Makruh itu Bukan Berarti Boleh
Makruh, banyak sekali yang meremehkannya. Dengan berbagai alasan. Ada yang berkata “hukumnya kan baru makruh. Bukan haram.” Masyarakat sekarang lebih mudah menggampangkan suatu hukum. Sebelum membahas lebih jauh lagi tentang makruh. Dasarnya perlu kita ketahui terlebih dahulu. Makruh termasuk dalam hukum taklify.
Hukum Taklify (pembebanan syariat) terbagi menjadi lima :
- Wajib,
- Mandub/Sunnah/Nafilah,
- Haram,
- Makruh, dan
- Mubah.
Sebagian ulama membaginya menjadi tujuh macam :
- Fardhu,
- Wajib,
- Mandub/Sunnah,
- Makruh Tanzihiyan,
- Makruh Tahrimiyan,
- Haram dan
- Mubah.
Definisi Makruh
- Makruh menurut bahasa berarti yang tidak disukai. (CyberMQ)
- Menurut istilah syara’, makruh berarti: “Pekerjaan yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tidak kita rasakan bahwa akan disiksa apabila mengerjakannya.” (CyberMQ)
- BAGIAN paling rendah dalam rangkaian perkara-perkara yang dilarang adalah perkara makruh; yaitu makruh tanzihi Sebagaimana diketahui, makruh ini ada dua macam(tahrimi dan tanzihi);
- Makruh tahrimi ialah perkara makruh yang lebih dekat kepada haram;
- Makruh tanzihi ialah yang lebih dekat kepada halal. (Yusuf Qardhawi)
- perkara yang apabila ditinggalkan kita mendapatkan pahala, dan apabila dikerjakan tidak mendapatkan dosa.
- Makruh kadang berarti haram. Sebagaimana Imam Syafi´i jika mengatakan : ” saya menganggap hal ini makruh ” maksudnya adalah haram . Sikap seperti ini didasarkan kepada kehati-hatian di dalam mengistinbatkan suatu hukum (Ahmad Zain)
Ada beberapa pendapat ulama dalam mendefinisikan makruh. Dari segi bahasa dapat diartikan sebagai hal yang dibenci, atau yang tidak disukai (hated or disliked). Tentu saja kita tidak ingin dibenci oleh siapapun, terutama Allah. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman, cinta, dan taat pada Allah, namun kita justru lebih menyukai hal-hal yang dibenci oleh Allah. Makruh juga bisa berarti haram. Ini merupakan sikap kehati-hatian para ulama. Ini dikarenakan Allah berfirman, yang artinya :
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” ( QS An Nahl : 116 )
Jadi jangan merasa aman jika kita melakukan sesuatu yang makruh. Sudah seharusnya kita meninggalkan sesuatu yang dibenci oleh Allah.
Kalau memang ada hal-hal yang meragukan (kita tidak tau halal atau haramnya), maka lebih baik kita tinggalkan. Hal ini dijelaskan dalam Hadis Riwayat Bukhori dan Muslim artinya berbunyi :
Dari Abu Abdillah Nu´man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.
Dari penjelasan diatas, mari kita ambil satu contoh yang sering dipertentangkan hukumnya, rokok. Sebagian menghukuminya dengan makruh, dan ada pula yang menganggapnya haram. Yang jelas tidak ada seorang ulamapun yang berani menyatakan bahwa rokok itu halal. Karena itu, kalaupun ini makruh, pasti masuk dalam golongan makruh tahrimi (makruh yang lebih dekat kepada haram). Dan ini merupakan suatu yang syubhat, kalau kita mengacu pada hadis diatas, maka tinggalkanlah.
Penulis :
Agam Rosyidi
URL :
http://rosyidi.com/makruh-itu-bukan-berarti-boleh/
Referensi : CyberMQ
40 Hadis Imam Nawawi

Kirim ke Teman di Facebook
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.






http://gplus.to/agam/
on 2 June 2007 @ 1:47
sebetulnya masih bingung… kalau begitu untuk apa dong ‘makruh’ diciptakan kalau udah jelas ada halal dan haram
on 2 June 2007 @ 8:19
Imam Syafi’i Rahimakallah memang superb. Aye setuju kalau makruh lebih baik dihindari kecuali terpaksa.
Terus gimana dengan kyai yang ngerokok dan mendirikan “pabrik rokok” di pesantrennya …. rokok kan makruh oleh sebagian ulama?
on 2 June 2007 @ 12:25
mau komen ke Kang Kus

sebenernya hukum rokok jg ‘bertingkat’. makruh ini hanya tingkatan paling rendah, yg paling tinggi adalah haram.
mungkin (mungkin lho ya…) kyai yg ngerokok itu gak pernah mempelajari hukum rokok, krn rokok dianggap HAL LAZIM. ato bisa aja dia tahu, tp ‘jahil’ n jumud, tetep bertahan dg kejahiliyahannya itu..
to agam:
emang km pantes kuliah di jurusan agama/syariah
on 2 June 2007 @ 14:59
Lalu, kenapa rokok tidak digolongkan kepada yang haram saja? Bukankah sudah jelas bahwa rokok menganggu kesehatan? Kalau dinyatakan haram kan lebih mudah untuk menganjurkan/menyuruh orang berhenti merokok. Karena hukumnya sudah kuat.
on 2 June 2007 @ 19:29
emang klo ngomongin rokok emang gak abis2, termasuk makruh apa nggak, yang pasti jika rokok “menguntungkan” anda, maka lakukanlah, tapi kalo merugikan anda, maka tinggalkanlah, simpel aja kan? semuanya berpulang ke nurani anda masing2 koq
Rosyidi :Memangnya untungnya rokok apa ya?
on 3 June 2007 @ 9:28
lalu bagaimana hukum madat? makruh? Luar biasa.
on 3 June 2007 @ 21:59
Ah, tetap saja, saya lebih ‘suka’ mengatakan haram untuk rokok. Justru karena kurang tegas itulah, banyak juga kan ustadz yang merokok, padahal secara keilmuan mereka luar biasa. Saya juga tidak mendapatkan alasan untuk mengatakan rokok sekedar ‘makruh’ apalagi mubah.
on 4 June 2007 @ 12:49
lagi masalah rokok…menurut saya rokok itu karena minat, keinginan dan selera seseorang. dikategorikan makruh atau haram lebih dikarenakan, merokok itu dapat mengganggu kesehatan seseorang baik yang aktif maupun yang pasif.
karena islam, amat menganjurkan bagi pemeluknya untuk menjaga kesehatan.
on 5 June 2007 @ 13:32
loh ngerokok bukannya madat yah?
bukannya yg dihisap itu candu?
on 6 June 2007 @ 11:43
wah seru nih…
kalo saya sebel sama rokok, asapnya selalu bikin saya mau pingsan, sakit hidung dan tenggorokan saya. padahal hanya asapnya. apalagi kalo mengisap rokoknya, ga bisa mbayangin deh…
heran sama perokok yang ga berperasaan di angkot masih aja ngerokok…
Rosyidi :Hampir sama. Aku juga, kalo ada yang ngerokok sebel juga, bikin sesek aja.
on 6 June 2007 @ 19:02
jelas-jelas rokok hanya membuat mudzarat . kenapa masih ada perdebatan antara hukum merokok makruh dan haram ? knp masih ada yang menganggap makruh .sudah cukup jelas kan.
on 8 June 2007 @ 12:44
Ada yang berpendapat bhw hukum halal-haram itu kontekstual sekali sifatnya. Misalnya rokok bagi penderita penyakit paru-paru itu haram hukumnya, namun makruh bagi orang yang sehat. Bagaimana tanggapan Aa?
on 9 June 2007 @ 17:37
waktu kecil diajari begini ::
makruh = ditinggalkan berpahala.
lalu, kenapa tidak mau meninggalkannya? padahal dapat pahala. Plus, menghemat uang, menghemat umur, menghindari kanker, serangan jantung, impo…, dan lain2.
[itu andai hukum rokok = makruh. Tapi saya pribadi berpandangan haram]
on 12 July 2007 @ 15:51
numpang nempelkan artikelnya di http://smkn4.info/forum/viewthread.php?forum_id=7&thread_id=52&pid=1110#post_1110
tengkyu om
on 12 July 2007 @ 15:53
sekalian mau nanya neeh, kalau menggunakan sopwer bajakan itu hukumnya apa ya? :-?:-?:o
on 14 July 2007 @ 20:44
Assalamualaikum wwb
Bagaimana dengan hukum mengambil harga anjing dan kucing?Ada yg mengharamkan dan memakruhkan karena Rasullah SAW melarangnya bukan mengharamkan. Namun yg membolehkan nya dengan dalil Alquran yg menyatakan hanya 4 macam saja yg di haramkan untuk dimakan. Kemudian ada H.S.R Al- Bazaar yg meriwayatkan Rasullah SAW menyatakan bahwa apabila ALLAH mengharamkan makanan kepada suatu kaum maka haram pula harganya.
Bisakah bahwa dalil tersebut dapat melemahkan hadist Rasullah yg shahih?Apabila demikian mengapa ada larangan dari Rasullah?
Ada simpang siur dalam masalah ini. Sayapun tidak mau terjerumus syubhat. Maka dari kiranya saudara berkenan memberi tahu makruh yg mana kah ini.
Note: Bagi saya anjing bukan najis. Seperti yg dikatakan imam Malik bahwa semua binatang ciptaan ALLAH yg hidup adalah suci.
Terima kasih
Wassalam
on 14 July 2007 @ 23:37
Assalamualaikum wwb..
maafkan saya apabila masih membingungkan anda. Oke, baiklah begini..yg saya maksud melemahkan hadist yg shahih tersebut menurut Mazhab imam abu hanifah.
“Telah diriwayatkan dari Abu darda’, Ia berkata Nabi SAW pernah bersabda: Apa yg telah dihalalkan oleh ALLAH di dalam kitabNYA (al- quran) maka itulah halal dan apa yg diharamkan itulah haram dan apa yg Ia diam daripadanya (yakni yg tidak diharamkan tentang haramnya) maka itulah kelonggaranNya, karena ALLAH tidak lupa dari suatu barang. Lalu beliau membaca ayat ini yg artinya: Dan tiadalah Tuhanmu itu lupa (H.S.R Bazzar)
Dalil Al-qur’an yaitu Al-baqarah ayat 173 dan Al an’aam 145 meyatakan yg haram itu adalah babi, bangkai, darah yg megalir dan binatang yg tidak disembelih atas nama ALLAH.
Pendek kata, apabila ALLAH mengharamkan suatu makanan maka haram pula harganya. Anjing dan kucing tidak diharamkan oleh ALLAH untuk dimakan maka boleh pula diambil harganya.
Demikian pendapat mazhab imam abu hanifah. (seperti yg tertulis di soal – jawab A. hassan)
Sedangkan dari soal jawab A hassan itu, adapun haramnya binatang buas itu masih di anggap ‘makruh”. Nah makruh nya ini bagaimana. kalo diliat dari dalil diatas ada kelonggaran dari ALLAH sendiri.
Ada lagi yg mengatakan bahwa yg di haramkan itu adalah harganya. Nah ini bagi saya agak rancu karena ALLAH tidak mengharamkan binatangnya bagaimana pula harganya jadi haram.
Dan jelas dari hadist bazaar tersebut, Rasullah tidak berhak mengharamkan sesuatu makanan kecuali ALLAH.
wasiat Rasullah: Apa yg dikatakan datang dari padaku maka hendaklah kamu uji dia di kitab ALLAH sekiranya sesuai dengan kitab ALLAh maka yaitu aku telah mengatakan dan kalau menyalahi kitab ALLAH maka tidak sekali kali aku sabdakan dia karena bagaimanakah aku berani menyalahi kitab ALLAH sedan dengan kitab itu ALLAH memberi petunjuk kepadaku
(Al-Muwaa faqaat karangan Asysyaa-thibi juz 4 halaman 9)
Nah pertanyaan saya:
- bisakah hadist shahih itu dilemahkan oleh dalil di al-quran dan hadist2 shahih lainnya?
- Makruh tahrimi dan tanzih itu dari ‘ijma ulama atau dari ALLAH dan Rasul-Nya?Adakah dalilnya?
Memang betul ada keraguan (syubhat) haruslah ditinggalkan namun tetapi kita ini manusia dan manusia itu lemah lalu dunia ini semakin lama semakin maju ke depan yg mana banyak hal2 baru bermunculan lalu bagaimana meletakkan kata makruh tanzih dan makruh tahrimi tadi, bukan kah harus ada patokan dalam agama kita ini dalam menjalankan hidup kita di dunia?
- Masalah rokok, yg paling baru adalah haram karena merusak kesehatan (ada dalilnya di al-qur’an namun saya lupa) dan kemudian qiyas yg paling dekat adalah memabukkan karena kandungan tar itu ada unsur alkoholnya dimana alkohol adalah barang memabukkan. maka jelas rokok haram. itu yg saya tahu dan baca namun lupa saya referensi nya.
-saya sebenernya agak bingung dengan definisi makruh tanzih dan tahrimi. Bagaimana dengan cerai yg dibenci oleh ALLAH namun boleh?makruh yg mana kah ini?
wassalam
on 17 July 2007 @ 23:36
Keberadaan hukum ‘makruh’ ini kan dikarenakan memang zat atau wujud benda yang bersangkutan, tidak ditemukan rujukannya secara tegas dan jelas mengenai apa ia halal atau haram dalam Quran dan Hadis. Oleh karenanya sebagai garis tengah muncul keberadaan istilah ‘Makruh’, karena posisinya tidak pada domain haram maupun halal.
Kenapa ia disebut ‘makruh’? Karena jika dikerjakan dampaknya buruk dan tidak baik, makanya disebut makruh, namun zat benda ini tidak haram (seperti babi dan khamar). Namun secara zat ia halal, tapi hanya dampaknya buruk (seperti rokok; terdiri kertas papir, cengkeh, tembakau dan gabus).
on 18 July 2007 @ 7:35
Assalamualaikum wwb mas Abi Bakar,
Berarti Makruh itu boleh dong….Dampak buruk itu bisa saja dari makanan juga buruk kalau kita bicara masalah kesehatan. Ulama Indonesia yg lebih banyak memakruhkan dan yg merokok berdalih bahwa kematian cepat atau lambat pasti datang jua. Betul sekali…karena seperti makanan yg halal yg tapi berkolestrol tinggi, bagi siapa2 yg tidak kena darah tinggi atau asam urat, maka boleh2 saja. Tapi apa bisa kita deteksi. Ini cuman contoh…
Masalah rokok saya lebih suka pendapat yg mengatakan rokok itu candu dan memabukkan. Dan kemudian kalo kita tanya ke pabrik rokok tar itu mempunyai kandungan alkohol. Nah bukan kah sesuatu yg memabukkan adalah haram walaupun konsumsinya sedikit.
Babi dan Khamr, zat benda nya haram…karena nash nya jelas.
Saya lebih suka pendapat ulama yg mengatakan bahwa makruh itu boleh namun ada pahala utk meninggalkannya dan hal ini adalah sesuatu dibenci oleh ALLAH dan Rasul-Nya…itu karena ada kelonggaran oleh Allah di dunia ini bagi manusia. Dan manusia itu lemah.
on 18 July 2007 @ 22:17
@ Umar Sesko Ad. Tri Hanato
Benar memang Makruh dibolehkan namun dibenci Allah SWT. Memang saya pernah bilang makruh = haram?
…Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk… [Qs 7: 157]
on 24 July 2007 @ 15:55
Masalah ROKOK tidak perlu diperdebatkan, kita kembalikan saja kepada Al Qur’an dan Al hadist, sementara orang orang yang memakruhkan dan yang mengharamkan, itu semua hanya pendapat mereka saja, jadi sangat subjective, kalau dia tidak merokok dia akan mengatakan bahwa rokok haram, sementara kalau yang merokok akan mengatakan makruh, yang tidak merokok akan mendekatkan lagi hukum merokok itu menjadi mendekati haram, sementara yang merokok akan mengatakan makruh itu kalau dilakukan tidak berdosa tapi kalau ditinggalkan berpahala dan seterusnya …. tidak akan pernah selesai seperti hukum batal tidaknya kotoran burung yang jatuh dikepala (sementara didalam Al Qur’an maupun Al Hadist tidak ada ayat maupun hadis yang jelas-jelas mengatakan bahwa ROKOK itu makruh maupun Haram), kita masing masing boleh mengeluarkan pendapat, tetapi tidak boleh memaksakan pendapat itu kepada orang lain, yang jelas dan yang pasti BABI itulah yang haram dan anda juga harus mengatakan “haram” terhadap keharamanya babi, karena itu bukan pendapat saya atau pendapat orang tapi Allah dan Rasulullah yang mengatakannya (Qs.2:173, Qs.5:3, Qs.6:145, Qs.16:115 dan Hadist Bukhari H:438), jadi kalau anda anda memakannya berarti anda memakan sesuatu yang haram, maka jauhilah makan babi, sementara itu biarkan saja orang menikmati rokok mereka, jangan ditanya apa manfaat rokok, karena hanya orang merokoklah yang bisa merasakan betapa enaknya merokok, bagaimana anda tahu bahwa rokok tidak bermanfaat, kalau anda sendiri tidak bisa menikmati enaknya rokok. bagaimana anda bisa merasakan enaknya durian kalau anda sendiri tidak suka durian. Jangan sampai kita mempermasalahkan hal hal kecil sementara hal-hal besar tidak pernah diamalkan, seperti shalat 5 waktu. apakah anda anda semua sudah betul shalatnya? apakah anda semua memahami apa yang anda baca diwaktu shalat?, sejauh mana pengaruh shalat anda terhadap tingkah laku anda dalam kehidupan sehari-hari? terhadap teman, orang tua, saudara, tetangga, dsb?
Mari kita kembali ke Al Qur’an dan Al Hadist, karena disanalah terdapat sebenar benar peraturan, tidak ada rekayasa dan tidak ada kepentingan.
on 25 July 2007 @ 6:41
Assalamualaikum wwb..Mas pulan
Ganja, heroin, putauw, ecstassy dan lain2nya tidak terdapat dalam Al-qur’an dan hadist. Tapi barang2 yg memabukkan adalah haram. Kalau anda perokok, coba ingat pertama kali anda merokok, tidakkah ada sedikit rasa pusing?coba anda cuci darah anda sekarang dan merokok lagi, tidakkah ada rasa sempoyongan sedikit?Barang memabukkan walaupun sedikit hukumnya haram. TAR yg dipakai dalam rokok, menurut penelitian, terbuat dari bahan yg sama dengan alkohol (apabila saya salah maka mohon maaf). Memang sudah berubah bentuk namun tidak berubah sifatnya yaitu memabukkan.
Wallahu’allam
on 31 July 2007 @ 7:16
Assalamualaikum mas Agam,
Masalah memakan anjing dan menjualnya, ada di Soal-Jawab, A. Hassan jilid 2 halaman 670. Nanti ada penjelasan, mengapa anjing (binatang buas) tidak haram dimakan.
Kemudian masalah menjual binatang yg belum diketahui haram atau tidaknya dibahas di buku Kata Berjawab jilid 1 halaman 528, ada hadist Rasullah yg bersabda: Wahai Manusia! sesungguhnya aku tidak berhak mengharamkan sesuatu yg telah dihalalkan Allah bagiku…(Muslim dan lainnya). Nah, yg berhak mengharamkan sesuatu makanan hanya ALLAH, karena di Al-baqarah:29, “ALLAH lah yg mengadakan bagi kamu apa-apa yang ada di bumi sekaliannya” dan yg diharamkan oleh ALLAH adalah 4 saja, yakni babi, bangkai, darah mengalir dan yg disembelih bukan atas nama ALLAH (Al-An’am 145, Al-Baqarah 173 dan Al-maidah 3). Disitu disimpulkan, harga jual-beli binatang hidup yg haram hanya babi.
Saya belum tahu apa pendapat Yusuf Qardhawi masalah ini.
on 7 November 2007 @ 19:24
Mau nanya dong.., teman saya ada yg jadi TKW di Hongkong, katanya hampir 90% TKW kita disana dipaksa makan daging Babi.. nak kalo yg kasus begini hukumnya apa ya ?
on 4 December 2007 @ 15:25
Siapa yang ber-HAK menetapkan HUKUM?
Ulama atau Umaro ?
on 15 July 2009 @ 19:26
ra.pp klo siksaannya gak berasa
dasar udik,ngomong mutar mutar ra karuan
panganan mu sego telo,tempe bongkrek.pecel eceng lan rempeyek raron.
on 1 September 2009 @ 15:05
afwan, telat taunya ni blog….
1) rokok itu HARAM karena mendzolimi diri sendiri dan orang lain
2) daging anjing HARAM karena air liurnya aja najis tentunya akan mempengaruhi seluruh tubuhnya
3) jual beli anjing, babi, dll kalo dagingnya untuk dikonsumsi (kecuali untuk pameran ato kebn binatang)
itu menurut gW loh….
on 1 September 2009 @ 15:14
3) jual beli anjing, babi, dll DILARANG kalo dagingnya untuk diikonsumsi (kecuali untuk pameran atyo kebon binatang) begitu juga kalo kita kerja disana..
afwan, kompu nya lemot jadi sering error !!
on 17 November 2009 @ 9:11
mang seharus’a rokok diharamkan aja ya, biar indonesia bisa bebas dengan rokok
on 13 February 2010 @ 14:40
Nia :Ass.saya ingin bertanya akhir2 ini marak sekali dlm pemberitaan bahwa vaksin meningitis yg diberikan kpd jemaah haji mgd enzim babi,walaupun saya tau pasti bahwa sebetulnya proses pembuatan vaksin meningitis ini tdk sepenuhnya menggunakan babi,kita hny memakai enzim dari babi utk alat pemotong rantai protein kuman meningitis itu,istilahnya vaksin ini hanya bersinggungan dgn bhn babi,apakah hal ini tetap haram hukumnya atao tdk? Krn saya pernah membaca dalam surat al-baqarah 173 dijelaskan kalu dlm keadaan terpaksa dan terdesak sesuatu yg haram akan mjd halal,sedangkan utk pencegahan dan pembuatan vaksin meningitis ini masih tidak ada cara lain selain memakai enzim babi (walaupun kita hny menggoreskan sbg pemotong saja)
on 28 July 2010 @ 8:50
AWW
Saya kadang bingung dengan para ulama/ustad atau pemuka agama yang menjadi panutan masyarakat yang masih merokok. Andaikata merokok memang “Makruh”, apa beliau-beliau ini lupa peribahasa “GURU KECING BERIDRI MURID KENCING BERLARI’. Ulama saja mengerjakan hal-hal yang makruh tentunya para muridnya akan mengerjakan yang haram. Kalau sudah begini apa jadinya umat islam? Saya setuu merokok termasuk hal HARAM.
WW
kresno
on 18 August 2010 @ 21:20
Maaf, itu komen atas nama akun saya “cahPamulang” bukan dari saya. Seseorang telah memalsukan id saya untuk mereply dengan kata-kata cabul/kasar.
Wass.wr.wb.
on 2 November 2010 @ 21:41
Jadi, , sebenarnya kehujjahan dalil untk rokok it apa secra taklifi? ? Kalo makruh y makruh, kalo haram ya haram, tlng jlskan.
on 7 October 2011 @ 11:11
Yg mendefinisikan Makruh dan Haram sedemikian rupa itu para ‘Ulama, kenapa harus di rubah2 pengertiannya?
on 7 October 2011 @ 18:20
sesuatu yang membawa mudarat yang sedikitnya saja haram apalgi kl besarnya, mas, ohm bapak,,,,,seandaunya rokok itu mengikuti hukum makruh yang berarti dikerjakan tidak berdosa kl ditinggalkan berpahala, maka insyaAlloh ada contohnya dari nabi karena jika maknanya seperti itu maka nabi akan merokok juga karena itu perbuatan yang tidak berdosa walaupun tidak berpahala dan pasti para sahabat juga akan merokok g usah jauh2 aja jaman imam syafei itu sudah ada rokok tapi imam syafei ngrokok g ?????kebanyakn di indonesia ngaku ikut syafei ( mf bkn menunjuk tapi membuka realita ) tapi bc kitaby aja g pernah bahkan byk yang g tau kitabny apa imam syafei g ngrokok malah yang ngaku ikut imam syafei merokok…kan aneh…, jaman nabi itu sudah ada namanya rokok cuma bukan rokok namanya kl dulu, ngisepy pake cerutu yg guuuuedee, dan selanjutnya coba anda tanya sama semua orang ada g yang mau makan atau ngisep sesuatu yang keluar dari mulut orang yang bau bawa penyakit yang parah cepat atau lambat, apalagi ibu hamil coba tanya mau g ngisep asap rokok yang kluar dari mulut orang itukan dzolim, masa sesuatu yang mendzolimi orang di makruhkan??????dah mendzolimi diri sendiri mendzolimi orang lagi….coba dipikir…hayo……dan ternyata mudarot yang terdapat di arak itu lebih besar dari pada di babi dan yang lebih menghebohkan lagi berdasarkan penelitian para dokter menyatakan bahwa mudarot dari rokok itu melebihi minuman keras dan babi…coba saudar2 ku yg muslim pikirkan….minuman keras sama babi aja yang mudaratnya dibawah rokok itu diharamkan apalagi ini ROKOK kok ada yg bilang makruh dalam arti kl dikerjakan g apa2 di tinggalkan dpt pahala kata g apa2 itulo berati sama saja nyuruh kita ngrokok secara tidak langsung….”ah…. kan g apa2 g berdosa ini…di isap aja…”ini…coba gemana coba dipikir pake logikanya kita kan org islam tentunya pintar2…pemerintah aja udah kasih peringatan MEROKOK MEMBAHAYAKAN KESEHATAN, yang anehnya ada orang m rugi ya itu mulut KNALPOT yang bisa kluar asap kaya motor, orang padang aja yang jago dagang g mau namanya rugi
on 24 November 2011 @ 11:28
bahan roko itu dari tembakau dan didesa saya adalah penghasil tembakau,dan dari tembakaulah kami menggantungkan perkonomian kami,alhamdulillah ibu naik haji juga dari panen tembakau..jadi kami sangat diuntungkan dari orang2 yang merokok…untuk meninggalkannya ..jelas kami gak sanggup,karena tanaman lain ,seperti padi,jagung ,kacang jelas tidak bisa membuat ekonomi kami lebih baik..karena harganya yg rendah,kami bisa sekolah dll juga dari tembakau..
on 21 January 2012 @ 23:24
Aq baca ttg ini hy ketawa aja and lucu
Entahlah aq gak ngerti jg kok bs lucu
Tp drpd debat and rame kl mmg haram suruh pabrik rokok tutup ja lewat pemerintah kan bisa
Org yg blg haram krn dia mmg gak rokok
Kl dia rokok psti bilang makruh
Ya akhirnya bingung dech…
Tp saya gak mau bahas mslh makruh dan haramnya rokok tp gimana kl kita bahas kegiatan putra putri kita yg wajib ikut ektra kurikuler sore hari jam 2 smpe jam 5 mninggalkankebiasaan solat ashar bhkn kebiasaan itu dilakukansampe tua main sepak bola di stadion smpe isya
Spa yg salah guru olah raganya
Atau kita
Apakah olah raga bs di haramkan
Krn olah raga bs membuat orang kecanduan lihat temenku aja py a anak dua msh ja main sepak bola lupa belanjain anak istrinya
Sholat di tinggalkannya
Trmksh
on 25 January 2012 @ 10:10
Aneh….
jelasin yg jelas, jgn sepotong2.
sebagian besar ulama mengharamkan,hanya sebagian yang memakruhkan.
kesannya itu kok kayak banyak ulama yg mengharamkn bngt gt lo.
hny sdkit yg memakruhkan.
ulama mana? ulama kelompok siapa? yg jelas dong..
klo dasar hukumnya makruh ya makruh saja, tdk usah d tarik2 ke haram. hanya krn anda tdk suka rokok.
ojo keminter.. mslh agama gk cukup belajar lwt buku. apalagi mslh hukum.
cari ulama bergurulah padanya.
on 28 February 2012 @ 15:26
PECINTA ROKOK nih ga ngerti ya. Udah jelas rokok haram karena lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dalil Quran banyak, dalil hadits juga banyak. Rokok juga pernah diharamkan di jaman Khalifah Utsmani. Jadi dasar hukumnya jelas haram tapi ditarik-tarik ke makruh (bagi yg doyan merokok). Silakan anda juga berguru lagi deh.
on 3 May 2012 @ 14:18
Saya mau bertanya …. jika pada bulan puasa …. seseorang itu pada siang harinya asik tidur dari sehabisnya waktu sahur hingga ke waktu masuk Asar . Kalau ikut seperti yang diberitahu itu hukumnya MAKRUH tetapi adakah dia mendapat pahala puasanya atau sebaliknya hanya ibadah yang sia-sia tanpa apa2 ganjaran dari ALLAH SWT ? minta penjelasan . Satu lagi pertanyaan … adakah onani itu jatuh Makruh atau dosa ?