Tinggalkan jika bertentangan dengan Al-Quran dan Hadis

20,065 views

“Jika anda mendapatkan tulisan di rosyidi.com bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa salam, maka tinggalkanlah apa yang aku katakan.”

Mengingat pelanggan artikel terbaru semakin meningkat dan saat tulisan ini dibuat sudah mencapai 952 email yang berlangganan. Karena itu statement diatas saya buat agar tidak langsung menerima apa adanya semua tulisan yang ada di Rosyidi.com. Kalimat tersebut saya buat mengacu pada perkataan 4 Imam Madzhab yang semuanya melarang taqlid buta :

Imam Asy-Syafi’i (Imam Madzhab Syafi’i) :

”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

.

Imam Abu Hanifah (Imam Madzhab Hanafi) :

“Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145)

Imam Malik ( Imam Madzhab Maliki):

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)

Imam Ahmad bin Hambal ( Imam Madzhab Hambali )

“Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)

Aliran yang benar :

Saat ini banyak terjadi perselisihan dalam urusan Agama. Semakin banyak pula bermunculan aliran-aliran sesat. Sebagian sudah dilarang, tapi tidak sedikit pula yang masih tumbuh subur di negara kita ini. Agar tidak keluar dari ajaran Rasulullah, mari kita simak wasiat terakhir Rasulullah,

dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43 – 44), Ahmad, dll :
Sabda Rasulullah SAW : ‘Saya berpesan kepada kamu supaya sentiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla serta mendengar dan taat sekalipun kepada seorang hamba yang memerintah kamu. Sesungguhnya orang-orang yang masih hidup di antara kamu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan dan sunnah Khalifah Ar-Rasyiddin Al-Mahdiyyin yang memperoleh petunjuk ( dari Allah ) dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu ( berpegang teguh dengannya dan jangan dilepaskan sunnah-sunnah itu ). Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan.‘

Allah Ta’ala berfirman : Hai orang – orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpeganglah kamu semua dengan tali Allah dan jangan berpecah belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi saudara dengan nikmat-Nya, dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk. (Ali ’Imran 102 – 103)

Jadi kuncinya adalah berpegangan pada Al-Quran dan As-Sunnah dengan didasari penafsiran Rasulullah para sahabat. Jadi jangan ikuti jika ada ulama yang tidak berpegang pada kedua hal tersebut.

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’:59)

Aliran yang salah :

1. Al-Quran berbeda : Jika Al-Qur’annya berbeda, maka sudah bisa dipastikan Aliran ini sesat, karena menambah-nambahi firman Allah. Ada beberapa Aliran yang semacam ini, misalnya Al-Qur’annya lebih tebal 3x lipat dibandingkan Al-Qur’an pada umumnya. Atau mungkin justru Al-Qur’annya dikurangi. Apalagi jika tidak menggunakan Al-Qur’an sama sekali, pasti bukan agama Islam.

2. Al-Qur’an tetap, Tapi tidak menerima Hadis : Ada juga yang beranggapan pakai bahwa Hadis itu berasal dari mulut manusia, jadi tidak patut diikuti. Padahal, bukankah Al-Qur’an juga disampaikan oleh seorang manusia juga. Selain itu semua yang dilakukan Rasulullah adalah berdasarkan Al-Qur’an. Kalau misalnya tidak memakai Al-Qur’an lalu, dia sholat dari mana dasarnya? Padahal cara-cara gerakan sholat itu semuanya ada di Hadis, di Al-Qur’an hanya secara garis besarnya saja. Jadi kalau ada berpaham semacam ini, maka sangat aneh. Disatu sisi dia sholat berdasarkan Hadis, tapi disisi lain dia tidak menerima hadis.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan * antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), (An-Nisaa’ : 150 )
* : Maksudnya: beriman kepada Allah, tidak beriman kepada rasul-rasul-Nya.
merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk
orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.
(An-Nisaa’ : 151 )

3. Tidak pandang bulu soal Hadis : Semua hadis dipakai. Sahih, Hasan, Dhoif, bahkan palsu. Beranggapan semua hadis itu patut kita hormati. Atau banyak juga yang belum tau bahwa hadis itu adalah Dhoif (lemah) atau palsu.
Contohnya “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina“. Hadi ini sering kita dengar dari mulut ke mulut. Dan hampir semua orang hafal.
Ibnu Hibban berkata : “Hadis tersebut bathil, tidak bersumber (dari Nabi Salallahu alaihi wa salam) sama sekali.
Imam Ahmad mengingkari dan membantah keras Hadis tersebut.

Walaupun maskud dari kalimat itu adalah baik. Namun tidak boleh menggunakannya sebagai dalil, karena itu sama dengan berdusta atas nama Rasulullah.

Banyak sekali hadis-hadis dhoif bahkan palsu yang lainnya beredar di masyarakat. Ini mungkin karena kesalahan dari sistem pengajaran dan pembelajaran masyarakat. Lihatlah pelajaran di Sekolah-sekolah kita. Hanya diajarkan, do’a makan itu gini, sholat itu gini, tanpa tau dalil-dalilnya dari mana sama sekali. Padahal tidak sedikit pelajaran tersebut memakai hadis Dhoif. Contoh do’a makan Allahuma bariklana…dst. Dan lain-lain.

Karena itu lihat dulu, siapa yang meriwayatkan hadis tersebut. Jika tidak ada riwayatnya sama sekali jangan pergunakan, bisa jadi itu hadis palsu.

“Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap dusta, maka dia termasuk pendusta.”(HR. Muslim)

Sebagian besar para muhaqiq (peneliti hadits) berpendapat bahwa hadits dlaif tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaan-keutamaan.

Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam Qawaid At-Tahdits hal. 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut (yakni hadits dlaif tidak diamalkan secara mutlak, pent) diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam ’Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma’in dan dalam Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakar bin Al-Arabi. Pendapat itu juga merupakan pendapat Bukhari, Muslim dan Ibnu Hazm.

4. Tafsir berdasarkan Akal : Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam- :

“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).

Tidak sedikit yang mengotak-atik Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemikirannya sendiri.

5. Menambah atau mengurangi : Tidak menambahi atau mengurangi ajaran agama. Misalnya Adzan, lafadznya itu jangan ditambah dan dikurangi. Contoh lafadz yang sudah ditambahi dan sangat populer adalah takbiran. Sering kita dengar lafadznya :

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaaha illallah Wallahu Akbar
Allahu Akbar Kabiro
Wal hamdulillahi katsiro
Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila
Laa Ilaaha Illallahu La Na`budu Illaa Iyyah,
Muhklishina Lahud-din, Walau Karihal Kafirun.
Laa Ilaaha Illallahu wahdah,
Shadaqo Wa`dah,
Wa Nashara `Abdah,
Wa A`azza Jundahu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah.
Laa Ilaaha Illallahu Wallahu akbar
Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd

Padahal Seperti Ibnu Mas’ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh :
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar,
Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih)

Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha’i, ia berkata, “Mereka bertakbir pada had ’Arafah. Diantara mereka ada yang menghadap kiblat setelah selesai shalat sambil mengucapkan:
Allahu Akbar,
Allahu Akbar,
Laa ilaha illallahu, Wallahu Akbar,
Allahu Akbar walillahil hamd.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 5649 dengan sanad shahih)

Adapun lafazh takbir; telah diriwayatkan dari sebagian sahabat, diantaranya ialah takbir Abdullah bin Abbas :
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar, wa lillahil hamdu,
Allahu Akbar, wa Ajalla
Allahu Akbar ‘alaa maa hadanaa.
(Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih)

Dan riwayat lainnya. Dan tidak ada riwayat yang menyebutkan takbiran seperti yang yang takbir jenis pertama diatas. Lalu darimanakah kalimat Allahu Akbar Kabiro, Wal hamdulillahi katsiro, Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila, Laa Ilaaha Illallahu ,La Na`budu Illaa Iyyah, Muhklishina Lahud-din, Walau Karihal Kafirun. Laa Ilaaha Illallahu wahdah, Shadaqo Wa`dah, Wa Nashara `Abdah,Wa A`azza Jundahu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah berasal ?

Sepertinya itu mirip-mirip dengan do’a iftitah yang hadisnya dhoif :

Allahuakbar kabiro 3x
Alhamdulillahikatsira 3x
Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila 3x
Allahumma inni audhubika minasyaitonirrajim min hamdzihi wa nafkhihi wa naftsihi
( Diriwayatkan oleh Abu Daud, 764, dalam Kitab Iqamah Ash-Shalah, Bab Ma Yustaftah bihi ash-Shalah min ad-Du’a;
Al-Albani dalam buku Dha’if Sunan Abu Daud, 166, berkomentar bahwa hadis tersebut dha’if. )

.

Lalu lanjutannya mirip do’a Sa’i perjalanan ke-6 dari bukit Marwah ke Safa :

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar walillahil hamdu.
La ilaha illallahu wahdah,
sadaqa wa’dah,
wanasara ’abdah wahazamal ahzaba wahdah.
La ilaha illallahu wala na’budu illa iyyahu mukhlisina lahuddina walau karihal kafirun.
( Kami belum bisa menemukan ini hadis atau bukan. Dan jika hadis juga tidak tau riwayat siapa.)

Versi lainnya yg saya ketahui asal usulnya :
“… Maka dinaikinya bukit Shafa. Setelah kelihatan Baitullah, lalu dia menghadap ke kiblat seraya mentauhidkan Allah dan mengangungkan-Nya. Ujarnya : “La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syaiin qadir. La ilaha illallahu wahdahu, anjaza wa’dahu wa nashara ’abdahu wa hazamal ahzaba wahdahu….”
( Sahih Muslim, 1188. dalam Terjemah Hadis [ringkasan-red] terbitan KBC )

Mungkin saat ini cuma ditambahi itu, namun jika hal itu tetap dibiarkan, tidak menutup kemungkinan, suatu saat akan berkembang lagi. Kalimatnya akan semakin panjang. Aneh bukan. Jadi biarkan ajaran Rasulullah itu apa adanya. Jangan ditambah ataupun dikurangi. Penambahan bukan berarti menjadi lebih baik, justru sebaliknya. Karena intinya penentangan terhadap agama yang telah sempurna ini.
Apa mereka mendapat wahyu, dengan menambah-nambah hal tersebut?
Apakah mereka ikut para sahabat? padahal para sahabat tidak menambah-nambahi.
Apakah ikut Rasulullah? padahal Rasulullah tidak menambah apalagi mengurangi.
Kalau ada yang mengatakan, “Itukan tujuannya baik?”, menurut siapa? menurut mereka yang menambahkannya bukan.
Berarti mereka menganggap dirinya lebih baik dari Rasulullah, karena menganggap Rasulullah tidak tau ada yang lebih baik, atau bahkan menuduh Rasulullah tidak mengajarkan sesuatu yang lebih baik itu.

W’allahua’lam bishowab.

Penulis : Agam Rosyidi

URL : http://rosyidi.com/tinggalkan-jika-bertentangan-dengan-al-quran-dan-hadis/

Referensi :

  • Sifat Shalat Nabi, Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani

  • Hadis-hadis dha’if populer, Abdul Aziz Az-Sadhan

  • Software Al-Qur’an dan terjemah

  • Prinsip Ahlus Sunnah wal jamaah menyikapi fitnah kelompok sempalan, Ustad Muhammad Umar Assewed

  • Tuntunan Shalat Rasulullah, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah

  • Ceramah tuntunan beribadah Haji, Ust Abu Aslam

  • Ririungan, Lafadz Takbiran

  • Yayasan Haji Daarul Ihsaan, do’a-do’a sa’i

  • Terjemahan Hadis Shahih Muslim, penerbit KBC (Klang Book Centre)


 

Related Posts (Artikel Terkait) :
Kirim ke Teman di Facebook
idwebspace

Komentar

49 Komentar pada “Tinggalkan jika bertentangan dengan Al-Quran dan Hadis”
  1. aLe says:

    Semoga kita smua selalu dijauhkan dari hal2 yang buruk
    dan senantiasa didekatkan dgn hal2 yg baik. amin :)

    sampai jumpa tahun depan yg lebih cerah ;)

  2. Donny Reza says:

    tapi juga harus hati-hati terhadap hadits-hadits yang bertentangan dengan Al-Quran ;)

    Rosyidi :Selama hadis sahih, tidak akan bertentangan dengan Al-Qur’an.

  3. mr.bambang says:

    Semoga kita selalu ditunjukkan jalan yang lurus. Dengan berpegang teguh kepada AlQuran dan AlHadits. Sementara itu sumber sumber lain yang mengandung unsur kebaikan menurut saya lebih pas sebagai inspirasi saja. Wallahualam

  4. lady says:

    mgkn koment ini lbh tepat masuk pd postingan terdahulu. kl sholat (gerakan dan bacaan) mestinya harus sesuai ajaran nabi (hadist), namun jika bukan hal sholat, misalnya doa dgn bahasa sendiri yg dimengerti, apa tetap dianggap bid’ah. padahal doa itu mengandung kebaikan dan pengharapan sbg makhluk kpd khalik.

    kl dianggap bid’ah, bisa saja ga jadi berdoa krn takut bid’ah. sedangkan kita tau ga semua org bisa mendapatkan ilmu ttg sesuatu itu bid’ah, dhoif, ahsan, dsb. meski seharusnya sbg muslim kita diwajibkan mencari ilmu dien. namun sekali lg tidak semua org mempunya kesempatan untuk itu walau sudah diusahakan. wallahua’lam.

    semoga kita semua dilindungi terhadap kesesatan. amin

    Rosyidi :Sebenarnya sudah ada pertanyaan serupa di posting sebelumnya itu. Dan sudah aku jawab juga.
    Bukankah sholat itu juga do’a! Ada dua pendapat tentang do’a ada yang serta merta melarang do’a selain yang diajarkan Rasulullah. Ada pula yang memperbolehkannya. Namun, semuanya kompak satu kata “tidak menerima hadis dhoif”. Jadi apapun alasannya jika mengamalkan hadis dhoif, berarti membenarkan bahwa itu adalah do’a dari Rasulullah, dan berarti itu sama dengan fitnah kepada Rasulullah.
    Jadi jika ingin meniru do’a Rasulullah, tirulah yang sahih, bukan yang dhoif.
    Biar gak keliru, karena itu beli buku do’a yang lengkap. Ditulis riwayatnya, sanadnya gimana, dll. Biasanya judulnya ada tulisannya “Do’a menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Bukan do’a yang tidak diketahui asal muasalnya.

  5. kus says:

    aku setuju dengan engku. Apalagi sekarang banyak aliran sesat karena mereka kadang hanya mengambil sebagian, bahkan ada yang tidak mengambil sama sekali.

    bentengi umat dari aliran sesat.

  6. irhan says:

    Tentang hadits “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina“, saya malah pernah pernah melihat di TV ada salah seorang pembicara (bukan ulama atau ustadz, dan sepertinya bukan muslim) memelesetkannya menjadi: “Tuntutlah ilmu walau ke negeri komunis” dan kemudian melanjutkan “cina kan negara komunis.. iya kan?”

  7. mk says:

    Menurutku berdo’a memakai lafadz apapun di luar sholat boleh, akan tetapi jika ngomong begini, “Saya berdo’a sesuai dengan hadits Rasulullah, begini begitu”, padahal hadits itu dhaif itu yang tidak boleh. Yang tidak boleh itu kata-kata sesuai dengan hadits Rasulullah.

    Cuma repotnya kalo dulu di sekolah, praktik sholat gak pake usholli nilai agamanya jelek gam… :)

    Rosyidi :Ya ada dua pendapat soal itu. Pendapat mas kurniawan itu salah satunya. Tapi walaupun tanpa mengucapkan kata2 bahwa ini sesuai dengan hadis Rasul itu juga bisa salah lho. Kan banyak juga yang berkata : “ini do’a sesuai buku agama di sekolah”. Sejak kapan buku agama dijadikan dalil?

    Kalo soal guru yang seperti itu sih, tidak pantas jadi guru (Liat filmnya GIE) :D

  8. Riyogarta says:

    Ah … saya jadi ingat dengan perkataan “saydina” dalam bacaan shalat. Saya pernah baca bahwa Rasul tidak suka seseorang menyebutnya dengan saydina Muhammad. Sejak saat itu saya pun meninggalkan perkataan saydina dalam bacaan shalat saya.

  9. imcw says:

    Bagaimana dengan yang memanfaatkan hadis untuk kepentingan politik atau golongannya? Menyebutkan kafir dan menghalalkan darah kafir dan sebagainya. Mendengar saja udah ngeri.

    Rosyidi :Darah kafir yang dihalalkan itu kafir yang memusuhi Islam. Jadi kalo ada yang nyerang Islam, kan gak mungkin kita diem aja. Ya balas menyerang donk kalo gak ingin mati konyol.
    Sedangkan kafir yang damai, Haram hukumnya bagi muslimin untuk mengganggu kafir zimmi, menyakiti, menzalimi atau mengurangi hak-haknya. Apalagi sampai membunuh mereka. Bahkan mengingatkan Barangsiapa membunuh seorang mu’ahid (orang kafir yang ada dalam ikatan perjanjian, kafir yang damai -pent), maka ia tidak akan mencium bau syurga, padahal baunya itu bisa dirasakan (dari jarak) sejauh 40 tahun (lama) perjalanan” [Hadits Riwayat Bukhari].
    Al-Mumtahanah ayat 8: “Alloh tiada melarang kamu untuk berbuat baik dengan orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negrimu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

  10. toim says:

    menafsirkan alqur’an gak boleh pake akal, trus ngertiin-nya pake apa donk, gam?

    Rosyidi :Contoh penafsiran pakai akal : Akhirat ternyata tidak kekal. Dia mengabaikan sekian banyak hadis sahih yang menjelaskan tentang kekekalan akhirat. Perkara kekalnya itu mutlak atau kekal dalam artian lama banget, itu urusan Allah. Kita cuma patut mengimani saja.
    Atau misalnya yang lain. Nabi Sulaiman itu bukan bicara dengan hewan, melainkan dengan suku. Jadi nama semut, gajah, dll itu nama suku. Soalnya menurutnya manusia mustahil bisa berbicara dengan hewan.
    Dan penafsiran-penafsiran lain, dengan tidak mengacu pada hadis dan tafsiran para sahabat.

  11. Dira says:

    Mas, udah pernah ditulis belum tentang shalat tidak perlu mengucap niat usholli, tidak menambah sayyidina pada muhammad, dan tidak membaca bismillah setiap mulai surat al fatihah dan surat pendek lainnya pada shalat, doa iftitah bukan allah akbar kabiro tapi allahuma bait wa baini. Klu belum pernah, tolong dong mas ditulis, saya ingin mendapatkan kajian yang lebih dalam tentang hal2 diatas. Trims ya

    Rosyidi :Belum pernah. Untuk bacaan Istiftah, sebenarnya semuanya benar. Ada banyak versi tentang ini, karena Rasulullah kadang memcaca versi A, kadang B, kadang2 C, dst.
    “Allahu akbar, kabiraw walhamdulillahi katsiraw wa subhanallahibukrataw wa’asilla”. (HR. Muslim, Abu Awanah, dan disahihkan oleh At-Tirmidzi. Abu Nu’aim mendengar dalam Akhbar Asbahan (1/210) dari Jabir Ibnu Muth’im bahwa ia telah mendengar Rasulullah mengucapkan do’a ini dalam shalat sunnah.
    Sedangkan “Allahumma baid baini…..dst” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah.

  12. pututik says:

    Semoga Alloh memberikan kemudahan bagi kita untuk membaca ilmu yang haq dan dijauhkan dari yang batil atau yang mengarahkan kepada kebatilan. Semangat terus agam, semoga jadi amal sholeh…

  13. Aku yo heran kang… kenapa kok orang pengen mendirikan agama tetapi kok pake embel-embel Islam… mbok sing kreatip dikit, mbok buat agama baru dengan semua sebutan yang baru, sebut saja tuhannya bernama Ndlongov. Kitabnya bernama Angov. Lha nama ibadahnya jangan sholat.. sebut saja ibadah “plekethuk”… (diambil dari http://pitutur.web.id/2007/10/26/obrolan-nggladrah-tentang-nabi-palsu/)

    Khan gitu ga bikin resah orang Islam:-w

  14. dodot says:

    kabanyakan mencari perbedaan dari ajaran yang sudah ada, dan justru berpandangan kalau apa yang dia dapatkan itu adalah yang terbaik dari yang terbaik :-?

  15. risla says:

    Assalamu’alaikum,
    Hai Agam,
    Sekarang sudah banyak software2 islam yang sangat memudahkan kita. Ada baiknya cek juga ke kitab aslinya, karena kita tidak tahu tentang orang/lembaga yang menjadikan softcopy, apakah ybs amanah atau tidak. Bagaimana menurut Agam, terima kasih atas sharingnya.

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam.
    Ya, memang lebih baiknya seperti itu. Memang kita perlu juga mengeceknya. Beberapa software sudah pernah saya cek, dan tidak ada perbedaan berarti.

  16. Priyadi says:

    bagaimana hadis yang mengatakan bahwa halal darah murtadin ?
    so, kalo yang murtad, keluar dari islam, halal darahnya
    Gimana itu ?
    trus dasar nya menentukan dhoif atau sahih gimana ?

    bisa aja kan, digunakan untuk kepentingan golongan, misalnya dengan menuduh ini hadis ini dhoif, hadis itu shahih ,,untuk eksistensi golongannya
    :d

    Rosyidi :Dari Ibnu Mas’ud rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal ditumpahkan darah seorang muslim kecuali karena salah satu di antara tiga alasan: orang yang telah kawin melakukan zina, orang yang membunuh jiwa (orang muslim) dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jamaah.” (HR. Bukhori dan Muslim)
    Itu hadis Mutaffaq ‘alaih. Hadis yang disepakati oleh Bukori dan Muslim. Jadi tingkatan hadis yang ada di Bukhori dan Muslim sudah tidak diragukan lagi kebenarannya. Kedudukannya kuat.

    Jumhur berpendapat semua wajib dibunuh (tanpa mengira lelaki atau perempuan, tua atau muda. Kecuali Hanafi (alBada’iy :7/135) yang menetapkan wanita tidak dibunuh kerana memadai dengan penjara sehingga dia taubat.

    Imam-Imam Salafi (Syaikhul Islam IT, asSyarim alMaslul, Tahqeeq Muhyiddin Abd Hamid) menetapkan hukuman bunuh dikenakan kepada jenayah murtad diklasifikasikan kpd dua jenis:
    a. murtad yg senyap dan personal
    b. murtad yg disertai aktivitas memerangi Islam
    Maka hukum bunuh dijatuhkan kepada yang (b), spt kemurtadan Salman Rusydie.

    Para ulama sepakat bahwa orang yang murtad itu halal darahnya dan harus dibunuh setelah ada proses syah atas kemurtadannya itu oleh penguasa muslim yang menjalankan hukum syariat Islam.
    Malaysia pun sudah menerapkan itu. Jadi kalau di Malaysia keluar Islam sangat sulit. Mereka bisa saja murtad tapi biasanya KTPnya tetap muslim.

    Syaikh Muhammad Mutawili al-Sha`rawi, salah seorang ulama Mesir yang terkenal sekali. Sering muncul di TV, dalam bukunya “Kamu Tanya dan Islam Menjawab” :
    “Ada yang bertanya:’Bagaimanakah boleh Islam membuat tuntutan tidak ada paksaan beragama, tetapi sebaliknya malah menerapkan hukuman mati bagi mereka yang meninggalkan agama Islam?’ Kami jawab:’Kamu bebas, boleh percaya atau tidak pada agama manapun. Tetapi setelah memeluk Islam, KEBEBASAN ITU TIDAK ADA LAGI. Kamu sudah terikat kepada Islam, dan jika mau keluar daripada Islam, kamu dikenakan segala hukuman dan sekatan-sekatan yang berkenaan, termasuk pembunuhan. Jadi, mereka ada kebebasan memeluk agama Islam, tetapi sesudah itu mereka tidak bebas lagi untuk meninggalkan Islam!”

    Sebelum Islam, mereka bebas, tapi setelah Islam, mereka harus mematuhi hukum Islam.

    Namun hak untuk membunuh seorang yang murtad hanya ada pada hakim yang berkuasa dan pemerintah secara syah dalam sebuah mahkamah syariah. Sehingga tidak ada hak barang sedikit pun bagi individu muslim untuk melakukannya begitu saja. Namun tentu saja sebelumnya harus diminta kepadanya untuk taubat terlebih dahulu. Bila dia menolak, barulah halal darahnya.

    Dasar menentukan Hadis Dhoif dan tidak bisa dilihat di Buku Ilmu mushthalah Hadits karangan A. Qadir Hassan. Harganya sekitar Rp. 21.300.
    Terlalu panjang untuk diterangkan di komentar.
    Wallahu’alam bishowab.

  17. yadi says:

    Masalah takbir Ki klau ditempat saya memang pakai walkasiro ….ini semua dilakukan sama anak2 sambil keliling kampong dan ini dilakukan setiap tahun dengan meriah bahkan pakai musik2. klau ini bidah gimana caranya kasih tahu karena sudah budaya. Tlg gimana mencegahnya………….?

    Rosyidi :Diperingatkan dengan baik saja. Beritau dalilnya takbir ala Rasulullah itu bagaimana. Kalau mereka menolak, ya biarkan saja. Itu urusan mereka dengan Allah. Yang penting kita sudah berusaha memberitaunya. Biasanya sih kalo dikasih dalil nanti mereka cuma bisa bilang “lha kan dari dulu udah gitu”.
    Biar lebih kuat beli saja Kitabnya. Kalo gak salah ada koq yg membahas masalah ini. Nanti kalo ke toko buku saya coba carikan judulnya, insyaAllah.

  18. ical says:

    Assallamu Alaikum Wr.Wb
    Salam kenal, Sungguh blog yang sangat menyejukkan..Senang berkenalan..Semoga Antum sekeluarga tetap dalam lindungan Allah SWT dan tetap diberi hidayah keilmuwan agama. Amien.

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam. Amin. Semoga anda sekeluarga juga mendapatkan hal itu. Barokallahu fiikum.

  19. rudi says:

    Assalamu’alaikum.salam kenal kang, aku baru belajar ngenet, buka blog akang, jadi pengin ngikutin

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam. Semoga bermanfaat

  20. ratno says:

    Assalamu’alaykum..

    refreshing khasanah tentang iedul fitri eh mampir disini.

    Saya sedikit terusik dengan takbiran yang dinyatakan sebagai bid’ah yang mungkin disini lebih banyak dinyatakan bid’ah jeleknya daripada bid’ah baiknya.

    Sepanjang pengetahuan saya, konteks takbiran adalah rasa syukur atas karunia Allah, kegembiraan itulah yang membuat seseorang ingin menyatakan lebih kepada khaliqnya. Dan disini takbiran bukan merupakan ritual yang saklek, seperti halnya pelaksanaan shalat tarawih, dimana rasul hanya mencontohkan 3 hari diawal saja berjamaah, apakah jika kita melaksanaan terus hingga akhir berjamaah itu dinyatakan bid’ah, tentu saja bid’ah namun bid’ah yang baik.

    Kalaulah itu terkait dengan ibadah langsung seperti ritual shalat, tentu saja kita tidak boleh menambah dan mengurangi sedikitpun, saya dengar dan saya patuh.

    Memang perlu difahami dan disampaikan bahwa contoh dari Rasulullah SAW adalah dari Allahu akbar sampai Walillahilhamd, selanjutnya adalah ungkapan syukur yang sudah masyhur di lafadzkan oleh masyarakat, dan selama ungkapan tersebut masih hanif, insyaAllah dan semoga Allah ridho.
    Hanya Allah yang maha mengetahui.
    Wassalamu’alaykum WrWb.

  21. ifa says:

    Ass, Wr, Wb…
    Kang, saya mau tanya mengenai tuntunan/tata cara Sholat yang sesuai dengan Al-quran dan hadist, masalahnya saya sempat dengar, jika tata cara serta bacaan kita tidak sesuai dengan Al-quran dan hadist, maka sholat kita tidak diterima dan tergolong bid’ah malah ancamannya masuk ke neraka….Audhubillah himindalik….jangan sampai hal itu terjadi karena ketidak tahuan saya selama ini…:(.
    Karena selama ini saya hanya mengerjakan sholat serta bacaannya, sesuai dengan yang diajarkan oleh orang tua saya serta pelajaran dari sejak kecil disekolah.
    Untuk itu saya mohon bantuannya, agar saya bisa tau mana yang benar dan mana yang salah.
    Terima kasih sebelumnya.

    Wss, Wr, Wb.

    Salam

    Ifa

  22. ahmad kusaini says:

    ^:)^ Semoga segala usaha saudaraku yang ikhlas ini selalu mendapat ridlo Allah SWT.
    Kami ingin masukan dari anda. Kami punya 4 anak, 3 anak perempuan 1 anak laki-laki. Anak pertama & kedua perempuan aliyah kelas 1, anak ke 3 perempuan kelas 2 MI dan ke-4 laki-laki umur 2.5 tahun. Untuk itu apa usaha yang sebaiknya kami lakukan sebagai ORTU agar mereka berhasil dalam dunia pendidikan dengan memperoleh BEASISWA karena kami yang kerja hanya seorang bapak saja, yakni jadi guru agama di smpn 42 Surabaya.
    Bagaimana ya ustadz, apa yang harus kami lakukan selain tetap menekuni pekerjaan sebagai guru agama?
    Jazakumullah ahsanal jaza’.

    Rosyidi :Maaf sebelumnya. Saya belum pantas disebut “ustad”. Panggil mas saja.
    Bisa saya simpulkan dari pertanyaan anda, biaya untuk sekolah anak kurang. Apa benar seperti itu?
    Pekerjaan sebagai guru sangat mulia, terlebih lagi guru agama.
    Memang di negri kita tercinta ini, perhatian terhadap pendidik sangatlah kurang. Jika dibandingkan dengan negara tetangga kita Malaysia, kesejahteraan guru sangatlah diutamakan. Kurang lebih, gaji di sana satu bulan sama dengan di Indonesia satu tahun. Itu kata Ust Herman, dosen FE sekaligus wakil dekan FE UNAIR saat ini.
    Langsung ke solusi. Bukankah setelah mengajar banyak masih ada waktu kosong? Katakanlah maksimal mengajar dari jam 7-14. Mungkin juga bisa kurang, tergantung bidang studinya. Di sela-sela itu ada jam kosong. Setelah sekolah juga jam kosong. Jadi masih banyak jam kosong yang anda miliki untuk menambah penghasilan diluar mengajar.
    Kita harus memiliki tekat yang kuat untuk mencari uang. Jika kita mencontoh Jepang sebagai bangsa maju, disana bekerja minimal 12 jam. Jadi kalau berangkat jam 9, pulangnya jam 9 malam. Kalo kurang dari itu dianggap pemalas.
    Saya beri contoh lain dari negara kita sendiri, ada seorang selles yang omsetnya bisa sampai 1-2 Milyar perbulan. Berangkat kerja jam 2 pagi, pulang jam 10 malam. Dia memiliki tekat yang sangat kuat untuk mendapat penghasilan lebih. Orang ini memiliki tekat kuat karena dulu dia bekerja apa adanya. Omset 20 juta cukuplah, dapet bonus 3 juta cukuplah, tapi setelah anaknya sakit dia tidak bisa bayar. Karena anaknya sakit butuh biaya banyak dia tidak bisa membayar, lalu dia sadar karena belum memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Setelah itu dia berjanji akan melakukan yang terbaik, karena itu dia sadar kalau potensinya akan meledak jika berjualan ke bakul (penjual) pasar yang mulai kerja jam 2 pagi, ya dia harus bangun jam 2 pagi.

    Maaf daripada menuntut anak untuk mendapatkan BEASISWA, apakah tidak lebih baik jika anda memberikan yang terbaik pada anak anda, baru tanamkan pula pada mereka agar memberikan yang terbaik untuk keluarganya dengan cara belajar sehingga memperoleh beasiswa.
    Jadi bukan anak dituntut mendapat beasiswa agar biaya hidup mencukupi, tapi kita mengajak anak2 sama2 berjuang. Orang tua berjuang yang terbaik agar anaknya mendapat pendidikan, makanan, pengobatan, dll yg terbaik, dan anakpun sama berjuang yang terbaik agar tidak membebani orang tuanya.

    Kalau masalah pekerjaan tambahan apa yg cocok, anda bisa memilihnya sendiri. Ada jutaan jenis pekerjaan. Tergantung anda, mana yang anda kuasai. Atau jika belum menguasai, bisa belajar dulu.
    Contoh paling gampangnya berdagang. Bawa sesuatu untuk dijual pada teman2 di Sekolah, terserah apa saja. Atau makanan untuk dijual ke murid. Tidak usah malu berjualan. Orang-orang kaya di bumi ini aja dapat uang dari berdagang. Bill Gates, Steve Jobs, dll. Cuma kebetulan aja Bill Gates jualannya Komputer. Andaikata dia jualan bakso, saya yakin pasti baksonya juga akan laris luar biasa.

    Gak ada larangan koq jual jajanan ke murid. Kan tidak maksa. Yang gak boleh kan mewajibkan membeli buku tertentu. Kalo jajan, mereka kalo istirahat kan juga jajan. Daripada mereka beli jajan yang tidak sehat di pinggir jalan, kalau anda bisa menyediakan jajan yang sehat untuk mereka, insyaAllah mereka akan lebih tertarik membeli pada anda, tapi semua itu tergantung juga pada cara memasarkan yang anda buat.

  23. fredy says:

    :(( tlg terangkan hukum untuk bagus mustofa,penulis ternyata ahirat tidak kekal

    Rosyidi :Maaf, yang benar Agus Mustofa bukan bagus.
    Dulu ustad saya pernah mengajaknya dialog. Jadi prinsipnya pak Agus itu dia hanya mengambil dalil dari Al-Qur’an saja. Beliau beralasan bahwa Hadis kan banyak yg dhoif dan palsu.
    Sungguh sangat disesalkan, karena beliau hanya berpedaoman pada Al-Qur’an tanpa memperhatikan hadis, jadi jangan heran terlahirlah “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” dan buku-buku sejenis lainnya. Karena pemahamannya hanya partial atau sebagian.
    Semoga Allah membimbingnya ke jalan yang lurus.

  24. kimin says:

    Assalamualaikum, tlng tanggapannya tentang hadist yg menyatakan “apabila lalat masuk ke dalam minuman, maka celupkanlah secara keseluruhan kemudian lalat tsb baru dibuang, karena sebagian sayap lalat ada yg membawa racun dan sebagian yg lain membawa penawarnya” insya Allah kata2 nya seperti itu atau yg mendekati itu. apakah shahih atau batal?:-?

  25. putra wijaya says:

    semua hadis itu sepertinya banyak terjadi perkembangan, karna disetiap penyampaian terkadang hadis itu ada yang ditambahkan dan adapula yang dikurangi, hal seperti inilah yang membuat hadis tersebut menjadi layak dipercaya atau tidak. dari sinilah kita harus jeli dalam memilah yang mana yang benar dan yang mana yang salah, karna setiap manusia memiliki naluri pemahaman yang berbedah.. tuhan maha tau, ia selalu memberi suatu tanda-tanda bila umatnya sedang menghadapi sebuah peristiwa yang mebinggungkan atau sebuah dilema yang tak dapat kita pikir dengan akal.. semoga tuhan selalu memberi arti yang baik bagi umatnya.. allah maha besar dengan segala keagungannya tida tuhan selain allah. amin

    Rosyidi :Hadis dari dulu sampai sekarang tidak ada penambahan dan pengurangan. Tolong jangan asal menuduh tanpa bukti yang jelas. Penambahan-penambahan adalah hadis palsu, dan itu sudah jelas, mana yang palsu dan mana yang bukan. Untuk hadis yang dapat dipercaya umat muslim menggunakan hadis sahih Bukhari dan sahih muslim.

  26. khairon says:

    assalam…
    saya kagum akan penguasaan referensi bacaan anda,sepertinya anda adalah penganut paham tekstual sehingga apa yg anda baca (hadist &qur’an) adalah sebuah kebenaran mutlak.kalau sudah mempunyai anggapan ini maka yg lain sesat???
    bukankah tuhan menciptakan akal untuk berfikir???bukankah nabi sering melihat para sahabat melakukan sesuatu yg tidak beliau ajarkan kemudian beliau mendiamkan (tidak melarang) bahkan merekomendasikan kpd sahabat yg lain untuk mengikutinya (perbuatan baik) kemudian kejadian itu dinamakan hadist???betapa toleran sekali sifat nabi terhadap kaumnya..
    menurut saya selama perbuatan itu baik knp tidak…kalau anda ber anggapan segala sesuatu yg tidak ada dlm qur’an dan hadist adalah bid’ah dan kalau bid’ah adalah sesat dan kalau sudah sesat neraka tempatnya berarti anda menafsirkan islam adalaah agama yg sempit..
    menurut saya islam itu terdiri dari ajaran al-qur’an al-hadist dan al-’aqli ketiga2nya harus berjalan tanpa kecuali.
    mari kita sama sama perbanyak referensi bacaan dan terbukalah..kebenaran mutlak cuma kebenaran adanya tuhan,slain itu????relatif…
    wassalam

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam. Begini selama ada dalil dari Al-Qur’an dan Hadis tidak perlu dipertentangkan lagi kebenarannya. Jadi misalnya gini, sholat di Al-Qur’an dan Hadis sudah jelas perintahnya, dan rasulullah dan para sahabat melakukannya pula secara rutin dan terus menerus. Jadi ini sudah sangat jelas tidak perlu diotak-atik menggunakan akal. Lantas kalau ada sekelompok orang yang mengotak-atik prihal sholat ini dengan menafsirkan dengan akalnya bahwa sholat itu tidak wajib, dan yang penting percaya saja sudah cukup, berarti dia telah menyimpang dari ajaran Islam, karena Rasulullah dan para sahabat tidak mencontohkan hal yang demikian.

    Rasulullah saw bersabda “Siapa saja yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri dan benar, maka tetap ia dianggap salah.”
    Tirmidzi : (3/2952)

    Jadi penafsiran Al-Qur’an itu bukan dari akal kita saja, tapi kita melihat bagaimana Rasulullah dan Sahabat menafsirkan ayat tersebut.

  27. khairon says:

    begini akhi,,,jika menurut pendirian antum bhwa penafsiran qur’an hanya dg akal adalah salah,berarti dengan sendirinya antum menafsirkan al-qur’an dengan
    membacanya secara tekstual pun salah…coba kita liat kenapa qur’an diturunkan secara Bertahap tidak sekaligus turun biar sipel,,karena hakikatnya turunnya ayat itu berdasarkan
    kebutuhan manusia pada waktu itu klau bhsa tafsir ada ‘asbabul nuzulnya’.sangat tidak adil klo kta membaca qu’ran dan hadist tanpa kita tidak tau asbabul nuzulnya ayat dan asbabul furudnya hadist,dan itupun masi blm cukup untuk menyimpulkan sbh hukum,masi ada mantiq balaghoh dan lain2 seabreg begitu banyaknya penafsiran hadist & quran,kesemuanya itu butuh pemikiran yang jernih referensi yg banyak dan itu dinamakan mujtahid klo dlm ilmu fiqih..jangan sampai kita punya info tekstual dr qur’an dan hadist lalu kita menglkaim golongan atau indifidu sesat.(sesat=kafir).coba antum pelajari cara belajarnya syafi’i dlm memahami qur’an.
    klo da golongan seperti antum sebutkan tadi bilang aja golongan yg beribadah yg tidak sesuai dg text alquran gitu kan lbh enak.sesungguhnya hanya allah-lah yang berhak menentukan kebenaran diantara umatnya..jika umatnya yg mengambil hak itu maka?????
    perbedaan itu indah jangan sampai kita nodai keindahan itu….
    wa-allahu-a’lam bi-showab…..

    selamat berjuang kawan….

  28. khairon says:

    menurut saya muhammad saw pun seorang mujtahid akbar…

  29. padiman says:

    ass pak Ustat maaf mohon informasi kebeneranya tentang membaca fatkah setelah salam dan jabatab tanga apa ada hadisnya

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam. Maaf tolong tidak menyingkat salam.
    http://rosyidi.com/jangan-menyingkat-salam/

    TIDAK ada yang mengHARUSkan membaca do’a atau zikir tertentu.
    Dari Ibnu Abbas, katanya : Kami ingat, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, lalu dibacanya takbir.
    [sahih bukhari]

    Dari Tsauban (pelayan Rasulullah), katanya : Biasanya apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, beliau ber-istighfar (mohon ampun) sebanyak 3 kali.
    Sesudah itu beliau membaca : Allahumma antassalam, waminkassalam, tabarakta yaa dal jalaa li wa ikraam
    “Wahai Allah, Engkau-lah juru selamat, dari Engkaulah datangnya keselamatan, Maha pemberi berkah, wahai Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.”
    [Sahih Muslim]

    Banyak sekali hadis-hadis serupa. Dan semua itu BuKAN kewajiban, itu sunnah.

    Sedangkan MENGKHUSUSkan jabat tangan setelah shalat TIDAK ada tuntunannya dari hadis yang sahih. Apalagi mengkhususkan harus yang kanan dulu baru kiri. Apalagi menanggapnya bagian dari shalat. Rasulullah tidak pernah memerintahkannya.
    Wallahua’lam bishowab.

  30. sayidina ali says:

    apa g ngerti

  31. amar khan says:

    buat bpk khoiron sesungguhnya hadis yang menyatakan perbedaan itu rahmat adalah dloif,saudaraku rosululloh pernah bersabda yang mana jika kita berpegang pada keduanya maka kita tidak sesat yaitu : gogotlah kuat-kuat alqur’an dan as sunah dengan gigi geraham ( kuat ) jadi kalau suatu perbuatan ibadah tanpa ada keterangannya dari qur’an dan hadis( harus hadis sahih tidak boleh dloif ) maka nanti kita bisa tersesat

    Rosyidi :Terima kasih atas tambahannya.

  32. saudi says:

    asss. mas saya mau tanya ?apa hukumnya bagi pembuat zinah

  33. Yang benar itu pasti baik, sedangkan yang baik itu belum tentu benar. Yang melaksanakan ibadah dengan dalil yang benar pasti baik, sedangkan yang melaksanakan ibadah dengan alasan baik maka belum tentu benar. Gimana kira-kira mas ?

  34. Ipoks says:

    Assalamu’alaikum Bung Agam…

    mohon pencerahannya.
    kita sebagai manusia selalu dihadapkan dengan permasalahan baik duniawi maupun masalah ukhrowi.

    nah, dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, khususnya masalah yang menyangkut agama, kita diwajibkan oleh Rasulullah untuk berpegang teguh pada AlQur’an dan hadis.

    Seperti kita ketahui, Umat Islam memiliki 4 mazhab, yaitu Maliki, Hambali, Hanafi, dan Syafi’i.

    Apakah dalam upaya mencari jawaban kita itu boleh hanya dengan berpegang pada 1 mazhab saja?

    demikian pula dengan Tafsir Qur’an dan Hadis. bolehkan saya hanya, misalkan, berpegang saja pada Tafsir Al Misbahnya Quraisy Shihab dan hadis sahih Bukhari tanpa membandingkannya dengan Tafsir AlQur’an dan hadis dari yang lainnya?

  35. Mbah says:

    hmm… gak tau ilmunya nih… sunnah rosul itu bukan hadist bung, sunnah rosul itu adalah tradisi rasul, kebiasaan rasul, dan bicara sunnah rasul bukan hanya bicara Rasul Muhammad saja, semua rasul memiliki sunnah yang sama. Dan yang namanya hadist yang terbaik ya Alqur’an itu sendiri, baca aja di Surat 39 ayat 23. bukankah Akhlak Rasulullah adalah Al Quran.. jadi kalo mau mencontoh Rasul ya ikutin aja Al Quran… dan salah besar kalo kita ingin memahami Al Quran Harus dengan Hadist A, B C D dan lain lain.. Dasar dari mAna? syarat memahami AL Quran hanya 1.. SUCI!!!! suci dalam arti bersih. Tapi bicara bersih bukan hanya fisik. Tapi juga najis pola pikir. Najis JIwa!!! Najis JIwa adalah Syirik!!! jadi selama manusia belum meninggalkan KEMUSYRIKAN niscaya dia tidak akan dibukakan ilmu pemahaman Al Quran. KAlo kita baca surat 61 ayat 9, sudah jelas bahwa yang paling membenci Rasul Rasul Allah adalah orang Musrik, anda tahu ciri ciri orang Musrik? silahkan anda baca dan renungkan surat 30 ayat 31 dan 32…. wajar jika alam hari ini rusak, bahkan manusianya juga rusak… karena semua akibat dari manusia yang Musrik!!! Surat 30 ayat 41-42…..

    Rosyidi :Sebelum menjawab pertanyaan anda. Saya paparkan dulu pengertian hadis : secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dimana yang dimaksud disini adalah perkataan dari Rasulullah yang menjadi sumber penjelasan lebih detail tentang ajaran dalam Al-Qur’an. Kalau boleh saya simpulkan dari penjelasan anda, anda hanya mengakui Al-Qur’an tidak mengakui Hadis. Apakah seperti itu ? Jika benar, sungguh disayangkan sekali.

    Anda berkata bahwa “kalo mau mencontoh Rasul ikuti aja Al-Qur’an”. OK. memang kita harus mengikuti Al-Qur’an. Dan karena pada Al-Ahzab ayat 21 dikatakan “Sesungguhnya telah da pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu……” Maka kita mengikuti apa saja yang diucapkan Rasulullah. Dan anda sendiri yang mengatakan bahwa Ahlak Rasulullah adalah Al-Qur’an, lalu apa yang anda ingkari disini ? Sudah jelas-jelas bahwa yang diturunkan adalah Al-Qur’an dan Rasulullah itu adalah suri tauladan kita, agar kita bisa mencontoh kepribadian Rasulullah yang mulia.

    Hadis yang merupakan perkataan dari Rasulullah, merupakan pejelasan lebih detail dari Al-Qur’an.
    Jika anda tidak pakai hadis, saya ingin tanya, bagaimana cara anda sholat ? bagaimana cara anda wudhu ? bagaimana anda puasa ? bagaiman anda menentukan waktu sholat ? apa saja bacaan yang anda baca ketika sholat ? dll. Sangat banyak sekali. Dan semua itu HANYA akan anda temukan di hadis.
    Al-Qur’an hanyalah memerintahkan secara dasarnya saja, yaitu perintah sholat, puasa, dsb. Sedangkan detailnya, yang berupa penjelasan detailnya, ada dalam hadis, yang telah disampaikan oleh Rasulullah.

    Jadi Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dapat dipisahkan. Itu merupakan suatu kesatuan untuk dapat menjalankan perintah Allah dengan seutuhnya.

  36. ahmad kusaini says:

    Makasih banyak atas masukan yg sangat baik dari mas Rosyidi.com. Memang masih banyak waktu yg luang buat saya. saya sampaikan Jazakumullah ahsanal jaza’.

  37. yani says:

    ass.wbr, web ini menurut saya sangat menarik sekali . trimakasih banyak

  38. ahmad says:

    jaman sekarang ini banyak sekali orang orang yg merasa pintar tapi tidak pintar untuk merasasaya

  39. alam says:

    assalamualaikum w.w. subhanallah… setelah membaca artikel ni, rasanya saya seperti menemukan padang rumput yang luas bersama mata airnya setelah menempuh perjalanan di padang pasir yang gersang… TAPI saya mau nanya, kalau kita tdk boleh menfsirkan quran sendiri, jadi harus bagaimana seharusnya? artikelnya (ilmunya) g bs d copy… he..he

  40. rafli says:

    kalo doa tidak akan sama setiap manusia , jadi untuk masalah doa bukan menjadi ganjalan untuk beribadah yang baik dan tidak menjadi bid’ah bila tidak sama dalam berdoa dengan rosullullah , yang harus diikuti adalah sunnah yang utama dalam beribadah , jadi bila ada ibadah yang tidak pernah ada contohnya dari Rasullullah maka hal tersebut adalah amalan yang diada-adakan dan amalan tersebut tertolak , maka sering disebut bid’ah……, kalo doa itu adalah keinginan setiap insan manusia kepada Allah swt. Doa bisa menggunakan bahasa apa yang kita kuasai…karena Allah swt menciptakan manusia berbeda-beda bahasa , bangsa …..yang penting tidak menyimpang dari sunnah rasullullah.

  41. iyan says:

    asalamualayka , saya setuju sekali dengan mas rafli, jika berdoa saja di sebut bid’ah karena tidak sesuai dengan do’a nabi, maka bagaimana dengan do’a selain bahasa nabi? sedangkan ALLAH maha tau apa yang kita inginkan dalam hati, atau yang di ucapkan. sedangkan kita tidak tau semua apa yang di inginkan nabi pada masanya.
    terima kasih.wasalam.

  42. lamsijan says:

    bapak rafi dan bapak iyan yth….tolong pahami apa yang tertulis di atas…kita semua punya keperluaan yang berbeda kepada Allah..alias hajat yang berbeda nah dalam berdoa bisa saja dengan bahasa sendir karena Allah maha tahu..tapi yang di maksud sodarakita bukan doa yang itu tapi doa yang baku yang pernah di ucapkan oleh Nabi SAW dalam hal praktek ibadah …contoh dalam doa mengelilingi ka,bah terus do,a dalam syolat itu semua jangan di tambah atau dikurangi ………….berpikir jernihlah heheh dan husus buat bapak hkoeron….tolong bo di pikir lagi jangan mancing mancing ah….udah jelas Quran dan hadis itu jadi patokan bapak…..mau tektual atau mau apapun selama itu namanya kebenaran atau hal yang benar kenapa di pernasalahkan terus kalau kita tidak memahami tektual apa yang harus kita pahami. dari quran dan hadis… otak kita atau kata orang yang belum tentu benar tanpa di telaah kembali…..wasalam

  43. mahari jufar says:

    Mengenai golongan islam yang mana yang paling benar dalam mengimani agama islam
    nya, mari kita belajar dari sejarah umat umat terdahulu yang diceritakan di
    dalam Al Quran.

    Surah Yunus (10)
    Ayat 36….Kebanyakan dari kalangan manusia hanya bersandarkan kepada andaian
    semata. Yang nyata, andaian tidak dapat menggantikan yang haq. Sesungguhnya
    Allah Maha Tahu apa yang mereka lakukan.

    Ayat 37….Dan Quran ini tidak bisa diciptakan selain oleh Allah, dimana ia
    mengesahkan apa apa yang sebelumnya dan menjelaskan apa apa yang telah
    ditetapkan untuk manusia. Padanya tiada keraguan dari Tuhan sakelian alam.

    Dari ceriita2 umat umat terdahulu itu, kita akan dapati bahawa golongan
    mayoritas nya cenderung kpd penyimpangan satelah setiap kali Nabi yg di turunkan
    Allah itu wafat. Penyesatan atau penyimpangan itu akan mula terjadi paling tidak
    sekitar 50 tahun kemudian satelah wafat nya para nabi2 mereka. Sejarah

    penyesesatan umat terdahulu itu seakan akan satu hal yg lumrah. Penyimpangan
    dari landasan yg telah ditetapkan oleh para Nabi2 Allah itu pasti terjadi.

    Saya percaya umat Nabi Muhammaad juga tidak terkecuali. Nah sekarang umat Nabi
    Muhammad ini sudah 1400 tahun lebih. Apakah kita yakin kita tidak saperti umat
    umat yang terdahulu itu yg cenderung kpd penyimpangan? Apa istimewa nya kita,
    umat Nabi Muhd.ini? Tidak ada keistimewaan nya dan tak ada bezanya. Saya yakin
    kita jugak sama saperti umat terdahulu itu yg cenderung kpd penyesesatan dan

    penyimpangan. Nah. Sekarang kalau kita kaji dari segi mana nya kesesatan
    golongan mayoritas umat Mohammad ini kita akan dapati bahawa penyesesatan
    golongan mayoritas adalah dalam mengimani kpd apa yg di sebut Hadis dan Sunnah
    Nabi. Baik mereka yg mengaku Ahli Sunnah Wal Jamaah, Baik mereka yg mengaku
    Ahlul Bait (Golongan Syiah). Baik mereka yg mengaku Wahabi.dan saterus nya. Rata
    rata golongan2 ini yg juga menjajdi golongan mayoritas umat islam ini tidak
    lepas dari taasubnya kpd ulama2 mereka atau imam2 mereka selain dari Hadis dan
    Sunnah Nabi itu. Karena apa? Karena Hadis dan Sunnah ini tidak ada pada waktu
    sekitar 100 tahun satelah wafat nya nabi Muhammad s.a.w. Tidak ada yg nama nya

    Bukhari-Muslim dan saterus nya. Tidak ada Iman Empat (Shafii, Maliki, Hanbali
    dan Hanafi). Unsur2 dari kitab2 ini dan pendapat ulama2 ini hanya berdasarkan
    andaian semata.

    Mahukah kita ambil iktibar dan pelajaran dari umat umat terdahulu yg di
    ceritakan kpd kita melalui Al Quran.? Saya yakin tidak ramai yg akan mengambil
    iktibar dan pelajaran dari hakikat ini sebagaimana nya tidak ramai dari umat yg
    terdahulu. Namun sabagai amanah yg diwajibkan tulisan ini hanya sebagai usaha
    utk mereka yg mahu belajar dari sumber yg kuat dan meyakinkan ia itu kitabullah
    Al Quran dan buat mereka yg mahu BERFIKIR SECARA BERANI, ADIL, IKHLAS dan RENDAH
    HATI demi utk mendapatkan keredhaan kpd Allah subhanahu wataalaa…..

    Amin…..

  44. hadian says:

    assalamu’alaikum mas uztad…sy mau menanyakan, apa yg harus dilakukan oleh orang tua bila ada anaknya (berikut cucu dari anak tsb) yg keluar dari agama islam. dan bagaimana pertanggung jawaban orang tua kepada Allah swt? trmksh

  45. Insan says:

    Assalamua’alaikum Wr. Wb.
    Alhamdulillah, semoga semakin banyak orang yang bisa membaca tulisan ini shg mereka tidak lagi taqlid kepada ulama2 tertentu dan menjalankan ibadah hanya karena tradisi dan ritual budaya belaka. Jumhur ulama, pada dasarnya ibadah itu haram kecuali yang diperintahkan. Syukron katsiir

  46. aguz_ahmad41@yahoo.com says:

    bagaimana dengan ulama atw

  47. Smoga saja dapat menyampaikan dengan benar,amin..thanks artikelnya jadi koreksi buat saya..

  48. Anonymous says:

    Bagaimana sebenarnya hukum Sholat Taraweh yg sebenar2nya….??????

Tulis Opini Anda

Ceritakan semua opini anda tentang artikel ini...
Jika ingin menampilkan foto pada kolom komentar, silakan daftarkan email anda ke : gravatar!

<< Harus diisi dengan angka 3