Pemeriksa Pajak yang Jujur (bagian-2)
KLIK DISINI UNTUK MEMBACA CERITA AWALNYA “Pemeriksa Pajak yang Jujur (Bagian-1)”
BASED ON A TRUE STORY
Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja ada saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Di mata keluarga besar misalnya, orang tua saya sebenarnya juga mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu berahun-tahun. Sampai akhirnya, pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, berulah mereka perlhan-lahan bisa memahami.
Meskipun menghadapi cobaan yang berat, alhamdulillah sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis setelah saya membayar kontrak rumah dan tabugan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa istri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.
Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insyaAllah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa istri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahua’lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan istri yang sudah lunas. Alhamdulillah.
Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada limpoma yang harus diankat. Awalnya, saya pakai Askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berpikir, nanti uangnya pinjam dari mana?
Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian dir umah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saa ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, “Kenapa tidak bilang-bilang?” Saya sampaikan karena tidak sepat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.
Saya berusaha tidak terjatuh dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, diluar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. isteri saya juga bekerja sebagai guru.
Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan seirus, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, “Uang setan ya dimakan Hantu.”
Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harga mereka jual dan diberikan pada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.
Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu dipertanyakan uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.
Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum’at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang jum’atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau diigung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibandingkan gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah, dan membaca Al-Qur’an. Tetapi mereka sulit berubah.
Ternyata hidup dengan korupsi membang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekedar mapan.
Yang paling dramatis saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering meminta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya dia mencoba hurang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.
Saya berharap akan makin banyak orang yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takut menggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-murahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya-berkaca).
Ditulis ulang dengan sedikit perubahan oleh Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/pemeriksa-pajak-jujur-2/
Sumber : Majalah Tarbawi Edisi 111 , 23 Juni 2005
Available Translations : Arabic | Bulgarian | Chinese (Simplified) | Chinese (Traditional) | Croatian | Czech | Danish | Dutch | English | Filipino | Finnish | French | German | Greek | Hebrew | Hindi | Indonesian | Italian | Japanese | Korean | Latvian | Lithuanian | Norwegian | Polish | Portuguese | Romanian | Russian | Serbian | Slovak | Slovenian | Spanish | Swedish | Ukrainian | Vietnamese
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.









on 20 July 2008 @ 11:04
wah,,, memang prend rejeki yg barokah adalah rejeki yg halal…
regard.
on 20 July 2008 @ 12:59
Wah, enak ya kalau tiba-tiba biaya rumah sakit langsung lunas.
Kira-kira kalau makan di sana ada yang melunasi atau nggak ya?
on 20 July 2008 @ 14:50
emang halal tetap dan selalu utama mas….
on 21 July 2008 @ 12:02
semoga si bapak tetep istiqomah
on 21 July 2008 @ 14:09
on 21 July 2008 @ 20:29
semoga teman2 saya yang di STAN yang hampir lulus (sekarang lg pada PKL) tidak terjerat kedalam lembah kenistaan (baca: korupsi).. amiin..
on 21 July 2008 @ 21:28
tetap Semangat
on 22 July 2008 @ 1:03
wow iklan yang serasi ya
on 22 July 2008 @ 11:33
Enak banget punya temen kayak gitu , bisa-bisa itu malaikat…? kok bisa tepat waktu, semoga istiqomah
dan dapat menjadi contoh yang lain.
on 22 July 2008 @ 13:21
Subhanallah,.
aLe ikut mengamini saja
on 22 July 2008 @ 18:08
hidup kejujuran
on 23 July 2008 @ 1:30
Wah ternyata ada juga cerita seperti ini di alam nyata, alhamdulillah.
on 9 August 2008 @ 17:58
hmm .. pantesan ngga kiamat-kiamat ..
masih ada orang yang sangat baik rupanya ..
on 11 August 2008 @ 15:43
wah, saya kagum sama mas.memberi contoh buat semua bahwa hidup di dunia itu ga kekal yaa.thanks utk pengalaman dan pelajaran hidup yg berarti ini.-alumni stan2005-
on 11 August 2008 @ 16:26
Yang muda2 ini nih yang harusnya “menyusup” ke pemerintahan… mengawasi para pegawai negeri yang suka korupsi… tapi sebelum masuk, pastikan ada penghasilan sampingan dulu biar tidak mudah colapse, salah satunya dari internet
on 4 September 2008 @ 8:24
saya sarankan anda resign aja jadi PNS….
enakan stres cari kerja dan kerja keras daripada stres mikirin menghindari korupsi…
seperti kata2 temen saya yang akhirnya resign, “la wong disana itu mirip in-house training buat korupsi dan jadi koruptor!!”
sambil ditambahin “saya bisa bilang gini soalnya, saya mantan PNS, via tes dsbnya.. Bukan karena sirik, engga bisa masuk PNS”, saya hanya diam tidak berkomentar.
toh, negara didirikan oleh pembayar pajak budiman dari kita2 yang ada di swasta ini, gunakan dengan baik dan bijak!
jangan khianati kami,
thx bro…
on 28 October 2008 @ 18:50
Wahh.. kok disaranin resign..
KALO ORANG-ORANG JUJUR SEPERTI ITU RESIGN GIMANA ADA YANG BISA MEMBERIKAN CONTOH PERUBAHAN???
saran saya tetap jadi PNS dunk..
mas adith jangan sirik ya… hehe
saya doain deh.. dapat kerjaan yang gajinya lebih guedhe dari PNS… amin..
on 20 November 2008 @ 14:10
Ceritanya tahun 2005 ya ? Kalo tahun 2008 sekarang ini, yang kayak gitu sudah biasa.