Pemeriksa Pajak yang Jujur (bagian-2)

2,319 views

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA CERITA AWALNYA “Pemeriksa Pajak yang Jujur (Bagian-1)”

BASED ON A TRUE STORY

rumah orang jujur Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja ada saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Di mata keluarga besar misalnya, orang tua saya sebenarnya juga mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu berahun-tahun. Sampai akhirnya, pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, berulah mereka perlhan-lahan bisa memahami.

 

Meskipun menghadapi cobaan yang berat, alhamdulillah sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis setelah saya membayar kontrak rumah dan tabugan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa istri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.

Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insyaAllah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa istri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahua’lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan istri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada limpoma yang harus diankat. Awalnya, saya pakai Askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berpikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian dir umah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saa ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, “Kenapa tidak bilang-bilang?” Saya sampaikan karena tidak sepat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

Saya berusaha tidak terjatuh dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, diluar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. isteri saya juga bekerja sebagai guru.

Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan seirus, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, “Uang setan ya dimakan Hantu.”

Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harga mereka jual dan diberikan pada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu dipertanyakan uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.

Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum’at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang jum’atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau diigung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibandingkan gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah, dan membaca Al-Qur’an. Tetapi mereka sulit berubah.

 

Ternyata hidup dengan korupsi membang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekedar mapan.

Yang paling dramatis saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering meminta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya dia mencoba hurang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.

Saya berharap akan makin banyak orang yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takut menggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-murahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya-berkaca).

 

Ditulis ulang dengan sedikit perubahan oleh Agam Rosyidi

URL : http://rosyidi.com/pemeriksa-pajak-jujur-2/

Sumber : Majalah Tarbawi Edisi 111 , 23 Juni 2005

Kata Kunci yang sering dicari untuk artikel ini :

pemeriksa pajak, pajak rumah sakit, kisah pejabat pajak yang jujur, bayar pajak dengan jujur, Kejujuran membayar pajak, pegawai pajak and ditangkap kpk, pegawai pajak ditangkap kpk, pegawai pajak korupsi, pegawai pajak resign, pajak kpk pemeriksa, part time pajak, pajak ditangkap kpk, pajak biaya pengobatan keluarga karyawan, orang pajak yang jujur, orang pajak, nasib pemeriksa pajak, mengapa masyarakat harus membayar pajak, maklah tentang para koruptor pajak, makalah tentang skandal pajak di indonesia, pegawai pajak yang jujur, www agussetiawan-pajak com, pemeriksa pajak harus jujur, uang makan pegawai pajak, stan dan pegawai pajak, Sebagai istri pegawai pajak, saya bukan orang pajak partner, rumah pegawai pajak, resign pns, resign pegawai pajak, resign pajak, resign dari pns, profil orang pajak jujur, pns resign, penghasilan pegawai pemeriksa pajak, pengalaman stan, pengalaman resign, pengalaman hidup tentang kejujuran, pengalaman dengan orang pajak, pemeriksa pajk, makalah tentang mengapa masyarakat harus membayar pajak, makalah perilaku membayar pajak, contoh orang jujur, contoh makalah tentang pajak, contoh kejujuran, contoh Bekerja dengan jujur pNS, contoh auditor jujur, Contoh – contoh orang jujur, cerita pengalaman hidup kejujuran, cerita pegawai pajak, CERITA PAJAK

Related Posts (Artikel Terkait) :
Kirim ke Teman di Facebook
idwebspace

Komentar

22 Komentar pada “Pemeriksa Pajak yang Jujur (bagian-2)”
  1. ochim says:

    wah,,, memang prend rejeki yg barokah adalah rejeki yg halal…
    regard.

  2. Edi Psw says:

    Wah, enak ya kalau tiba-tiba biaya rumah sakit langsung lunas.
    Kira-kira kalau makan di sana ada yang melunasi atau nggak ya?

  3. azaxs says:

    emang halal tetap dan selalu utama mas….

  4. toim says:

    semoga si bapak tetep istiqomah :)>-

  5. Xribo says:

    :) Masya Allah, kapan generasi kita, pemimpin kita yg jujur dan kompak….

  6. Dhimas says:

    semoga teman2 saya yang di STAN yang hampir lulus (sekarang lg pada PKL) tidak terjerat kedalam lembah kenistaan (baca: korupsi).. amiin..

  7. Jauhari says:

    tetap Semangat ;)

  8. Aeroboys says:

    wow iklan yang serasi ya

  9. yadi says:

    Enak banget punya temen kayak gitu , bisa-bisa itu malaikat…? kok bisa tepat waktu, semoga istiqomah
    dan dapat menjadi contoh yang lain.

  10. aLe says:

    Subhanallah,.
    aLe ikut mengamini saja :)

  11. Riyogarta says:

    Wah ternyata ada juga cerita seperti ini di alam nyata, alhamdulillah.

  12. draguscn says:

    hmm .. pantesan ngga kiamat-kiamat ..
    masih ada orang yang sangat baik rupanya ..:)

  13. herucool says:

    wah, saya kagum sama mas.memberi contoh buat semua bahwa hidup di dunia itu ga kekal yaa.thanks utk pengalaman dan pelajaran hidup yg berarti ini.-alumni stan2005-

  14. Yang muda2 ini nih yang harusnya “menyusup” ke pemerintahan… mengawasi para pegawai negeri yang suka korupsi… tapi sebelum masuk, pastikan ada penghasilan sampingan dulu biar tidak mudah colapse, salah satunya dari internet :D

  15. adith says:

    saya sarankan anda resign aja jadi PNS….

    enakan stres cari kerja dan kerja keras daripada stres mikirin menghindari korupsi…

    seperti kata2 temen saya yang akhirnya resign, “la wong disana itu mirip in-house training buat korupsi dan jadi koruptor!!”

    sambil ditambahin “saya bisa bilang gini soalnya, saya mantan PNS, via tes dsbnya.. Bukan karena sirik, engga bisa masuk PNS”, saya hanya diam tidak berkomentar.

    toh, negara didirikan oleh pembayar pajak budiman dari kita2 yang ada di swasta ini, gunakan dengan baik dan bijak!

    jangan khianati kami,
    thx bro…

  16. agus says:

    Wahh.. kok disaranin resign..
    KALO ORANG-ORANG JUJUR SEPERTI ITU RESIGN GIMANA ADA YANG BISA MEMBERIKAN CONTOH PERUBAHAN???

    saran saya tetap jadi PNS dunk..
    mas adith jangan sirik ya… hehe :d

    saya doain deh.. dapat kerjaan yang gajinya lebih guedhe dari PNS… amin..

  17. Agus Win says:

    Ceritanya tahun 2005 ya ? Kalo tahun 2008 sekarang ini, yang kayak gitu sudah biasa.

    Rosyidi :Ya mungkin gara-gara KPK mulai menunjukkan taringnya :D Salut buat KPK.

  18. soni says:

    STAN Sekolah Tempat Adu Nasib,saya alumnus STAN juga,dan bekerja sebagai pemeriksa pajak juga, tapi di kantor2 yang pernah saya bertugas, sangat sedikit perilaku auditor seperti yang dipaparkan, apalagi sejak Oktober 2004, kantor pajak modern dibuka, sudah sangat minimal kemungkinan kolusi dengan Wajib Pajak,yang berakibat uang korupsi juga sudah sulit diperoleh.

  19. adons says:

    :)>- maju terus bro, biar tambah banyak yang tobat

  20. jb says:

    terusken dek, ttp istiqomah

  21. Wahyu Agung Jatmiko says:

    Alhamdulillah. Ternyata masih banyak teman2 alumni STAN yang masih menjaga Dien. Baarokallahu fiik, semoga kita tetap istiqomah.

Tulis Opini Anda

Ceritakan semua opini anda tentang artikel ini...
Jika ingin menampilkan foto pada kolom komentar, silakan daftarkan email anda ke : gravatar!

<< Harus diisi dengan angka 3