Ketika Wartawan Salah Kutip

Email This Post Email This Post

Wartawan atau jurnalis adalah seorang yang melakukan jurnalisme, yaitu orang yang menciptakan laporan sebagai profesi untuk disebarluaskan atau dipublikasi dalam media massa, seperti koran, televisi, radio, majalah, internet, dll. Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalam laporannya; dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif.

Sebagai jurnalis mereka harus professional. Menyamapaikan fakta apa adanya. Namun memang menjadi seorang wartawan bukanlah hal mudah, pencari berita ini harus bersusah payah berpindah-pindah lokasi dari suatu tempat ke tempat lain. Dan mereka harus secepat mungkin melaporkannya sebelum waktu yang ditentukan (deadline). Beberapa wartawan yang mungkin karena melakukan pekerjaan yang melelahkan, kerap kali melakukan kesalahan dalam pemberitaan.

Ketika narasumber salah mengutip tulisan kita, seharusnya kita melakukan beberapa tindakan agar pihak media massa dapat meralat tulisannya pada edisi berikutnya.

Menurut Djatmiko Miko, seorang jurnalis Jawa Pos dalam acara POD mengatakan bahwa tindakan yang sebaiknya kita lakukan ketika ada pemberitaan salah terkait informasi yang kita berikan kepada wartawan adalah menghubungi pihak Medianya. Agar media dapat meralat berita tersebut di edisi berikutnya. Jika kesalahan tersebut disebabkan oleh wartawan yang salah dalam melaporkan hasil wawancara, beberapa media besar seperti Jawa Pos bahkan akan membebas tugaskan wartawan tersebut alias memecatnya.

Pelaporan ini penting, karena jika kita tidak melaporkan kesalahan yang dilakukan oleh media, maka mungkin justru kita yang kena getahnya. Seperti pada kasus Roy Suryo yang dihujat para blogger karena pernyataannya di media yang menjelek-jelekkan blogger. Setelah dilakukan dialog terbuka antara blogger dan RS, ternyata RS mengaku bahwa media yang salah mengutip pernyataannya. Mungkin pakar telematika kita yang satu ini belum tahu tindakan apa yang seharusnya dia lakukan ketika wartawan salah mengutip pernyataannya.

Andaikata media tidak mau meralat pernyataannya, kita bisa menuntutnya. Namun sebaiknya tidak semua masalah harus berakhir di persidangan. Sebab sebaiknya kita melihat dulu seberapa besar kesalahan yang dilakukan oleh wartawan tersebut. Jika kesalahan mereka sudah menyebabkan tercemarnya nama baik kita, dan masalah terkait tulisan itu menjadi membesar di tengah masyarakat, baru kita layangkan gugatan. Tapi sekali lagi itu sebaiknya hanya dilakukan ketika media menolak melakukan ralat terkait pemberitaannya dengan alasan yang tidak jelas.

Jadi andaikata kesalahan wartawan tersebut tidak berujung pada reaksi keras masyarakat, atau dengan kata lain hanya masalah kecil, sepertinya diam lebih baik. Sebagai contoh, saya sendiri pernah mengalami pemberitaan yang salah total. Dan sayapun diam saja karena berita ini tidak berpengaruh besar bagi masyarakat dan saya pribadi.

Berikut ini beritanya yang dimuat di koran S :

Waspadai perampas berlagak melas di TL

HATI-HATI aksi penjahat yang berpura-pura menolong. Dua siswa SMU, Jumat (15/3) kemarin, nyaris jadi korban Mahmudi, 26, warga Bangkalan. Agam, 16 dan Pandu 17 yang mengendari sedan Toyota Corona, dipedayai Mahmudi saat menlintas di traffic light Ngagel Wasono. “Mobil saya tiba-tiba digedor-gedor dan diminta minggir,” tutur Agam di Polsekta ********. Mahmudi ketika berdalih tangannya sakit akibat tertabrak mobil Agam. Lantaran kasihan, Agam memberi uang Rp. 65.000 dan mengantarkannya cari obat. Namun, di tengah jalan, Mahmudi minta menghentikan mobil. Saat itulah ia merampas handphone Nokia 3210 Agam. Spontan, Agam dan Pandu meneriaki maling hingga Mahmudi ditangkap warga lalu diserahkan ke Polsekta *******.

Berita diatas sebagian besar salah. Seharusnya :

Hati-hati aksi penjahat yang berpura-pura terluka. Dua siswa SMU, Jumat (15/3) kemarin, nyaris jadi korban Mahmudi, 26, warga ??? (sepertinya ini juga salah, tapi saya lupa dia warga mana). Agam, 17 dan Pandu 17 yang mengendari sedan Toyota Corona, diperdayai Mahmudi saat berhenti di traffic light Ngagel Wasono. “Mobil saya tiba-tiba digedor-gedor dan diminta minggir,” tutur Agam di Polsekta. Mahmud berdalih tangannya sakit akibat tertabrak mobil Agam. Mahmudi meminta lukanya diobati, karena hari libur dan semua apotek tutup, akhirnya Mahmudi minta berhenti di depan RSJ Menur. Akhirnya Mahmudi minta berupa uang saja, namun karena Agam hanya membawa uang sebesar RP. 65.000 dan dianggapnya kurang, akhirnya dia meminta handphone Nokia 3350. Lalu Pandu keluar mobil dan meneriaki maling hingga Mahmudi ditangkap warga. Setelah ditangkap warga, Mahmudi sempat melarikan diri lagi dan akhirnya dikejar warga dengan menabrakkan sepeda motor ke arah Mahmudi. Dan akhirnya Mahmudi diserahkan ke Polsekta ********.

Sebagai masukan untuk wartawan, meskipun tugasnya berat seharusnya wartawan tetap bekerja secara professional tidak asal tulis berita. Walaupun berita yang menimpa saya itu tidak penting, namun dari sana terlihat jelas ketidak seriusan oknum wartawan tersebut dalam mewawancara.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa :

  1. Laporkan jika hasil wawancara anda salah
  2. Wartawan seharusnya lebih professional, tidak asal-asalan
  3. Jangan percaya media 100%. Karena mereka juga bisa salah.

Penulis : Agam Rosyidi

URL : http://rosyidi.com/ketika-wartawan-salah-kutip/

Referensi :

nb : Beberapa hal saya sensor untuk privasi dan menghindari pencemaran nama baik. Polsekta saya sensor juga, karena HP saya hilang tak berbekas ketika dijadikan barang bukti. Semoga kepolisian yang sekarang semakin baik dan tidak berbuat seperti itu lagi. Barokallahu fiikum.

Kata Kunci yang sering dicari untuk artikel ini :

wartawan adalah, aida askia, pemberitaan yang salah, wartawan, roy suryo salah kutip, Ketika wartawan salah kutip, kesalahan wartawan, keluhan masyarakat tayangan pemberitaan zainuddin mz, contoh berita yang salah, Berita yang salah, salah kutip roy suryo, berita tentang kesalahan wartawan, kasus wartawan dengan artis, contoh pemberitaan yang salah, kasus wartawan dan artis, dampak pemberitaan salah oleh wartawan, bagaimana seharusnya seorang wartawan mencari berita, ketika seorang jurnalis salah tulis berita, wartawan salah kutip, HASIL PERTANYAAN wartawan mengenai kebakaran, ketika seorang jurnalis salah mengutip berita, wawancara wartawan dengan artis, Bagaimana seharusnya seorang wartawan dalam mencari berita, kesalahan wartawan dalam wawancara di televisi, kasus wartawan dalam penulisan berita, kesalahan wartawan dalam menulis, kesalahan wartawan dalam berita, kesalahan wartawan dalam sensor kasus, kesalahan ketika menulis berita, kasus wartawan jawa pos menulis dalam kata, kasus wartawan salah kutip, kasus wartawan yang melakukan pencemaran nama baik, keluhan masyarakat terhadap pemberitaan media, kesalahan roy suryo, kesalahan pemberitaan yang dilakukan oleh media, kenapa ldii sesat, kasus penulisan berita yang salah, kasus pencemaran nama baik yang dilakukan wartawan, image, hukum kutip berita koran, hasil wawancara dengan wartawan profesional, hasil wawancara dan nara sumbernya, hasil pemberitaan jawapos tentang salah tulisan, free download Mp3 contoh wawancara untuk jurnalistik, download wawancara wartawan mencari berita, dimana wartawan mencari berita, DIALOG WAWANCARA WARTAWAN TENTANG KEBAKARAN, DIALOG wawancara WARTAWAN DENGAN ARTIS, jawa pos masalah wartawan, kasus wartawan


Kirim ke Teman di Facebook

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments
  1. waktu diskusi terbuka, khan di hadiri sama wartawan juga.. apa kata wartawan waktu roy suryo bilang gitu mas?
    kalo wartawan cuma nganggut2 iya, berarti ada kemungkinan salah di wartawan. soalnya diradio, roy suryo juga bilang kalo yang wartawan salah kutip :D

  2. atau jangan-jangan om oy cuman cari amannya? kok kayaknya berbelit2 gitu…;)

    Rosyidi :Itulah seni berbicara.

  3. Wah berarti polisinya yang untung dong karena dapat hp …..?

    Rosyidi :Ya, gitu deh :(

  4. Di dialog blogger dan roy kemaren. ada wartawan “mengkonter” untuk pembenaran berita yang dimuat. karena mereka merasa profesional.

    Rosyidi :Ya, bisa jadi dalam kasus ini wartawannya yang benar.
    Yang jelas tulisanku diatas bukan menyatakan siapa yg benar dan salah, tapi jika ada kesalahan di pihak media, itulah tindakan yg sebaiknya dilakukan.

  5. wartawan (media) memang lebih sering mebesarkan masalah kecil , dan membikin besar masalah besar… jadi .. ya maklum, apalagi kalau korannya kompas …

  6. waduh mas pernah mengalami kejadian mengerikan kaya gitu? untung gak apa2 ya mas.. btw itu kejadiannya tahun berapa?

  7. pengalaman pribadi yak ?? :)

  8. Saya pernah melihat wartawan meliput berita. Misal kejadian di WBL beberapa tahun yang lalu. Antara media satu dan lainnya biasanya berembug dahulu untuk menyamakan datanya untuk ditulis atau ditayangkan di media. Tapi karena mengejar tayang atau berita, wartawan terkadang salah dalam menulis/mengutip berita.

  9. Mas banyak lo blogger yg begitu juga,… :) gak cuma wartawan

    Rosyidi :Ya, memang. Semua orang pasti bisa juga salah. Namnya juga manusia. :)>-

  10. ribet juga ya jadi wartawan :)

  11. sepakat, jadi wartawan harus lugas dan tegas !!!:)>-

  12. Wah memang harus hati2 jadi wartawan,
    tapi dalam berbagai kasus, kita harus melihat dulu keadaannya.
    Siapa tau memang wartawannya yang benar,
    memang perlu melihat banyak hal.

    Rosyidi :Ya, memang wartawan juga bisa bener. Hanya wartawan yang asal2an aja yg gak bener. Yg jadi masalah kita tidak tau siapa yg asal2an dan gak, kecuali kita sendiri yg jadi narasumbernya.

  13. media salah kutip kok ga ada press conferencenya ?

    Rosyidi :Ya, seharusnya jika merasa ada pemberitaan yg salah memang perlu press conference, atau paling tidak menghubungi pihak media untuk meralatnya.

  14. jadi khawatir kalau baca berita di koran :P

  15. Kalau banyak (lebih dari 10) media menulis berita yang sama dari nara sumber yang sama, lalu nara sumbernya menyangkal berita tersebut sembari bilang bahwa media salah kutip, kira-kira yang benar (atau salah) itu medianya apa nara sumbernya?

    Kalau sampai terjadi kisruh seperti kasus yang saya sebutkan barusan, untuk di kemudian hari, bagaimana cara terbaik untuk menghindari kekisruhan yang sama?

    Rosyidi :Udah aku jelasin di tanggapanku unt komentar sebelumnya, kalo tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa2. Tapi hanya prosedur yg benar.
    Andaikata RS merasa bahwa media salah, seharusnya dia ngomong dari dulu, ketika wartawan mulai mempublikasikannya. Agar media dapat meralatnya pada edisi berikutnya.
    Kalo dibiarin ada dua kemungkinan. 1.Gak tau prosedur ini. 2.Lagi sibuk.

  16. Mungkin wartawannya juga pengin terkenal kayak artis kali…..
    Makanya ambil jalan pintas, bikin berita diplesetin biar heboh….
    He..he..he…
    Tapi aku yakin, masih banyak wartawan yang profesional…..

  17. jadi salah siapa neh sebenarnya?
    jadi bingung….
    :-w[-(:-?

    Rosyidi :Aku netral, jadi tidak menyalahkan siapapun.
    Karena kalo menyalahkan seseorang harus ada buktinya. So, yang tau mana yg bener ato gak cuma RS dan Wartawan.

  18. saya setujuh..terkadang beritanya cenderung memprovokasi…padahal seharusnya menjadi jembatan informasi, bukan utk tujuan mencuci otak pembaca.. :(

  19. hmm……’afwan, selain salah mengutip berita, apa ada batasan2 terntentu di mana wartawan di haramkan meliput berita yang bisa menyebarkan aib saudaranya (sesama muslim)
    jazakallah
    wassalam
    ahmad:)

  20. kadang2 si wartawan suka mlintir2-in berita biar kedengeran bombastis.
    Klo kmu ceritanya cuman dipalak aja kan kurang seru, mangkanya ditambahin bumbu2 biar tmbh waaahhh :d

  21. duh hengpong nya ilang tidak berbekas?? :d

  22. wah, hp nya buat siapa dong kl ga berbekas…

    Rosyidi :Kata polisinya sih dibawa ama kejaksaan, tapi katanya kejaksaan yg bawa polisi. Gak tau yg bener yg mana :(

  23. Kalau saya sih cenderung mengatakan bahwa wartawan lebih banyak benarnya dalam kasus RS. Sementara RS hanya mencari kambing hitam (dalam hal ini wartawan) untuk pembenaran dirinya.

  24. klau kasus si OM yang salah narasumbernya bukan wartawannya :)>-

    Rosyidi :Terlepas dari benar dan salah. Karena aku gak tau secara langsung ketika wawancaranya. Soalnya aku gak mau dibilang menuduh tanpa bukti. So, jika si OM merasa benar, seharusnya beliau melakukan tindakan seperti yang aku ceritakan diatas. Seharusnya dia melaporkan ke pihak medianya, bahwa wartawannya telah salah kutip dan menyebabkan kontroversi di kalangan publik. Sehingga media dapat meralat beritanya, dan memperingatkan bahkan memecat wartawan yang bersangkutan.

  25. [...] ketika wartawan salah kutip [...]

  26. [...] kasus yang pernah saya ceritakan sebelumnya “Ketika Wartawan Salah Kutip”. Dimana disana saya sebutkan rentetan kasus yang saya alami sendiri namun disampaikan secara [...]

  27. [...] Rosyidi’s last blog post..Ketika Wartawan Salah Kutip [...]

  28. memang banyak mas oknum polisi sektor yang kaya gtu…
    alih-alih mengamankan barang bukti, eh, malah diembat juga tuh barang buktinya ma oknum polisi. kejadian ini bukan hanya sekali terjadi, tpi hampir setiap barang bukti jadi ga jelas lagi statusnya karena “hilang di kepolisian”.
    sebenarnya kadang saya bingung dengan tugas polisi, dengan slogan ” Melindungi, Mengayomi, Dan Melayani masyarakat ” apa benar polisi bisa merealisasikan slogan itu dengan ikhlas sesuai dengan tugasnya dengan tidak melihat materi. semoga jajaran di kepolisian bisa lebih baik dalam membimbing anak buahnya…

  29. wartawan juga manusia yang bisa salah makanya UU no 40 1999 pasal 5 ayat 2 dan 3 menjadi pintu bagi kesalahan wartawan untuk dikoresi

  30. PERTIMBANGAN MEDIA DALAM MEMUAT BERITA
    1. BISNIS
    2. VISI & MISI
    3. MEMBANTU PEMERINTAH
    4. TUNTUTAN PUBLIK/MASYARAKAT
    5. ALAT KONTROL
    6. MEMBANGUN OPINI/PUBLIK
    7. BERKUASA UNTUK MENGENDALIKAN & MASYARAKAT DUNIA GLOBAL
    8. JADI BIANG KEROK SEGALA KERUSAKAN MORAL, SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, BUDAYA DAN AGAMA,
    9. ATAU PERBAIKAN NO 9 ITU SEMUANYA.

    DENGAN BEBERAPA ITEM DI ATAS APA KENYATAAN YANG TERJADI DI MASYARAKAT SELAMA INI DARIPADA PROGRAM KERJA MEDIA, MARI KITA KAJI ULANG KEMBALI !:

    1. BISNIS
    Coba kita perhatikan kerja Media selama ini, tentang pemberitaan kasus-kasus yang telah lalu maupun yang saat/sedang terjadi, maka kenyataannya lenih mendahukan bisnis/materidaripada kemaslahatan masyarakat. Serta lebih condong kepada penyesatan dan penipuan publik. Lebih-lebih banyak mengedepankan sensasi untuk menipulasi/mempermainkan bahasa dan memelintirnya agar kesan kepada pembaca, ini adalah hak mereka (media) tetapi yang harus diperhatikan adalah jangan keterluan untuk menipulasi publik itu kesemuanya adalah sifat-sifat orang-orang munafiq sedangkan menafiqnya Media atau pelaku media adalah menafiq ligal formal dan global pada zaman jahilijyah yang sekarang ini. Sedangkan masyarakat pemerintah tidak atau kurang peduli masalah ini sebab mereka sendiri juga lebih takut media daripada kerusakan masyarakat termasuk tanggung jawab mereka (pemerintah) baik tanggung jawab secara pribadi besuk di hadapan Allah maupun tanggung jawab secara umum (pemerintah). Inilah awala daripada kerusakan dan kemundurkan sebuah bangsa kita secara keseluruhan. Dalam kesimpulan komentar di atas bahwa media lebih mengedepankan bisnis daripada pertimbangan kemaslahatan. Maka dapat kita simpulkan ini menunjukan kepada pelaku-pelakunya yang dimotori orang-orang munafiq dan fasik. Memang kerja mereka mengadakan kerusakan di muka bumi sebagai bentuk azab langsung dari Allah di dunia ini dan tidak mampu melihat dan mengikuti petunjuk Al Qur’an sebagaimana Allah berfirman (QS. Al Baqarah:8 s/d 20)

    2. VISI & MISI
    Dengan Visis & Misi media tentunya kita melihat siapa yang ada di dalamnya maka kita akan tahu persis apa Visi dan Misinya. Setelah kita ketahui kita dapat menyimpulkan secara ideologis yang mereka perjuangkan untuk tercapai target yang ideal demi melaksanakan Visi dan misinya itu sendiri. Sekarang secara ideologi kita ketahui maka hati-hatilah bahwa sebenarnya mereka adalah musuh yang sangat asasi dan sangat esensi dan kalau begitu tentunya kita harus waspada terhadap setiap berita yang kita baca atau dengar sebagaimana, Allah telah mengingatkan kita, apabila kita mendapat suatu berita dari orang fasik/menafiq maka periksalah jangan tergesa-gesa percaya sebab mereka adalah suka adudomba dan fitnah serta membuat kerusakan di muka bumi. Lagi-lagi di belakang mereka yang menguasai adalah musuh-musuh Allah dan orang-orang beriman. Maka kita dapat menyimpulkan bahwa terget Media adalah menciptakan kerusakan dan kekeruan di tengah-tengah kaum muslim agar mereka lebih menguasainya. Dan pada akhirnya kita uimat islam digiring ke jalan yang sesat untuk memasuki surganya Dajjal dan nerakanNya Allah. Untuk bersama-sama mereka. Allah berfirman “Walantardhoo anngkal yahuudu walannasoroo hatta tatta tabi’amillatahum”

    3. MEMBANTU PEMERINTAH
    Media apakah membantu kelancaran program pemerintah? Ternyata tidak demikian dan harapkan masyarakat tentunya operan media itu sebagai alat kontrol dan untuk kelancaran opini publik yang positif bukannya sebaliknya malah menambah dan beban pemerintah suatu misah kurangnya ketegasan dan berani dalam pemberitaan tentang kasus korubtor dan lebih condang tarik ulur tentang kasus korubsi sabab dalam kenyataannya setiap kasus korubsi tak kunjung selesai sedangkan kasus selainnya seperti Teroris bisa diberangus habis ini menunjukan ada kesamaan antara media atau pelaku media dan para koriobtor saya kira dapat disimpukan mereka sama-sama memiliki sifat-sifat kemunafiqkan. Kenapa demikian lihat dari program kerjanya keuntungan dan tidak mempedulikan kemaslahatannya. Dan dampak kerusakan masyarakat diabaikan. Dan bahkan mereka (media) lebih condong serta membantu para korubtor dan minimal kurang peduli terhadap penyelesaian mereka menjadi jera sebab masalah ini bukan masalah subbtansi bagi Visi & Misi media bahkan cunderung menghendaki tidak selesai agar masyakat kita yang mayoritas umat islam ini tertinggal dan terpuruk maka wajarlah media kafir musyrik.

    4. TUNTUTAN PUBLIK/MASYARAKAT
    Bahwa media adalah tuntutan masyarakat atau publik, baiknya madia maka baik pula masyarakat dan sebaliknya, rusaknya pelaku media maka rusak pula masyarakat. Dan sekarang permasalahannya adalah milik siapa media itu? Tentunya kita tahu bahwa pada umumnya media adalah 99% dipegang olehorang-orang kafir musyrik dan pelaksa lapangan orang-orang munafiq dan fasik. Yang paling pokok adalah sejauhmana media bisa memmuat berita bisa dikendalikan dengan dan lebih mengedepankan kode etik moral dan membangun yaitu lebih mementingkan kemaslahatan daripada keuntungan bisnis. Dengan hasil infestigasi pemberitaan media selama ini jauh dari harapan umat khususnya umat islam sering dirugiakan seperti contoh KH. A’Aagym Syaikh Puji, Ust. Abu Bakar Ba’syir dan akhir-akhir ini KH> Zainuddin MZ. Masalah pemberitan di atas akan saya singgung sedikit, lihat dan cam kan baik masalah ini wahai saudaraku!!! A’AaGym misalnya Nikah dua kan boleh dan baik kenapa beliau diberitan terkesan Pleboy atau dibuat imit jelek coba bayangkan mana letak keadilan ini, wahai saudara kita tahu persis sebab tidak sesuai dengan Visi & Misi media bukan baik dan tidak baik tetapi A’AaGyim sudah bertentangaan dengan Visi & misi mereka. Mereka tahu persih bahwa itu benar tetapi mereka tidak menghendaki kebenaranya itu seandainya A’aGym salah seperti sebelumnya yaitu jadi dakwah ala selebriti tentunya didukung terus Coba kita lihat secara cermat adakah para dai-dai yang betul-betul lurus ke islamannya (akidahnya) mereka (media) meu makai atau mengangkat saya yakin seyakin-yakinnya mereka tidak akan mau justru mereka berusaha untuk mencari kelemahannya kemudian terus dijatuhkan melalui publik seperti kasus yang terbaru yaitu KH. Zainuddin MZ. Ini bisa jadi akal-akalan media memang begitulah program kerjaannya media selama ini membuat kerusakan dan fitnah. Ini terlepas benar dan salah, maka salah atau benar yang tetap diuntungkan adalah media dan Aida Askia sebab apa media omsetnya banyak & Aida Askia menjadi terkenal karena dopleng sama KH. Zainuddin MZ atau sebutan da’i sejuta umat. Dan lebih diuntugkan lagi media kafir, munafiq bisa membuat kerusakan karena ini kepuasan tersendiri bagi orang yang rusak mata hatinya yang teklah ditutupi oleh ,kegelapan azab yang diberikan secara langsung di dunia ini sehingga mereka tidak mampu melihat petunjuk Allah sebagaimana saya jelaskan di atas buka sendiri tafsirnya oke.

    5. ALAT KONTROL
    Bentulkah media alat kontrol? Memang harapan masyakat demikian tetapi kenyataannya bukan alat kontrol malah alat untuk menyebarkan fitnah di masyrakat secara global dan universal dan menimbulkan kerusakkan di sana-sini dan lebih mengedepankan bisnis dan Visi mereka

    6. MEMBANGUN OPINI/PUBLIK
    Media media memang sangat menentukan dan semua kebijakkan publik , tetapi kebijakan publik itu sendiri bukan di dasari atas ke objektifan suatu yang mendasar dalam undang pemerintah secara legal formal secara ketat maka ujung-ujungnya lebih disalahgunakan oleh pihak-pihak berkepentingan yaitu media itu sendiri yang dimotori oleh orang yang sangat diragukan kejujurannya apalagi orang munafiq tengik. Kalau gak percaya lihat dan perhatikan pola pandang dan cara berfikir pelaku media Umum atau kafir selama ini akan kita blejeti tentang kemunafiqkan mereka.

    7. BERKUASA UNTUK MENGENDALIKAN & MASYARAKAT DUNIA GLOBAL
    Bahwa Media berkuasa baik secara lokal, nasional dan internasional baik di timur maupun di barat mereka atau media dapat menentukan tetapi mereka tidak ada yang dapat menentukan atau mengendalikan, media dapat menghukum atau membasmi karakter seseorang atau masyarakat tetapi media tidak ada yang otak atik seperti kebal hukum dan bahkan persidenpun daopat dikendalikan. Kerusakan media adalah sama dengan kerusakan jagat raya ini, kiamat sebelum kiamat adalah diawali kiamatnya (kerusakan media) termasuk awala daripada kiamat. Contoh Aliran LDII yang sangat ketat dan tertutup rapi kuat tetapi dengan media mereka lelimpungan dan tidak berkutik bahkan dengan segala cara dan upaya melobi MUI untuk dilegalkan aliran islam yang tidak sesat mereka tidak berhasil inilah bagian terkecil kabaikan media khususnya media islam media selainnya tidak menginginkan demikian bahkan mereka melindungi kesesatan seperti JIL, Ahmadiyah, LDII, dan aliran atau paham sesat lainnya. Kalau paham yang benar mereka tahu persis maka mereka memdia kafir tidak mendukung bahkan malah membela.

    8. JADI BIANG KEROK SEGALA KERUSAKAN MORAL, SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, BUDAYA DAN AGAMA,
    Terbukti semua di atas media kafir semua sumbaer malapetaka sebagaimana saya singgung di atas. Sesaui dengan data dan fakta lapangan dan kenyataan tidak terbantahkan .

    Inilah dampak media di masyarakat sangat memprihatinkan kita dan dunia pada umumnya. Dan mudah-mudahan Allah masih menoleransi perbutan media dan masih menaham azabnya.

Leave a comment

<< Harus diisi dengan angka 3


:) :( :d :"> :(( [[dnc]] :x 8-| :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

Komentar anda mungkin tidak akan muncul langsung. Laporkan ke kami jika dalam waktu lebih dari 24 jam komentar tetap tidak muncul.