Silakan copy paste asal...
Makruh itu Bukan Berarti Boleh Memperbaiki Browser Baru “Safari for Windows”
3,852 views
Jun 09

Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai rujukan setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin. Allah berfirman, “Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An Nisa : 65). Telah dipahami bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk suatu urusan yang sia-sia, tetapi untuk satu tujuan agung yang kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah kepadaNya. Kemudian tidak hanya itu saja, tetapi Allah juga mengutus rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan memberikan hidayah. Allah berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS An Nahl : 64). Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman,” …Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni´matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3). Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia telah berdusta !” (HR. Bukhori&Muslim).

.

Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni´matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3). Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia telah berdusta !” (HR. Bukhori&Muslim). Berkata Ibnu Majisyun, “Aku telah mendengar Malik berkata, “Barang siapa yang membuat bid´ah (perkara baru dalam Islam), kemudian menganggapnya baik, maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad telah menghianati risalah, karena Allah telah berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan unutukmu agamamu…” (QS Al Maidah : 3). Kaum muslimin, sahabat Ibnu Mas´ud telah berkata, “Ikutilah, dan jangan kalian membuat perkara baru !”. Suatu peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah-nambah sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama. Banyak ide atau atau anggapan-anggapan baik dalam agama yang tidak ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan pahala, tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang atas syariat yang telah dibawa oleh rasulullah, dan bahkan yang demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. Seperti perkataan Iman Syafi´i, “Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama sungguh ia telah membuat syariat baru.” Ucapan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin. Dari anak kecil sampai orang tua , pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. Ada apa memangnya dengan kalimat itu ?

Kaum muslimin, mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah bid´ah, perhatikanlah dalil-dalil berikut ini.

1. Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits Abdullah bin Mas´ud berkata, “Berkata Nabi kepadaku, “Bacakanlah padaku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?” beliau menjawab, “ya”. Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An Nisa : 41) beliau berkata, “cukup”. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca.” Sahabat Ibnu Mas´ud dalam hadits ini tidak menyatakan “sodaqollahul adzim” setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan “sodaqollahul adzim”, beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas´ud “cukup”.

2. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata, “Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan, sampai saat Jibril menemuinya -Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya”.

.

3. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. 799 dari hadits Anas bin Malik r.a, “Nabi berkata kepada Ubay, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab” (”Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)…”) (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , “menyebutku ?” Nabi menjawab, “ya”, maka Ubay pun menangis”.

4. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits Raafi´ bin Al Ma´la r.a. bahwa Nabi bersabda, “Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid ?” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, “Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab´ul Matsaani dan Al Quranul Adzim yang telah diberikan kepadaku.”

5. Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, “Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya -yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni, “tabaarokalladzii biyadihil mulk” (”Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan…”) (QS Al Mulk : 1).

6. Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro´ bin ‘Ajib berkata, “Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan “attiini waz zaituun” , aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya”.

7. Diriwatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu´man berkata, “Aku tidak mengetahui/hafal “qaaf wal qur´aanil majiid” kecuali dari lisan rasulullah, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat”.

Dari ketujuh dalil yang telah kami sampaikan diatas, tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa Nabi mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca ayat Al-Qur´an. Sebenarnya jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin, tak ada satu orangpun dari mereka yang mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya, maka akan sangat banyak dan panjang. Namun cukuplah apa yang kami nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya adalah bid´ah (perkara yang baru) yang tidak pernah ada dan di dahului oleh genersi pertama. Satu hal lagi yang perlu dan penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan “sodaqollahul adzim” setelah qiroatul Quran adalah bid´ah, namun kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya, Allah berfirman, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran….”(Q.S Az Zumar :39).

Ucapan Shodaqollahul adzim adalah baik. Kita boleh saja mengucapkannya, namun menganggapnya suatu sunnah ataupun suatu kewajiban yang harus dilakukan setelah membaca Al-Qur’an sama sekali tidak berdasar. Jika kita sesekali mengucapkannya tidaklah mengapa, tapi kalau setiap selesai membaca Al-Qur’an melakukannya, patut dipertanyakan. Analoginya seperti ini. Andaikata sebelum kita sholat joget dulu, tidak ada yang melarang dan sholatnya sah. Tapi kalau setiap kali hendak sholat selalu joget dulu, ini yang harus dipertanyakan, kenapa? Bisa jadi dia telah menganggap joget tersebut suatu sunnah apalagi suatu kewajiban.

Sedangkan yang dilakukan kebanyakan orang, sudah mengarah kepada kewajiban. Banyak yang tidak tau dalil2nya. Dan hanya asal mengiyakan kata ustad atau kyai mereka tanapa tau dalil-dalilnya. Kita beribadah karena ada perintah, dan penjelasan perintah tersebut sudah terdapat lengkap di Al-Quran dan hadis, jangan ditambah atau dikurang-kurangi sedikitpun. Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan As-Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.

Disederhanakan dan diedit oleh : Agam Rosyidi

URL : http://rosyidi.com/sodaqollahul-adzim-bukan-penutup-bacaan-al-quran/

Sumber: “Kaifa Yajibu ´Alaina An-Nufassirol Qur´an” FDAWJ

Ditulis oleh Ustadz Abu Hamzah Al-Atsary

Tulisan ini dimuat juga dalam Majalah SKI BEM FKG UNAIR

Masukkan email anda:

  
Langganan Berhenti Langganan  


Related Posts

109 Comments to “Ucapan “Shodaqollahul Adhim” Quran Bidah”

  1. kus Says:

    syukron , nice artikel kang :)

    Tapi apa gak disertakan juga alasan - alasan kenapa sebagian orang membaca nya ketika sampai di akhir ayat?

    Dulu aye juga baca kaya gitu, sekarang berhati - hati deh.

    suhun.

    Rosyidi :Ana juga bingung, gak tau darimana ajaran itu berasal.

  2. lady Says:

    pantesan, suami saya ga pernah melafadhkan itu setelah tilawah… udah dijelasin kalo memang ga diajarkan rasul. tp dasar saya yg bandel… :(

    Rosyidi :pada awalnya saya sendiri merasa sulit meninggalkannya. Sering kelupaan, karena sudah terbiasa mengucapkannya. Tapi setelah beberapa hari akhirnya bisa juga merubah kebiasaan itu.

  3. riris Says:

    agam…. baru tau… mksiy bnyak wacananya…. jd, klo slesai bc alqur’an ywdah gtu aja ya.. i mean, klo brenti ya brenti aja?

    Rosyidi :Ya. Berhenti saja sudah cukup. Sebagian ulama ada pula yang menyarankan mengganti dengan ucapan “robbi dzidni ilma”, karena ada dalilnya (Q.S Taahaa : 114) yang berbunyi :”…..dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” Sebenarnya itu bukan do’a penutup Al-Quran juga, namun bersifat umum. Waallahua’lam bishowab.

  4. emnoer Says:

    Sebelumnya minta maaf. Sejauh yang saya pernah dengar, dalam al-Qur’an sendiri Allah berfirman. ??? ???? ?? ???? ????, di surat ali Imran juga disebutkan ?? ??? ????. Kiranya ayat2 sejenis itu menjadi dasar yang dipakai orang yang berkata shadaqallahul adzim. Allah sendiri juga mensifati diriNya dengan perkataan Ashdaq. Dan kalimat itu berupa pujian kepada Allah, baik dan tidak bertentangan dengan do’a ma’tsur lainnya. Gimana mas? terima kasih sebelumnya.

    Rosyidi :Terima kasih sudah dijelaskan dasar dari pemakaian Sodaqallahul adzim. Memang dalam Al-Quran ada kata2 itu. Dan kata2 sodaqallahul adzim itu benar. Namun tidak ada perintah mengucapkannya setelah membaca Al-Quran. Jadi seakan2 bacaan Sodaqallahul adzim itu do’a setelah membaca Al-Quran. Jadi kita menganggapnya itu suatu sunnah atau kewajiban, jika setelah membaca Al-Quran harus ditutup dengan Sodaqallahul Adzim. Bukankah ini sesuatu yang tidak pernah diajarkan? Kalau tidak pernah diajarkan Rasulullah, lalu mengapa kita mengikutinya?

  5. emnoer Says:

    btw, gravatarnya kok juga error?

    Rosyidi :Tidak error koq. Aku memakai plugin yang bisa mendownload gravatar. Jadi gravatar baru akan muncul setelah serverku mendownloadnya dari gravatar.com. Sehari sekali. Itu untuk mempercepat akses, jadi untuk loading gravatar tidak perlu mengambil langsung dari gravatar. Gambarnya sudah ada di serverku. Gampangnya gitu.Btw, setelah aku cek, koq emang gak ada ya gravatarnya mas nur? http://www.gravatar.com/avatar.php?gravatar_id=65a4619564070ecdb05bd263d8a4c964&rating=X&size=40

  6. riris Says:

    makasiy y gam…
    mkasiy jg dah share ilmu di website ini… jd lebih tau banyak…

    Rosyidi:Sama2. Mari kita sama2 menambah ilmu agar selamat dunia dan akhirat.Amin..

  7. Riyogarta Says:

    Mmm, saya pernah dengar hal ini ..
    Hanya, kalau berbicara bid’ah, maka banyak hal yang sebenarnya juga bid’ah, termasuk pembukuan Al-Qur’an itu sendiri … apa ada Rasul mengajarkannya? :-?

    Hanya kembali lagi, menurut saya, selama apa yang tidak dilakukan semasa Rasul dan ada dilakukan setelah masa Beliau tetapi tidak mengurangi apalagi bertentangan dengan nilai-nilai ke-Islam-an, insya Allah, Allah maha mengetahuinya.

    Rosyidi :Pengumpulan Al-Qur’an dalam satu kitab, ada rujukannya dalam syariat karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur’an, tapi penulisannya masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya. Lalu, mengapa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tidak dibukukan? karena di zaman Rasulullah masih ada pencegah dibukukannya, yaitu karena Al-Qur’an masih turun secara berangsur-angsur selama masa hidup beliau, maka tatkala meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, maka mereka pun baru mengumpul-kannya disebabkan karena telah sempurnanya agama ini dan wahyu telah terputus.Wallahua’lam bishowab.

  8. emnoer Says:

    Terima kasih. Okay, saya sangat setuju dengan alasan bahwa pelarangan membaca ’shadaqallhul’adzim’ itu dilarang karena takut dianggap sebagai suatu kewajiban, itu benar. Seperti juga ketika kita bersalaman setelah sholat ashar maupun subuh. Itu juga tidak boleh, jika kemudian dianggap sebagai salah satu kewajiban yang jika ditinggalkan, sholatnya jadi nggak sah. jika begitu, maka alasannya jelas. Karena itu, jika alasan tadi tidak ada, maka hukum tersebut juga tidak ada. Karena hukum sesuatu itu bergantung atas ada atau tidaknya motivasi/sebab dari adanya hukum (illat).

    Terus juga, coba mas cek salah satu hadis riwayat dari Abi Tsa’labah bin Nasyir bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kewajiban kepadamu, maka janganlah kamu meninggalkannya. dan Allah telah memberi batasan2 kepadamu, maka janganlah kamu melanggarnya, dan Allah juga ‘mendiamkan’ sesuatu, sebagai rahmat atas kamu, tanpa Ia melupakannya, maka janganlah kalian mencari-cari hukumnya (dengan bertanya2 atas hukumnya, karena bisa jadi ini justru akan membuat mempersempit ruang seseorang dan menjadi tidak leluasa, pen.) “. Hadis ini hasan diriwayatkan oleh Imam Daar al-quthny.

    Hadis tersebut bisa mas temukan di kumpulan hadis arba’in an-nawawiyyah karya Imam an-Nawawiy. Dalam kaitannya dengan hal ini, Dr Yusuf Qaradhawiy menyebut hal-hal itu sebagai masalah yang masuk dalam wilayah maskut ‘anhu (Allah tidak menyebutkan hukumnya, namun juga tidak lupa akan hal itu, tetepi semata2 untuk memberi keluasan kepada manusia itu sendiri). Atau istilah beliau-nya adalah ‘mantiqah al-’afwi’ (daerah yang dimaafkan). Jika tidak demikian, maka saya setuju dengan mas Riyogarta, bahwa kita akan ‘terkekang’ dan akan banyak berbenturan dengan hal-hal yang dianggap bid’ah lainnya, yang akhirnya mengesankan bahwa Islam itu tidak lues bahkan terkesan saklek.

    Terakhir ana kira kita tetap hati-hati dalam mengatakan ini halal atau haram. Karena bisa jadi hal-hal tersebut masuk dalam permasalahan yang disebut sebagai perkaran maskut ‘anhu, seperti yang saya singgung di atas. Dan jika kita fikirkan, sebenarnya posisi seseorang yang mengharamkan sesuatu (yang maskut ‘anhu), sama saja dengan mereka yang menghalalkan sesuatu yang jelas haram. Di sini sebenarnya perlu kita renungkan.

    Ohya, ada baiknya jika saya sebutkan ayat al-Qur’an surat an-Nahl ayat 116, yang artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” Maaf jika terlalu panjang. Terima kasih mas…

    Tambahan untuk mas Riyogarta, setahu saya, alasan yang lebih utama tidak dibukukannya al-Qur’an ketika itu, adalah kehawatiran akan bercampurnya al-Qur’an dengan Hadis. Kemudian, ide penulisan al-Qur’an itu sendiri timbul karena banyaknya para huffadz (para sahabat yang hafal al-Qur’an) meninggal dunia, dan berkurangnya jumlah mereka karena peperangan. tengkyu.

    Rosyidi :Terima Kasih banyak sudah mau memberi masukkan yang panjang lebar.

  9. dianz Says:

    ‘takut dianggap sebagai kewajiban’ kalimatnya emnoer itu perlu dicatet (aku copy aja sekalian tulisannya ya! sekalian minta izin nih).
    perkara yg ‘aneh2′ zaman sekarang mulanya emang dari ‘kebiasaan yg disakralkan’.
    tapi aku juga rada ‘risih’ kalo dengan mudahnya kita bilang ‘itu bid’ah’… apalagi ke orang yg baru kenal islam, kesannya agak saklek ya! mungkin bisa pake bhs yg lebih bisa diterima? tapi apa ya.. islam kalo udah menentukan hukum ya sifatnya mutlak.

    Rosyidi :ya, silakan dicopy paste. Asal… mencantumkan sumbernya :)

  10. toim the shinigami Says:

    wah, ternyata bid’ah, tho? ya udah deh, besok2 blajar gak mbaca shadaqallahulazhiim lagi..
    makasi banyak, gam, atas artikel-nya, very very good-lah:d

  11. nugi Says:

    Mas aku nyoba doang

  12. emnoer Says:

    Wah, mas to’im the shinigami, sebenarnya nggak harus gitu kok. baca ’shodaqallahul ‘adzim’ sejauh yang saya tahu, bahkan merupakan ta`adduban , yaitu bagian dari adab menghormati al-Qur’an itu sendiri. Kan enak mas, kalau baca kemudian baca shadaqallahul’adzim. Coba kalo nggak, rasanya ada yang kurang sreg to? Ya, tetapi jangan dikira itu wajib. Itu saja, Okay….
    :)>-

    Rosyidi :maaf mas, kalo kurang sreg itu bukannya sudah merupakan tanda2 mewajibkan? Jadi akhirnya kita akan keterusan, dalam artian biar sreg kita harus baca. Bisa tolong dijelaskan mengapa termasuk dalam adab menghormati Al-Qur’an? padahal Rasulullah sendiri tidak pernah melakukan hal semacam itu.

  13. rd Limosin Says:

    Wee… dpt info berharga neeh :)>-

  14. nayz Says:

    lebih baik dicari dulu siapa sumbernya ?

    tapi saya pikir asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman ya saya tidak mempermasalahkan . dan ini sudah sangat umum dan membudaya dimasyarakat kita (Indonesia). Ini tidak wajib , tapi apa memang patut disalahkan jika niat kita memang melakukan lebih untuk memuji dan mengagungkan ALLAH ?

    Rosyidi :Niatnya baik, tapi caranya salah.
    Hadis yang melarangnya :
    Telah datang kisah Abdullah bin Mas’ud bersama orang-orang yang berhalaqoh yang ketika itu mereka membawa kerikil untuk berdzikir kepada Allah dengan kerikil tersebut, Ibnu Mas’ud berkata kepada mereka : “demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (apakah) kalian berada pada agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad atau kalian membuka pintu kesesatan!” Mereka menjawab : “demi Allah wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan melainkan kebaikan.” Ibnu Mas’ud berkata : “betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya.” [HR. ad-Darimi (1/68), sanadnya shohih]
    Selain itu Rasulullah dalam Hadis Riwayat Muslim (No.1128), yang sanadnya sahih juga pernah melarang Abdullah bin Amru bin Ash berpuasa dan menamatkan Al-Qur’an setiap hari. Abdullaah hanya beniat baik, “..Tidak ada maksudku berbuat demikian melainkan hanya untuk kebaikan.” Namun Rasulullah tetap melarangnya.

  15. Ahmad Simanjuntak Says:

    Makasih mas. Tadi malam masih baca shadaqallahulazhiim. Mulai nanti malam gak baca lagi deh.

    Rosyidi :Semoga bisa istiqomah. Pertamanya saya sering kelupaan, jadi setiap selesai baca Al-Qur’an tetap membaca “sadaqallahul adzim”, tapi akhirnya lama2 gak lagi.

  16. finkz Says:

    loh.. sodaqollahul adzim itu artinya maha benar 4JJI atas segala firmannya kan? salah ya? aku pernah liat di vcd sejarah perjuangan Rasul, para sahabat sewaktu dakwah, membacakan ayat Quran, pake sodaqollahul adzim juga.. :-?

    Rosyidi :Bukan itu. Artinya adalah Allah yang Maha Agung telah berkata benar. Shadaqa = Jujur/benar, Allahul Adzim = Allah yang Maha Agung. btw, VCD apa ya?the Messangger?Sudah lama gak liat, lupa. Tapi VCD kan bukan dasar hukum kita. Dasar hukum kita beragama kan Al-Quran dan As-Sunnah.:)>-

  17. Belajar WordPress Says:

    Kalau saya sih masih kukuh pada penggunaan Shadaqallahul Adzim, Pertama karena memang Al Qur’an itu firman Allah, dan yang kedua Allah kalau berfirman mesti benar dan yang ketiga biar orang-orang kafir itu tahu kalau Al-Qur’an yang paling benar.

    Dan kalau memang ini bid’ah, mungkin ini termasuk bid’ah yang baik. Seperti pembukuan Al-Qur’an dan penutupan ka’bah dengan kain. Atau seperti pembuatan Al-Qur’an digital. Jadi jangan hanya karena ndak ada (belum ketemu) dalilnya trus aktifitas yang baik ditinggal begitu saja.

    Rosyidi :btw, kata2 orang kafir tau kalau Al-Qur’an yang paling benar itu kan menurut orang Islam. Aslinya gak gitu lho mas. Justru mereka menganggap Al-Quran itu plagiat dari kitab mereka, karena ceritanya hampir sama dan turunnya lebih akhir.
    Bukannya belum ketemu, tapi memang tidak ada dalilnya. Pembuatan Al-Quran digital tidak beda jauh dengan kertas. Hanya medianya saja yang berbeda. Sama halnya dulu menulis di pelepah kurma, sekarang di kertas. Pembukuan Al-Quran sudah dijawab di komentar no7.

  18. Belajar WordPress Says:

    Sepertinya kalau dasar hukum hanya Al-Qur’an dan Sunnah saja kurang tepat. Karena Rasulullah sendiri sepertinya pernah menguji sahabatnya dengan hal seperti ini. Kira-kira bunyinya seperti ini :
    Apa yang menjadi dasarmu dalam menentukan keputusan. Jawab sahabat Al-Qur’an. Jika tidak ada Sunnah Rasul dan jika tidak ada … saya lupa apa istilahnya… yaitu mencari persamaannya atau yang setingkat dengannya…

    Rosyidi :Sudah saya huruf tebalkan komentar mas lutvi. jika tidak ada. Jadi, ijtihad itu kalau di Al-Quran dan As-Sunnah tidak ada atau pada zaman Rasulullahpun barangnya belum ada. Contohnya rokok, dll. Sedangkan membaca Al-Quran, Rasulullah sudah mencontohkannya. Coba baca dalil2 yang saya tulis di atas, itu semua mengisahkan Rasulullah atau sahabat ketika membaca Al-Quran. Jadi dalilnya ada. Tidak perlu ijtihad. Dan sudah sangat jelas sekali.

  19. jaloee Says:

    ” setiap perkara bid’ah sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka “, …namun di sini kita perlu memperjelas makna ” bid’ah “, bid’ah yang mana di kategorikan bid’ah yang sesat.
    Sholat tharawih berjamah di masjid sebenarnya Rasulluloh hanya melakukannya 3 hari saja, namun pada jaman Umar bin Khattab di biasakan sampe selama bulan ramadhan. sampe Umar ra bilang inilah bid’ah yang baik ?.
    justru menurut saya bid’ah keterlaluan yg masih di kerjakan sampe sekarang adalah ” Tahlilan Kematian “, karena bid’ah yang ini mengadopsi dari peribadatan agama hindu dulu.
    kalau masalah bacaan sehabis baca al-Quran, saya suka mengucapkan “Sami’na wa Atho’na…dst.” ( surat al-Baqarah ayat terakhir ).
    oh ya ngomong-ngomong bos, klau pasang shout box di wp caranya gmana ? ..bagi2 dong ilmunya biar maslahat :D

    Rosyidi :
    Nabi shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam mengemukakan alasan mengapa beliau tidak keluar ke masjid untuk memimpin shalat Tarawih adalah karena takut diwajibkannya shalat Tarawih tersebut. Dengan demikian diketahuilah bahwa beliau sebenarnya tetap ingin keluar ke masjid. Dan seandainya tidak karena takut diwajibkannya Tarawih itu, niscaya beliau akan keluar ke masjid. Maka ketika di masa pemerintahan Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau menyatukan mereka dengan satu imam. Masjid pun di malam Ramadhan, diberi lampu. Maka jadilah model pengamalan semacam ini, yaitu berkumpulnya mereka di masjid untuk melaksanakan shalat Tarawih dengan di pimpin oleh satu imam dan diteranginya masjid, sebagai amalan yang tidak pernah mereka kerjakan sebelumnya. Sehingga dinamakanlah amalan tersebut sebagai bid’ah. Karena secara bahasa memang demikian maknanya. Tetapi tidaklah istilah bid’ah yang di pakai dalam perkara ini adalah bid’ah dalam pengertian Syari’ah. Karena Sunnah Nabi telah mengkatagorikannya (yakni shalat Tarawih dengan berjama’ah itu, pent) sebagai amalan shaleh, seandainya tidak dikuatirkan untuk diwajibkannya amalan itu. Dan kekuatiran untuk diwajibkannya amalan shalih ini telah hilang dengan telah wafatnya Nabi shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam, sehingga penghalang untuk dilaksanakannya amalan shaleh ini telah hilang.” Demikian Syaikhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan dalam Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, jilid 2 hal. 594.

    Cukuplah dengan keterangan ini untuk sebagai kejelasan, bahwa kata bid’ah hasanah yang dipakai oleh Umar bin Al-Khattab itu dalam menilai shalat Tarawih berjama’ah di masjid, bukanlah bid’ah dalam pengertian syar’i. Tetapi adalah pengertian semantik (secara bahasa). Karena amalan shalat Tarawih berjama’ah di masjid itu telah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam dan para Shahabat beliau di masjid beliau. Jadi shalat Tarawih berjama’ah itu tidaklah dikatakan bid’ah secara syar’i, bahkan dikatakan Sunnah Nabi shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam. Karena bid’ah dalam pengetian syar’i telah dikatakan dhalalah (sesat) semuanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam.
    (Jawaban tentang tarawih tersebut saya ambil dari millis)
    Kalau shoutbox, saya pakai shoutmix, dulu sempat pakai plugin, tapi tidak kompatibel dengan theme. Sebenarnya banyak koq layanan serupa yang gratis.

  20. Tukeranlink Says:

    Saya setuju dengan Jalooe.
    Tapi bukan berarti saya membenarkan adanya bid’ah.
    Hanya saja batasan bid’ah itu yang perlu rincian lebih jelas.
    Saya kira dari semua hadist yang dijabarkan, gak ada juga satupun hadist yang melarang mengucapkan shodaqollahul azhim.
    Bukankah dalam ushul fiqih segala sesuatu itu boleh sampai ada dalil yang mengharamkan?
    Kalo saya berpendapat, bahwa ini bukan patokan. Hanya renungan dan ajakan agar kita memperbaikni kualitas ibadah kita.
    So, kita menjadi lebih berhati-hati.
    Saya mau nanya nih, kalo usai baca qur’an terus baca do’a “Allahummarhamni bil qur’an. Waj’alhuli imana dst..” apakah termasuk bid’ah juga?
    Terus terang, saya belum ketemu hadistnya.
    Hanya saja saya lihat di bagian belakang qur’an terdapat do’a tsb.
    Thank’s infonya. Jazakallahu khairan…

    Rosyidi :Perlu diketahui bahwa “Semua Ibadah itu pada dasarnya haram, kecuali yang diperintahkan”.Dasar hukumnya diambil dari hadis riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha.
    Akan berbeda jika yang dibahas hukum makanan : “Semua makanan itu pada dasarnya halal, kecuali yang dilarang”.(QS. Al-Baqarah: 29) dan (QS. Al-An’am: 119).
    Jadi tidak perlu larangan untuk hal Ibadah. Contoh sederhananya ada aliran sesat yang menambahi ritual ibadahnya dengan membakar diri (dengan api sungguhan, tapi bagi yang beriman katanya tidak akan merasakan panas). Ini tidak pernah ada di zaman Rasulullah. Apakah kita memperbolehkannya karena tidak ada yang melarang? tentu tidak bukan. Jika tidak ada perintahnya maka tinggalkan. Bukankah lebih mudah meninggalkan daripada mengerjakan.
    Kalau masalah “Allahummarhamni bil qur’an. Waj’alhuli imana dst..”, ada dalilnya tidak? jika ada berarti itu bukan bid’ah. Perlu ada penelitian lebih lanjut masalah ini. Jadi, maaf belum bisa saya jawab sekarang.

  21. Heri Says:

    Kenapa susah-susah….
    Kalau meragukan, kalau ndak ada contohnya, ya lebih baik dihindari ndak usah dilakukan…

    Kalo saya mah didahului dengan ta’awudz dan diakhiri dengan hamdalah dengan nada sirriy….

    Rosyidi :Kalau ta’awudz emang ada dalilnya dari An-Nahl 98. Kalo hamdalah aku gak tau dalilnya, sepertinya koq tidak ada. Mungkin mas heri tau?

  22. gaussac Says:

    lebih jelasnya mungkin begini.
    ketika kita sholat membaca Al Fatihah, belum pernah saya mendengar atau diajarkan oleh siapapun untuk membaca sodaqollahul adzim.
    bukankah Al Fatihah itu bacaan Al Quran, jadi benar adanya bacaan sodaqollahul adzim bukan penutup bacaan Al Quran.

    Rosyidi :Terima kasih tambahannya.

  23. aLe Says:

    setelah beberapa hari yg lalu baca artikel ini…
    sulit ya gam, menghilangkan kebiasaan ~X( arggghhh
    tp aLe msh penasaran deh :-?, masak gak ada yg membolekan :-?? coz, kyknya di 2 pondok sktr rumah aLe pasti ucapkan lafadz itu stlh para santrinya baca aL-Quran. Tp smntr aLe cr hadits yg membolehkan, aLe ikuti dl hadits dr km. bgmnpun, skr km lbh berdasar :d

    Rosyidi :memang susah koq pada awalnya. Aku juga merasakan hal yang sama, tapi setelah beberapa hari kemudian, alhamdulillah sudah terbiasa tidak mengucapkannya. Memang tidak ada hadis sahih yang mengatakan hal tersebut. Semoga kita bisa selalu berlandaskan pada Al-Quran dan As-Sunnah. Amin..

  24. noer Says:

    Sekalian test gavatar kok ga bisa2…hehehe..
    Yang jelas perasaan ga’ sreg saya yang dulu pernah saya tulis itu belum tentu merupakan tanda2 bahwa saya merasa itu suatu kewajiban kok mas. Sedangkan dasar bahwa menghormati al-Qur’an itu juga bisa dengan melihat konteks hadis yang panjang lebar saya tulis di atas. Tetap saja, di sana ada maskut ‘anhu , atau mantiqah al’afwi seperti yang disinggung Dr. Yusuf al-Qaradhawy.
    Jika ini adalah hasil pemahaman masing-masing, maka jelas kita tidak bisa ‘mewajibkan’ hal itu kepada orang lain. Apalagi sampai mengklaim benar dan salah dari sisi kita, tanpa mengindahkan sisi lain. However, ini diskursus yang enak kok untuk dibahas, stay cool friend….. chayoo!

    Rosyidi :Mau tau fatwa Yusof al-Qaradhawi tentang bid’ah? Fatwa al-Qaradhawi: Tiada Bid’ah Hasanah, atau versi arabnya . Sesuatu yang dikerjakan rutin, bisa dikatakan wajib. Mungkin anda beranggapan tidak wajib, tapi bisa jadi kalau kebiasaan itu turun temurun, maka bisa pula anak cucu kita nantinya akan beanggapan itu wajib.

  25. noer Says:

    Ohya mas, kalo gak salah, hadis shohih juga mengatakan bahwa al-Quran merupakan sebenar2nya kalam Allah. Wa inna ashdaqal kitaabi kitaabullah…. bahkan ini pun sangat sering kita dengar.
    Lantas kok kita nyebutin Shadaqallahul ‘adzim ga’ boleh, (hanya) karena nggak ada hadis yang memakai lafadz sorih yang menunjukkan pembolehannya, kan rasanya gimana gitu… se-gitu kah? :(

    Rosyidi :Memang Al-Quran itu sebenar2nya kalam Allah. Karena dari itu, kita membacanya harus menurut Rasulullah. Jangan membuat aturan baru.
    Sedangakan mengucapkan Shodaqallahul adzim sendiri boleh asal hanya diucapkan sesekali, tidak terus menerus setelah membaca Al-Qur’an. Selengkapnya saya tanggapi di komentar bawah (NanG).

  26. NanG Says:

    kalo dihubungankannya dengan bid’ah .. berarti pake celana jeans juga bid’ah dong, dan tidak boleh menggunakannya?? :(

    padahalkan kl diliat dr unsur asal muasal celana jeans dibuat itukan dr untaian benang yg sudah jelas2 itu merupakan rahmat ALLAH.

    dan kalo dikembalikan kepada pembahasan pengucapan kalimat tsb yg tidak diperbolehkan ( spt yg disebutkan sobat noer ) dan Rosul tidak pernah melakukan hal itu, waahhh .. koq jadi terkesan mempersempit ruang gerak kaum muslimin sendiri yah :d

    maaf .. kl ketikan ane ga berkenan ;)

    Rosyidi :Mari kita simak wasiat terakhir Rasulullah, dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43 - 44), Ahmad, dll :
    Sabda Rasulullah SAW : ‘Saya berpesan kepada kamu supaya sentiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla serta mendengar dan taat sekalipun kepada seorang hamba yang memerintah kamu. Sesungguhnya orang-orang yang masih hidup di antara kamu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan dan sunnah Khalifah Ar-Rasyiddin Al-Mahdiyyin yang memperoleh petunjuk ( dari Allah ) dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu ( berpegang teguh dengannya dan jangan dilepaskan sunnah-sunnah itu ).
    Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan.

    Pertanyaannya adalah apakah kita mau melakukan wasiat terakhir Rasulullah ini? Sebelum meninggal, setelah sholat subuh, Rasulullah memberikan wasiat terakhirnya. Jadi, kita harus berpegangan pada Sunnah Rasul dan Sahabat. Bukankah sebaik2 pembaca Al-Qur’an itu Rasulullah? Tentu jawabannya YA. Dan lalu mengapa kita enggan mencontoh Rasulullah dalam membaca Al-Qur’an? Maaf..apakah kita merasa lebih pintar dari Rasulullah? sehingga apa yang dicontohkan Rasulullah, kita anggap kurang sempurna, karena itu perlu ditambahi dengan perkara baru, yaitu membaca Sodaqallahul Adzim. Dalam hadis manapun Rasulullah tidak pernah membaca itu setelah membaca Al-Qur’an. Ada tujuh hadis yang saya cantumkan diatas, jika kurang, silakan cari sendiri hadis serupa lainnya, dan bisa saya pastikan hampir sama isinya, tanpa Sodaqallahul adzim.

    Lalu jika masalah celana jeans. Tergantung jeansnya juga, asal tidak sobek2 pada lututnya (menutup aurat), itu tidak apa2. Itu bukanlah Ibadah. Sedangkan Sodaqallahul adzim itu adalah ibadah. Jadi kalau bid’ah dalam Ibadah tidak boleh, kalau bid’ah dalam dunia boleh. Ada hadis yang memisahkan hal ini.

  27. noer Says:

    syukron mas agam, ini comment ana terakhir di artikel antum yang ini. antum kuat dan teguh memegangnya, terus terang saya respek! go a head brother!!!

    Rosyidi :Disini ana bukannya keras kepala lho.. :) Ana cuma berpegangan pada dalil yg kuat. Selama ada dalil, siapapun yang menyampaikan, ana akan menerimanya. Mohon bimbingan antum, jika ada yang salah. Maaf jika ada kata2 yang tidak berkenan.

  28. mk Says:

    Trims atas tambahan ilmunya, kalo saya biasanya mau ngomong bid’ah kepada orang awam tentang sesuatu hal yang benar2 bid’ah dalam ibadah rasa-rasanya terlalu kasar.. Jadi saya pakai bahasa saya sendiri, yaitu tidak ada tuntunannya baik di qur’an maupun sunnah rasul.. Termasuk pada orang terdekat di lingkungan saya.. Lebih panjang sih, tapi beberapa orang yang melakukan hal bid’ah dan terang-terangan dibilang bid’ah biasanya langsung tersinggung dan malah bisa-bisa memutus tali silaturrahim.

    Rosyidi :Bukannya kasar. Rasulullah sendiri juga tegas dalam menyampaikan sesuatu. Ada hadisnya, Sahih Muslim (nomernya lupa, nanti saya cari lagi). Dikatakan bahwa Rasulullah kalo ceramah, sampai urat di lehernya terlihat, dll. Yang menggambarkan bahwa Rasulullah tegas dalam menyampaikan masalah agama. Tidak takut dicaci maki, ditimpuk batu, dll. Jadi gak hanya main aman saja. Apalagi umar… Jadi bukan bermaksud memutus tali silaturahmi. Sebenarnya ya gak langsung dikatakan bid’ah gitu, perlu dilakukan pendekatan pelan2.

  29. mk Says:

    @agam : pengertian bid’ah itu sendiri kan menambah-nambah ibadah yang tidak ada tuntunannya baik qur’an maupun sunnah rasul, ya saya kan cuma bilang bahwa ibadah tersebut tidak ada landasan dalil yang kuat.. Saya setuju dengan pendekatan yang pelan-pelan, sebab lumayan susah; bukan berarti tidak mungkin berubah; untuk mengubah kebiasaan yang sudah turun temurun. Apalagi di kota saya ada selebaran yang isinya sebagian benar, tapi dengan cara yang salah, membuat beberapa orang kebakaran jenggot.

    Rosyidi :btw, selebaran apa ya?

  30. seven Says:

    Ass, Makasih atas sharing ilmunya, ini akan sangat menambah ilmu / membantu muallaf seperti saya untuk lebih memahami agama yang diridhoi oleh Allah SWT, Wss

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam. Alahmdulillah, semoga kita bisa berbagi ilmu.

  31. seven Says:

    Oh iya, sekalian mau minta ijin copy artikel beserta comment’s dr saudara2 yg lain, thank’s

    Rosyidi :Ya, silakan di copy paste. Tapi kalau ingin mempublikasikannya, lebih baik dicantumkan sumbernya.

  32. ruli Says:

    assalamualaikum wr.wb
    subhanallah Gam, kowe kok dah byk bgt ilmunya?tholabul ‘ilm dimana?
    sering ikutan ga kajian di Grabik FK?
    sebenernya masalah bacaan Shodaqallah al ‘adzhim sudah pernah aq tahu dulu.
    tapi yg ku tangkep tu memang bid’ah kok.Bismillah mudah2an Allah memudahkan pengetahuan bagi kita para penuntut ilmu.
    btw, ga da reuni2an ma kelas qta y. Harfina nikah lo….
    barakallahu fiik….
    wass.wr.wb

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam. Wa fiika barakallah. Aku gak pernah ikut kajian di Grabik FK sama sekali. Ilmuku masih dikit koq. Masih banyak yang belum aku ketahui. Aku kebanyakan belajar sendiri, ikut kajian dideket rumah, chating, dll. Wah dah pada nikah ya.. enaknya 8-> . Kalo kamu? :p

  33. aLe Says:

    Gam, aLe tetarik ama
    “Semua Ibadah itu pada dasarnya haram, kecuali yang diperintahkan”
    bs request g? bhs lbh detil donk lngkp dgn hadist-nya [-o< pliss :d

    Rosyidi : Nanti kalo ada waktu ya. Mau UAS, sementara membahas yang ringan2 dulu.
    Update : maaf sampai April 2008 ini belum sempat membahas itu. Sebenarnya sudah ada tulisan terkait, tapi belum sempat aku edit.

  34. aLe Says:

    Gam, aku tanya disini
    http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/19/cn/27845
    jawabnya suruh lihat disini
    http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/27487
    1. Tidak ada satupun larangan terhadapnya.
    2. karena ia merupakan bentuk zikir.
    3. para ulama menjadikannya sebagai salah satu adab dalam membaca Alquran. Bahkan menurut mereka jika ia diucapkan dalam salat tidak membatalkan salat. Demikianlah pendapat kalangan Hanafi dan Syafii.
    4. Lafal atau ucapan tersebut demikian dekat dengan apa yang diperintahkan dalam Alquran serta merupakan ucapan orang mukmin di saat akan perang.
    Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik (Ali Imran: 95)
    Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.
    5. Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa menurut al-Hakîm al-Tirmidzî mengucapkan kalimat shadaqallahu al-azhim setelah selesai membaca Alquran merupakan salah satu bentuk adab membaca Alquran.
    Mohon pencerahannya *d jwb stlh uas aja, g kburu2 kok*

    Rosyidi :
    1. Untuk ini, sudah saya jawab di komentar sebelumnya pada nomer 20.
    2. Yang ini kurang tau. Saya cari tau dulu.
    3. Ulama yang mana? Harus jelas sumbernya, siapa yang berbicara. Kalau membacanya setelah Al-Fatihah tentu saja tidak mengapa, karena itu ayat Al-Quran. Namun jika membacanya pada saat ruku’ dan sujud. Sudah pasti tidak boleh. Karena Rasulullah melarang membaca Al-Quran ketika sedang ruku’ dan sujud. Beliau bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud. Adapun ketika ruku’, maka agungkanlah Allah. Adapun ketika sujud bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdo’a, karena sudah sepantasnya Allah mengabulkan do’amu.” (HR. Muslim dan Abu Awanah. Larangan ini berlaku untuk umum, baik dalam shalat wajib maupun sunnah. Adapun tambahan pada riwayat Ibnu Askir (17/299/1) yang berbunyi yang berbunyi : “Adapun pada shalat sunnah, hal itu tidaklah mengapa,” riwayat ini syadz atau mungkar. Ibnu Asakir telah menganggap cacat riwayat ini. Oleh karena itu tidak boleh diamalkan.)

    Imam Asy-Syafi’i tidak memperkenankan kita taqlid.
    “Setiap apa yang aku katakan jika menyalahi hadis yang sahih dari Rasulullah, maka hadis itu lebih utama, maka janganlah kalian taqlid kepadaku.” (Ibnu Abi Hatim, Abu Nu’aim dan Ibnu Askir (15/9/2) dengan sanad sahih).

    Begitu pula Imam Abu Hanifah.
    “Tidak halal bagi seorang pun mengambil perkataan kami, selama dia belum mengetahui darimana kami mengambilnya.” (Atsar (riwayat) dari Ibnu Abidin dalam Al-Hasyiyah (1/65) dan dalam risalah Rasmul Mufti (1/4) dari Majmu’ Rasail Ibnu Abidin)

    Disini bukannya saya meragukan kebenaran para Imam madzhab tersebut. Namun, merujuk pada perkataan Imam Abu Hanifah diatas. Seharusnya dijelaskan dari kitab mana pendapat kedua Imam tersebut diambil, dan memakai dalil apa? Semuanya harus jelas untuk mengetahui benar dan tidaknya suatu pernyataan.
    4. Seharusnya disebutkan dalilnya dimana. Kalaupun itu memang benar dalilnya, bukakah itu diucapkan saat perang? Dalam ayat Al-Quran tersebut tidak terdapat perintah mengucapkan Sodaqallahul adzim setelah membaca Al-Qur’an.
    5. Lagi2 dalil. Apakah dalam hadis sahihnya kah? Jika memang itu ada hadisnya seharusnya ditulis bunyinya. Pegangan kita kan Al-Quran dan As-Sunnah. Kalaupun bacaan itu merupakan adab membaca Alquran, tentunya Rasulullah akan mengajarkannya pada Sahabat dan tentu saja akan ada hadisnya. Kenyataannya tidak kan.

  35. kintan&irjaf Says:

    hey,gmn mna dgn penamaan pada hadis???da hadis dhoif,hadis shahih…..itu bid`ah lho…

    Rosyidi :Itu bukanlah suatu ibadah. Itu hanya klasifikasi ulama, menentukan apakah memang hadis tersebut benar2 dari Rasulullah atau tidak.

  36. moenara Says:

    Alhamdulillah, Akhi… tulisan antum ini banyak manfaatnya sehingga memberikan pencerahan bagi kita semua.
    Bukankah rukun ibadah kepada Allah itu ada dua? IKHLAS & MU’TABA
    IKHLAS: Segala sesuatu ibadah itu di tujukan hanya kepada Allah SWT semata, tiada kepada selain Allah. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya: “… Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Ku…”
    MU’TABA : Ada uswahnya (contoh/tuntunannya) dari Nabi SAW. Minimal Nabi SAW mendiamkan ketika para sahabat beribadah demikian.
    Dua syarat di atas [IKHLAS & MU'TABA / I'TIBA] mutlak ada dalam setiap aktivitas ibadah. Misalnya:
    1) Kita beribadah IKHLAS ditujukan hanya kepada Allah tapi tidak MU’TABA / I’TIBA (dicontohkan) Nabi SAW, maka ibadah itu akan di tolak;
    2) Kita beribadah MU’TABA / I’TIBA (dicontohkan) Nabi SAW, tapi tidak IKHLAS maka ibadah itu akan di tolak;
    3) Kita beribadah TIDAK IKHLAS juga TIDAK MU’TABA / I’TIBA kepada Nabi SAW jelas-jelas ditolak;
    Maka dari itu, ketika beribadah kepada Allah harus IKHLAS dan MU’TABA / I’TIBA. Bukankah kata Nabi… Setiap Ibadah itu di larang kecuali yang diperintahkan… jadi untuk apa kita “beribadah” kalau tidak diperintahkan…
    Tolong dikoreksi jika komentar ini ada yang keliru mas Agam…

    Rosyidi :Terima kasih tambahannya.

  37. paparayya Says:

    Makasih ats info nya.
    @ aLe
    mksh jg link-nya (http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/27487).
    Ok, mari kita semua me”maklum”kan “khilafiyah” ini. Sekarang ini yg harus segera kita lakukan mari kita gunakan energi kita semua, berusaha bahu membahu mengatsi masalah umat yg lebih besar (kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dll.)

    Rosyidi :Masalah ini juga gak bisa dibilang kecil lho.. Masyarakat kita sudah terjerumus ke dalam praktek bid’ah. Dengan menganggap hal ini adalah suatu kewajiban. Jika diucapkan sesekali saja sih tidak masalah. Tapi kenyataannya setiap selesai membaca Al-Quran selalu mengucapkan Sodaqallahul adzim. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat (Lihat tanggapanku pada komentar nomer 26). Wasiat terakhir Rasulullah : “Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan”.
    Bukankah ini juga termasuk dalam salah satu kebodohan kita? :)>-

  38. reg Says:

    Akhi, kalimat sodaqallahul adzim , yang artinya maha benar Allah dengan segala firmannya, kalimat ini adalah pujian bagi Allah dengan segala kebenaran seluruh firmannya. Dalilnya surat Al ISRAA’ (ayat110) yang bunyinya: katakanlah: serulah Allah atau serullah Ar-rahman dengan nama “yang mana saja kamu seru”, Dia mempunyai al asmaul husna atau (nama-nama yang terbaik), dan jaganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya. dan carikah jalan tengah di antara kedua itu . (ayat 111) yang berbunyi : Dan katakanlah “segala puji “bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaannya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang “sebesar besarnya”.

    Rosyidi :Ayat tersebut bukanlah perintah bagi kita untuk mengucapkan Sodaqallahul adzim setelah membaca Al-Qur’an.
    Penjelasan dalam Tarsir Al-Maraghi :
    Katakanlah hai rasul kepada orang-orang musryik dari kaummu yang mengingkari nama Ar-Rahman : Sebutlah nama Allah hai kaumku, atau sebutlah nama Ar-Rahman. Maka, dengan nama mana saja di antara nama-nama Allah Yang Maha Agung kamu menyebutnya, maka hal itu baik. Juga, karena semua nama Allah adalah Ibadah, karena semuanya memuat pengagungan dan pengkudusan terhadap Zat Maujud yang Paling Agung. Yaitu, pencipta langit dan bumi, sedang kedua nama ini adalah termasuk nama-nama Allah yang indah itu.
    Muk-hul meriwayatkan, bahwa seorang lelaki musyrik mendengar Nabi Saw. mengucapkan dalam sujudnya, “Ya Rahman, Ya Rahim.” Maka dia katakan, “Sesungguhnya Muhammad ber’azam, bahwa dia menyeru pada satu Tuhan padahal Dia menyeru dua Tuhan.
    Maka diturunkanlah oleh Allah ayat ini.
    Kemudian, Allah ta’ala menyuruh Rasul-Nya saw. supaya berlaku pertengahan dalam membaca Al-Qur’an. Artinya, jangan memakai suara yang keras dan jangan pula terlalu rendah.

    Jadi tidak ada kata2 memerintahkan kita mengucapkan Sodaqallahul adzim seusai membaca Al-Qur’an dalam ayat tersebut.
    Rasulullah sendiripun tidak pernah melakukannya. Lalu mengapa kita harus melakukannya? Bukankah Rasulullah merupakan suri tauladan kita.

  39. reg Says:

    Al adzim adalah salah satu dari Alasmau’l husna

    Rosyidi :Ya, memang benar Al Adzim merupakan salah satu Asmaul Husna yang artinya “Yang Maha Agung”. Namun ini tidak ada hubungannya dng ayat tersebut.

  40. rahyan Says:

    :)
    ada jg pendapat Dr.Sholeh bin fauzan bin abdullah al fauzan dalam aqidah al tauhid hal 176 yang menulis bahwa bid`ah diambil dari bahasa arab yaitu BAD`U yang artinya al-ikhtiro,yaitu menciptakan segala sesuatu tanpa contoh terdahulu

    seharusnya kita mengikuti pendapat imam syafi`i,seorang ulama yang mumpuni.
    beliau jg ketika belajar hadist pada imam malik,guru beliau,beliau sudah hafal kitab al-muwattha,karangan guru beliau,menurut ilmu bahasa,kata “kullu bs diterjemahin “semua”namun belum tentu mencakup segala bagian,seperti kalimat”semua sarjana itu pandai”,padahal tidak semua sarjana ltu pandai,ada juga yang tidak pandai .
    dan lagi bid`ah tidak hanya soal agama saja,bid`ah mencakup seluruh bagian kehidupan,dan lagi mas,penamaan hadist shahih,dhoif,dll adalah bid`ah,karena pada jaman rasul itu tidak pernah dilakukan.
    kalo soal penutup bacaan “shodaqollo hul adhim” itu hanyalah amalan semata,tidak bertentangan dgn agama,lagipula jika itu dicontohkan rosul,beliau khawatir akan menjadi suatu kewajiban.jadi,anda tidak selayaknya mendoktrin umat islam agar tidak mengamalkannya.okeh????????????????????thx

    Rosyidi :
    Saya di sini tidak mendoktrin. Doktrin itu tanpa dalil. Jadi kamu harus seperti ini dan itu tanpa disertai sebabnya. Atau tanpa dalil. Alias menggunakan azaz “pokoknya”. Pokoknya menurut saya begini. Saya tidak kan :)
    Apakah untuk pembagian arti kullu menjadi dua apakah anda menggunakan dalil Al Anbiyaa’ ayat 30?
    Kalau ya, silakan lihat tanggapan saya di artikel Pacaran=Zina pada komentar nomor 42.
    Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”( Q.S. Al Anbiyaa’ :30)
    Tidak ada pembagian kata2 kullu menjadi dua. Termasuk pada ayat tersebut. Ayat tersebut diterjemahkan sendiri oleh kintan sehingga kata2nya berubah menjadi sebagian. Padahal dalam Al-Qur’an manapun yang saya baca, tidak ada satupun yang menterjemahkannya dengan kata2 sebagian. Pada ayat tersebut diceritakan tentang proses terbentuknya bumi. Jadi air yang dimaksud dalam hal itu adalah hujan yang memberikan kehidupan di bumi ini. Sumber kehidupan adalah air. Makanya untuk meneliti apakah bulan dan Mars bisa dihuni oleh manusia,
    yang dicari disana sebenarnya cuma air. Jadi kata kullu pada ayat tersebut tidak bisa diartikan dng sebagian.
    Memang bid’ah ada dua. Bid’ah dalam hal dunia dan bid’ah dalam hal agama.
    Dan Rasulullah hanya membatasi kita untuk tidak bid’ah dalam hal agama. Ada dalilnya. Nanti saya cari dulu. Lupa nomornya.
    Bila anda menganalogikan dengan kalimat “semua sarjana itu pandai”. Memang semua sarjana itu pandai. Pandai kan luas pengertiannya. Bukan hanya dalam hal akademis. Kalau memang ternyata tidak semua sarjana itu pandai berarti penyusunan kalimat itu yang salah. Seharusnya “sebagian besar sarjana pandai”.

    OK kalau anda tetap berkutit di perkataan kullu. Kita pakai hadis lain yang tidak ada kata2 kullu nya.

    “Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami yang hal tersebut bukan dari agama ini maka perkara itu ditolak”.
    Hadits yang dibawakan oleh istri Rasulullah yang mulia Ummul Mukminin Aisyah radliallahu anha ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam shahihnya, pada kitab Ash Shulh, bab Idzaashthalahuu `ala shulhi jawrin fash shulhu marduud no. 2697 dan diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam shahihnya, pada kitab Al Aqdliyyah yang diberi judul bab oleh Imam Nawawi rahimahullah selaku pensyarah (yang memberi penjelasan) terhadap hadits-hadits dalam Shahih Muslim, bab Naqdlul ahkam al bathilah wa raddu
    muhdatsaati umuur, no. 1718. Imam Muslim rahimahullah juga membawakan lafaz yang lain dari hadits di atas, yaitu : “Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak”

    Imam syafi’i. Saya akui bahwa beliau adalah ulama yang mumpuni. Namun, perlu dicatat dulu pesan beliau:

    • “Bila telah pasti keshahihan satu hadits bahwa itu dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam, maka aku pun berpendapat seperti yang tertera di hadits itu dan aku bermadzhab dengannya dan aku tetap berpendapat dengannya. Dan bila satu hadits itu tidak aku yakini keshahihannya, aku pun tidak berpegang dengannya dalam berpendapat.”
    • Juga beliau menyatakan:

    • “Setiap aku berpendapat dengan suatu pendapat, dan ternyata pendapatku itu berbeda dengan riwayat shahih dari sabda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam, maka hadits Nabi yang shahih itu lebih utama untuk kamu ikuti dan jangan bertaqlid (yakni ikut membabi buta –pent) kepadaku.” (Al-Hilyah jilid 9 hal. 106-107).
    • Juga beliau menegaskan :

    • “Apabila engkau dapati ajaran dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam, maka ikutilah ajaran itu dan jangan kalian menoleh kepada pendapat seorang pun.” (Al-Hilyah jilid 9 hal. 106-107)
    • Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi rahimahullah juga meriwayatkan dalam kitabnya yang berjudul Siar A’lamin Nubala’ jilid 10 hal. 34 pernyataan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah sebagai berikut:

    • Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi meriwayatkan: Aku mendengar Asy-Syafi’i menyatakan: “Apabila kalian mendapati dalam kitabku perkara yang berbeda dari Sunnah Rasulillah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam (yakni ajarannya), maka hendaknya kalian berpendapat sesuai dengan Sunnah itu, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan padanya.”

    Maka dengan berbagai riwayat pernyataan Al-imam Asy-Syafi’i tersebut, mestinya bila kita konsisten dengan madzhab Syafi’i, kita merujuk kepada sabda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam tentang kenyataan bahwa bid’ah itu semuanya sesat.
    (lihat tanggapan saya pada komentar nomor 26)[Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan.‘].
    “Dan hati-hatilah kalian dari perkara agama Islam yang baru diadakan (yakni perkara agama yang tidak pernah dikenal oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam atau tidak pernah dikenal oleh para Shahabat beliau). Karena segala perkara baru itu adalah bid’ah dan seluruh yang dinamakan bid’ah itu adalah sesat dan segenap orang yang sesat dan mati dalam keadaan tidak taubat dari padanya, maka ia di neraka.” (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi dan beliau mengatakan: Hadits hasan sahih)
    [RALAT saya cantumkan pada tanggapan saya terhadap komentar nomor 44]
    Disana kita meninggalkan pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i yang menyatakan bahwa bid’ah itu tidaklah semuanya sesat, akan tetapi ada yang sesat dan ada yang hasanah (yang baik).
    Kita meninggalkan pendapat seorang Imam karena pendapatnya tidak mencocoki Sunnah Nabi, bukanlah berarti kita mencerca atau menghina Imam tersebut. Akan tetapi kita meninggalkan pendapat beliau dalam satu masalah, adalah karena bimbingan beliau juga dalam mentaati Sunnah Nabi. Kita juga menilai pendapat seorang Imam itu tidak mencocoki Sunnah Nabi, bukan berarti kita menilai bahwa Imam tersebut telah menyimpang dari Sunnah Nabi. Akan tetapi kita menilai demikian karena kita diajari oleh beliau-beliau para Imam itu, bahwa seorang Imam itu tidaklah ma’shum (ma’shum itu maknanya ialah terjaga dari kemungkinan lupa dan salah dalam berijtihad memahami Islam) seperti ma’shumnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam.
    Lalu apakah kita akan taklid buta dengan tetap mengikuti Imam Syafi’i?

    Untuk hadis Dhoif, Sahih, dll. Itu bukanlah suatu ibadah. Itu hanya klasifikasi ulama, menentukan apakah memang hadis tersebut benar2 dari Rasulullah atau tidak. Itu karena banyaknya bermunculan hadis2 palsu. Sehingga perlu ada klasifikasi tersebut.

    Rasulullah tidak melakukannya karena khawatir akan menjadi suatu kewajiban. Dalil dari mana ini?
    Perkataan itu diucapkan Rasulullah jika Rasulullah pernah melakukannya. Seperti pada kasus sholat tarawih.
    Namun dalam kasus Sodaqallahul Adzim, tidak satupun hadis yang mengatakan Rasulullah pernah melakukannya.

  41. arb Says:

    sebelum diposting sebaiknya antum konsultasikan dulu ke ‘guru’ antum krn banyak yang langsung ‘telan’ setelah mlototin uraian antum.
    bicara bid’ah itu banyak macamnya, dan gali lagi sebayak-banyak referensi yang ada, krn mulai jaman mbah-mbah en kakek nenek antum sudah melafalkan kalimat tsb.
    selamat berkarya, mohon maaf dan terima kasih

    Rosyidi :Sudah. Itupun bukan hasil pemikiran saya semata. Banyak Syeikh yang telah memfatwakannya. Salah satunya Syeikh bin Baz. Jika ada dalil2 yang kuat, siapapun yang bicara akan saya ikuti. Kita mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah, bukan tradisi nenek moyang :)
    Mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan.

  42. reg Says:

    Maksudku hubungan antara kalimat shodaqallah hul adzim dengan ayat surat AL ISRAA’ ayat 110 ini adalah: 1. Kalimat shodaqallah hul adzim dalam pemahaman bahasa arab yaitu: shodaqallah = percaya kepada Allah. Hul adzim = yang maha agung. Berarti kalimat ini adalah artinya mengagungkan Allah. Dan di tafsir ayat 110 ini , di katakan: Sebutlah nama Allah hai kaumku, atau sebutkah nama Ar-Rahman atau dengan nama-nama mana aja, diantara nama-nama Allah yang maha agung kamu menyebutnya, maka hal itu baik. Karena semua nama Allah adalah ibadah. Karena semuanya memuat pengagungan dan pengkudusan terhadap zat maujut yang paling agung.Jelas sekali bahwa “Kalimat shogaqallah hul adzim= percaya kepada Allah yang maha agung” ini adalah salah satu penyebutan keagungan nama Allah ,Hal ini baik dan termasuk ibadah.

    Jadi argumentasi anda yang menyatakan kalimat shodaqallah hul adzim ini bid’ah=ajaran sesat ini, menggangu sekali dan tidak ada dalil yang kuat. Lagi pula apabila membaca Alqur’an dengan mengimani, meyakini, makna arti kebenaran kalam Allah , tanpa di suruh tanpa diperintah, bahkan tanpa di duga hati nurani kita telah mengucapkan shodaqallah hul adzim dengan sendirinya.

    Riwayat Alqur’an di masa abu bakar r.a : Umar berkata kepada Abu bakar dalam peperangan yamamah, para sahabat yang hafal Alqur’an telah banyak yang gugur. saya kuwatir akan gugurnya para sahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya. sehingga banyak ayat2 Alqur’an itu perlu di kumpulkannya.
    Abu Bakar menjawab: Mengapa aku melakukan sesuatu yang tidak di perbuat oleh rosulullah? Umar bin khothob menegaskan: Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik. Dan ia berulang kali memberi alasan-alasan kebaikan mengumpulkan Alqur’an ini.sehingga Allah membukakan pintu hati membukakan pintu hati Abu Bakar untuk menerima pendapat Umar.
    Kemudian Abu Bakar memanggil Zaid bin tsabit dan berkata kepadanya: Umar mengajakku mengumpulkan Alqur’an, lalu diceritakan segala pembicaraan yang terjadi antara dia dengan Umar. Kemudiaan Abu Bakar berkata: Engkau adalah pemuda yang cerdas yang ku percayai sepenuhnya. Dan engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu di suruh oleh rosulullah. Oleh karena itu, maka kumpulkanlah ayat2 Alqur’an itu. Zaid menjawab: Demi Allah! ini adalah berat bagiku, lebih baik aku di suruh memindahkan bukit, dari pada mengmpulkan ayat2 Alqur’an. Kemudian ia berkata lagi kepada Abu Bakar: Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak di lakukan Nabi? Abu Bakar menjawab: Demi Allah! ini adalah perbuatan baik. kemudia ia memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan ayat-ayat Alqur’an. kemudian Zaid mengumpulkan ayat-ayat Alqur’an dari daun, pelepah korma, batu, tanah keras, tulang onta atau kambing dari sahabat2 yang hafal Alqur’an.

    Inti daripada riwayat di atas , menunjukan bahwa tidak semua berbuatan maupun amalan yang tidak di kerjakan maupun diperintahkan rosul, apabila di kerjakan itu bid’ah= sesat.

    Rosyidi :
    Antum ambil dari mana tafsirnya?
    Bukankah pada tanggapan saya sebelumnya (Komentar no.38)
    Sudah saya tulis tafsir Al-Maraghi.

    Bagaimana bisa anda mengatakan bahwa dalil yang saya pakai tidak kuat? Dalil2 yg saya pakai Sahih. Apakah tidak cukup 7 hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah tidak pernah sekalipun mengucapkannya setelah selesai membaca Al-Qur’an? Sahabatpun tidak pernah melakukan amalan ini.

    Anda boleh megucapkan Sodaqallahul Adzim, asal tidak dikhususkan untuk setelah membaca Al-Qur’an. Kalaupun dibaca sesekali setelah membaca Al-Qur’an juga tidak mengapa. Asal tidak selalu membacanya pada waktu menakhiri bacaan Al-Qur’an.
    Bukankah ibadah harus disertai dalil? Semua Ibadah pada dasarnya haram, kecuali yang diperintahkan.
    Kalau ada ulama yang bilang mengucapkan shadaqallahul azhim setelah membaca Al-Qur’an adalah sunnah beserta dalil yang shahih saya akan ikuti.

    Pengumpulan Al-Quran bukanlah suatu bid’ah.
    Karena telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an itu sendiri. Allah Ta’ala berfirman :
    “Itu adalah Kitab (Al Quran) yang tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (Al Baqarah : 2 )
    Pada ayat diatas, lafadz Al Qur’an disebutkan dengan lafadz Kitab. Berkata Imam Ibnu Manzhur dalam Lisan Al Arab : Kata al Kitab juga bermakna sesuatu yang ditulis dan dikumpulkan (Lisanul Arab I/698)

    Jelas bahawa pengumpulan Al Qur’an yang dilakukan oleh Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu tersebut bukanlah bid’ah kerana perintah tentang hal tersebut telah disentuh oleh ayat diatas. Pengumpulan Al-Qur’an tersebut juga telah disentuh oleh ayat yang lain, yakni :
    ” Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya dan (membuatmu pandai) membacanya.” (Al Qiyamah : 17 )
    Yang dilakukan oleh Utsman Radhiyallahu Anhu adalah termasuk sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang termasuk dalam sunnah Islam. Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam bersabda :
    ” Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khalifah Ar-Rasyiddin Al-Mahdiyyin yang memperoleh petunjuk ( dari Allah ) dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu ( berpegang teguh dengannya dan jangan dilepaskan sunnah-sunnah itu ).
    Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan.‘( HR Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibn Majah (42), Ahmad (IV/126,127) )
    Apabila ada hal-hal yang telah disepakati oleh para Shahabat untuk melakukannya maka hal tersebut tidak dapat dikategorikan bid’ah kerana kita diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam untuk berpegang teguh atasnya.

  43. rahyan Says:

    udah gini aja….
    mas terlalu sulit untuk menerima,skarang mas alirannya udah beda….mas penganut ikhwanul muslimin khan?
    yang saya tau,”mereka”tidak meng-imani adanya waliyullah…jelas sudah!!!
    ntah apapun argumen yang saya beberin pasti akan mas kilah,klo mas sudah ndak iman/percaya,atau msh ragu ttg walisongo,ulama,kiyai,yah….mas sudah menyimpang…simpel khan?!
    afwan,tp yg mmberi ket.adlh ulama2 nadhatul ulama,saya percaya ilmu agama mrk lebih dapat dijadikan pedoman,jg ijtihadnya…maaf,,,
    daripada mas….
    afwan
    semoga mas bs meralat artikel mas dikemudian hari,itu doa saya….dan semoga yang membaca atikel mas ini,tidak mudah percaya….(afwan jiddan)

    Rosyidi :Saya bukan orang Ikhwanul Muslimin. Saya Ahlus Sunnah. Siapapun yang berkata, asal berdasarkan dalil yang sahih saya akan terima. Selama ini antum belum memberikan dalil sahih yang berhubungan dengan ini.
    Kalau ada dalil yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah melakukannya seusai membaca Al-Quran. Saya akan mengikutinya. Dan saya akan meralat semua ucapan saya. Namun tidak ada kan!
    Jangan taklid pada ulama. Ulama juga manusia. Saya juga berdasarkan pada ulama.
    Kalau mau adu ulama, Ulama yang jadi mengatakan bahwa Sodaqallahul adzim adalah ulama kelas dunia.
    Diantaranya adalah Syeikh Utsaimin dan Syeikh bin Baz.

    Menurut Syeikh Utsaimin :
    “Membaca Sadaqa Allah Al-Azim, ini tidak ada asalnya didalam Islam kerana Nabi saw tidak melakukannya, dan tidak juga dari adat para Sahabat, dan ia juga tidak diketahui dikalangan Tabien.”
    Sheikh Ibnu Utsaimin. Izaalat al-sitaar ‘an al-jawaab al-mukhtaar. Riyad : Muaasasah Al-Risalah, 2000. hal 79-80).

    Sedangkan menurut Syeikh bin Baz :
    “Menjadikan kebiasaan (sering) membaca sadaqallaahul ‘Aziim ketika habis membaca al-Quran al-Karim tidak kami ketahui asalnya (dari sunnah), maka tidak perlu untuk menjadikannya sebagai kebiasaan.Bahkan berdasarkan kaedah syarak (ia) menjurus kepada bid’ah jika seseorang beranggapan bacaaan tersebut adalah sunnah, maka sepatutnya meninggalkan (dari berterusan mengucapkannya selepas membaca al-Quran)….
    Adapun jika seseorang melakukannya kadang-kadang tanpa ada anggapan ianya dari sunnah, maka tidak mengapa. Kerana Allah swt adalah yang benar dalam semua perkara. Akan tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan selepas membaca al-Quran sepertimana yang dilakukan kebanyakan manusia hari ini, ianya tidak ada asal (dari sunnah).”
    Kitab Majmu’ Fatawaa wa Maqaalat Mutanawwi’ah li Samaahat al-Sheikh Abdul Aziz bin Baaz - 9. Riyad : Dar Al-Watan, 2000. hal 342.
    Kalau mau tanding ulama, saya percaya ulama2 ini lebih jauh baik ilmunya ketimbang ulama nadhatul ulama. Maaf.
    Jadi jangan taqlid pada ulama.
    Yang jadi dasar kita berpikir adalah Al-Qur’an dan Hadis.
    Allahua’lam bishowab.

  44. rahyan Says:

    mas meragukan imam syafi`i????ck…ck……tserah wes,
    maturnuwun….
    bye

    Rosyidi :Saya tidak meragukan Imam syafi’i.
    Saya hanya mengajak untuk tidak taqlid buta.
    Maaf saya ralat tanggapan saya pada komentar no 40
    Tanggapan sebelumnya (komentar no 40) saya dapat dari tulisan Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib.
    Karena saya sudah menemukan alasan yang lebih tepat untuk menjawab pertanyaan itu, saya ralat pernyataan tersebut menjadi :

    Perkataan Imam Asy-Syafi’iy: Kedua, ialah perkara baru yang di adakan dari segala kebaikan (ma uhditha min al-Khayr) yang tidak bertentangan dengan mana-manapun di atas, dan ini bukan bid’ah yang sesat/keji (wahadzihi muhdathatun ghayru madmumah). ‘Umar ra berkata terhadap Shalat Tarawih berjamaah di bulan Ramadhan : “Alangkah cantiknya/baiknya bid’ah ini!” bermaksud bahwa ‘PERKARA BARU’ yang di ada-adakan yang belum ada sebelum ini, tetapi hal itu tidak bertentangan dengan perkara di atas (Al-Qur’an, Sunnah, athar Sahabat dan Ijma’).

    Berkata Ibn Rajab ketika mendefinisikan bid’ah secara Syar’i:
    “Bid’ah adalah apa-apa yang baru yang mana hal itu (bid’ah) tidak memiliki dalil secara syar’i dan apabila hal itu memiliki dalil secara syar’i maka hal itu tidaklah disebut bid’ah secara syar’i akan tetapi bid’ah secara bahasa” (Jami’ul Ulum Wal Hikam, hal: 267. Oleh: Ibn Rajab rahimahullah)
    Dan kita semua mengetahui bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sholat tarawih secara berjama’ah kemudian ia shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya dikarenakan takut bahwa hal itu (sholat tarawih) diwajibkan bagi mereka.
    Jadi apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i di atas bukanlah disebut bid’ah secara syar’I akan tetapi bid’ah secara bahasa.
    Dalam kitab-kitab beliau (Imam Asy-Syafi’i) rahimahullah semisal Al-Umm dan Ar-Risalah. Bahkan yang kami temukan dalam kitab beliau rahimahullah adalah sebaliknya. Berikut kami nukilkan perkataan Al-Imam Syafi’iy dalam kitab beliau Al-Umm dan Ar-Risalah.
    Berkata Al-Imam Syafi’iy rahimahullah:
    “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu, maka ia telah membuat syari’at” (Dinukil dari Majmu’ Masail, jilid: 2 Karya: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah.

    Seandainya maksud Bid‘ah Mahmudah yang disebut oleh al-Imam as-Syafi’i merupakan perkara baru dalam beribadah yang dianggap baik, sudah tentu beliau akan memasukkan Sodaqallahul Adzim dalam kategori Bid‘ah Mahmudah. Dan juga akan memasukkan bid’ah2 lainnya seperti tahlilan, sholawat nariyah, dll kedalamnya. Dan ternyata bukan itu yang dimaksudkan oleh beliau rahimahullah.

    Demikian pula Menurut Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah (795H)
    Dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, jld. 2, m.s. 52.
    menaggapi bid’ah Mazmumah yang dikemukakan Imam Syafi’i :
    al-Syafi‘i berkata, “Bid‘ah itu ada dua jenis: Bid‘ah Mahmudah (dipuji) dan Bid‘ah Mazmumah (keji). Apa yang menepati sunnah maka ia dipuji. Apa yang menyanggahi sunnah maka ia dikeji.”

    (Ibn Rajab meneruskan) Maksud al-Syafi‘i rahimahullah ialah seperti yang kita sebutkan sebelum ini, bahwa Bid‘ah Mazmumah yaitu apa yang tidak berasal dari syariat yang mengacu kepadanya. Inilah bid‘ah pada istilah syarak. Sedangkan Bid‘ah Mahmudah ialah apa yang berdasarkan dengan sunnah. Ini adalah bid‘ah dari segi bahasa, bukannya dari segi syarak karena ia berdasarkan sunnah.

    Kesimpulannya : Bid’ah Mahmudah yang dimaksud Imam Syafi’i ini merupakan bid’ah dalam segi bahasa. Memang itu perkara baru, namun pernah dikerjakan Rasulullah. Misalnya Sholat Tarawih. Rasulullah pernah sholat tarawih berjamaah. Sedangkan Sodaqallahul adzim, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Jika mengacu pada pendapat Imam Syafi’i maka mungkin bisa dikatakan Sodaqallahul adzim masuk dalam bid’ah Mazmumah.

  45. mk Says:

    @44 : Saya tidak terlalu percaya dengan cerita kesaktian Wali Songo yang sepertinya jauh dari logika dan sanadnya tidak bisa dipertanggungjawabkan dibanding dengan Sirah Rasulullah yang sangat rasional dan sanadnya bisa dipertanggungjawabkan. Rukun Iman dalam Islam ada 6, dan mengimani kesaktian WaliSongo, kyai, ulama tidak termasuk salah satu rukun iman bukan? Para sahabat yang diberi karomah jumlahnya sangat sedikit, padahal generasi terbaik menurut hadits yaitu generasi sahabat yang hidup sejaman dengan Rasulullah, tabi’in, dan tabiut tabiin. Saya menghormati walisongo, kyai dan ulama, karena atas jasa2 beliaulah saya sampai saat ini berada dalam agama islam. Yang saya tidak saya setujui adalah cerita tentang kesaktian walisongo, dll. Tentang beda aliran, sebaiknya janganlah mengatakan seseorang yang berbeda pendapat selama masih ada dasar dalam Al Quran dan Hadits itu menyimpang, sebab kita sesama muslim adalah saudara.

    Sorri mas Agam, saya malah bikin artikel di kolom commentar sampeyan..

    Rosyidi :Gak koq itu kan bukan artikel. Justru aku yang selalu membuat artikel untuk menanggapi pertanyaan yang ada :d
    Sependapat dengan anda masalah kesaktian walisongo.
    Semoga saja yang dimaksud menyimpang oleh Rahyan disini adalah menyimpang dari alirannya (NU), bukan dari Islam. Karena saya masih berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah, bukan berdasarkan pada golongan tertentu.

  46. Fadli Says:

    Assalam Mu’alaikum Wr wb,

    Pendapat Agam lebih baik menurut saya, dan mungkin saja salah, namun dalil dalil yang digunakan lebih baik mengikuti pendapat (yang disampaikan) Agam. Apa susahnya meninggalkan amalan yang ngga ada tuntunnannya malah bisa bikin terjerat dosa dan di keluarkan dari golongan umat Muhammad.

    Kalo kita mau realistis nih, amalan sunnah lain yang lebih pasti banyak yang belum kita kerjakan, bahkan sampai yang kita anggap remeh-temeh, coba saja amalkan saya yakin anda akan bosan sendiri karna tak sanggup menjalankannya, mulai aja dari doa bangun tidur, wudhu, doa pakai baju, masuk wc, keluar wc, doa safar (berpergian), dzikir, menebar salam (bayangin aja tiap ketemu orang menyampaikan salam), dll. Diantara amalan yang pasti dalil dan tuntunannya ini aja udah bikin mumet dewe.
    Makanya menjadi lebih mudah meninggalkan amalan yang masih didiragukan keshahihannya. Rasul sendiri bersabda “Kamu harus mengerjakan sesuatu yang kamu sanggup. Demi Allah, sesungguhnya Allah takkan bosan sampai kamu sendiri yang bosan” (HR Bukhari)

    Apalagi di Indonesia ini yang banyak budaya tercampur dengan agama yang menghasilkan bid’ah yang tampak baik tapi sama sekali ngga ada tuntunannya. Menjalankan Islam secara kaffah haruslah pakai dalil, ngga asal menjalankan ngikut ulama ini-itu tanpa dasar jelas. Makanya surat pertama turun Iqra’ (bacalah!) dan orang yang beruntung di beri petunjuk dan peringatan adalah ulil albab (orang yang berfikir) , jangan asal ngikut ajah…
    Rasulullah menganjurkan untuk melakukan sunnah dari pada perbuatan baik karangan dewe, karena amalan yang dituntunkan oleh Rasulullah bukan atas kehendak nabi sendiri melainkan tuntunan dari Allah SWT.

    Berbeda pendapat boleh saja, jangankan kita, para sahabat Rasulullah pun pernah mengalaminya, Nabi pun pernah berbeda pendapat dengan para sahabat bahkan sesama malaikat juga pernah berbeda pendapat dalam riwayat yang shahih, namun dalam berbeda pendapat tentu ada etikanya. Pendapat mas Agam dalilnya kuat, yang disayangkan saat ada yang membantah dengan dalil yang tidak kuat dan langsung men-cap orang lain sebagai penganut golongan tertentu malah memperlihatkan kedangkalan ilmu. Para Ulama Mahzab seperti Imam Syafi’i, Maliki, Ahmad bin Hambal, Hanafi dan lainya menurut riwayat memiliki hubungan Guru-Murid dan ngga ada terlontar kata-kata yang mengelompokan orang yang tak sependapat atau menuduh pelaku bid’ah walau mereka beda pendapat. Kalangan ‘elite’ ulama adem ayem, wee…ee…ee..ee… kroco-kroco dibawahnya malah saling tuding…( hehehe).
    Lebih baik mengikuti perintah Rasullulah dari Watsilah bin Al-Aqsa meriwayatkan Rasulullah bersabda” Tinggalkan dan hindarilah percekcokan! Aku adalah penjamin tiga istana di surga: di pinggir, di tengah, dan di bagian atas surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia benar. Tinggalkanlah perdebatan! karena larangan Tuhanku yang pertama setelah menyembah berhala dalah perdebatan. (HR ath-Thabrani)

    Saya kembali terkagum dengan kemampuan mas Agam dalam memberikan dalil tentang pendapatnya. :)>-

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam. Terima kasih karena sudah mengingatkan untuk tidak melakukan perdebatan.
    Memang ini sebuah dilema. Jika pertanyaan disini tidak saya jawab karena menghindari perdebatan. Maka mereka akan menganggap dasar saya lemah dalam berpendapat.
    Sebisa mungkin, jika tidak ada dalil baru yang diajukan, saya akan menghindari perdebatan. InysaAllah. Dengan kata lain saya tidak menerima perdebatan tanpa dalil (debat kusir).

  47. aLe Says:

    Gam, mo tanya.. klo gak slh bsk tgl 1 rajab ya. ma eMak ku suruh puasa, emang ada dalilnya? mhn pencerahan. thanks..

    Rosyidi :
    Keutamaannya dalam masalah shalat dan puasa pada bulan rajab dibanding dengan bulan-bulan yang lainnya, semua haditsnya sangat lemah dan palsu. Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada bulan Rajab.

    Dibawah ini beberapa dalil puasa rajab :
    Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat raka’at, di raka?at pertama baca ayat Kursiy seratus kali dan di raka’at kedua baca surat al-Ikhlas seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati)

    Kata Ibnul Jauzy: Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta seorang perawi yang bernama Utsman bin ‘Atha adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadits. [Al-Maudhu'at (II/123-124).]

    Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany, Utsman bin ‘Atha adalah rawi yang lemah. [Lihat Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)].

    Ada hadis juga yang menyebutkan :
    Artinya : Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab (ganjarannya) sama dengan berpuasa satu bulan.
    HADITS INI SANGAT LEMAH
    Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr secara marfu. Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama al-Furaat bin as-Saa’ib, dia adalah seorang rawi yang matruk. [Lihat al-Fawaa-id al-Majmuah (no. 290)]
    Kata Imam an-Nasa’i: Furaat bin as-Saa’ib Matrukul hadits. Dan kata Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: Para Ahli Hadits meninggalkannya, karena dia seorang rawi munkarul hadits, serta dia termasuk rawi yang matruk kata Imam ad-Daraquthni. [Lihat adh-Dhu?afa wa Matrukin oleh Imam an-Nasa'i (no.
    512), al-Jarh wat Ta'dil (VII/80), Mizaanul I'tidal (III/341) dan
    Lisaanul Mizaan (IV/430).]

    Dan masih banyak hadis2 lain yang palsu tentang puasa tanggal 1 rajab. Jadi satu artikel kalau saya menulis semuanya disini.
    Kata Syaikh Muhammad Darwiisy al-Huut: Tidak satupun hadits yang sah tentang bulan Rajab sebagaimana kata Imam Ibnu Rajab. [Lihat Asnal Mathaalib (hal. 157)]

  48. adite Says:

    aduuh baru tau nih…
    nice article :D

  49. junthit Says:

    Kalau sudah nyinggung ayat komentarnya serius semua euy..
    maaf saya blm bs seurius..

  50. Anonymous Says:

    =d> =d> =d> Nah… gitu donk…. ayo kita belajar yang bener….
    Jika perkara dunia saja kita mau berdebat, kenapa untuk urusan akhirat tidak..??? Asal…. niatnya kudu bener ya…:d…

    Mau nyumbang pemikiran nih…. boleh kan….? :)
    Begini, Saya pribadi ndak begitu paham fikih…
    jadi saya coba ajak temen 2x untuk melihat hal yang paling urgent dari tema penggunaan Shodaqallahul azhim itu lebih ke arah PRAKTEK.

    Semuanya udah tau arti kalimat Shodaqallahul azhim itu kan ?
    Maha Benar Allah Tuhan Yang Maha Agung dengan segala Firman-NYA….
    Nah…. pertanyaan saya adalah: Sudah sampai sejauh mana kita MEMBENARKAN Firman-firman Allah itu dalam kehidupan pribadi kita masing2x … ??? [[dnc]][[dnc]]….:d

    Rosyidi :Sodaqallahul Adzim yang dikhususkan untuk do’a penutup bacaan al-Qur’an sudah menyalahi dua prinsip pokok Ibadah.
    1. Tidak pernah diyariatkan.
    2. Bid’ah dengan menentukan waktu terentu untuk pelaksanaan suatu ibadah yang telah disyariatkan, padahal waktunya tidak ditentukan oleh syariat. Pengkhususan waktu pelaksanaan ibadah membutuhkan dalil.
    Jika mendalami makna yang terkandung didalamnya. Tidaklah mengapa. Memang kita harus mengakui kebenaran Allah

  51. bukan siapa-siapa Says:

    :d sepertinya keterangan soal “dalil palsu” melaksanakan puasa sunnah dibulan rajab .. bersumber dari satu sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1523/slash/0 … :-? dan apakah pembahasan mengenai topik utama disini juga bersumber dr situs itu ??

    Rosyidi :Banyak sumber yang mendukung hal tersebut. sebagian saya tulis pada tanggapan untuk komentar no 53

  52. [ew] Says:

    hmm… ma kasih ya buat infonya paling tidak kalo saya ngga lagi ngucapin “sodaqollahul adzim” di penutupan baca Al Quran ada pertimbangannya :)

  53. RaHyan Says:

    HWAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH…………………………………
    ANAK BARU BELAJAR NGAJI MAREN SORE AJA UDAH BERANI2NYA BILANG ITU SALAH,INI SALAH……………………….
    HEH…..COBA DEH BANYAK BELAJAR2 DARI GURU….JANGAN BELAJAR DEWE!!!!
    ORANG YANG BELAJAR TANPA GURU MAKA GURUNYA ADALAH SETAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    ADA BANYAK NHADIS YANG MENERANGKAN KEUTAMAAN PUASA DI BULAN RAJAB!!!!!!!!!!
    ADA HADIS HR.BAIHAQI DLL….
    DAN RALAT YA MAS yaaaaaaa……………………..
    BUKAN SATUI BULAN GANJARANNYA SAAT KT PUASA SATU HARI DI BULAN RAJAB,TAPI SATU TAHUN,,,,YOU KNOW!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    MALAH HARI YANG PERTAMA GANJARANNYA DIAMPUNI DOSA2NYA 3 TAHUN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    YOU SENGAJA NGASIH CONTOH HADIST2 YANG GAK BENER N GAK JELAS JLUNTRUNGANNYA!!!!
    HEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHH…….
    SATU PERTANYAAN GUE!!!!
    GURU LO SAPA SEH????
    JAWAB TO THE POINT AJA,GAK USAH BELIBET NGASIH DALIL2 SEGALA……!!!!!NON SENS!!!!

    Rosyidi :Anda kira hadis Baihaqi tersebut sahih? :-?
    Dalam sanad hadits tersebut juga ada perawi `Abdul Ghafuur Abu As Shobaah Al Anshoriy, dia ini perawi yang ditinggalkan. Berkata Ibnu Hibbaan : “Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadits”.
    Bisakah anda memberikan hadis sahih tentang itu?
    Jangan cuma melontarkan cacian saja.
    Gak usah pake dalil? hmm.. Gimana mo jadi muslim yang bener kalo cuma ngandalin guru. Tanpa tau dalilnya apa. Itu namanya taqlid. Dan Rasulullah melarang itu.
    Kebetulan aja aku gak membahas khusus masalah itu. Namun coba anda lihat website lain yang membahas hal terserbut :
    http://tausyiah275.blogsome.com/2005/08/12/hadits-hadits-palsu-bulan-rajab/
    http://www.islamhouse.com/p/45950
    http://www.almanhaj.or.id/content/1525/slash/0
    http://wiramandiri.wordpress.com/2007/07/16/hadist-hadist-palsu-mengenai-keutamaan-bulan-rajab/
    dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya.
    Semoga anda tidak terus menerus terjerumus hanya ingin membenarkan kata guru anda. Coba ilmu jangan terpatok pada siapa gurunya, tapi apa ilmu yang diberikannya. Meskipun budak yang memberitau, kalau memang benar, kita harus menerimanya. Pada komentarku sebelumnya sudah saya singgung hadis tentang ini.

  54. bukan siapa-siapa Says:

    buat mas rahyan .. mohon jangan pake emosi mas :-) ( pake Capslock gituh ) .. gmn pun juga kita musti menyikapi dengan arif dan bijaksana tanpa emosi semua perbedaan pandangan terhadap suatu hal.

    walo saya pribadi tidak sependapat dg hal ini, hendaknya kita tetap berpegangan pada ” Lana A’maluna Walakum A’malukum “. Hal seperti ini (perbedaan pendapat) sudah sering terjadi koq dr sejak jaman para sahabat nabi .. yg penting gmn kita menyikapinya tanpa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslim. :-) inget ya mas .. perbedaan itu Barokallahu Lana (^_^)v

  55. Abu Sulthan Says:

    ana ga seberapa faham fikih, tapi dari yang ana ketahui sebuah perbuatan baru dikatakan bid’ah bila sudah memasuki “zona” Wajib, Sunah, Makruh, Mubah dan Haram. Jika kebiasaan membaca “Shodaqallahul Adhim” yang menurut mas Agam itu dianggap berhukum salah satu dari 2 hukum tersebut maka dia masuk bid’ah tapi bila hanya menjadi kebiasaan baik dimana letak salahnya ?

    Rosyidi :Sodaqallahul Adzim yang dikhususkan untuk do’a penutup bacaan al-Qur’an sudah menyalahi dua prinsip pokok Ibadah.
    1. Tidak pernah diyariatkan.
    2. Bid’ah dengan menentukan waktu terentu untuk pelaksanaan suatu ibadah yang telah disyariatkan, padahal waktunya tidak ditentukan oleh syariat. Pengkhususan waktu pelaksanaan ibadah membutuhkan dalil.
    Untuk mengetahui syarat2 ibadah yang dikategorikan sebagai bid’ah bisa dilihat di buku : Kumpulan Tanya-Jawab Bid’ah dalam Ibadah.
    Kebiasaan baik boleh. Asal ada tuntunannya.

  56. Abu Sulthan Says:

    Ana ga seberapa faham fikih, tapi dari yang ana ketahui sebuah perbuatan baru dikatakan bid’ah bila sudah memasuki “zona” Wajib, Sunah, Makruh, Mubah dan Haram. Jika kebiasaan membaca “Shodaqallahul Adhim” yang menurut mas Agim itu dianggap berhukum salah satu dari 5 hukum tersebut maka dia masuk bid’ah, tapi bila hanya menjadi kebiasaan baik dimana letak salahnya ?. Contoh lain kebiasaan baik yang tidak ada dijaman nabi yaitu membaca sholawat sebelum azan dan iqomah apa itu juga termasuk bid’ah ? Allah Maha Tahu.

    Rosyidi :Al-Lajnah Ad-Daimah tetap mengatakan bahwa shalawat dan salam atas Rasulullah sebelum adzan dan demikian pula setelahnya dengan suara keras adalah bid’ah dalam agama.
    (Al-Lajnah Ad-Daimah li Al-Buhuts Al-Ifta, pertanyaan pertama dari fatwa no. 9696).

  57. bukan siapa-siapa Says:

    ane fikir ini ga akan pernah ada titik temunya :-) wes tho .. Lana A’maluna Walakum A’malukum, ALLAH Maha Tahu .. yang sependapat ya monggo dijalankan .. yang tidak sependapat ya hendaknya menerima dengan lapang dada :-)

    Rosyidi :Jika ada perbedaan pendapat. Kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
    Yang disampaikan pada wasiat terakhir Rasulullah, dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43 - 44), Ahmad, dll :
    Sabda Rasulullah SAW : ‘Saya berpesan kepada kamu supaya sentiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla serta mendengar dan taat sekalipun kepada seorang hamba yang memerintah kamu. Sesungguhnya orang-orang yang masih hidup di antara kamu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan dan sunnah Khalifah Ar-Rasyiddin Al-Mahdiyyin yang memperoleh petunjuk ( dari Allah ) dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu ( berpegang teguh dengannya dan jangan dilepaskan sunnah-sunnah itu ).
    Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan.‘

    Kalau semuanya kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka tidak akan ada lagi perselisihan ini.

  58. Rahyan Says:

    bukane aku langsung emosi…………tapi ini ….hwaduh…astagfirullah….klo badan kerohanian UNAIR ketuanya kaya mas agam….sumpah deh…gak akan kepikiran masuk situ!!!
    tapi skali lagi…..
    BELAJAR TANPA GURU,MAKA GURUNYA ADALAH SETAN.
    mas agam pernah ngasih seseorang sebuah sumber dari ulama ikhwanul muslimin.apa sebenarnya IKHWANUL MUSLIMIN?
    apakah juga ada AKHWATUL MUSLIMAH?????HEH???!!!
    TAHU KENAPA SAYA MARAH???
    AGAM ngasih dalil yang salah ttg puasa rajab!!!RALAT Doooongggg!!!!
    gak tanggung jawab!!!
    sy yakin 100%,pasti agam gak setuju adanya tahlilan untuk jenazah..
    dan pasti juga gak sependapat ma selamatan,atao qunut….yoh gaakkk????
    gam…gam….
    klo emg budak bs beri kita ilmu,berarti dia jg guru kita…anda terlalu pintar ngeles…..
    DAN,
    ANDA EMANG GAK PUNYA GURU KAN??
    KLO ADA,SIAPA???BERI JUGA RIWAYAT HIDUPNYA….
    JAWAB SINGKAT AJA,KLO ADA,JAWAB ADA!!KLO GAK YA,GAK!!
    OKEH???
    ANDA TERLALU AWAM UNTUK MENJELASKAN ILMU BID`AH….BAHKAN KLO ANDA GAK PUNYA GURU….
    GURU KAN GAK MESTI SATU…JADI JANGAN KIRA GURU SY CM SATU.
    klo Alloh berikan ksempatan buatku untuk kuliah di sby..salah satu tujuan utama ku ialah bertemu dg anda….

    Rosyidi :hehehe…sabar mas o:-)
    Emang aku disana jadi ketua. Tapi ketua jurnalistiknya alias yang ngurusin medianya.
    Guru, OK aku jawab. Guruku ngaji yang pertama Djoko Pitoyo.
    Yang kedua guru ngajiku Ust. Ali Masykur.
    Yang ketiga Ust. Abu Aslam.
    Dulu waktu SD saya juga pernah mondok juga di pondok NU (meskipun cuma waktu liburan), tapi guru2nya saya lupa namanya.
    Karena itu apakah anda bisa memberikan dalil yang benar apa gak? Saya belum pernah menemukan keutamaan puasa rajab yang sahih. Dan saya rasa tidak ada.
    Sekarang anda sudah tau kan bahwa guru saya tidak hanya satu.
    Jadi saya bukan Muhamadiyah, NU, Ikhwanul Muslimin, dll. Siapapun yang berbicara, saya akan terima jika memiliki dasar yang kuat.

  59. Rahyan Says:

    ass
    SKALI LAGI..
    KLO EMANG SAMPEYAN BERTANGGUNG JAWAB N GENTLE
    JAWAB PERTANYAANKU YANG TERAKHIR DIATAS….
    JUST SIMPLE ANSWER….!!!

    Understood???

    wass

    Rosyidi :Tolong kalau salam jangan disingkat. Tentu anda tau resikonya jika memberi salam itu pada orang yang berbahasa Inggris.

  60. bukan siapa-siapa Says:

    Salam Alaeekom Warohmah

    nah untuk penekanan pertanyaan terakhir dr sodara rahyan .. saya dukung. dan saya juga ingin mengetahui siapakah kiranya guru dr sodara agam ??

    Mohon dijawab saja mas agam. Aa Gym saja pernah membeberkan siapa guru beliau, masa Aa Gam ga terbuka gitu :D

    Wassalam Alaeekom Warohmah

    Rosyidi :Wa’alikumsalam Warohmatullahi wabarakatuh.
    Sudah saya jawab. Saya tidak ada hubungannya ama Aa Gym.
    Cuma nickname nya aja yang aku tiru2 :d

  61. bukan siapa-siapa Says:

    lho yg menghubung2kan dg Aa Gym itu sapa, maksud ane itu manusia “sekelas” Aa Gym aja bersedia memberitahukan bahwa pertama kalinya beliau belajar ilmu agama sama adiknya sendiri, Agung Gunmartin yange kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu pada ulama sepuh di sebuah dusun di Garut bernama Ajengan Junaedi.

    Nah disini .. kami kan cuman ingin tahu saja, guru ente itu siapa ?? boleh dong kami tahu :-) .. dan sebelumnya mohon untuk tidak menghubungkan hal ini dengan taqlid buta ^_^

    Rosyidi :Sudah saya jawab diatas. Masalah guru sudah ditanggapi fadli dibawah.

  62. Fadli Says:

    Assalam Mu’alaikum,

    Dewasalah, ilmu tidak diukur oleh guru, sekolah atau lainya, pemahaman yang benar cuma dari Qur’an dan Sunnah. Kalo masih mikirin guru, guru silat lebih ampuh nooh… tapi kalo dalam urusan agama berpedomanlah pada Qur’an dan Sunnah.
    Malu euy… murid murid yang ecek-ecek ini aja udah bikin perbedaan menjadikan anda-anda bisa dapet seat di neraka, lihatlah Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi. Pada ngaca dong… Para imam besar itu punya hubungan guru-murid, yang pada akhirnya memiliki menjadi mahzab sendiri-sendiri, mana ada Imam Malik nanya “siapa guru kamu…?” paling jawabannya “guru saya kan kamu guru…” Hahhahaha… dewasalah… sadarlah kalian sedang ditunggangi setan, jangan menyalahkan saudara muslim anda.
    Bacalah Qur’an Surat Yusuf ayat 100. Pahami isinya…!
    Setan tengah merusak persaudaraan.
    Agam, tetaplah istiqomah…

    Wassalam Mu’alaikum

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam. Terima kasih sudah dibantu menjawab.

  63. nina firsty Says:

    Assalamu’alaikum…
    (dari tadi komentar, baru sekarang salamnya. hehe.. maaf…)

    Masya Allah!
    kenapa jadi memanas begitu ya? Istighfar, adik-adik… jikapun ada perbedaan pendapat, kan enaknya dicari jalan tengahnya. jangan jadi ribut. Syetan bersorak senang jika sesama saudara se-Islam bertengkar karena berbeda pendapat, nah, we won’t give “that” pleasure to syetan, right?
    Apalagi, yang paling mengetahui kebenaran sejati, hanya Allah.

    Tapi, saya sepakat, meluruskan yang salah adalah wajib hukumnya. Yang penting caranya, yakni dengan kesabaran dan kelembutan yang tegas. Seperti cara Rasulullah SAW. Apakah beliau mengatakan Islam mengajarkan “otot2an”? Kan enggak.. Lagipula, lebih enak kan jika kita berbicara dengan nada lembut dan enak didengar telinga (ehem…dalam hal ini, enak dibaca..)

    Soal “sodaqollahul adzim”, saya pernah diberitahu oleh guru ngaji (dulu banget, tahun 86-an gitu deh, saya juga masih SD klas 4), bacaan “penutup” tersebut cukup diucapkan dalam hati. Tidak perlu dilafalkan keras-keras. Tapi saya ngga inget dalil yg dikatakan ustadzah saya itu. maklum, sudah lama sekali. hehe.. *malu* maaf ya.. :”>

    Rosyidi : Wa’alikumsalam. Ya, sebenarnya sih saya tidak ingin debat kusir disini. Hanya menanggapi apa mau pembaca. Saya berusaha menerangkan sebisa mungkin dengan dalil2 yang saya punya. Dan sebisa mungkin saya menghindari konflik. Terima kasih atas masukkannya.
    Dalil yang memerintahkannya setauku memang tidak ada. Semuanya dibuat2.

  64. Imam Says:

    Sodaqollahul adzim, saya kira bukan bid’ah/terlarang, itu adalah sebuah improvisasi umat islam yang mengangunggkan dan mengakui Firman Alllah SWT.

    Rosyidi :Silakan baca tanggapan saya terhadap komentar2 yang ada. Sudah ada komentar yang serupa. Improvisasi? Ibadah itu sudah sempurna dari Allah. Kita tinggal menjalankan apa yang diperintahkannya. Kalo memang improvisasi boleh. Apakah kita boleh mengimprovisasi sholat kita. Sholat subuh yang 2 rakaat jadi 4. Tentu tidak boleh bukan!

  65. aku Says:

    mo tanya sekalian dong hadits tentang bid’ah , tapi jelasin pake ilmu nahwunya ya ?

    Rosyidi :Hadisnya sudah ada di penjelasanku sebelumnya.
    Kullu : adalah mubtada sekaligus mudhof alamat i’rabnya rafa’
    bid’atin : mudhof ilaih
    dholalah : sebagai khobar mubtada alamatnya rafa
    wa : harf washl
    kullu dholalatin : sama seperti kullu bid’atin
    fi : harf jar
    annar : majrur dng fi alamat jar nya bil kasri

  66. klipink Says:

    OOT ni Cak Agam, untuk komentar sampeyan di nomor #34 soal bacaan2 sujud dan ruku, pas sujud itu doa2 apa yang bisa kita baca ya? maksudku kadang kita kan punya niatan nyuwun sesuatu. tapi bingung boso arabnya gimana. katakanlah kita minta kesembuhan orang tua yang lagi sakit, kelapangan rejeki (tapi khusushoon ila siapa gitu), minta kelapangan urusan untuk temen, dan hal2 khusus yang kita gak tahu doanya (apalan doanya masih sedikit ni..) apa bisa kita ungkapkan dalam bahasa ibu. saya pernah dengar issue (hehe, soale aku dewe yo gak yakin kapan pernah bacanya) kalo diperbolehkan tapi cuman pas sholat2 sunnah / tahajud aja. kalo kita baca cerita2 orang2 sholeh itu, sering dikisahkan mereka doa khusyuk sampe tersenggu2. padahal mereka kan orang sono, dah dah dari sononya bisa ngomong arab, bisa minta segala macem pake bahasa arab. jadi ngiri nih jadi orang arab.. hehe (no offense)

    Rosyidi : Ya, memang benar itu. Kalau bisa do’a2 yang diajarkan Rasulullah. Banyak do’a2 yang diambil dari Al-Qur’an. Ada bukunya. Ya, mungkin memang tidak ada larangan untuk menggunakan bahasa ibu dalam berdo’a tersebut. Tapi, alangkah baiknya jika do’a tersebut memakai bahasa Arab. Agar sholat kita tidak campur aduk bahasanya. Do’a ketika sujud tersebut tidak khusus pada sholat sunnah dan tahajud saja. Kalau ada pengkhususannya harus ada dalilnya. Memang secara bahasa mereka bisa bahasa Arab. Tapi belum tentu semua orang Arab itu bisa doa khusyuk.

  67. Wong Jowo Says:

    bid’ah itu ada bid’ah baik dan ada bid’ah sesat.. kalo saya sebagai wong jowo lebih milih melakukan “tahlilan” dari pada milih “mengkafirkan orang lain”.. baca tahlil (laa ilaaha illallah) koq ndak boleh.. ya perlu direnungkan lagi itu mas2 yang ngelarang tahlil.. masa kita membaca laa ilaaha illallah (tiada tuhan yang hak disembah kecuali Allah) koq bid’ah dan ahli neraka.. ahli neraka dari hongkong.. JANGAN SUKA MENDAHULUI HUKUM TUHAN.. SURGA DAN NERAKA ITU MILIK ALLAH..
    salam peace love n respect

    Rosyidi :Apa dalilnya kalau bid’ah itu ada yg baik dan sesat?
    Bicara sesuatu perlu dalil. Bukan hanya kata ustad ini, kata kyai itu, dsb. Pegangan seorang muslim hanya Al-Qur’an dan Hadis. Jadi kalau berbicara suatu perkara ibadah, harus merujuk pada kedua landasan pokok tersebut. Saya tidak pernah mengkafirkan orang lain. Anda disini justru memfitnah saya mengkafirkan orang lain. Padahal saya di blog ini tidak ada satupun terucap kata2 itu, insyaAllah.
    Membaca laa ilaaha illallah itu tidak dilarang. Namun apakah ada dalilnya, tindakan tersebut dilakukan untuk memperingati orang meninggal? Rasulullah tidak pernah mengajarkannya.
    Ahli bid’ah menurut hadisnya memang ditempatkan dalam neraka. Tapi yang berkata neraka itu bukan saya. Tapi hadis Rasulullah. Dimana Rasulullahpun selalu mengulang-ulang di setiap khutbah Jum’at :
    “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik pertunjuk adalah petunjuk Muhammad; seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan di dalam neraka.” (Sahih Muslim (867))
    Dan perlu diketahui, saya juga tidak pernah mencap seseorang masuk ke surga atau neraka sama sekali.

  68. Wong Jowo Says:

    wah cak agam ini terlalu mempersulit agama.. sama aja dengan gini membaca sholawat allohumma solli ‘ala sayyidina muhammad.. itu pasti cak agam bilang bid’ah soale di hadits di bilangnya cum “allohumma solli ‘ala muhammad”.. secara logika wong gendeng ae bisa mikir kalo ini ndak salah meskipun di hadits nabi ndak ada…ruwet masalah khilafiyah koq dijadikan bahasan.. apa ndak ada yang lain.. khilafiyah itu mudah mau ikut ulama yang pro ya silahkan.. mau ikut yang kontra ya silahkan gitu aja koq repot.. ya ini yang membuat umat islam ndak maju 2 masih membanggakan masalah khilafiyah..
    ******Islam peace love n respect*******

    Rosyidi :Siapa yang mempersulit agama??? Justru mungkin anda yg mempersulit.
    Rasulullah sudah memberikan sebuah contoh. Rasulullah adalah contoh kita. Lal