Tinggalkan jika bertentangan dengan Al-Quran dan Hadis
20,065 views“Jika anda mendapatkan tulisan di rosyidi.com bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa salam, maka tinggalkanlah apa yang aku katakan.”
Mengingat pelanggan artikel terbaru semakin meningkat dan saat tulisan ini dibuat sudah mencapai 952 email yang berlangganan. Karena itu statement diatas saya buat agar tidak langsung menerima apa adanya semua tulisan yang ada di Rosyidi.com. Kalimat tersebut saya buat mengacu pada perkataan 4 Imam Madzhab yang semuanya melarang taqlid buta :
Imam Asy-Syafi’i (Imam Madzhab Syafi’i) :
”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)
Imam Abu Hanifah (Imam Madzhab Hanafi) :
“Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145)
Imam Malik ( Imam Madzhab Maliki):
“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)
Imam Ahmad bin Hambal ( Imam Madzhab Hambali )
“Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)
Aliran yang benar :
Saat ini banyak terjadi perselisihan dalam urusan Agama. Semakin banyak pula bermunculan aliran-aliran sesat. Sebagian sudah dilarang, tapi tidak sedikit pula yang masih tumbuh subur di negara kita ini. Agar tidak keluar dari ajaran Rasulullah, mari kita simak wasiat terakhir Rasulullah,
dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43 – 44), Ahmad, dll :
Sabda Rasulullah SAW : ‘Saya berpesan kepada kamu supaya sentiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla serta mendengar dan taat sekalipun kepada seorang hamba yang memerintah kamu. Sesungguhnya orang-orang yang masih hidup di antara kamu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan dan sunnah Khalifah Ar-Rasyiddin Al-Mahdiyyin yang memperoleh petunjuk ( dari Allah ) dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu ( berpegang teguh dengannya dan jangan dilepaskan sunnah-sunnah itu ). Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan.‘
Allah Ta’ala berfirman : Hai orang – orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpeganglah kamu semua dengan tali Allah dan jangan berpecah belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi saudara dengan nikmat-Nya, dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk. (Ali ’Imran 102 – 103)
Jadi kuncinya adalah berpegangan pada Al-Quran dan As-Sunnah dengan didasari penafsiran Rasulullah para sahabat. Jadi jangan ikuti jika ada ulama yang tidak berpegang pada kedua hal tersebut.
”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’:59)
Aliran yang salah :
1. Al-Quran berbeda : Jika Al-Qur’annya berbeda, maka sudah bisa dipastikan Aliran ini sesat, karena menambah-nambahi firman Allah. Ada beberapa Aliran yang semacam ini, misalnya Al-Qur’annya lebih tebal 3x lipat dibandingkan Al-Qur’an pada umumnya. Atau mungkin justru Al-Qur’annya dikurangi. Apalagi jika tidak menggunakan Al-Qur’an sama sekali, pasti bukan agama Islam.
2. Al-Qur’an tetap, Tapi tidak menerima Hadis : Ada juga yang beranggapan pakai bahwa Hadis itu berasal dari mulut manusia, jadi tidak patut diikuti. Padahal, bukankah Al-Qur’an juga disampaikan oleh seorang manusia juga. Selain itu semua yang dilakukan Rasulullah adalah berdasarkan Al-Qur’an. Kalau misalnya tidak memakai Al-Qur’an lalu, dia sholat dari mana dasarnya? Padahal cara-cara gerakan sholat itu semuanya ada di Hadis, di Al-Qur’an hanya secara garis besarnya saja. Jadi kalau ada berpaham semacam ini, maka sangat aneh. Disatu sisi dia sholat berdasarkan Hadis, tapi disisi lain dia tidak menerima hadis.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan * antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), (An-Nisaa’ : 150 )
* : Maksudnya: beriman kepada Allah, tidak beriman kepada rasul-rasul-Nya.
merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk
orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.(An-Nisaa’ : 151 )
3. Tidak pandang bulu soal Hadis : Semua hadis dipakai. Sahih, Hasan, Dhoif, bahkan palsu. Beranggapan semua hadis itu patut kita hormati. Atau banyak juga yang belum tau bahwa hadis itu adalah Dhoif (lemah) atau palsu.
Contohnya “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina“. Hadi ini sering kita dengar dari mulut ke mulut. Dan hampir semua orang hafal.
Ibnu Hibban berkata : “Hadis tersebut bathil, tidak bersumber (dari Nabi Salallahu alaihi wa salam) sama sekali.
Imam Ahmad mengingkari dan membantah keras Hadis tersebut.
Walaupun maskud dari kalimat itu adalah baik. Namun tidak boleh menggunakannya sebagai dalil, karena itu sama dengan berdusta atas nama Rasulullah.
Banyak sekali hadis-hadis dhoif bahkan palsu yang lainnya beredar di masyarakat. Ini mungkin karena kesalahan dari sistem pengajaran dan pembelajaran masyarakat. Lihatlah pelajaran di Sekolah-sekolah kita. Hanya diajarkan, do’a makan itu gini, sholat itu gini, tanpa tau dalil-dalilnya dari mana sama sekali. Padahal tidak sedikit pelajaran tersebut memakai hadis Dhoif. Contoh do’a makan Allahuma bariklana…dst. Dan lain-lain.
Karena itu lihat dulu, siapa yang meriwayatkan hadis tersebut. Jika tidak ada riwayatnya sama sekali jangan pergunakan, bisa jadi itu hadis palsu.
“Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap dusta, maka dia termasuk pendusta.”(HR. Muslim)
Sebagian besar para muhaqiq (peneliti hadits) berpendapat bahwa hadits dlaif tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaan-keutamaan.
Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam Qawaid At-Tahdits hal. 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut (yakni hadits dlaif tidak diamalkan secara mutlak, pent) diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam ’Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma’in dan dalam Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakar bin Al-Arabi. Pendapat itu juga merupakan pendapat Bukhari, Muslim dan Ibnu Hazm.
4. Tafsir berdasarkan Akal : Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam- :
“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).
Tidak sedikit yang mengotak-atik Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemikirannya sendiri.
5. Menambah atau mengurangi : Tidak menambahi atau mengurangi ajaran agama. Misalnya Adzan, lafadznya itu jangan ditambah dan dikurangi. Contoh lafadz yang sudah ditambahi dan sangat populer adalah takbiran. Sering kita dengar lafadznya :
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaaha illallah Wallahu Akbar
Allahu Akbar Kabiro
Wal hamdulillahi katsiro
Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila
Laa Ilaaha Illallahu La Na`budu Illaa Iyyah,
Muhklishina Lahud-din, Walau Karihal Kafirun.
Laa Ilaaha Illallahu wahdah,
Shadaqo Wa`dah,
Wa Nashara `Abdah,
Wa A`azza Jundahu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah.
Laa Ilaaha Illallahu Wallahu akbar
Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd
Padahal Seperti Ibnu Mas’ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh :
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar,
Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih)
Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha’i, ia berkata, “Mereka bertakbir pada had ’Arafah. Diantara mereka ada yang menghadap kiblat setelah selesai shalat sambil mengucapkan:
Allahu Akbar,
Allahu Akbar,
Laa ilaha illallahu, Wallahu Akbar,
Allahu Akbar walillahil hamd.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 5649 dengan sanad shahih)
Adapun lafazh takbir; telah diriwayatkan dari sebagian sahabat, diantaranya ialah takbir Abdullah bin Abbas :
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar, wa lillahil hamdu,
Allahu Akbar, wa Ajalla
Allahu Akbar ‘alaa maa hadanaa.
(Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih)
Dan riwayat lainnya. Dan tidak ada riwayat yang menyebutkan takbiran seperti yang yang takbir jenis pertama diatas. Lalu darimanakah kalimat Allahu Akbar Kabiro, Wal hamdulillahi katsiro, Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila, Laa Ilaaha Illallahu ,La Na`budu Illaa Iyyah, Muhklishina Lahud-din, Walau Karihal Kafirun. Laa Ilaaha Illallahu wahdah, Shadaqo Wa`dah, Wa Nashara `Abdah,Wa A`azza Jundahu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah berasal ?
Sepertinya itu mirip-mirip dengan do’a iftitah yang hadisnya dhoif :
Allahuakbar kabiro 3x
Alhamdulillahikatsira 3x
Wa Subhanallahi Bukratan Wa Ashila 3x
Allahumma inni audhubika minasyaitonirrajim min hamdzihi wa nafkhihi wa naftsihi
( Diriwayatkan oleh Abu Daud, 764, dalam Kitab Iqamah Ash-Shalah, Bab Ma Yustaftah bihi ash-Shalah min ad-Du’a;
Al-Albani dalam buku Dha’if Sunan Abu Daud, 166, berkomentar bahwa hadis tersebut dha’if. )
Lalu lanjutannya mirip do’a Sa’i perjalanan ke-6 dari bukit Marwah ke Safa :
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar walillahil hamdu.
La ilaha illallahu wahdah,
sadaqa wa’dah,
wanasara ’abdah wahazamal ahzaba wahdah.
La ilaha illallahu wala na’budu illa iyyahu mukhlisina lahuddina walau karihal kafirun.
( Kami belum bisa menemukan ini hadis atau bukan. Dan jika hadis juga tidak tau riwayat siapa.)
Versi lainnya yg saya ketahui asal usulnya :
“… Maka dinaikinya bukit Shafa. Setelah kelihatan Baitullah, lalu dia menghadap ke kiblat seraya mentauhidkan Allah dan mengangungkan-Nya. Ujarnya : “La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syaiin qadir. La ilaha illallahu wahdahu, anjaza wa’dahu wa nashara ’abdahu wa hazamal ahzaba wahdahu….”
( Sahih Muslim, 1188. dalam Terjemah Hadis [ringkasan-red] terbitan KBC )
Mungkin saat ini cuma ditambahi itu, namun jika hal itu tetap dibiarkan, tidak menutup kemungkinan, suatu saat akan berkembang lagi. Kalimatnya akan semakin panjang. Aneh bukan. Jadi biarkan ajaran Rasulullah itu apa adanya. Jangan ditambah ataupun dikurangi. Penambahan bukan berarti menjadi lebih baik, justru sebaliknya. Karena intinya penentangan terhadap agama yang telah sempurna ini.
Apa mereka mendapat wahyu, dengan menambah-nambah hal tersebut?
Apakah mereka ikut para sahabat? padahal para sahabat tidak menambah-nambahi.
Apakah ikut Rasulullah? padahal Rasulullah tidak menambah apalagi mengurangi.
Kalau ada yang mengatakan, “Itukan tujuannya baik?”, menurut siapa? menurut mereka yang menambahkannya bukan.
Berarti mereka menganggap dirinya lebih baik dari Rasulullah, karena menganggap Rasulullah tidak tau ada yang lebih baik, atau bahkan menuduh Rasulullah tidak mengajarkan sesuatu yang lebih baik itu.
W’allahua’lam bishowab.
Penulis : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/tinggalkan-jika-bertentangan-dengan-al-quran-dan-hadis/
Referensi :
-
Sifat Shalat Nabi, Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani
-
Hadis-hadis dha’if populer, Abdul Aziz Az-Sadhan
-
Prinsip Ahlus Sunnah wal jamaah menyikapi fitnah kelompok sempalan, Ustad Muhammad Umar Assewed
-
Tuntunan Shalat Rasulullah, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah
-
Ceramah tuntunan beribadah Haji, Ust Abu Aslam
-
Yayasan Haji Daarul Ihsaan, do’a-do’a sa’i
-
Terjemahan Hadis Shahih Muslim, penerbit KBC (Klang Book Centre)
- Al-Ahmad
- As-Sudays
- Saad Al-Ghamdi
- Free Islamic Software
- Qur’an
- Larangan yang Terlupakan
- Makruh itu Bukan Berarti Boleh
- Beda Hacker dan Cracker
- Download Islamic Freeware
- Tuntutlah Ilmu ke Cina Bukan Sabda Rasulullah

Kirim ke Teman di Facebook

http://gplus.to/agam/
Semoga kita smua selalu dijauhkan dari hal2 yang buruk
dan senantiasa didekatkan dgn hal2 yg baik. amin
sampai jumpa tahun depan yg lebih cerah
tapi juga harus hati-hati terhadap hadits-hadits yang bertentangan dengan Al-Quran
Semoga kita selalu ditunjukkan jalan yang lurus. Dengan berpegang teguh kepada AlQuran dan AlHadits. Sementara itu sumber sumber lain yang mengandung unsur kebaikan menurut saya lebih pas sebagai inspirasi saja. Wallahualam
mgkn koment ini lbh tepat masuk pd postingan terdahulu. kl sholat (gerakan dan bacaan) mestinya harus sesuai ajaran nabi (hadist), namun jika bukan hal sholat, misalnya doa dgn bahasa sendiri yg dimengerti, apa tetap dianggap bid’ah. padahal doa itu mengandung kebaikan dan pengharapan sbg makhluk kpd khalik.
kl dianggap bid’ah, bisa saja ga jadi berdoa krn takut bid’ah. sedangkan kita tau ga semua org bisa mendapatkan ilmu ttg sesuatu itu bid’ah, dhoif, ahsan, dsb. meski seharusnya sbg muslim kita diwajibkan mencari ilmu dien. namun sekali lg tidak semua org mempunya kesempatan untuk itu walau sudah diusahakan. wallahua’lam.
semoga kita semua dilindungi terhadap kesesatan. amin
aku setuju dengan engku. Apalagi sekarang banyak aliran sesat karena mereka kadang hanya mengambil sebagian, bahkan ada yang tidak mengambil sama sekali.
bentengi umat dari aliran sesat.
Tentang hadits “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina“, saya malah pernah pernah melihat di TV ada salah seorang pembicara (bukan ulama atau ustadz, dan sepertinya bukan muslim) memelesetkannya menjadi: “Tuntutlah ilmu walau ke negeri komunis” dan kemudian melanjutkan “cina kan negara komunis.. iya kan?”
Menurutku berdo’a memakai lafadz apapun di luar sholat boleh, akan tetapi jika ngomong begini, “Saya berdo’a sesuai dengan hadits Rasulullah, begini begitu”, padahal hadits itu dhaif itu yang tidak boleh. Yang tidak boleh itu kata-kata sesuai dengan hadits Rasulullah.
Cuma repotnya kalo dulu di sekolah, praktik sholat gak pake usholli nilai agamanya jelek gam…
Ah … saya jadi ingat dengan perkataan “saydina” dalam bacaan shalat. Saya pernah baca bahwa Rasul tidak suka seseorang menyebutnya dengan saydina Muhammad. Sejak saat itu saya pun meninggalkan perkataan saydina dalam bacaan shalat saya.
Bagaimana dengan yang memanfaatkan hadis untuk kepentingan politik atau golongannya? Menyebutkan kafir dan menghalalkan darah kafir dan sebagainya. Mendengar saja udah ngeri.
menafsirkan alqur’an gak boleh pake akal, trus ngertiin-nya pake apa donk, gam?
Mas, udah pernah ditulis belum tentang shalat tidak perlu mengucap niat usholli, tidak menambah sayyidina pada muhammad, dan tidak membaca bismillah setiap mulai surat al fatihah dan surat pendek lainnya pada shalat, doa iftitah bukan allah akbar kabiro tapi allahuma bait wa baini. Klu belum pernah, tolong dong mas ditulis, saya ingin mendapatkan kajian yang lebih dalam tentang hal2 diatas. Trims ya
Semoga Alloh memberikan kemudahan bagi kita untuk membaca ilmu yang haq dan dijauhkan dari yang batil atau yang mengarahkan kepada kebatilan. Semangat terus agam, semoga jadi amal sholeh…
Aku yo heran kang… kenapa kok orang pengen mendirikan agama tetapi kok pake embel-embel Islam… mbok sing kreatip dikit, mbok buat agama baru dengan semua sebutan yang baru, sebut saja tuhannya bernama Ndlongov. Kitabnya bernama Angov. Lha nama ibadahnya jangan sholat.. sebut saja ibadah “plekethuk”… (diambil dari http://pitutur.web.id/2007/10/26/obrolan-nggladrah-tentang-nabi-palsu/)
Khan gitu ga bikin resah orang Islam
kabanyakan mencari perbedaan dari ajaran yang sudah ada, dan justru berpandangan kalau apa yang dia dapatkan itu adalah yang terbaik dari yang terbaik
Assalamu’alaikum,
Hai Agam,
Sekarang sudah banyak software2 islam yang sangat memudahkan kita. Ada baiknya cek juga ke kitab aslinya, karena kita tidak tahu tentang orang/lembaga yang menjadikan softcopy, apakah ybs amanah atau tidak. Bagaimana menurut Agam, terima kasih atas sharingnya.
bagaimana hadis yang mengatakan bahwa halal darah murtadin ?
so, kalo yang murtad, keluar dari islam, halal darahnya
Gimana itu ?
trus dasar nya menentukan dhoif atau sahih gimana ?
bisa aja kan, digunakan untuk kepentingan golongan, misalnya dengan menuduh ini hadis ini dhoif, hadis itu shahih ,,untuk eksistensi golongannya

Masalah takbir Ki klau ditempat saya memang pakai walkasiro ….ini semua dilakukan sama anak2 sambil keliling kampong dan ini dilakukan setiap tahun dengan meriah bahkan pakai musik2. klau ini bidah gimana caranya kasih tahu karena sudah budaya. Tlg gimana mencegahnya………….?
Assallamu Alaikum Wr.Wb
Salam kenal, Sungguh blog yang sangat menyejukkan..Senang berkenalan..Semoga Antum sekeluarga tetap dalam lindungan Allah SWT dan tetap diberi hidayah keilmuwan agama. Amien.
Assalamu’alaikum.salam kenal kang, aku baru belajar ngenet, buka blog akang, jadi pengin ngikutin
Assalamu’alaykum..
refreshing khasanah tentang iedul fitri eh mampir disini.
Saya sedikit terusik dengan takbiran yang dinyatakan sebagai bid’ah yang mungkin disini lebih banyak dinyatakan bid’ah jeleknya daripada bid’ah baiknya.
Sepanjang pengetahuan saya, konteks takbiran adalah rasa syukur atas karunia Allah, kegembiraan itulah yang membuat seseorang ingin menyatakan lebih kepada khaliqnya. Dan disini takbiran bukan merupakan ritual yang saklek, seperti halnya pelaksanaan shalat tarawih, dimana rasul hanya mencontohkan 3 hari diawal saja berjamaah, apakah jika kita melaksanaan terus hingga akhir berjamaah itu dinyatakan bid’ah, tentu saja bid’ah namun bid’ah yang baik.
Kalaulah itu terkait dengan ibadah langsung seperti ritual shalat, tentu saja kita tidak boleh menambah dan mengurangi sedikitpun, saya dengar dan saya patuh.
Memang perlu difahami dan disampaikan bahwa contoh dari Rasulullah SAW adalah dari Allahu akbar sampai Walillahilhamd, selanjutnya adalah ungkapan syukur yang sudah masyhur di lafadzkan oleh masyarakat, dan selama ungkapan tersebut masih hanif, insyaAllah dan semoga Allah ridho.
Hanya Allah yang maha mengetahui.
Wassalamu’alaykum WrWb.
Ass, Wr, Wb…
.
Kang, saya mau tanya mengenai tuntunan/tata cara Sholat yang sesuai dengan Al-quran dan hadist, masalahnya saya sempat dengar, jika tata cara serta bacaan kita tidak sesuai dengan Al-quran dan hadist, maka sholat kita tidak diterima dan tergolong bid’ah malah ancamannya masuk ke neraka….Audhubillah himindalik….jangan sampai hal itu terjadi karena ketidak tahuan saya selama ini…
Karena selama ini saya hanya mengerjakan sholat serta bacaannya, sesuai dengan yang diajarkan oleh orang tua saya serta pelajaran dari sejak kecil disekolah.
Untuk itu saya mohon bantuannya, agar saya bisa tau mana yang benar dan mana yang salah.
Terima kasih sebelumnya.
Wss, Wr, Wb.
Salam
Ifa
Kami ingin masukan dari anda. Kami punya 4 anak, 3 anak perempuan 1 anak laki-laki. Anak pertama & kedua perempuan aliyah kelas 1, anak ke 3 perempuan kelas 2 MI dan ke-4 laki-laki umur 2.5 tahun. Untuk itu apa usaha yang sebaiknya kami lakukan sebagai ORTU agar mereka berhasil dalam dunia pendidikan dengan memperoleh BEASISWA karena kami yang kerja hanya seorang bapak saja, yakni jadi guru agama di smpn 42 Surabaya.
Bagaimana ya ustadz, apa yang harus kami lakukan selain tetap menekuni pekerjaan sebagai guru agama?
Jazakumullah ahsanal jaza’.
Assalamualaikum, tlng tanggapannya tentang hadist yg menyatakan “apabila lalat masuk ke dalam minuman, maka celupkanlah secara keseluruhan kemudian lalat tsb baru dibuang, karena sebagian sayap lalat ada yg membawa racun dan sebagian yg lain membawa penawarnya” insya Allah kata2 nya seperti itu atau yg mendekati itu. apakah shahih atau batal?
semua hadis itu sepertinya banyak terjadi perkembangan, karna disetiap penyampaian terkadang hadis itu ada yang ditambahkan dan adapula yang dikurangi, hal seperti inilah yang membuat hadis tersebut menjadi layak dipercaya atau tidak. dari sinilah kita harus jeli dalam memilah yang mana yang benar dan yang mana yang salah, karna setiap manusia memiliki naluri pemahaman yang berbedah.. tuhan maha tau, ia selalu memberi suatu tanda-tanda bila umatnya sedang menghadapi sebuah peristiwa yang mebinggungkan atau sebuah dilema yang tak dapat kita pikir dengan akal.. semoga tuhan selalu memberi arti yang baik bagi umatnya.. allah maha besar dengan segala keagungannya tida tuhan selain allah. amin
assalam…
saya kagum akan penguasaan referensi bacaan anda,sepertinya anda adalah penganut paham tekstual sehingga apa yg anda baca (hadist &qur’an) adalah sebuah kebenaran mutlak.kalau sudah mempunyai anggapan ini maka yg lain sesat???
bukankah tuhan menciptakan akal untuk berfikir???bukankah nabi sering melihat para sahabat melakukan sesuatu yg tidak beliau ajarkan kemudian beliau mendiamkan (tidak melarang) bahkan merekomendasikan kpd sahabat yg lain untuk mengikutinya (perbuatan baik) kemudian kejadian itu dinamakan hadist???betapa toleran sekali sifat nabi terhadap kaumnya..
menurut saya selama perbuatan itu baik knp tidak…kalau anda ber anggapan segala sesuatu yg tidak ada dlm qur’an dan hadist adalah bid’ah dan kalau bid’ah adalah sesat dan kalau sudah sesat neraka tempatnya berarti anda menafsirkan islam adalaah agama yg sempit..
menurut saya islam itu terdiri dari ajaran al-qur’an al-hadist dan al-’aqli ketiga2nya harus berjalan tanpa kecuali.
mari kita sama sama perbanyak referensi bacaan dan terbukalah..kebenaran mutlak cuma kebenaran adanya tuhan,slain itu????relatif…
wassalam
begini akhi,,,jika menurut pendirian antum bhwa penafsiran qur’an hanya dg akal adalah salah,berarti dengan sendirinya antum menafsirkan al-qur’an dengan
membacanya secara tekstual pun salah…coba kita liat kenapa qur’an diturunkan secara Bertahap tidak sekaligus turun biar sipel,,karena hakikatnya turunnya ayat itu berdasarkan
kebutuhan manusia pada waktu itu klau bhsa tafsir ada ‘asbabul nuzulnya’.sangat tidak adil klo kta membaca qu’ran dan hadist tanpa kita tidak tau asbabul nuzulnya ayat dan asbabul furudnya hadist,dan itupun masi blm cukup untuk menyimpulkan sbh hukum,masi ada mantiq balaghoh dan lain2 seabreg begitu banyaknya penafsiran hadist & quran,kesemuanya itu butuh pemikiran yang jernih referensi yg banyak dan itu dinamakan mujtahid klo dlm ilmu fiqih..jangan sampai kita punya info tekstual dr qur’an dan hadist lalu kita menglkaim golongan atau indifidu sesat.(sesat=kafir).coba antum pelajari cara belajarnya syafi’i dlm memahami qur’an.
klo da golongan seperti antum sebutkan tadi bilang aja golongan yg beribadah yg tidak sesuai dg text alquran gitu kan lbh enak.sesungguhnya hanya allah-lah yang berhak menentukan kebenaran diantara umatnya..jika umatnya yg mengambil hak itu maka?????
perbedaan itu indah jangan sampai kita nodai keindahan itu….
wa-allahu-a’lam bi-showab…..
selamat berjuang kawan….
menurut saya muhammad saw pun seorang mujtahid akbar…
ass pak Ustat maaf mohon informasi kebeneranya tentang membaca fatkah setelah salam dan jabatab tanga apa ada hadisnya
apa g ngerti
buat bpk khoiron sesungguhnya hadis yang menyatakan perbedaan itu rahmat adalah dloif,saudaraku rosululloh pernah bersabda yang mana jika kita berpegang pada keduanya maka kita tidak sesat yaitu : gogotlah kuat-kuat alqur’an dan as sunah dengan gigi geraham ( kuat ) jadi kalau suatu perbuatan ibadah tanpa ada keterangannya dari qur’an dan hadis( harus hadis sahih tidak boleh dloif ) maka nanti kita bisa tersesat
asss. mas saya mau tanya ?apa hukumnya bagi pembuat zinah
Yang benar itu pasti baik, sedangkan yang baik itu belum tentu benar. Yang melaksanakan ibadah dengan dalil yang benar pasti baik, sedangkan yang melaksanakan ibadah dengan alasan baik maka belum tentu benar. Gimana kira-kira mas ?
Assalamu’alaikum Bung Agam…
mohon pencerahannya.
kita sebagai manusia selalu dihadapkan dengan permasalahan baik duniawi maupun masalah ukhrowi.
nah, dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, khususnya masalah yang menyangkut agama, kita diwajibkan oleh Rasulullah untuk berpegang teguh pada AlQur’an dan hadis.
Seperti kita ketahui, Umat Islam memiliki 4 mazhab, yaitu Maliki, Hambali, Hanafi, dan Syafi’i.
Apakah dalam upaya mencari jawaban kita itu boleh hanya dengan berpegang pada 1 mazhab saja?
demikian pula dengan Tafsir Qur’an dan Hadis. bolehkan saya hanya, misalkan, berpegang saja pada Tafsir Al Misbahnya Quraisy Shihab dan hadis sahih Bukhari tanpa membandingkannya dengan Tafsir AlQur’an dan hadis dari yang lainnya?
hmm… gak tau ilmunya nih… sunnah rosul itu bukan hadist bung, sunnah rosul itu adalah tradisi rasul, kebiasaan rasul, dan bicara sunnah rasul bukan hanya bicara Rasul Muhammad saja, semua rasul memiliki sunnah yang sama. Dan yang namanya hadist yang terbaik ya Alqur’an itu sendiri, baca aja di Surat 39 ayat 23. bukankah Akhlak Rasulullah adalah Al Quran.. jadi kalo mau mencontoh Rasul ya ikutin aja Al Quran… dan salah besar kalo kita ingin memahami Al Quran Harus dengan Hadist A, B C D dan lain lain.. Dasar dari mAna? syarat memahami AL Quran hanya 1.. SUCI!!!! suci dalam arti bersih. Tapi bicara bersih bukan hanya fisik. Tapi juga najis pola pikir. Najis JIwa!!! Najis JIwa adalah Syirik!!! jadi selama manusia belum meninggalkan KEMUSYRIKAN niscaya dia tidak akan dibukakan ilmu pemahaman Al Quran. KAlo kita baca surat 61 ayat 9, sudah jelas bahwa yang paling membenci Rasul Rasul Allah adalah orang Musrik, anda tahu ciri ciri orang Musrik? silahkan anda baca dan renungkan surat 30 ayat 31 dan 32…. wajar jika alam hari ini rusak, bahkan manusianya juga rusak… karena semua akibat dari manusia yang Musrik!!! Surat 30 ayat 41-42…..
Makasih banyak atas masukan yg sangat baik dari mas Rosyidi.com. Memang masih banyak waktu yg luang buat saya. saya sampaikan Jazakumullah ahsanal jaza’.
ass.wbr, web ini menurut saya sangat menarik sekali . trimakasih banyak
jaman sekarang ini banyak sekali orang orang yg merasa pintar tapi tidak pintar untuk merasasaya
assalamualaikum w.w. subhanallah… setelah membaca artikel ni, rasanya saya seperti menemukan padang rumput yang luas bersama mata airnya setelah menempuh perjalanan di padang pasir yang gersang… TAPI saya mau nanya, kalau kita tdk boleh menfsirkan quran sendiri, jadi harus bagaimana seharusnya? artikelnya (ilmunya) g bs d copy… he..he
kalo doa tidak akan sama setiap manusia , jadi untuk masalah doa bukan menjadi ganjalan untuk beribadah yang baik dan tidak menjadi bid’ah bila tidak sama dalam berdoa dengan rosullullah , yang harus diikuti adalah sunnah yang utama dalam beribadah , jadi bila ada ibadah yang tidak pernah ada contohnya dari Rasullullah maka hal tersebut adalah amalan yang diada-adakan dan amalan tersebut tertolak , maka sering disebut bid’ah……, kalo doa itu adalah keinginan setiap insan manusia kepada Allah swt. Doa bisa menggunakan bahasa apa yang kita kuasai…karena Allah swt menciptakan manusia berbeda-beda bahasa , bangsa …..yang penting tidak menyimpang dari sunnah rasullullah.
asalamualayka , saya setuju sekali dengan mas rafli, jika berdoa saja di sebut bid’ah karena tidak sesuai dengan do’a nabi, maka bagaimana dengan do’a selain bahasa nabi? sedangkan ALLAH maha tau apa yang kita inginkan dalam hati, atau yang di ucapkan. sedangkan kita tidak tau semua apa yang di inginkan nabi pada masanya.
terima kasih.wasalam.
bapak rafi dan bapak iyan yth….tolong pahami apa yang tertulis di atas…kita semua punya keperluaan yang berbeda kepada Allah..alias hajat yang berbeda nah dalam berdoa bisa saja dengan bahasa sendir karena Allah maha tahu..tapi yang di maksud sodarakita bukan doa yang itu tapi doa yang baku yang pernah di ucapkan oleh Nabi SAW dalam hal praktek ibadah …contoh dalam doa mengelilingi ka,bah terus do,a dalam syolat itu semua jangan di tambah atau dikurangi ………….berpikir jernihlah heheh dan husus buat bapak hkoeron….tolong bo di pikir lagi jangan mancing mancing ah….udah jelas Quran dan hadis itu jadi patokan bapak…..mau tektual atau mau apapun selama itu namanya kebenaran atau hal yang benar kenapa di pernasalahkan terus kalau kita tidak memahami tektual apa yang harus kita pahami. dari quran dan hadis… otak kita atau kata orang yang belum tentu benar tanpa di telaah kembali…..wasalam
Mengenai golongan islam yang mana yang paling benar dalam mengimani agama islam
nya, mari kita belajar dari sejarah umat umat terdahulu yang diceritakan di
dalam Al Quran.
Surah Yunus (10)
Ayat 36….Kebanyakan dari kalangan manusia hanya bersandarkan kepada andaian
semata. Yang nyata, andaian tidak dapat menggantikan yang haq. Sesungguhnya
Allah Maha Tahu apa yang mereka lakukan.
Ayat 37….Dan Quran ini tidak bisa diciptakan selain oleh Allah, dimana ia
mengesahkan apa apa yang sebelumnya dan menjelaskan apa apa yang telah
ditetapkan untuk manusia. Padanya tiada keraguan dari Tuhan sakelian alam.
Dari ceriita2 umat umat terdahulu itu, kita akan dapati bahawa golongan
mayoritas nya cenderung kpd penyimpangan satelah setiap kali Nabi yg di turunkan
Allah itu wafat. Penyesatan atau penyimpangan itu akan mula terjadi paling tidak
sekitar 50 tahun kemudian satelah wafat nya para nabi2 mereka. Sejarah
penyesesatan umat terdahulu itu seakan akan satu hal yg lumrah. Penyimpangan
dari landasan yg telah ditetapkan oleh para Nabi2 Allah itu pasti terjadi.
Saya percaya umat Nabi Muhammaad juga tidak terkecuali. Nah sekarang umat Nabi
Muhammad ini sudah 1400 tahun lebih. Apakah kita yakin kita tidak saperti umat
umat yang terdahulu itu yg cenderung kpd penyimpangan? Apa istimewa nya kita,
umat Nabi Muhd.ini? Tidak ada keistimewaan nya dan tak ada bezanya. Saya yakin
kita jugak sama saperti umat terdahulu itu yg cenderung kpd penyesesatan dan
penyimpangan. Nah. Sekarang kalau kita kaji dari segi mana nya kesesatan
golongan mayoritas umat Mohammad ini kita akan dapati bahawa penyesesatan
golongan mayoritas adalah dalam mengimani kpd apa yg di sebut Hadis dan Sunnah
Nabi. Baik mereka yg mengaku Ahli Sunnah Wal Jamaah, Baik mereka yg mengaku
Ahlul Bait (Golongan Syiah). Baik mereka yg mengaku Wahabi.dan saterus nya. Rata
rata golongan2 ini yg juga menjajdi golongan mayoritas umat islam ini tidak
lepas dari taasubnya kpd ulama2 mereka atau imam2 mereka selain dari Hadis dan
Sunnah Nabi itu. Karena apa? Karena Hadis dan Sunnah ini tidak ada pada waktu
sekitar 100 tahun satelah wafat nya nabi Muhammad s.a.w. Tidak ada yg nama nya
Bukhari-Muslim dan saterus nya. Tidak ada Iman Empat (Shafii, Maliki, Hanbali
dan Hanafi). Unsur2 dari kitab2 ini dan pendapat ulama2 ini hanya berdasarkan
andaian semata.
Mahukah kita ambil iktibar dan pelajaran dari umat umat terdahulu yg di
ceritakan kpd kita melalui Al Quran.? Saya yakin tidak ramai yg akan mengambil
iktibar dan pelajaran dari hakikat ini sebagaimana nya tidak ramai dari umat yg
terdahulu. Namun sabagai amanah yg diwajibkan tulisan ini hanya sebagai usaha
utk mereka yg mahu belajar dari sumber yg kuat dan meyakinkan ia itu kitabullah
Al Quran dan buat mereka yg mahu BERFIKIR SECARA BERANI, ADIL, IKHLAS dan RENDAH
HATI demi utk mendapatkan keredhaan kpd Allah subhanahu wataalaa…..
Amin…..
assalamu’alaikum mas uztad…sy mau menanyakan, apa yg harus dilakukan oleh orang tua bila ada anaknya (berikut cucu dari anak tsb) yg keluar dari agama islam. dan bagaimana pertanggung jawaban orang tua kepada Allah swt? trmksh
Assalamua’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, semoga semakin banyak orang yang bisa membaca tulisan ini shg mereka tidak lagi taqlid kepada ulama2 tertentu dan menjalankan ibadah hanya karena tradisi dan ritual budaya belaka. Jumhur ulama, pada dasarnya ibadah itu haram kecuali yang diperintahkan. Syukron katsiir
bagaimana dengan ulama atw
Smoga saja dapat menyampaikan dengan benar,amin..thanks artikelnya jadi koreksi buat saya..
Bagaimana sebenarnya hukum Sholat Taraweh yg sebenar2nya….??????