Ucapan “Shodaqollahul Adhim” Quran Bidah
8,296 viewsDasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai rujukan setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin. Allah berfirman, “Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An Nisa : 65). Telah dipahami bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk suatu urusan yang sia-sia, tetapi untuk satu tujuan agung yang kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah kepadaNya. Kemudian tidak hanya itu saja, tetapi Allah juga mengutus rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan memberikan hidayah. Allah berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS An Nahl : 64). Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman,” …Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni´matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3). Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia telah berdusta !” (HR. Bukhori&Muslim).
Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni´matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3). Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia telah berdusta !” (HR. Bukhori&Muslim). Berkata Ibnu Majisyun, “Aku telah mendengar Malik berkata, “Barang siapa yang membuat bid´ah (perkara baru dalam Islam), kemudian menganggapnya baik, maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad telah menghianati risalah, karena Allah telah berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan unutukmu agamamu…” (QS Al Maidah : 3). Kaum muslimin, sahabat Ibnu Mas´ud telah berkata, “Ikutilah, dan jangan kalian membuat perkara baru !”. Suatu peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah-nambah sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama. Banyak ide atau atau anggapan-anggapan baik dalam agama yang tidak ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan pahala, tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang atas syariat yang telah dibawa oleh rasulullah, dan bahkan yang demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. Seperti perkataan Iman Syafi´i, “Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama sungguh ia telah membuat syariat baru.” Ucapan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin. Dari anak kecil sampai orang tua , pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. Ada apa memangnya dengan kalimat itu ?
Kaum muslimin, mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah bid´ah, perhatikanlah dalil-dalil berikut ini.
1. Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits Abdullah bin Mas´ud berkata, “Berkata Nabi kepadaku, “Bacakanlah padaku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?” beliau menjawab, “ya”. Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An Nisa : 41) beliau berkata, “cukup”. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca.” Sahabat Ibnu Mas´ud dalam hadits ini tidak menyatakan “sodaqollahul adzim” setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan “sodaqollahul adzim”, beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas´ud “cukup”.
2. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata, “Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan, sampai saat Jibril menemuinya -Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya”.
3. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. 799 dari hadits Anas bin Malik r.a, “Nabi berkata kepada Ubay, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab” (“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)…”) (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , “menyebutku ?” Nabi menjawab, “ya”, maka Ubay pun menangis”.
4. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits Raafi´ bin Al Ma´la r.a. bahwa Nabi bersabda, “Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid ?” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, “Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab´ul Matsaani dan Al Quranul Adzim yang telah diberikan kepadaku.”
5. Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, “Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya -yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni, “tabaarokalladzii biyadihil mulk” (“Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan…”) (QS Al Mulk : 1).
6. Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro´ bin ‘Ajib berkata, “Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan “attiini waz zaituun” , aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya”.
7. Diriwatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu´man berkata, “Aku tidak mengetahui/hafal “qaaf wal qur´aanil majiid” kecuali dari lisan rasulullah, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat”.
Dari ketujuh dalil yang telah kami sampaikan diatas, tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa Nabi mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca ayat Al-Qur´an. Sebenarnya jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin, tak ada satu orangpun dari mereka yang mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya, maka akan sangat banyak dan panjang. Namun cukuplah apa yang kami nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya adalah bid´ah (perkara yang baru) yang tidak pernah ada dan di dahului oleh genersi pertama. Satu hal lagi yang perlu dan penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan “sodaqollahul adzim” setelah qiroatul Quran adalah bid´ah, namun kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya, Allah berfirman, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran….”(Q.S Az Zumar :39).
Ucapan Shodaqollahul adzim adalah baik. Kita boleh saja mengucapkannya, namun menganggapnya suatu sunnah ataupun suatu kewajiban yang harus dilakukan setelah membaca Al-Qur’an sama sekali tidak berdasar. Jika kita sesekali mengucapkannya tidaklah mengapa, tapi kalau setiap selesai membaca Al-Qur’an melakukannya, patut dipertanyakan. Analoginya seperti ini. Andaikata sebelum kita sholat joget dulu, tidak ada yang melarang dan sholatnya sah. Tapi kalau setiap kali hendak sholat selalu joget dulu, ini yang harus dipertanyakan, kenapa? Bisa jadi dia telah menganggap joget tersebut suatu sunnah apalagi suatu kewajiban.
Sedangkan yang dilakukan kebanyakan orang, sudah mengarah kepada kewajiban. Banyak yang tidak tau dalil2nya. Dan hanya asal mengiyakan kata ustad atau kyai mereka tanapa tau dalil-dalilnya. Kita beribadah karena ada perintah, dan penjelasan perintah tersebut sudah terdapat lengkap di Al-Quran dan hadis, jangan ditambah atau dikurang-kurangi sedikitpun. Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan As-Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.
Disederhanakan dan diedit oleh : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/sodaqollahul-adzim-bukan-penutup-bacaan-al-quran/
Sumber: “Kaifa Yajibu ´Alaina An-Nufassirol Qur´an” FDAWJ
Ditulis oleh Ustadz Abu Hamzah Al-Atsary
Tulisan ini dimuat juga dalam Majalah SKI BEM FKG UNAIR
Related Posts (Artikel Terkait) :- Al-Ahmad
- As-Sudays
- Saad Al-Ghamdi
- Qur’an
- Solusi Mudah Menentukan Hari Raya Idul Fitri
- Bencana, Azab atau cobaan
- Doa Buka Puasa Ternyata Dhoif
- Jumlah Warna Pelangi bukan 7
- Tinggalkan jika bertentangan dengan Al-Quran dan Hadis
- Free Islamic Software

Kirim ke Teman di Facebook














pantesan, suami saya ga pernah melafadhkan itu setelah tilawah… udah dijelasin kalo memang ga diajarkan rasul. tp dasar saya yg bandel…
syukron , nice artikel kang
Tapi apa gak disertakan juga alasan – alasan kenapa sebagian orang membaca nya ketika sampai di akhir ayat?
Dulu aye juga baca kaya gitu, sekarang berhati – hati deh.
suhun.
agam…. baru tau… mksiy bnyak wacananya…. jd, klo slesai bc alqur’an ywdah gtu aja ya.. i mean, klo brenti ya brenti aja?
btw, gravatarnya kok juga error?
Sebelumnya minta maaf. Sejauh yang saya pernah dengar, dalam al-Qur’an sendiri Allah berfirman. ??? ???? ?? ???? ????, di surat ali Imran juga disebutkan ?? ??? ????. Kiranya ayat2 sejenis itu menjadi dasar yang dipakai orang yang berkata shadaqallahul adzim. Allah sendiri juga mensifati diriNya dengan perkataan Ashdaq. Dan kalimat itu berupa pujian kepada Allah, baik dan tidak bertentangan dengan do’a ma’tsur lainnya. Gimana mas? terima kasih sebelumnya.
makasiy y gam…
mkasiy jg dah share ilmu di website ini… jd lebih tau banyak…
Mmm, saya pernah dengar hal ini ..
Hanya, kalau berbicara bid’ah, maka banyak hal yang sebenarnya juga bid’ah, termasuk pembukuan Al-Qur’an itu sendiri … apa ada Rasul mengajarkannya?
Hanya kembali lagi, menurut saya, selama apa yang tidak dilakukan semasa Rasul dan ada dilakukan setelah masa Beliau tetapi tidak mengurangi apalagi bertentangan dengan nilai-nilai ke-Islam-an, insya Allah, Allah maha mengetahuinya.
Terima kasih. Okay, saya sangat setuju dengan alasan bahwa pelarangan membaca ’shadaqallhul’adzim’ itu dilarang karena takut dianggap sebagai suatu kewajiban, itu benar. Seperti juga ketika kita bersalaman setelah sholat ashar maupun subuh. Itu juga tidak boleh, jika kemudian dianggap sebagai salah satu kewajiban yang jika ditinggalkan, sholatnya jadi nggak sah. jika begitu, maka alasannya jelas. Karena itu, jika alasan tadi tidak ada, maka hukum tersebut juga tidak ada. Karena hukum sesuatu itu bergantung atas ada atau tidaknya motivasi/sebab dari adanya hukum (illat).
Terus juga, coba mas cek salah satu hadis riwayat dari Abi Tsa’labah bin Nasyir bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kewajiban kepadamu, maka janganlah kamu meninggalkannya. dan Allah telah memberi batasan2 kepadamu, maka janganlah kamu melanggarnya, dan Allah juga ‘mendiamkan’ sesuatu, sebagai rahmat atas kamu, tanpa Ia melupakannya, maka janganlah kalian mencari-cari hukumnya (dengan bertanya2 atas hukumnya, karena bisa jadi ini justru akan membuat mempersempit ruang seseorang dan menjadi tidak leluasa, pen.) “. Hadis ini hasan diriwayatkan oleh Imam Daar al-quthny.
Hadis tersebut bisa mas temukan di kumpulan hadis arba’in an-nawawiyyah karya Imam an-Nawawiy. Dalam kaitannya dengan hal ini, Dr Yusuf Qaradhawiy menyebut hal-hal itu sebagai masalah yang masuk dalam wilayah maskut ‘anhu (Allah tidak menyebutkan hukumnya, namun juga tidak lupa akan hal itu, tetepi semata2 untuk memberi keluasan kepada manusia itu sendiri). Atau istilah beliau-nya adalah ‘mantiqah al-’afwi’ (daerah yang dimaafkan). Jika tidak demikian, maka saya setuju dengan mas Riyogarta, bahwa kita akan ‘terkekang’ dan akan banyak berbenturan dengan hal-hal yang dianggap bid’ah lainnya, yang akhirnya mengesankan bahwa Islam itu tidak lues bahkan terkesan saklek.
Terakhir ana kira kita tetap hati-hati dalam mengatakan ini halal atau haram. Karena bisa jadi hal-hal tersebut masuk dalam permasalahan yang disebut sebagai perkaran maskut ‘anhu, seperti yang saya singgung di atas. Dan jika kita fikirkan, sebenarnya posisi seseorang yang mengharamkan sesuatu (yang maskut ‘anhu), sama saja dengan mereka yang menghalalkan sesuatu yang jelas haram. Di sini sebenarnya perlu kita renungkan.
Ohya, ada baiknya jika saya sebutkan ayat al-Qur’an surat an-Nahl ayat 116, yang artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” Maaf jika terlalu panjang. Terima kasih mas…
Tambahan untuk mas Riyogarta, setahu saya, alasan yang lebih utama tidak dibukukannya al-Qur’an ketika itu, adalah kehawatiran akan bercampurnya al-Qur’an dengan Hadis. Kemudian, ide penulisan al-Qur’an itu sendiri timbul karena banyaknya para huffadz (para sahabat yang hafal al-Qur’an) meninggal dunia, dan berkurangnya jumlah mereka karena peperangan. tengkyu.
‘takut dianggap sebagai kewajiban’ kalimatnya emnoer itu perlu dicatet (aku copy aja sekalian tulisannya ya! sekalian minta izin nih).
perkara yg ‘aneh2′ zaman sekarang mulanya emang dari ‘kebiasaan yg disakralkan’.
tapi aku juga rada ‘risih’ kalo dengan mudahnya kita bilang ‘itu bid’ah’… apalagi ke orang yg baru kenal islam, kesannya agak saklek ya! mungkin bisa pake bhs yg lebih bisa diterima? tapi apa ya.. islam kalo udah menentukan hukum ya sifatnya mutlak.
wah, ternyata bid’ah, tho? ya udah deh, besok2 blajar gak mbaca shadaqallahulazhiim lagi..
makasi banyak, gam, atas artikel-nya, very very good-lah
Mas aku nyoba doang
Wah, mas to’im the shinigami, sebenarnya nggak harus gitu kok. baca ’shodaqallahul ‘adzim’ sejauh yang saya tahu, bahkan merupakan ta`adduban , yaitu bagian dari adab menghormati al-Qur’an itu sendiri. Kan enak mas, kalau baca kemudian baca shadaqallahul’adzim. Coba kalo nggak, rasanya ada yang kurang sreg to? Ya, tetapi jangan dikira itu wajib. Itu saja, Okay….

Wee… dpt info berharga neeh
lebih baik dicari dulu siapa sumbernya ?
tapi saya pikir asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman ya saya tidak mempermasalahkan . dan ini sudah sangat umum dan membudaya dimasyarakat kita (Indonesia). Ini tidak wajib , tapi apa memang patut disalahkan jika niat kita memang melakukan lebih untuk memuji dan mengagungkan ALLAH ?
Makasih mas. Tadi malam masih baca shadaqallahulazhiim. Mulai nanti malam gak baca lagi deh.
loh.. sodaqollahul adzim itu artinya maha benar 4JJI atas segala firmannya kan? salah ya? aku pernah liat di vcd sejarah perjuangan Rasul, para sahabat sewaktu dakwah, membacakan ayat Quran, pake sodaqollahul adzim juga..
Sepertinya kalau dasar hukum hanya Al-Qur’an dan Sunnah saja kurang tepat. Karena Rasulullah sendiri sepertinya pernah menguji sahabatnya dengan hal seperti ini. Kira-kira bunyinya seperti ini :
Apa yang menjadi dasarmu dalam menentukan keputusan. Jawab sahabat Al-Qur’an. Jika tidak ada Sunnah Rasul dan jika tidak ada … saya lupa apa istilahnya… yaitu mencari persamaannya atau yang setingkat dengannya…
Kalau saya sih masih kukuh pada penggunaan Shadaqallahul Adzim, Pertama karena memang Al Qur’an itu firman Allah, dan yang kedua Allah kalau berfirman mesti benar dan yang ketiga biar orang-orang kafir itu tahu kalau Al-Qur’an yang paling benar.
Dan kalau memang ini bid’ah, mungkin ini termasuk bid’ah yang baik. Seperti pembukuan Al-Qur’an dan penutupan ka’bah dengan kain. Atau seperti pembuatan Al-Qur’an digital. Jadi jangan hanya karena ndak ada (belum ketemu) dalilnya trus aktifitas yang baik ditinggal begitu saja.
” setiap perkara bid’ah sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka “, …namun di sini kita perlu memperjelas makna ” bid’ah “, bid’ah yang mana di kategorikan bid’ah yang sesat.
Sholat tharawih berjamah di masjid sebenarnya Rasulluloh hanya melakukannya 3 hari saja, namun pada jaman Umar bin Khattab di biasakan sampe selama bulan ramadhan. sampe Umar ra bilang inilah bid’ah yang baik ?.
justru menurut saya bid’ah keterlaluan yg masih di kerjakan sampe sekarang adalah ” Tahlilan Kematian “, karena bid’ah yang ini mengadopsi dari peribadatan agama hindu dulu.
kalau masalah bacaan sehabis baca al-Quran, saya suka mengucapkan “Sami’na wa Atho’na…dst.” ( surat al-Baqarah ayat terakhir ).
oh ya ngomong-ngomong bos, klau pasang shout box di wp caranya gmana ? ..bagi2 dong ilmunya biar maslahat
Saya setuju dengan Jalooe.
Tapi bukan berarti saya membenarkan adanya bid’ah.
Hanya saja batasan bid’ah itu yang perlu rincian lebih jelas.
Saya kira dari semua hadist yang dijabarkan, gak ada juga satupun hadist yang melarang mengucapkan shodaqollahul azhim.
Bukankah dalam ushul fiqih segala sesuatu itu boleh sampai ada dalil yang mengharamkan?
Kalo saya berpendapat, bahwa ini bukan patokan. Hanya renungan dan ajakan agar kita memperbaikni kualitas ibadah kita.
So, kita menjadi lebih berhati-hati.
Saya mau nanya nih, kalo usai baca qur’an terus baca do’a “Allahummarhamni bil qur’an. Waj’alhuli imana dst..” apakah termasuk bid’ah juga?
Terus terang, saya belum ketemu hadistnya.
Hanya saja saya lihat di bagian belakang qur’an terdapat do’a tsb.
Thank’s infonya. Jazakallahu khairan…
Kenapa susah-susah….
Kalau meragukan, kalau ndak ada contohnya, ya lebih baik dihindari ndak usah dilakukan…
Kalo saya mah didahului dengan ta’awudz dan diakhiri dengan hamdalah dengan nada sirriy….
lebih jelasnya mungkin begini.
ketika kita sholat membaca Al Fatihah, belum pernah saya mendengar atau diajarkan oleh siapapun untuk membaca sodaqollahul adzim.
bukankah Al Fatihah itu bacaan Al Quran, jadi benar adanya bacaan sodaqollahul adzim bukan penutup bacaan Al Quran.
setelah beberapa hari yg lalu baca artikel ini…
arggghhh
, masak gak ada yg membolekan
coz, kyknya di 2 pondok sktr rumah aLe pasti ucapkan lafadz itu stlh para santrinya baca aL-Quran. Tp smntr aLe cr hadits yg membolehkan, aLe ikuti dl hadits dr km. bgmnpun, skr km lbh berdasar 
sulit ya gam, menghilangkan kebiasaan
tp aLe msh penasaran deh
Sekalian test gavatar kok ga bisa2…hehehe..
Yang jelas perasaan ga’ sreg saya yang dulu pernah saya tulis itu belum tentu merupakan tanda2 bahwa saya merasa itu suatu kewajiban kok mas. Sedangkan dasar bahwa menghormati al-Qur’an itu juga bisa dengan melihat konteks hadis yang panjang lebar saya tulis di atas. Tetap saja, di sana ada maskut ‘anhu , atau mantiqah al’afwi seperti yang disinggung Dr. Yusuf al-Qaradhawy.
Jika ini adalah hasil pemahaman masing-masing, maka jelas kita tidak bisa ‘mewajibkan’ hal itu kepada orang lain. Apalagi sampai mengklaim benar dan salah dari sisi kita, tanpa mengindahkan sisi lain. However, ini diskursus yang enak kok untuk dibahas, stay cool friend….. chayoo!
Ohya mas, kalo gak salah, hadis shohih juga mengatakan bahwa al-Quran merupakan sebenar2nya kalam Allah. Wa inna ashdaqal kitaabi kitaabullah…. bahkan ini pun sangat sering kita dengar.
Lantas kok kita nyebutin Shadaqallahul ‘adzim ga’ boleh, (hanya) karena nggak ada hadis yang memakai lafadz sorih yang menunjukkan pembolehannya, kan rasanya gimana gitu… se-gitu kah?
kalo dihubungankannya dengan bid’ah .. berarti pake celana jeans juga bid’ah dong, dan tidak boleh menggunakannya??
padahalkan kl diliat dr unsur asal muasal celana jeans dibuat itukan dr untaian benang yg sudah jelas2 itu merupakan rahmat ALLAH.
dan kalo dikembalikan kepada pembahasan pengucapan kalimat tsb yg tidak diperbolehkan ( spt yg disebutkan sobat noer ) dan Rosul tidak pernah melakukan hal itu, waahhh .. koq jadi terkesan mempersempit ruang gerak kaum muslimin sendiri yah
maaf .. kl ketikan ane ga berkenan
syukron mas agam, ini comment ana terakhir di artikel antum yang ini. antum kuat dan teguh memegangnya, terus terang saya respek! go a head brother!!!
Trims atas tambahan ilmunya, kalo saya biasanya mau ngomong bid’ah kepada orang awam tentang sesuatu hal yang benar2 bid’ah dalam ibadah rasa-rasanya terlalu kasar.. Jadi saya pakai bahasa saya sendiri, yaitu tidak ada tuntunannya baik di qur’an maupun sunnah rasul.. Termasuk pada orang terdekat di lingkungan saya.. Lebih panjang sih, tapi beberapa orang yang melakukan hal bid’ah dan terang-terangan dibilang bid’ah biasanya langsung tersinggung dan malah bisa-bisa memutus tali silaturrahim.
@agam : pengertian bid’ah itu sendiri kan menambah-nambah ibadah yang tidak ada tuntunannya baik qur’an maupun sunnah rasul, ya saya kan cuma bilang bahwa ibadah tersebut tidak ada landasan dalil yang kuat.. Saya setuju dengan pendekatan yang pelan-pelan, sebab lumayan susah; bukan berarti tidak mungkin berubah; untuk mengubah kebiasaan yang sudah turun temurun. Apalagi di kota saya ada selebaran yang isinya sebagian benar, tapi dengan cara yang salah, membuat beberapa orang kebakaran jenggot.
Ass, Makasih atas sharing ilmunya, ini akan sangat menambah ilmu / membantu muallaf seperti saya untuk lebih memahami agama yang diridhoi oleh Allah SWT, Wss
Oh iya, sekalian mau minta ijin copy artikel beserta comment’s dr saudara2 yg lain, thank’s
assalamualaikum wr.wb
subhanallah Gam, kowe kok dah byk bgt ilmunya?tholabul ‘ilm dimana?
sering ikutan ga kajian di Grabik FK?
sebenernya masalah bacaan Shodaqallah al ‘adzhim sudah pernah aq tahu dulu.
tapi yg ku tangkep tu memang bid’ah kok.Bismillah mudah2an Allah memudahkan pengetahuan bagi kita para penuntut ilmu.
btw, ga da reuni2an ma kelas qta y. Harfina nikah lo….
barakallahu fiik….
wass.wr.wb
Gam, aLe tetarik ama
pliss 
“Semua Ibadah itu pada dasarnya haram, kecuali yang diperintahkan”
bs request g? bhs lbh detil donk lngkp dgn hadist-nya
Gam, aku tanya disini
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/19/cn/27845
jawabnya suruh lihat disini
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/27487
1. Tidak ada satupun larangan terhadapnya.
2. karena ia merupakan bentuk zikir.
3. para ulama menjadikannya sebagai salah satu adab dalam membaca Alquran. Bahkan menurut mereka jika ia diucapkan dalam salat tidak membatalkan salat. Demikianlah pendapat kalangan Hanafi dan Syafii.
4. Lafal atau ucapan tersebut demikian dekat dengan apa yang diperintahkan dalam Alquran serta merupakan ucapan orang mukmin di saat akan perang.
Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik (Ali Imran: 95)
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.
5. Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa menurut al-Hakîm al-Tirmidzî mengucapkan kalimat shadaqallahu al-azhim setelah selesai membaca Alquran merupakan salah satu bentuk adab membaca Alquran.
Mohon pencerahannya *d jwb stlh uas aja, g kburu2 kok*
hey,gmn mna dgn penamaan pada hadis???da hadis dhoif,hadis shahih…..itu bid`ah lho…
Alhamdulillah, Akhi… tulisan antum ini banyak manfaatnya sehingga memberikan pencerahan bagi kita semua.
Bukankah rukun ibadah kepada Allah itu ada dua? IKHLAS & MU’TABA
IKHLAS: Segala sesuatu ibadah itu di tujukan hanya kepada Allah SWT semata, tiada kepada selain Allah. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya: “… Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Ku…”
MU’TABA : Ada uswahnya (contoh/tuntunannya) dari Nabi SAW. Minimal Nabi SAW mendiamkan ketika para sahabat beribadah demikian.
Dua syarat di atas [IKHLAS & MU'TABA / I'TIBA] mutlak ada dalam setiap aktivitas ibadah. Misalnya:
1) Kita beribadah IKHLAS ditujukan hanya kepada Allah tapi tidak MU’TABA / I’TIBA (dicontohkan) Nabi SAW, maka ibadah itu akan di tolak;
2) Kita beribadah MU’TABA / I’TIBA (dicontohkan) Nabi SAW, tapi tidak IKHLAS maka ibadah itu akan di tolak;
3) Kita beribadah TIDAK IKHLAS juga TIDAK MU’TABA / I’TIBA kepada Nabi SAW jelas-jelas ditolak;
Maka dari itu, ketika beribadah kepada Allah harus IKHLAS dan MU’TABA / I’TIBA. Bukankah kata Nabi… Setiap Ibadah itu di larang kecuali yang diperintahkan… jadi untuk apa kita “beribadah” kalau tidak diperintahkan…
Tolong dikoreksi jika komentar ini ada yang keliru mas Agam…
Makasih ats info nya.
@ aLe
mksh jg link-nya (http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/27487).
Ok, mari kita semua me”maklum”kan “khilafiyah” ini. Sekarang ini yg harus segera kita lakukan mari kita gunakan energi kita semua, berusaha bahu membahu mengatsi masalah umat yg lebih besar (kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dll.)
Akhi, kalimat sodaqallahul adzim , yang artinya maha benar Allah dengan segala firmannya, kalimat ini adalah pujian bagi Allah dengan segala kebenaran seluruh firmannya. Dalilnya surat Al ISRAA’ (ayat110) yang bunyinya: katakanlah: serulah Allah atau serullah Ar-rahman dengan nama “yang mana saja kamu seru”, Dia mempunyai al asmaul husna atau (nama-nama yang terbaik), dan jaganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya. dan carikah jalan tengah di antara kedua itu . (ayat 111) yang berbunyi : Dan katakanlah “segala puji “bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaannya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang “sebesar besarnya”.
Al adzim adalah salah satu dari Alasmau’l husna
:)
ada jg pendapat Dr.Sholeh bin fauzan bin abdullah al fauzan dalam aqidah al tauhid hal 176 yang menulis bahwa bid`ah diambil dari bahasa arab yaitu BAD`U yang artinya al-ikhtiro,yaitu menciptakan segala sesuatu tanpa contoh terdahulu
seharusnya kita mengikuti pendapat imam syafi`i,seorang ulama yang mumpuni.
beliau jg ketika belajar hadist pada imam malik,guru beliau,beliau sudah hafal kitab al-muwattha,karangan guru beliau,menurut ilmu bahasa,kata “kullu bs diterjemahin “semua”namun belum tentu mencakup segala bagian,seperti kalimat”semua sarjana itu pandai”,padahal tidak semua sarjana ltu pandai,ada juga yang tidak pandai .
dan lagi bid`ah tidak hanya soal agama saja,bid`ah mencakup seluruh bagian kehidupan,dan lagi mas,penamaan hadist shahih,dhoif,dll adalah bid`ah,karena pada jaman rasul itu tidak pernah dilakukan.
kalo soal penutup bacaan “shodaqollo hul adhim” itu hanyalah amalan semata,tidak bertentangan dgn agama,lagipula jika itu dicontohkan rosul,beliau khawatir akan menjadi suatu kewajiban.jadi,anda tidak selayaknya mendoktrin umat islam agar tidak mengamalkannya.okeh????????????????????thx
sebelum diposting sebaiknya antum konsultasikan dulu ke ‘guru’ antum krn banyak yang langsung ‘telan’ setelah mlototin uraian antum.
bicara bid’ah itu banyak macamnya, dan gali lagi sebayak-banyak referensi yang ada, krn mulai jaman mbah-mbah en kakek nenek antum sudah melafalkan kalimat tsb.
selamat berkarya, mohon maaf dan terima kasih
Maksudku hubungan antara kalimat shodaqallah hul adzim dengan ayat surat AL ISRAA’ ayat 110 ini adalah: 1. Kalimat shodaqallah hul adzim dalam pemahaman bahasa arab yaitu: shodaqallah = percaya kepada Allah. Hul adzim = yang maha agung. Berarti kalimat ini adalah artinya mengagungkan Allah. Dan di tafsir ayat 110 ini , di katakan: Sebutlah nama Allah hai kaumku, atau sebutkah nama Ar-Rahman atau dengan nama-nama mana aja, diantara nama-nama Allah yang maha agung kamu menyebutnya, maka hal itu baik. Karena semua nama Allah adalah ibadah. Karena semuanya memuat pengagungan dan pengkudusan terhadap zat maujut yang paling agung.Jelas sekali bahwa “Kalimat shogaqallah hul adzim= percaya kepada Allah yang maha agung” ini adalah salah satu penyebutan keagungan nama Allah ,Hal ini baik dan termasuk ibadah.
Jadi argumentasi anda yang menyatakan kalimat shodaqallah hul adzim ini bid’ah=ajaran sesat ini, menggangu sekali dan tidak ada dalil yang kuat. Lagi pula apabila membaca Alqur’an dengan mengimani, meyakini, makna arti kebenaran kalam Allah , tanpa di suruh tanpa diperintah, bahkan tanpa di duga hati nurani kita telah mengucapkan shodaqallah hul adzim dengan sendirinya.
Riwayat Alqur’an di masa abu bakar r.a : Umar berkata kepada Abu bakar dalam peperangan yamamah, para sahabat yang hafal Alqur’an telah banyak yang gugur. saya kuwatir akan gugurnya para sahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya. sehingga banyak ayat2 Alqur’an itu perlu di kumpulkannya.
Abu Bakar menjawab: Mengapa aku melakukan sesuatu yang tidak di perbuat oleh rosulullah? Umar bin khothob menegaskan: Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik. Dan ia berulang kali memberi alasan-alasan kebaikan mengumpulkan Alqur’an ini.sehingga Allah membukakan pintu hati membukakan pintu hati Abu Bakar untuk menerima pendapat Umar.
Kemudian Abu Bakar memanggil Zaid bin tsabit dan berkata kepadanya: Umar mengajakku mengumpulkan Alqur’an, lalu diceritakan segala pembicaraan yang terjadi antara dia dengan Umar. Kemudiaan Abu Bakar berkata: Engkau adalah pemuda yang cerdas yang ku percayai sepenuhnya. Dan engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu di suruh oleh rosulullah. Oleh karena itu, maka kumpulkanlah ayat2 Alqur’an itu. Zaid menjawab: Demi Allah! ini adalah berat bagiku, lebih baik aku di suruh memindahkan bukit, dari pada mengmpulkan ayat2 Alqur’an. Kemudian ia berkata lagi kepada Abu Bakar: Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak di lakukan Nabi? Abu Bakar menjawab: Demi Allah! ini adalah perbuatan baik. kemudia ia memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan ayat-ayat Alqur’an. kemudian Zaid mengumpulkan ayat-ayat Alqur’an dari daun, pelepah korma, batu, tanah keras, tulang onta atau kambing dari sahabat2 yang hafal Alqur’an.
Inti daripada riwayat di atas , menunjukan bahwa tidak semua berbuatan maupun amalan yang tidak di kerjakan maupun diperintahkan rosul, apabila di kerjakan itu bid’ah= sesat.
udah gini aja….
mas terlalu sulit untuk menerima,skarang mas alirannya udah beda….mas penganut ikhwanul muslimin khan?
yang saya tau,”mereka”tidak meng-imani adanya waliyullah…jelas sudah!!!
ntah apapun argumen yang saya beberin pasti akan mas kilah,klo mas sudah ndak iman/percaya,atau msh ragu ttg walisongo,ulama,kiyai,yah….mas sudah menyimpang…simpel khan?!
afwan,tp yg mmberi ket.adlh ulama2 nadhatul ulama,saya percaya ilmu agama mrk lebih dapat dijadikan pedoman,jg ijtihadnya…maaf,,,
daripada mas….
afwan
semoga mas bs meralat artikel mas dikemudian hari,itu doa saya….dan semoga yang membaca atikel mas ini,tidak mudah percaya….(afwan jiddan)
mas meragukan imam syafi`i????ck…ck……tserah wes,
maturnuwun….
bye
@44 : Saya tidak terlalu percaya dengan cerita kesaktian Wali Songo yang sepertinya jauh dari logika dan sanadnya tidak bisa dipertanggungjawabkan dibanding dengan Sirah Rasulullah yang sangat rasional dan sanadnya bisa dipertanggungjawabkan. Rukun Iman dalam Islam ada 6, dan mengimani kesaktian WaliSongo, kyai, ulama tidak termasuk salah satu rukun iman bukan? Para sahabat yang diberi karomah jumlahnya sangat sedikit, padahal generasi terbaik menurut hadits yaitu generasi sahabat yang hidup sejaman dengan Rasulullah, tabi’in, dan tabiut tabiin. Saya menghormati walisongo, kyai dan ulama, karena atas jasa2 beliaulah saya sampai saat ini berada dalam agama islam. Yang saya tidak saya setujui adalah cerita tentang kesaktian walisongo, dll. Tentang beda aliran, sebaiknya janganlah mengatakan seseorang yang berbeda pendapat selama masih ada dasar dalam Al Quran dan Hadits itu menyimpang, sebab kita sesama muslim adalah saudara.
Sorri mas Agam, saya malah bikin artikel di kolom commentar sampeyan..
Assalam Mu’alaikum Wr wb,
Pendapat Agam lebih baik menurut saya, dan mungkin saja salah, namun dalil dalil yang digunakan lebih baik mengikuti pendapat (yang disampaikan) Agam. Apa susahnya meninggalkan amalan yang ngga ada tuntunnannya malah bisa bikin terjerat dosa dan di keluarkan dari golongan umat Muhammad.
Kalo kita mau realistis nih, amalan sunnah lain yang lebih pasti banyak yang belum kita kerjakan, bahkan sampai yang kita anggap remeh-temeh, coba saja amalkan saya yakin anda akan bosan sendiri karna tak sanggup menjalankannya, mulai aja dari doa bangun tidur, wudhu, doa pakai baju, masuk wc, keluar wc, doa safar (berpergian), dzikir, menebar salam (bayangin aja tiap ketemu orang menyampaikan salam), dll. Diantara amalan yang pasti dalil dan tuntunannya ini aja udah bikin mumet dewe.
Makanya menjadi lebih mudah meninggalkan amalan yang masih didiragukan keshahihannya. Rasul sendiri bersabda “Kamu harus mengerjakan sesuatu yang kamu sanggup. Demi Allah, sesungguhnya Allah takkan bosan sampai kamu sendiri yang bosan” (HR Bukhari)
Apalagi di Indonesia ini yang banyak budaya tercampur dengan agama yang menghasilkan bid’ah yang tampak baik tapi sama sekali ngga ada tuntunannya. Menjalankan Islam secara kaffah haruslah pakai dalil, ngga asal menjalankan ngikut ulama ini-itu tanpa dasar jelas. Makanya surat pertama turun Iqra’ (bacalah!) dan orang yang beruntung di beri petunjuk dan peringatan adalah ulil albab (orang yang berfikir) , jangan asal ngikut ajah…
Rasulullah menganjurkan untuk melakukan sunnah dari pada perbuatan baik karangan dewe, karena amalan yang dituntunkan oleh Rasulullah bukan atas kehendak nabi sendiri melainkan tuntunan dari Allah SWT.
Berbeda pendapat boleh saja, jangankan kita, para sahabat Rasulullah pun pernah mengalaminya, Nabi pun pernah berbeda pendapat dengan para sahabat bahkan sesama malaikat juga pernah berbeda pendapat dalam riwayat yang shahih, namun dalam berbeda pendapat tentu ada etikanya. Pendapat mas Agam dalilnya kuat, yang disayangkan saat ada yang membantah dengan dalil yang tidak kuat dan langsung men-cap orang lain sebagai penganut golongan tertentu malah memperlihatkan kedangkalan ilmu. Para Ulama Mahzab seperti Imam Syafi’i, Maliki, Ahmad bin Hambal, Hanafi dan lainya menurut riwayat memiliki hubungan Guru-Murid dan ngga ada terlontar kata-kata yang mengelompokan orang yang tak sependapat atau menuduh pelaku bid’ah walau mereka beda pendapat. Kalangan ‘elite’ ulama adem ayem, wee…ee…ee..ee… kroco-kroco dibawahnya malah saling tuding…( hehehe).
Lebih baik mengikuti perintah Rasullulah dari Watsilah bin Al-Aqsa meriwayatkan Rasulullah bersabda” Tinggalkan dan hindarilah percekcokan! Aku adalah penjamin tiga istana di surga: di pinggir, di tengah, dan di bagian atas surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia benar. Tinggalkanlah perdebatan! karena larangan Tuhanku yang pertama setelah menyembah berhala dalah perdebatan. (HR ath-Thabrani)
Saya kembali terkagum dengan kemampuan mas Agam dalam memberikan dalil tentang pendapatnya. :)>-
Gam, mo tanya.. klo gak slh bsk tgl 1 rajab ya. ma eMak ku suruh puasa, emang ada dalilnya? mhn pencerahan. thanks..
aduuh baru tau nih…
nice article :D
Kalau sudah nyinggung ayat komentarnya serius semua euy..
maaf saya blm bs seurius..
=d> =d> =d> Nah… gitu donk…. ayo kita belajar yang bener….
Jika perkara dunia saja kita mau berdebat, kenapa untuk urusan akhirat tidak..??? Asal…. niatnya kudu bener ya…:d…
Mau nyumbang pemikiran nih…. boleh kan….? :)
Begini, Saya pribadi ndak begitu paham fikih…
jadi saya coba ajak temen 2x untuk melihat hal yang paling urgent dari tema penggunaan Shodaqallahul azhim itu lebih ke arah PRAKTEK.
Semuanya udah tau arti kalimat Shodaqallahul azhim itu kan ?
Maha Benar Allah Tuhan Yang Maha Agung dengan segala Firman-NYA….
Nah…. pertanyaan saya adalah: Sudah sampai sejauh mana kita MEMBENARKAN Firman-firman Allah itu dalam kehidupan pribadi kita masing2x … ??? [[dnc]][[dnc]]….:d
:d sepertinya keterangan soal “dalil palsu” melaksanakan puasa sunnah dibulan rajab .. bersumber dari satu sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1523/slash/0 … :-? dan apakah pembahasan mengenai topik utama disini juga bersumber dr situs itu ??
hmm… ma kasih ya buat infonya paling tidak kalo saya ngga lagi ngucapin “sodaqollahul adzim” di penutupan baca Al Quran ada pertimbangannya :)
HWAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH…………………………………
ANAK BARU BELAJAR NGAJI MAREN SORE AJA UDAH BERANI2NYA BILANG ITU SALAH,INI SALAH……………………….
HEH…..COBA DEH BANYAK BELAJAR2 DARI GURU….JANGAN BELAJAR DEWE!!!!
ORANG YANG BELAJAR TANPA GURU MAKA GURUNYA ADALAH SETAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
ADA BANYAK NHADIS YANG MENERANGKAN KEUTAMAAN PUASA DI BULAN RAJAB!!!!!!!!!!
ADA HADIS HR.BAIHAQI DLL….
DAN RALAT YA MAS yaaaaaaa……………………..
BUKAN SATUI BULAN GANJARANNYA SAAT KT PUASA SATU HARI DI BULAN RAJAB,TAPI SATU TAHUN,,,,YOU KNOW!!!!!!!!!!!!!!!!!!
MALAH HARI YANG PERTAMA GANJARANNYA DIAMPUNI DOSA2NYA 3 TAHUN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
YOU SENGAJA NGASIH CONTOH HADIST2 YANG GAK BENER N GAK JELAS JLUNTRUNGANNYA!!!!
HEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHH…….
SATU PERTANYAAN GUE!!!!
GURU LO SAPA SEH????
JAWAB TO THE POINT AJA,GAK USAH BELIBET NGASIH DALIL2 SEGALA……!!!!!NON SENS!!!!
buat mas rahyan .. mohon jangan pake emosi mas :-) ( pake Capslock gituh ) .. gmn pun juga kita musti menyikapi dengan arif dan bijaksana tanpa emosi semua perbedaan pandangan terhadap suatu hal.
walo saya pribadi tidak sependapat dg hal ini, hendaknya kita tetap berpegangan pada ” Lana A’maluna Walakum A’malukum “. Hal seperti ini (perbedaan pendapat) sudah sering terjadi koq dr sejak jaman para sahabat nabi .. yg penting gmn kita menyikapinya tanpa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslim. :-) inget ya mas .. perbedaan itu Barokallahu Lana (^_^)v
ana ga seberapa faham fikih, tapi dari yang ana ketahui sebuah perbuatan baru dikatakan bid’ah bila sudah memasuki “zona” Wajib, Sunah, Makruh, Mubah dan Haram. Jika kebiasaan membaca “Shodaqallahul Adhim” yang menurut mas Agam itu dianggap berhukum salah satu dari 2 hukum tersebut maka dia masuk bid’ah tapi bila hanya menjadi kebiasaan baik dimana letak salahnya ?
Ana ga seberapa faham fikih, tapi dari yang ana ketahui sebuah perbuatan baru dikatakan bid’ah bila sudah memasuki “zona” Wajib, Sunah, Makruh, Mubah dan Haram. Jika kebiasaan membaca “Shodaqallahul Adhim” yang menurut mas Agim itu dianggap berhukum salah satu dari 5 hukum tersebut maka dia masuk bid’ah, tapi bila hanya menjadi kebiasaan baik dimana letak salahnya ?. Contoh lain kebiasaan baik yang tidak ada dijaman nabi yaitu membaca sholawat sebelum azan dan iqomah apa itu juga termasuk bid’ah ? Allah Maha Tahu.
ane fikir ini ga akan pernah ada titik temunya :-) wes tho .. Lana A’maluna Walakum A’malukum, ALLAH Maha Tahu .. yang sependapat ya monggo dijalankan .. yang tidak sependapat ya hendaknya menerima dengan lapang dada :-)
assSKALI LAGI..
KLO EMANG SAMPEYAN BERTANGGUNG JAWAB N GENTLE
JAWAB PERTANYAANKU YANG TERAKHIR DIATAS….
JUST SIMPLE ANSWER….!!!
Understood???
wass
Salam Alaeekom Warohmah
nah untuk penekanan pertanyaan terakhir dr sodara rahyan .. saya dukung. dan saya juga ingin mengetahui siapakah kiranya guru dr sodara agam ??
Mohon dijawab saja mas agam. Aa Gym saja pernah membeberkan siapa guru beliau, masa Aa Gam ga terbuka gitu :D
Wassalam Alaeekom Warohmah
bukane aku langsung emosi…………tapi ini ….hwaduh…astagfirullah….klo badan kerohanian UNAIR ketuanya kaya mas agam….sumpah deh…gak akan kepikiran masuk situ!!!
tapi skali lagi…..
BELAJAR TANPA GURU,MAKA GURUNYA ADALAH SETAN.
mas agam pernah ngasih seseorang sebuah sumber dari ulama ikhwanul muslimin.apa sebenarnya IKHWANUL MUSLIMIN?
apakah juga ada AKHWATUL MUSLIMAH?????HEH???!!!
TAHU KENAPA SAYA MARAH???
AGAM ngasih dalil yang salah ttg puasa rajab!!!RALAT Doooongggg!!!!
gak tanggung jawab!!!
sy yakin 100%,pasti agam gak setuju adanya tahlilan untuk jenazah..
dan pasti juga gak sependapat ma selamatan,atao qunut….yoh gaakkk????
gam…gam….
klo emg budak bs beri kita ilmu,berarti dia jg guru kita…anda terlalu pintar ngeles…..
DAN,
ANDA EMANG GAK PUNYA GURU KAN??
KLO ADA,SIAPA???BERI JUGA RIWAYAT HIDUPNYA….
JAWAB SINGKAT AJA,KLO ADA,JAWAB ADA!!KLO GAK YA,GAK!!
OKEH???
ANDA TERLALU AWAM UNTUK MENJELASKAN ILMU BID`AH….BAHKAN KLO ANDA GAK PUNYA GURU….
GURU KAN GAK MESTI SATU…JADI JANGAN KIRA GURU SY CM SATU.
klo Alloh berikan ksempatan buatku untuk kuliah di sby..salah satu tujuan utama ku ialah bertemu dg anda….
lho yg menghubung2kan dg Aa Gym itu sapa, maksud ane itu manusia “sekelas” Aa Gym aja bersedia memberitahukan bahwa pertama kalinya beliau belajar ilmu agama sama adiknya sendiri, Agung Gunmartin yange kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu pada ulama sepuh di sebuah dusun di Garut bernama Ajengan Junaedi.
Nah disini .. kami kan cuman ingin tahu saja, guru ente itu siapa ?? boleh dong kami tahu :-) .. dan sebelumnya mohon untuk tidak menghubungkan hal ini dengan taqlid buta ^_^
Assalam Mu’alaikum,
Dewasalah, ilmu tidak diukur oleh guru, sekolah atau lainya, pemahaman yang benar cuma dari Qur’an dan Sunnah. Kalo masih mikirin guru, guru silat lebih ampuh nooh… tapi kalo dalam urusan agama berpedomanlah pada Qur’an dan Sunnah.
Malu euy… murid murid yang ecek-ecek ini aja udah bikin perbedaan menjadikan anda-anda bisa dapet seat di neraka, lihatlah Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi. Pada ngaca dong… Para imam besar itu punya hubungan guru-murid, yang pada akhirnya memiliki menjadi mahzab sendiri-sendiri, mana ada Imam Malik nanya “siapa guru kamu…?” paling jawabannya “guru saya kan kamu guru…” Hahhahaha… dewasalah… sadarlah kalian sedang ditunggangi setan, jangan menyalahkan saudara muslim anda.
Bacalah Qur’an Surat Yusuf ayat 100. Pahami isinya…!
Setan tengah merusak persaudaraan.
Agam, tetaplah istiqomah…
Wassalam Mu’alaikum
Assalamu’alaikum…
(dari tadi komentar, baru sekarang salamnya. hehe.. maaf…)
Masya Allah!
kenapa jadi memanas begitu ya? Istighfar, adik-adik… jikapun ada perbedaan pendapat, kan enaknya dicari jalan tengahnya. jangan jadi ribut. Syetan bersorak senang jika sesama saudara se-Islam bertengkar karena berbeda pendapat, nah, we won’t give “that” pleasure to syetan, right?
Apalagi, yang paling mengetahui kebenaran sejati, hanya Allah.
Tapi, saya sepakat, meluruskan yang salah adalah wajib hukumnya. Yang penting caranya, yakni dengan kesabaran dan kelembutan yang tegas. Seperti cara Rasulullah SAW. Apakah beliau mengatakan Islam mengajarkan “otot2an”? Kan enggak.. Lagipula, lebih enak kan jika kita berbicara dengan nada lembut dan enak didengar telinga (ehem…dalam hal ini, enak dibaca..)
Soal “sodaqollahul adzim”, saya pernah diberitahu oleh guru ngaji (dulu banget, tahun 86-an gitu deh, saya juga masih SD klas 4), bacaan “penutup” tersebut cukup diucapkan dalam hati. Tidak perlu dilafalkan keras-keras. Tapi saya ngga inget dalil yg dikatakan ustadzah saya itu. maklum, sudah lama sekali. hehe.. *malu* maaf ya.. :”>
Sodaqollahul adzim, saya kira bukan bid’ah/terlarang, itu adalah sebuah improvisasi umat islam yang mengangunggkan dan mengakui Firman Alllah SWT.
mo tanya sekalian dong hadits tentang bid’ah , tapi jelasin pake ilmu nahwunya ya ?
OOT ni Cak Agam, untuk komentar sampeyan di nomor #34 soal bacaan2 sujud dan ruku, pas sujud itu doa2 apa yang bisa kita baca ya? maksudku kadang kita kan punya niatan nyuwun sesuatu. tapi bingung boso arabnya gimana. katakanlah kita minta kesembuhan orang tua yang lagi sakit, kelapangan rejeki (tapi khusushoon ila siapa gitu), minta kelapangan urusan untuk temen, dan hal2 khusus yang kita gak tahu doanya (apalan doanya masih sedikit ni..) apa bisa kita ungkapkan dalam bahasa ibu. saya pernah dengar issue (hehe, soale aku dewe yo gak yakin kapan pernah bacanya) kalo diperbolehkan tapi cuman pas sholat2 sunnah / tahajud aja. kalo kita baca cerita2 orang2 sholeh itu, sering dikisahkan mereka doa khusyuk sampe tersenggu2. padahal mereka kan orang sono, dah dah dari sononya bisa ngomong arab, bisa minta segala macem pake bahasa arab. jadi ngiri nih jadi orang arab.. hehe (no offense)
bid’ah itu ada bid’ah baik dan ada bid’ah sesat.. kalo saya sebagai wong jowo lebih milih melakukan “tahlilan” dari pada milih “mengkafirkan orang lain”.. baca tahlil (laa ilaaha illallah) koq ndak boleh.. ya perlu direnungkan lagi itu mas2 yang ngelarang tahlil.. masa kita membaca laa ilaaha illallah (tiada tuhan yang hak disembah kecuali Allah) koq bid’ah dan ahli neraka.. ahli neraka dari hongkong.. JANGAN SUKA MENDAHULUI HUKUM TUHAN.. SURGA DAN NERAKA ITU MILIK ALLAH..
salam peace love n respect
wah cak agam ini terlalu mempersulit agama.. sama aja dengan gini membaca sholawat allohumma solli ‘ala sayyidina muhammad.. itu pasti cak agam bilang bid’ah soale di hadits di bilangnya cum “allohumma solli ‘ala muhammad”.. secara logika wong gendeng ae bisa mikir kalo ini ndak salah meskipun di hadits nabi ndak ada…ruwet masalah khilafiyah koq dijadikan bahasan.. apa ndak ada yang lain.. khilafiyah itu mudah mau ikut ulama yang pro ya silahkan.. mau ikut yang kontra ya silahkan gitu aja koq repot.. ya ini yang membuat umat islam ndak maju 2 masih membanggakan masalah khilafiyah..
******Islam peace love n respect*******
“MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA”
mungkin bid’ah tapi apa salahnya setelah membaca firman-NYA kita memuji-NYA kalau bisa tambahkan pijiannya dengan sejuta pujian bahkan lebih karena hanya ALLAH yang pantas di puji.
yowis… ndak usah berantem.. gini aja…
nyang mau ngikutin baca shalawat gak pake sayyidina and nutup baca qur`an gak pake shadaqallahu….dst seperti abu bakar, umar, utsman, ali, ibnu mas`ud, ibnu abbas plus sahabat ridwanallahu jami`an teruuss.. imam-imam madzhab, imam bukhari, muslim, imam-imam hadits lainnya, ibnu taimiyah, ibnu katsir….dll yo silahkan…..
yang mau pake sayyidina plus baca shadaqallahul`azhim seperti…. mmm… seperti sapa ya?? ya pokoknya ngikutin Mr.X ya… silahkan……
tar di padang masyhar kite tanye rame-rame yuks nyang bener yang mana..
lookin` at-taubah 100, an-nahl 125, arba`in no.28
Tinggal mencontoh yang sudah ada dan sangat jelas perbedaannya seperti siang dan malamnya kok nggak mau……
Kalau nggak mau ( berusaha ) mencontoh amalan Rasulullah sesuai pemahaman para salaf, terus mau mencontoh siapa ?
Ingat wahai saudaraku, agama ini ( Islam ) telah sempurna.
Ilmu dalam agama ini adalah ilmu dengan sanad. Bukan hasil rekayasa.
Sekadar tambahan dari saya :
Sesuai tema blog ini : ” Mari berpikir cerdas ”
Kalau bicara agama, mari berpikir cerdas dengan Al Qur’an, As Sunnah, dengan pemahaman salafush shalih, bukan berdasarkan ra’yu, hawa nafsu, dan igauan semata, apalagi mengatasnamakan pribadi, kelompok, dsb.
yang perlu di pertanyakan adalah apakah bacaan tersebut yang telah begitu beredar di masyarkat luas mempunyai landasan historis serta tradisi adat setempat, islam adalah agama yang sangat mentolerir adat tetapi sungguh pun adat yang sahih, syukron
setahu saya yang disebut bid’ah itu adalah sesuatu yang tidak ada di jaman rasul kemudian disandarkan kepadanya dan dianggap sebagai suatu ibadah, tetapi kalau orang itu melakukan sesuatu dan tidak ada larangan dari hadis atau ayat alquran kemudian tidak disandarkan kepada nabi,hukumnya MUBAH (boleh-boleh saja).
dan juga ada satu PR juga buat mas agam untuk mencari asal mula adanya bacaan shodaqallah itu, apakah hanya di indonesia saja atau sudah mendunia??? dan siapa pencetusnya?? syukron
Mas, ente salah. itu artinya Maha Benar Allah Yang Maha Agung. Bukan Maha Benar Allah dengan seluruh firmanNya. Ente juga harus belajar dulu mana hal yang bisa dianggap bid’ah mana yang bukan. jadi ente jangan cuma kasih tau artinya bid’ah itu apa, terus langsung men-judge kalo sesuatu itu bid’ah. pelajari dari orang yang ahli juga, jangn cuma membaca buku. karena bisa- bisa kita salah paham. Makasih
begini kallau saya ikut yang membolehkan saja lah..
dalil saya mudah saja kenapa dalam hadis tidak ada perintah mengucapkan Sodaqolloh hul Azim. karena hal tersebut sudah semestinya kita belajar jangan pengennya disuapin melulu. coba dalam hadis disebutkan apakah ada jika sebelum membaca Alquran diwajibkan tarik nafas dulu, atau mau belajar harus datang dulu ke guru atau jika mau duduk harus harus membengkokkan tulang lutut dulu atau dan lain sebagainya .
dalam Ahlussunah waljamaah ada yang disebut dengan Adab dan kedudukan adab lebih tinggi ketimbang ketoatan itu sendiri misal nabi pernah melarang seorang mengucapkan saidina dalam tahiyat akhir. kenapa nabi melarang seperti itu karena nabi bersikap Tawadhu. lalu di cerna oleh orang-orang Ahli adab kepada Allah dan Rosul (Ahlussunah Wal jamaah) maka pengucapan Saidina dalam solat menjadi tidak apa-apa dan tidak dihukumi haram. padahal jelas-jelas ada hadis yang melarang pengucapan tersebut dan jika didalam ilmu Ushul fiqh jelas Al Aslu nahyi lil HArom (asal pencegahan adalah haram). tidak beda seperti anda mempersilahkan kepada saya jika saya bertamu kerumah anda “jangan sungkan-sungkan anggap saja seperti rumah yang gubuk ini rumah anda sendiri” maka pembolehan seperti itu oleh saya diartikan “awas hati-hati ini rumah saya, jangan sembrono yah dirumah saya yang biasa-biasa ini”.
kembali ke permasalahan
penguapan Sodaqolloh hul azim berasal dari Doa Khotmil Quran coba saudara buka Quran anda maka dihalaman belakang ada ucapan seperti itu yang aslinya lumayan panjang. ungkapan seperti itu adalah adab yang baik. sekarang saya tanya anda maka jika anda selesai membaca Alquran ucapan yang pantas MAha BEnar Allah atau maha salah Allah. atau jika sudah membaca HAdis anda ucapkan Sodaqo Rosululloh (sungguh benar ucapan Rosulloh) atau salahlah Rosullulloh. jika anda memilih tidak membaca apa-apa hanya diam itu juga engak apa-apa cuma enggak dapat enggak dapat pahala karena membaca memuji firman Allah.
kalau anda berpikir demikian munkin anda akan membid’ahkan orang yang membaca Allah, Allah, Allah, setiap saat alasan anda karena lemahnya dalil lemah, sanadnya lemah dan lain sebagainya yang lemah akhirnya mungkin iman dan adab anda yang lemah karena masih bisa terhanyut oleh lautan Ilmu Pengetahuan yang membuat anda keblinger sendiri sehingga menjauhi diri anda sendiri dari tujuan semula yaitu Adab yang baik dan ibadah yang benar kepada Allah.
Saya harap anda segera bertauabat kepada Allah. jangan gunakan terus Logika sekali-sekali gunakan Adab yang baik KEpada-Nya.
ibaratnya gini lah. anda diberi resep masakan dari koki #1 sedunia. terus anda mencoba menambah komposisinya karena menurut anda akan membuatnya lebih afdol. suatu tindakan bodoh bukan?
MinaL AIdin BuaT seMuanyA….
ok2…Aku lg belajar buat jadi DEWsa
ThXXXXXXX…..
oia,Qjg Mandheg bwt NgoMongin Bid`ah…..CCCCWWWWAAAAPEEEEKKKKK….
BiarLah perBedaan tu tetap pada Langkahnya…..
Assalamualaikum wr. wb semua,
ijin mau lewat mas…. saya baru baca bahasan diatas n weleh-weleh seru banget pren debatnya, mana pake ada yang marah2 lagi… jadi gak sabar mo ikut nimbrung. baiklah, yang saya lihat sepertinya banyak yang gak bisa nerima kalimat shodaqollah itu bid’ah karena kata “bid’ah” itu sendiri memang menyeramkan sekali konotasinya (bukan artinya lho), mungkin rasanya seperti dihujat “kafir” oleh orang lain, sungguh2 pahit. coba bayangkan, suatu hal ibadah yang telah sangat lama dilakukan mereka, oleh bapak2 mereka bahkan guru2 mereka tiba-tiba menjadi sesuatu yang sesat dan tentunya berdosa. jelas gak bisa terima dong… akhirnya emosi yang keluar, iman dan akal sehat minggir dulu.
ingat sodara yang jadi contoh kita cuma Rasulullah, bukan ustadz, bukan guru, bukan kyai atau wali atau yang lain. mereka memang berjasa atas sampainya Al-Islam kepada kita tapi bukan pada mereka sumbernya Islam. mungkin waktu kecil dulu di pesantren atau dipengajian guru2 kalian lupa bilang “jangan contoh aku, contohlah Rasulullah!” akhirnya kalian jadi begini deh gedenya. khususnya untuk bung rayhan, kalo gak setuju kenapa mesti marah2 pake tanya gurunya bung agam segala, berilah argumen yang dalilnya jelas untuk menolaknya, jangan cuma caci maki yang keluar. tapi memang masalah hidayah cuma datang kepada mereka yang dikehendaki 4JJ I, percuma dikasih tahu tapi gak ngerti2 juga… maju terus bung agam, syiarkan kebenaran, tapi kalo anda menyimpang, awas… siksa 4JJ I sungguh pedih…
Assalamualaikum wr. wb. untuk semua peserta dan pirsawan.
Setelah semua komentar ana saring, ana punya kesimpulan sendiri yang semoga saja berguna.
1. sumber debat adalah penentuan suatu pengambilan hukum (oleh agam) yang dianggap menghina keyakinan orang lain.
2. kesulitan dari yang membolehkan pembacaan lafaz shadaka Allahul adzim adalah bagaimana agar keyakinannya dapat dijelaskan dan diterima dengan baik tanpa harus di potong dengan harga mati (bid’ah)
menyebut bid’ah suatu amalan, sama halnya menuduh pelaku amalan sebagai pelaku bid’ah, karena orang yang dituduh belum tentu tepat dikarenakan masing2 memiliki tingkat dan derajat yang saling berbeda.
sama halnya ketika kita menuduh seseorang kafir, sedang kekafiran kembali kepada yang menuduh.
kesimpulan ana.
menentukan hitam putih atas hukum halal haram segala sesuatu yang bersumber dari al-qur’an dan as-sunnah adalah mudah, ini benar atau ini salah dsb namun untuk menerima suatu adab / urf dalam hal menghargai kebiasaan yang baik (hukum positif dalam islam) adalah hal yang berbeda.
semua kembali kepada “akhlak” atau “karakter mulia” setiap individu yang sedang berdebat atau “penalaran” komprehensif yang teruji dengan lamanya jam terbang seseorang.
jika konteksnya ittiba kepada generasi penerus setelah Rasulullah saw, maka ada baiknya kita belajar akhlak juga dari para sahabat dan imam 5 mazhab. mereka semua menghargai perbedaan pendapat selama mereka berfikir bahwa perpecahan jauh lebih berbahaya daripada berdebat soal fikih atau ijtihad.
sudah disepakati bahwa lafaz tsb bukan wajib, tidak sunnah namun tidak menyalahi syariat selama “tidak ada dalil yang melarangnya”
jika semua hadits tentang “bid’ah” ana tumpahkan disini, maka segala yang baru apapun bisa ana jadikan bid’ah tanpa peduli mafsadat atau mudharat yang timbul kemudian.
mari kita kembali kepada kaidah emas imam rashid ridha, “mari kita tolong menolong dalam hal2 yang kita sepakati, mari kita saling memaafkan/menghargai perbedaan pendapat diantara kita” selama niat dan usaha tersebut masih dekat dengan al-qur’an dan sunnah rasulullah saw.
semua ada “batasan” nya, apakah kita faham hakikat “batasan”? syariat selain mengatur juga membuat “batasan” bukan?
ana contohkan mengenai qunut dalam sholat subuh? masih menjadi perbedaan pendapat sepanjang zaman.
Seharusnya, para tokoh di masa sekarang ini sudah bukan zamannya lagi melempar bola panas di tengah tubuh umat. Kalau ingin mengajarkan fiqih, ajarkan beberapa pendapat dari beberapa ulama, tapi jangan paksakan opini pribadi. Apalagi sampai mencaci dan menggelari orang lain dengan gelar-gelar yang menjijikkan.
Semoga Allah SWT membuka hati kita dan melapangkannya, agar kita dapat hidup rukun dan mesra dengan sesama umat nabi Muhammad SAW. Amin
menurut saya tidak ada salahnya dan justeru malah baik kalau membaca “sodaqollahul adzim” setelah membaca al quran, dan jangan di anggap itu wajib…lagian sepertinya tidak ada yang menganggap itu wajib, mungkin itu hanya perasaan rosyidi saja…
janganlah mempermasalahkan suatu perbuatan yang baik….yang baca “sodaqollahul adzim” setelah baca al quran tidak salah, yang tidak baca “sodaqollahul adzim” pun setelah baca al quran juga tidak salah….
usul saja ros…jangan melempar suatu permasalahan yang sebenarnya tidak pantas untuk di lemparkan….yang bilang itu bidah apakah ada dalilnya juga yang nyata2 menyebut itu bidah?…..apakah semua yang tidak disebut di hadis adalah bidah??? jangan sembarangan bro….
apakah memakai sepatu saat bekerja juga bidah?
apakah memakai HP juga bidah?
apakah mengoperasikan komputer juga bidah?
apakah nail sepeda motor, mobil, pesawat, KA juga bidah?
apakah membuat blogging juga bidah?
jangan yang aneh2 bro…
biasa sajalah jadi manusia, jangan berlebihan karena ALLAH tidak suka yang berlebihan….
setuju banget dengan bro Iskandariyah…itu pemikiran islam yang benar…sangat dewasa dan menghargai yang lain…
bro ros..ternyata anda adalah orang yang pandai, tapi ternyata harus banyak belajar lagi….
tulisan / wacana bro ros tentang hal inilah yang menurut saya adalah bidah….so stop perdebatan ini!!!!
Oh… begini toh islam itu nyatater, kok udah gak ada perlawanan lagi dari Aa Gam ?
ayoo.. Gam, aku dibelakangmu
Waaaaaah…..aku yg jelas ngga ngikut faham WAHABI yg menyamakan Allah dgn makluknya…..lihat aja tuh kitab2nya TAIMIYAH…..masa Allah dikatakan duduk atas Arsy…….dan banyak kitab2 yg membantah faham tersebut dan menyatakan bahwa pemikiran TAIMIYAH sudah masuk kedalam kafir……….nah daripada membahas yg ngga2 lebih baik WAHABI meluruskan aqidahnya aja deh………..
Weleh-weleh cape deh ngikutin perdebatan ini, kasihan dari sedari dulu orang islam dengan islam lainnya cuma debat melulu, masalah bid’ah jangan-jangan nanti ada yang bilang baca al-qur’an dengan mushaf juga bid’ah, karena dulu di jaman rosul belum ada kertas, apalagi jaman sekarang udah jaman digital. Setahu saya yang dimaksud bid’ah bukan dalam masalah furu, tetapi aqidah, contohnya mengakui adanya rosul setelah nabi Muhammad SAW, seperti pangikut ahmad mosadeqh, pengikut lia edan eh eden.
aku melu setuju sama bro iskandariyah and roni, paulus di no 85 rupanya dia cuma mau tepuk tangan and ngomporin kalau-kalau orang-orang islam pada debat.
Agama untuk diamalkan bukan untuk diperdebatkan, masing-masing punya dalil, mari kita saling hormat menghormati.
Rosyidi :Yang jadi masalah Shodaqallahul adhim itu tidak ada dalilnya. Asal mengaut apa adanya pada Al-Qur’an dan Hadis, niscaya akan terhindar dari perdebatan. Pertanyaan serupa sudah pernah aku jawab di komentar sebelumnya lengkap dengan hadis2nya.
Hidup ini tidak hitam putih akhi ros, kendaraan pun tidak cuma motor atau sepeda yang beroda dua, tapi ada mobil yang rodanya empat, selain Al-Qur’an dan Hadist, masih ada ijma dan qiyas
Terima kasih, semoga kita diberi ilmu yang berkah
Wassalam.
Cool…! A’a Agam….
Mantap deh,…
Menjalankan agama itu sejauh pemahaman, kalo yang ngga paham juga, silahkan jalankan sesuai yang dipahami,
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”
(QS. Al Israa 17)
kalo masih belum tau hukum kalo mengucapkan Shodaqallahul adhim, seperti yang disampaikan Agam, silakan pake, tentu balasannya buat yang mengerjakan.
So, ngga perlu membantah Agam, dalam hal ini Agam hanya menyampaikan dan terserah orang yang menerimanya atau menolak.
Disinilah letak keindahan Islam, betapa toleransinya menyikapi perbedaan.
Dalam lain hal kalo membaca artikel Agam silahkan cek sendiri tentang status hukumnya, pelajari dan dalami serta amalkan. Kebanyakan dari kita hanya menerima tanpa mempelajari, setelah timbul keragu-raguan di hati, jarang ada yang mengecek kebenarannya, maen hantam yg bikin artikel. Coba tanya diri sendiri, sudahkah anda mempelajari ttg hukum Shodaqallahul adhim ini? kalo udah coba bantah Agam dengan dalil, bukan dari pemikiran logika atau akal.
Agama Islam ini dari Allah, kalo semata-mata bisa dicerna akal berarti siapa aja bisa bikin agama.
Sebagai orang muslim apa-apa yang diterima dari sisi Allah dan RasulNya jawabannya ‘Saya patuh dan saya ikuti’. Sekalai lagi, Agam hanya menyampaikan.
Allahu’alam bishowab
wassalam
saya percaya akan dalil ilmu usul fikih yaitu adanya bid’ah hasanah
Menurut aku kenapa kita terlalu mempermasalahkan Shadaqallahul Adzim. Yang perlu kita permasalahkan mengapa dizaman sekarang banyak orang yang mengaku islam tapi tidak dapat membaca alquran. Bahkan sholat pun jarang. Okelah kita mau membenarkan ajaran tapi kenapa kita terlalu mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya bermaksud baik. Permasalahkanlah sesuatu yang berjalan dengan tidak semestinya. Ini makinmembuat bingung bagi umat islam mana yang benar dan mana yang salah padahal dua duanya bertujuan baik. jangan sampai islam terpecah hanya karena membenarkan sesuatu yang berjalan baik. Melihat opini opini mas rosyidi anda menggangap oponi anda yang paling benar. Tapi apakah andapernah mengalami hidup bersama Rasullullah. Hingga seakan akan opini anda yang paling benar. Katanya Allah maha pemurah pastilah yang bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk hanyalah Allah SWT. Yang paling penting kita bisa beribadah dengan baik. Masalah apakah masuk surga atau nerak aitu urusan Allah SWT.
Allah menilai dari niat kita. Bila cara kita salah, semoga Allah memaafkan kita, karena yang benar dan Maha Benar cuma Allah, Al-Haqq.
Melarang membaca shadaqallah juga sama bid’ah nya karena di hadis2 di atas tidak ada kata MELARANG.
Buat yang ingin menbaca silahkan ters membaca, yang tidak juga ya silahkan, tujukan saja niatnya Lillahi ta’ala.
Salam
http://www.majelisrasulullah.org === bagus banget nih buat Taklim via Internet.
Allah menilai dari niat kita. Bila cara kita salah, semoga Allah memaafkan kita, karena yang benar dan Maha Benar cuma Allah, Al-Haqq.
Membaca shadaqallah itu adalah adab (good manners) dalam membaca al-quran. Jadi buat yang sudah terbiasa membacanya, lillahi ta’ala, silahkan di teruskan saja, jangan dipaksakan berhenti.
Mungkin mas, judulnya bisa ditambahkan/di koreksi: “WAJIB Ucapan “Shodaqollahul Adhim” Quran Bidah” karena memang tidak ada kewajibannya…dan juga tidak ada larangannya
Semoga kita semua lebih berhati-hati dalam membid’ahkan, mengharamkan, menghalalkan, terlebih-lebih mengkafirkan sesuatu, karena sesungguhnya…sesama umat muslim adalah bersaudara.
Yang kita semua kejar sama, Ridho Allah.
Semoga Allah meridhoi semua usaha kita dalam menempuh jalanNya. Amin.
betul apa yang dikemukakan Mas Rosyidi tentang itu, ibadah yang sifatnya diada-adakan adalah Bid’ah yang sesat, Bid’ah tempatnya adalah neraka, boleh cek tentang hadits2 yang menerangkan tentang bid’ah, mungkin orang orang yang membantah belum tau ilmunya tentang bid’ah, jadi malah jadi gak karuan……mari kita belajar terus agar lebih siiip…………….semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke dalam jalannya yang benar..Amiiin
Saya sependapat dengan Agam bahwa semua itu harus ada Dalil atau sumber-nya yg jelas,yang bersumber langsung dari AL-QURAN dan SUNNAH ROSULLOLLAH apalagi dengan perkara Ibadah yang langsung kepada Allah.. dan aku meyakini ALLAH Maha Mengetahui atas Segala Sesuatu yg kita perselisihkan selama ini… mudah2an Allah senantiasa memberikan hidayahnya kepada kita semua dan smoga Allah memberikan petunjuk kebenaran dan menjauhkan kita dari kebatilan…..
untuk Agam kebenaran itu semua pastinya akan menang disisi Allah.. yakinlah…. dan truslah berjuang untuk agama Allah yang benar
saya mau tanya sedikit, karena ilmu saya sangat dangkal.
Kalo’ ucapan “Shadaqallahul Adzim” dijadikan wajib setelah membaca Al-Quran, saya setuju dengan Rosidi.
Tapi kalo’ ucapan tersebut diucapkan sebagai dzikir (bukan dari kewajiban baca Al-Quran), boleh ngga ya?
assalamu’alaikum
saya mau tanya apakah semua muslim itu yang sedari dulu hingga kini itu akan masuk neraka karena mengucapkan Shodaqollahul Adhim? setelah saya telusuri bincang2 ini Imam syafei mengucapkan Shodaqollahul Adhim, apakah beliau juga akan masuk neraka?
anda katakan bahwa setiap bi’dah itu sesat, sahat nabi Umar bn khattab r.a pernah mengatakan “ini adalah bid’ah yang baik” berarti beliau sadar dengan kata2nya telah melakukan bid’ah, sahabat Nabi utsman telah melakukan bi’ah yaitu dengan menyelenggaraakan adzan jum;at 2 kali, tersesatkah beliau dan apakah tempat beliau di neraka?
sekian pertanyaan saya, semoga ALLAH SWT selalu memberikan rahmatnya kepada kita semua yang dengan itu ALLAH SWT mengampuni kita … amin
saya sangat senang membaca situs ini karena bisa memperdalam ilmu Agma Isalam saya. tapi saya masih kesulitan dalam menjelajahi situs ini. tolong ya ajarin lewat email saya. please…….. yah
assalamu’alaikum…
anda belum menjawab apakah sayidan Utsman r.a termasuk sesat atu tidak, apakah orang2 yang sedari dulu membaca Shadaqallahul adhim semuanya sesat….?
anda katakan bahwa kita tidak boleh taqlid, tapi anda sendiri sangat taqlid buta terhadap fatwa kontroversial ini, yang saya tahu bahwa fatwa itu di keluarkan oleh mufti arab saudi. apah fatwa ini telah melalui ijma seluruh ulama sedunia?
tahukah anda fatwa yang anda bawa ke ranah indonesia ini telah menimbulkan perpecahan di kalangan umat, anda sungguh tidak bijaksana mengenai hal ini, mengapa tidak dibawa ke dewan fatwa majelis ulama, dan dilakukan ijma atas fatwa tersebut. anda membawa fatwa ini dan menyebarkannya dengan secara tidak formal, sungguh anda bukanlah orang arif dan bijaksana. saya harap anda menarik fatwa ini sebelum meluas perpecahan umat ini sebelum ada kesepakatan ulama dunia umumnya atau indonesia khususnya. atau memang anda menginginkan agar umat ini terus berada dalam perpecahan dan yang akan membawa kepada kehancuran islam. saya mendoa’ kepada ALLAH YANG MAHA ADIL agar bangsa ini terhindar dari perpecahan akibat orang2 yang tidak bertanggung jawab… amin
Katakanlah, “Shadaqallah” dan ikutilah millah Ibrahim yang lurus (QS. Ali Imrah: 95)
Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.(QS. Al-Ahzab: 22)
Ayat ayat ini tegas memerintahkan kita untuk mengucapkan lafadz itu, sehingga menurut pendapat yang kedua, tidak pada tempatnya untuk melarang para pembaca Al-Quran untuk mengucapkannya.
Di antara para ulama yang mendukung pengucapan lafadz shadaqallahul ‘adzhiem selepas membaca ayat Al-Quran adalah Al-Imam Al-Qurthubi. Beliau menuliskan dalam kitab tafsir fenomenalnya, Al-Jami’ li Ahkamil Quran bahwa Al-Imam At-Tirmizy mengatakan tentang adab membaca Al-Quran. Salah satunya adalah pada saat selesai membaca Al-Quran, dianjurkan untuk mengucapakan lafadz shadaqallahul a’dzhim atau lafadz lainnya yang semakna.
Pada jilid 1 halaman 27 disebutkan bahwa di antara bentuk penghormatan kita kepada Al-Quran adalah membenarkan firman Allah S
WT dan mempersaksikan kebenaranya dari Rasulullah SAW. Misalnya ucapan berikut ini:
shaqadallahul ‘adzhim wa ballagha rasuluhul karim, artinya: Maha benar Allah yang Maha Agung dan Rasul-Nya yang mulia telah menyampaikannya.
Dalam kitab Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil Arba’ah, terbitan Kementrian Mesir, telah disebutkan pendapat para ulama mazhab.
1. Al-Hanafiyah
Mazhab ini mengatakan apabila seorang shalat dan mengucapkan tasbih seperti shadaqallahul ‘adzhim setelah selesai dari membaca Quran, maka shalatnya tidak batal.
Namun mereka mensyaratkan bahwa hal itu dilakukan dengan niat bahwa tujuannya sekedar memuji, dzikir atau tilawah.
2. Mazhab Asy-Syafi’iyah
Mazhab ini sama dengan mazhab Al-Hanafiyah, bahwa siapa pun orang yang shalat lalu mengucapkan lafadz shadaqallahul ‘adzhim, tidak batal shalatnya. Bahkan tanpa mensyaratkan apa pun.
[1] nama salafiyah adalah bentuk hizbiyah dan bid’ah karena salafi dimasa kini hasil upgrade dari faham neo-wahabi yang dibentuk pada abad 19 masehi oleh kerajaan inggris yang membackup kerajaan saudi arabia.
[2] salafiyun hanya berkutat pada masalah parsial (juz), melalaikan masalah secara komprehensif dan masalah mendasar.
[3] dakwah salafiyah menyepelekan politik bahkan tidak sama sekali.
[4] bodoh terhadap waqi’ (realita umat) dan tidak acuh dengan perkara umat ini.
[5] salafiyun mencari muka dihadapan pemerintah dan tidak berbicara dengan kebenaran
[6] melalaikan jihad fii sabilillah
7] tidak mempunyai program ke depan yang jelas dan program perbaikan secara komprehensif
[8] dakwah salafiyah, dakwah pemecah belah ummat dan pemantik fitnah
segala urusan dikembalikan kepada ALLAH SWT, dan Rasullaah SAW.
Apakah Shadaqallah adalah perkataan yang baru (bid’ah), padahal kalimat itu terdapat di dalam al-qur’an al-karim?
Dalam hal bahwa kalimat itu tak ditemukan di dalam hadist nabi, maka kembalikanlah kepada ALLAH SWT yaitu Al-Qur’an al-karim,
apakah anda mengingkari firman2 ALLAH SWT?
dalam ayat 95 surah Ali Imran, berfirman ALLAH SWT: KATAKANLAH, “Shadaqallah” dan ikutilah millah Ibrahim yang lurus (QS. Ali Imrah: 95).
Di sini ALLAH SWT memerintahkan ucapan tersebut (Shadaqallah).
Bila telah diperintahkan oleh ALLAH SWT sendiri maka hukumnya menjadi wajib.
Maka tempat yang tepat untuk mengucapkan “Shadaqallah” (maha benar ALLAH dengan segala firman-NYA) setelah kita mendengar firman-NYA atau setelah mengetahui akan firman-NYA atau setelah membaca firman-NYA, yaitulah AL-QUR’AN AL-KARIM
Awan Berlafal Allah Hebohkan Tablig Akbar Maulid di Monas
Ditulis oleh Redaksi
Thursday, 20 March 2008
Tabligh Akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan di Monas Kamis siang (20/3) sempat dihebohkan oleh munculnya awan bertuliskan lafadh Allah tepat diatas lokasi pengunjung.
Fenomena ini membuat sebagian peserta yang membawa kamera tak mensia-siakan kesempatan langka ini. Langit cerah namun tidak panas cukup membantu puluhan ribu massa yang mengikuti kegiatan bertema Jadikan Sayyidina Muhammad Sebagai Idola Pemuda dan Pemudi Masa Kini yang digagas oleh Majelis Rasulullah pimpinan Habib Munzir Al Musawwa. Hadir juga dalam acara ini Rais Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin.
Banyak jamaah yang menggunakan jaket hitam dengan tulisan dan simbol Majelis Rasulullah. Sebagian peserta tabligh akbar dari Jabodetabek dan Jawa Barat. Namun ada juga yang berasal Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan bahkan juga dari Malaysia .
Selain ceramah, bacaan sholawat untuk memuji rasulullah juga berkumandang di panggung yang terletak di sisi selatan tugu monas. Sebuah pagar menjadi pembatas antara jamaah laki-laki dan perempuan.
(mkf)
ini membuktikan bahwa allah swt telah memberkati perayaan maulid nabi dan telah berkenan kepada mereka hadir.
http://www.buntetpesantren.org
I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
III. Bid’ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
apakah sakit yang paling sakit dalam dunia mengikut turutan dalam Al-Quran..?
ya2..sakit same meaning with sick..so i want to ask what the sick of the sick,that i know ’sakit gigi’ have the first in chart of sick after sick to die(sakit hendak mati)..yg paling sakit skli..boleh tahu kebenarannya..?
menurut ana sih jangan dulu bilang bid’ah dst. lebih baik husnuzzhan
gak mungkin para ulama melakukan itu kalo tanpa dasar. beliu2 juga pasti berdasarkan qu’an dan hadist.
masih banyak hal lain yang lebih penting kita pelajari dan amati ketimbang ngurusi sodaqollahul’azhim. yang belum bisa baca qu’an dan belum memahami artinya masih banyak. dan itu lebih penting
salam silaturrahmi dari saudara se iman
Mas agam, saya masih bingung nih…di katanya ngucapin ” Shodaqollahul adhim ” Bid’ah tapi di komentar anda no. 25 “Sedangakan mengucapkan Shodaqallahul adzim sendiri boleh asal hanya diucapkan sesekali”, jadi yg bener yg mana nih ?
Oh gitu ya mas,
jadi pengertiannya… kalo sekali2 itu gak bid’ah, tapi kalo setiap kali adalah bid’ah ?
hhhhmmm…. ic
thanks mas agam
Mas Agam, kalo boleh usul judulnya diganti aja mas ” Mensunahkan ucapan shodaqollahul Adhim adalah bidah”
Bissmillaahirrahmaanirrahiim
Subhanallaah Walhamdulillaah
Allaahlah yang menggerakan tangan serta lisan dan pemikiran manusia menuju IlmuNya.
Terimakasih banyak Atas Artikelnya, Saya sempat ragu ketika mengakhiri bacaan Al-Qur`an tanpa bacaan pelengkap itu, akan tetapi InsyaAllaah saya yakin dan tidak akan Ragu lagi…
Saya belum sempat untuk melihat Artikel lainnya, semoga Allaah memberi kesempatan pula untuk itu.
Sebenarnya ada beberapa paham yang dianggap jauh daripada kebenaran akan tetapi sudah menjadi umum sekarang, seperti perintah Shalat pada Waktu Mi`raj, Sejarah Umar Bin Khattab serta hal-hal lainnya. Allaahu`alam.
Entah apakah datangnya Ilmu yang baru ini sebagai kebenaran atau sebagai apa.. akan tetapi sesungguhnya mari kita berdoa semoga Allaah Menjaga kita serta menampakan kebenaran atas ilmu-ilmu yang kita terima. Amiin
Best Regards
Cecep Iman Ardiansyah
Hal yang BAIK wajib dilakukan dengan cara yang BAIK dan BENAR dan itu memang resiko,tidak boleh dilakukan dengan cara serampangan (untuk itulah perlu tuntunan), bahkan kejahatan yg dilakukan secara serampangan pun akan mendapatkan kegagalan.
Harus bisa membedakan dan membiasakan diri untuk tahu antara kebiasaan, adat dan tuntunan. Hal yang benar dan haq perlu dilakukan secara tegas dan lurus. Peng-obey-an awal dari penyimpangan seperti halnya yg terjadi dimasa lalu dan kini, bisa jadi penyimpangan yang turun menurun dianggap menjadi kebenaran.
Rosululloh jg tidak membolehkan kt taqlid, kewajiban kita untuk selalu belajar menuju ketauhidan. Ketidak taqlid-an Nabi Ibrohim AS mengantakan beliau menuju kepada ketahuidan, begitu pula dengan Junjungan Kita Rosululloh SAW.
Mendengar,membaca,.. dari ulama/yg lainya adalah cara, tapi bukan sebagai pembenaran atas sesuatu setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan tanggungjawab thd apa yg dipikulnya sebagai manusia yg dilahirkan ke dunia, kembalikan semuanya pada Al Qur’an & Al Hadits.
Kembalikan semua pada Allah SWT, karena pada-Nya lah kita kembali.
bid’ah kalau menyengaja menjadi sebuah ibadah yang baru ya?
Karena berdzikir dan berdoa setelah tilawah itu diperbolehkan ya divariasikan saja dengan ucapan2 yang lain. Bahkan Rasulullah saw pun kalau shalat tahajud, bertasbih saat bertemu ayat yang memuji Allah dan memohon perlindungan saat bertemu ayat adzab.
khawatir jadi wajib ga lantas membid’ahkan/mengharamkan dunks.
Cuma memang kalau tilawah2 resmi di acara2 seperti sudah menjadi kelaziman tektualnya seperti itu. Ya ini yang riskan, orang yang tidak paham akan menganggap hal tersebut adalah ibadah yang “spesifik” dan disunnahkan Rasulullah saw. Tugas kita disana adalah memberi pemahaman kepada ummat akan kaidah2 penting agama, tidak dengan membid’ahkan secara general. Hukumilah kasus perkasus karena nyatanya tidak ada nash yang melarang maupun memerintahkan secara spesifik hal tersebut.
Barokallohufiik, semoga bermanfaat ya akhi
Assalamualiakum warahmatullahi wabarakatuh
dari awal ampe akhir kelihatannya debatnya ngak abis-abis
untuk semua yang penting kita hidup bepedoman pada Al-Qur’an dan hadist (tetunya yang diajarkan oleh rosul Allah)
Dan kita harus bisa menerima kalo ada yang lebih baik (berdasarkan dalil yang baik dan benar)dari yang pernah kita pelajari dan itu tidak bertentangan dengan Al-quran dan sunnah rasul sebagai orang yang beriman kita harusnya mampu dan bebesar hati untuk menerima kebaikan itu. Pada dasarnya semua rekan rekan benar tapi kitapun harus bisa melihat kebenaran yang sesunguhnya….(kebenaran yang datangnya dari ALLAH)
Wassalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh
hebatnya ustadz2 sekarang baru belajar agama beberapa tahun saja dengan mudahnya mengeluarkan “fatwa” bid’ah. terhadap suatu amal.
sedangkan ulama-ulama dahulu yang ilmunya sangat luas dan amalnya sangat banyak, sebelum mengeluarkan suatu fatwa mereka mengkajinya selama bertahun-tahun dan memohon kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk agar tidak tersesat dalam mengeluarkan fatwa.
Rasulullah saw kalau membaca Al-Qur’an tidak pernah membuka Al-Qur’an
Assalamualaikum wr wb
Subhanallah, blog yang sangat bagus sekali!!
saya dulu salah satu pengurus humas (namanya HAI) di Badan Pengkajian Islam FKG UI, meskipun sudah off karena menjelang klinik, tapi saya masih sangat concern.
saya sempat lihat ada link SKI BEM FKG UNAIR,kalau boleh usul, apa berkenan nanti melihat dan tukar pikiran di blog BPI FKG UI: bpifkgui.blogspot.com
saya rasa akan bagus skali dan saya harap bisa saling belajar juga tukar2 ide& tulisan.
salam kenal dan terimakasih atas kerjasamanya
oh begitu, sayang juga.. padahal sudah begitu kreatif..
ya, kalau nanti sudah ada yang baru tolong diberi tahu saja biar nanti saya sampaikan ke teman2.
tapi tawaran ini gak terbatas ke SKI BEM FKG UNAIR saja, tukeran link ke blog Anda juga pastinya.
maaf comment ini agak2 gak nyambung sama topik, kemarin saya baru lihat ada tempat tersendiri utk tukeran link..
(maklum, pembaca baru agak2 kagok dgn desainnya,lagipula kalau ditunda2 takut lupa)
semoga berkenan..
teruslah berkarya!!
Pantas saat sholat setelah membaca Al Fatihah lalu membaca surah pendek tidak ditutup dengan ” sodaqollahul-adzim “
Ucapan ” Maha Benar Tuhan dengan segala FirmanNya.”
Yaaa , yang benar itu FIRMAN-Nya, bukan tafsirnya, sebab tafsir bisa menyimpang, baca at Tabah Q.S. 9: 32. dan oraang-orang yang merasa sudah benar mendapat petunjuk… padahal dari Setan az Zukhruf Q.S. 43: 37. Jadi ucapan “shadalakalloohul adziim” boleh saja. Sebab yang dimaksud ialah bahwa FIRMAN ALLAH adalah BENAQR, Firman-Mu adalah KEBENARAN Dan..lho baca s az Zukhruf Q.S. 43: 78 mengapa kaumnya Nabi malah BENCI pada KEBENAARAN ? Bahkan sudah bersekutu dengan AZAB Q.S. 43: 39. Bgaimanato ini?
Jangann membiasakanmencari-cari perkara yang sebenarnya tidak PENTING untuk kemaslahatan umat manusia. Ketahuilah sejarah, riwayat, kitab-kitab suci samawi. Kalau sudah jatuh dutangan penguasa, rejim, yang disinyalir Allah di s. al A’raaf Q.S. 7: 27. disna diolah bersaama dengan setan-setan untuk jmenipu, membohongi umat manusia yang pada dasarnyaa memang amatBODOH, bengis dan suka LATAH.
Sanpai sekarang rakyat jelata itu seperti orang-orangan yang berotak LEMPUNG (tanah liat, bahkan lumpur.), mereka tidak tahu kekuatannya sendiri, kecuali dijadikan ROBOT oleh para Pemangku Kekuasaan dimuka bumi. Walau ada firman di s an Niisa Q.S. 4 :59. Allah mengingatkan di s. asy Syu’araa Q.S. 26: 151. supaya umat jangan nurut saja sperti kerbau dicucuk-hidung. Masya’allaaah. Sampa sekarang kok masih diprsaktekkan olej para Penguasa ngemu ROBOTISME.
Nabi baru memang tidak perlu ada lagi, sebab Nabi Muhammad adalah “penutup” para Nabi, tetapi TOKOH pemimpin yang nikin umat manusia hidup sejahtera , aman, damai dan dalam keadilan yang benar masih diperlukan. Dan itu sudah di Firmankan Allah di s. al A’raaf Q.S. 7: 159, 181. sedang para pendusta akan ditarik berangsur-angsur dari muka bumi sampai habis. ayar 182, 183. Kaji al Quran dengan tertib, tuntas, jangan cuma dihafal saja. Cara yang begitu adalah suruhan para penguasa di Q.S. 7: 27. Sadar dan insyafl;ah wahai rakyat jelata yang sellama ini hidup selalu tertindas dan dipermainkan oleh para PENGUASA. Hayo fahami serian Nabi Muhammad di s. az Zumar Q.S. 39: 39. Begitu lhoo, supaya kita majuuuuu dan masuk surga. dengan ridho Allah. Amiin.
klo ribut mulu kyk bgini…kapan ibadah nya mas??? wkwkwkwkwkwkkwkkwkwkkw
baca Al-quran yg sekrang juga bid’ah tuh…Rasulullah kan ngga pernah baca Qur’an dalam bentuk yg sekarang…..
truss tadarusan sama Jibril…..emang tadarusan nya kyk skrg??? duduk depan2an truss baca bareng2?
Semoga Allah membukakan mata hati kalian wahai para wahabbi….
coba baca lagi ayat yg pertama turun dari qur’an…..apa?? disuruh baca kan…….apa yg dibaca??? orang ayat pertama dr Qur’an….
hah…..capeee dehh…ini itu bid’ah……skalian pergi haji jgn naek pesawat…….naek onta sono….wkwkwkwkkwkwkwkwkw