Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai rujukan setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin. Allah berfirman, “Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An Nisa : 65). Telah dipahami bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk suatu urusan yang sia-sia, tetapi untuk satu tujuan agung yang kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah kepadaNya. Kemudian tidak hanya itu saja, tetapi Allah juga mengutus rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan memberikan hidayah. Allah berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS An Nahl : 64). Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman,” …Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni´matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3). Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia telah berdusta !” (HR. Bukhori&Muslim).
Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni´matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3). Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia telah berdusta !” (HR. Bukhori&Muslim). Berkata Ibnu Majisyun, “Aku telah mendengar Malik berkata, “Barang siapa yang membuat bid´ah (perkara baru dalam Islam), kemudian menganggapnya baik, maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad telah menghianati risalah, karena Allah telah berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan unutukmu agamamu…” (QS Al Maidah : 3). Kaum muslimin, sahabat Ibnu Mas´ud telah berkata, “Ikutilah, dan jangan kalian membuat perkara baru !”. Suatu peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah-nambah sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama. Banyak ide atau atau anggapan-anggapan baik dalam agama yang tidak ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan pahala, tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang atas syariat yang telah dibawa oleh rasulullah, dan bahkan yang demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. Seperti perkataan Iman Syafi´i, “Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama sungguh ia telah membuat syariat baru.” Ucapan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin. Dari anak kecil sampai orang tua , pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. Ada apa memangnya dengan kalimat itu ?
Kaum muslimin, mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah bid´ah, perhatikanlah dalil-dalil berikut ini.
1. Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits Abdullah bin Mas´ud berkata, “Berkata Nabi kepadaku, “Bacakanlah padaku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?” beliau menjawab, “ya”. Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An Nisa : 41) beliau berkata, “cukup”. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca.” Sahabat Ibnu Mas´ud dalam hadits ini tidak menyatakan “sodaqollahul adzim” setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan “sodaqollahul adzim”, beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas´ud “cukup”.
2. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata, “Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan, sampai saat Jibril menemuinya -Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya”.
3. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. 799 dari hadits Anas bin Malik r.a, “Nabi berkata kepada Ubay, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab” (”Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)…”) (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , “menyebutku ?” Nabi menjawab, “ya”, maka Ubay pun menangis”.
4. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits Raafi´ bin Al Ma´la r.a. bahwa Nabi bersabda, “Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid ?” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, “Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab´ul Matsaani dan Al Quranul Adzim yang telah diberikan kepadaku.”
5. Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, “Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya -yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni, “tabaarokalladzii biyadihil mulk” (”Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan…”) (QS Al Mulk : 1).
6. Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro´ bin ‘Ajib berkata, “Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan “attiini waz zaituun” , aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya”.
7. Diriwatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu´man berkata, “Aku tidak mengetahui/hafal “qaaf wal qur´aanil majiid” kecuali dari lisan rasulullah, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat”.
Dari ketujuh dalil yang telah kami sampaikan diatas, tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa Nabi mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca ayat Al-Qur´an. Sebenarnya jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin, tak ada satu orangpun dari mereka yang mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya, maka akan sangat banyak dan panjang. Namun cukuplah apa yang kami nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya adalah bid´ah (perkara yang baru) yang tidak pernah ada dan di dahului oleh genersi pertama. Satu hal lagi yang perlu dan penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan “sodaqollahul adzim” setelah qiroatul Quran adalah bid´ah, namun kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya, Allah berfirman, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran….”(Q.S Az Zumar :39).
Ucapan Shodaqollahul adzim adalah baik. Kita boleh saja mengucapkannya, namun menganggapnya suatu sunnah ataupun suatu kewajiban yang harus dilakukan setelah membaca Al-Qur’an sama sekali tidak berdasar. Jika kita sesekali mengucapkannya tidaklah mengapa, tapi kalau setiap selesai membaca Al-Qur’an melakukannya, patut dipertanyakan. Analoginya seperti ini. Andaikata sebelum kita sholat joget dulu, tidak ada yang melarang dan sholatnya sah. Tapi kalau setiap kali hendak sholat selalu joget dulu, ini yang harus dipertanyakan, kenapa? Bisa jadi dia telah menganggap joget tersebut suatu sunnah apalagi suatu kewajiban.
Sedangkan yang dilakukan kebanyakan orang, sudah mengarah kepada kewajiban. Banyak yang tidak tau dalil2nya. Dan hanya asal mengiyakan kata ustad atau kyai mereka tanapa tau dalil-dalilnya. Kita beribadah karena ada perintah, dan penjelasan perintah tersebut sudah terdapat lengkap di Al-Quran dan hadis, jangan ditambah atau dikurang-kurangi sedikitpun. Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan As-Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.
Disederhanakan dan diedit oleh : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/sodaqollahul-adzim-bukan-penutup-bacaan-al-quran/
Sumber: “Kaifa Yajibu ´Alaina An-Nufassirol Qur´an” FDAWJ
Ditulis oleh Ustadz Abu Hamzah Al-Atsary
Tulisan ini dimuat juga dalam Majalah SKI BEM FKG UNAIR
Related Posts

June 9th, 2007 at 11:51
syukron , nice artikel kang
Tapi apa gak disertakan juga alasan - alasan kenapa sebagian orang membaca nya ketika sampai di akhir ayat?
Dulu aye juga baca kaya gitu, sekarang berhati - hati deh.
suhun.
June 9th, 2007 at 12:34
pantesan, suami saya ga pernah melafadhkan itu setelah tilawah… udah dijelasin kalo memang ga diajarkan rasul. tp dasar saya yg bandel…
June 10th, 2007 at 1:57
agam…. baru tau… mksiy bnyak wacananya…. jd, klo slesai bc alqur’an ywdah gtu aja ya.. i mean, klo brenti ya brenti aja?
June 10th, 2007 at 8:27
Sebelumnya minta maaf. Sejauh yang saya pernah dengar, dalam al-Qur’an sendiri Allah berfirman. ??? ???? ?? ???? ????, di surat ali Imran juga disebutkan ?? ??? ????. Kiranya ayat2 sejenis itu menjadi dasar yang dipakai orang yang berkata shadaqallahul adzim. Allah sendiri juga mensifati diriNya dengan perkataan Ashdaq. Dan kalimat itu berupa pujian kepada Allah, baik dan tidak bertentangan dengan do’a ma’tsur lainnya. Gimana mas? terima kasih sebelumnya.
June 10th, 2007 at 8:28
btw, gravatarnya kok juga error?
June 10th, 2007 at 11:54
makasiy y gam…
mkasiy jg dah share ilmu di website ini… jd lebih tau banyak…
June 10th, 2007 at 12:49
Mmm, saya pernah dengar hal ini ..
Hanya, kalau berbicara bid’ah, maka banyak hal yang sebenarnya juga bid’ah, termasuk pembukuan Al-Qur’an itu sendiri … apa ada Rasul mengajarkannya?
Hanya kembali lagi, menurut saya, selama apa yang tidak dilakukan semasa Rasul dan ada dilakukan setelah masa Beliau tetapi tidak mengurangi apalagi bertentangan dengan nilai-nilai ke-Islam-an, insya Allah, Allah maha mengetahuinya.
June 11th, 2007 at 4:35
Terima kasih. Okay, saya sangat setuju dengan alasan bahwa pelarangan membaca ’shadaqallhul’adzim’ itu dilarang karena takut dianggap sebagai suatu kewajiban, itu benar. Seperti juga ketika kita bersalaman setelah sholat ashar maupun subuh. Itu juga tidak boleh, jika kemudian dianggap sebagai salah satu kewajiban yang jika ditinggalkan, sholatnya jadi nggak sah. jika begitu, maka alasannya jelas. Karena itu, jika alasan tadi tidak ada, maka hukum tersebut juga tidak ada. Karena hukum sesuatu itu bergantung atas ada atau tidaknya motivasi/sebab dari adanya hukum (illat).
Terus juga, coba mas cek salah satu hadis riwayat dari Abi Tsa’labah bin Nasyir bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kewajiban kepadamu, maka janganlah kamu meninggalkannya. dan Allah telah memberi batasan2 kepadamu, maka janganlah kamu melanggarnya, dan Allah juga ‘mendiamkan’ sesuatu, sebagai rahmat atas kamu, tanpa Ia melupakannya, maka janganlah kalian mencari-cari hukumnya (dengan bertanya2 atas hukumnya, karena bisa jadi ini justru akan membuat mempersempit ruang seseorang dan menjadi tidak leluasa, pen.) “. Hadis ini hasan diriwayatkan oleh Imam Daar al-quthny.
Hadis tersebut bisa mas temukan di kumpulan hadis arba’in an-nawawiyyah karya Imam an-Nawawiy. Dalam kaitannya dengan hal ini, Dr Yusuf Qaradhawiy menyebut hal-hal itu sebagai masalah yang masuk dalam wilayah maskut ‘anhu (Allah tidak menyebutkan hukumnya, namun juga tidak lupa akan hal itu, tetepi semata2 untuk memberi keluasan kepada manusia itu sendiri). Atau istilah beliau-nya adalah ‘mantiqah al-’afwi’ (daerah yang dimaafkan). Jika tidak demikian, maka saya setuju dengan mas Riyogarta, bahwa kita akan ‘terkekang’ dan akan banyak berbenturan dengan hal-hal yang dianggap bid’ah lainnya, yang akhirnya mengesankan bahwa Islam itu tidak lues bahkan terkesan saklek.
Terakhir ana kira kita tetap hati-hati dalam mengatakan ini halal atau haram. Karena bisa jadi hal-hal tersebut masuk dalam permasalahan yang disebut sebagai perkaran maskut ‘anhu, seperti yang saya singgung di atas. Dan jika kita fikirkan, sebenarnya posisi seseorang yang mengharamkan sesuatu (yang maskut ‘anhu), sama saja dengan mereka yang menghalalkan sesuatu yang jelas haram. Di sini sebenarnya perlu kita renungkan.
Ohya, ada baiknya jika saya sebutkan ayat al-Qur’an surat an-Nahl ayat 116, yang artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” Maaf jika terlalu panjang. Terima kasih mas…
Tambahan untuk mas Riyogarta, setahu saya, alasan yang lebih utama tidak dibukukannya al-Qur’an ketika itu, adalah kehawatiran akan bercampurnya al-Qur’an dengan Hadis. Kemudian, ide penulisan al-Qur’an itu sendiri timbul karena banyaknya para huffadz (para sahabat yang hafal al-Qur’an) meninggal dunia, dan berkurangnya jumlah mereka karena peperangan. tengkyu.
June 11th, 2007 at 9:48
‘takut dianggap sebagai kewajiban’ kalimatnya emnoer itu perlu dicatet (aku copy aja sekalian tulisannya ya! sekalian minta izin nih).
perkara yg ‘aneh2′ zaman sekarang mulanya emang dari ‘kebiasaan yg disakralkan’.
tapi aku juga rada ‘risih’ kalo dengan mudahnya kita bilang ‘itu bid’ah’… apalagi ke orang yg baru kenal islam, kesannya agak saklek ya! mungkin bisa pake bhs yg lebih bisa diterima? tapi apa ya.. islam kalo udah menentukan hukum ya sifatnya mutlak.
June 11th, 2007 at 11:53
wah, ternyata bid’ah, tho? ya udah deh, besok2 blajar gak mbaca shadaqallahulazhiim lagi..
makasi banyak, gam, atas artikel-nya, very very good-lah
June 11th, 2007 at 12:08
Mas aku nyoba doang
June 11th, 2007 at 20:39
Wah, mas to’im the shinigami, sebenarnya nggak harus gitu kok. baca ’shodaqallahul ‘adzim’ sejauh yang saya tahu, bahkan merupakan ta`adduban , yaitu bagian dari adab menghormati al-Qur’an itu sendiri. Kan enak mas, kalau baca kemudian baca shadaqallahul’adzim. Coba kalo nggak, rasanya ada yang kurang sreg to? Ya, tetapi jangan dikira itu wajib. Itu saja, Okay….

June 11th, 2007 at 21:33
Wee… dpt info berharga neeh
June 11th, 2007 at 22:45
lebih baik dicari dulu siapa sumbernya ?
tapi saya pikir asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman ya saya tidak mempermasalahkan . dan ini sudah sangat umum dan membudaya dimasyarakat kita (Indonesia). Ini tidak wajib , tapi apa memang patut disalahkan jika niat kita memang melakukan lebih untuk memuji dan mengagungkan ALLAH ?
June 12th, 2007 at 4:46
Makasih mas. Tadi malam masih baca shadaqallahulazhiim. Mulai nanti malam gak baca lagi deh.
June 12th, 2007 at 5:18
loh.. sodaqollahul adzim itu artinya maha benar 4JJI atas segala firmannya kan? salah ya? aku pernah liat di vcd sejarah perjuangan Rasul, para sahabat sewaktu dakwah, membacakan ayat Quran, pake sodaqollahul adzim juga..
June 12th, 2007 at 17:37
Kalau saya sih masih kukuh pada penggunaan Shadaqallahul Adzim, Pertama karena memang Al Qur’an itu firman Allah, dan yang kedua Allah kalau berfirman mesti benar dan yang ketiga biar orang-orang kafir itu tahu kalau Al-Qur’an yang paling benar.
Dan kalau memang ini bid’ah, mungkin ini termasuk bid’ah yang baik. Seperti pembukuan Al-Qur’an dan penutupan ka’bah dengan kain. Atau seperti pembuatan Al-Qur’an digital. Jadi jangan hanya karena ndak ada (belum ketemu) dalilnya trus aktifitas yang baik ditinggal begitu saja.
June 12th, 2007 at 17:42
Sepertinya kalau dasar hukum hanya Al-Qur’an dan Sunnah saja kurang tepat. Karena Rasulullah sendiri sepertinya pernah menguji sahabatnya dengan hal seperti ini. Kira-kira bunyinya seperti ini :
Apa yang menjadi dasarmu dalam menentukan keputusan. Jawab sahabat Al-Qur’an. Jika tidak ada Sunnah Rasul dan jika tidak ada … saya lupa apa istilahnya… yaitu mencari persamaannya atau yang setingkat dengannya…
June 12th, 2007 at 20:04
” setiap perkara bid’ah sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka “, …namun di sini kita perlu memperjelas makna ” bid’ah “, bid’ah yang mana di kategorikan bid’ah yang sesat.
Sholat tharawih berjamah di masjid sebenarnya Rasulluloh hanya melakukannya 3 hari saja, namun pada jaman Umar bin Khattab di biasakan sampe selama bulan ramadhan. sampe Umar ra bilang inilah bid’ah yang baik ?.
justru menurut saya bid’ah keterlaluan yg masih di kerjakan sampe sekarang adalah ” Tahlilan Kematian “, karena bid’ah yang ini mengadopsi dari peribadatan agama hindu dulu.
kalau masalah bacaan sehabis baca al-Quran, saya suka mengucapkan “Sami’na wa Atho’na…dst.” ( surat al-Baqarah ayat terakhir ).
oh ya ngomong-ngomong bos, klau pasang shout box di wp caranya gmana ? ..bagi2 dong ilmunya biar maslahat
June 13th, 2007 at 16:48
Saya setuju dengan Jalooe.
Tapi bukan berarti saya membenarkan adanya bid’ah.
Hanya saja batasan bid’ah itu yang perlu rincian lebih jelas.
Saya kira dari semua hadist yang dijabarkan, gak ada juga satupun hadist yang melarang mengucapkan shodaqollahul azhim.
Bukankah dalam ushul fiqih segala sesuatu itu boleh sampai ada dalil yang mengharamkan?
Kalo saya berpendapat, bahwa ini bukan patokan. Hanya renungan dan ajakan agar kita memperbaikni kualitas ibadah kita.
So, kita menjadi lebih berhati-hati.
Saya mau nanya nih, kalo usai baca qur’an terus baca do’a “Allahummarhamni bil qur’an. Waj’alhuli imana dst..” apakah termasuk bid’ah juga?
Terus terang, saya belum ketemu hadistnya.
Hanya saja saya lihat di bagian belakang qur’an terdapat do’a tsb.
Thank’s infonya. Jazakallahu khairan…
June 13th, 2007 at 22:29
Kenapa susah-susah….
Kalau meragukan, kalau ndak ada contohnya, ya lebih baik dihindari ndak usah dilakukan…
Kalo saya mah didahului dengan ta’awudz dan diakhiri dengan hamdalah dengan nada sirriy….
June 15th, 2007 at 18:18
lebih jelasnya mungkin begini.
ketika kita sholat membaca Al Fatihah, belum pernah saya mendengar atau diajarkan oleh siapapun untuk membaca sodaqollahul adzim.
bukankah Al Fatihah itu bacaan Al Quran, jadi benar adanya bacaan sodaqollahul adzim bukan penutup bacaan Al Quran.
June 18th, 2007 at 13:46
setelah beberapa hari yg lalu baca artikel ini…
arggghhh
, masak gak ada yg membolekan
coz, kyknya di 2 pondok sktr rumah aLe pasti ucapkan lafadz itu stlh para santrinya baca aL-Quran. Tp smntr aLe cr hadits yg membolehkan, aLe ikuti dl hadits dr km. bgmnpun, skr km lbh berdasar 
sulit ya gam, menghilangkan kebiasaan
tp aLe msh penasaran deh
June 20th, 2007 at 6:08
Sekalian test gavatar kok ga bisa2…hehehe..
Yang jelas perasaan ga’ sreg saya yang dulu pernah saya tulis itu belum tentu merupakan tanda2 bahwa saya merasa itu suatu kewajiban kok mas. Sedangkan dasar bahwa menghormati al-Qur’an itu juga bisa dengan melihat konteks hadis yang panjang lebar saya tulis di atas. Tetap saja, di sana ada maskut ‘anhu , atau mantiqah al’afwi seperti yang disinggung Dr. Yusuf al-Qaradhawy.
Jika ini adalah hasil pemahaman masing-masing, maka jelas kita tidak bisa ‘mewajibkan’ hal itu kepada orang lain. Apalagi sampai mengklaim benar dan salah dari sisi kita, tanpa mengindahkan sisi lain. However, ini diskursus yang enak kok untuk dibahas, stay cool friend….. chayoo!
June 20th, 2007 at 6:14
Ohya mas, kalo gak salah, hadis shohih juga mengatakan bahwa al-Quran merupakan sebenar2nya kalam Allah. Wa inna ashdaqal kitaabi kitaabullah…. bahkan ini pun sangat sering kita dengar.
Lantas kok kita nyebutin Shadaqallahul ‘adzim ga’ boleh, (hanya) karena nggak ada hadis yang memakai lafadz sorih yang menunjukkan pembolehannya, kan rasanya gimana gitu… se-gitu kah?
June 21st, 2007 at 2:22
kalo dihubungankannya dengan bid’ah .. berarti pake celana jeans juga bid’ah dong, dan tidak boleh menggunakannya??
padahalkan kl diliat dr unsur asal muasal celana jeans dibuat itukan dr untaian benang yg sudah jelas2 itu merupakan rahmat ALLAH.
dan kalo dikembalikan kepada pembahasan pengucapan kalimat tsb yg tidak diperbolehkan ( spt yg disebutkan sobat noer ) dan Rosul tidak pernah melakukan hal itu, waahhh .. koq jadi terkesan mempersempit ruang gerak kaum muslimin sendiri yah
maaf .. kl ketikan ane ga berkenan
June 21st, 2007 at 23:28
syukron mas agam, ini comment ana terakhir di artikel antum yang ini. antum kuat dan teguh memegangnya, terus terang saya respek! go a head brother!!!
June 22nd, 2007 at 0:31
Trims atas tambahan ilmunya, kalo saya biasanya mau ngomong bid’ah kepada orang awam tentang sesuatu hal yang benar2 bid’ah dalam ibadah rasa-rasanya terlalu kasar.. Jadi saya pakai bahasa saya sendiri, yaitu tidak ada tuntunannya baik di qur’an maupun sunnah rasul.. Termasuk pada orang terdekat di lingkungan saya.. Lebih panjang sih, tapi beberapa orang yang melakukan hal bid’ah dan terang-terangan dibilang bid’ah biasanya langsung tersinggung dan malah bisa-bisa memutus tali silaturrahim.
June 22nd, 2007 at 9:05
@agam : pengertian bid’ah itu sendiri kan menambah-nambah ibadah yang tidak ada tuntunannya baik qur’an maupun sunnah rasul, ya saya kan cuma bilang bahwa ibadah tersebut tidak ada landasan dalil yang kuat.. Saya setuju dengan pendekatan yang pelan-pelan, sebab lumayan susah; bukan berarti tidak mungkin berubah; untuk mengubah kebiasaan yang sudah turun temurun. Apalagi di kota saya ada selebaran yang isinya sebagian benar, tapi dengan cara yang salah, membuat beberapa orang kebakaran jenggot.
June 22nd, 2007 at 16:23
Ass, Makasih atas sharing ilmunya, ini akan sangat menambah ilmu / membantu muallaf seperti saya untuk lebih memahami agama yang diridhoi oleh Allah SWT, Wss
June 22nd, 2007 at 16:36
Oh iya, sekalian mau minta ijin copy artikel beserta comment’s dr saudara2 yg lain, thank’s
June 23rd, 2007 at 21:04
assalamualaikum wr.wb
subhanallah Gam, kowe kok dah byk bgt ilmunya?tholabul ‘ilm dimana?
sering ikutan ga kajian di Grabik FK?
sebenernya masalah bacaan Shodaqallah al ‘adzhim sudah pernah aq tahu dulu.
tapi yg ku tangkep tu memang bid’ah kok.Bismillah mudah2an Allah memudahkan pengetahuan bagi kita para penuntut ilmu.
btw, ga da reuni2an ma kelas qta y. Harfina nikah lo….
barakallahu fiik….
wass.wr.wb
June 24th, 2007 at 0:30
Gam, aLe tetarik ama
pliss 
“Semua Ibadah itu pada dasarnya haram, kecuali yang diperintahkan”
bs request g? bhs lbh detil donk lngkp dgn hadist-nya
June 25th, 2007 at 9:28
Gam, aku tanya disini
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/19/cn/27845
jawabnya suruh lihat disini
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/27487
1. Tidak ada satupun larangan terhadapnya.
2. karena ia merupakan bentuk zikir.
3. para ulama menjadikannya sebagai salah satu adab dalam membaca Alquran. Bahkan menurut mereka jika ia diucapkan dalam salat tidak membatalkan salat. Demikianlah pendapat kalangan Hanafi dan Syafii.
4. Lafal atau ucapan tersebut demikian dekat dengan apa yang diperintahkan dalam Alquran serta merupakan ucapan orang mukmin di saat akan perang.
Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik (Ali Imran: 95)
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.
5. Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa menurut al-Hakîm al-Tirmidzî mengucapkan kalimat shadaqallahu al-azhim setelah selesai membaca Alquran merupakan salah satu bentuk adab membaca Alquran.
Mohon pencerahannya *d jwb stlh uas aja, g kburu2 kok*
June 26th, 2007 at 12:53
hey,gmn mna dgn penamaan pada hadis???da hadis dhoif,hadis shahih…..itu bid`ah lho…
June 27th, 2007 at 11:40
Alhamdulillah, Akhi… tulisan antum ini banyak manfaatnya sehingga memberikan pencerahan bagi kita semua.
Bukankah rukun ibadah kepada Allah itu ada dua? IKHLAS & MU’TABA
IKHLAS: Segala sesuatu ibadah itu di tujukan hanya kepada Allah SWT semata, tiada kepada selain Allah. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya: “… Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Ku…”
MU’TABA : Ada uswahnya (contoh/tuntunannya) dari Nabi SAW. Minimal Nabi SAW mendiamkan ketika para sahabat beribadah demikian.
Dua syarat di atas [IKHLAS & MU'TABA / I'TIBA] mutlak ada dalam setiap aktivitas ibadah. Misalnya:
1) Kita beribadah IKHLAS ditujukan hanya kepada Allah tapi tidak MU’TABA / I’TIBA (dicontohkan) Nabi SAW, maka ibadah itu akan di tolak;
2) Kita beribadah MU’TABA / I’TIBA (dicontohkan) Nabi SAW, tapi tidak IKHLAS maka ibadah itu akan di tolak;
3) Kita beribadah TIDAK IKHLAS juga TIDAK MU’TABA / I’TIBA kepada Nabi SAW jelas-jelas ditolak;
Maka dari itu, ketika beribadah kepada Allah harus IKHLAS dan MU’TABA / I’TIBA. Bukankah kata Nabi… Setiap Ibadah itu di larang kecuali yang diperintahkan… jadi untuk apa kita “beribadah” kalau tidak diperintahkan…
Tolong dikoreksi jika komentar ini ada yang keliru mas Agam…
July 9th, 2007 at 16:30
Makasih ats info nya.
@ aLe
mksh jg link-nya (http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/27487).
Ok, mari kita semua me”maklum”kan “khilafiyah” ini. Sekarang ini yg harus segera kita lakukan mari kita gunakan energi kita semua, berusaha bahu membahu mengatsi masalah umat yg lebih besar (kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dll.)
July 11th, 2007 at 5:30
Akhi, kalimat sodaqallahul adzim , yang artinya maha benar Allah dengan segala firmannya, kalimat ini adalah pujian bagi Allah dengan segala kebenaran seluruh firmannya. Dalilnya surat Al ISRAA’ (ayat110) yang bunyinya: katakanlah: serulah Allah atau serullah Ar-rahman dengan nama “yang mana saja kamu seru”, Dia mempunyai al asmaul husna atau (nama-nama yang terbaik), dan jaganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya. dan carikah jalan tengah di antara kedua itu . (ayat 111) yang berbunyi : Dan katakanlah “segala puji “bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaannya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang “sebesar besarnya”.
July 11th, 2007 at 5:46
Al adzim adalah salah satu dari Alasmau’l husna
July 12th, 2007 at 16:36
:)
ada jg pendapat Dr.Sholeh bin fauzan bin abdullah al fauzan dalam aqidah al tauhid hal 176 yang menulis bahwa bid`ah diambil dari bahasa arab yaitu BAD`U yang artinya al-ikhtiro,yaitu menciptakan segala sesuatu tanpa contoh terdahulu
seharusnya kita mengikuti pendapat imam syafi`i,seorang ulama yang mumpuni.
beliau jg ketika belajar hadist pada imam malik,guru beliau,beliau sudah hafal kitab al-muwattha,karangan guru beliau,menurut ilmu bahasa,kata “kullu bs diterjemahin “semua”namun belum tentu mencakup segala bagian,seperti kalimat”semua sarjana itu pandai”,padahal tidak semua sarjana ltu pandai,ada juga yang tidak pandai .
dan lagi bid`ah tidak hanya soal agama saja,bid`ah mencakup seluruh bagian kehidupan,dan lagi mas,penamaan hadist shahih,dhoif,dll adalah bid`ah,karena pada jaman rasul itu tidak pernah dilakukan.
kalo soal penutup bacaan “shodaqollo hul adhim” itu hanyalah amalan semata,tidak bertentangan dgn agama,lagipula jika itu dicontohkan rosul,beliau khawatir akan menjadi suatu kewajiban.jadi,anda tidak selayaknya mendoktrin umat islam agar tidak mengamalkannya.okeh????????????????????thx
July 13th, 2007 at 10:15
sebelum diposting sebaiknya antum konsultasikan dulu ke ‘guru’ antum krn banyak yang langsung ‘telan’ setelah mlototin uraian antum.
bicara bid’ah itu banyak macamnya, dan gali lagi sebayak-banyak referensi yang ada, krn mulai jaman mbah-mbah en kakek nenek antum sudah melafalkan kalimat tsb.
selamat berkarya, mohon maaf dan terima kasih
July 14th, 2007 at 8:06
Maksudku hubungan antara kalimat shodaqallah hul adzim dengan ayat surat AL ISRAA’ ayat 110 ini adalah: 1. Kalimat shodaqallah hul adzim dalam pemahaman bahasa arab yaitu: shodaqallah = percaya kepada Allah. Hul adzim = yang maha agung. Berarti kalimat ini adalah artinya mengagungkan Allah. Dan di tafsir ayat 110 ini , di katakan: Sebutlah nama Allah hai kaumku, atau sebutkah nama Ar-Rahman atau dengan nama-nama mana aja, diantara nama-nama Allah yang maha agung kamu menyebutnya, maka hal itu baik. Karena semua nama Allah adalah ibadah. Karena semuanya memuat pengagungan dan pengkudusan terhadap zat maujut yang paling agung.Jelas sekali bahwa “Kalimat shogaqallah hul adzim= percaya kepada Allah yang maha agung” ini adalah salah satu penyebutan keagungan nama Allah ,Hal ini baik dan termasuk ibadah.
Jadi argumentasi anda yang menyatakan kalimat shodaqallah hul adzim ini bid’ah=ajaran sesat ini, menggangu sekali dan tidak ada dalil yang kuat. Lagi pula apabila membaca Alqur’an dengan mengimani, meyakini, makna arti kebenaran kalam Allah , tanpa di suruh tanpa diperintah, bahkan tanpa di duga hati nurani kita telah mengucapkan shodaqallah hul adzim dengan sendirinya.
Riwayat Alqur’an di masa abu bakar r.a : Umar berkata kepada Abu bakar dalam peperangan yamamah, para sahabat yang hafal Alqur’an telah banyak yang gugur. saya kuwatir akan gugurnya para sahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya. sehingga banyak ayat2 Alqur’an itu perlu di kumpulkannya.
Abu Bakar menjawab: Mengapa aku melakukan sesuatu yang tidak di perbuat oleh rosulullah? Umar bin khothob menegaskan: Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik. Dan ia berulang kali memberi alasan-alasan kebaikan mengumpulkan Alqur’an ini.sehingga Allah membukakan pintu hati membukakan pintu hati Abu Bakar untuk menerima pendapat Umar.
Kemudian Abu Bakar memanggil Zaid bin tsabit dan berkata kepadanya: Umar mengajakku mengumpulkan Alqur’an, lalu diceritakan segala pembicaraan yang terjadi antara dia dengan Umar. Kemudiaan Abu Bakar berkata: Engkau adalah pemuda yang cerdas yang ku percayai sepenuhnya. Dan engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu di suruh oleh rosulullah. Oleh karena itu, maka kumpulkanlah ayat2 Alqur’an itu. Zaid menjawab: Demi Allah! ini adalah berat bagiku, lebih baik aku di suruh memindahkan bukit, dari pada mengmpulkan ayat2 Alqur’an. Kemudian ia berkata lagi kepada Abu Bakar: Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak di lakukan Nabi? Abu Bakar menjawab: Demi Allah! ini adalah perbuatan baik. kemudia ia memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan ayat-ayat Alqur’an. kemudian Zaid mengumpulkan ayat-ayat Alqur’an dari daun, pelepah korma, batu, tanah keras, tulang onta atau kambing dari sahabat2 yang hafal Alqur’an.
Inti daripada riwayat di atas , menunjukan bahwa tidak semua berbuatan maupun amalan yang tidak di kerjakan maupun diperintahkan rosul, apabila di kerjakan itu bid’ah= sesat.
July 14th, 2007 at 17:10
udah gini aja….
mas terlalu sulit untuk menerima,skarang mas alirannya udah beda….mas penganut ikhwanul muslimin khan?
yang saya tau,”mereka”tidak meng-imani adanya waliyullah…jelas sudah!!!
ntah apapun argumen yang saya beberin pasti akan mas kilah,klo mas sudah ndak iman/percaya,atau msh ragu ttg walisongo,ulama,kiyai,yah….mas sudah menyimpang…simpel khan?!
afwan,tp yg mmberi ket.adlh ulama2 nadhatul ulama,saya percaya ilmu agama mrk lebih dapat dijadikan pedoman,jg ijtihadnya…maaf,,,
daripada mas….
afwan
semoga mas bs meralat artikel mas dikemudian hari,itu doa saya….dan semoga yang membaca atikel mas ini,tidak mudah percaya….(afwan jiddan)
July 14th, 2007 at 17:18
mas meragukan imam syafi`i????ck…ck……tserah wes,
maturnuwun….
bye
July 14th, 2007 at 17:54
@44 : Saya tidak terlalu percaya dengan cerita kesaktian Wali Songo yang sepertinya jauh dari logika dan sanadnya tidak bisa dipertanggungjawabkan dibanding dengan Sirah Rasulullah yang sangat rasional dan sanadnya bisa dipertanggungjawabkan. Rukun Iman dalam Islam ada 6, dan mengimani kesaktian WaliSongo, kyai, ulama tidak termasuk salah satu rukun iman bukan? Para sahabat yang diberi karomah jumlahnya sangat sedikit, padahal generasi terbaik menurut hadits yaitu generasi sahabat yang hidup sejaman dengan Rasulullah, tabi’in, dan tabiut tabiin. Saya menghormati walisongo, kyai dan ulama, karena atas jasa2 beliaulah saya sampai saat ini berada dalam agama islam. Yang saya tidak saya setujui adalah cerita tentang kesaktian walisongo, dll. Tentang beda aliran, sebaiknya janganlah mengatakan seseorang yang berbeda pendapat selama masih ada dasar dalam Al Quran dan Hadits itu menyimpang, sebab kita sesama muslim adalah saudara.
Sorri mas Agam, saya malah bikin artikel di kolom commentar sampeyan..
July 14th, 2007 at 23:30
Assalam Mu’alaikum Wr wb,
Pendapat Agam lebih baik menurut saya, dan mungkin saja salah, namun dalil dalil yang digunakan lebih baik mengikuti pendapat (yang disampaikan) Agam. Apa susahnya meninggalkan amalan yang ngga ada tuntunnannya malah bisa bikin terjerat dosa dan di keluarkan dari golongan umat Muhammad.
Kalo kita mau realistis nih, amalan sunnah lain yang lebih pasti banyak yang belum kita kerjakan, bahkan sampai yang kita anggap remeh-temeh, coba saja amalkan saya yakin anda akan bosan sendiri karna tak sanggup menjalankannya, mulai aja dari doa bangun tidur, wudhu, doa pakai baju, masuk wc, keluar wc, doa safar (berpergian), dzikir, menebar salam (bayangin aja tiap ketemu orang menyampaikan salam), dll. Diantara amalan yang pasti dalil dan tuntunannya ini aja udah bikin mumet dewe.
Makanya menjadi lebih mudah meninggalkan amalan yang masih didiragukan keshahihannya. Rasul sendiri bersabda “Kamu harus mengerjakan sesuatu yang kamu sanggup. Demi Allah, sesungguhnya Allah takkan bosan sampai kamu sendiri yang bosan” (HR Bukhari)
Apalagi di Indonesia ini yang banyak budaya tercampur dengan agama yang menghasilkan bid’ah yang tampak baik tapi sama sekali ngga ada tuntunannya. Menjalankan Islam secara kaffah haruslah pakai dalil, ngga asal menjalankan ngikut ulama ini-itu tanpa dasar jelas. Makanya surat pertama turun Iqra’ (bacalah!) dan orang yang beruntung di beri petunjuk dan peringatan adalah ulil albab (orang yang berfikir) , jangan asal ngikut ajah…
Rasulullah menganjurkan untuk melakukan sunnah dari pada perbuatan baik karangan dewe, karena amalan yang dituntunkan oleh Rasulullah bukan atas kehendak nabi sendiri melainkan tuntunan dari Allah SWT.
Berbeda pendapat boleh saja, jangankan kita, para sahabat Rasulullah pun pernah mengalaminya, Nabi pun pernah berbeda pendapat dengan para sahabat bahkan sesama malaikat juga pernah berbeda pendapat dalam riwayat yang shahih, namun dalam berbeda pendapat tentu ada etikanya. Pendapat mas Agam dalilnya kuat, yang disayangkan saat ada yang membantah dengan dalil yang tidak kuat dan langsung men-cap orang lain sebagai penganut golongan tertentu malah memperlihatkan kedangkalan ilmu. Para Ulama Mahzab seperti Imam Syafi’i, Maliki, Ahmad bin Hambal, Hanafi dan lainya menurut riwayat memiliki hubungan Guru-Murid dan ngga ada terlontar kata-kata yang mengelompokan orang yang tak sependapat atau menuduh pelaku bid’ah walau mereka beda pendapat. Kalangan ‘elite’ ulama adem ayem, wee…ee…ee..ee… kroco-kroco dibawahnya malah saling tuding…( hehehe).
Lebih baik mengikuti perintah Rasullulah dari Watsilah bin Al-Aqsa meriwayatkan Rasulullah bersabda” Tinggalkan dan hindarilah percekcokan! Aku adalah penjamin tiga istana di surga: di pinggir, di tengah, dan di bagian atas surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia benar. Tinggalkanlah perdebatan! karena larangan Tuhanku yang pertama setelah menyembah berhala dalah perdebatan. (HR ath-Thabrani)
Saya kembali terkagum dengan kemampuan mas Agam dalam memberikan dalil tentang pendapatnya. :)>-
July 15th, 2007 at 5:03
Gam, mo tanya.. klo gak slh bsk tgl 1 rajab ya. ma eMak ku suruh puasa, emang ada dalilnya? mhn pencerahan. thanks..
July 22nd, 2007 at 0:45
aduuh baru tau nih…
nice article :D
July 23rd, 2007 at 6:05
Kalau sudah nyinggung ayat komentarnya serius semua euy..
maaf saya blm bs seurius..
July 24th, 2007 at 5:53
=d> =d> =d> Nah… gitu donk…. ayo kita belajar yang bener….
Jika perkara dunia saja kita mau berdebat, kenapa untuk urusan akhirat tidak..??? Asal…. niatnya kudu bener ya…:d…
Mau nyumbang pemikiran nih…. boleh kan….? :)
Begini, Saya pribadi ndak begitu paham fikih…
jadi saya coba ajak temen 2x untuk melihat hal yang paling urgent dari tema penggunaan Shodaqallahul azhim itu lebih ke arah PRAKTEK.
Semuanya udah tau arti kalimat Shodaqallahul azhim itu kan ?
Maha Benar Allah Tuhan Yang Maha Agung dengan segala Firman-NYA….
Nah…. pertanyaan saya adalah: Sudah sampai sejauh mana kita MEMBENARKAN Firman-firman Allah itu dalam kehidupan pribadi kita masing2x … ??? [[dnc]][[dnc]]….:d
July 24th, 2007 at 17:51
:d sepertinya keterangan soal “dalil palsu” melaksanakan puasa sunnah dibulan rajab .. bersumber dari satu sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1523/slash/0 … :-? dan apakah pembahasan mengenai topik utama disini juga bersumber dr situs itu ??
July 28th, 2007 at 19:07
hmm… ma kasih ya buat infonya paling tidak kalo saya ngga lagi ngucapin “sodaqollahul adzim” di penutupan baca Al Quran ada pertimbangannya :)
July 31st, 2007 at 17:30
HWAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH…………………………………
ANAK BARU BELAJAR NGAJI MAREN SORE AJA UDAH BERANI2NYA BILANG ITU SALAH,INI SALAH……………………….
HEH…..COBA DEH BANYAK BELAJAR2 DARI GURU….JANGAN BELAJAR DEWE!!!!
ORANG YANG BELAJAR TANPA GURU MAKA GURUNYA ADALAH SETAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
ADA BANYAK NHADIS YANG MENERANGKAN KEUTAMAAN PUASA DI BULAN RAJAB!!!!!!!!!!
ADA HADIS HR.BAIHAQI DLL….
DAN RALAT YA MAS yaaaaaaa……………………..
BUKAN SATUI BULAN GANJARANNYA SAAT KT PUASA SATU HARI DI BULAN RAJAB,TAPI SATU TAHUN,,,,YOU KNOW!!!!!!!!!!!!!!!!!!
MALAH HARI YANG PERTAMA GANJARANNYA DIAMPUNI DOSA2NYA 3 TAHUN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
YOU SENGAJA NGASIH CONTOH HADIST2 YANG GAK BENER N GAK JELAS JLUNTRUNGANNYA!!!!
HEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHH…….
SATU PERTANYAAN GUE!!!!
GURU LO SAPA SEH????
JAWAB TO THE POINT AJA,GAK USAH BELIBET NGASIH DALIL2 SEGALA……!!!!!NON SENS!!!!
July 31st, 2007 at 17:49
buat mas rahyan .. mohon jangan pake emosi mas :-) ( pake Capslock gituh ) .. gmn pun juga kita musti menyikapi dengan arif dan bijaksana tanpa emosi semua perbedaan pandangan terhadap suatu hal.
walo saya pribadi tidak sependapat dg hal ini, hendaknya kita tetap berpegangan pada ” Lana A’maluna Walakum A’malukum “. Hal seperti ini (perbedaan pendapat) sudah sering terjadi koq dr sejak jaman para sahabat nabi .. yg penting gmn kita menyikapinya tanpa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslim. :-) inget ya mas .. perbedaan itu Barokallahu Lana (^_^)v
August 1st, 2007 at 8:52
ana ga seberapa faham fikih, tapi dari yang ana ketahui sebuah perbuatan baru dikatakan bid’ah bila sudah memasuki “zona” Wajib, Sunah, Makruh, Mubah dan Haram. Jika kebiasaan membaca “Shodaqallahul Adhim” yang menurut mas Agam itu dianggap berhukum salah satu dari 2 hukum tersebut maka dia masuk bid’ah tapi bila hanya menjadi kebiasaan baik dimana letak salahnya ?
August 1st, 2007 at 9:00
Ana ga seberapa faham fikih, tapi dari yang ana ketahui sebuah perbuatan baru dikatakan bid’ah bila sudah memasuki “zona” Wajib, Sunah, Makruh, Mubah dan Haram. Jika kebiasaan membaca “Shodaqallahul Adhim” yang menurut mas Agim itu dianggap berhukum salah satu dari 5 hukum tersebut maka dia masuk bid’ah, tapi bila hanya menjadi kebiasaan baik dimana letak salahnya ?. Contoh lain kebiasaan baik yang tidak ada dijaman nabi yaitu membaca sholawat sebelum azan dan iqomah apa itu juga termasuk bid’ah ? Allah Maha Tahu.
August 1st, 2007 at 18:27
ane fikir ini ga akan pernah ada titik temunya :-) wes tho .. Lana A’maluna Walakum A’malukum, ALLAH Maha Tahu .. yang sependapat ya monggo dijalankan .. yang tidak sependapat ya hendaknya menerima dengan lapang dada :-)
August 2nd, 2007 at 16:17
bukane aku langsung emosi…………tapi ini ….hwaduh…astagfirullah….klo badan kerohanian UNAIR ketuanya kaya mas agam….sumpah deh…gak akan kepikiran masuk situ!!!
tapi skali lagi…..
BELAJAR TANPA GURU,MAKA GURUNYA ADALAH SETAN.
mas agam pernah ngasih seseorang sebuah sumber dari ulama ikhwanul muslimin.apa sebenarnya IKHWANUL MUSLIMIN?
apakah juga ada AKHWATUL MUSLIMAH?????HEH???!!!
TAHU KENAPA SAYA MARAH???
AGAM ngasih dalil yang salah ttg puasa rajab!!!RALAT Doooongggg!!!!
gak tanggung jawab!!!
sy yakin 100%,pasti agam gak setuju adanya tahlilan untuk jenazah..
dan pasti juga gak sependapat ma selamatan,atao qunut….yoh gaakkk????
gam…gam….
klo emg budak bs beri kita ilmu,berarti dia jg guru kita…anda terlalu pintar ngeles…..
DAN,
ANDA EMANG GAK PUNYA GURU KAN??
KLO ADA,SIAPA???BERI JUGA RIWAYAT HIDUPNYA….
JAWAB SINGKAT AJA,KLO ADA,JAWAB ADA!!KLO GAK YA,GAK!!
OKEH???
ANDA TERLALU AWAM UNTUK MENJELASKAN ILMU BID`AH….BAHKAN KLO ANDA GAK PUNYA GURU….
GURU KAN GAK MESTI SATU…JADI JANGAN KIRA GURU SY CM SATU.
klo Alloh berikan ksempatan buatku untuk kuliah di sby..salah satu tujuan utama ku ialah bertemu dg anda….
August 2nd, 2007 at 16:30
assSKALI LAGI..
KLO EMANG SAMPEYAN BERTANGGUNG JAWAB N GENTLE
JAWAB PERTANYAANKU YANG TERAKHIR DIATAS….
JUST SIMPLE ANSWER….!!!
Understood???
wass
August 2nd, 2007 at 16:41
Salam Alaeekom Warohmah
nah untuk penekanan pertanyaan terakhir dr sodara rahyan .. saya dukung. dan saya juga ingin mengetahui siapakah kiranya guru dr sodara agam ??
Mohon dijawab saja mas agam. Aa Gym saja pernah membeberkan siapa guru beliau, masa Aa Gam ga terbuka gitu :D
Wassalam Alaeekom Warohmah
August 2nd, 2007 at 23:49
lho yg menghubung2kan dg Aa Gym itu sapa, maksud ane itu manusia “sekelas” Aa Gym aja bersedia memberitahukan bahwa pertama kalinya beliau belajar ilmu agama sama adiknya sendiri, Agung Gunmartin yange kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu pada ulama sepuh di sebuah dusun di Garut bernama Ajengan Junaedi.
Nah disini .. kami kan cuman ingin tahu saja, guru ente itu siapa ?? boleh dong kami tahu :-) .. dan sebelumnya mohon untuk tidak menghubungkan hal ini dengan taqlid buta ^_^
August 3rd, 2007 at 0:13
Assalam Mu’alaikum,
Dewasalah, ilmu tidak diukur oleh guru, sekolah atau lainya, pemahaman yang benar cuma dari Qur’an dan Sunnah. Kalo masih mikirin guru, guru silat lebih ampuh nooh… tapi kalo dalam urusan agama berpedomanlah pada Qur’an dan Sunnah.
Malu euy… murid murid yang ecek-ecek ini aja udah bikin perbedaan menjadikan anda-anda bisa dapet seat di neraka, lihatlah Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi. Pada ngaca dong… Para imam besar itu punya hubungan guru-murid, yang pada akhirnya memiliki menjadi mahzab sendiri-sendiri, mana ada Imam Malik nanya “siapa guru kamu…?” paling jawabannya “guru saya kan kamu guru…” Hahhahaha… dewasalah… sadarlah kalian sedang ditunggangi setan, jangan menyalahkan saudara muslim anda.
Bacalah Qur’an Surat Yusuf ayat 100. Pahami isinya…!
Setan tengah merusak persaudaraan.
Agam, tetaplah istiqomah…
Wassalam Mu’alaikum
August 3rd, 2007 at 12:20
Assalamu’alaikum…
(dari tadi komentar, baru sekarang salamnya. hehe.. maaf…)
Masya Allah!
kenapa jadi memanas begitu ya? Istighfar, adik-adik… jikapun ada perbedaan pendapat, kan enaknya dicari jalan tengahnya. jangan jadi ribut. Syetan bersorak senang jika sesama saudara se-Islam bertengkar karena berbeda pendapat, nah, we won’t give “that” pleasure to syetan, right?
Apalagi, yang paling mengetahui kebenaran sejati, hanya Allah.
Tapi, saya sepakat, meluruskan yang salah adalah wajib hukumnya. Yang penting caranya, yakni dengan kesabaran dan kelembutan yang tegas. Seperti cara Rasulullah SAW. Apakah beliau mengatakan Islam mengajarkan “otot2an”? Kan enggak.. Lagipula, lebih enak kan jika kita berbicara dengan nada lembut dan enak didengar telinga (ehem…dalam hal ini, enak dibaca..)
Soal “sodaqollahul adzim”, saya pernah diberitahu oleh guru ngaji (dulu banget, tahun 86-an gitu deh, saya juga masih SD klas 4), bacaan “penutup” tersebut cukup diucapkan dalam hati. Tidak perlu dilafalkan keras-keras. Tapi saya ngga inget dalil yg dikatakan ustadzah saya itu. maklum, sudah lama sekali. hehe.. *malu* maaf ya.. :”>
August 3rd, 2007 at 19:17
Sodaqollahul adzim, saya kira bukan bid’ah/terlarang, itu adalah sebuah improvisasi umat islam yang mengangunggkan dan mengakui Firman Alllah SWT.
August 4th, 2007 at 16:56
mo tanya sekalian dong hadits tentang bid’ah , tapi jelasin pake ilmu nahwunya ya ?
August 7th, 2007 at 22:18
OOT ni Cak Agam, untuk komentar sampeyan di nomor #34 soal bacaan2 sujud dan ruku, pas sujud itu doa2 apa yang bisa kita baca ya? maksudku kadang kita kan punya niatan nyuwun sesuatu. tapi bingung boso arabnya gimana. katakanlah kita minta kesembuhan orang tua yang lagi sakit, kelapangan rejeki (tapi khusushoon ila siapa gitu), minta kelapangan urusan untuk temen, dan hal2 khusus yang kita gak tahu doanya (apalan doanya masih sedikit ni..) apa bisa kita ungkapkan dalam bahasa ibu. saya pernah dengar issue (hehe, soale aku dewe yo gak yakin kapan pernah bacanya) kalo diperbolehkan tapi cuman pas sholat2 sunnah / tahajud aja. kalo kita baca cerita2 orang2 sholeh itu, sering dikisahkan mereka doa khusyuk sampe tersenggu2. padahal mereka kan orang sono, dah dah dari sononya bisa ngomong arab, bisa minta segala macem pake bahasa arab. jadi ngiri nih jadi orang arab.. hehe (no offense)
September 11th, 2007 at 17:16
bid’ah itu ada bid’ah baik dan ada bid’ah sesat.. kalo saya sebagai wong jowo lebih milih melakukan “tahlilan” dari pada milih “mengkafirkan orang lain”.. baca tahlil (laa ilaaha illallah) koq ndak boleh.. ya perlu direnungkan lagi itu mas2 yang ngelarang tahlil.. masa kita membaca laa ilaaha illallah (tiada tuhan yang hak disembah kecuali Allah) koq bid’ah dan ahli neraka.. ahli neraka dari hongkong.. JANGAN SUKA MENDAHULUI HUKUM TUHAN.. SURGA DAN NERAKA ITU MILIK ALLAH..
salam peace love n respect
September 11th, 2007 at 17:23
wah cak agam ini terlalu mempersulit agama.. sama aja dengan gini membaca sholawat allohumma solli ‘ala sayyidina muhammad.. itu pasti cak agam bilang bid’ah soale di hadits di bilangnya cum “allohumma solli ‘ala muhammad”.. secara logika wong gendeng ae bisa mikir kalo ini ndak salah meskipun di hadits nabi ndak ada…ruwet masalah khilafiyah koq dijadikan bahasan.. apa ndak ada yang lain.. khilafiyah itu mudah mau ikut ulama yang pro ya silahkan.. mau ikut yang kontra ya silahkan gitu aja koq repot.. ya ini yang membuat umat islam ndak maju 2 masih membanggakan masalah khilafiyah..
******Islam peace love n respect*******