Doa Buka Puasa Ternyata Dhoif

24,202 views

Ketika berbuka puasa, TV dan Radio ramai2 mengumandangkan Adzan Magrib. Dan diikuti oleh do’a buka puasa :

Bismillahi allahumma laka shumtu, wa ’ala rizkika afthartu.”
Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka
(Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).

.

Bunyi hadis lengkapnya adalah : “Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi SAW : Apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu ( artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).” (Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).

Dan berbagai macam bacaan semisalnya. Karena memang banyak hadis serupa yg lafadznya berbeda2. Tapi anehnya bahkan sampai ada sebuah stasiun TV yang melagukannya.

Perlu kita ketahui, bahwa hadis diatas itu dhoif / lemah, karena :

Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah.
Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.
Kata Imam Ibnu ’Ady : Ia menceritakan hadith-hadith yang tidak boleh diturut.
Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !
Abdul Hakim bin Amir Abdat : Dia inilah yang meriwayatkan hadith lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).

Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.
Kata Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.
Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
Kata Imam Ibnu ’Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)
Abdul Hakim bin Amir Abdat : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di Risalah Puasa tapi beliau diam tentang derajad hadith ini ?

Hadis serupa lainnya :

“Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa ’Alaa Rizqika Aftartu.”
(Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni) Lafadz dan arti bacaan di hadith ini sama dengan riwayat/hadith yang pertama kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)

Dalam hadits ini ada ’illat, yaitu ketidak-jelasan identitas Muaz.

“MURSAL, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam. (hadis Mursal adalah : seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam, tanpa perantara shahabat).

Ibnu Hajar mengatakan hadits ini maqbul bila ada ikutannya, bila tidak maka hadits ini lemah sanadnya dan mursal. Hadits mursal menurut pendapat yang rajih dari mazhab As-Syafi’i dan Ahmad tidak bisa dijadikan hujjah. Ini berbeda dengan metodologi Imam Malik yang sebaliknya dalam masalah hadits mursal.

“Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang MAJHUL. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya”.

Masih banyak hadis2 yang serupa namun berbeda lafadz, seperti misalnya :

  1. “Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ’Alim (maksudnya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).
    (Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ’Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir).
  2. Allahumma laka shumna, wa ’ala rizkika aftharna, Allahumma taqabbal minna innaka antas samiul-alim.
  3. dll.

Dan semua hadis itu dhoif. Jika ingin lebih detailnya lihat di rubrik tanya jawab di eramuslim.

Doa Berbuka Puasa yang Lain

“Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : dzahabazh zhaama-u wabtallatil ’uruqu wa tsabatal ajru insya Allah. ( artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).
(riwayat : Abu Dawud No. 2357, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra 2/255, Ad-Daruquthni 2/185, Al-Baihaqi, 4/239)

.

Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadith ini HASAN. (Hakim 1/422 Baihaqy 4/239)
Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Daruquthni.
Abdul Hakim bin Amir Abdat berpandangan : Rawi-rawi dalam sanad hadith ini semuanya kepercayaan (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau dikatakan hadith ini HASAN.
Fatwa asy-Syaikh Yahya ibn Ali al-Hajuri menyatakan bahwa hadis tersebut DHOIF.

Banyak ulama yang berpegangan pada hadis ini karena telah dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani. Namun saya tidak tahu apa alasan Syeikh Yahya ibn Ali Al-Hajuri mendhoifkannya. Mungkin karena sama seperti alasan Abdul Hakim bin Amir Abdat, yaitu mempermasalahkan Husain bin Waaqid. Namun saya belum menemukan keterangan yang lebih rinci soal ini. Wa’allahua’alm bishowab.

Kita masih bisa menggunakan do’a riwayat Abu Dawud tersebut, karena banyak ulama yang menghasankannya. Adapun satu ulama yang mendhoifkannya, belum kita ketahui alasannya secara jelas. Namun untuk kehati2an, saya pribadi lebih memilih mencukupkan dengan menggunakan do’a makan dan minum.

Do’a Makan yang Dhoif :

Namun hati2 juga terhadap do’a makan. Karena do’a makan yang beredar di kebanyakan masyarakat juga DHOIF.
“Dari Abdullah bin Amr, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau biasa mengucapkan apabila didekatkan makanan kepada mereka: Allahumma baarik lana fimaa raazaqtana wa qina ‘adzabannar. Kemudian beliau mengucapkan bismillah. Dan ketika telah selesai beliau mengucapkan: Alhamdulillahilladzi ath’amana wa saqana fa arwana wa kullul ihsan ataana (segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada kami dan menunjuki kami. Dan segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami sampai kami puas dan segala kebaikan yang telah datang kepada kami).”

[ (c) rosyidi.com (copyright) ]

Hadis tersebut SANGAT DHOIF.
Telah diriwayatkan oleh imam Ibnu Sunniy di kitabnya amalul yaum wal lailah (no 450 & 467) dan
Imam Ibnu Adiy di kitabnya Al Kaamil (7/427),
dari jalan Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ah, dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya (yaitu Abdullah bin Amr seperti diatas).
Abdul Hakim bin Amir Abdat berkata: Sanad hadits ini sangat dho’if, karena Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ah, telah berkata Imam Bukhori dan Imam Abu Hatim tentangnya,”Mungkarul hadits jiddan (sangat munkarul hadist).”
Demikian diterangkan oleh Imam Dzahabi di Mizan-nya (3/548-549) dan Al Hafizh Ibnu Hajar dikitabnya Lasaanul Mizan (5/165-166) dan Imam Al’Uqailiy di kitabnya Adh Dhu’afaa’ (4/67-68)
Kata Imam Ibnu Adi: Kebanyakan apa (hadith) yang diriwayatkannya tidak boleh diikuti (yakni hadithnya tidak boleh menguatkan hadith yang lain).
Kata Imam Ibnu Hibban: Tidak halal berhujah dengannya.
Kata Imam Abu Hatim: Ia seorang yang sangat mungkar hadithnya.

Doa Makan yang Benar

Berdasarkan dalil yang sahih, do’a makan adalah :

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Apabila seseorang di antara kamu memakan makanan, hendaklah membaca:
“bismillah”
Apabila lupa pada permulaannya, hendaklah membaca:
Bismillahi fii awwalihi wa akhirihi”
(HR. Abu Dawud 3/347, At-Tirmidzi 4/288, dan lihat kitab Shahih At-Tirmidzi 2/167)

Tidak Boleh Mengamalkan Hadis Dhoif

Imam Ibnu Hibban berkata dalam shahihnya halaman 27 tentang bab :“Wajibnya masuk neraka bagi seseorang yang menyandarkan sesuatu ucapan kepada Nabi, sedangkan ia tidak mengetahui kebenarannya”. Kemudian ia menukil dengan sanadnya dari Abu Hurairah secara marfu’ :“Barang siapa berkata atasku apa yang tidak aku katakan,maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka”. Sanad hadits ini hasan, dan asalnya dalam shahih Bukhari dan Muslim. Maka jelaslah dengan apa yang disebutkan (diatas), bahwa tidak diperbolehkan menyebarkan hadits-hadits dan riwayat-riwayatnya tanpa tasabbut (mencari informasi tentang kebenarannya).

“Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap dusta, maka dia termasuk pendusta.”(HR. Muslim)

Sebagian besar para muhaqiq (peneliti hadits) berpendapat bahwa hadits dlaif tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaan-keutamaan.

Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam Qawaid At-Tahdits hal. 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut (yakni hadits dlaif tidak diamalkan secara mutlak, pent) diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam ’Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma’in dan dalam Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakar bin Al-Arabi. Pendapat itu juga merupakan pendapat Bukhari, Muslim dan Ibnu Hazm.

Penulis :
Agam Rosyidi

URL :
http://rosyidi.com

Referensi :
http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6a11121331-doa-buka-puasa-iallahumma-laka-shumtu…i-bukan-hadits-shahih.htm
http://thejargon.multiply.com/journal/item/100/Doa_Buka_Puasa_Yang_Benar.
http://myislam.blogspot.com/2005/08/hadist-popular-yang-palsu-pada-bulan.html
http://ahlussunnah.web.id/audio/index.php?id=177
Hadits-Hadits Dho’if dan Maudhu’ ,oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, penerbit Darul Qolam
http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/577
http://masjid.phpbb24.com/viewtopic.php?t=360&start=0

http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=30

Email Anda:

 

Related Posts (Artikel Terkait) : doa buka puasa, doa berbuka puasa, doa puasa, kumpulan hadist dhoif, ayat doa berbuka puasa, Arti doa berbuka puasa, doa sebelum berbuka puasa, doa sebelum buka puasa, kumpulan hadits dhoif, hadist dhoif, bacaan doa berbuka puasa, doa sebelum puasa, doa buka, hadis dhoif, doa berbuka puasa yang shahih, kumpulan hadis doif, Doa nadi ali, contoh hadits dhoif, DOA MAU PUASA, maksud doa berbuka puasa, doa makan hadits dhoif, tulisan arab doa makan, doa nadi ali kabir, tulisan arab doa berbuka puasa, hadist doif, tulisan arab doa buka puasa, arti doa buka puasa, doa berbuka puasa dan artinya, kumpulan hadist sahih, kumpulan hadis dhoif, kumpulan hadIST ARAB DAN ARTINYA, contoh hadits shahih hasan dhoif, hadits wa fuanni dalam doa diantara dua sujud, doa berbuka puasa bahasa arab, doa berbuka puasa arab, maksud doa buka puasa, kumpulan hadist sohih, doa buka puasa ternyata dhoif, dalil doa berbuka puasa, doa buka puasa dalam bahasa arab, doa ketika berbuka puasa, doa buka puasa yang shahih, Kumpulan hadits doif, doa mau buka puasa, contoh hadist doif tentang puasa, makna doa buka puasa, doa saheh setelah solat fardu, doa sahur dan buka puasa ramadhan, arti dari doa berbuka puasa, hadisnya doa berbuka puasa sesuai sunnah
Kirim ke Teman di Facebook
idwebspace

Komentar

65 Komentar pada “Doa Buka Puasa Ternyata Dhoif”
  1. glad u comeback!! :)
    Postingan yg bagus, Gam!! tp klo boleh kritik sedikit, terkadang ada ustadz atau ulama mengajarkan doa2 atau dzikir yg emang gak diajarkan Rasulullah, tp ketika kita melihat artinya, mengajarkan kita utk ikhlas dan hal2 baek lainnya.Apa ini salah?
    Contohnya, ada tahlilan yg mengajarkan kita utk selalu mengingat Allah dan berzikir selalu.Atau do’a buka puasa yg k-mu sebutin diatas.Maknanya kan agar kita selalu bersyukur atas rezeki Allah dan mengingat-Nya.
    Kalo aku pribadi, tetep berhati-hati tetapi tidak jg men-dhoif-kan atau mem-bid’ah-kan sesuatu.

    Last but not least,
    Keep posting, Bro!!

    Rosyidi :Kalau tahlilan itu beda kasus. Itu sudah mengarah ke bid’ah. Kenapa? Karena itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Ini sudah mengarah kepada membuat amal2 baru sepeninggal Rasulullah. Dan hukuman bagi pelaku bid’ah adalah neraka. Hadis Riwayat Muslim no 867. Dan Rasulullah sering mengulang2nya pada khutbah jum’at. Dasarnya gampang, Semua ibadah itu haram, kecuali yang diperintahkan. Walaupun tujuannya baik, tetap saja tidak boleh. Bayangkan kalau setiap orang menambah2i ibadah yang sudah sempurna, bisa jadi ibadah kita tambah berjibun. Padahal amalan sunnah saja banyak yang masih sering meninggalkannya.
    Dhoif itu lemah, beda ama bid’ah. Dan yang mendhoifkan itu ulama2 hadis, termasuk imam bukhori dan muslim, dll sendiri juga sering mendhoifkan hadis2. Dan aku hanya ngikut mereka aja. Kalau do’a buka puasa, baca sub judul yang terakhir, “Tidak Boleh Mengamalkan Hadis Dhoif”.

  2. kus says:

    rawi lengkapnya mana?

    Kata ustadz ( temen kerja ) , saya pernah nanya soal hadith yang salah satu rawinya lemah apakah itu termasuk dhoif dll, dan beliau berkata : menjadi maqbul jika ada ikutannya, jika tidak lemah …

    Nah … sepertinya ikutan ( hadith senada ) juga gak ada ya?

    Dari situ ada pertanyaan ?

    “apakah sah , jika kita berbuka dengan mempergunakan doa seperti itu ( Allahumma laka sumtu.. ) ?

    ” apakah berkurang pahala, dan berkah buka jika berdoa dengan hadist dhoif? ”

    Hadist nya mungkin memang dhoif (maap bukan ahli hadist , mohon petunjuknya :x ) tapi saya rasa berdoa dengan itu bukan dosa kan? ( doanya kan gak mengajak untuk menyalahi syara’

    CMIIW :)

    Rosyidi :Sudah disebutkan diatas rawi2 yang menyebabkannya menjadi hadis dhoif. Dan yang ngomong dhoif itu bukan aku. Aku cuma merangkumnya menjadi sebuah tulisan baru.
    Sah tidaknya, pahala, baca sub judul terakhir.
    Saya juga bukan ahli hadis. Jika masih ada yang sahih mengapa memilih yang dhoif?

  3. kus says:

    hhhhh pelupa aye .. maap kome diatas ditulis ada yang kelewat membacanya.

    Rosyidi :Tapi tetep aku jawab koq :)

  4. mr.bambang says:

    Kalau berdo’anya itu sebagai bentuk syukur telah menunaikan ibadah puasa sehari penuh, namun dalam bahasa yang lebih personal gimana? :)>-

    Rosyidi :Sebagian ulama ada yang memperbolehkan, ada pula yang melarang.Wa’allahua’lam bishowab.

  5. imcw says:

    udah aktif lagi ya gam?…welkam bek

    Rosyidi :Yup. Makasih. kelamaan nunggu lebaran. Jadi aku percepat posting terbarunya :)

  6. mufti says:

    Kalo menurut saya nih, itu kan do’a. Bukankah doa itu bebas asal baik doanya. kalo saya mau memohon ingin sesuatu, apa harus cari dalil do’anya dulu? :d :)>-

    Rosyidi :Tapi tidak boleh menggunakan do’a dari hadis dhoif. Ada yang sahih dan hasan ngapain pake yang dhoif? :)>-
    Sesuai dengan sub judul terakhir. Hadis dhoif tidak boleh dipakai. Coba anda tanya ke ustad manapun. Kalo dia ngerti, pasti menolak menggunakan hadis dhoif sebagai dalil.

  7. Madsyair says:

    Banyak refrensinya,mas. Salah satu usaha hati-hati dalam ibadah. Kenapa orang pake do’a ini? Karena do’a tersebut do’a yang populer dan banyak diajarkan di sekolah. Kalau saya pribadi, berdo’a dengan bahasa apa saja, yang penting do’a yang baik. Seringkali, cukup bismillah dan alhamdulillah. Meskipun kadang2 lupa :)

    Rosyidi :Ya itu yang jadi masalah. Sekolah dalam hal ini Depdiknas kurang memperhatikan isi pelajarannya. Asal comot aja. Padahal banyak buku pelajaran yg isinya hadis2 dhoif. :)

  8. HA says:

    Rangkuman yang bagus …..

  9. noer says:

    caape’ dech! :-w :)>-

  10. noer says:

    jadi meskipun untuk fadhoilul a’mal dan sekedar ‘pelajaran’ juga kgak boleh yach?! mengajarkan do’akan juga mengajarkan esensi dari do’a tersebut mas, dan itu lebih penting daripada lafadz semata. tentu saja, (sebagaimana yang antum tulis) tidak menyandarkan itu kepada Rasulullah saw. nah kalo gak bisa bahasa arab, terus pake niat aja gimana? apa itu juga gak boleh?! tapi however, ana setuju dengan pendapat ulama hadist tentang dho’idnya hadis2 di atas… saya tidak lantas menentang dan mengatakan sohih loh?!!

    afwan, yang paragraf ini :

    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hafidhahullah berkata: “Di kalangan ahli ilmu dan para penuntut ilmu telah masyhur bahwa hadits dlaif boleh diamalkan dalam fadlailul a’mal. Mereka menyangka bahwa perkara ini tidak diperselisihkan. Bagaimana tidak, Imam Nawawi rahimahullah menyatakan dalam berbagai kitab beliau bahwa hal itu telah disepakati. Tetapi pernyataan beliau itu terbantah karena perselisihan dalam masalah ini ma’ruf. Sebagian besar para muhaqiq (peneliti hadits) berpendapat bahwa hadits dlaif tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaan-keutamaan.

    menurut ana kok terjemahnya agak mbulet ya?

    Rosyidi :Doa pake bahasa Arab emang ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Ada yg boleh ada yg tidak. Waallahua’lam bishowab.
    Untuk paragraf itu, biar gak bingung, sekarang udah aku edit menjadi lebih simpel. Sesuai urutan referensinya, karena itu berada di sub judul paling bawah, maka referensinyapun terletak di paling bawah, kalo mau baca lebih detailnya.

  11. lady says:

    gmn dg org yg awam, yg blm mengetahui dan paham kl itu dhoif?
    mmg sudah seharusnya berhati2 terhadap amalan, begitupun aku. namun bila semua/setiap amalan harus dicari satu2 hukumnya dhoif ato ahsan, kesannya islam itu memberatkan. sedangkan kesempatan yang (mgkn) ada adalah mendapatkan ajaran itu dr sekolah, artinya kita sebagai makmum yang mengikuti imamnya. kl ternyata itu ada kesalahan, apakah semua itu dibebankan pd makmum? wallahua’lam :)

    Rosyidi :Ya, karena itulah aku beritau. Kalo ini hadis yg tidak boleh dipakai, karena dhoif/lemah.
    Sebagai seorang muslim, kita dituntut pinter, cerdas, dan kritis. Jadi kita tidak boleh asal terima apa adanya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru bukan patokan kebenaran. Kita harus mencari kebenaran itu sendiri. Jangankan guru, ustad2 sekarang banyak yg ceramah guyonan, minim dalil. Dasar agama kita Al-Qur’an dan Hadis. Bukan katanya ustad ini, katanya kiyai itu.

  12. liezmaya.web.id says:

    aduh terlalu berat, ilmu sayah belum cukup :D

    oya, yang do’a dilagukan itu ya, sempat juga jadi bahan perdebatan di keluarga ketika sahur. tapi ya wallahualam

    Rosyidi :Wah terlalu berat ya? Maaf kalau begitu, ini sudah saya usahakan sesimpel mungkin tanpa mengurangi kedalaman ilmu yg terkandung didalamnya. Mungkin ini bisa menjadi masukkan untuk tulisanku yg berikutnya. Makasih ya.
    Yg jelas Rasulullah tidak pernah mengajarkan do’a dengan dilagukan seperti itu.

  13. Mufid says:

    Wah.. ane baru tahu hal ini.

  14. Abi Bakar says:

    yah itulah manfaatnya belajar dan membaca, jadi tahu banyak hal…nice article nanti saya pelajari lagi…btw kok linknya diganti agam? dan apakabar nih?

    Rosyidi :Linknya yg mana? Kalo linkku emang udah pindah alamat. Dari agam.punya.web.id jadi rosyidi.com. Maaf kalau belum ngabari.

  15. sudah lama tahu soal ini, hehe…

    soal bid’ah hasanah (bid’ah yang dianggap baik), sebenarnya tidak ada. karena kalau kita menganggap suatu bid’ah sebagai suatu kebaikan, seperti yang dibilang Thoim the Shinigami, sama saja kita menganggap Rasulullah telah berkhianat atas risalahnya. Bukankah disebutkan bahwa apa yang disampaikan Rasulullah sudah sempurna dan lengkap (Al Maidah ayat 23 kalo gak salah, yang “al yauma akmamtu lakum dinakum, wa atmamtu alaikum islama dinaa).

    Kalau semua kebaikan sudah disampaikan oleh Rasul, bagaimana ada “kebaikan-kebaikan” lainnya?

  16. @Lady, ya itulah pentingnya menuntut ilmu (Thalibul ilmi)…jangan mengira-ngira.

  17. lady says:

    @firman firdaus, @agam:

    makasih replynya. alhamdulillah saya sendiri bisa diberi ‘kesempatan’ untuk mencari ilmu dien, insyaallah apa yg saya lakukan dalam hal ibadah bukan atas dasar mengira2.

    yang saya sampaikan di atas itu jika di ‘luar sana’ yg blm/tdk mendapat kesempatan spt kita. jdnya mereka hanya mengandalkan apa kata guru/ustad/kyai yang mereka percayai. wallahua’lam.

    Rosyidi :Jika yang di ‘luar sana’ itu urusan masing2 individu. Tugas kita menyebarkan kebenaran. Jika mereka tidak mau tau, itu kembali ke diri mereka masing2.

  18. adib says:

    good!!

    terus kibarkan sunnah dan cerdaskan ummat dengan sunnah yg sohih…

  19. Anang says:

    terimakasih reviewnya…

  20. aLe says:

    huhuhu.,
    klo aLe jarang (banget) pakai doa itu., :D

  21. Nisa says:

    eeeto. jujur aja nisa kaget baca artikel ini. berarti selama belasan tahun ini nisa doa sebelum makannya salah donk. soalnya ya nisa selalu baca doa yang divonis dhoif itu. O_O. weq. jadi intinya kalau sebelum makan cuma baca: bismillah doang? gak ada tambahan lagi???

    trus….. tentang doa buka puasa yang bener jadinya gimana dunk?

    Rosyidi :Ya, itu memang hadis yg sangat dhoif. Ya, untuk makan hanya bismillah (juga bukan bismillahirahmanirahim). Itu sudah cukup. Gak perlu ditambah2in. Yang disampaikan Rasulullah sudah sempurna.

  22. pututik says:

    Sikap berhati-hati dalam mengamalkan ibadah sangat diperlukan agar kita selamat daripada bid’ah dan mau belajar adalah jalan terbaik. terimakasih sharingnya mas.

  23. aLe says:

    lhoh :O bismillahirahmanirahim jg bukan?
    jadi cuma bismillah aja ya.
    secara terasa lebih simple dan mudah dihafal deh..

    ohya,
    kok aLe g bs buka bLog sndiri ya,
    semacam boikot gt deh.
    jd blm apdet2 :( pdhl kopdar kmrn hrs ada laporan,
    pernah ngalamin yg bgini jg gak :-??

    Rosyidi :Ya, cukup bismilllah, sesuai hadisnya.
    Kalo gak bisa update langsung, pake blog client aja. Kalo aku pake post2blog. Jadi gak perlu buka blognya secara langsung.

  24. Catoer says:

    Wallahi, selama ini ga pernah gagas, ga pernah bahas. Istriku, guru TK bahkan ngajarkan tuh du’a-2.
    Hmm.. gimana yah. Aku pernah 3 th kerja di kementrian kes Saudi Arabia. Tnyata banyak yang dhoif-2 yg justru di Indon tuh di blow up. mulai dari du’a sampe niat. Perayaan-2, di sana cuman ada 2. ied al Adha ama Fitr. Disini kelahiran Rasulullah SAW di ultahin. blon laennya lagi.
    Cape deh

    Rosyidi :Karena belum tau, tidaklah mengapa. Jika sudah mengetahui, jangan diteruskan. Saudi Arabia jelas lebih lurus akidahnya dibandingkan masyarakat Indonesia yang terkontaminasi budaya leluhur.

  25. mpik says:

    Wah kalau begitu bagaimana amalan yang kita lakukan selama ini ya mas? Tolong juga mas aku dikasih tahu referensi (buku) yang bisa jadi pegangan tapi jangan ada yang dhoif atau bid ‘ah ntar jadi bingung lagi,teng kiu ya

    Rosyidi :Sebenarnya saya agak bingung buku yang anda inginkan seperti apa. Jadi saya sebutkan yang berkaitan dengan bid’ah dan dhoif.
    Kalau mau tau hal2 apa saja dan penjelasan lebih lengkap tentang bid’ah bisa beli buku :Ensiklopedi Bid’ah. Bukunya besar, dan agak mahal. sekitar 80-90ribu kalau tidak salah.
    Kalau mau yang lebih murah, Kumpulan Tanya-Jawab Bid’ah dalam Ibadah. oleh Hammud bin Abdullah Al-Mathr. Penerbit Darul Falah. Harganya sekitar Rp.58.400.
    Lalu Ensiklopedi Larangan. Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i. Ini juga lumayan mahal. Aku lupa harganya. Sekitar 80-90 ribu kalau tidak salah. Ada 3 jilid @500an halaman. Berisi larangan2 dalam Islam. Lengkap sekali, agar terhindar dari larangan2 yang banyak belum kita ketahui.
    Untuk Amalan Sholat : Sifat Sholat Nabi, dari takbir hingga salam. Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Pustaka Sumayyah.
    Shahih Riyadhus Shalihin. oleh Imam Nawawi. Ini kumpulan hadis. Namun beberapa menurut Syeikh Al-Albani ada yang dhoif. Seperti no 201. Sehingga dalam Shahih Riyadhus Shalihin yang di takhrij Syeikh Al-Albani yang diterbitkan oleh PUstaka Azzam nomor 201 tersebut dilewati, jadi setelah nomer 200 langsung 202. Harganya sekitar 40 ribu kalau tidak salah.
    Hadis Sahih Bukhori, Hadis Sahih Muslim. Masing2 hanya berkisar 100 ribuan perkitab (yg ringkasan).
    Sunnah2 yang ditinggalkan. oleh Syihab Al Badri Yasin. Harganya lupa. Tapi gak seberapa mahal koq.

  26. mpik says:

    makasih banyak mas,sekalian mau ngucapin minal aizin walfaidzin………,thank’s berat

  27. insan131 says:

    iya bener, wah baru liat penjelasan lengkapnya disini. dimentoring juga pernah dikasitau doa itu hadis nya lemah. Trus ada doa yang emang disunahkan nabi ketika berbuka puasa, dibacanya setelah kita minum, tapi lupa euy doanya gimana.

    kalo kata gue sih berdoa dengan bahasa arab yang tidak pernah disunahkan boleh boleh aja, kan orang arab juga kalo doa pake bahasa arab. tapi kayaknya jadi bid’ah kalo kita jadi mengharus haruskan amal /tersebut. Kalo tahlilan sebatas untuk silaturahmi dan memanjatkan doa sih gapapa, tapi kalo udah diharus haruskan, itu kayaknya jadi bid’ah

    jadi lebih baik amal2 yang dibuat2 menjadi ritual ibadah itu ditinggalkan saja, karena berpotensi menjadi bid’ah. biasanya sih orang suka ngikut2 tindakan orang lain yang dianggap bagus, lalu lama lama dianggapnya jadi ibadah.

  28. fulan says:

    subhanalah,kok baru tau skrang sih.trus knapa smpai skrang masih dipakai.
    lalu knpa beliau2 ulama membiarkan begitu saja.
    makasih atas infonya:)>-

    Rosyidi :Mungkin karena ketidak tahuan mereka. Ya selain itu kesalahan dalam pembelajaran di Indonesia juga. Dari SD di doktrin, doa makan gini, doa tidur gini, tanpa tahu dalilnya sama sekali. Mungkin cara itu cocok untuk SD, tapi SMP dan SMA ternyata sama saja. Tidak pernah diajarkan dalil2nya. Ini dari hadis Sahih, ini hasan, dll.

  29. TW says:

    thx untuk info-nya…
    maaf kalo commentnya panjang nih…

    kalo boleh menanggapi ttg masalah doa rutinitas keseharian kita [bukan doa2 dlm sholat ya..] misalnya sebelum makan,sbb:
    1. sepertinya memang sudah jadi kebiasaan kita berdoa seperti itu, tapi, kan biasanya tetap di dahului oleh bacaan basmalah baru doa tsb. Bukankah itu sudah menutupi syarat doa yg sesuai hadist?
    2.masalah “Allahumma baariklana fimaa razaqtana waqina ‘adzabannar”.
    menurut saya amatlah baik kok artinya,bukan kata2 yg membawa kesyirik/pengkultusan seseorang, semisal kita pernah mendengar doa2 membawa nama2 syeik dll…
    bukankah Allah itu Maha Universal?Dia Maha mendengar doa dgn berbagai bahasa di jagad ini,dan Seluruh makhluk boleh berdoa dgn berbagai bahasanya,bukankah begitu?
    apa anda semua berdoa selalu dgn bahasa arab?ga kan?berarti selama ini kita juga ga diterima dong doanya kalo ga pakai bahasa arab,atau memunajatkan doa yg ga sama persis dgn doa2 yg lazim dibaca [misalnya hanya pakai kata2 indonesia saja] ?
    ambil contoh, setiap saya selesai makan, saya berdoa: Alhamdulillah,terima kasih ya Allah atas makanan ini…
    kalau inipun memang ga ada dicontohkan oleh Rasulullah[baca:ga sama persis],berarti doa terima kasih saya ga diterima dong?
    Jadi menurut saya hal ini jgn terlalu membuat kita jadi berfikiran kerdil, karena hakikat doa itu hanya Allahlah yg menerima tidaknya,karena doa hanyalah media, yg bisa dgn berbagai cara dan ekspresi…

    mengenai hadist dhoif, menurut saya lebih tepat ke hal2 yg lebih ‘rituil’ seperti bgmn tatacara sholat,puasa, bersuci,dll.

    wallahu sallam bishowwab
    terimakasih
    wassalam
    tw

  30. Catoer says:

    Hmm.. gimana ya
    lepas dari perdebatan atau apapun ini sebutannya.
    Pengalaman saya tinggal dan bergaul dikalangan masyarakat saudi arabia menunjukkan bahwa hidup ini begitu sederhana.
    Corong mesjid hanya untuk adzan, tidak untuk belajar ngaji keras-keras. Makan cukup baca basmallah. Pimpin memimpin doa cuma ada pada shalat Jumat. Upacara-upacara spt slametan, tahlilan, 40 harian, isra’ mi’raj, miladz nabi, tidak ada. Things work so simple.
    Tapi kalau sudah urusan kerenggangan shof wkt shalat dan urusan ibadah lain mereka sangat tertib.
    Kalo udah doa tambahan mungkin jadi masalah preferensi personal masing-masing kepada Allah barangkali ya.
    Life is so easy there, suppose to be here also, I think..

  31. TW says:

    setuju bung catoer,
    agama itu memang untuk dipraktekkan, bukan untuk diperdebatkan…
    karena hakikatnya hanya untuk Allah semata…
    maksud saya bukan untuk berdebat or lainnya,
    so,marilah kita menjadi orang beragama yg berwawasan,
    maka kita pun akan mengerti bahwa agama itu memang simple namun jangan di simple-simple-in :)

    thx
    Wallahu ‘alam bishowab
    tw

  32. muhammaderi says:

    mohon doa dari sunnah yang sahih, karena ana ingin mengamalkan hadist yang sohih aja, nggak ingin yang daif wassalam .

  33. Dara Manis says:

    Kalau Dalil Buka puasa seperti apa sich ya Mas…?

    Rosyidi :Lho diatas kan sudah ada. “Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : dzahabazh zhaama-u wabtallatil ’uruqu wa tsabatal ajru insya Allah. ( artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).
    (riwayat : Abu Dawud No. 2357, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra 2/255, Ad-Daruquthni 2/185, Al-Baihaqi, 4/239)
    Itu hasan. Banyak ulama yang berpegangan pada hadis tersebut.

  34. Dara Manis says:

    Kalau mengamalkan suatu ibadah tidak ada contoh dari nabi tapi ada contoh dari sahabat boleh ngga Mas…?

    Rosyidi :Contohnya? Karena sahabat pasti sesuai dengan petunjuk Rasulullah. Karena para sahabat terkenal sangat ta’at dengan apa yang dikatakan Rasulullah. Karena itulah pesan terakhir Rasulullah seperti yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43 – 44), Ahmad, dll :
    Sabda Rasulullah SAW : ‘Saya berpesan kepada kamu supaya sentiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla serta mendengar dan taat sekalipun kepada seorang hamba yang memerintah kamu. Sesungguhnya orang-orang yang masih hidup di antara kamu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan dan sunnah Khalifah Ar-Rasyiddin Al-Mahdiyyin yang memperoleh petunjuk ( dari Allah ) dan gigitlah ia dengan gigi geraham kamu ( berpegang teguh dengannya dan jangan dilepaskan sunnah-sunnah itu ).
    Dan jauhilah kamu dari pekara-pekara yang diadakan, karena sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu menyesatkan.‘

    Jadi rujukan kita adalah Rasulullah dan para sahabat. Itulah yang bisa dijadikan pegangan. Karena sahabat satu zaman dengan rasulullah dan Rasulullah sendiri yang memerintahkan mengikuti petunjuknya dan para sahabat jika ada perselisihan. Jadi bukan pendapat ustad, kyai, syeikh, dll. Kecuali ustad, kyai, syeikh, dll itu mengikuti petunjuk Rasulullah dan para sahabat.

    Sedangkan Sholat Tarawih, bukanlah hal baru yang diajarkan Sahabat. Sholat Tarawih sudah ada sejak zaman Rasulullah masih hidup. Dan juga Rasulullah pernah sholat jamaah. Jadi itu bukanlah hal baru. Rasulullah kala itu hanya takut itu dijadikan suatu kewajiban. Namun setelah Rasulullah tiada, hal itu dilanjutkan oleh para sahabat dengan alasan Al-Qur’an sudah sempurna dan tidak ada wahyu yang turun lagi. Allahu’alam bishowab.

  35. Dara Manis says:

    Afwan, maksud saya : waktu berbuka puasa, mohon diberikan penjelasan.

    Rosyidi :Batasan waktu sahur :
    “Artinya : Dan makan minumlah sehingga terang kepadamu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” [Al-Baqarah : 187]

    Ketika turun ayat tersebut sebagian sahabat Nabi Shalallalahu ‘alaihi wa sallam sengaja mengambil iqal (tali) hitam dan putih kemudian mereka letakkan di bawah bantal-bantal mereka, atau merka ikatkan di kaki mereka. Dan mereka terus makan dan minum hingga jelas dalam melihat kedua iqal tersebut (yakni dapat membedakan antara yan putih dari yang hitam-pent).
    [ket : Iqal yaitu tali yang dipakai untuk mengikat unta]
    “Maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang”

    Batasan Waktu berbuka :
    Jika telah datang malam dari arah timur, menghilangkan siang dari arah barat dan matahari telah terbenam bebukalah orang yang puasa.

    Dari Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Jika malam datang dari sini, siang menghilang dari sini dan terbenam matahari, telah berbukalah orang yang puasa”
    [Hadits Riwayat Bukhari 4/171, Muslim 1100. Perkataannya : "Telah berbuka orang yang puasa" yakni dari sisi hukum bukan kenyataan karena telah masuk puasa]

    Hal ini terwujud setelah terbenamnya matahari, walaupun sinarnya masih ada. Termasuk petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau puasa menyuruh seseorang untuk naik ke satu ketinggian, jika orang itu berkata : “Matahari telah terbenam”, beliaupun berbuka
    [Hadits Riwayat Al-Hakim 1/434, Ibnu Khuzaimah 2061, di SHAHIH kan oleh Al-Hakim menurut syarat Bukhari-Muslim. Perkataan Aufa : Yakni naik atau melihat.]

  36. Dara Manis says:

    Mas, siapa sich yang dimaksud Khulifah Al-Rasyisidin… siapa saja, mohon disampaikan dengan dalilnya.

    Tarawih
    Dikatakan :
    Jadi itu bukanlah hal baru. Rasulullah kala itu hanya takut itu dijadikan suatu kewajiban. Namun setelah Rasulullah tiada, hal itu dilanjutkan oleh para sahabat dengan alasan Al-Qur’an sudah sempurna dan tidak ada wahyu yang turun lagi.

    Tanya:
    * Kalaulah Rosulullah sudah merasa khawatir kenapa ada orang yang berani untuk melakukan? apakah ada orang yang lebih pintar dari Rosulullah…?
    seandainya sekarang kita bayangkan dimesjid anda saat Ramadhan tidak diselenggarakan sholat tarawih secara berjamaah, apakah yang terjadi dalam masyarakat disekitar masjid anda..? saya khawatir pengurus/ta’mir masjid anda akan mendapatkan respon/anggapan dari masyarakat sekitar adalah sesat…
    * Tahun keberapa Tarawih secara berjamaah dilakukan oleh Rasulullah…?
    * Berapa hari saja tarawih itu dilakukan?
    * Berapa lama selama Rosulullah ada, tidak dilakukan sholat tarawih berjamaah..?
    * Adakah riwayat Bahwa Abu Bakar ra melakukan sholat tarawih berjamaah?
    * Adakah Sahabat Ali ra melakukan sholat tarawih berjamaah?

    mohon penjelasannya.

    Rosyidi :Khalifah Ar-Rasyidin atau Khulafa’ur Rasyidin adalah empat khalifah pertama dalam tradisi Islam Sunni, sebagai pengganti Muhammad, yang dipandang sebagai pemimpin yang mendapat petunjuk dan patut dicontoh. Mereka semuanya adalah sahabat dekat Nabi Muhammad SAW, dan penerusan kepemimpinan mereka bukan berdasarkan keturunan, suatu hal yang kemudian menjadi ciri-ciri kekhalifahan selanjutnya.

    Khulafaur Rasyidin terdiri dari empat khalifah sahabat Nabi Muhammad SAW adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Talib.

    Sahabat Rasulullah tersebut adalah yang mendapat jaminan surga.

    Rasulullah bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR. Abu Dawud [4649] dan Tirmidzi [3747])

    Hadith ini telah diriwayatkan dengan MAUSHUL (sanad yang bersambung) melalui jalan lain dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Mutabaat was Syawahid, sanadnya LA BA’SA BIHI (baik).
    Dikeluarkan oleh Ibnu Nashr dalam Qiyamul-Lail, hal.90 Abu Dawud I : 217 dan Baihaqi.

    Pertama dari Nu’man bin Basyir ia berkata :

    “Artinya : Kami pernah solat (malam) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam ke 23 di bulan Ramadhan hingga sepertiga malam yang pertama, kemudian kami solat lagi bersamanya pada malam ke 25 hingga pertengahan malam, kemudian beliau mengimami kami pada malam ke 27 hingga kami mengira, kami tidak akan mendapatkan waktu “FALAAH”. Ia berkata : Kami menyebut “SAHUR” dengan sebutan falaah”. [Diriwayatkan oleh Ibnu 'Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf II : 90/2, Ibnu Nashr halaman 89, Nasaa'i I : 238, Ahmad IV : 272, Faryabi dalam Kitab Shiam I/73 - II/72. Sanadnya SHAHIH dan dishahkan oleh Hakim]
    Hakim berkata : Hadits ini merupakan dalil yang terang bahwa Solat Tarawih di masjid-masjid kaum Muslimin adalah SUNNAH (dianjurkan), dan adalah Ali bin Abi Thalib menganjurkan Umar bin Khattab radyillahu ‘anhum untuk menjalankan sunnah ini. Al-Mustadrak I : 440.

    Seterusnya Abdurrahman bin Abdul Qari menerangkan bahawa pada malam hari yang lain, dia keluarlagi dengan Umar dan pada ketika itu umat Islam mengerjakan solat dibelakang seorang qari. Maka Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Adapun orang yang tidur pada awal malam seraya bermaksud akan mengerjakan solat lail (Tarawih) pada malam hari, yang demikian itu adalah lebih utama daripada orang yang mengerjakannya pada awal malam. Akan tetapi umat Islam mengerjakan pada awal malam.” (Dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari)

    Berdasarkan pada keterangan hadith-hadith sohih diatas, maka jelaslah bahawa orang yang mula-mula mengerjakan solat Tarawih dalam kaitannya dengan ibadah pada bulan Ramadhan adalah junjungan Agung kita Nabi Muhammad s.a.w. .

    Baginda Rasulullah s.a.w. mengerjakan bersama para sahabat tiga atau empat malam. Setelah itu Nabi Muhammad s.a.w. tidak keluar untuk mengerjakan bersama para sahabat lagi kerana Nabi Muhammad s.a.w. khuatir solat Tarawih dianggap wajib oleh umatnya. Dalam hal ini adalah sebagai rahmat dan tanda sangat sayang kepada umatnya.

    Keterangan yang lebih jelas lagi disebutkan oleh al-Bukahri dan Muslim maksudnya: “Sesungguhnya Nabi Muhammad s.a.w. keluar pada waktu tengah malam pada bulan Ramadhan kemudian solat dimasjid. Beberapa orang mengikuti solat Baginda Rasulullah s.a.w.. Pada sebelah paginya mereka menceritakan perkara tersebut kepada teman-teman mereka.

    Maka pada malam hari berikutnya para sahabat yang berhimpun lebih ramai lagi. Pada malam yang kedua ini Nabi Muhammad s.a.w. keluar untuk mengerjakan solat dan para sahabat pun mengikuti solatnya. Pada sebelah paginya para sahabat menyebut-nyebut perkara itu, maka pada malam ketiga orang-orang yang berhimpun dimasjid bertambah ramai lagi. Nabi Muhammad s.a.w. keluar kemasjid mengerjakan solat pada malam ketiga itu dan para sahabat mengikutinya.

    Kemudian pada malam yang keempat, masjid tidak lagi muat untuk menampung orang ramai yang datang berhimpun tetapi Nabi Muhammad s.a.w. tidak keluar kemasjid. Beberapa orang sahabat ada yang melaungkan azan “al-solah! al-solah!”, tetapi Nabi Muhammad s.a.w. tidak keluar juga. Apabila masuk waktu subuh, barulah Nabi Muhammad s.a.w. keluar kemasjid. Setelah selesai solat Subuh, Nabi Muhammad s.a.w. menghadap para sahabat, membaca syahadat dan kemudian bersabda: ‘Sesungguhnya aku bukannya tidak tahu bagaimana keadaan kamu malam tadi, akan tetapi aku khuatir kalau-kalau kamu menganggap bahawa hal ini (solat malam Ramadhan) diwajibkan atas kamu, maka kamu tidak mampu mengerjakannya.’

    Pada zaman Umar bin Khatab, beliau adalah khalifah yang rajin memantau keadaan rakyatnya. Dan beliau melihat keadaan kebanyakan orang-orang justru tidak sholat tarawih. Nah untuk membangkitkan semangat sholat tarawih, beliau mengaktifkan kembali sholat tarawih berjamaah di masjid. Namun itupun tetap sunnah. Jadi boleh sholat di masjid, ataupun dirumah, boleh setiap hari, ataupun tidak setiap hari. Karena hukumnya adalah sunnah. Dan beliau tidak mengubah hukum tersebut. Itu merupakan ijtihat beliau. Dan itupun bukan hal baru, karena Rasulullah pernah mencontohkannya.

    Para Sahabat mendapat jaminan masuk surga. Dan Rasulullah tidak akan mungkin salah memilih sahabat. Karena itulah kita disuruh mematuhi mereka juga. Samapai2 dianalogikan gigitlah dengan gigi graham, maksudnya apa? karena gigi graham adalah yang kuat menggigit.
    Wallahua’lam bishowab.

    >>Sementara itu dulu. Nanti kalo ada waktu aku edit lagi.< <

  37. Dara Manis says:

    Rosyidi :Sahabat Rasulullah yang dimaskud adalah yang mendapat jaminan surga.

    Rasulullah bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR. Abu Dawud [4649] dan Tirmidzi [3747])

    *—————————————-*
    tanya : kenapa sahabat yang dijamin masuk surga mereka saling berperang (dalam perang jamal)?

    mohon penjelasannya hadistnya.

    *—————————————-*
    Mohon redaksinya disampaikan :
    dan adalah Ali bin Abi Thalib menganjurkan Umar bin Khattab radyillahu ‘anhum untuk menjalankan sunnah ini. Al-Mustadrak I : 440.

    karena Ali bin Abi Thalib ra tidak pernah menganjurkan untuk melakukan sholat tarawih berjamaah.

    pertanyaan yang lain masih berlaku.

    mohon penjelasannya.

    Rosyidi :Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (661-728H) menerangkan dalam Fatawa-nya :”Kami menahan tentang apa-apa yang terjadi diantara mereka dan kami mengetahui bahwa sebagian cerita-cerita yang sampai kepada kami tentang (kejelekan) mereka (semuanya) adalah dusta. Mereka (para shahabat) adalah mujtahid, jika mereka benar maka mereka akan dapat dua ganjaran dan akan diberi pahala atas amal shalih mereka, serta akan diampuni dosa-dosa mereka. Adapun jika ada pada mereka kesalahan-kesalahan sungguh kebaikan dari Allah telah mereka peroleh maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa mereka dengan taubat mereka atau dengan perbuatan baik yang mereka kerjakan yang dapat menghapuskan dosa-dosa mereka atau dengan yang lainnya. Sesungguhnya mereka adalah sebaik-baik umat dan sebaik-baik masa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah jilid III hal. 406]

    Kata Ibnu Katsir :”Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ada yang terjadi secara tidak sengaja seperti Perang Jamal (antara Ali dengan ‘Aisyah) dan adapula yang terjadi berdasar ijtihad seperti Perang Shiffin (antara Ali dengan Mua’wiyah). Ijtihad terkadang benar dan terkadang salah, akan tetapi (bila salah) pelakunya akan diampuni Allah dan akan dapat ganjaran kendatipun ia salah. Adapun jika ia benar ia akan dapat dua ganjaran. Dalam hal ini Ali dan para shahabatnya lebih mendekati kepada kebenaran daripada Mu’awiyah mudah-mudahan Allah meridhai mereka semuanya (Ali, ‘Aisyah, Muawiyah dan para shahabat mereka)”.[Al-Ba'itsul Hatsits syarah Ikhtisar Ulumil hadits hal. 154]

    Meskipun perselisihan yang terjadi diantara para shahabat sempat membawa korban jiwa, yakni ada diantara mereka yang gugur, tetapi mereka segera bertaubat karena mereka adalah orang-orang yang selalu bertaubat kepada Allah dan Allah-pun menjanjikan taubat atas mereka. Allah berfirman.
    “Artinya : Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [At-Taubah : 102].

    Peperangan Jamal yang terjadi dikarenakan diprovokasi oleh orang-orang Khawarij. Ibunda Aisyah dan para sahabat lainnya datang, tujuan utamanya adalah untuk ishlah dan meluruskan segala kesalapahaman, dan bukan untuk perang! sangat jelas sekali… dan sudah menjadi kebiasaan para ahlul bid’ah seperti Khawarij untuk mengadu domba kaum muslimin.

    Perkataan Rasulullah tentang sahabat yang masuk surga adalah benar adanya. Rasulullah tidak pernah berdusta. Jika kita beriman kepada Rasulullah, maka sami’na wa ata’na. Kita yakini saja tidak usah terlalu banyak dipertanyakan. Karenanya seperti kejadian Isra’ Mi’raj pun bahkan Abu Bakar mengatakan bahwa dia akan tetap percaya walaupun kejadiannya lebih dahsyat atau tidak masuk akal daripada peristiwa Isra’ Mi’raj.

    Untuk masalah Ali bin Abi Thalib, silakan lihat di : http://hakekat.com/artikel/imam-maksum-bertaklid-buta-pada-umar-bin-khattab.html

    Wallahu’alam bishowab.

    Mohon maaf jika tidak bisa menjawab semua pertanyaan dengan maksimal. Banyak sekali pertanyaan yang masuk selain anda. Sedangkan yang menjawab hanya saya seorang.

  38. Dara Manis says:

    Lihat dibawah (copy-paste) dari tulisan diatas :
    Hadits ini merupakan dalil yang terang bahwa Solat Tarawih di masjid-masjid kaum Muslimin adalah SUNNAH (dianjurkan),

    Setelah selesai solat Subuh, Nabi Muhammad s.a.w. menghadap para sahabat, membaca syahadat dan kemudian bersabda: ‘Sesungguhnya aku bukannya tidak tahu bagaimana keadaan kamu malam tadi, akan tetapi aku khuatir kalau-kalau kamu menganggap bahawa hal ini (solat malam Ramadhan) diwajibkan atas kamu, maka kamu tidak mampu mengerjakannya.’

    mohon dijelaskan: suatu khawatiran yang sampaikan Rosul tetapi malah dianjurkan ..?

    bukan setiap bid’ah itu adalah dhalalah (sesat) dan setiap yang dhalalah ada dineraka..?

    afwan karena saya dalam rangka belajar mendalami agama islam.

    mohon Ustadz dapat menjelaskan.

  39. Dara Manis says:

    Terimakasih Pak Ustadz Rosyidi atas informasi.

  40. Dara Manis says:

    Terima kasih Pak Ustadz atas keterangannya, tapi maaf saya jadi ada pertanyaan :

    Rosyidi :Batasan waktu sahur :
    “Artinya : Dan makan minumlah sehingga terang kepadamu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” [Al-Baqarah : 187]
    *——*
    Mohon penjelasannya untuk batas imsak(batas tidak bolehnya makan dan minum-mulaiu berpuasa) apakah pada saat itu telah dapat dilihat beda antara iqal (tali) hitam dan putih?

    Kita lihat secara lengkap Al Quran Al-Baqarah 187 :
    “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu; karena itu Allah mengampuni kamu dan memberikan maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu , sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.”

    *———–*
    Sedangkan Ifthar adalah pada saat malam sudah datang (dalam Al Qur’an digunakan kata “ilal-lail” (“sampai malam”) yang artinya sampai masuk malam hari.

    Apakah yang dimaksudkan dengan “malam” pada QS. Al Baqarah [2]: 187 di atas?
    Hadist2 yang telah dikemukakan di atas menyamakan antara “malam” dengan “matahari telah tenggelam”.

    Para Ulama Ulumul Qur’an (Ahli Ilmu Al Qur’an) sepakat bahwa untuk menafsirkan suatu istilah dan makna yang terdapat di dalam suatu ayat tertentu pada Al Qur’an, pertama-tama harus dicarikan penjelasannya di dalam ayat-ayat Al Qur’an lainnya. Jika tidak ditemukan penjelasan termaksud pada ayat2 Al Qur’an lainnya, maka di carikan penjelasannya pada hadist2 yang diakui ke-sahihannya. Dan bilamana tidak ada penjelasannya pada Al Qur’an dan Hadist, maka barulah di carikan penjelasannya berdasarkan ijtihad ulama yang di akui otoritas dan kemampuan ilmu agamanya. Ijtihad beberapa ulama yang berisikan penjelasan/pendapat yang sama di sebut sebagai “Ijma Ulama”.

    Sehubungan dengan “malam” ini ternyata pada ayat2 Al Qur’an lainnya ada penjelasannya, yaitu

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.
    (QS. Al An’am [6] : 76)

    Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?, (yaitu) bintang yang cahayanya menembus,
    (QS. At Thaariq [86] : 1 s/d 3)

    Berdasarkan ayat-2 Al Qur’an di atas maka dapat diketahui bahwa yang dimaksudkan dengan “malam” pada QS. Al Baqarah [2] : 187 tentang saat ifthar, adalah pada saat langit telah gelap dan terlihat ada bintang.

    mohon penjelsannya kenapa waktu berbuka pada saat adzan dikumandangkan yang mana saat itu belum terlihat bintang.

  41. anggayasha says:

    Just looking around.
    Semoga Allah memberkahi ilmu antum. :)

  42. abdullah says:

    emang gk boleh ya mengamalkan doa selain yg diajarkan oleh Rasulullah SAW?
    trus gimana dengan doa2 yang diajarkan oleh ulama2 contohnya Al Imam Ghazali yang banyak mengajarkan doa2 yg bukan berasal dari Rasulullah?
    contohnya yg paling familiar adalah doa ketika duduk antara 2 sujud. dalam bacaan duduk antara 2 sujud terdapat kalimat tambahan dari Imam Ghazali yaitu “wa’fuanni”. (yg diajarkan Rasulullah: Robbighfirly warhamni wajburni warfa’ni wa’afinii)
    dan banyak lagi doa2 yg diajarkan oleh Imam Al Ghazali..

    Rosyidi :Sudah pernah ada pertanyaan serupa di komentar sebelumnya. Memang benar, ada dua pendapat terkait dalam bacaan do’a. Dan salah satunya menyatakan kita bisa membuat do’a sendiri. Tapi yg jadi masalah ini do’a mencontoh. Mencontoh yg dianggap ucapan Rasulullah. Jadi kenapa kita harus begitu gigih mempertahankan hadis Dhoif kalau ternyata ada hadis yg hasan atau bahkan sahih ???

  43. muhammad says:

    Assalamualaikum wr. wb.

    segala limpahan rahmat dan ampunan ALLAH semoga selalu tercurahkan dalam setiap detik2 kita.Amin
    Saudaraku yang dimuliakan ALLAH SWT.
    bila boleh ane sekedar memberi sedikit coment tentang tulisan antum , ana cuma mau mengingatkan bahwasanya ALLAH SWT telah berfirman yang kurang lebih “Berdo’alah kamu niscaya akan Ku kabulkan”. sehingga bukan lah sesuatu yang salah dan dosa bila kita senantiasa memohon kepada ALLAH baik dengan redaksi kita maupun redaksi para ulama atau para sahabat yang lain.
    karena rasulullah telah mengajarkan kepada kita janganlah kita meminta kepada selain ALLAH. maka dari itu mintalah kepada ALLAH dengan mengharapkan keridhoanya.
    ISLAM itu tidak mempersulit umatnya untuk berbicara dengan Robbnya, bahkan ALLAH lebih dekat dari urat nadi kita, artinya apa? jangankan terucap hanya terbesit dihati saja ALLAH Maha Mendengar dan Tau apa yang kita inginkan.
    demikian saudaraku yang dimuliakan ALLAH. Mohon maaf bila ada kata tak berkenan.

    Al-Faqir Muhammad bin yusuf

    Rosyidi :Wa’alaikumsalam.
    Maaf tolong untuk tidak menyingkat salam.
    bisa dibaca di : http://rosyidi.com/fatwa-larangan-penyingkatan-salam-dan-shalawat/
    Memang Islam tidak mempersulit umatnya dalam beribadah. Namun bukan berarti kita mejadikan perkara yang remeh.
    “Sholatlah kalian sebagaimana engkau melihat aku sholat.”

  44. Dara Manis says:

    To Pak Muhammad & Pak Abdullah.
    Alhamdulillah, saya rasa itu adalah pesan yang bijaksana..

    Salam.

  45. saya pernah baca ada buku berjudul “MENGAPA ORANG BARAT LEBIH MAJU DARI ORANG TIMUR” jawabannya antara lain adalah karna orang islam tidak berani aliat takut dengan perubahan. bahkan terlalu banyak melarang ini dan itu dengan alasan “berhati-hati”.

    Rosyidi :Lalu apakah anda ingin bebas seperti orang barat? Ya silakan, itu pilihan.
    Yang jelas umat muslim harus berpegangan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Itulah yang membedakan umat muslim dengan umat agama lain. Perubahanpun tidak asal perubahan. Perubahan itu ada dua, menuju kebaikan dan keburukan. Jika perubahan dalam masalah dunia Islam tidak pernah melarangnya. Tapi TIDAK untuk perubahan dalam masalah agama. Agama dari dulu hingga sekarang tidak boleh diubah-ubah peraturannya.
    wallahu’alam bishowab.

  46. SHOLAT DILIHAT DARI PERSPEKTIF KESEHATAN
    Oleh Bidan Evi Yuzana SKM dan M Ihsan Dacholfany M.Ed

    1. PENDAHULUAN.

    Sholat adalah Tiang agama, siapa yang melaksanakan sholat berarti ia menegakkan agama, demikian sabda Rasulullah saw. Begitulah pentingnya sholat yang menempati urutan kedua dalam rukun Islam.Walaupun sholat itu penting dan biaya serta waktu yang dibutuhkan sangat sedikit jika dibandingkan dengan ibadah dan kegiatan yang lain, tidak sedikit orang yang kurang rajin melaksanakannya dibandingkan dengan kegiatan lain yang justru lebih melelahkan dan menyita waktu. Sering kali kita ingin melakukan sesuatu hal tetapi tidak memahami permasalahan. Ataupun kita terbiasa melakukan sesuatu tetapi tidak atau kurang memahami sesuatu tersebut. Hingga yang terasa hanya sekedar melakukannya saja, tanpa ada nilai maupun manfaat yang kita peroleh. Contoh sederhana, misal kewajiban sholat juga shaum.

    2. GAMBARAN AKTIFITAS SHOLAT

    Informasi berikut ini, tentang manfaat sholat ditinjau dari aspek kesehatan, mudah-mudahan akan makin memotivasi dan memantapkan kita dalam melaksanakan ibadah sholat. Sebelum menjelaskan manfaat sholat, ada baiknya kita mencoba sedikit menggambarkan gerakan sholat yang kita lakukan sehari-hari..

    Untuk melakukan sholat diwajibkan dalam keadaan berwudhu, dan dianjurkan untuk memperbaharui wudhu-nya. Dengan air yang bersih, disunatkan untuk terlebih dulu mencuci kedua telapak tangan dan mencuci lubang hidung, baru kemudiaan membasuh muka, kemudian lengan bawah, mengusap rambut termasuk daun telinga, dan kaki. Semua dilakukan minimal sebanyak 3 kali.

    Setelah berwudhlu, dengan pakaian dan tempat yang bersih, sholat dimulai dengan gerakan takbir (mengucap kata Allahuakbar sambil mengangkat kedua telapak tangan sejajar dengan bahu), dilanjutkan dengan minimal membaca Al Fatihah. Kemudian takbir dan ruku, ketika ruku punggung diupayakan agar datar (tidak melengkung) dan membaca bacaan ruku minimal 3 kali. Selanjutnya I’tidal dalam posisi berdiri tegak kemudian takbir dan sujud, dan membaca bacaan sujud minimal 3 kali. Setelah itu duduk diantara dua sujud dengan paha berada di atas betis dan jempol kaki kanan dalam keadaan ditekuk dan membaca bacaan duduk diantara dua sujud. Kemudian sujud kembali seperti yang pertama dan dilanjutkan berdiri tegak kembali untuk rakaat kedua.Catatan penting, selama sholat berlangsung mata tidak dibenarkan melihat kemana-mana, harus tertuju ke arah sajadah. Dan minimal satu gerakan sholat satu tarikan napas.

    3. MANFAAT SHOLAT

    Kebersihan, pada waktu wudhlu terjadi pencucian permukaan tubuh yang pada umumnya terbuka dan mudah terkena debu yang sering mengandung bibit penyakit. Penelitian kimiawi membuktikan bahwa akan terjadi penurunan yang sangat besar kadar suatu zat jika dilakukan pembilasan minimal 3 kali.
    Pendinginan, dinginnya air wudhlu menurunkan suhu permukaan tubuh, terutama kepala (ketika mengusap air ke kepala) yang didalamnya terdapat otak, organ yang aktifitas sangat tinggi (walaupun ukurannya relatif kecil) jika dibandingkan organ tubuh yang lain.
    Stretching, peregangan otot untuk menghilangkan kekakuan otot sehingga kita menjadi lebih relaks, pergangan terjadi pada otot-otot, otot bahu yang tanpa disadari menjadi tegang jika kita berfikir. Peregangan terjadi ketika gerakan takbir dan ruku,
    otot punggung dan otot belakang tungkai, peregangan terjadi ketika ruku,
    otot paha depan dan otot betis, peregangan terjadi ketika duduk di antara dua sujud. Pada duduk ini selain peregangan otot betis juga dipijat, ditekan oleh paha. Catatan istirahat yang lebih baik setelah perjalanan jauh sebenarnya adalah lakukan seperti duduk di antara du sujud untuk beberapa saat baru kemudian berbaring.
    Pembilasan otak, ketika kita sujud, karena posisi jantung lebih tinggi dari kepala maka volume darah akan meningkat di dalam kepala. Hal ini berarti bertambahnya zat makanan yang masuk ke dalam otak dan bertambahnya jua sisa makanan yang keluar dari otak ketika kepala ditegakkan kembali.
    Relaksasi, mata yang hanya tertuju pada sajadah dan napas yang teratur serta bacaan-bacaan sholat membuat kita akan menjadi lebih relak, terlebih lagi dengan memahami makna bacaan sholat akan menambah keyakinan kita kepad Allah yang maha pengasih, yang maha penyayang, dsb serta yang mengabulkan doa orang-orang yang berdoa. Hal ini tentunya akan membuat kita menjadi lebih tenang lagi.
    Singkat kata, salah satu manfaat sholat adalah membuat kita menjadi lebih bersih, lebih segar dan lebih tenang. Manfaat ini hanya didapat jika sholat dilakukan dengan tenang, tidak buru-buru (tuma’ninah), sebagai perbandingan, stretching pada senam dilakukan minimal dalam 4 hitungan. Selain itu tentunya pemahaman makna bacaan-bacaan sholat.
    Dan jika kita membandingkan ritme kehidupan harian dengan waktu sholat, maka manfaat menyegarkan akan makin terasa. Kekakuan otot setelah diam dalam keadaan tidur dihilangkan dengan sholat subuh. Kelelahan setelah aktifitas menjelang siang akan berubah menjadi lebih segar setelah sholat dhuhur. Kemampuan tubuh yang semakin menurun setelah tengah hari disegarkan dengan dua sholat fardu, sholat ashar dan maghrib. Tubuh yang telah segar dan relaks setelah sholat isya akan lebih mudah tertidur.

    3. PENUTUP

    Pada beberapa ayat Al Qur’an serta riwayat Hadis, Allah swt dan Rasulullah saw menegaskan bahwa apapun ibadah dan kegiatan yang kita lakukan manfaatnya akan kembali kepada kita sendiri dan tidak akan menjadi penambah kemuliaan Allah. Dan Allah tidak mengalami kerugian sedikit-pun jika kita tidak melakukan yang diperintahkan Allah. Demikian juga dengan sholat, manfaat kebersihan, kesegaran dan ketenangan akan kita rasakan jika kita melakukan sholat dengan tuma’ninah (tenang), menjaga pandangan, serta membaca dan memahami bacaan-bacaan sholat, sholat dengan khusyu’. Semoga dengan makalah ini, kita semua dapat mengerti pentingya sholat bagi kesehatan sehingga kita selalu dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani.
    * Makalah ini disampaikan pada acara pesantren kilat dan I’tikaf Ramadhon di Pesantren Siswa Unggulan “ Marlina Bukhori ” pada tanggal 25 Oktober 2005. Oleh Bidan Evi Yuzana SKM dan M.Ihsan Dacholfany. M.Ed.

    [[dnc]][[dnc]]

  47. toreex says:

    :d ini bahasan yang tidak perlu dipaksakan saya kira.
    Sudah diprediksi sebelumnya oleh nabi bahwa akhir jaman, umat islam banyak tetapi seperti buih di lautan.

    Dan sudah diprediksi juga bahwa umat islam akan pecah menjadi 73 golongan. 4 madzhab yang terkenal itu juga adalah contoh legalitas perbedaan itu.

    Selama yang dianut Al Quran dan Hadits, yang disembah Allah WST, dan nabinya Rasulullah SAW, marilah kita sbg umat islam bersatu membuktikan kita adalah umat yang rahmatan lil alamiin..

    Tidak perlu sampai mulut berbusa2 dengan hal yang justru menjauhkan diri dari sifat2 Rasulullah yang mulia..

  48. Sam says:

    Assalamu’alaikum

    saya mau tanya, ada ato tidak batasan2 bid’ah?
    klo bid’ah itu sesuatu yang tidak diajarkan rosul, trus bagaimana dengan hal2 yang baru, apakah kesemuanya termasuk bid’ah?

    Rosyidi :Hanya masalah ibadah saja. Untuk masalah dunia tidak apa2. Karena ibadah itu pada dasarnya haram keculai yg diperintahkan. Jadi kita tidak boleh menambah2i tuntunan Ibadah yg sudah disusun sempurna oleh Rasulullah.

    Wallahua’lam bishowab.

  49. Sobar says:

    Kalau menurut saya yg awam, tidak ada bid’ah u/ do’a..karena kita di perbolehkan u/ berdo’a apa saja yg baik2x sesuai dengan keperluan/permintaan/keinginan kita thdp Allah. Mengenai mengikuti hadist dho’if dlm berdo’a, jangan kan mengikuti hadist dho’if, mengikuti do’a nya sesorang yg bukan siapa2x selama kita anggap do’a itu bagus bisa kita ikuti..

    Wallohu’alam bissawab

    Rosyidi :Memang tidak ada masalah perbedaan lafal dalam berdo’a, yg menjadi masalah hanya mengatakan do’a itu sesuai lafal Rasulullah.

  50. tedi santoso says:

    Setuju, berdoa bisa sesuai keinginan kita, tetapi doa yang mana dulu? seperti yasinan dan tahlil 3 hari, 7 hari, 40 hari, 1 tahun itu menurut saya benar2 termasuk bid’ah karena kebanyakan orang jawa hal tesebut dianggap sebagai upacara slametan ( biar selamat ), banyak rumor di desa-desa / orang kolot mereka percaya kalau tidak di slameti/ tahlil arwah akan penasaran, jadi pocong dll, hal tsb sangat tidak masuk akal, bayangkan aja di arab gak ada yg namanya tahlilan, atau negara lain, selain bid’ah yang jelas termasuk tindakan sesat, tahlilan juga termasuk perbuatan bodoh, budaya yang tidak jelas asal usulnya, tidak pernah diajarkan nabi, sahabat nabi, dan ulama, itu adalah tinggalan budaya animisme jaman nenek moyang, akankah kita kembali ke jaman purba hahahaha….

  51. daniel rudolf andri julius says:

    minta torong doakan usaha warnet supaya berkebang dan majuh dukung doa supaya untung besar $19juta &bisaha beri pinter,barang di tukar kebari dengan cepat

    kita bareng torak untuk usaha warnetsupaya untung ,bajak jabang dimana saja

    1 saya torak rugi
    2saya torak bang kurut
    3saya torak mengebara
    4saya torak tidak dapat untung
    5saya torak kerusakan
    6saya torak resesi ekonomi
    7supa saya diberkatin 1000 kali gada kita generasi biyamin,kita juga generasi mijak dan agur kita saring mendoakan masala saya ini supaya berasir pujah ruma dibumi&di sorga. terimakasi dukung doa sayaini baras dengan jeras supaya saya merasakan mujizat setiap hari.

  52. Deddy sukmana says:

    Asslamualaikum wr wb, saya mau nanya ustad, bagaimana dengan masalah jiarah ke makam2 para wali, sedangkan yang di jiarahi itu walinya gak pernah menjalankan ibadah wajib, baik itu puasa atau pun sholat, apakah itu juga termasuk bid’ah, karena di jaman sekarang banyak orang yang beranggapan kalau menjiarahi kubur para wali akan mendapat barokah serta kemudahan rezqi, mohon penjelasannya, kirim ke emeil saya langsung, makasih ustad rosyidi

  53. Deddy sukmana says:

    Ralat, sebelumnya mohon maaf ustad, pada posting yang pertama ucapan salamnya saya singkat, mohon maaf karena saya belum tahu masalah itu, salam

  54. bos says:

    Bos, ngapain bingung sama sejarah-2 itu dimana anda sendiri tidak hidup dimasa itu, dan anda pun tahunya dari ustad senior anda yg anda percayai.

    apapun doanya, yang penting itu niatnya.

    islam itu simpel dan indah.

    harap jangan dibuat susah.

    persepsi yang tertancap selama ini harap disinkronkan ke kehidupan kita.

    menurut saya : “Ya tuhan, saya niat untuk berbuka puasa” itu pun sudah cukup.
    Tuhan itu Maha Mendengar

    lihat komen mereka, banyak yg ngga paham dgn tulisan anda.

    salam,
    bos

  55. jm says:

    en.rashidi, mmg anda akan terasa hebat dan bagus krn anda belajar dan mengkaji. tp sebenarnya anda telah tersesat dan menyesatkan tanpa anda sedar. anda telah terikut-ikut apa yang syaitan bisikan tanpa anda tahu. berhentilah daripada meimbulkan konflik di dalam masyarakat awam. anda berilmu, tapi malang anda tidak tahu memilih isu untuk diketengahkan… kalau anda ikhlas, jadi orang yang lebih terbuka, menerima, dan menyelesaikan, bukan merumitkan. fahami betul2 srategi syaitan…

  56. fitria d says:

    Asslmlkm a
    Jadi yg allahumma laka sumtu ndak dipakai kn seharusnya?
    trus, antum pk yg Hadits nya hasan itu(mendingan kn)?
    Trus,ini sumber nya drmana saja ya?
    mhn maaf dan trimakasih

    btw belajar ilmu agama nya gmn?biar byk pengetahuan

  57. Niz-r says:

    @Bos : anda tidak memahami apa yang disampaikan oleh mas rosyidi sebaiknya dibaca dan dipahami apa yang ditulis, apakah yang mas rosyidi beritahukan itu membuat kita susah, justru dengan menambah2 itu yang buat kita susah dan menjadi islam itu tidak simpel. :)

    @jm : maaf saudara jm saya tidak sependapat apa yang anda katakan, karna maksud dari mas rosyidi adalah menyampaikan apa yang seharusnya umat islam indonesia perlu ketahui mana yang dhoif & bid’ah mana yang tidak, sebaiknya anda membaca lagi dan memahami apa yang dimaksud oleh mas rosyidi.

    @ mas rosyidi : terkadang menyampaikan kebenaran itu terasa sulit.

  58. Anonymous says:

    ANJING KAMU SEMUA

  59. bagja says:

    Saya rasa bagi orang-orang yang awam akan langsung menerima akan hal-hal perbedaan ini tapi sebaiknnya kita harus benar benar bertannya kepada para ulama/ahli kitab supaya kita tidak ragu untuk melaksanakannya, semoga kita semua ada dijalanNYaAmin

  60. shafwa says:

    untuk mas rosyidi :
    terus berjuang jangan menyerah, memang tidak mudah untuk menegakkan kebenaran, pasti ada saja yang ga suka…….
    sejak kapan perbedaan itu menjadi rahmat, sejak kapan perang melawan hawa nafsu adalah perang yang paling berat/besar dan mengalahkan perang badr……….???
    kita diberi akal untuk berfikir, yuk sama2 kita mengaji dan mengkaji.
    bila perbedaan itu rahmat kenapa juga antum shalat wajib nya mesti 5 x sehari, mbok ya 10 kali, kan biar melebihi Rasul, sekalian aja puasa tiap hari, biar melebihi Rasul, silahkan aja ga usah menikah supaya bisa fokus beribadah dan melebihi Rasul……… hehehehe…. mimpi kali ya

    siapa kah manusia yang paling mulia ?
    siapakah manusia yang terbebas dari hawa nafsunya ?
    siapakah manusia yang senantiasa mendapat petunjuk dari Allah ?
    siapakah manusia yang paling dicintai Allah ?
    siapakah manusia yang tau jalannya masuk syurga ?

    nah klo tau jawabannya, alhamdulillah

    trus klo memang seperti itu trus kenapa juga kita bersandar pada selain Beliau……???
    ngapain juga kita beribadah selain yang diajarkan oleh Beliau….???

    kita hidup buat apa sih ???
    buat mencapai ridha nya Allah bukan..??
    nah contoh manusia yang mendapat ridha nya Allah siapa..??
    ya sudah ikutilah Beliau, Rasulullah………

    pada percaya ga sih klo Rasul itu sayang banget sama umatnya….???
    pernah dengar kan hadist tentang ketika sakratul maut nya Rasul……..???
    Rasul minta supaya sakitnya saat sakratul maut itu supaya dilimpahkan kepadanya, Rasul minta supaya jangan sampai umatnya merasakan sakitnya sakratul maut……..

    jadi, tak ada satu ibadah pun yang tidak diajarkan oleh Rasul.
    tinggal kita nya aja yang mo belajar ato tidak.

    menghindari konflik bukanlah alasan untuk tidak mengajarkan kebenaran………
    lucu banget kan klo make alesan itu………
    sejak kapan para Nabi Allah selalu mulus dalam berda’wah…..???
    bahkan ada Rasul yang berseberangan dengan orang tuanya, ada pula Rasul yang berseberangan dengan anaknya………..
    namun, kebenaran adalah kebenaran…………
    ya jadinya kaya bangsa ini, untuk menghindari konflik tingkat elit, sudah kasus century ga usah dilanjutkan……….. kasus anggodo ga usah diteruson, gayus bebaskan saja……….
    ribet klo gini ceritanya……….

    makanya beribadah pakai ilmu, krn sebagai muslim kita wajib mencari ilmu, terutama ilmu agama…….. awamnya jangan kelamaan, ketika ada yang menyampaikan sesuatu jangan langsung su’udzon………. denger dulu, pikir dulu, cerna dulu, ga puas ya nanya ato komen, tapi ya ndak perlu menghujat lah…………

    berdoa dengan bahasa apa saja, insyaAllah Allah faham kok, jangan kan bahasa manusia bahasa semut pun Allah tau, bahkan Allah juga mendengar bumi dan jagat raya ini bertasbih kok.
    nah tinggal kitanya yang waras, puter otak dikit, pengen pahala ato tidak, pengen disayang Allah ato tidak, pengen masuk syurga apa tidak……??? yuk belajar ilmu nya Allah melalui apa2 yang diajarkan Rasulullah, pelan2 aja, yang penting sungguh2.

    ralat :
    “trus kenapa juga kita bersandar selain kepada Beliau”
    bersandar maksunya : mencontoh

    mohon maaf lahir batin

  61. shafwa says:

    sekedar tambahan :

    Al Qur’an
    “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu di antara kalian”
    (QS. Al-Mujadalah: 11)

    tidak hanya beriman tapi BERILMU……….. jadi klo beragama dan beribadah ga sembarangan lagi ya……. itu dari Qur’an loh……….

  62. novi says:

    hahaha………..
    sbenernya yg doif tu orang yg mengatakan hadits ini, itu dhoif………….
    biasa orang yg jauh dari cahaya Allah, bisanya cuma bilang dhoif,dhoif n dhoif……….dasar manusia munafik kali

  63. rian says:

    Apakah doa berbuka puasa itu lebih tepatnya untuk doa setelah berbuka puasa,karena kalo di lihat dari artinya = telah hilanglah dahaga,telah basahlah kerongkongan dst, padahal kan saat kita membaca doa itu kita belum makan dan minum…

    bagaimana mas?.

  64. abdullah says:

    Asslamualaikum

    Hadits riwayat ibnu umar diatas tentang doa tsb secara eksplisit kalo dipahami maknanya maka doa ini bisa jadi dilakukan setelah berbuka hal ini dikuatkan lagi dengan pernyataan ibnu umar: ” Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan…” jadi terlihat bahwa tidak disebutkan apakah doa tersebut diucapkan sebelum membatalkan puasa atau setelahnya.

  65. budhy says:

    dari tadi dhoif mulu yang aku baca, trus ga usah baca apa2 donk…
    atau yg ga dhoif nya cari sendiri ya????
    iya dech tak cari aja…
    kalau salah situ menanggung dosanya……………….

Tulis Opini Anda

Ceritakan semua opini anda tentang artikel ini...
Jika ingin menampilkan foto pada kolom komentar, silakan daftarkan email anda ke : gravatar!

<< Harus diisi dengan angka 3