Apa yang tidak berbahaya di Indonesia? Beberapa waktu yang lalu Bakso membuat gempar masyarakat, karena ternyata mengandung formalin. Lalu disusul ditemukannya pada ikan asin, permen, tahu serta tempe. Sepertinya hampir semua makanan di Indonesia sudah tidak aman lagi dikonsumsi. Ini dikarenakan terlalu longgarnya pengawasan pemerintah soal makanan, minuman serta obat-obatan.
Disaat harga kedelai melambung tinggi, tersiar kabar lain di TV. Ternyata sebagian besar kedelai yang masuk ke Indonesia merupakan kedelai kontroversial, yaitu kedelai transgenik. Dan banyak sekali negara yang menolak produk transgenik tersebut.
Masyarakat Uni Eropa jauh-jauh hari mengharuskan produk transgenik berlabel. Bukan rahasia lagi, produk transgenik tidak populer di Eropa. Bahkan terhadap produk GM (genetically modified), sejumlah negara Eropa khawatir, bahkan melarang (membatasi) penanaman dan mengimpor makanan “terkontaminasi” tanaman GM (dijuluki “frankenfood”). Sikap skeptis Eropa didasari oleh tiga hal, yakni manipulasi gen bertentangan dengan kodrat alami dan tidak etis, hasilnya berbahaya bagi manusia, dan berdampak buruk bagi lingkungan.
Begitu pula di Jepang. Pemerintah Jepang mewajibkan pelabelan pada 28 produk yang mengandung makanan rekayasa genetika.
Negara-negara seperti Jepang, Uni Eropa, Korea, Taiwan, Australia, Singapura, beberapa negara Timur Tengah, serta Erropa Timur, menetapkan standar dan melakukan sendiri analisis keamanan pangan terhadap produk-produk transgenik impor. Tapi, hingga saat ini Pemerintah belum melakukan kajian untuk menetapkan jenis kedelai, jagung, dan bahan pangan transgenik apa yang boleh masuk di Indonesia.
Dari Mana Kedelai Transgenik berasal?
Sebenarnya produk transgenik yang masuk ke Indonesia bukan hanya Kedelai. Saat ini empat tanaman transgenik utama adalah kedelai, jagung, kanola, dan kapas. Sebagian besar kedelai di Indonesia berasal dari Amerika. Dan dari komoditas kedelai AS jelas-jelas hasil rekayasa gen. Di AS diperkirakan, sekitar 60% dari makanan olahan di pasar swalayan - mulai dari sereal untuk sarapan hingga softdrink - berisi bahan GM, terutama yang berbahan kedelai, jagung, atau kanola. Begitu pula sayuran segar merupakan produk GM. Produk makanan dari bahan transgenik juga dipasarkan di beberapa negara (Scientific American, April 2001).
Bahaya Bagi Lingkungan
Tanaman itu merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atau sejumlah gen (baca boks “Teknik Membuat ‘Makhluk’ Transegenik”). Gen yang dimasukkan itu - disebut transgene - bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies lain sama sekali. Karena berisi transgene tadi, tanaman itu disebut genetically modified crops (GM crops). Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika (genetically modified organisms, GMOs).
Transgene umumnya diambil dari organisme yang memiliki sifat unggul tertentu. Misal, pada proses membuat jagung Bt tahan hama, pakar bioteknologi memanfaatkan gen bakteri tanah Bacillus thuringiensis (Bt) penghasil racun yang mematikan bagi hama tertentu. Gen Bt ini disisipkan ke rangkaian gen tanaman jagung. Sehingga tanaman resipien (jagung) juga mewarisi sifat toksis bagi hama. Ulat atau hama penggerek jagung Bt akan mati. Bahkan kupu-kupu (Lepidoptera) pengisap nektar bunga jagung bisa koit. Begitu pun racun pada kapas Bt dapat membunuh boll-worm, hama perusak tanaman kapas.
Repotnya, selain efektif melawan hama sasaran, toksin juga teridentifikasi mematikan serangga lain (nontarget). Bila hal ini terjadi, salah satu komponen ekosistem akan musnah, dan keseimbangan alam akan terganggu.
Penelitian di Universitas Cornell oleh entomolog John Losey dan koleganya, menunjukkan hasil, kupu-kupu raja yang memakan serbuk sari jagung Bt tingkat kematiannya tinggi dan pertumbuhan lambat. Serbuk sari jagung transgenik berisi toksin Bt menyebabkan kematian nyaris separuh (44%) dari ulat kupu-kupu raja. Larvanya pun ikutan tewas.
Ilmuwan protanaman GM tetap arogan dan bersikukuh, racun Bt cuma membunuh ulat tertentu, dan tidak mampu membunuh hewan lain maupun manusia yang mengkonsumsi jagung Bt. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkan nasib serangga berguna, predator pemangsa ulat, burung atau hewan ternak pemakan daun jagung Bt. Tidak berpengaruh buruk terhadap flora dan fauna dalam tanah dan sekitarnya.
Sebaliknya, ilmuwan Swiss menyimpulkan, tanaman jagung Bt merugikan serangga bermanfaat dan racun Bt terakumulasi dalam tanah sehingga merugikan ekosistem tanah. Juga penanaman secara luas varietas Bt mempercepat terjadi evolusi resisten racun Bt pada hama serangga. Sekali hama menjadi resisten terhadap racun Bt, akan sulit mengefektifkan pengendalian hama secara hayati. Kalau itu terjadi serentak dan meluas, betapa “evolusi hijau” kedua akan terjadi. Tatanan ekosistem dan kelestarian hayati pun akan terganggu.
Dari kacamata lingkungan, menurut Prof. Dr. Hari Hartiko dari PAU Bioteknologi UGM Yogyakarta (Berita Bumi, Juni 2000), pelepasan atau pemanfaatan jenis asing (tanaman rekayasa genetika) di alam terbuka sukar ditangani karena ada kemungkinan penyebaran gen asing (gen yang disisipkan ke dalam tanaman GM) berpindah ke tanaman sekerabat yang liar atau mengubah tatanan spesifik atau sifat unggul tanaman GM itu sendiri. Seperti pada kasus serbuk sari kanola (Brassica napus) penghasil minyak nabati, yang membuahi kerabatnya dan kerabat jauhnya. Di samping ada kemungkinan produk GM dapat mengganggu kesehatan manusia dan ternak.
Lebih lanjut Hari Hartiko khawatir, perpindahan gen dapat juga terjadi pada uji lapangan, meski di lokasi yang sangat terisolasi untuk mencegah terjadi penyerbukan silang. Karena di alam banyak faktor yang berpengaruh, seperti angin, kupu-kupu, kumbang, tawon, dan burung. Tidak ada jaminan serbuk sari tidak berpindah ke kerabat tanaman itu atau gulma sehingga menjadi lebih kuat karena resisten terhadap hama. Jika kerabat dekat tanaman Bt berupa gulma, bisa-bisa menjadi resisten dan sukar dikendalikan.
Terjadinya penyerbukan silang yang akan memindahkan gen-gen asing ke tanaman lain (gulma), bisa memunculkan gulma super yang resisten hama penyakit dan herbisida. Gen-gen pengendali hama yang menyebar ke tanaman liar itu akan melenyapkan secara besar-besaran spesies serangga dan hewan. Persilangan antara tanaman transgenik dengan tanaman liar sangat mungkin terjadi, seperti dilaporkan Rissler dan Mellon, yaitu antara Brassica napa transgenik dengan kerabat liarnya Brassica campestris, Hirscheldia incana, dan Raphanus raphanistrum (Mae-Wan Ho, 1997).
Kekhawatiran terhadap produk GM memunculkan “Surat Terbuka Ilmuwan Dunia kepada Seluruh Pemerintah Dunia”. Surat tertanggal 21 Oktober 1999 itu ditandatangani 136 ilmuwan dari 27 negara. Isinya, antara lain meminta penghentian segera seluruh pelepasan tanaman rekayasa genetika (Genetically Modified Crops) dan juga produk rekayasa gen (Genetically Modified Products). Alasannya, tanaman GM tidak memberikan keuntungan. Hasil panennya secara signifikan rendah dan butuh lebih banyak herbisida. Makin memperkuat monopoli perusahan atas bahan pangan dan memiskinkan petani kecil. Mencegah perubahan mendasar pada upaya pertanian berkelanjutan yang dapat menjamin keamanan pangan dan kesehatan dunia.
Resiko Kesehatan
Selain itu juga berbahaya terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia dan hewan. Penyebaran horizontal gen penanda (marker genes) yang tahan antibiotika dalam tanaman transgenik dapat mempersulit pengobatan penyakit menular yang mengancam kehidupan, dan penyakit itu kemudian akan meledak dan menyebar ke seluruh dunia.
Temuan terbaru menunjukkan, penyebaran horizontal gen penanda dan DNA transgenik lainnya dapat terjadi, tak hanya melalui sistem pencernaan, melainkan juga lewat saluran pernapasan karena mengirup serbuk sari atau debu. Cauliflower mosaic viral promoter yang banyak digunakan dalam tanaman transgenik dapat meningkatkan transfer gen secara horisontal dan berpotensi menghasilkan virus baru yang menyebarkan penyakit baru (Berita Bumi, Oktober 1999).
Negara yang melakukan penanaman komersial produk transgenik biasanya melakukan analisis keamanannya, termasuk konsekuensi langsung dan tidak langsung. Konsekuensi langsung, misalnya, kajian apakah terjadi perubahan nutrisi, munculnya efek alergi, atau toksisitas akibat rekayasa genetika.
Konsekuensi tidak langsung, misalnya, efek baru yang muncul akibat transfer gen, perubahan level ekspresi gen pada tanaman sasaran, serta pengaruhnya terhadap metabolisme tanaman. Beberapa efek lain yang seringkali tidak dapat diantisipasi perlu juga dikaji, misalnya, gene silencing, interupsi sekuens penyandi, atau berubahnya sistem regulasi gen-gen.
Karena pangan merupakan hal yang sangart kompleks, maka kajian keamanan pangan yang sederhana( sebagai contoh menganalisis kandungan peptisida, logam berat, dan senyawa toksik dalm pangan) tidak dapat dilakukan.
Berkait dengan pangan transgenik dikembangkan pendekatan substantial equivalence, yaitu membandingkan pangan transgenik dengan pangan konvensionalnya. Bila keduanya sama (tidak berarti harus identik), memiliki status nutrisi sama serta serta tidak memiliki pengaruh negatif terhadap kesehatan, maka pangan transgenik tersebut aman dikonsumsi.
Namun kontroversi masih terjadi, karena sebagai produk teknologi baru risiko jangka panjangnya belum diketahui. Ilmuawan sendiri, tidak akan pernah mampu menyatakan bahwa suatu produk 100 persen aman karena risiko sekecil apapun akan tetap ada.
Riskio ini juga berkait dengan pola konsumsi. Di AS, misalnya, kedelai rata-rata melalui proses pengolahan panjang sehingga DNA maupun protein transgenik rusak sebelum dokonsumsi. Di Indonesia, kedelai hanya melalui proses pengolahan pendek sebelum menjadi tempe atau tahu.
Namun sebaliknya, pihak produsen (Novartis) tetap menyatakan makanan rekayasa gen aman. Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan, strain baru tidak perlu pelabelan khusus karena tidak ada bedanya dengan hibrida hasil persilangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun setuju makanan hasil rekayasa genetika.
Peluang Indonesia
Indoensia negara agraris. Negara subur makmur. Namun, sungguh ironis, negara yang luas dan subur ini ternyata tidak mampu mencukupi panggannya sendiri. Kedelai, beras, jagung, dll masih import. Padahal jika mau, Indonesia pasti bisa mencukupi kebutuhan primernya sendiri. Ini semua hanya tergantung pemerintah dan para petaninya.
Penolakan masyarakat Eropa, Jepang, dan Amerika menyebabkan pangsa pasar produk pertanian bukan transgenik meningkat pesat. Hal ini sebenarnya menjadi kesempatan emas petani-petani Indonesia dengan dukungan Pemerintah. Namun sialnya meskipun Indonesia berhasil meningkatkan produksi kedelai non-transgenik, sepertinya tidak akan laku untuk dijual di luar negeri. Sampai saat ini produk pertanian Indonesia banyak ditolak oleh banyak negara karena kandungan pestisidanya yang terlalu banyak. Namun, paling tidak jika produksi kedelai bukan transgenik meningkat dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri terlebih dahulu. Kalaupun ingin ekspor dapat disiasati dengan penggalakan tanaman organik.
Tempe tahu antara Indonesia dan Jepang
Sedikit tambahan, jika di Indonesia kedelai transgenik lebih digemari, karena cara pengolahannya yang lebih mudah, dan hasilnya pun lebih menarik (putih bersih). Sebaliknya, di Jepang justru di jauhi. Karena di Jepang saat ini lebih trennya lebih mengarah ke makanan yang menyehatkan. Jadi jika ada makanan yang menurut mereka meragukan, mereka tinggalkan.
Meskipun berbahan baku yang sama, namun pengolahannya sangat jauh berbeda. Di Jepang, penggolahannya sangat bersih. Lihat saja dalam film dorama Jepang 1 Litre of Tears, pengolahan tahu home industrinya dengan alat-alat yang canggih. Rasa tahu dan tempe buatan Jepang jauh lebih enak daripada di Indonesia, tapi harganya juga tentu jauh lebih mahal, karena mereka memakai kedelai yang non-transgenik yang harganya jauh lebih mahal disana.
Perbaiki kualitas
Tulisan ini bukan dibuat untuk menakut-nakuti dan larangan membeli tahu tempe. Dengan tulisan ini saya sebagai salah satu konsumen yang cinta tahu tempe berharap makanan yang kita makan benar2 aman dikonsumsi.
Kalau produk dalam negeri lebih baik, kenapa harus Import? Cintai produk dalam negeri 
Penulis : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/kedelai-transgenik-berbahaya/
Referensi :
Related Posts
16 Comments to “Kedelai Transgenik Berbahaya”
Leave a Reply
Jika ingin berlangganan artikel2 terbaru dari rosyidi.com klik disini


January 23rd, 2008 at 14:28
Gitu ya..baru tau kalu Kedelai itu ada yang berbahaya juga… Padahal makan kalo gak pake tempe kurang terasa “greng”nya.. hihhhi. Ironis memang, Indonesia dulu terkenal sebagai negara agraris. Sekarangpun, mayoritas pekerjaan di Indonesia adalah petani. Tapi mencukupi kebutuhan primer sendiri tidak mampu. Ironis, mahasiswa-mahasiswa pertanian yang terbaik di IPB malah banyak yang bekerja di perbankan.
January 24th, 2008 at 9:24
wah, bahaya nih! padahal Indonesia bnyk ngimpor kedele dr luar, gak tau transgenik ato bukan
January 24th, 2008 at 9:28
Di Indonesia sangat populer pepatah ‘Mati satu tumbuh seribu’, oleh karena itu pemerintah tidak memperdulikan bagaimana penderitaan rakyatnya.
January 25th, 2008 at 16:25
emang bener yah,…biar bagaimanapun yang alami memang nomor 1 yah…
Thanks atas complete article-nya.
January 26th, 2008 at 0:40
aneh ya…
dulu wakjtu saya smp sampai smu, guru biologi selalu membanggakan system pertanian dengan teknik rekayasa genetika dan kultur jaringan, yang katanya bisa meningkatkan hasil produksi hingga berlipat ganda dan pembibitan pun tidak memerlukan modal besar.
apa mungkin dahulu kala lebih di lihat dari sisi petani nya ya
dan jaman sekarang lebih di perhatikan ke efek konsumsi nya.
artinya sekarang kalo ingin mendapatkan makanan berkualitas harus merogok kocek lebih dalam lagi, untuk mendapatkan makanan berkualitas seperti sayuran dan buah organik…
nah mungkin karena negara kita kurang kaya jadi gak bisa menaikan standarisasi atau memperketat kontrol bahan makanan. jadinya meskipun transgenik berbahaya, hajar aja bro, yang oenting murah meriah. dan mengesampingkan efek dll sbg
January 26th, 2008 at 11:48
pantesan kedelai pribumi ga laku gara2 kedelai amerika ini, dasar..!
para ahli pertanian di mana rimbamu? ngapain aja dirimu?
January 27th, 2008 at 15:22
Jadi ingat waktu ada yang mau nanam kapas transgenik di Sulsel, penolakan dari aktivis lingkungan begitu hebat.
January 28th, 2008 at 9:08
Waduh, padahal kedelai itu bahan dasar makanan kesukaan saya … tempe
Jadi ngeri juga, karena kalau kedelainya transgenik, maka akan jadi tempe transgenik juga 
Pffff, jaman sekarang mau makan yang sehat kok susah ya
January 28th, 2008 at 9:32
mas rosyidi artikelnya padat banget ya? Yah, nggak semua yang canggih itu baik buat kita. Back to nature deh. Sekarang saja saya lagi berobat pake tetumbuhan tumbuk buat membersihkan muka dari jerawat (biar tambah kinclong) ngga harus pake pembersih pabrikan, betul?
January 28th, 2008 at 11:25
walah wong Indonesia emang gitu… mbo yang jujur aja
ga usah macem-macem, klo ada apa-apa ma konsumen gimana ?
January 28th, 2008 at 11:49
kalau mau yang sehat, aku… harus menanam kedelai sendiri… trus bikin tempe dan tahu sendiri.. apa-apa sendiri… (repot ye jadi orang indonesia?)
January 28th, 2008 at 12:00
Hmm, transgenik. Napa mesti takut? Orang Indonesia udah terbiasa jajan di pinggir jalan, tanpa sakit perut di kemudian hari. Yang terpenting adalah pemerintah harus sesegera mungkin mengesahkan UU mengenai masuknya produk transgenik ini di Indonesia. Ingat, produk transgenik buka hanya tanaman, namun juga hewan, dll. Sebenarnya, menyebabkan alergi atau tidak, itu tergantung dari gen yang disisipkan pada organismenya, lho. Tidak semua gen dapat menyebabkan makanan yang kita konsumsi dianggap sebagai agen asing oleh anibodi kita.
Nyatanya, setelah kita makan tempe juga ga kenapa2 kan? paling kekenyangan. Percayalah…. orang Indonesia sudah kebal terhadap berbagai macam hal yang berbahaya
January 31st, 2008 at 11:34
ah….apa-apa seba repot. ga kaya jaman pak harto…
February 1st, 2008 at 23:04
mas rosyidi, memang derita kita tidak pernah berakhir. sudah tergantung bahan baku tempe nya dari impor, transgenik lagi. ini kesalahan yg amat fatal dari strategi pangan kita. kapan kita bisa membangun kemandirian ekonomi kita? salam, sigit
February 17th, 2008 at 11:27
Assalamu”alaikum Wr.Wb…
Masih ingat kan dengan saya ? baca lagi blog mas Rosyidi tentang kedelai padahal anak saya susunya pakai susu kedelai…semoga saja aman ya dikonsumsinya….(jadi takut juga nih….). Blognya sudah saya link.
Salam dari Yogya,
Advokat Listiana.
April 15th, 2008 at 0:15
salam sejahtera pak rosyidi
panggilan saya doni tapi di ktp dodik. (sekilas info) Saya adalah pengusaha tahu di Pacitan Jatim (tanah kelahiran RI 1) tapi saya gak pernah bosen makan ama namannya ” TAHU”
Saya pernah denger tentang kedelai transgenik dan efek sampingnya (dari temen) Terus terang Saya jadi takut untuk produksi tahu, repotnya penghasilan saya satu2 nya dari situ. Mau gak mau sayakan juga ikut meracuni masyarakat di Kota saya bahkan keluarga saya sendiri termasuk saya. Yang saya fikirkan saat ini : saya kepingiiin sekali menjadi petani kedelai organik. Kira2 bapak bisa bantu saya gak? terus terang saya terbeban dengan hal ini (bukan sok suci lho…)
Thanks