Mengapa Barang China Murah?
6,819 viewsBerita banjir produk dari China masih terus masuk. Yang selalu menjadi pertanyaan adalah “mengapa” China mampu
menghasilkan produk sedemikian banyak, bagus, dan murah. ![Mengapa Barang China Murah? tanya knapa china [Image]](http://rosyidi.com/images/china.gif)
Tulisan “Memahami ‘Sayap’ Perdagangan China” (Kompas, 7/3/2006) adalah salah satu contohnya.
Ada hal yang menarik dari tulisan ini. Dikatakan, sebab penting kehebatan China adalah karena “jaring laba-laba” keluarga. Pedagang-pedagang dari China berhasil menembus pasar karena memanfaatkan jaring-jaring ini “baik di dalam negeri maupun di luar negeri”. Lalu dikatakan, “Umumnya orang China begitu erat rasa persaudaraannya. Nama marga mempererat persatuan dan amat membuka peluang kerja sama. Tak heran, orang China hanya memercayakan usahanya kepada bangsanya sendiri”.
Argumen seperti ini sering dikemukakan banyak penulis. Penanam modal ter-besar di China bukan orang dari Jepang atau Amerika, tetapi “orang China perantauan” (overseas Chinese). Siapa mereka? Mereka adalah orang China dari Taiwan dan Hongkong. Belum jelas, apakah orang China Asia Tenggara juga membawa modalnya ke China dalam jumlah besar. Cultural proximity ini sering dipakai untuk menjelaskan mengapa modal dari Taiwan dan Hongkong masuk daratan China.
Selain itu, dilontarkan argumen tambahan, yaitu pengusaha China sedemikian “percaya” satu sama lain. ‘Artinya, konsumen tinggal menghubungi via telepon dan pedagang dengan cepat mengirim barang sesuai pesanan. Kejujuran dipegang teguh meski konsumen belum memberikan uangnya”. Pernyataan ini harus dikoreksi: bukan antara pedagang dan konsumen, tetapi antarpedagang, ada saling percaya, terutama dalam hal kredit. Pengusaha China terkenal karena trust yang tinggi sehingga mereka dapat merebut peluang sekecil apa pun. Pada saat ada kesempatan dan modal yang diperoleh dengan cepat, mereka segera merebut kesempatan itu.
“Trust”
Trust antarpedagang China ini menarik perhatian banyak sosiolog. Mereka sendiri memakai istilah guanxi (hubungan) guna menjelaskan gejala trust antarmereka. Guanxi ini sebenarnya tidak terbatas pada hubungan kekeluargaan saja.
Hubungan-hubungan lain yang bisa menimbulkan guanxi misalnya kesamaan asal daerah (desa, kabupaten, provinsi), kesamaan sekolah (alumni), dan persahabatan. Pilih salah satu dari variabel itu. dan Anda akan menemukan dasar bagi guanxi.
Dalam peribahasa China dikatakan: jiali kao fumu, chumen kao pengyou. “Di rumah orang bersandar pada bapak-ibu, di luar rumah orang menggantungkan diri pada sahabat”. Persahabatan di China dijunjung tinggi. Salah satu dari lima hubungan ajar-an Konfusius (wu tun) adalah hubungan antarsahabat. Jika orang China suka pada seseorang, ia akan cepat mengatakan pengyou (sobat). Jika sungguh suka dan percaya, ia akan memakai istilah lao pengyou (sobat lama).
Trust ini lain dibanding trust yang dibangun dalam institusi modern. Kehidupan modern, termasuk ekonomi, tidak bisa bertahan jika tidak ada trust. Dapat dikatakan trust di dunia modern diletakkan berdasar kepastian hukum. Namun trust di kalangan orang China dibangun atas dasar yang berbeda. Trust di kalangan orang China didasarkan kekeluargaan, kedaerahan, alumni sekolah, dan persahabatan.
Orang akan mengatakan, trust yang didasarkan atas hukum lebih “terbuka” di-banding yang didasarkan faktor-faktor di atas. Tidak mungkin membangun trust dengan orang China jika bukan berasal dari keluarga, daerah, atau alumni sekolah! Masih ada peluang lain, lewat hubungan persahabatan (pengyou). Dalam banyak legenda dari China dilukiskan banyak hubungan persahabatan yang mengharukan. Sampai hari ini pun sering ditemukan banyak persahabatan antarorang China yang erat, bahkan sama atau melebihi hubungan dengan anggota keluarga.
Indonesia juga
Pembicaraan tentang trust dan guanxi sebenarnya menggugat semua teori hubungan transaksi yang didasarkan atas teori hubungan pasar. Dalam situasi pasar, semua individu adalah rival atau kompetitor yang bersaing, bahkan bersaing dengan tidak jujur. Karena itu, semua transaksi
harus didasarkan atas secarik kertas yang berisi kontrak, hitam atas putih, yang dijamin negara sebagai pemegang alat pemaksa yang sah.
Akibatnya orang menjadi musuh bagi orang lain. Hubungan keluarga, kedaerahan, sekolah, dan persahabatan, semua dianggap tidak relevan. Saudara dan saudara bisa saling menggugat di pengadilan, sahabat dan sahabat bisa terlibat pengadilan bertele-tele. Yang penting, kepentingan pribadi (self-interest) harus menang lewat kompetisi bengis di tengah pasar.
Kultur China justru mengajarkan kebalikannya. Boleh ada pasar, tetapi hubungan balk antarmanusia tetap jalan. Boleh ada persaingan, tetapi tolong-menolong antarkeluarga, orang sedaerah, satu alumni, dan sahabat tidak boleh dilupakan. Pasar selalu embedded, tidak mengalahkan guanxi. Bisa saja dikatakan hal ini akan menimbulkan nepotisme dan kolusi, tetapi dibuktikan empiris, guanxi mendukung pertumbuhan dahsyat ekonomi China.
Apakah di Indonesia tidak ada fenomena yang sama? Ada, dan mirip. Kekeluargaan penting, kedaerahan, bahkan hubungan alumni juga penting. Lihat pasar-pasar di Jakarta yang didominasi berbagai suku, juga kantor-kantor pemerintah maupun swasta penuh alumni universitas tertentu. Semangat “tolong-menolong” dan “gotong royong” masih ada, belum hilang. Ada kekhawatiran, ini dapat menimbulkan korupsi, tetapi mengapa tidak bisa sebaliknya, menimbulkan social capital seperti di kalangan orang China?
Mungkin kini orang Indonesia sedang lupa jati diri, bingung, dan memakai aneka “teori” aneh, yang justru memperlemah semangat membangun bangsa.
Penulis:
I WIBOWO
Ketua Centre for Chinese Studies;
(http://ivi.vw.studi. cina. org)
Sumber :
Kompas 16 Maret 2006
URL : www.kompas.com
- Manajemen Pembelian Barang
- Zhang Da , Pemuda Luar Biasa China
- Beli Stavolt atau UPS, Bonus Batu Bata
- Hosting IIX
- Jumlah Warna Pelangi bukan 7
- Mengapa Internet Indonesia Mahal?
- Ganti Nomor HP
- Beli Laptop atau PDA
- Mouse Optik Generasi Baru Bisa Jalan di Kaca
- Apa? Siapa? Mengapa?

Kirim ke Teman di Facebook














ooo…..
ternyata itu toh sebabnya
mosok se gam ojo ngapusi ah

Itu tuh dari koran kompas. Bukan aku yang ngarang
itu betul, dan memang begitu keadaannya…
indonesia harus mencontoh perekonomian china yang bertambah pesat sekarang…
Maaf ya Mas Agam, saya rasa, artikel di atas kurang tepat.
kita semua pada dasarnya saudara,tetapi kalau dibilang diatas 100 persen masuk ,tetapi tidak sekonyol yang kita bayangkan eksekusinya(tindakannya),kalau orang China dikhianati temannya ,maka semua temannya yang lain akan ikut membantu/mencela teman yang mengkhianatinya itu.mari kita bangun bangsa ini seperti bangsa China,nggak ada salahnya kan kita bersatu(tetapi bukan untuk menghancurkan).merdeka.
bisa masuk logika jg itu…
makanya mari qt contoh ilmu…
kalau halal kenapa tidak?
hmmm salut benar aku dengan ilmu ekonomi perdagangan chinese tersebut, namun yahhhhh kalo semua meniru tersebut, bakal jadi apa ya indonesia? mau tahu kabarnya!!!!
di-cina banyak juga korupsinya loh…! Tapi diimbangi dengan hukum yang sangat TEGAK.

di-indo sini banyak juga korpusinya…! tapi diimbangi juga dengan hukum yang rada Tegak, loh..! hampir sama kaaaan….
berhubung saya orang jawi.klo orang jawi kyo opo rasa persaudaraanne mas agam?, opo iyo mbendol mburi?
Gak nyambung judul sama isinya..Barang cina murah karena dapet subsidi dari pemerintah, upah buruh murah..bukan karena kekeluargaan.
kalo mau jual barang yg penting jangan ngutang, terutama ama orang padang. Wah kaco deh, dijamin gak bayar…
memang demikian, walaupun aku orang jawa, tapi lingkunganku sekolah dulu adalah orang cina, bahkan aku banyak kenal dengan keluarga mereka. Dengan demikian aku juga banyak belajar dari mereka. Aku paham komputer dan teknologi adalah atas bantuan mereka… sampai sekarang kami juga masih banyak berhubungan. Bahkan ketika urusan perdagangan, aku juga relatif lebih mudah dengan pengusaha cina…..
kalo gitu, kenapa Indonesia ga buat China Town juga..
kan kalo glodok atau binus kan sifatnya masih umum, di rubah aja jadi China Town gitu??
Tetep aja gak nyambung mas, kan yang dibahas kenapa produk cina Murah..kok malah bahas kekeluargaan orang cina..??? Aneh ya???
tulisan ini bagus, coba dicantumkan juga tulisan mengenai suku bangsa indonesa pada lazim nya, karena kita seperti bangsa yang terpisah2.
HEBAT!!
HANYA DENGAN KATA PERCAYA MEREKA BISA MENGUASAI PASAR DI INDONESIA.. KITA HARUS ”ATM” (AMATI, TIRU, MODIFIKASI) DNG BNGSA CHINA.. SHINGA GNTIAN BNGSA KTA YG PNY BRUH ORNG CHINA.. OKE JANG!! OKE JENG!!
bener jga,aq ngrasain ada enakx jga pnya wajah cina..
padahal aq orang jawa tulen.
mreka lbh percaya apalagi kalo’ soal pekerjaan loyalitas begitu tinggi klo lingkungan sma2 cina
betul sekali kita patut mencontoh caranay cina… mereka mengedepankan kekeluargaan dalam setiap hal,,, mungkin kalo di kita sering menyalah gunakan kepercayaan…sehingga membuat birokrasi jadi rumit,,,