Printer Berbahaya Bagi Kesehatan
Sitting next to a printer could rival the same health effects affiliated with breathing secondhand smoke.
Researchers found that some laser printers emit ultra-fine particles that contribute to indoor air pollution. When these small particles are inhaled, they can cause respiratory problems and illnesses such as heart and lung disease or cancer.
In a study published in Environmental Science & Technology, 40 percent of printers emitted ultra-fine particles, 27 percent of which were classified as high particle emitters.
Bahaya rokok bagi kesehatan tentu sudah banyak yang mengetahuinya. Bahaya berada di dekat perokok juga bukan barang asing lagi. Namun, tahukah anda bahaya berada di dekat printer?
Printer laser yang biasanya dipakai juga bisa menimbulkan dampak yang sama berbahayanya bagi kesehatan kita. Seperti halnya rokok yang memancarkan partikel-partikel kecil yang berbahaya bagi kesehatan, printer pun memancarkan partikel berbahaya dalam jumlah yang tidak sedikit. Bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan mulai dari iritasi pada sistem pernafasan hingga masalah kardiovaskular dan kanker.
The 27 percent emit such high amounts of ultra-fine particles that the health implications are of great concern.
“Particles emitted by printers, likewise with those from cigarette smoke, are in the ultra-fine size range, and therefore can penetrate to the deep regions of the respiratory track,” Prof. Lidia Morawska, director of the International Laboratory for Air Quality and Health at Queensland University of Technology, said.
“Increasing numbers of toxicological studies point to the health risk due to the inhalation of ultra-fine particles,” Morawska said.
Morawska, Congrong He of Queensland University of Technology and Len Taplin from the Queensland Department of Public Works conducted the study.
“The study of the building was initially based on a different study where we investigated the efficiency of filtration and ventilation system in protecting the indoor environment from vehicle emissions on a nearby busy road,” Morawska said.
“Since [then], at times, concentrations inside were much higher than outside. We had to find a reason for this, which turned out to be the printers,” Morawska added.
The three investigated ultra-fine particle emissions produced by 62 printers in an Australian office building. After a printer was used, it was classified as a non, low, medium or high particle emitter.
Hewlett-Packard LaserJet printers contributed to 14 of the 15 highest level particle emitters.
Luckily, home printers should not emit enough particle pollution to put many people at risk.
“I would not imagine the particle concentration would reach levels of concern,” Rachel Robinson, a research assistant to Morawska, said of printing at home.
“However, if we print document after document for a long period of time, in an enclosed room, then the particle concentrations could reach levels of concern.”
Robinson suggests moving printers in well-ventilated areas away from people to reduce exposure to ultra-fine particles.
Dari 62 printer yang telah di uji, 15 printer di antaranya masuk dalam kategori sangat membahayakan kesehatan. Printer Hewlett-Packard LaserJet menyumbangkan 14 dari 15 printer beremisi tertinggi. Untungnya jumlah emisi yang dikeluarkan printer rumahan tidak sampai membahayakan. Jadi hal ini berbahaya ini terjadi jika printer digunakan secara terus menerus dalam ruangan tertutup, dan partikel-partikel kecilnya berkumpul hingga semakin banyak bertebaran di udara. Untuk mengurangi dampak merugikan tersebut, Prof. Lidia Morawska merekomendasikan agar memindahkan printer ke ruangan dengan sirkulasi udara yang bagus serta tidak ditempatkan di ruangan yang banyak terdapat orang berdiam disana, dan pemerintah tidak hanya mengatur regulasi tingkat emisi dari kendaraan, pabrik, atau sejenisnya, tetapi juga untuk perangkat printer.
Also, printers that operate often should not be in areas where many people sit.
This study is one of the first of its kind, so there is still much to discover about printer particle emissions. The chemistry of the particles is unknown. Likewise, there is no conclusive evidence that some printer brands emit more particles than others.
Hewlett-Packard did not respond to questions about the implications of this study.
Penelitian ini baru pertama kali dilakukan, karena itu masih banyak yang belum dikupas dari emisi partikel printer. Kandungan kimia dari partikel belum diketahui. Dan, semua ini bukan berarti bahwa beberapa merk printer mempunyai emisi dari printer merk lainnya.
Hewlettt-Packard sendiri belum memberikan tanggapan sehubungan dengan penelitian ini.
In Germany there’re already more than 1.600 cases of people suffering from inflammations of the respiratory tract, the eyey and skin caused by the tiny particles of their printers. This is definetly not more than the tip of the iceberg, indicating a tremendous global problem.
A German study now revealed that Laserprinters pollutions of fine dust go up to 250µg/m3 and observed an initial burst of nano-particles up 250.000/cm3. These tiny particles could be identified as heavy metals and volatile organic compounds.
Di Jerman sudah ada lebih dari 1.600 kasus infeksi saluran nafas, mata, dan kulit disebabkan oleh partikel kecil dari printer mereka. Ini merupakan masalah dunia yang harus diselesaikan. Penelitian di Jerman sekarang menyatakan bahwa ukuran dari partikelnya 250µg/m3 dan ketika diamati penyebaran dari nano partikel lebih dari 250.000/cm3. Dan partikel ini bisa dianggap sebagai logam berat dan bahan kimia organik (volatile organic compounds).
Read Prof. Lidia Morawska here.
Baca karya Prof. Lidia Morawska di sini. Untuk merk2 printernya lihat di table 1.
Penulis : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/
Referensi :
- Dialy Vidette
- Majalah Chip, Agustus 2007
Terjemahan dalam bahasa Indonesia memang segaja dibuat agak berbeda dengan versi Englishnya, hal ini agar tulisan dalam bahasa Indonesia bisa lebih sederhana dan mudah dimengerti.
Terjemahan bahasa Indonesia sebagian diambil dari Majalah Chip, namun sangat disayangkan Majalah Chip tidak menyembunyikan merk printer dari hasil studi tersebut (tidak tau menyembunyikan atau memang belum tau), dan juga pembahasannya kurang lengkap. Disini saya menambahi sedikit kekurangan dari laporan Chip tersebut. Semoga Chip bisa lebih transparan di kemudian hari.
—–
Commentku : Printerku sendiri sebenarnya HP Laserjet 5, tapi untungnya masih termasuk non-emmiter menurut tabel 1 Prof Morawska, Printerku satunya lagi Apple tidak masuk dalam daftar 
Related Posts
9 Comments to “Laser printers pose lung damage risk”
Leave a Reply
Jika ingin berlangganan artikel2 terbaru dari rosyidi.com klik disini


January 29th, 2008 at 15:31
atas penelitian tersebut, HP pernah protes lho, tapi lupa dimana yach.. bukannya beritanya sudah lama yach?
January 29th, 2008 at 15:47
iya nih, udah rada basbang
January 29th, 2008 at 17:20
wah, kalo yang bubble jet gimana? saya kan ngga mau mati gara-gara printer! kayanya hp mulai mengikuti jejak apple dengan memproduksi produk beracun.
January 30th, 2008 at 11:42
wah habibie mode: on nih
btw kalau printer laser berbahaya, berarti mesin fotokopi lebih berbahaya lagi y? apa ga ada rumusannya, berapa probabilitas bisa timbulkan penyakit dengan frekuensi interaksi dengan printer tsb sebanyak x jam per hari? thx b4
January 30th, 2008 at 14:07
huhu,
tp itu pas pake canon,
aLe abis nge print biasanya malah nyium aromanya
enak banget loh
smenjak ganti HP, uda ga lg, coz tintanya apek
January 30th, 2008 at 14:41
numpng nimbrung ja ney

lam knal
January 31st, 2008 at 11:39
untung deh t4 printer noki dekat pintu. kan sirkulasi udaranya sangat bagus
February 2nd, 2008 at 14:53
@aLe
Wah jangan-jangan parfum aLe pakai tinta printer
Bau bensin? Iya bener … enak baunya hihihi
February 3rd, 2008 at 22:14
wah…wah…bahaya tuh, kebetulan disini lagi ada temen yang lagi nawarin printer laser Samsung, hehehe….dikasi tau gak ya…