atau 5000 tahun yang lalu, sudah mengenal hakikat Tuhan, jauh sebelum islam itu ada.

  21. riza says:

    @ John
    Nggak hanya china yang hebat kalau diukur dari SDA maupun peninggalannya. Khilafah(daulah) Islam juga pernah berjaya ratusan tahun dan eksis selama +- 13 abad. Dan ketika khilafah Islam yang menjadi negara adidaya, tidak semena2 seperti AS sekarang. Bahkan banyak rakyat di luar khilafah yang ingin agar negerinya segera dikuasai negeri ini. Hukumnya didasarkan pada syariat, hukum Tuhan. Jadi bisa dibayangkan kalau memang agama Islam adalah agama yang sempurna.

    * flashback kejayaan Islam di masa lalu aja

  22. john says:

    ketika islam baru ada (400 masehi) dikala itu, diibaratkan seorang anak yang baru belajar merangkak untuk menggapai sang Kekasih, untuk bertemu sang Kekasih.
    dan Taoism(di China) dikala itu(400 masehi), diibaratkan seorang anak yang telah beranjak dewasa dalam bertemu sang Kekasih dan telah melihat sang Kekasih, serta duduk disamping Kekasih, Tuhan Sang Pencipta.
    maka tidaklah heran, bila ada hadist yang berbunyi : “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”

    Rosyidi :Maaf, tolong dibaca PERINGATAN dibawahnya judul.
    Jangan hanya membaca judulnya saja. Paling tidak baca Kesimpulannya.
    Kami tidak mempermasalahkan seseorang belajar ke negeri manapun. Kami hanya mempermasalahkan penggunaan kalimat terserbut yang mengatasnamakan Rasulullah, Muhammad sallahu alihi wassalam.
    Ajaran Islam ada bukan sejak 400 masehi. Melainkan sejak nabi Adam. Semua nabi, Isa, Musa, Nuh, dll adalah seorang muslim. Banyak ayat di Al-Qur’an yang menyatakan hal tersebut, suatu saat akan kami bahas masalah ini.

  23. Labyrinth says:

    Alhamdulillah…
    Soalnya diriku ingin menuntut ilmu ke tokto :)

  24. john says:

    kok keturunan Musa bengal betul ya, Israel, dan keturunan Nabi Isa, Amerika dan Eropa dan Australia, Brazil, juga Rusia, dan juga keturunan China, india, afrka, bego amat ya keturunan mereka, tidak tahu kalo sesungguhnya nenek moyang mereka adalah Islam juga.
    apa mungkin nenek moyangnya yang salah? tidak diberitahu kalau sejak zaman Nabi Nabi itu ada, bahwasanya mereka adalah umat Islam, dan keturunan-keturunannya diberitahu sejak pertama kalo bapaknya, datuknya, nenek moyangnya, hingga manusia pertama adalah Islam semua. coba seandainya diberitahu dari dulu sekali sebelum ada Nabi Muhammad, Isa, atau Nabi Ibrahim, maka sejak dari zaman purba dulu, tentu semua umat manusia sudah Islam, dan tidak ada satupun keturunannya yang masuk neraka jahanam selamanya. Siapa yang salah?

    Rosyidi :Siapa yang salah kalau misalnya anaknya mas john mencuri? Padahal mas john bukan pencuri.
    Siapa yang salah kalo misalnya cucunya mas john merampok? padahal mas john bukan perampok.
    Siapa yang salah kalo misalnya cicitnya mas john korupsi? padahal mas john tidak korupsi.
    dst…
    Di kitab-kitab sebelumnya Nabi Muhammad juga diceritakan disana. Jika anda tanya dimana? Saya bisa menunjukkannya, tapi maaf ini bukan forum perdebatan antar agama. Silakan anda berpedoman pada agama anda, dan saya berpedoman pada agama saya.
    Tulisan diatas tidak untuk memperolok ras ataupun agama lain. Itu hanya mengkritisi sebagian umat muslim yang masih menggunakan kalimat tersebut dengan mengatasnamakan Rasulullah.

  25. Abi Bakar says:

    Wah hadis ini sih populer banget, bahkan pas ujian agama Islam di SMP dulu salah satu pertanyaan yng saya dapat mengenai hadis ini.

    Nb: Agam keblog yah, ada tugas buat kamu. Sukron!

  26. riza says:

    Allah menunjuki siapa saja yang dikehendakiNya dan menutup hati siapa saja yang dikehendakiNya.

    “Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak ditipu syaitan) maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
    perbuat” (QS. Fathir:8)

    Mungkin karena itulah diwajibkan bagi setiap Muslim untuk menuntut ilmu (agama). :)>-

  27. olangbiaca says:

    Ass….ehe..thanks atas ilmunya. oiya salam kenal mas Rosyidi

  28. nugraha says:

    Wahhh, baru tahu ada blog keren gini. Infonya bagus-bagus lagi. Salam kenal ya….

    Rosyidi :Salam kenal juga :)

  29. mk says:

    Memang banyak istilah populer yang dianggap sebagai hadits, seperti ungkapan “Kembali dari Jihad kecil ke Jihad Besar yaitu melawan hawa nafsu” itu bukan hadits, silakan baca selengkapnya di eramuslim. Dan masih banyak lagi yang lainnya..

  30. Herry says:

    Assalamualaikum!!!
    Wah mas Thanks ya Informasinya! aku sering online lo ma web ya mas? Banyak Ilmu – ilmu yang saya ambil dari blog ini. Salam kenal ya?
    Matur nuwun nggih???? ^_^

  31. indra1082 says:

    Artikel yang bagus…
    salam kenal…

  32. kus says:

    artikelnya bagus sekali, boleh kenalan? :x

    Rosyidi :Bukannya dari dulu dah kenal :D

  33. LIDIA says:

    :-? wah baru tau ni masukkan yang baru

  34. hamba Allah says:

    Saya sangat setuju sekali dengan kesimpulan yang diambil oleh Mas Agam bahwa kita tidak boleh mengambil hadis atau sebagai rujukan yang ternyata masih belum jelas kesahihanya walaupun hanya sedikit dengan mengatas namakan Rosululloh SAW dengan mengingatkan beberapa hadis nabi yang berbunyi :

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berdusta tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”. (HR Muttafaqun ‘alaihi).

  35. siluman kerbau says:

    kutukan, penuh kutukan, sebaiknya Ia tidak menciptakan makhluk. Mau apa Dia hanya sendiri. Dia sengaja ciptakan neraka dan tertawa ha ha ha melihat makhlukNya disiksa, Allah Allah wajarlah bila yang mulia Al hallaj menentang kediktatoranMu. Allah Allah sungguh aku juga mnentangMu, menentang kediktatoranMu.
    jika aku menyembah Engkau hanya karena takut neraka, masukkanlah aku kedalam neraka.
    jika aku menyembah Engkau hanya mnyukai surga, janganlah masukkan aku kedalam surga itu. sungguh aku menymbah Engkau karena hanya Engkau semata, jangan sembunyikan dariku keindahanMu.

    kutukan, mendoakan kutukan pada sesama ciptaanNya agar masuk neraka, sungguh terlalu. lihat yang mulia rabi’ah, betapa baiknya dia, yang berharap sesama ciptaanNya tidak ada yang disiksa. dampak cinta rabi’ah pada Allah sungguh luar biasa, hingga ia juga mencintai manusia seluruhnya sebagai hamba-hamba Allah, dia mengatakan ” ya Allah, nanti kalau diakhirat jadikanlah tubuhku sedemikian besar, sehingga memenuhi ruang neraka, agar tidak ada lagi seorang hambaMu yang dimasukkan ke neraka.
    inilah namanya kasih sayang pada sesama makhluk ciptaanNya yang bebas diskriminasi.

  36. siluman kerbau says:

    untuk komentar no.34

    Sungguh keterlaluan, hanya karena satu bunyi ayat hadist ini, engkau menyamakan tetua muslim masa lalu itu sebagai pendusta bagi rasul. Dan sekonyong-konyongnya kamu telah memakai nama rasul kalau mereka telah berdusta pada rasul, dan berharap tetua muslim pada masa lalu yang menyampaikan hadist ini sebagai penghuni neraka. Sungguh lancang engkau.

    Rosyidi :Bisakah anda membuktikan bahwa tetua muslim yang anda maksudkan itu adalah orang yang dapat dipercaya? Siapa saja ulama yang berkata seperti itu?

  37. siluman kerbau says:

    Saudara/i muslimin dan muslimah yang dikasih Allah.

    jangan terlalu serius menanggapi ayat “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.
    itu mungkin hanyalah salah satu majas bahasa.
    yang berarti Tuntutlah ilmu setinggi mungkin.

    Salam.

    Rosyidi :Apapun alasannya berbohong itu tidak boleh, apalagi mengatasnamakan Rasullah.
    Menggunakan kalimat Tuntutlah ilmu sampai ke negri Cina boleh2 saja. Asal tidak mengatkan bahwa itu bersumber dari Rasulullah sallahu alaihiwassalam.

  38. widi says:

    ya memang, kalau itu salah, ak yakin akan g baik juga buat kita, kalau itu benar (maksudnya: perawinya benar) pasti itu bermanfat buat kita. kalau gitu sekarang ak g ngebet nyari ilmu k cina dong, mendingan ke madinah/makkah kali ya… yang tentunya pasti kan banyak ilmu yang bermanfaat.
    A nanya, gimana kalau hadist tentang adzan untuk anak yang baru lahir itu, katanya hadistnya lemah juga? kalau memang benar, hal apa yang harus dilaksanakan pertama kali tuk anak yang baru lahir menurut nabi?
    jazakalloh

    Rosyidi :Maaf telat jawab. Lagi sibuk.
    Untuk adzan di telinga bayi, berikut arti dari Hadits Adzan di telinga kanan si bayi dan iqomah di telinga kirinya maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin: “Barang siapa dianugrahi anak kemudian ia adzan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin”

    Hadits ini maudhu.
    Ibnu Sunni meriwayatkan dalam kitab Amalul Yaumi wal-lailati halaman 200, dan juga Ibnu Asakir II/182, dengan sanad dari Ibu Ya`la bin Ala ar-Razi, dari Marwan bin salim, dari talhah bin Ubaidillah al-Uqali, dari Husain bin Ali.

    Sanad Tersebut Maudhu`(PALSU) sebab Yahya bin Ala dan Marwan bin Salim dikenal sebagai pemalsu Hadits. Disamping itu, dalam periwayatan hadits diatas ada semacam unsur meremehkan atau mengagampangkan masalah. Hal itu diutarakan oleh al-Haitsami dalam kitab Majma az Zawa`id IV/59, Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan dalam sanadnya terdapat Marwan bin Sulaiman al-Ghifari, yang oleh muhadditsin riwayatnya ditinggalkan atau tidak diterima.

    Almanawi pensyarah kitab al-jami`ush shaghir berkata: Hadits ini dalam sanadnya terdapat Yahya bin Ali alBajali ar-Razi. Adz Dzahabi dalam kitab adh Dhuafa` wal-Matrukin berkata: “Ia pendusta dan pemalsu ” Itulah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad.
    Suatu saat jika ada waktu senggang aku bahas masalah ini juga.

  39. siluman kerbau says:

    tidak tahu juga apa itu bohong atau tidak??
    seandainya itu tidak bohong, justru kita yang meng
    fitnha tetua itu kalau mereka telah berbohong.
    saya rasa itu tidak terlalu bermasalah hadist sperti itu,
    cuma majas bahasa saja,
    kecuali ada hadist yang bilang kencing unta jadi obat,
    nah itu baru diragukan? apa benar dari rasul.

    Rosyidi :Yang jelas, Imam Ahmad, Ibn Hibban, Ibn al-Jauzi, dan sekian banyak ulama lainnya menolaknya. Apakah anda lebih percaya kepada Ahmad al-Juwaibari yang oleh para ulama dianggap sebagai seorang pemalsu hadith?
    Ya semuanya terserah anda.
    Ulama seperti Al-Imam Bukhari, Al-Imam Muslim, Abu Bakar Al-Arabi, Yahya bin Mu’in, Ibnu Hazm dan lainnya menolak menggunakan hadist dhoif, baik itu yang masalah aqidah maupun masalah kisah-kisah, nasihat, dll.
    Meskipun Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi menerima, tapi dengan beberapa syarat diantaranya adalah :
    Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Sedangkan hadits dha’if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta, atau tertuduh sebagai pendusta, atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima.

    Sedangkan hadist yang kita bicarakan disini tidak memenuhi syarat tersebut.

    Namun menurut Al-Imam As-Suyuthi agak berbeda, beliau mengatakan bawa mereka berkata,’Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram, kami ketatkan. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya, kami longgarkan.”

    Kalo aku pribadi lebih memilih mengikuti Imam bukhari dan Muslim. Yang jelas sebagian besar ulama menolaknya.

  40. eyang says:

  41. Kang mardi says:

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    ” menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim ”
    Mohon mas Rosyidi jelaskan :
    (1) Apa yang dimaksud dengan ilmu . Apakah hanya terbatas ilmu-ilmu agama( yang berkaitan dengan Qur’an hadits ) saja?
    (2) Bagaimana dengan ilmu-ilmu umum, misalnya sains, teknologi , sosial budaya dsb ?
    (3) Mohon diberikan dalil-dalil sohih untuk mendukung jawaban di atas agar lebih mantap!

    Wassalamu’alaikum wr.wb
    Kang mardi

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh.
    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
    [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 224), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3913). Diriwayatkan pula oleh Imam-imam ahli hadits yang lainnya dari beberapa Sahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id al-Khudri, dan al-Husain bin ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum]

    Al-Allamah Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata : “Ilmu ialah mengetahui hakikat sesuatu, hal ini ada dua macam : (1). Mengetahui wujudnya sesuatu. (2). Menghukumi sesuatu itu ada atau tidak ada. Sedangkan dalil yang pertama seperti yang tercantum di dalam surat Al-Anfal ayat 60 dan dalil yang kedua tercantum di dalam surat Al-Mumtahanah ayat 10” [Mufradat Al-Fadhil Qur’an : 580]

    Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata :”Ilmu menurut bahasa adalah lawan dari jahil, yaitu mengetahui sesuatu dengan pasti. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama ialah : Ma’rifat (mengenal sesuatu). Ada lagi yang berpendapat bahwa ilmu itu lebih jelas daripada sekedar dikenal. Adapun yang kami maksudkan di sini ialah ilmu syar’i yang Allah Azza wa Jalla turunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi keterangan dan petunjuk, dan ilmu wahyu inilah ilmu yang terpuji sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Adapun macam ilmu sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Allamah Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah ada dua ilmu nazhari (teori) dan amali (praktek). Maka ilmu nazhari bila sudah diketahui, itu sudah sempurna, seperti ilmu tentang wujudnya alam. Sedangkan ilmu amali, tidaklah diketahui dengan sempurna kecuali bila telah diamalkan, seperti amal ibadah. Adapun pembagian yang lain : ilmu ada yang aqli (bersumber dari akal, yang diperoleh dengan percobaan yang berulang-ulang) dan ada yang sam’i (bersumber dari wahyu Ilahi yang cepat diperoleh dengan pasti tanpa ada percobaan dan keraguan). [Lihat Mufradat Al-Fadhil Qur’an : 580]

    Syaikh Abdurrahman bin Sa’di rahimahullah berkata : “Ilmu dibagi menjadi dua :

    1). Ilmu yang bermanfaat, yang dapat menjernihkan jiwa, mendidik akhlak yang mulia, dan memperbaiki aqidah, sehingga dapat menghasilkan amal yang shalih dan membuahkan kebaikan yang banyak. Ilmu ini adalah ilmu syari’at Islam dan penunjangnya, seperti bahasa Arab.

    2). Ilmu yang tidak mendidik akhlak, tidak memperbaiki akal, dan tidak memperbaiki aqidah. Ilmu ini dipelajari hanya untuk mencari faedah duniawi belaka, itulah ilmu yang dihasilkan oleh manusia dengan beraneka ragam bentuknya,. Jika ilmu ini didasari dengan iman dan landasan Dienul Islam maka menjadilah ilmu duniawiyyah diniyyah. Akan tetapi, bila tidak digunakan untuk membela agama Islam, ilmu itu hanya ilmu dunia belaka, tidak mulia, bahkan berakhir dengan kehinaan, dan boleh jadi akan merusak dirinya sendiri, seperti ilmu membuat senjata dan lainnya, dan boleh jadi mereka sombong dan menghina orang lain termasuk menghina ilmu wahyu yang diturunkan kepada para utusan Allah Azza wa Jalla, sebagaimana yang dijelaskan di dalam surat Ghafir ayat 83”. [Al-Mu’in Ala Tahshili Adabil Ilmi wa Akhlaqi Muta’allimin oleh Syaikh Abdurrahman As-Sa’di : 37,38]

    Dari keterangan diatas, dapat kita simpulkan bahwa ilmu dibagi menjadi beberapa bagian. Ditinjau dari segi hakikat dan hukumnya ada dua : (1). Mengetahui hakekat benda, (2). Mengetahui hukum adanya sesuatu dan tidak adanya. Jika ditinjau dari sumbernya ada dua pula : (1). Aqli, (2). Sam’i. Dan jika ditinjau dari faedahnya ada tiga : (1). Ilmu yang pasti berfaedah ialah ilmu syari’at Islam, (2). Ilmu duniawi yang dilandasi syari’at Islam dan digunakan untuk khidmah Islam maka bermanfaat pula, dan (3). Ilmu duniawi yang tidak dilandasi iman dan tidak dipergunakan untuk khidmah Islam maka ilmu ini adakan merusak dirinya.

    Sedangkan dalam kasus hadis menuntut ilmu ke cina diatas, tidak ada kaitannya dengan pembagian ilmu tersebut. Tolong baca lagi dengan benar artikel diatas. Saya tidak melarang menuntut ilmu ke Cina, dan negara lainnya. Baik itu menuntut agama maupun ilmu dunia. Namun karena hadis tersebut dhoif maka apakah kita lebih memilih menggunakan dalil yang dhoif sementara ada dalil yang tingkatannya lebih baik? Tentu tidak bukan.

  42. eev says:

    Sebaiknya Yg buat ini blog harus ngaji dl ke ulama2 nih.Jgn ngaji nya dr buku2,majalah islam yg bisa juga penulisnya itu kafir alias musuh islam yg ga jelas asal-usulnya….ALLAHU AKBAR

    Rosyidi :Tolong beritau saya ulama mana yang mengatakan hadis ini sahih? Yang jelas ulama besar bukan ustad atau kyai lokal. Kita berilmu dengan dalil, bukan hanya asal bicara kamu benar kamu salah, atau katanya katanya, tanpa tau dalilnya.

  43. Orang berDosa says:

    ya udah biar kamu senang deh
    “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Arab”
    belajarnya di pesantren … ilmu2 laen FISIKA, KIMIA, KEDOKTERAN, SAINS, COMPUTER dan ilmu2 sekolahan diganti aja dgn Ilmu Islam (ARAB) dan juga JIHAD
    sekalian juga gak usah pakai barang2 buatan kafir
    (karena bukan produk Arab)

    rosyidi:
    Jika anda sudah merasa pintar dalam ilmu hadis, ….

    ->
    menurut saya Anda kelewat merasa kepintaran tuh, sampe2 ini saja dijadikan masalah besar …
    biarlah orang yg lebih berwenang yg ngurusin itu, ngapain kita ikut2an memperuncing masalah hadis
    Dokter aja kalo kasih resep kadang suka lihat bukunya lage,
    takut salah kasih resep meskipun dia udah Dokter
    (biar kalo dituntut, yg disalahin yg buat bukunya)
    ngomong2 ini blog agama ya? ini blognya kira2 HALAL gak ya?
    banyak iklan2 bisnis yg gak ISLAMI dari non Islam …

    Rosyidi:
    Meskipun kita menganggapnya baik, tapi SELURUH ULAMA SEPAKAT tidak memperbolehkan hal tersebut.

    ->
    he he pinter deh kamu

    rosyidi:
    Tapi tidak boleh mengatasnamakan hal tersebut berasal dari Rasulullah Sallahuallaihi Wassalam.

    –>
    kalo rasulullah sallahuallaihi wassalam kasih pesan bunuh orang yg bukan Islam dgn alasan apapun trus kamu turuti ya?
    saya merasa kasihan dgn Anda, karena Anda tidak menggunakan Hati nurani dan logika Anda, dalil yg Anda gunakan adalah
    karena itu PERINTAH dari tuhan kami
    maksud teman kamu baik, tapi kamu ngotot dgn opini kamu
    coba kamu pikir deh, kemana pihak berwenang yg ngurusin ini?
    kenapa tidak ditiadakan dolo sementara dari awal supaya umatnya tidak gonjang-ganjing kalimat tsb (tolong pikirin deh)
    kenapa mereka biarin aja? sedangkan Anda sewot minta ampun,
    padahal wewenang Anda tidak sebesar mereka

    kalo anda merasa jago tentang Islam neh coba debat dgn orang
    yg sudah murtad dari Islam
    (saya katakan jago krn Anda seperti orang yg sudah pakar)
    neh webnya, gua gak mampu, mungkin elo mampu

    Rosyidi :Sepertinya anda belum membaca artikel dengan baik.
    Para ulama mempermasalahkan mau belajar kemana saja. Mau ke Cina, Arab, India, Amerika silakan. Tidak ada larangan.
    Yang menjadi masalah adalah derajat hadis tuntutlah ilmu walaupun ke negeri cina.
    Dari sekian banyak ulama yang saya sebutkan diatas tidak satupun yang menyatakan hasan apalagi sahih.
    Kemana saja kita menuntut ilmu boleh. Yang tidak boleh kalau kita bilang itu dari perkataan Rasulullah sedangkan Rasulullah sendiri tidak pernah mengatakannya. Jadi walaupun misalnya seseorang berkata “Makan dapat mengenyangkan perut”, itu hal yang baik, tapi jika lantas ia berkata bahwa perkataan itu berasal dari si A, sedangkan si A tidak pernah mengatakan itu, meskipun pernyataan itu baik, tetap saja itu berbohong.

    Selama ada hadis Hasan atau bahkan sahih, mengapa kita bersikeras mempertahankan yang dhoif?

    Untuk masalah membeli produk non muslim Rasuolullahpun melakukannya. Jadi tidak mengapa kita membeli produk atau jasa dari non muslim. Asalkan produk tersebut halal dan baik, tidak apa-apa.

    Untuk ucapan yang kedua saya minta maaf jika menyinggung anda. Bukan bermaksud merendahkan anda. Saya justru ingin menuntut ilmu dari anda. Barangkali anda tau ulama yang menganggapnya sahih hadis tersebut. Maaf jika pemilihan kata yang saya gunakan salah. Sudah saya edit.

    Untuk masalah iklan dari non muslim, saya kira tidak ada larangan untuk berniaga dengan non muslim. Rasulullahpun melakukannya.

    Apapun yang dikatakan Rasullulah akan saya ikuti. Apapun alasannya. Itulah bentuk keimanan seseorang terhadap Rasulnya. Iman tidak perlu alasan. Namanya keimanan itu “sami’na wa ata’na”, kami dengar dan kami patuhi. Itu saja. Sebagaimana Abu Bakar mempercayai Rasulullah telah melakukan Isra’ Mi’raj. Meskipun tidak masuk akal, tapi beliau langsung percaya. Bahkan kejadian yang lebih dari itu dia bilang tetap percaya pada Rasulullah. Rasulullah adalah utusan Allah, tidak mungkin dia berbohong atau memerintahkan sesuatu yang jelek.
    Untuk masalah perintah membunuh. Nyatanya tidak ada perintah Rasulullah yang jelek bukan.

    Yang jadi masalah pihak berwenang yang mana? Pemerintah? Yang jadi masalah Indonesia bukan negara agama. Jadi walaupun rakyatnya syirikpun dibiarkan. Dari dulu kan banyak yang “nyembah” kuburan, kenapa ini gak ditertibkan? kemana pihak yang berwenang? Justru itu merupakan tindakan dosa yang paling besar, yaitu Syirik. Amal ibadahnya dari mulai lahir hingga saat dia melakukan syirik akan dihapus. Lalu kenapa dibiarin?
    Itulah bedanya negara agama dan tidak. Coba anda bandingkan dengan Malaysia. Bahkan naskah pidato Jum’atpun semuanya diatur oleh pemerintah. Semuanya dikontrol.

    Kalau debat dengan orang murtad sudah saya lakukan waktu SMP dulu, saya juga sudah membuat buku tentang itu dengan judul “Mempertahankan Agama”, walaupun tidak dipublikasikan untuk umum. Sampai akhirnya saya sadar bahwa mempelajari agama sendiri jauh lebih bermanfaat daripada ngurusi perdebatan antar agama.
    Maaf jika forum tersebut telah di blacklist dari rosydi.com, karena itu tidak saya munculkan nama forumnya.
    Tahun lalu pemilik forum tersebut juga pernah berdialog dengan saya melalui Friendster. Namun ketika satu pertanyaan sudah bisa saya jawab selalu pindah ke pertanyaan lain. Jadi jelas disini mereka tidak ingin mencari kebenaran tetapi kesalahan.
    Hingga akhirnya Friendster pemilik forum “terlarang” tersebut dihapus oleh teman saya yg jadi admin di Friendster.

    Terima kasih atas masukannya.

  44. jawa says:

    woi semuanya salah yg benar itu kata sikus hadistnya tuh palsu……….

    Rosyidi :sikus?
    Ya, memang hadis itu tidak berasal. Jadi aneh jika ustad2 zaman sekarang memakai itu atas nama Rasulullah.

  45. Imam Ahmad says:

    Setau saya, Memang banyak hadits palsu (Dhaif) beredar yg dirasa pendengar itu baik yg diyakini mereka dan memang menganggap itu perkataan Rasulullah, padahal sebenarnya yg mesti intropeksi adalah kita sendiri, bagamana kita mempelajari ilmu al-hadits bagaimana kita mencari ilmu agama sedalam2nya, agar tidak tersesat dan menyimpang dari Alquran dan Hadits shahih. jd bagus kalo memang antum punya ilmu yg harus diberikan kepada orang2 yg awam ilmu. asal semua harus ada dasar dari para ulama ahlussunnah yg hidup di jaman sekarang. buat kita merujuk karena memang mereka yg mengetahui dasar2 hadits. Jazzakumullah khairan

  46. evan says:

    lihat kedepan yg terpenting kita belajar dan belajar kenapa meributkan sahih dan tidaknya? nanti kita berhenti dan ragu untuk belajar dan belajar….saya curiga orang yg selalu buka forum membahas yg sdh baik ini yg akan membuat ragu dan berhenti utk berbuat baik,msh banyak hal lain yg perlu kita bahas dan perbaiki di negeri ini…tanks.

    Rosyidi :Sepertinya anda belum membaca artikel diatas dengan seksama.
    Derajat suatu hadis (Sahih, Dhoif, dll) sangatlah penting.
    Islam bukan agama yang melihat hasilnya.
    Tapi melihat prosesnya.
    Contoh, si Fulan mendapatkan gula. Hasilnya sudah terlihat jelas Gula. Gula itu halal. Tapi kita lihat dulu proses dia mendapatkannya.
    Kalau dia mendapatkan dari membeli gula itu tetap halal. Tapi kalau dia mendapatkannya dari mencuri, maka gula itu jadi haram.

    Hampir sama dengan itu. Untuk pesan belajar, memang hasilnya sama. Agar kita menuntut Ilmu. Tapi cara kita menyampaikan pesan itulah yang penting. Kita menggunakan dalil dari mana? Kalau mau tanpa dalil ya gak masalah. Tapi kalo sudah menyangkut dalil, dimana disini masalah hadis, harus bener. Karena menyangkut nama Rasulullah.

    Artikel terkait menyangkut masalah ini bisa dibaca di : http://rosyidi.com/tinggalkan-jika-bertentangan-dengan-al-quran-dan-hadis/

    Jika ingin menggunakan dalil dalam masalah menuntut ilmu, bisa menggunakan : “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim” seperti yang telah dijelaskan pada artikel di atas.

  47. fiha says:

    Rosyidi :Sepertinya anda belum membaca artikel diatas dengan seksama.
    Derajat suatu hadis (Sahih, Dhoif, dll) sangatlah penting.
    Islam bukan agama yang melihat hasilnya.
    Tapi melihat prosesnya.
    Contoh, si Fulan mendapatkan gula. Hasilnya sudah terlihat jelas Gula. Gula itu halal. Tapi kita lihat dulu proses dia mendapatkannya.
    Kalau dia mendapatkan dari membeli gula itu tetap halal. Tapi kalau dia mendapatkannya dari mencuri, maka gula itu jadi haram.

    ***tetapi bagaimanapula jika makanan yang dicuri sprti roti/gula, sebenarnya diperlukan oleh anak yang sedang kelaparan ,bukankah si ibu/bapa yang terpaksa mencuri bagi memastikan anaknya tidak mati kelaparan? Mereka,biarpun mencuri tetap punya tanggungjawab sebagai ibu/bapa untuk menyelamatkan anak mereka? Bukankah ia juga bergantung kepada niat? aku musykil sekali..

    Rosyidi :Ya memang semua tergantung dari niat. Namun perlu dilihat juga bagaimana usaha orang tua tersebut. Apakah lantaran tidak punya uang, dan tanpa usaha lalu menghalalkan mencuri. Usaha bisa dengan jalan mencari kerja, apa adanya yang penting dapat kerja halal. Kalau zaman sekarang rasanya mustahil ada yang tidak mendapat kerja, kerja itu sebenarnya banyak, tinggal mau atau tidaknya aja. Kebanyakan inginnya instant, sedikit kerja uang banyak. Tidak ada yang seperti itu. Semua butuh perjuangan.
    Wallahua’lam bishowab.

  48. kok repot2 mengoreksi saudara se IMAN. Berbuatlah yang lebih nyata untuk Ummat

  49. zainal says:

    Artikel ini mungkin juga bisa dibaca sebagai “pelengkap” … Wallahu’alam bissawab.

    Sebagai contoh, Mufti termuda kita (Mufti Perlis) baru-baru ini membuat kenyataan di dalam Berita Harian pada 5hb Januari 2007 bahawa ramai di kalangan ustaz-ustaz kita yang mengajar di masjid dan surau membacakan hadis palsu. Beliau mendakwa bahawa hadis : “Tuntutlah ilmu walau sehingga ke negeri China ” merupakan hadis palsu. Mufti itu mengajak kita supaya merujuk kepada beberapa kitab yang diisyaratkannya. Tetapi beliau sendiri tidak meluahkan isi sebenar kandungan kitab-kitab yang menjadi rujukannya itu. Ini satu metodologi penyembunyian fakta secara terhormat. Dan bukan dari prinsip kesarjanaan dalam Islam.

    Marilah kita sama-sama membuka minda untuk menilai status hadis : “Tuntutlah Ilmu walau sehingga ke negeri China ” dengan sejelas-jelasnya. Apakah dakwaan Mufti termuda itu boleh dianggap sebagai satu fakta yang benar?

    Sebenarnya, hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Rabi’ di dalam Musnadnya pada Bab Menuntut Ilmu dan kelebihannya hadis bernombor 18. (lihat al-Rabi’ bin Habib bin Umar al-Basri, Musnad al-Rabi’, cetakan Dar al-Hikmah : Bayrut, 1415H, tahkik Muhammad Idris, juz 1 m/s 29)

    Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Syuab al-Iman, hadis bernombor 1663. (lihat Abu Bakar Ahmad bin Hussein al-Baihaqi, Syuab al-Iman, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Bayrut, Cet Pertama, 1410H, tahkik : Muhd Sa’id Basyuni Zaghlul, juz 2 m/s 253).
    Hadis ini juga disebut di dalam Musnad al-Bazzar bernombor 95. Akan tetapi al-Bazzar menolaknya dengan menarafkan sebagai palsu. Atas alasan Abi ‘Atikah merupakan perawi yang tidak dikenalinya. (Abu Bakar Ahmad bin Amru al-Bazzar, Musnad al-Bazzar, Muassasah Ulum al-Qur’an : Bayrut, Cet Pertama, 1409H, tahkik : Dr Mahfuz al-Rahman Zainullah, juz 1 m/s 75)

    Hadis ini juga disebutkan oleh Abi Syujak Syarawaih al-Hamazani di dalam Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab bernombor 236. (lihat al-Hamazani, Firdaus bi Matsur al-Khitab, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Bayrut, Cet Pertama, tahkik: Muhd Sa’id Basyuni Zaghlul 1986M, juz 1 m/s 7

    Soalnya, apakah para ulamak yang meriwayatkan hadis ini dan mengabadikan di dalam kitab karangan mereka boleh kita kategorikan sebagai pemalsu hadis. Masya Allah, jikalau Tuan Mufti tetap berpendapat sedemikian ternyata Tuan Mufti tidak menguasai seni ilmu hadis. Maksudnya ialah keupayaan dalam memahami kedudukan hadis, kecacatan hadis dan feqh al-Hadis itu sendiri. Justeru, apakah nilai disebalik MA dan PHD hadis yang tuan miliki.

    Sekarang marilah kita sama-sama menelusuri perbincangan tentang status hadis ini. Imam Abd Rauf al-Munawi di dalam Fayd al-Qadhir Syarh Jami’ al-Saghir ketika membuat ulasan terhadap hadis ini mengatakan : “Al-Baihaqi mengatakan matannya (hadis ini) masyhur akan tetapi isnadnya dha’if. Dan diriwayatkan daripada (beberapa) sanad yang lain yang sempurna kedudukannya. Manakala Ibn Abd al-Barr di dalam kitabnya Fadhl al-Ilmi (Kelebihan Menuntut Ilmu) meriwayatkan hadis ini daripada Jaafar bin Muhammad al-Zaghuni daripada Ahmad bin Abi Suraij al-Razi daripada Hamad bin Khalid al-Khayyath daripada Tharif bin Salman bin ‘Atikah daripada Anas ‘Ad daripada Muhammad bin Hasan bin Qutaibah daripada Abbas bin Abi Ismail daripada Hassan bin ‘Athiyyah al-Kufi daripada Abi ‘Atikah daripada Anas.

    Bagi saya, apa yang dijelaskan oleh Imam al-Munawi ini hampir sama nadanya dengan kenyataan Ibn Hajar al-Asqalani di dalam kitabnya Lisan al-Mizan (Ibn Hajar al-Asqalan, Lisan al-Mizan, Muassasah al-A’lami: Bayrut, Cet ke-3, 1986M, juz 6 m/s 304)

    Al-Munawi meneruskan ulasannya : “Dan Ibn Hibban mengatakan hadis ini hadis yang bathil yang tidak ada sumbernya berdasarkan hujjah bahawa al-Hassan (perawi hadis ini) merupakan perawi yang dhaif. Manakala Abi ‘Atikah (merupakan seorang) perawi yang munkar. Dan di dalam kitab al-Mizan dijelaskan bahawa riwayat Abu ‘Atikah daripada Anas diperselisihkan tentang namanya dan periwayatannya adalah dhaif sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi.

    Imam al-Sakhawi pula dan lain-lain ulamak mengatakan : “Hadis ini dhaif (*bukan palsu seperti dakwaan Dr. Asri) berdasarkan kepada dua faktor. Dan Ibn Hibban mengatakan hadis ini hadis yang bathil yang tidak ada sumbernya. Manakala Ibn al-Jauzi menarafkan ia sebagai hadis yang direka. Dan kami memilih atau menuruti pendapat al-Mizzi (Imam al-Hafiz Jamaluddin al-Mizzi yang mengatakan bahawa hadis ini diriwayatkan dengan beberapa riwayat dan apabila dicantumkan dengan sebahagian riwayat yang lain kemungkinan ia mencapai standard hadis hasan. Dan al-Dhahabi mengatakan di dalam Talkhis al-Wahiyat bahawa hadis ini diriwayatkan dengan banyak riwayat. Sebahagian bertaraf waahiyat (amat lemah) dan sebahagiannya sholeh… (baik).” (Abd Rauf al-Munawi, Fayd al-Qadir Syarh Jami’ al-Soghir, Maktabah al-Tijariah al-Kubra : Mesir, Cetakan Pertama, 1306H m/s 543 juz 1)

    Tidak cukup dengan keterangan di atas, marilah kita sama-sama meneliti pula apa yang dikemukakan oleh Imam al-Ajlouni di dalam kitabnya Kasyf al-Khafa’ li Muzil al-Ilbas Ketika membahaskan hadis “Menuntut ilmu satu kefardhuan bagi setiap individu muslim” beliau mengatakan : “Hadis riwayat Abi ‘Atikah (pada awal lafaznya) Tuntutlah ilmu walau sehingga ke negeri China dan keduanya (lafaz akhir)” terdapat beberapa komentar. Ibn Abd al-Barr juga meriwayatkan daripada Anas dengan riwayat yang banyak. Tetapi keseluruhannya mempunyai kecacatan dan tiada hujjah padanya dari sudut isnad menurut pakar hadis.”

    Katanya lagi : “Menurut al-Bazzar hadis ini diriwayatkan daripada Anas dengan sanad-sanad yang amat lemah. Dan yang paling hasannya ialah apa yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Salam secara marfuk daripada Anas. Dan tidak diketahui orang yang meriwayatkan daripada Ibrahim bin Salam kecuali Abu ‘Asim. Manakala pada perbincangan hadis bab (Bab Ilmu) telah dikemukakan riwayat-riwayat daripada Ubai, Jabir, Huzaifah, al-Hussein bin ‘Ali, Ibn Abbas, IbnUmar, Ali, Ibn Mas’ud, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Um Hani’ dan lain-lain. Ringkasnya (menurut kami) ialah berdasarkan apa yang ditakhrijkan oleh al-Iraqi terhadap kitab Ihya’ Ulumuddin karangan al-Ghazali…”

    Selanjutnya al-Ajlouni mengulangi pendirian al-Baihaqi terhadap hadis ini. Di samping itu, beliau mengemukakan pendapat Imam Ahmad terhadap hadis ini berdasarkan apa yang dinukilkan daripadanya Ibn al-jauzi di dalam Ilal al-Mutanahiyah dengan katanya : “Hadis ini tidak tsabit sesuatupun berkaitan dengan hadis bab menurut pandangan kami.”

    Katanya : “Dan demikian juga pandangan Ishaq Ibn Rahawiyah dan Abu Ali al-Nesyaburi. Manakala Ibn al-Solah mengisyaratkannya sebagai hadis masyhur yang tidak bertaraf sahih. Dan pendapat ini diikuti oleh Imam al-Hakim. Akan tetapi al-Iraqi mengatakan sesetengah ulamak hadis mentashihkannya dengan beberapa isyarat sebagaimana yang dijelaskan beliau dalam ulasan beliau terhadap Ihya’ Ulumuddin.

    Katanya lagi : “Imam al-Mizzi pula mengatakan : “Isyarat hadis ini mencapai status hasan sebagaimana yang didapati di dalam Maqasid al-Hasanah. Manakala Ibn Hajar al-Asqalani di dalam al-Lali’ selepas meriwayatkan pelbagai riwayat dari Ali, Ibn Mas’ud, Anas Ibn Umar, Ibn Abbas, Jabir dan Abi Said mengatakan bahawa pada hadis ini terdapat beberapa pandangan.” (Syeikh Ismail b Muhammad al-Ajlouni, Kasyf al-Khafa’ li Muzil al-Ilbas, Cet ke-4 Muassasah al-Risalah, Bayrut, 1405H, tahkik Ahmad al-Qallasy m/s 56-57 juz 2)

    Kesimpulannya, berdasarkan keterangan di atas jelaslah kepada kita bahawa hadis : “Tuntutlah ilmu walau ke negeri China ” diriwayatkan dengan banyak riwayat. Sebahagian dari riwayat tersebut berstatus dhaif. Akan tetapi apabila dihimpunkan dengan beberapa riwayat yang dhaif dan didatangkan dengan beberapa syahid (kesaksian) yang lain riwayat dhaif tersebut akan mencapai status hasan.

    Manakala beberapa riwayat yang bertaraf amat lemah dan berstatus munkar atau palsu ditolak oleh para ulamak sebagai hujjah dalam kelasnya. Hal ini diputuskan berdasarkan kepada kedudukan kedudukan perawi dalam sanad-sanad yang tersendiri sebagaimana yang diperjelaskan di atas. Dan ketentuan ini amat mudah difahami bagi mereka yang mendalami ilmu hadis. Sayangnya Mufti Baru kita menggunakan metodologi bersifat hukmi semata tanpa tafsili. Iaitu dengan menghukum hadis ini palsu secara total. Apakah ini satu estetika ilmiah yang boleh dikongsi bersama?.

    Di samping keterangan menerusi kitab-kitab di atas, banyak lagi keterangan yang boleh dinukilkan di sini melalui beberapa kitab. Antaranya melalui kitab al-Kamil fi Dhua’fa al-Rijal, al-Majruhin,Ttarikh al-Baghdad, al-Tadwin fi Akhbar Qazwin, Kasyf al-Dzunun, Abjad al-Ulum dan lain-lain. Namun penulis menyingkatkan perbincangan untuk memberi focus perbincangan kita. Tetapi penulis tidak teragak-agak untuk menghuraikannya secara lebih lanjut jika keadaan memerlukan.

    Selain keperihalan sanad, marilah kita menganalisa sedikit tentang kedudukan matannya. Matan hadis ini adalah jelas berstatus masyhur sebagaimana penjelasan Imam al-Baihaqi. Tidak cukup dengan itu, para ulamak tidak lupa untuk menghuraikan matan hadis ini. Buktinya, Imam Al-Ajouni ketika menukilkan huraian al-Baihaqi dengan katanya : “Hadis ini (menuntut kita) untuk mempelajari ilmu yang bersifat umum yang mana seseorang tidak patut jahil mengenainya. Ataupun ia bermaksud satu tuntutan menimba ilmu-ilmu yang bersifat khusus. Atau yang dimaksudkan dengan tuntutan “Menuntut ilmu satu kefardhuan bagi setiap individu muslim” sehingga seseorang itu mampu melaksanakan tuntutan yang memenuhi keatas dirinya…”

    Selain huraian Ibn Abd al-Barr, al-Baihaqi, al-Ajlouni, al-Munawi,al- Sakhawi, hadis ini juga turut dihurai oleh Imam Abdullah ‘Alawi al-Haddad di dalam Nasha ih’ al-Diniyyah wa Wasoya al-Imaniyyah. Dan intisari kitab ini pula diajarkan oleh Tuan-tuan Guru dan Ustaz-ustaz kita. Apakah aktiviti seperti ini dikira sebagai penyampai hadis palsu. Maka buatlah pemerhatian yang sebaik-baiknya sebelum melontarkan tuduhan terhadap sesuatu perkara.
    Secara realitinya pula, matan hadis ini tepat dengan apa yang berlaku pada hari ini. Walaupun Rasulullah SAW tidak pernah sampai ke negeri China , namun wawasan pemikiran Baginda SAW terlebih dulu sampai ke sana . Bukankah China dulu dan kini terkenal dengan industri pembuatan tembikar/kaca, kertas, kain sutera, jarum, barangan mainan, produk pertanian dan barangan tiruan.

    Malah dunia mana pada hari ini tidak diduduki orang cina. Dan terbukti pada hari ini bahawa orang cina yang menguasai ekonomi sehingga ekonomi Amerika pun turut tergugat dengan peranan yang dimainkan China . Mereka yang menjadi gergasi Ekonomi di alaf baru. Justeru, apa salahnya kita mempelajari sikap yang baik, disiplin, kemahiran dan teknologi mereka. Tuan Mufti sendiri ada menyentuh hakikat ini pada tulisan di akhbar Berita Harian pada 4hb. Namun pada tulisan 5hb Januari 2007 beliau sendiri menulis di bawah sedar.

    Kesimpulannya, semua keterangan ini membuktikan kepada kita bahawa para ulamak tidak seia sekata dalam menentukan hadis ini. Apa yang jelas ialah status hadis ini ditentukan berdasarkan kepada susur galur periwayatan sanad-sanadnya yang banyak. Hasilnya, ada riwayat yang berstatus dhaif dan palsu. Walaupun dhaif jika dihimpunkan dengan beberapa periwayatan dan kesaksian yang lain ia akan mencapai taraf hasan. Apabila ia bertaraf dhaif ataupun hasan ternyata ia boleh diamalkan menerusi disiplin ilmu hadis.

    Buktinya, Al-Imam al-Nawawi –secara masyhur- di dalam al-Arba’in mengatakan bahawa para fuqaha’ dan muhaddithin telah bersepakat untuk menerima pakai hadis dhaif dalam bab Fadha’il a’mal (kelebihan untuk beramal) dan Bab Etika serta tidak ianya tidak berstatus palsu. Justeru, jika Tuan Mufti mendakwa ianya palsu mengapa Tuan Mufti tidak memperincikan sanad-sanadnya yang palsu itu sebagaimana menurut disiplin ilmu hadis.
    Sayangnya, Mufti Baru kita seakan sengaja menyembunyikan fakta ini. Dimana nilai kesarjanaan yang dilaung-laungkannya . Amat malang , kerana berasaskan kepada fakta yang disembunyikan ini, beliau membuat kecaman terbuka terhadap Tuan-tuan Guru dan Ustaz-ustaz kita bahawa kebanyakkan mereka menyampaikan ilmu agama dengan hadis palsu.

    Senario ini sedikit sebanyak mendatangkan fitnah kepada mereka. Masya Allah. Jika ada benarnya dakwaan Mufti baru ini, saya meminta Tuan Mufti kemukakan butiran individu tersebut, lokasi pengajaran mereka, sanad dan matan yang dibawa mereka untuk dimuzakarahkan (* Jangan menuduh macam orang yang tiada kesarjanaan). Hal ini penting supaya Tuan Mufti tidak menuduh secara sembarangan. Dan maruah Tuan Mufti tidak tercemar di mata masyarakat. Walaupun asas untuk mendakwa bahawa hadis ini sebagai hadis yang palsu ada. Tetapi asas al-Bazzar, Ibn Hibban dan Ibn al-Jauzi itu berteraskan kepada perawi yang dikritik mereka. Manakala perawi yang dikritik pula dipandang sebagai dhaif oleh majority ulamak yang lain. Akhirnya menimbulkan kekhilafan dalam penarafan hadis. Justeru, perselisihan ini tidak wajar dijadikan asas untuk dimuktamadkan sebagai hadis palsu. Apatah lagi ia hendak digunakan sebagai hujjah untuk menuduh pihak yang tidak sependapat dengan kita.
    Nampaknya, mutiara-mutiara ilmiah dan hikmah kita semakin hilang apabila institusi agama diterajui oleh mereka yang jahil dalam disiplin ilmu ini. Lantaran itu, tidak bhairanlah jikalau ada suara-suara sumbang yang mengkritik ulamak dan pendakwah secara menghina bukannya bersifat membina. Dan tidak syak bahawa inilah seni penyelewengan yang terhormat dalam agama. Semoga Allah mengurniakan hidayah kepada kita semua terhadap apa yang disukai lagi diredhaiNya.

    Ustaz Zamihan Mat Zin al-Ghari, ialah Ahli Lembaga Penasihat Darul Hadis – PAKSI

  50. nugroho says:

    menarik, seperti kusir debat berebut pepesan kosong. padahal maksud ts simple.

    masalah bergeser ke eksistensi :d

  51. rydenmas says:

    ternyata ini sangat lemah ya …. tp kenapa masih ada ulama yang menggunakannya utk mofitasi

  52. Dear mas John sama Evan, jadi yang dipermasalahkan di sini adalah bukan perihal menuntut ilmunya, melainkan perihal keshahihan hadits cinta itu….. Kalo kita bicara hadits ini asalnya dari Rasulullah, padahal ternyata Rasulullah tidak pernah mengatakan hal tersebut maka konsekuensinya akan sangat berat

    BARANGSIAPA YANG BERDUSTA ATAS NAMAKU (MENGATAKAN SESUATU SEBAGAI HADITS RASUL TETAPI BUKAN) MAKA BERSIAPLAH MENEMPATI TEMPAT DUDUKNYA DI NERAKA. (H.R. BUKHARI)

    Semoga bermanfaat

Trackbacks

Lihat apa opini orang-orang tentang artikel ini...
  1. [...] Habibi Taufiq Assegaf. saya mau bertanya ttg maqolah “tuntut ilmu walau ke cina”. dalamhttp://rosyidi.com/tuntutlah-ilmu-ke-cina-bukan-sabda-rasulullah/ dijelaskan bahwa maqolah tsb bukanlah hadis Rasulullah tp saya seringkali mendengar ustad2 [...]

  2. [...] khusus Habibi Taufiq Assegaf. saya mau bertanya ttg maqolah “tuntut ilmu walau ke cina”. dalamhttp://rosyidi.com/tuntutlah-ilmu-ke-cina-bukan-sabda-rasulullah/ dijelaskan bahwa maqolah tsb bukanlah hadis Rasulullah tp saya seringkali mendengar ustad2 [...]



Tulis Opini Anda

Ceritakan semua opini anda tentang artikel ini...
Jika ingin menampilkan foto pada kolom komentar, silakan daftarkan email anda ke : gravatar!

<< Harus diisi dengan angka 3