Ketika berbuka puasa, TV dan Radio ramai2 mengumandangkan Adzan Magrib. Dan diikuti oleh do’a buka puasa :
Bismillahi allahumma laka shumtu, wa ’ala rizkika afthartu.”
Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka
(Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).
Bunyi hadis lengkapnya adalah : “Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi SAW : Apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu ( artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).” (Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).
Dan berbagai macam bacaan semisalnya. Karena memang banyak hadis serupa yg lafadznya berbeda2. Tapi anehnya bahkan sampai ada sebuah stasiun TV yang melagukannya.
Perlu kita ketahui, bahwa hadis diatas itu dhoif / lemah, karena :
Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah.
Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.
Kata Imam Ibnu ’Ady : Ia menceritakan hadith-hadith yang tidak boleh diturut.
Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !
Abdul Hakim bin Amir Abdat : Dia inilah yang meriwayatkan hadith lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).
Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.
Kata Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.
Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
Kata Imam Ibnu ’Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)
Abdul Hakim bin Amir Abdat : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di Risalah Puasa tapi beliau diam tentang derajad hadith ini ?
Hadis serupa lainnya :
“Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa ’Alaa Rizqika Aftartu.”
(Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni) Lafadz dan arti bacaan di hadith ini sama dengan riwayat/hadith yang pertama kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)
Dalam hadits ini ada ’illat, yaitu ketidak-jelasan identitas Muaz.
“MURSAL, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam. (hadis Mursal adalah : seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam, tanpa perantara shahabat).
Ibnu Hajar mengatakan hadits ini maqbul bila ada ikutannya, bila tidak maka hadits ini lemah sanadnya dan mursal. Hadits mursal menurut pendapat yang rajih dari mazhab As-Syafi’i dan Ahmad tidak bisa dijadikan hujjah. Ini berbeda dengan metodologi Imam Malik yang sebaliknya dalam masalah hadits mursal.
“Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang MAJHUL. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya”.
Masih banyak hadis2 yang serupa namun berbeda lafadz, seperti misalnya :
- “Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ’Alim (maksudnya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).
(Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ’Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir). - Allahumma laka shumna, wa ’ala rizkika aftharna, Allahumma taqabbal minna innaka antas samiul-alim.
- dll.
Dan semua hadis itu dhoif. Jika ingin lebih detailnya lihat di rubrik tanya jawab di eramuslim.
Doa Berbuka Puasa yang Lain
“Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : dzahabazh zhaama-u wabtallatil ’uruqu wa tsabatal ajru insya Allah. ( artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).
(riwayat : Abu Dawud No. 2357, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra 2/255, Ad-Daruquthni 2/185, Al-Baihaqi, 4/239)
Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadith ini HASAN. (Hakim 1/422 Baihaqy 4/239)
Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Daruquthni.
Abdul Hakim bin Amir Abdat berpandangan : Rawi-rawi dalam sanad hadith ini semuanya kepercayaan (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau dikatakan hadith ini HASAN.
Fatwa asy-Syaikh Yahya ibn Ali al-Hajuri menyatakan bahwa hadis tersebut DHOIF.
Banyak ulama yang berpegangan pada hadis ini karena telah dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani. Namun saya tidak tahu apa alasan Syeikh Yahya ibn Ali Al-Hajuri mendhoifkannya. Mungkin karena sama seperti alasan Abdul Hakim bin Amir Abdat, yaitu mempermasalahkan Husain bin Waaqid. Namun saya belum menemukan keterangan yang lebih rinci soal ini. Wa’allahua’alm bishowab.
Kita masih bisa menggunakan do’a riwayat Abu Dawud tersebut, karena banyak ulama yang menghasankannya. Adapun satu ulama yang mendhoifkannya, belum kita ketahui alasannya secara jelas. Namun untuk kehati2an, saya pribadi lebih memilih mencukupkan dengan menggunakan do’a makan dan minum.
Do’a Makan yang Dhoif :
Namun hati2 juga terhadap do’a makan. Karena do’a makan yang beredar di kebanyakan masyarakat juga DHOIF.
“Dari Abdullah bin Amr, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau biasa mengucapkan apabila didekatkan makanan kepada mereka: Allahumma baarik lana fimaa raazaqtana wa qina ‘adzabannar. Kemudian beliau mengucapkan bismillah. Dan ketika telah selesai beliau mengucapkan: Alhamdulillahilladzi ath’amana wa saqana fa arwana wa kullul ihsan ataana (segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada kami dan menunjuki kami. Dan segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami sampai kami puas dan segala kebaikan yang telah datang kepada kami).”
Hadis tersebut SANGAT DHOIF.
Telah diriwayatkan oleh imam Ibnu Sunniy di kitabnya amalul yaum wal lailah (no 450 & 467) dan
Imam Ibnu Adiy di kitabnya Al Kaamil (7/427),
dari jalan Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ah, dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya (yaitu Abdullah bin Amr seperti diatas).
Abdul Hakim bin Amir Abdat berkata: Sanad hadits ini sangat dho’if, karena Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ah, telah berkata Imam Bukhori dan Imam Abu Hatim tentangnya,”Mungkarul hadits jiddan (sangat munkarul hadist).”
Demikian diterangkan oleh Imam Dzahabi di Mizan-nya (3/548-549) dan Al Hafizh Ibnu Hajar dikitabnya Lasaanul Mizan (5/165-166) dan Imam Al’Uqailiy di kitabnya Adh Dhu’afaa’ (4/67-68)
Kata Imam Ibnu Adi: Kebanyakan apa (hadith) yang diriwayatkannya tidak boleh diikuti (yakni hadithnya tidak boleh menguatkan hadith yang lain).
Kata Imam Ibnu Hibban: Tidak halal berhujah dengannya.
Kata Imam Abu Hatim: Ia seorang yang sangat mungkar hadithnya.
Doa Makan yang Benar
Berdasarkan dalil yang sahih, do’a makan adalah :
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :
“Apabila seseorang di antara kamu memakan makanan, hendaklah membaca:
“bismillah”
Apabila lupa pada permulaannya, hendaklah membaca:
“Bismillahi fii awwalihi wa akhirihi”
(HR. Abu Dawud 3/347, At-Tirmidzi 4/288, dan lihat kitab Shahih At-Tirmidzi 2/167)
Tidak Boleh Mengamalkan Hadis Dhoif
Imam Ibnu Hibban berkata dalam shahihnya halaman 27 tentang bab :“Wajibnya masuk neraka bagi seseorang yang menyandarkan sesuatu ucapan kepada Nabi, sedangkan ia tidak mengetahui kebenarannya”. Kemudian ia menukil dengan sanadnya dari Abu Hurairah secara marfu’ :“Barang siapa berkata atasku apa yang tidak aku katakan,maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka”. Sanad hadits ini hasan, dan asalnya dalam shahih Bukhari dan Muslim. Maka jelaslah dengan apa yang disebutkan (diatas), bahwa tidak diperbolehkan menyebarkan hadits-hadits dan riwayat-riwayatnya tanpa tasabbut (mencari informasi tentang kebenarannya).
“Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap dusta, maka dia termasuk pendusta.”(HR. Muslim)
Sebagian besar para muhaqiq (peneliti hadits) berpendapat bahwa hadits dlaif tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaan-keutamaan.
Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam Qawaid At-Tahdits hal. 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut (yakni hadits dlaif tidak diamalkan secara mutlak, pent) diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam ’Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma’in dan dalam Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakar bin Al-Arabi. Pendapat itu juga merupakan pendapat Bukhari, Muslim dan Ibnu Hazm.
Penulis :
Agam Rosyidi
URL :
http://rosyidi.com
Referensi :
http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6a11121331-doa-buka-puasa-iallahumma-laka-shumtu…i-bukan-hadits-shahih.htm
http://thejargon.multiply.com/journal/item/100/Doa_Buka_Puasa_Yang_Benar.
http://myislam.blogspot.com/2005/08/hadist-popular-yang-palsu-pada-bulan.html
http://ahlussunnah.web.id/audio/index.php?id=177
Hadits-Hadits Dho’if dan Maudhu’ ,oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, penerbit Darul Qolam
http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/577
http://masjid.phpbb24.com/viewtopic.php?t=360&start=0
http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=30
Related Posts
32 Comments to “Doa Buka Puasa Ternyata Dhoif”
Leave a Reply
Jika ingin berlangganan artikel2 terbaru dari rosyidi.com klik disini


October 1st, 2007 at 12:20
glad u comeback!!
Postingan yg bagus, Gam!! tp klo boleh kritik sedikit, terkadang ada ustadz atau ulama mengajarkan doa2 atau dzikir yg emang gak diajarkan Rasulullah, tp ketika kita melihat artinya, mengajarkan kita utk ikhlas dan hal2 baek lainnya.Apa ini salah?
Contohnya, ada tahlilan yg mengajarkan kita utk selalu mengingat Allah dan berzikir selalu.Atau do’a buka puasa yg k-mu sebutin diatas.Maknanya kan agar kita selalu bersyukur atas rezeki Allah dan mengingat-Nya.
Kalo aku pribadi, tetep berhati-hati tetapi tidak jg men-dhoif-kan atau mem-bid’ah-kan sesuatu.
Last but not least,
Keep posting, Bro!!
October 1st, 2007 at 12:48
rawi lengkapnya mana?
Kata ustadz ( temen kerja ) , saya pernah nanya soal hadith yang salah satu rawinya lemah apakah itu termasuk dhoif dll, dan beliau berkata : menjadi maqbul jika ada ikutannya, jika tidak lemah …
Nah … sepertinya ikutan ( hadith senada ) juga gak ada ya?
Dari situ ada pertanyaan ?
“apakah sah , jika kita berbuka dengan mempergunakan doa seperti itu ( Allahumma laka sumtu.. ) ?
” apakah berkurang pahala, dan berkah buka jika berdoa dengan hadist dhoif? ”
Hadist nya mungkin memang dhoif (maap bukan ahli hadist , mohon petunjuknya
) tapi saya rasa berdoa dengan itu bukan dosa kan? ( doanya kan gak mengajak untuk menyalahi syara’
CMIIW
October 1st, 2007 at 12:51
hhhhh pelupa aye .. maap kome diatas ditulis ada yang kelewat membacanya.
October 1st, 2007 at 13:06
Kalau berdo’anya itu sebagai bentuk syukur telah menunaikan ibadah puasa sehari penuh, namun dalam bahasa yang lebih personal gimana?
October 2nd, 2007 at 9:42
udah aktif lagi ya gam?…welkam bek
October 2nd, 2007 at 14:03
Kalo menurut saya nih, itu kan do’a. Bukankah doa itu bebas asal baik doanya. kalo saya mau memohon ingin sesuatu, apa harus cari dalil do’anya dulu?

October 2nd, 2007 at 20:12
Banyak refrensinya,mas. Salah satu usaha hati-hati dalam ibadah. Kenapa orang pake do’a ini? Karena do’a tersebut do’a yang populer dan banyak diajarkan di sekolah. Kalau saya pribadi, berdo’a dengan bahasa apa saja, yang penting do’a yang baik. Seringkali, cukup bismillah dan alhamdulillah. Meskipun kadang2 lupa
October 3rd, 2007 at 10:10
Rangkuman yang bagus …..
October 4th, 2007 at 8:29
caape’ dech!

October 4th, 2007 at 8:39
jadi meskipun untuk fadhoilul a’mal dan sekedar ‘pelajaran’ juga kgak boleh yach?! mengajarkan do’akan juga mengajarkan esensi dari do’a tersebut mas, dan itu lebih penting daripada lafadz semata. tentu saja, (sebagaimana yang antum tulis) tidak menyandarkan itu kepada Rasulullah saw. nah kalo gak bisa bahasa arab, terus pake niat aja gimana? apa itu juga gak boleh?! tapi however, ana setuju dengan pendapat ulama hadist tentang dho’idnya hadis2 di atas… saya tidak lantas menentang dan mengatakan sohih loh?!!
afwan, yang paragraf ini :
menurut ana kok terjemahnya agak mbulet ya?
October 4th, 2007 at 8:55
gmn dg org yg awam, yg blm mengetahui dan paham kl itu dhoif?
mmg sudah seharusnya berhati2 terhadap amalan, begitupun aku. namun bila semua/setiap amalan harus dicari satu2 hukumnya dhoif ato ahsan, kesannya islam itu memberatkan. sedangkan kesempatan yang (mgkn) ada adalah mendapatkan ajaran itu dr sekolah, artinya kita sebagai makmum yang mengikuti imamnya. kl ternyata itu ada kesalahan, apakah semua itu dibebankan pd makmum? wallahua’lam
October 4th, 2007 at 11:53
aduh terlalu berat, ilmu sayah belum cukup
oya, yang do’a dilagukan itu ya, sempat juga jadi bahan perdebatan di keluarga ketika sahur. tapi ya wallahualam
October 4th, 2007 at 18:24
Wah.. ane baru tahu hal ini.
October 4th, 2007 at 22:08
yah itulah manfaatnya belajar dan membaca, jadi tahu banyak hal…nice article nanti saya pelajari lagi…btw kok linknya diganti agam? dan apakabar nih?
October 5th, 2007 at 5:29
sudah lama tahu soal ini, hehe…
soal bid’ah hasanah (bid’ah yang dianggap baik), sebenarnya tidak ada. karena kalau kita menganggap suatu bid’ah sebagai suatu kebaikan, seperti yang dibilang Thoim the Shinigami, sama saja kita menganggap Rasulullah telah berkhianat atas risalahnya. Bukankah disebutkan bahwa apa yang disampaikan Rasulullah sudah sempurna dan lengkap (Al Maidah ayat 23 kalo gak salah, yang “al yauma akmamtu lakum dinakum, wa atmamtu alaikum islama dinaa).
Kalau semua kebaikan sudah disampaikan oleh Rasul, bagaimana ada “kebaikan-kebaikan” lainnya?
October 5th, 2007 at 5:30
@Lady, ya itulah pentingnya menuntut ilmu (Thalibul ilmi)…jangan mengira-ngira.
October 5th, 2007 at 11:16
@firman firdaus, @agam:
makasih replynya. alhamdulillah saya sendiri bisa diberi ‘kesempatan’ untuk mencari ilmu dien, insyaallah apa yg saya lakukan dalam hal ibadah bukan atas dasar mengira2.
yang saya sampaikan di atas itu jika di ‘luar sana’ yg blm/tdk mendapat kesempatan spt kita. jdnya mereka hanya mengandalkan apa kata guru/ustad/kyai yang mereka percayai. wallahua’lam.
October 6th, 2007 at 13:27
good!!
terus kibarkan sunnah dan cerdaskan ummat dengan sunnah yg sohih…
October 7th, 2007 at 8:20
terimakasih reviewnya…
October 7th, 2007 at 12:56
huhuhu.,
klo aLe jarang (banget) pakai doa itu.,
October 7th, 2007 at 21:00
eeeto. jujur aja nisa kaget baca artikel ini. berarti selama belasan tahun ini nisa doa sebelum makannya salah donk. soalnya ya nisa selalu baca doa yang divonis dhoif itu. O_O. weq. jadi intinya kalau sebelum makan cuma baca: bismillah doang? gak ada tambahan lagi???
trus….. tentang doa buka puasa yang bener jadinya gimana dunk?
October 8th, 2007 at 12:11
Sikap berhati-hati dalam mengamalkan ibadah sangat diperlukan agar kita selamat daripada bid’ah dan mau belajar adalah jalan terbaik. terimakasih sharingnya mas.
October 9th, 2007 at 8:58
lhoh
bismillahirahmanirahim jg bukan?
jadi cuma bismillah aja ya.
secara terasa lebih simple dan mudah dihafal deh..
ohya,
pdhl kopdar kmrn hrs ada laporan,
kok aLe g bs buka bLog sndiri ya,
semacam boikot gt deh.
jd blm apdet2
pernah ngalamin yg bgini jg gak
October 12th, 2007 at 8:02
Wallahi, selama ini ga pernah gagas, ga pernah bahas. Istriku, guru TK bahkan ngajarkan tuh du’a-2.
Hmm.. gimana yah. Aku pernah 3 th kerja di kementrian kes Saudi Arabia. Tnyata banyak yang dhoif-2 yg justru di Indon tuh di blow up. mulai dari du’a sampe niat. Perayaan-2, di sana cuman ada 2. ied al Adha ama Fitr. Disini kelahiran Rasulullah SAW di ultahin. blon laennya lagi.
Cape deh
October 12th, 2007 at 16:03
Wah kalau begitu bagaimana amalan yang kita lakukan selama ini ya mas? Tolong juga mas aku dikasih tahu referensi (buku) yang bisa jadi pegangan tapi jangan ada yang dhoif atau bid ‘ah ntar jadi bingung lagi,teng kiu ya
October 14th, 2007 at 5:25
makasih banyak mas,sekalian mau ngucapin minal aizin walfaidzin………,thank’s berat
November 10th, 2007 at 20:30
iya bener, wah baru liat penjelasan lengkapnya disini. dimentoring juga pernah dikasitau doa itu hadis nya lemah. Trus ada doa yang emang disunahkan nabi ketika berbuka puasa, dibacanya setelah kita minum, tapi lupa euy doanya gimana.
kalo kata gue sih berdoa dengan bahasa arab yang tidak pernah disunahkan boleh boleh aja, kan orang arab juga kalo doa pake bahasa arab. tapi kayaknya jadi bid’ah kalo kita jadi mengharus haruskan amal /tersebut. Kalo tahlilan sebatas untuk silaturahmi dan memanjatkan doa sih gapapa, tapi kalo udah diharus haruskan, itu kayaknya jadi bid’ah
jadi lebih baik amal2 yang dibuat2 menjadi ritual ibadah itu ditinggalkan saja, karena berpotensi menjadi bid’ah. biasanya sih orang suka ngikut2 tindakan orang lain yang dianggap bagus, lalu lama lama dianggapnya jadi ibadah.
November 17th, 2007 at 16:41
subhanalah,kok baru tau skrang sih.trus knapa smpai skrang masih dipakai.
lalu knpa beliau2 ulama membiarkan begitu saja.
makasih atas infonya
November 18th, 2007 at 12:14
thx untuk info-nya…
maaf kalo commentnya panjang nih…
kalo boleh menanggapi ttg masalah doa rutinitas keseharian kita [bukan doa2 dlm sholat ya..] misalnya sebelum makan,sbb:
1. sepertinya memang sudah jadi kebiasaan kita berdoa seperti itu, tapi, kan biasanya tetap di dahului oleh bacaan basmalah baru doa tsb. Bukankah itu sudah menutupi syarat doa yg sesuai hadist?
2.masalah “Allahumma baariklana fimaa razaqtana waqina ‘adzabannar”.
menurut saya amatlah baik kok artinya,bukan kata2 yg membawa kesyirik/pengkultusan seseorang, semisal kita pernah mendengar doa2 membawa nama2 syeik dll…
bukankah Allah itu Maha Universal?Dia Maha mendengar doa dgn berbagai bahasa di jagad ini,dan Seluruh makhluk boleh berdoa dgn berbagai bahasanya,bukankah begitu?
apa anda semua berdoa selalu dgn bahasa arab?ga kan?berarti selama ini kita juga ga diterima dong doanya kalo ga pakai bahasa arab,atau memunajatkan doa yg ga sama persis dgn doa2 yg lazim dibaca [misalnya hanya pakai kata2 indonesia saja] ?
ambil contoh, setiap saya selesai makan, saya berdoa: Alhamdulillah,terima kasih ya Allah atas makanan ini…
kalau inipun memang ga ada dicontohkan oleh Rasulullah[baca:ga sama persis],berarti doa terima kasih saya ga diterima dong?
Jadi menurut saya hal ini jgn terlalu membuat kita jadi berfikiran kerdil, karena hakikat doa itu hanya Allahlah yg menerima tidaknya,karena doa hanyalah media, yg bisa dgn berbagai cara dan ekspresi…
mengenai hadist dhoif, menurut saya lebih tepat ke hal2 yg lebih ‘rituil’ seperti bgmn tatacara sholat,puasa, bersuci,dll.
wallahu sallam bishowwab
terimakasih
wassalam
tw
November 19th, 2007 at 9:10
Hmm.. gimana ya
lepas dari perdebatan atau apapun ini sebutannya.
Pengalaman saya tinggal dan bergaul dikalangan masyarakat saudi arabia menunjukkan bahwa hidup ini begitu sederhana.
Corong mesjid hanya untuk adzan, tidak untuk belajar ngaji keras-keras. Makan cukup baca basmallah. Pimpin memimpin doa cuma ada pada shalat Jumat. Upacara-upacara spt slametan, tahlilan, 40 harian, isra’ mi’raj, miladz nabi, tidak ada. Things work so simple.
Tapi kalau sudah urusan kerenggangan shof wkt shalat dan urusan ibadah lain mereka sangat tertib.
Kalo udah doa tambahan mungkin jadi masalah preferensi personal masing-masing kepada Allah barangkali ya.
Life is so easy there, suppose to be here also, I think..
November 19th, 2007 at 12:23
setuju bung catoer,
agama itu memang untuk dipraktekkan, bukan untuk diperdebatkan…
karena hakikatnya hanya untuk Allah semata…
maksud saya bukan untuk berdebat or lainnya,
so,marilah kita menjadi orang beragama yg berwawasan,
maka kita pun akan mengerti bahwa agama itu memang simple namun jangan di simple-simple-in
thx
Wallahu ‘alam bishowab
tw
December 7th, 2007 at 11:10
mohon doa dari sunnah yang sahih, karena ana ingin mengamalkan hadist yang sohih aja, nggak ingin yang daif wassalam .