Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat
Ada cerita menarik yang ditulis oleh Rivai Indra Persada Haza di sebuah milis.
Dulu ada bupati klaten, yang mungkin terpilihnya karena mengandalkan kekayaannya. Ceritanya, sang bupati ini mau berpidato dalam acara pelantikan pertamanya sebagai bupati.
Karena isi pidatonya dibuat oleh pembantunya/asistennya, maka terjadilah hal yang paling konyol.
Si asisten menulis dalam awal pidatonya :
ass.wr.wb (kita semua tahu artinya Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh)
nggak tau gimana, sang bupati yang muslim ini benar-benar membacanya sebagai :
a-es-es-we-er-we-be. (mengeja per huruf)
Kontan semua yang hadir pada kebingungan plus (mungkin) menahan tawa.. 
Akhirnya, karena banyak hal konyol yang dilakukan sang bupati, dia harus diturunkan dari jabatannya sebelum masa baktinya berakhir. Dan, sang bupati pun meninggal setahun kemudian setelah diturunkan dari
jabatannya..
Kisah diatas adalah sepenggal kisah nyata akibat singkatan salam dalam tulisan. Pada tulisan saya yang terdahulu, “Jangan Menyingkat Salam” telah saya paparkan secara detail untuk penyingkatan Assalamu’alaikum menjadi Ass.
Lalu bagaimanakah sikap para ulama menanggapi fenomena tersebut? Silakan simak tanggapan beberapa ulama dibawah ini.
Fatwa Syaikh Wasiyullah Abbas (Ulama Masjidil Haram, pengajar di Ummul Qura)
Soal:
Banyak orang yang menulis salam dengan menyingkatnya, seperti dalam Bahasa Arab mereka menyingkatnya dengan
Dalam bahasa Inggris mereka menyingkatnya dengan “ws wr wb” (dan dalam bahasa Indonesia sering dengan “ass wr wb” – pent). Apa hukum masalah ini?
Jawab:
Tidak boleh untuk menyingkat salam secara umum dalam tulisan, sebagaimana tidak boleh pula meningkat shalawat dan salam atas Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh pula menyingkat yang selain ini dalam pembicaraan.
Diterjemahkan dari www.bakkah.net
Fatwa Lajnah Ad-Daimah (Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)
Soal: Bolehkah menulis huruf ? yang maksudnya shalawat (ucapan shallallahu ‘alaihi wasallam). Dan apa alasannya?
Jawab:
Yang disunnahkan adalah menulisnya secara lengkap –shallallahu ‘alaihi wasallam- karena ini merupakan doa. Doa adalah bentuk ibadah, begitu juga mengucapkan kalimat shalawat ini.
Penyingkatan terhadap shalawat dengan menggunakan huruf
atau
(seperti SAW, penyingkatan dalam Bahasa Indonesia -pent) tidaklah termasuk doa dan bukanlah ibadah, baik ini diucapkan maupun ditulis.
Dan juga karena penyingkatan yang demikian tidaklah pernah dilakukan oleh tiga generasi awal Islam yang keutamaannya dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga serta para sahabat beliau.
Dewan Tetap untuk Penelitian Islam dan Fatwa
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullaah Ibn Baaz;
Anggota: Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi;
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Ghudayyaan;
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Qu’ood
(Fataawa al-Lajnah ad-Daa.imah lil-Buhooth al-’Ilmiyyah wal-Iftaa., – Volume 12, Halaman 208, Pertanyaan ke-3 dariFatwa No.5069)
Diterjemahkan dari http://fatwa-online.com/fataawa/miscellaneous/enjoiningthegood/0020919.htm
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Apa keutamaan bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Bolehkah kita menyingkat ucapan shalawat tersebut dalam penulisan, misalnya kita tulis Muhammad SAW atau dengan tulisan Arab
, singkatan dari
?
Jawab:
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjawab:
“Mengucapkan shalawat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan perkara yang disyariatkan. Di dalamnya terdapat faedah yang banyak. Di antaranya menjalankan perintah Allah , menyepakati Allah Subhanallahu Wa ta’ala dan para malaikat-Nya yang juga bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)
Faedah lainnya adalah melipatgandakan pahala orang yang bershalawat tersebut, adanya harapan doanya terkabul, dan bershalawat merupakan sebab diperolehnya berkah dan langgengnya kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sebagaimana bershalawat menjadi sebab seorang hamba beroleh hidayah dan hidup hatinya. Semakin banyak seseorang bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengingat beliu, akan semakin kental pula kecintaan kepada beliau di dalam hati. Sehingga tidak tersisa di hatinya penentangan terhadap sesuatu pun dari perintahnya dan tidak pula keraguan terhadap apa yang beliau sampaikan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan anjuran untuk mengucapkan shalawat atas beliau dalam beberapa hadits. Di antaranya hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Siapa yang bershalawat untukku satu kali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”
Dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu juga, disebutkan bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan (Dengan tidak dikerjakan shalat sunnah di dalamnya, demikian pula Al-Qur’an tidak dibaca di dalamnya. (-pent.)) dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai id (tempat kumpul-kumpul -pent). Bershalawatlah untukku karena shalawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.”
[Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pula bersabda:
“Terhinalah seorang yang aku (namaku) disebut disisinya namun ia tidak mau bershalawat untukku.”
[HR. At-Tirmidzi, kata Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, “Hadits hasan gharib.”]
Bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disyariatkan dalam tasyahhud shalat, dalam khutbah, saat berdoa serta beristighfar. Demikian pula setelah adzan, ketika keluar serta masuk masjid, ketika mendengar nama beliau disebut, dan sebagainya.
Perkaranya lebih ditekankan ketika menulis nama beliau dalam kitab, karya tulis, risalah, makalah, atau yang semisalnya berdasarkan dalil yang telah lewat. Ucapan shalawat ini disyariatkan untuk ditulis secara lengkap/sempurna dalam rangka menjalankan perintah Allah Aza Wajallah kepada kita dan agar pembaca mengingat untuk bershalawat ketika melewati tulisan shalawat tersebut. Tidak sepantasnya lafazh shalawat tersebut ditulis dengan singkatan misalnya
atau
ataupun singkatan-singkatan yang serupa dengannya, yang terkadang digunakan oleh sebagian penulis dan penyusun. Hal ini jelas menyelisihi perintah Allah Aza Wajallah dalam firman-Nya:
“… bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”
Dan juga dengan menyingkat tulisan shalawat tidak akan sempurna maksudnya serta tidak diperoleh keutamaan sebagaimana bila menuliskannya secara sempurna. Terkadang pembaca tidak perhatian dengan singkatan tersebut atau tidak paham maksudnya.
Menyingkat lafazh shalawat ini dibenci oleh para ulama dan mereka memberikan peringatan akan hal ini.
Ibnu Shalah
Ibnu Shalah dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits yang lebih dikenal dengan Muqqadimah Ibnish Shalah mengatakan, “(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan menulisnya secara lengkap ketika berulang menyebut Rasulullah.”
Ibnu Shalah juga berkata, “Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan shalawat tersebut:
Pertama, ia menuliskan lafazh shalawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.
Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang, misalnya ia tidak menuliskan ![]()
Al-‘Allamah As-Sakhawi
Al-‘Allamah As-Sakhawi dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil ‘Iraqi, menyatakan, “Jauhilah wahai penulis, menuliskan shalawat dengan singkatan, dengan engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang jahil dari kalangan ajam (non Arab) secara umum dan penuntut ilmu yang awam. Mereka singkat lafazh shalawat dengan
,
atau [Dalam bahasa kita sering disingkat dengan SAW. (-pent.) ]
. Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.
As-Suyuthi
As-Suyuthi berkata dalam kitabnya Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, “Dibenci menyingkat tulisan shalawat di sini dan di setiap tempat yang syariatkan padanya shalawat, sebagaimana disebutkan dalam Syarah Muslim dan selainnya, berdalil dengan firman Allah : ![]()
As-Suyuthi juga mengatakan, “Dibenci menyingkat shalawat dan salam dalam penulisan, baik dengan satu atau dua huruf seperti menulisnya dengan
, bahkan semestinya ditulis secara lengkap.”
Inilah wasiat saya kepada setiap muslim dan pembaca juga penulis, agar mereka mencari yang utama/afdhal, mencari yang di dalamnya ada tambahan pahala dan ganjaran, serta menjauhi perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya.”
(Diringkas dari fatwa Asy-Syaikh Ibn Baz yang dimuat dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 2/396-399)
Sumber: Majalah Asy Syari’ah, Vol. III/No. 36/1428 H/2007, Kategori Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, Hal. 89-91.
Kesimpulan :
Sebagian ulama melarang Menyingkat salam dan Shalawat. Namun memang ada pula yang memperbolehkannya selama pembaca mengetahui maknanya.
Namun perlu digaris bawahi, bahwasannya dengan mengeneralkan seluruh pembaca tau apa yang kita maksud rasanya kurang tepat. Karena seperti pada kisah pada awal tulisan ini, tampak ketidak mengertian seorang berkedudukan cukup tinggi kurang memahami hal ini. Bahkan saking seringnya disingkat, seringkali masyarakat justru kabur akan ucapan utuhnya.
Jangankan orang yang tidak berpendidikan, seorang mahasiswapun yang sedang menulis karya tulis banyak yang kebingungan ketika disuruh menulis SWT, SAW, dll secara lengkap. “Nulisnya gimana ?” Nah… alih-alih paham maknanya. Nulis lengkapnya saja gak bisa.
Itu baru satu negara. Coba bayangkan jika ada orang luar negeri yang bisa sedikit bahasa Indonesia membacanya? Kemungkinan besar mereka tidak mengetahuinya. Seperti kita yang juga tidak tau jika orang berbahasa arab ada juga yang menyingkatnya Salallahu alaihi wassalam menjadi huruf shad.
Selain itu apa susahnya sih menulis lengkap ? Apakah beberapa karakter itu begitu memberatkan? padahal harga pulsa SMS saat ini kian murah. Ayo kita hitung bersama. Ass ( 3 huruf) sedangkan Assalamualaikum (15 huruf), cuma beda 12 huruf koq. Satu SMS yang berisi 160 karakter masih sisa 345 untuk menulis berita lainnya.
Ditulis oleh : Agam Rosyidi
Penterjemah bahasa Arab : Brother Wira (penterjemah kitab2 berbahasa Arab)
URL : http://rosyidi.com/fatwa-larangan-penyingkatan-salam-dan-shalawat/
Referensi :
Related Posts (Artikel Terkait) :- Jangan Menyingkat Salam
- Larangan yang Terlupakan
- Makruh itu Bukan Berarti Boleh
- Cara Blokir Situs Kartun Nabi Versi Indonesia
- Akhirnya Situs Kartun Nabi Ditutup
- Dapet Duit dari Internet
- Selamat Idul Fitri ala Rasulullah SAW
- DemonStressy
- Penanganan Luka Bakar yang Benar
- Solusi Mudah Menentukan Hari Raya Idul Fitri
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.









on 27 September 2008 @ 17:35
iya itu kalau yang buat SMS an emang agak wajar karena takut bayar pulsa agak mahal karena sangking pelitnya kali, hahaha. tapi yang lebih parah lagi yang nulis di kertas tanpa dihitung pulsa tetap aja di potong huruf hurufnya
oh mas… kok kamu pasang adsense di artikel indonesia???? emang udah boleh??????
oh ya mas… sekarang udah update PR.. kebetulan aku cek PR mu… kok aneh ya???? di PC ku ke detek N/a
coba di PC mu
http://checkpagerank.net/index.php?name=www.rosyidi.com&links=1
on 27 September 2008 @ 19:04
alhamdulillah kita sudah di beri pencerahan tentang singkat menyingkat,memang kita harus hati hati dalam menulis sehingga tidak menjadi salah dalam menulis atau meletakan makna yg sesungguhnya,apalagi dengan menuliskan salam,karna salam adalah doa
on 27 September 2008 @ 19:37
Hehehe…. paling enak pake MIRC bisa disetting. Pas ngetik ass langsung keluar versi lengkapnya…
on 28 September 2008 @ 2:35
Kalo memang ga boleh SWT dan SAW lalu kenapa ya hampir di setiap makalah/skripsi/tesis mahasiswa Perguruan Tinggi Islam masih tetep dipake? Apa ga ada teguran dari dosennya? Apa dosennya yang ga tau?
Kan paling ga tuh dosen lulusan S2 bahkan S3 (Doktor gitu loh), masa iya belom baca yang begituan? lah belajar ilmu haditsnya bengong apa mikirin dana subsidi? 
on 28 September 2008 @ 2:49
gitu ya bos?…baru tahu neh infonya
on 28 September 2008 @ 8:50
Wah, referensinya bagus. Jadi ada alasan yang kuat untuk melafalkan salam secara utuh. nice post
on 28 September 2008 @ 10:08
on 28 September 2008 @ 12:57
posting penuh pencerahan…. met lebaran mas…. maaf lahir batin ya
on 30 September 2008 @ 23:12
selamat hari raya idul fitri
mohon maaf lahir dan batin
on 3 October 2008 @ 8:56
pak bupatinya kurang gaul
saya pernah ketemu salam yaitu “alaikum” atau “kum”
on 3 October 2008 @ 21:05
Iya bener…itu doa jadi jangan disingkat…apa mau berkahnya disingkat juga??
on 4 October 2008 @ 8:19
Atas informasi ini, saya sudah me-replace 28 kata dari post saya yg terkait dg penyingkatan spt yg dimaksud dlm post
. Mkasih banyak atas infonya. Jazakallah Khair.

on 4 October 2008 @ 12:20
Makasih infonya, juga menyingkat nama harus di kritik,seperti nama Abdul Qodir jadi dir…ato qodir…Abdullah jadi dul atau dullah…
Minal aidhin wal faidhin Rosyidi
on 6 October 2008 @ 20:05
Tidak boleh menyingkat salam karena artinya sudah berbeda.
Informasi yang menarik, Pak.
on 6 October 2008 @ 22:31
Wah terima kasih sekali atas pemberitahuannya. Kalau gak tahu artikel ini, mungkin saya akan terus menyingkat salam ketika ber-sms.
on 7 October 2008 @ 12:47
Wah setuju tuh, khususnya yang sering menyingkat menjadi “Ass” … ini kan artinya pantat? Hanya kadangan susah juga sih kasih tahu kepada yang sudah biasa
on 7 October 2008 @ 17:52
kalau udah keluar fatwanya, berarti seharusnya udah ga boleh tuh singkat2 kaya di chat…
on 8 October 2008 @ 0:02
mas rosyidi, saya udah pesen hosting, dan mau bayar. di emailnya katanya idwebspace ada nomor rekening BNI, mas rosyidi tau ga? soalnya saya cuma punya rekening BNI.
Oh iya, ada pertanyaan (ulangan), beli domain sekaligus manage dns di idwebspace berapaan ya mas? trus kalo misalnya saya sudah punya manage dns nya, saya bisa bikin subdomain yang didelegasikan ke server hosting lain tidak ya? soalnya kalo teman ada yang minta subdomain, kan tinggal delegasi, gitu pikir saya. Daripada sumpek2an dalam 1 hosting, belum tentu tiap orang preferensi hostingnya sama kan?
*agak gaptek gitu soal delegasi2an*
oh iya mas, balasnya ke email ku yang di komentar ini ya. makasih lho atas jawaban dan bantuannya.
on 8 October 2008 @ 0:04
btw, maaf ya posting komentarnya kemari, tadi saya coba ke diskusi tapi kok kayaknya saya dikira salah tulis (padahal udah ditulis bener kok angka tiga (3) nya). kalo sudah dibaca dan dibalas (hehehe) dihapus saja langsung mas. sekali lagi terima kasih.
on 8 October 2008 @ 12:45
Wah asyik nih, per SMS sekarang sebanyak 360 karakter ya? Soalnya tahuku selama ini 1 SMS 160 karakter
on 9 October 2008 @ 13:06
Maaf lahir batin bro….
lama gak update blog ke mana ja nih??????? 
on 9 October 2008 @ 13:08
Halo mas…. Salam kenal…. bagus banget artikelnya
on 10 October 2008 @ 9:14
jazakallah khoiron…Dokter dah lulus ya?
on 10 October 2008 @ 17:46
Untungnya saya kalo ucapin salam gak pernah sama sekali di singkat.. baik ym maupun sms.
on 10 October 2008 @ 19:55
thx infonya
on 12 October 2008 @ 20:42
saya sering tidak menjawab jika disingkat, karena artinya yang saru itu. karena arti salam itu sangat indah dan saling mendoakan kok diganti dengan lobang bawah.
on 23 October 2008 @ 10:51
Sudah tahu singkatan salam yang paling gaul ?
Assalamualabye
on 25 October 2008 @ 4:53
[...] nih ngucap salamnya, iya dong salam harus diucapkan secara lengkap jangan di singkat, ini sumbernya Rosyidi.com, jadi inget! Sodara-sodariku yang seiman ucapkanlah salam kepada sesama NAMUN dengan lengkap! Kalau [...]
on 30 October 2008 @ 16:20
Berkenaan dengan sms,
Bagi orang yang memiliki keleluasaan dalam hal materi & waktu, perbedaan rupiah dan waktu sedikit mungkin tidak berarti.
Penulisan dalam email juga,
tidak setiap orang memiliki keleluasaan dan kelancaran untuk menulis lengkap.
Jika memang tiap orang punya kemampuan dan keleluasaan seperti itu, yang namanya singkatan2 seperti lol, brb, dll tidak akan pernah ada.
Apakah dengan demikian maka kesimpulannya dibandingkan mendapatkan dosa gara-gara menyingkat tulisan salam maka akan lebih baik untuk tidak menuliskan salam sama sekali?
Misalkan penulisan SAW & SWT tidak diperbolehkan, jika misalkan ada suatu artikel tidak boleh menyingkat seperti itu, kemudian artikel tersebut yang harusnya cukup dalam satu lembar kertas berubah hingga perlu untuk menjadi dua lembar kertas, dan artikel tersebut harus dicetak 50.000 eksemplar, apakah kalian rela untuk mengorbankan 50.000 lembar kertas untuk itu? Bukankah biaya 50.000 kertas itu akan lebih baik dipergunakan untuk hal lain? Dengan asumsi harga kertas adalah IDR 100 per lembar, IDR 5.000.000 direlakan begitu saja menjadi kertas? Dibandingkan untuk disumbangkan ke panti asuhan atau orang-orang yang membutuhkan? Bagaimana dengan 100.000 eksemplar? Bagaimana dengan 1.000.000 eksemplar?
Penghematan besar dimulai dimulai dari penghematan yang kecil. Menghemat kertas bisa jadi menghemat biaya dan menyelamatkan pohon. Menyelamatkan pohon mencegah bencana banjir, longsor dan sebagainya. Ataukah itu semua tidak berharga dibandingkan dengan tidak menyingkat salam?
on 3 November 2008 @ 21:18
asslamu’alaikum warahmayullahi wabarakaatuh
gitu kan mas Rasyidi?
salam kenal,dr borneo
wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
on 29 November 2008 @ 7:10
on 6 December 2008 @ 22:19
Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh…Semoga kita bukan termasuk orang orang yang pelit dalam berdoa. Allahu yahdikum…Wassalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh…
on 5 May 2009 @ 17:57
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..Saya membaca artikel dari sebuah blog http://akuw.blogdetik.com/2009/05/04/strategi-kaum-pagan-menuju-the-new-world-order-bag1/ tentang Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order, dan di situ dibahas bahwa Ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan setelah doa pun sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra).dan ini sangat membingungkan, saya takut menjadi fitnah, tolong Mas Agam mengulas masalah ini dan mungkin bisa memberikan masukan agar jelas kepada penulis dari Blog tersebut..ini serius sebab setiap Sholat kita selalu mengucapkan Amien setelah surat Al Fatihah di bacakan..Terima kasih.