Pemeriksa Pajak yang Jujur (bagian-1)

2,468 views

departemen_keuangan_tanpa_korupsi Sebagian orang menganggap uang adalah segalanya. Bahkan harga diripun tergadaikan oleh uang. Namun ternyata masih ada beberapa gelintir orang yang tetap menjalankan tetap jujur walaupun seluruh teman-temannya berusaha mengajaknya mencari uang haram dengan jalan KORUPSI.

Berikut ini merupakan kisah yang sangat menarik untuk disimak. Yang menceritakan kehidupan Arif Sardjono, seorang pegawai pemeriksaan pajak departemen keuangan yang sangat jujur.

Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung. Sebagai pegawai departemen keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim inspektorat jendral datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menenangkan sekali.

Saya Arif Sardjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kulaih di STAN dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya meikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu barangkali termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rejeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya. Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikitpun harta yang haram.

Syukurlah, prinsip ini bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika akan menikah saya sampaikan pada istri bahwa saya pegawai negeri  di departemen keuangan, meski imej banyak orang pegawai departemen keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.

Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan pada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang sudah kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan, maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yang penting usaha dan konsistensi kita. Say ajuga suka mengulang beberapa kejadian yang kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada isteri. Baha yang penting cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah mewah dan mobil mewah.

Jabatan saya samapi sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu, di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatan dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lawat bujukan atau apa pun mereka lakukan agar mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka. Merka ingin semua orang seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun berulah ketahuan bahwa kita dikhianati. Cara ini seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai departemen keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara yang lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya sekedar hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalu saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mengajak memancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan itu kita ungkapkan maka pasti perusahaan itu bangkrut dan akan banyak pegawai yang diPHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian itu justru menyebabkan masyarakat rugi. Sementara di sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

Karena dirasa sulit menpengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingakn dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk kas negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin melihat orang yang tidak seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak, menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berksan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, “Sudahlah, Dik arif tidak usah munafik.” Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak. Selama ini saya insyaAllah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.” Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kecuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap. Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.

Ketika sangat terpukul dan tidak bisa membalas dengan mengatakan apapun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur. Ia lalu mengatakan, “Alahamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,” katanya. Ternyata di luar pengetahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplop itu tidak digunakan sedikitpun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termauk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir tiap pekan.

Saya menjadi bersemengat kembali. Saya ambil semua ampolop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta ketemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, “Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak akan pernah percaya satu pun perkataan kalian.” Mereka tidak bisa berbicara apa pun karena fakta objektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esoknya saya segera dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di bagian arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemerksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang.

 

Ditulis Ulang Oleh : Agam Rosyidi

URL : http://rosyidi.com/pemeriksa-pajak-jujur-1/

Referensi : Majalah Tarbawi Edisi 111 , 23 Juni 2005

Related Posts (Artikel Terkait) : arif sarjono, gaji pemeriksa pajak, artikel pajak dan komentarnya, Pegawai pajak yang jujur, pajak dimata masyarakat, makalah perilaku organisasi dan komentarnya, arif sardjono, kejujuran dan keberanian, mutasi pemeriksa pajak, contoh perilaku kejujuran, majalah tarbawi, pajak haram, komentar pajak, komentar tentang pajak, Pegawai Pajak yang Sangat Jujur, Arif Sarjono STAN, perilaku suudzon, Arif Sarjono PKS, pks pajak, makalah tentang pemeriksaan pajak, masalah pajak dan komentarnya, mengapa kejujuran itu penting, menjadi pegawai yang baik ala rosulullah, menolak suap pajak arif sarjono, makalah tentang kejujuran, MAKALAH TENTANG JUJUR, Komentar pajak?, “Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka”, uang pajak haram, majalah tarbawi lahan basah, makalah kejujuran, pajak haram dalam ISlam pks, makalah prilaku organisasi, temuan bpkp di mojokerto, pemungut pajak masuk neraka, mutasi petugas pemeriksa pajak, orang yang jujur, pemungut pajak diazab, pemeriksa pajak yang jujur arif sardjono, pemeriksa pajak harus jujur, pemeriksa pajak, pejabat pajak jujur, pengalaman dengan petugas pajak, pengalaman pemeriksaan pajak pegawai, pegawai pajak ternyata masih ada yang jujur, pegawai pajak jujur, PAPER PEMERIKSAAN PAJAK, pak mutasi eselon 4 pajak kapan, surat pembaca mengenai salut akan kejujuran, pajak dimata rakyat
Kirim ke Teman di Facebook
idwebspace

Komentar

27 Komentar pada “Pemeriksa Pajak yang Jujur (bagian-1)”
  1. junthit says:

    Sepertinya negara ini benar-benar sakit parah. Boleh dikata sakitnya sudah kronis, ntar sembuhnya kalau pelaku2nya sudah meninggal.. atau alternatif, ada generasi baru yang mampu mendobrak keamapanan itu. Harapan saya cuma pada PKS..-satu2nya partai yg menolak gaji ke 13-satu2nya partai yg menolak mobil dinas-satu2nya partai yg pengurusnya bersih dari suap-satu2nya partai yang pengurusnya nggak ada yg merokok.. :mrgreen:

    Rosyidi :Wah mas kader PKS ya. Aku kurang tau Pak Arif yg aku ceritakan diatas itu dari partai mana. Tapi rasa2nya sih seperti dari PKS.

  2. imcw says:

    ternyata masih ada orang yang jujur ditengah kemunafikan dunia saat ini.

  3. Gunawan says:

    Pelajaran yg sangat berharga dan patut diteladani. =d>

  4. mk says:

    @Agam : entahlah dari PKS atau bukan, tapi majalah tarbawi sepertinya majalah orang IM? Link Majalah Tarbawi kok gak disertakan?

  5. angga says:

    subhanaullah pak Arif Sardjono
    tindakan anda bener2 membuat saya terharu.. saya bangga masih ada orang sejujur bapak…
    dari tulisanan ini saya coba mengucapkan banyak terimakasih.. karena bisa membuka atau memberikan pencarahan kepada pembaca bahwa kejujuran tu sangan penting.. biar pun itu sobat sendiri kalau udah salah harus di hadang….
    saya juga daftar STAN pak tahun ini doa in saya lulus yach.. dan saya mencoba mencontoh pak Arif Sardjono…
    tabah saja yach pak Arif Sardjono mudah2an sobat anda itu sadar dengan apa yang sudah dilakukan dia tu benar2 salah….
    dam mudah2an juga sobat anda itu diberi pencerahan hatinya oleh Allah…. :(( jadi sedih…
    thanks Aa rosyidi.. berjaya terus…
    terimakasih :x

  6. Bambosi says:

    Yang seperti ini emang harus diacungi jempol, keadaan sekarang malah sebaliknya, orang mau berbuat baik malah dibilang sok baik, gak mau korupsi malah dibilang sok suci…

    Parahhh

  7. dianz says:

    Iya sih rasanya orang PKS ya…bukannya ngeGRin kader PKS lho. Tp melihat profil gini yg rasa2nya akrabnya dgn PKS gitu…
    Kalo beliau bukan kader PKS pun saya sih lebih syukur, krn ternyata yg punya nurani di negeri ini masih banyak…bukan segelintir jamaah/organisasi tertentu.
    Ya Allah tambahkan orang2 shalih di negeri ini. Bangkitlah Negeriku! Harapan itu Masih Ada! (sekalian promosi ini nasyid barunya Shoutul Harokah lho..!)

  8. toim says:

    apakah ini salah satu kampanye dr PKS? *koq jd suudzon yak?* :D

    Rosyidi :Emang di artikelnya aku nyebutin kalo dia PKS? gak kan. Di majalahnya juga gak ada. Cuma komentarnya temen2 aja yg pada ngarah ke sana. :)>-

  9. trijokobs says:

    Salut dengan Pak Arif Sardjono..
    salut, salut..
    tidak mudah untuk tidak ikut arus.. apalagi ditempat “basah”..

    salut juga dengan keluarga yang mendukungnya,
    yang mampu mengelola “keinginan” ditengah pola hidup yg sangat konsumtif dan serba mewah..

  10. aLe says:

    kejujuran (suatu saat) pasti akan menghasilkan keberkahan :)

  11. Edi Psw says:

    Walaupun mendapat uang banyak, tapi lewat korupsi, uangnya tidak akan barokah. Lebih baik gaji sedikit, tapi barokah.

  12. ochim says:

    seandainya ada beberapa aja di negara ini yg mempunya jabatan di mata rakyat dengan sikap pak arif,, gak usah 100 persen, 50 persen aja,,
    mungkin negara ini bisa bangkit,
    sulit juga memang dengan kenyataan seperti ini,
    tapi, kadangkala keadaan la yang mengalahkan prinsip kita, apalagi kalo udah urusan dapur dan anak istri, waduh payah,,,
    semoga aku gak gitu ya.. amiinnn,,,

  13. heri says:

    laki-laki yang baik mendapat istri yang baik pula… :D :)>-

    Rosyidi :Yup. Untung aja istrinya baik banget. Sungguh Pak Arif merupakan seorang suami yang sangat beruntung.

  14. wah..jarang2 atau bahkan langka tuh orang kek gitu yang jujur apalagi mengenai masalah UANG

  15. lady says:

    meski jumlahnya sedikit, jaman sekarang masih ada kok yg jujur. isyaallah..

  16. elvin sasmita says:

    Alhamdulillah…semoga Allah senantiasa menjaga izzah ummat ini dengan adanya orang-orang seperti pak Arif….Do’akan juga para ustadz dan guru pak Arif..yang ucapan-ucapan mereka masih pak Arif pakai hari ini secara konsisten, mereka sedang berjuang mempertahankan konsistensi nilai yang selama ini mereka yakini dan mereka ajarkan kepada banyak orang. Ustadz-ustadz pak Arif yang sekarang mulai banyak menjadi Anggota legislatif…

  17. SonnYRastA says:

    Alhamdulillah… :) Jazakallah Khoiron Katsiron buat Pak Arif sekeluarga :) Andaikata di Indonesia ini orang-orang seperti Bapak banyak, alangkah indahnya tidak ada lagi Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang memang sudah mengakar dan mendarah daging… Insya Allah dengan prinsip dan idealisme seperti Pak Arif sekeluarga akan mendapatkan barokah dari Allah… Amin

  18. citra says:

    Subhanallah,,,, ternyata masih ada ya orang yang jujur di Indonesia. Saya aja sendiri belum tentu lho seperti Bapak Arif Sardjono, semoga hal ini menjadi cambuk untuk saya agar bisa mencontoh kejujuran dan keberaniannya minimal bisa menjadi tauladan dan contoh perilaku kehidupan saya untuk bekal di akherat kelak. Memang dunia ini penuh dengan intrik-intrik tipu muslihat yang lihai, kita harus waspada utamanya untuk diri saya pribadi yang merasa bahwa dunia ini telah memberikan segala sesuatunya terutama hal-hal negatif, memang dunia itu enak,nikmat,glamour,penuh fantasi materi yang harus kita lewati atau kita pijak. Kita memang tidak bisa melepaskan hal-hal keduniawian apalagi yang bersifat materi, uang, jabatan,kekuasaan,rumah,mobil,pesawat,kebun,sawah,ladang, pekerjaan guna menunjang keduniawian itu, tetapi yang mesti kita yakini seratus persen utamanya untuk diri saya sendiri bahwa dunia ini perlu hal-hal yang seperti itu materi, dsbnya yang bersifat ala kadarnya saja jangan beerlebihan, yang penting cukup,kalau tidak cukup ya dicukup-cukupkan karena keinginan kita sebagai manusia biasa pada dasarnya ingin itu ingin ini ingin menguasai segalanya. Hal ini pernah saya alami ternyata membuat diri saya jatuh sakit alias stress dan hampir aja saya mengalami gangguan kejiwaan alias gila, alhamdulillah saya masih normal dalam batas kewajaran manusia biasa, meskipun ada nafsu yang pengin sukses jadi pengusaha kaya lah atau jadi pejabat itu enak lah , ternyata hal itu itu masih ada tetapi saya berusaha terus bersyukur aja, kalau gak gitu kagak kesampaian ataupun kesampaian malah bikin problem yang lebih besar alias mudharatnya malahan bisa menjadi bumerang buat diri saya atau ke orang lain. Saya akui, saya dahulu pernah merasakan menjadi anak seorang pejabat yang dikatakan hidup penuh warna keduniawian meskipun tidak sekaya anaknya presiden tetapi saya merasa udah enaklah pokoknya serba ada meskipun tidak semuanya sich ada….tetapi udah enaklah. Nyatanya sekarang ketika hal itu tidak ada alias udah expire bapak udah pensiun ibu kandung meninggal karena sakit lever dan bapak menikah lagi, tentunya hal-hal yang seperti dulu keadaan serba ada sudah tidak berlaku lagi, jadi boleh dikatakan lampunya semakin padam, dan hal inilah yang saya rasa bahwa hidup itu berputar seperti roda suatu saat kita merasa di atas jangan sombong pasti kita juga akan di bawah jangan merasa pesimis meskipun itu susah, intinya kita syukuri aja atas segala sesuatu yang menimpa kita baik kenikmatan,kesusahan,kepedihan,kesenangan,bencana, malapetaka,kerusuhan, huruhara,kenestapaan,kemelaratan, kekayaan,kesenangan, semuanya ini yang ada di dunia yang kita terima selama hidup asalkan kita meyakini adanya suatu masa dimana kita akan hidup lagi kekal selama-lamanya di akherat kelak yang masih tanda tanya bagi kita. Karena ada yang tidak meyakini 100 persen ada juga yang meyakini 100 persen tetapi tabiatnya kayak monyet juga ada mungkin ini ada pada pribadi saya yang perlu banyak di beri taudziah lebih dalam, entah kita nanti dimana surga atau neraka, semoga saya masuk surga aja, meskipun sebetulnya diri saya belum patut masuk surga karena sesungguhnya siksaan api neraka itu apabila benar-benar ada maka saya tidak kuat untuk menanggung kepedihannnya, lha wong kena api kompor aja saya nggak tahan apalagi kena api siksa neraka, naudszubillahmindallid. Intinya selama kita hidup cobaan itu pasti ada baik nikmat atau sengsara, hidup itu pasti seperti roda adakalanya kita di atas adakalanya kita di bawah, hidup itu pasti sementara bukan kekal karena nyatanya kita bisa mati tuh, hidup itu pasti belum tentu karena di dunia tidak ada kepastian semuanya serba tidak menentu, yang tentu atau pasti (ini masuk paham keyakinan lho) adalah ketika kita mati pasti kita dikubur dan masuk liang kubur bagi yang islam dan agama-agama tertentu dan dibakar kalau ada yang mau dibakar pakai api bukan pakai air.Insya Allah, semoga Bapak Arif Sardjono sekeluarga kalau tidak dapat dunianya mudah-mudahan ya dapet surganya saja di akherat kelak, bersama saya ya pak, aminnn yaaa robbal alamin.Kalau saya pak tidak berharap hidup lama-lama karena ya itu setelah lihat-lihat di sekitar pulau jawa-bali-sumatra karena kelilingnya baru sampai disitu aja saya merasa cukup aja daah hidup di dunia ini karena saya merasa apa yang dahulu saya cita-citakan atau dambakan sebagian besar sudah terpenuhi, meskipun juga ada yang belum semisal pengin jadi komisaris di suatu perusahaan besar dan keliling dunia untuk sekedar melihat-lihat alam beserta isinya ciptaan Allah swt.tetapi setelah menimbang-nimbang ternyata kalau itu menjadi kenyataan saya malah khawatir malah saya menjadi orang yang berambisi untuk serakah alias tamak dan tidak menjadi qana`ah tidak bersyukur, summa naudszubillahimindzalik.

  19. risqi says:

    ^_^ hebat.. gak perlu takut mutasi, gak perlu takut sama kepala kantor! yang salah ya harus dikatakan salah, yang benar harus dikatakan benar. bukan berarti pegawai golongan rendah mesti pura-pura buta (karena takut di mutasi atau nilai DP3 jeblok) melihat segala bentuk korupsi spt itu. cuma ada satu kata.. “LAWAN!”

  20. mastal says:

    pajak memang harus di bayar :d

    salam kenal

  21. yusuf says:

    saya merasa pada waktu membanting amplop2 haram itu Pak Arif Sardjono dalam hati berkata :”we don’t play with islam baby, it’s not a game”

  22. abu abdillah says:

    barakallohufikum

  23. adri says:

    saat ini pak arif, menjadi salah satu calon anggota DPD-RI di wilayah SUMUT. Saya pribadi akan dukung pak Arif :)

  24. alif says:

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
    “Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka” [HR Ahmad 4/109, Abu Dawud kitab Al-Imarah : 7]

    Baik pemungut pajak jujur amupun tidak jujur, keduanya akan diazab di api neraka karena sama-sama pemungut pajak.

  25. Denie says:

    Ijin share yah..

Trackbacks

Lihat apa opini orang-orang tentang artikel ini...
  1. [...] dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun berulah ketahuan bahwa kita dikhianati. Cara ini seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan [...]

  2. [...] Pemeriksa Pajak yang Jujur (bagian-2) 0 views Posted by Agam Rosyidi July 20, 2008  Kirim ke Teman Pemeriksa Pajak yang Jujur (bagian-1) [...]



Tulis Opini Anda

Ceritakan semua opini anda tentang artikel ini...
Jika ingin menampilkan foto pada kolom komentar, silakan daftarkan email anda ke : gravatar!

<< Harus diisi dengan angka 3