Silakan copy paste asal...
Ganti Nomor HP HP Dual Mode MITO Coolpad 288
1,134 views
Feb 05

PERINGATAN !!! Jangan hanya membaca judulnya saja. Baca isi, atau paling tidak kesimpulannya.

“Tuntutlah ilmu, walaupun ke negeri Cina”

china-map-flag(HR. Ibnu Addi dalam Al-Kamil (207/2), Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (2/106), Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (9/364), Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhol (241/324), Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ (1/7-8), dan lainnya, semuanya dari jalur Al-Hasan bin ‘Athiyah, ia berkata, Abu ‘Atikah Thorif bin Sulaiman telah menceritakan kami dari Anas secara marfu’)

Kita sudah sangat sering mendengarkan kalimat diatas dari cermah ataupun khutbah Jumat. Tidak sedikit “da’i” yang menyatakan kalimat tersebut merupakan ucapan Rasulullah.

Tapi tahukah anda bahwasannya menurut ahli hadis kalimat itu bukan berasal dari sabda Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam.

Ini adalah hadits dhaif jiddan (lemah sekali), bahkan sebagian ahli hadits menghukuminya sebagai hadits batil, tidak ada asalnya.

Ibnul Jauziy –rahimahullah- berkata dalam Al-Maudhu’at (1/215) berkata, ‘’Ibnu Hibban berkata, hadits ini batil, tidak ada asalnya’’.

.

Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah- menilai hadits ini sebagai hadits batil dan lemah dalam Silsilatul Ahaadiits Adh-Dha’iifah jilid I nomor hadits 416.

Ibnu Hibban berkata, “Hadis tersebut bathil, tidak bersumber (dari Nabi Sallahu alaihi wassalam) sama sekali. Hadis di atas disebutkan di hadapan Imam Ahmad lantas beliau mengingkari dan membantah keras hal tersebut.”

As-Suyuthiy dalam Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah (1/193) menyebutkan dua jalur lain bagi hadits ini, barangkali bisa menguatkan hadits di atas. Ternyata, kedua jalur tersebut sama nasibnya dengan hadits di atas, bahkan lebih parah. Jalur yang pertama, terdapat seorang rawi pendusta, yaitu Ya’qub bin Ishaq Al-Asqalaniy.
Jalur yang kedua, terdapat rawi yang suka memalsukan hadits, yaitu Al-Juwaibariy. Ringkasnya, hadits ini batil, tidak boleh diamalkan, dijadikan hujjah, dan diyakini sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Diriwayatkan dari Abu al-’Atikah : Pada sanad hadith ini adanya Abu al-’Atikah yang tidak dikenali, dan tidak ada bagi hadith ini asal-usulnya. (al-Bazzar di dalam al-Bahr al-Zukhar)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Batil, tidak ada asal baginya (Ibn Hibban di dalam al-Majruhin)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah. : Dengan sanad ini ianya Batil, terdapat Ahmad al-Juwaibari dia adalah seorang pemalsu hadith. (Ibn ‘Adiy di dalam al-Kamil fi al-Dhu’afa’)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Matannya masyhur dan isnadnya dhoif, ia diriwayatkan juga dari beberapa bentuk, semuanya dhoief/lemah. (al-Baihaqi di dalam Sya’b al-Iman)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Di dalam sanadnya ada Abu ‘Atikah Torif bin Salman, sangat mungkar hadith. (Ibn al-Qaisarani di dalam Tazkirah al-Huffaz)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik. : Diriwayatkan melalui dua sanad, kedua-duanya dhoief. (Ibn al-Qaisarani di dalam Dakhirah al-Huffaz)

Ibn al-Jauzi di dalam al-Maudhu’aat : Tidak sahih.

al-Sakhawi di dalam al-Maqasid al-Hasanah : Lemah.

al-Zarqani di dalam Mukhtasar al-Maqasid : Lemah.

.

al-’Ajluni di dalam Kasyf al-Khafa’ : Lemah.

al-’Ajluni di dalam Kasf al-Khafa’ : Di dalamnya ada pendusta

Bagaimanapun juga, dalam setiap situasi dan kondisi, cukuplah kiranya berpedoman pada sekian banyak nash-nash (dari Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam) yang memberikan semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu serta keutamaan dalam meraihnya. Sebagaimana halnya sabda Rasulullah Salallahu alaihi wassalam yang berbunyi :

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”

HR. Ibnu Majah no. 220 dari shahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dan diriwayatkan oleh sekelompok ahli ilmu, diantara mereka adalah Ath-Thabrany, Al-Khatib, Al-Baihaqy dan lainnya, dari riwayat Anas, Ibnu Sa’id dan yang lainnya — Semoga Allah senantiasa meridhai mereka.

Begitu juga sabda Rasulullah yang berbunyi :

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu di dalamnya, maka Allah akan menuntunnya menuju jalan di antara jalan-jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat akan mengepakkan sayap-sayap mereka untuk sang penuntut ilmu, karena ridha (terhadap apa yang ia perbuat). Dan sesungguhnya, orang yang berilmu itu akan dimohonkan apapun oleh seluruh penghuni langit dan bumi serta ikan-ikan di perut laut. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan seorang ahli ibadah, adalah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang di angkasa. Sesungguhnya para ahli ilmu (ulama) adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya, para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan juga dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu semata. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sejatinya ia telah mengambil bagian yang banyak.”
(Hadis sahih : diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), At-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no.223), dan Ibnu Hibban (no.80 al-Mawaarid), lafadz ini milih Ahmad, dari Sahabat Abu Darda’ radhiyallaahu’anhu.)

Kesimpulan :

Kalau ada yang Sahih (sah) mengapa pakai yang dhoif (lemah) ?
Bolehlah kita memberi nasihat tuntutlah ilmu setinggi2nya, tuntutlah ilmu sampai ke ujung dunia, ke Cina, Jepang, dll. Tapi tidak boleh mengatasnamakan hal tersebut berasal dari Rasulullah Sallahuallaihi Wassalam.

Wallahua’lam bishowab.

Penulis : Agam Rosyidi

URL : http://rosyidi.com/tuntutlah-ilmu-ke-cina-bukan-sabda-rasulullah/

Referensi :

  • Hadits-Hadits Dha’if Populer, Syeikh Abdul Aziz As-Sadhan
  • Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 01 Tahun I
  • Al-Qayyim


Related Posts

40 Comments to “Tuntutlah Ilmu ke Cina Bukan Sabda Rasulullah”

  1. kus Says:

    aye pernah denger juga kalau hadith ini palsu. .. apalagi kalau menuntut ilmunya sampe ke amrik, trus jadi liberal lagi, masya Allah:o

  2. Jiewa Says:

    Saya ga komentar soal agamanya, tp menurut saya maksudnya bukan harafiah ke negara ‘China’, tapi lebih ke : menuntut ilmu ’setinggi-tingginya’, tanpa batasan.. :)

  3. jimmy Says:

    ah yang penting makna-nya aja kalo buat saya mah..

  4. faizal Says:

    Dimanapun ilmu itu dicari, yang lebih penting adalah pengamalannya :)>-

  5. BlogDokter Says:

    Sekarang di tengah keterpurukan di segala bidang, menuntut ilmu kemana mana aja tidak masalah. Kita masih perlu banyak belajar dan belajar.

    Jangan heran kelak muncul pepatah ‘tuntutlah ilmu, walau ke negeri blogospher’ :d

  6. dianz Says:

    dah lama aku denger hadits ini ga jelas sanadnya (pendeknya dhoif lah), tp belum dapet keterangan rinci mengapa begitu. alhamdulillah ada disini :)

  7. toim Says:

    cina emang terkenal akan ketinggian nilai seni budaya serta strategi perang ala sun tzu, mungkin itu yg mengispirasi para pembuat hadist palsu :D

    Rosyidi :Sebenarnya strategi perang sun tzu baru diterapkan dalam berbagai bidang terutama di bidang ekonomi jauh setelah sun tzu hidup. Jadi sun tzu sendiri kala itu tidak akan menyangka kalau strategi perangnya bisa dimanfaatkan di bidang lain.

  8. cempluk Says:

    TUNTUTLAH ILMU SETINGGI BINTANG..TOH KALO MELESET, MAKA AKAN BERADA DIANTARA BINTANG2..

  9. a-jan blangpidie Says:

    pada masa rasulullah, negeri cina sedang berada dipuncak kejayaan. pada saat itu perekonomian, teknologi, ilmu pengetahuan, militer dll dikuasai oleh cina. demikian mengapa rasulullah mereferensikan cina.

    kejayaan cina memang sempat hilang, sehingga muncullah anggapan bahwa hadist tersebut palsu.

    yang penting maknanya harus dipahami, sesusah apapun kita harus terus belajar.

    Rosyidi :Yang jadi masalah bukan terletak pada hilangnya kejayaan Cina. Tetapi rawi hadis tersebut yang dianggap pendusta dan rawi yang suka memalsu hadis. Telah dijelaskan diatas, banyak ahli hadis yang menolak hadis tersebut. Dan saya belum pernah mendengar ada yang menggapnya sahih.
    Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa itu merupakan perkataan Rasulullah.
    Jika ingin menyampaikan dalil seputar mencari ilmu. Lebih baik memakai hadis pada dua paragraf terakhir sebelum kesimpulan.

  10. aLe Says:

    ini dia yg aLe cari,
    secar dulu waktu sering isi materi (organisasi)
    ketika pakai kalimat ‘tuntutlah ilmu…dst’ itu ga pake itu hadis nabi..
    *karena ragu*
    dan skr jd smakin jelas :)

  11. Riyogarta Says:

    Saya pernah melakukan pencarian mengenai hal ini dulu (saat saya masih duduk di bangku SMP) dan mendapatkan jawabannya dari sebuah buku yang saya sudah lupa judulnya :(
    Membaca posting bung Rosyidi ini membuat saya jadi ingat kembali. Thanks atas artikelnya, semoga bisa bermanfaat bagi yang lainnya.

    Btw, berdasarkan pengamatan saya, kalimat ini sekarang memang sudah jarang dipergunakan lho.

  12. lady Says:

    hadist itu mmg bukan dari rasulullah.

    oya, ttg “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”
    kl agam punya referensinya, tolong disharing di blog ini juga, yg wajib dipelajari itu ilmu apa aja. soalnya ada yang berpendapat bahwa yg wajib itu ilmu agama macam hadist dll, sedangkan ilmu keduniawian macam kedokteran, teknik, dll bukan kewajiban melainkan dibolehkan.

    kl aku menganggap apa yg ada di bumi ini juga perlu dan wajib dipelajari namun blm nemu dalilnya.

  13. Sugiyono Says:

    Hemmm.. menarik gam postingmu… dan komentar yang ada di sini… Oh iya, makasih atas sarannya tuk update postingku.. Lagi sibuk sidang TA soalnya.. Btw, menuntut ilmu memang wajib.. tiap orang yang ingin selamat di dunia dan akhirat wajib dengan ilmu….

    Memang hadist itu palsu… dan sebaiknya tidak digunakan untuk mengingatkan jama’ah.. soalnya aku juga masih sering denger di Jamaah shalat jum’at…:(

  14. zakiyah umami Says:

    :)>- Oh iya ta, bru tau aku. Terlepas itu hadis lemah, kuat atau apalah, menurutku kl emang memberi input yang bagus gak masalah.toh jk orang mengira itu hadist dari nabi, toh nabi juga yang dapat nilai plusnya. Bukan begutu ustadz?

    Rosyidi :Meskipun kita menganggapnya baik, tapi seluruh ulama sepakat tidak memperbolehkan hal tersebut. Karena itu sama dengan berdusta atas nama Rasulullah.
    Dapat dianalogikan seperti ini : misalnya si A mengatakan si B kaya, banyak duit, punya rumah banyak. Tapi ternyata si B tidak kaya, dan hidup pas-pasan. Walaupun tujuannya baik, ingin mengangkat derajat si B, tapi itu tetap saja berdusta. Dan si B juga belum tentu senang dengan hal tersebut.

  15. mr.bambang Says:

    Di sebuah plang, pernah menemui ada tulisan “Cinta Negara adalah Sebagian dari Iman” :d

  16. Hair Says:

    Subhanallah, kok saya baru tau ya?
    ternyata ilmu yang saya miliki memang sangat sedikit,

  17. riza Says:

    thx, bermanfaat sekali

  18. suprie Says:

    Makanya saya rada hati - hati klo menggunakan hadist. Malah yang saya baru tahu klo bersalaman setelah sholat itu mengarah ke bid’ah, ada di buku Bid’ah Bid’ah …. lupa belakangnya, nanti saya coba updet..

    Rosyidi :mungkin “bid’ah bid’ah yang dianggap sunah”, aku gak punya buku itu, tapi pernah denger. Banyak buku2 serupa. Kalo yg aku punya Tanya Jawab Bid’ah dalam Ibadah.

  19. pututik Says:

    Mari berpikir cerdas :)>-

  20. john Says:

    china, calon negara adidaya, terdapat banyak hal-hal yang indah dinegeri china, gunung yang indah, sungai yang indah, bangunan yang perkasa, jembatan terpanjang, bendungan terbesar dunia, kota-kota china yang maju, penduduk terbesar didunia, kebudayaan tertua didunia, mengenal Dzat Tuhan, Tao, sebagai Dzat pencipta, Yang Maha Menguasai, menghidupkan semua makhluk, yang memelihara laksa makhluk, mengedarkan surya dan rembulan, yang ada dengan sendirinya, Tiada dilahirkan, Tiada musnah, itulah ajaran Tao, dari Lao Tze, 3000 sbelum masehi, atau 5000 tahun yang lalu, sudah mengenal hakikat Tuhan, jauh sebelum islam itu ada.

  21. riza Says:

    @ John
    Nggak hanya china yang hebat kalau diukur dari SDA maupun peninggalannya. Khilafah(daulah) Islam juga pernah berjaya ratusan tahun dan eksis selama +- 13 abad. Dan ketika khilafah Islam yang menjadi negara adidaya, tidak semena2 seperti AS sekarang. Bahkan banyak rakyat di luar khilafah yang ingin agar negerinya segera dikuasai negeri ini. Hukumnya didasarkan pada syariat, hukum Tuhan. Jadi bisa dibayangkan kalau memang agama Islam adalah agama yang sempurna.

    * flashback kejayaan Islam di masa lalu aja

  22. john Says:

    ketika islam baru ada (400 masehi) dikala itu, diibaratkan seorang anak yang baru belajar merangkak untuk menggapai sang Kekasih, untuk bertemu sang Kekasih.
    dan Taoism(di China) dikala itu(400 masehi), diibaratkan seorang anak yang telah beranjak dewasa dalam bertemu sang Kekasih dan telah melihat sang Kekasih, serta duduk disamping Kekasih, Tuhan Sang Pencipta.
    maka tidaklah heran, bila ada hadist yang berbunyi : “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”

    Rosyidi :Maaf, tolong dibaca PERINGATAN dibawahnya judul.
    Jangan hanya membaca judulnya saja. Paling tidak baca Kesimpulannya.
    Kami tidak mempermasalahkan seseorang belajar ke negeri manapun. Kami hanya mempermasalahkan penggunaan kalimat terserbut yang mengatasnamakan Rasulullah, Muhammad sallahu alihi wassalam.
    Ajaran Islam ada bukan sejak 400 masehi. Melainkan sejak nabi Adam. Semua nabi, Isa, Musa, Nuh, dll adalah seorang muslim. Banyak ayat di Al-Qur’an yang menyatakan hal tersebut, suatu saat akan kami bahas masalah ini.

  23. Labyrinth Says:

    Alhamdulillah…
    Soalnya diriku ingin menuntut ilmu ke tokto :)

  24. john Says:

    kok keturunan Musa bengal betul ya, Israel, dan keturunan Nabi Isa, Amerika dan Eropa dan Australia, Brazil, juga Rusia, dan juga keturunan China, india, afrka, bego amat ya keturunan mereka, tidak tahu kalo sesungguhnya nenek moyang mereka adalah Islam juga.
    apa mungkin nenek moyangnya yang salah? tidak diberitahu kalau sejak zaman Nabi Nabi itu ada, bahwasanya mereka adalah umat Islam, dan keturunan-keturunannya diberitahu sejak pertama kalo bapaknya, datuknya, nenek moyangnya, hingga manusia pertama adalah Islam semua. coba seandainya diberitahu dari dulu sekali sebelum ada Nabi Muhammad, Isa, atau Nabi Ibrahim, maka sejak dari zaman purba dulu, tentu semua umat manusia sudah Islam, dan tidak ada satupun keturunannya yang masuk neraka jahanam selamanya. Siapa yang salah?

    Rosyidi :Siapa yang salah kalau misalnya anaknya mas john mencuri? Padahal mas john bukan pencuri.
    Siapa yang salah kalo misalnya cucunya mas john merampok? padahal mas john bukan perampok.
    Siapa yang salah kalo misalnya cicitnya mas john korupsi? padahal mas john tidak korupsi.
    dst…
    Di kitab-kitab sebelumnya Nabi Muhammad juga diceritakan disana. Jika anda tanya dimana? Saya bisa menunjukkannya, tapi maaf ini bukan forum perdebatan antar agama. Silakan anda berpedoman pada agama anda, dan saya berpedoman pada agama saya.
    Tulisan diatas tidak untuk memperolok ras ataupun agama lain. Itu hanya mengkritisi sebagian umat muslim yang masih menggunakan kalimat tersebut dengan mengatasnamakan Rasulullah.

  25. Abi Bakar Says:

    Wah hadis ini sih populer banget, bahkan pas ujian agama Islam di SMP dulu salah satu pertanyaan yng saya dapat mengenai hadis ini.

    Nb: Agam keblog yah, ada tugas buat kamu. Sukron!

  26. riza Says:

    Allah menunjuki siapa saja yang dikehendakiNya dan menutup hati siapa saja yang dikehendakiNya.

    “Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak ditipu syaitan) maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
    perbuat” (QS. Fathir:8)

    Mungkin karena itulah diwajibkan bagi setiap Muslim untuk menuntut ilmu (agama). :)>-

  27. olangbiaca Says:

    Ass….ehe..thanks atas ilmunya. oiya salam kenal mas Rosyidi

  28. nugraha Says:

    Wahhh, baru tahu ada blog keren gini. Infonya bagus-bagus lagi. Salam kenal ya….

    Rosyidi :Salam kenal juga :)

  29. mk Says:

    Memang banyak istilah populer yang dianggap sebagai hadits, seperti ungkapan “Kembali dari Jihad kecil ke Jihad Besar yaitu melawan hawa nafsu” itu bukan hadits, silakan baca selengkapnya di eramuslim. Dan masih banyak lagi yang lainnya..

  30. Herry Says:

    Assalamualaikum!!!
    Wah mas Thanks ya Informasinya! aku sering online lo ma web ya mas? Banyak Ilmu - ilmu yang saya ambil dari blog ini. Salam kenal ya?
    Matur nuwun nggih???? ^_^

  31. indra1082 Says:

    Artikel yang bagus…
    salam kenal…

  32. kus Says:

    artikelnya bagus sekali, boleh kenalan? :x

    Rosyidi :Bukannya dari dulu dah kenal :D

  33. LIDIA Says:

    :-? wah baru tau ni masukkan yang baru

  34. hamba Allah Says:

    Saya sangat setuju sekali dengan kesimpulan yang diambil oleh Mas Agam bahwa kita tidak boleh mengambil hadis atau sebagai rujukan yang ternyata masih belum jelas kesahihanya walaupun hanya sedikit dengan mengatas namakan Rosululloh SAW dengan mengingatkan beberapa hadis nabi yang berbunyi :

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berdusta tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”. (HR Muttafaqun ‘alaihi).

  35. siluman kerbau Says:

    kutukan, penuh kutukan, sebaiknya Ia tidak menciptakan makhluk. Mau apa Dia hanya sendiri. Dia sengaja ciptakan neraka dan tertawa ha ha ha melihat makhlukNya disiksa, Allah Allah wajarlah bila yang mulia Al hallaj menentang kediktatoranMu. Allah Allah sungguh aku juga mnentangMu, menentang kediktatoranMu.
    jika aku menyembah Engkau hanya karena takut neraka, masukkanlah aku kedalam neraka.
    jika aku menyembah Engkau hanya mnyukai surga, janganlah masukkan aku kedalam surga itu. sungguh aku menymbah Engkau karena hanya Engkau semata, jangan sembunyikan dariku keindahanMu.

    kutukan, mendoakan kutukan pada sesama ciptaanNya agar masuk neraka, sungguh terlalu. lihat yang mulia rabi’ah, betapa baiknya dia, yang berharap sesama ciptaanNya tidak ada yang disiksa. dampak cinta rabi’ah pada Allah sungguh luar biasa, hingga ia juga mencintai manusia seluruhnya sebagai hamba-hamba Allah, dia mengatakan ” ya Allah, nanti kalau diakhirat jadikanlah tubuhku sedemikian besar, sehingga memenuhi ruang neraka, agar tidak ada lagi seorang hambaMu yang dimasukkan ke neraka.
    inilah namanya kasih sayang pada sesama makhluk ciptaanNya yang bebas diskriminasi.

  36. siluman kerbau Says:

    untuk komentar no.34

    Sungguh keterlaluan, hanya karena satu bunyi ayat hadist ini, engkau menyamakan tetua muslim masa lalu itu sebagai pendusta bagi rasul. Dan sekonyong-konyongnya kamu telah memakai nama rasul kalau mereka telah berdusta pada rasul, dan berharap tetua muslim pada masa lalu yang menyampaikan hadist ini sebagai penghuni neraka. Sungguh lancang engkau.

    Rosyidi :Bisakah anda membuktikan bahwa tetua muslim yang anda maksudkan itu adalah orang yang dapat dipercaya? Siapa saja ulama yang berkata seperti itu?

  37. siluman kerbau Says:

    Saudara/i muslimin dan muslimah yang dikasih Allah.

    jangan terlalu serius menanggapi ayat “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.
    itu mungkin hanyalah salah satu majas bahasa.
    yang berarti Tuntutlah ilmu setinggi mungkin.

    Salam.

    Rosyidi :Apapun alasannya berbohong itu tidak boleh, apalagi mengatasnamakan Rasullah.
    Menggunakan kalimat Tuntutlah ilmu sampai ke negri Cina boleh2 saja. Asal tidak mengatkan bahwa itu bersumber dari Rasulullah sallahu alaihiwassalam.

  38. widi Says:

    ya memang, kalau itu salah, ak yakin akan g baik juga buat kita, kalau itu benar (maksudnya: perawinya benar) pasti itu bermanfat buat kita. kalau gitu sekarang ak g ngebet nyari ilmu k cina dong, mendingan ke madinah/makkah kali ya… yang tentunya pasti kan banyak ilmu yang bermanfaat.
    A nanya, gimana kalau hadist tentang adzan untuk anak yang baru lahir itu, katanya hadistnya lemah juga? kalau memang benar, hal apa yang harus dilaksanakan pertama kali tuk anak yang baru lahir menurut nabi?
    jazakalloh

    Rosyidi :Maaf telat jawab. Lagi sibuk.
    Untuk adzan di telinga bayi, berikut arti dari Hadits Adzan di telinga kanan si bayi dan iqomah di telinga kirinya maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin: “Barang siapa dianugrahi anak kemudian ia adzan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya maka anak itu kelak tidak akan diganggu jin”

    Hadits ini maudhu.
    Ibnu Sunni meriwayatkan dalam kitab Amalul Yaumi wal-lailati halaman 200, dan juga Ibnu Asakir II/182, dengan sanad dari Ibu Ya`la bin Ala ar-Razi, dari Marwan bin salim, dari talhah bin Ubaidillah al-Uqali, dari Husain bin Ali.

    Sanad Tersebut Maudhu`(PALSU) sebab Yahya bin Ala dan Marwan bin Salim dikenal sebagai pemalsu Hadits. Disamping itu, dalam periwayatan hadits diatas ada semacam unsur meremehkan atau mengagampangkan masalah. Hal itu diutarakan oleh al-Haitsami dalam kitab Majma az Zawa`id IV/59, Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan dalam sanadnya terdapat Marwan bin Sulaiman al-Ghifari, yang oleh muhadditsin riwayatnya ditinggalkan atau tidak diterima.

    Almanawi pensyarah kitab al-jami`ush shaghir berkata: Hadits ini dalam sanadnya terdapat Yahya bin Ali alBajali ar-Razi. Adz Dzahabi dalam kitab adh Dhuafa` wal-Matrukin berkata: “Ia pendusta dan pemalsu ” Itulah yang dinyatakan oleh Imam Ahmad.
    Suatu saat jika ada waktu senggang aku bahas masalah ini juga.

  39. siluman kerbau Says:

    tidak tahu juga apa itu bohong atau tidak??
    seandainya itu tidak bohong, justru kita yang meng
    fitnha tetua itu kalau mereka telah berbohong.
    saya rasa itu tidak terlalu bermasalah hadist sperti itu,
    cuma majas bahasa saja,
    kecuali ada hadist yang bilang kencing unta jadi obat,
    nah itu baru diragukan? apa benar dari rasul.

    Rosyidi :Yang jelas, Imam Ahmad, Ibn Hibban, Ibn al-Jauzi, dan sekian banyak ulama lainnya menolaknya. Apakah anda lebih percaya kepada Ahmad al-Juwaibari yang oleh para ulama dianggap sebagai seorang pemalsu hadith?
    Ya semuanya terserah anda.
    Ulama seperti Al-Imam Bukhari, Al-Imam Muslim, Abu Bakar Al-Arabi, Yahya bin Mu’in, Ibnu Hazm dan lainnya menolak menggunakan hadist dhoif, baik itu yang masalah aqidah maupun masalah kisah-kisah, nasihat, dll.
    Meskipun Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi menerima, tapi dengan beberapa syarat diantaranya adalah :
    Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Sedangkan hadits dha’if yang perawinya sampai ke tingkat pendusta, atau tertuduh sebagai pendusta, atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima.

    Sedangkan hadist yang kita bicarakan disini tidak memenuhi syarat tersebut.

    Namun menurut Al-Imam As-Suyuthi agak berbeda, beliau mengatakan bawa mereka berkata,’Bila kami meriwayatkan hadits masalah halal dan haram, kami ketatkan. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhilah dan sejenisnya, kami longgarkan.”

    Kalo aku pribadi lebih memilih mengikuti Imam bukhari dan Muslim. Yang jelas sebagian besar ulama menolaknya.

  40. eyang Says:

Leave a Reply

:) :( :d :"> :(( [[dnc]] :x 8-| :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »


Jika ingin berlangganan artikel2 terbaru dari rosyidi.com klik disini
WP-Highlight