Pengobatan Gratis yang Merugikan

Kirim ke Teman Kirim ke Teman
Apa? Siapa? Mengapa? Selamat Idul Fitri ala Rasulullah SAW

Terhitung sejak tanggal 9 Oktober 2006 saya terjun langsung dalam kehidupan Puskesmas. Ini merupakan agenda pembelajaran setiap para calon tenaga medis. Banyak sekali paengalaman yang saya dapatkan dari sana. Tapi ada suatu hal yang menarik untuk dicermati bersama, yaitu pelayanan kesehatan gratis. Perlu dikeahui, para penerima pelayanan kesehatan gratis pada puskesmas ada beberapa macam, yaitu pemegang kartu JPS ( Jaring Pengaman Sosial ), pemegang kartu ASKES ( Asuransi Kesehatan ), dan Anak Sekolah. Kegiatan ini sangatlah bagus. Dengan adanaya pengobatan gratis, tentu ini sangat menguntungkan bagi rakyat miskin. Tapi apa kenyataannya? :-?

  1. Pengobatan gratis itu seringkali tidak tepat sasaran
    Mengapa? Karena kurang tepatnya batasan-batasan, siapa yang disebut miskin, dan siapa yang tidak. Sehingga banyak diantaranya yang mampu ( misalnya mempunyai sepeda motor) ikut terjaring. Seringkali pula ini disebabkan karena pendataan asal-asalan, bagaimana mau serius kalau tidak ada motivator pendukung. PNS itu kebanyakan beranggapan bahwa kerja serius dan tidak itu sama aja gajinya. Jadi ngapain serius-serius. Dan ini bukan menurut pendapat saya pribadi, ini merupakan pengakuan dari mereka sendiri.
  2. Penderita pinjam kartu
    kartu-jps
    Ini sangat memungkinkan sekali, misalnya jika saya mempunyai tetangga atau saudara yang merupakan pemegang kartu JPS, jika saya sakit saya pinjam saja kartu JPSnya. Gampang kan, toh petugasnya tidak akan tau. Foto yang tertera hanya kepala keluarga saja, sedangkan istri dan anak tidak, sehingga sangat mungkin sekali di pinjamkan. Ini sangat merugikan sekali, jangankan gratis, membayar saja saya tidak yakin seberapa besar keuntungan puskesmasnya, mungkin sedikit sekali kira tetap rugi. Dan biaya berobat di puskesmas hanyalah Rp. 5000,-, dengan rincian Rp. 2500,- masing-masing untuk biaya loket dan pengobatan. Padahal obat yang diberikan biasanya lebih dari 27 buah obat, jika dihitung-hitung, obat yang diberikan sekitar Rp. 7000 keatas. Belum lagi buat membayar pegawainya.
    .
  3. Penderita seringkali manja
    Sudah diberi gratisan (maaf), minta yang lebih. Mungkin lantaran ´Mumpung Gratis´. Seringkali mereka meminta rujukan ke Rumah Sakit, agar mendapatkan pelayanan yang lebih. Padahal, selama puskesmas bisa menangani hal ini tidak diperlukan. Bahkan beberapa ada yang membentak-bentak petugas agar diberikan rujukan ke Rumah Sakit. Hal yang sangat tidak pantas dilakukan. [-x
  4. Penderita seringkali meremehkan
    Beberapa penderita meremehkan pengobatan. Seperti misalnya kusta, sudah diberikan obatnya gratis dari WHO, tetapi ada juga yang tidak rutin kontrol. Padahal obatnya harus rutin, dan tidak boleh terlewatkan.
    Ada juga kasus yang menarik, seorang ibu mendapatkan cuci darah gratis. Seharusnya dia rutin datang setiap minggu untuk cuci darah, tetapi dia malah pergi berlibur bersama keluarganya keluar kota. Mungkin anda sudah tau, kalau cuci darah itu mahal sekali, sekali cuci darah kira-kira menghabiskan kocek 600 ribuan. Kesempatan yang berharga ini dilewatkannya begitu saja.
    .
  5. Pengobatan bukan pencegahan
    Pengobatan beberapa penyakit, seperti TBC dan Kusta tidak dikenakan biaya sepeserpun. Tetapi pihak puskesmas tampaknya hanya mengobatinya saja, tanpa memberikan pencegahan. Sehingga penderita TBC tidak berkurang-kurang. Kira-kira 10 orang yang terdeteksi positif setiap bulannya. Seharusnya penderita diberikan edukasi bahwa penyakit ini menular, dan penderita diwajibkan mengenakan masker ketika berhubungan dengan orang lain.

Kesimpulannya : Pengobatan gratis mungkin perlu dilakukan beberapa pembenahan, sehingga tidak merugikan negara. Coba bayangkan, jika ada banyak orang yang minta rujukan ke Rumah Sakit, padahal hal ini tidak diperlukan, kira-kira berapa biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk hal ini. Lalu, bayangkan sebaik apapun pengobatan TBC, jika tidak dapat penyebarannya tetap tinggi, hal ini akan sia-sia. Dan masih banyak lagi ketidak efektifan pengobatan gratis ini yang mungkin belum saya ketahui.
Semoga dunia pengobatan Indonesia bisa bekerja secara efektif agar tidak merugikan negara dan rakyat. Amin…. [-o<

Your email:  
Subscribe Unsubscribe  
Related Posts (Artikel Terkait) :

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments
  1. waaa, lha topik sing ngene aq ing ngerti,…
    ternyata gitu tho kenyataan di lapangan, waaa, gam, ternyata kmu tmbh kritis aja yaaa…pertahankan loohh

  2. Sepertinya pengalaman baru ini menyenangkan yaaa….
    Bisa menolong orang sakit atau yang lain2nya…

  3. Semoga aja pengobatan yang akan datang tidak merugikan pihak manapun :d

  4. Sejak dahulu….
    Beginilah Indonesia…
    Ndak di dunia maya ndak di dunia nyata
    Curang udah jadi budaya… :d

  5. # 2 : hanya sedikit membantu koq :)>-
    # 3 : amin..

  6. semua masalah yang ada di negeri ini memang tidak lepas dari moral dan mental bangsa kita ini sendiri, semua punya andil dalam setiap masalah sosial yang ada dan semua harusnya juga ikut urun tanggung jawab untuk mencari pemecahannya.
    ayuk skrg kita semua membiasakan diri untuk tidak hanya menjadi ‘komentator’ tapi juga ikut andil mencari solusi yang paling pas… :)

  7. teman2 mahasiswa di beberapa penjuru indonesia pernah menuntut pengobatan gratis untuk semua karena dianggap kesehatan adalah hak asasi dan setiap orang berhak mendapatkan dari negara sebagai penyedia..namun pembiayaan kesehatan butuh dana yang banyak mulai dari obat (yang sudah masuk dalam jerat industrialisasi dan kapitalis) dan sdm..tenaga medis termasuk pekerjaan yang sulit dan “mahal” (sekolahnya)..belum lagi ditambah persepsi masyarakat mengenai kesehatan dan merasa sakit jika benar2 sakit dan tidak mau menjaga kesehatan selama mereka sehat…mental model orang indonesia seakan melestarikan masalah ini..salut atas tulisannya..salam kenal..

  8. # 6 :
    Solusinya? ya… memang mudah mengkritik.
    saya sendiri hanya terbayang tiga solusi yang bisa menyelesaikan semua masalah.
    1. One number ID card
    saat ini sedang dikembangkan penomeran individu. Jadi nantinya setiap individu hanya memiliki satu nomer identitas. Baik nomer SIM, KTP, dll. Jika ini diterapkan sangat membantu sekali dalam mengenali siapa yang warga miskin atau bukan. Ini juga akan mempermudah pendataan.
    2. Online system
    Jika semua sistem pemerintahan di onlinekan. Ini akan mempermudah pendataan, dan mempersulit penyelewengan.
    3. PNS reformation
    Merombak sistem PNS. Sehingga lebih serius dalam bekerja. Seperti mempertegas hukuman. Perlu diketahui, saat ini jarang sekali terdapat kasus pemecatan di PNS, yang paling banter mungkin cuma mutasi.

    Kesimpulannya :Jika ada pasien JPS datang, tinggal minta KTP(One number ID card)nya saja. Dilihat datanya secara online. Jika terdaftar sebagai JPS, maka langsung diapprove. Ini sangat sulit sekali di salahgunakan (dipinjamkan ke orang lain), karena ada fotonya. Dan pegawainya juga tidak malas lagi karena jika dia malas hukumannya akan tegas.
    Pengobatan gratis memang perlu bagi negara berkembang semacam Indonesia ini. Perlu adanya upaya agar dana pengobatan itu tidak banyak yang bocor atau salah sasaran.

  9. Kayaknya itu ndak bisa hanya menyalahkan sistem yang ada dipuskesmas dan DInKES aja lha Gam.., tapi harus dibenahi juga paradigma masy. tentang kesehatan. Sepertinya paradigma sehat masih belum menjadi acuan dalam benak masyarakat kita. Terkadang mereka masih mempersepsikan bahwa sakit adalah ‘nyeri’, padahal kedua hal itu jelas berbeda,lha itu tugas kita2…utk berpromosi kesehatan yang lebih efektif di masyarakat.Begitu???(walah koyo kuliah ikgm wae, biasa… kebanyakan diskusi sama dr Roes ^_^!)

  10. Hello

    Senks, its very interesting !!!
    G’night

  11. Hello! Good Site! Thanks you!

  12. wekekekekekeke… aku tersentil juga… :) Lha wong aku kerja di puskesmas kadang masuk siang pulang pagi.. :)) Di Lamongan sih pengobatan rawat jalan gratis..tis..tis. Sayang dari dinas kabupaten obatnya selalu banyak yang kosong.. :(( Jadinya cuma dikasih parasetamo, ctm, gg saja.. ;)

    Rosyidi :hehehe… Wah bukanya siang ya? Di Puskesmasku dulu bukanya pagi sampai sore sebenarnya. Tapi kalo siang udah sepi, ya tutup :d Sama dipuskesmasku dulu juga gitu. Obatnya sering abis, en pasokannya telat. Semoga aja pemerintah bisa lebih memperhatikan layanan kesehatan masyarakat.

  13. Wah.. gimana gak minta rujukan ke RS mas, kalo dokter prakteknya masih belajar…, lagian dokter yg udah pengalaman kadang2 meriksanya asal2an ” Mentang2 Gratis, meriksanya sekenanya”

    Rosyidi :Kalau di puskesmas, dokter prakteknya sebenarnya sudah senior. Bukan dokter yg baru lulus.
    Kalau di puskesmas biasanya yg periksa bukan dokternya. Tapi perawatnya. Hanya kasus2 yg sulit saja diberikan ke dokternya.
    Sebenarnya sih kurang tepat kalau dibilang asal2an. Tapi dokter yang udah pengalaman, biasanya sering menggampangkan. Jadi menurut dosen ilmu penyakit dalam ku, Banyak dokter yang memeriksa dengan stetoskope cuma sekedar syarat aja. Tapi sebenarnya tidak didengarkan. Karena dokternya meremehkan diagnosa. Padahal seharusnya dokter perlu agak lama untuk mendengarkan suara dari stetoskope, bukan cuma sekejap mata.

  14. Oh.. jadi beda ya mas antara asal2an sama menggampangkan..!
    Dengan membaca jawaban mas Agam brarti wajar dong kalo pasien minta diberi rujukan ke RS, apalagi obat2annya sering habis tinggal paracetamol, ctm, gg aja. Padahal informasi yg saya dapat skr obat askeskin sudah cukup murah lho, kenapa supply ke Puskesnya lambat ?

    Rosyidi :Kalo menurutku asal2an itu gak tau teorinya, dan asal mengobati. Kalo menggampangkan, sebenarnya tau teorinya, tapi dokter tersebut merasa sudah tau walaupun tanpa bantuan stetoskop dan pemeriksaan lainnya. Kalo pasokan terlambat, itu katanya sih dari Depkesnya. Puskesmas sudah mengajukan permintaan jika habis. Tapi dari pusat selalu saja terlambat pengirimannya. Biasanya yg terlambat dikirimkan adalah obat2 yg relatif lebih mahal. Jadi setauku kebanyakan bukan salah puskesmasnya.

Leave a comment

<< Harus diisi dengan angka 3


:) :( :d :"> :(( [[dnc]] :x 8-| :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

Komentar anda mungkin tidak akan muncul langsung. Laporkan ke kami jika dalam waktu lebih dari 24 jam komentar tetap tidak muncul.