Wartawan atau jurnalis adalah seorang yang melakukan jurnalisme, yaitu orang yang menciptakan laporan sebagai profesi untuk disebarluaskan atau dipublikasi dalam media massa, seperti koran, televisi, radio, majalah, internet, dll. Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalam laporannya; dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif.
Sebagai jurnalis mereka harus professional. Menyamapaikan fakta apa adanya. Namun memang menjadi seorang wartawan bukanlah hal mudah, pencari berita ini harus bersusah payah berpindah-pindah lokasi dari suatu tempat ke tempat lain. Dan mereka harus secepat mungkin melaporkannya sebelum waktu yang ditentukan (deadline). Beberapa wartawan yang mungkin karena melakukan pekerjaan yang melelahkan, kerap kali melakukan kesalahan dalam pemberitaan.
Ketika narasumber salah mengutip tulisan kita, seharusnya kita melakukan beberapa tindakan agar pihak media massa dapat meralat tulisannya pada edisi berikutnya.
Menurut Djatmiko Miko, seorang jurnalis Jawa Pos dalam acara POD mengatakan bahwa tindakan yang sebaiknya kita lakukan ketika ada pemberitaan salah terkait informasi yang kita berikan kepada wartawan adalah menghubungi pihak Medianya. Agar media dapat meralat berita tersebut di edisi berikutnya. Jika kesalahan tersebut disebabkan oleh wartawan yang salah dalam melaporkan hasil wawancara, beberapa media besar seperti Jawa Pos bahkan akan membebas tugaskan wartawan tersebut alias memecatnya.
Pelaporan ini penting, karena jika kita tidak melaporkan kesalahan yang dilakukan oleh media, maka mungkin justru kita yang kena getahnya. Seperti pada kasus Roy Suryo yang dihujat para blogger karena pernyataannya di media yang menjelek-jelekkan blogger. Setelah dilakukan dialog terbuka antara blogger dan RS, ternyata RS mengaku bahwa media yang salah mengutip pernyataannya. Mungkin pakar telematika kita yang satu ini belum tahu tindakan apa yang seharusnya dia lakukan ketika wartawan salah mengutip pernyataannya.
Andaikata media tidak mau meralat pernyataannya, kita bisa menuntutnya. Namun sebaiknya tidak semua masalah harus berakhir di persidangan. Sebab sebaiknya kita melihat dulu seberapa besar kesalahan yang dilakukan oleh wartawan tersebut. Jika kesalahan mereka sudah menyebabkan tercemarnya nama baik kita, dan masalah terkait tulisan itu menjadi membesar di tengah masyarakat, baru kita layangkan gugatan. Tapi sekali lagi itu sebaiknya hanya dilakukan ketika media menolak melakukan ralat terkait pemberitaannya dengan alasan yang tidak jelas.
Jadi andaikata kesalahan wartawan tersebut tidak berujung pada reaksi keras masyarakat, atau dengan kata lain hanya masalah kecil, sepertinya diam lebih baik. Sebagai contoh, saya sendiri pernah mengalami pemberitaan yang salah total. Dan sayapun diam saja karena berita ini tidak berpengaruh besar bagi masyarakat dan saya pribadi.
Berikut ini beritanya yang dimuat di koran S :
Waspadai perampas berlagak melas di TL
HATI-HATI aksi penjahat yang berpura-pura menolong. Dua siswa SMU, Jumat (15/3) kemarin, nyaris jadi korban Mahmudi, 26, warga Bangkalan. Agam, 16 dan Pandu 17 yang mengendari sedan Toyota Corona, dipedayai Mahmudi saat menlintas di traffic light Ngagel Wasono. “Mobil saya tiba-tiba digedor-gedor dan diminta minggir,” tutur Agam di Polsekta ********. Mahmudi ketika berdalih tangannya sakit akibat tertabrak mobil Agam. Lantaran kasihan, Agam memberi uang Rp. 65.000 dan mengantarkannya cari obat. Namun, di tengah jalan, Mahmudi minta menghentikan mobil. Saat itulah ia merampas handphone Nokia 3210 Agam. Spontan, Agam dan Pandu meneriaki maling hingga Mahmudi ditangkap warga lalu diserahkan ke Polsekta *******.
Berita diatas sebagian besar salah. Seharusnya :
Hati-hati aksi penjahat yang berpura-pura terluka. Dua siswa SMU, Jumat (15/3) kemarin, nyaris jadi korban Mahmudi, 26, warga ??? (sepertinya ini juga salah, tapi saya lupa dia warga mana). Agam, 17 dan Pandu 17 yang mengendari sedan Toyota Corona, diperdayai Mahmudi saat berhenti di traffic light Ngagel Wasono. “Mobil saya tiba-tiba digedor-gedor dan diminta minggir,” tutur Agam di Polsekta. Mahmud berdalih tangannya sakit akibat tertabrak mobil Agam. Mahmudi meminta lukanya diobati, karena hari libur dan semua apotek tutup, akhirnya Mahmudi minta berhenti di depan RSJ Menur. Akhirnya Mahmudi minta berupa uang saja, namun karena Agam hanya membawa uang sebesar RP. 65.000 dan dianggapnya kurang, akhirnya dia meminta handphone Nokia 3350. Lalu Pandu keluar mobil dan meneriaki maling hingga Mahmudi ditangkap warga. Setelah ditangkap warga, Mahmudi sempat melarikan diri lagi dan akhirnya dikejar warga dengan menabrakkan sepeda motor ke arah Mahmudi. Dan akhirnya Mahmudi diserahkan ke Polsekta ********.
Sebagai masukan untuk wartawan, meskipun tugasnya berat seharusnya wartawan tetap bekerja secara professional tidak asal tulis berita. Walaupun berita yang menimpa saya itu tidak penting, namun dari sana terlihat jelas ketidak seriusan oknum wartawan tersebut dalam mewawancara.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa :
- Laporkan jika hasil wawancara anda salah
- Wartawan seharusnya lebih professional, tidak asal-asalan
- Jangan percaya media 100%. Karena mereka juga bisa salah.
Penulis : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/ketika-wartawan-salah-kutip/
Referensi :
- Wikipedia
- Djatmiko Miko dalam acara Press of Dentistry
- Dendemang
- Koran S, Sabtu 16 Maret 2002
nb : Beberapa hal saya sensor untuk privasi dan menghindari pencemaran nama baik. Polsekta saya sensor juga, karena HP saya hilang tak berbekas ketika dijadikan barang bukti. Semoga kepolisian yang sekarang semakin baik dan tidak berbuat seperti itu lagi. Barokallahu fiikum.
Related Posts
26 Comments to “Ketika Wartawan Salah Kutip”
Leave a Reply
Jika ingin berlangganan artikel2 terbaru dari rosyidi.com klik disini


April 12th, 2008 at 8:18
waktu diskusi terbuka, khan di hadiri sama wartawan juga.. apa kata wartawan waktu roy suryo bilang gitu mas?
kalo wartawan cuma nganggut2 iya, berarti ada kemungkinan salah di wartawan. soalnya diradio, roy suryo juga bilang kalo yang wartawan salah kutip
April 12th, 2008 at 8:54
atau jangan-jangan om oy cuman cari amannya? kok kayaknya berbelit2 gitu…
April 12th, 2008 at 8:55
Wah berarti polisinya yang untung dong karena dapat hp …..?
April 12th, 2008 at 10:37
Yahhh.. begitulah
http://www.mrbambang.web.id/setelah-blogger-kini-wartawan-yang-disalahkan.blog/
April 12th, 2008 at 17:53
Di dialog blogger dan roy kemaren. ada wartawan “mengkonter” untuk pembenaran berita yang dimuat. karena mereka merasa profesional.
April 12th, 2008 at 18:10
wartawan (media) memang lebih sering mebesarkan masalah kecil , dan membikin besar masalah besar… jadi .. ya maklum, apalagi kalau korannya kompas …
April 12th, 2008 at 21:25
waduh mas pernah mengalami kejadian mengerikan kaya gitu? untung gak apa2 ya mas.. btw itu kejadiannya tahun berapa?
April 12th, 2008 at 21:59
pengalaman pribadi yak ??
April 13th, 2008 at 0:10
Saya pernah melihat wartawan meliput berita. Misal kejadian di WBL beberapa tahun yang lalu. Antara media satu dan lainnya biasanya berembug dahulu untuk menyamakan datanya untuk ditulis atau ditayangkan di media. Tapi karena mengejar tayang atau berita, wartawan terkadang salah dalam menulis/mengutip berita.
April 13th, 2008 at 0:19
Mas banyak lo blogger yg begitu juga,…
gak cuma wartawan
April 13th, 2008 at 6:40
ribet juga ya jadi wartawan
April 13th, 2008 at 11:20
sepakat, jadi wartawan harus lugas dan tegas !!!
April 13th, 2008 at 14:04
Wah memang harus hati2 jadi wartawan,
tapi dalam berbagai kasus, kita harus melihat dulu keadaannya.
Siapa tau memang wartawannya yang benar,
memang perlu melihat banyak hal.
April 13th, 2008 at 18:16
media salah kutip kok ga ada press conferencenya ?
April 13th, 2008 at 23:57
jadi khawatir kalau baca berita di koran
April 14th, 2008 at 12:48
Kalau banyak (lebih dari 10) media menulis berita yang sama dari nara sumber yang sama, lalu nara sumbernya menyangkal berita tersebut sembari bilang bahwa media salah kutip, kira-kira yang benar (atau salah) itu medianya apa nara sumbernya?
Kalau sampai terjadi kisruh seperti kasus yang saya sebutkan barusan, untuk di kemudian hari, bagaimana cara terbaik untuk menghindari kekisruhan yang sama?
April 15th, 2008 at 3:12
Mungkin wartawannya juga pengin terkenal kayak artis kali…..
Makanya ambil jalan pintas, bikin berita diplesetin biar heboh….
He..he..he…
Tapi aku yakin, masih banyak wartawan yang profesional…..
April 15th, 2008 at 16:58
jadi salah siapa neh sebenarnya?



jadi bingung….
April 15th, 2008 at 17:12
saya setujuh..terkadang beritanya cenderung memprovokasi…padahal seharusnya menjadi jembatan informasi, bukan utk tujuan mencuci otak pembaca..
April 15th, 2008 at 18:30
hmm……’afwan, selain salah mengutip berita, apa ada batasan2 terntentu di mana wartawan di haramkan meliput berita yang bisa menyebarkan aib saudaranya (sesama muslim)
jazakallah
wassalam
ahmad
April 16th, 2008 at 8:28
kadang2 si wartawan suka mlintir2-in berita biar kedengeran bombastis.
Klo kmu ceritanya cuman dipalak aja kan kurang seru, mangkanya ditambahin bumbu2 biar tmbh waaahhh
April 16th, 2008 at 10:07
duh hengpong nya ilang tidak berbekas??
April 16th, 2008 at 11:48
wah, hp nya buat siapa dong kl ga berbekas…
April 19th, 2008 at 17:51
Kalau saya sih cenderung mengatakan bahwa wartawan lebih banyak benarnya dalam kasus RS. Sementara RS hanya mencari kambing hitam (dalam hal ini wartawan) untuk pembenaran dirinya.
April 29th, 2008 at 12:33
klau kasus si OM yang salah narasumbernya bukan wartawannya
May 13th, 2008 at 17:40
[...] ketika wartawan salah kutip [...]