DemonStressy
Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan tayangan DemoCrazy di MetroTV. Sebuah acara parodi terhadap lembaga legislatif. MetroTV memlesetkan istilah Demokrasi yang sepertinya tidak sesuai dengan realita dilapangan.
Sebenarnya istilah democrazy sudah muncul sejak lama dari Barat. Bahkan istilah ini digunakan dalam sebuah album musik yang dikeluarkan oleh Damon Albarn di Inggris sejak tahun 2003.
Dampak dari demokrasi tentu saja adalah Demonstrasi (Demonstration) yang berasal dari bahasa latin yaitu demonstrationem yang berarti mempertunjukkan (show).
Dalam bahasa Indonesia lebih kita lebih sering menyebutnya demo, merupakan singkatan dari demonstrasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia demonstrasi adalah pernyataan protes yang dikemukakan secara massal atau unjuk rasa.
Namun seiring perkembangannya, demonstrasi bukan cuma pernyataan protes. Lebih dari itu tampaknya demonstrasi bisa dikatakan luapan emosi atas ketidakpuasan dengan sesuatu, dan sering kali berakhir ricuh. Jadi pantas kiranya jika diplesetkan menjadi DemonStressy.
Berasal dari dua suku kata yaitu :
Demon : Setan
Stress : Tegang
Karena para pendemo kebanyakan sudah menjadi “setan” yang membuat menjadi tegang. Bukan cuma di Indonesia, namun juga diluar negeri tidak sedikit demonstrasi yang berakhir kericuhan. Oleh sebab itu tak heran jika Orde Baru melarangnya, dan itu tidak hanya dilakukan Indonesia, pemerintahan Togo pun dulu melakukan hal yang sama.
Demonstrasi sering berakhir dengan kericuhan, perusakan, dan kekerasan. Selain itu demonstrasi juga menyisakan dampak negatif pada masyarakat sekitar.
Miris rasanya akhir-akhir ini melihat
“MAHA“siswa berdemo merusak kampusnya sendiri
Pendukung Cagub, Camat, dll merusak kantor pemerintahan yang dibangun dengan uang mereka sendiri
Pegawai yang merusak fasilitas kantor mereka sendiri
dan masih banyak lagi.
Sungguh merupakan emosi sesaat yang dipengaruhi oleh DEMON (SETAN).
DemonsTragedy
Dan karena seringkali menimbulkan kerusakan, sepertinya pantas pula diplesetkan menjadi DemonsTragic. “Setan-Setan” yang membuat Tragedi.
1. Macet : Tumpahnya manusia ke jalan protokol, tak anyal membuat kendaraan melaju sangat lambat, sehingga minimal menimbulkan kemacetan lalu lintas.
2. Tidak Murni : Menurut beberapa pihak yang dilansir JawaPos (22/4 08), Demonstrasi murni saat ini tinggal 10%. Sebab jarang ada massa politik yang secara suka rela ikut berdemo untuk mendukung parpol atau calon kepala daerah. Biasanya tiap massa demonstran Rp35 ribu - Rp50 ribu. Ini untuk demo yang diperkirakan tiga hingga lima jam. Bahkan sekarang nilai rata-rata pemasarannya Rp 50 ribu. Bahkan untuk korlap (koordinator lapangan), koordinator korlap, dan simpul, tarifnya lain. Korlap biasanya mendapatkan jatah Rp 250 ribu dan orator Rp 300 ribu. Sedangkan koordinator korlap dan simpul tarifnya mencapai Rp 1,5 juta dan Rp 2 juta.
3. Polusi : Bumi ini sudah semakin panas, dan es di Kutup sudah mulai mencair, sehingga menyebabkan perubahan musim yang tak tentu, banjir, dll. Tapi egoisme Demonstran mengalahkan itu semua. Dengan berdalih untuk memanaskan suasana, para demonstran membakar ban bekas, dan tentu saja ini menambah deretan penyebab rusaknya lingkungan kita. Sungguh sangat besar efeknya bagi kesehatan dan lingkungan. Inikah yang dinamakan “MAHA”??? siswa? Mahasiswa seharusnya lebih tau akan bahaya yang disebabkan oleh ban bekas yang terbakar.
4. Merusak Fasilitas Umum : Tak puas membakar ban, para demonstran membakar fasilitas umum. Yang notabene berasal dari uang mereka sendiri.
5. Menganggu Ketertiban Umum : Pada beberapa demonstrasi, seperti ketika sebagian rakyat menentang kenaikan harga BBM, ada yang menyegel POM Bensin, “menyandera” truk tangki, dll. Bukankah masih banyak cara lain yang lebih pantas agar tidak menganggu mata pencarian seseorang?
6. Menyebarkan Aib : Sudah barang tentu Demonstrasi pasti akan menjelek2kan pihak tertuduh. Padahal belum tentu pihak tertuduh melakukan kesalahan itu.
Demonstrasi Menurut Pandangan Islam
Menasehati pemerintah menurut Islam adalah seperti yang dicontohkan Rasulullah, yaitu dengan jalan sembunyi-sembunyi.
Jangan Terang-Terangan
“Barang siapa yang ingin menasihati seorang penguasa, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya, dan berduan dengannya. Jika ia terima, maka itulah (yang diharap). Jika tidak, maka ia telah melaksanakan keawjiban atas dirinya ”.[HR.Ibnu Abi Ashim (1096). Syaikh Al-Albany -rahimahullah- berkata dalam Zhilal Al-Jannah (hal.514), “Sanadnya shohih”] .
Fauzy bin Abdillah Al-Atsary -hafizhahullah- berkata, ”Hadits ini menunjukkan bahwa nasihat kepada pemerintah dengan cara rahasia, bukan dengan cara terang-terangan, dan bukan pula membeberkan aibnya di atas mimbar-mimbar, pesta-pesta, masjid-masjid, koran-koran, majalah dan lainnya sebagai suatu nasihat”. [Al-Ward Al-Maqthuf (hal.66)]
Umat muslim seharusnya paham akan hal ini. Dengan mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti dalam firman Allah “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahanam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115)
Jangan Merusak
Jika ada duri, paku, atau benda-benda lainnya yang mengganggu bahkan membahayakan pengguna jalan umat muslim diperintahkan untuk menyingkirkannya. Seperti yang tertuang pada hadis Bukhari dan Muslim.
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang, cabang yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang iman.”
[HR. Al-Bukhari (no. 9) dan Muslim (no. 35). Lafazh ini milik Muslim dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].
Namun yang dilakukan oleh para demonstran justru kebalikannya. Mereka membakar ban bekas di tengah jalan yang selain merusak kesehatan, lingkungan, juga berbahaya bagi pengguna jalan yang lewat. Tak puas dengan itu, ada pula yang menebang pohon, memblokade jalan sehingga menyengsarakan masyarakat yang tidak bersalah.
Jangan Mempermainkan Sholat
Untuk menghidupkan suasana, tak jarang pendemo membawa keranda mayat. Dan bukan cuma itu, bahkan mereka melakukan sholat Jenazah. Padahal orang yang di”sholat” jenazahi masih hidup.
Sungguh ini sudah mempermainkan masalah agama. Sholat hanya untuk main-mainan atau pura-pura. Pernahkan Rasulullah mengajarkan hal ini?
Jika ada yg melakukan pembelaan dengan berkata “Kan gak ada yg melarang”. Prinsip dalam Islam sangat gampang dimengerti. “Semua Ibadah itu pada dasarnya Haram, kecuali yang diperintahkan. Semua Makanan itu halal, kecuali yang dilarang”. Memang Sholat jenazah itu diperintahkan, tapi tidak mengikuti tuntunan tata-cara sholat jenazah yang benar.
Nasihat Para Ulama
Syeikh Al-Albany ditanya tentang hukum demonstrasi yang banyak dilakukan oleh pemuda-pemudi. Maka beliau menjawab dengan jawaban yang panjang yang pada akhirnya beliau simpulkan dengan perkataan berikut ini: “Karena itu saya nyatakan dengan ringkas tentang demonstrasi-demonstrasi yang terjadi pada sebagian negara Islam (bahwa) perkara ini pada dasarnya adalah telah keluar dari jalannya kaum muslimin dan telah menyerupai orang-orang kafir dan (Allah) Robbul ‘Alamin telah berfirman : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu`min, maka Kami biarkan ia larut terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.”
Fatwa Syeikh Sholeh Bin ‘Abdurrahman Al-Athram ’afahullah ketika ditanya masalah demonstrasi, beliau menjawab “Tidak, itu merupakan wasilah syaithon”
Fatwa Syeikh Sholeh Bin Fauzan Al-Fauzan hafizhohullahu, ketika ditanya apakah demonstrasi termasuk jihad fiisabilillah, beliau menjawab : “Demonstrasi itu tidak ada faidah didalamnya, itu adalah kekacauan, itu adalah kekacauan dan apa mudharatnya bagi musuh kalau manusia melakukan demonstrasi di jalan-jalan dan (berteriak-teriak) mengangkat suara ? bahkan perbuatan ini menyebabkan musuh senang seraya berkata sesungguhnya mereka telah merasa mendapatkan kejelakan dan meresa mendapatkan mudharat dan musuh gembira dengan ini. Islam adalah agama sakinah (ketenangan), agama hudu` (ketentraman), dan agama ilmu bukan agama kekacauan dan hiruk pikuk, sesungguhnya dia adalah agama yang menghendaki sakinah dan hudu` dengan beramal dengan amalan-amalan yang mulia lagi majdy (tinggi,bermanfaat) dengan bentuk menolong kaum muslimin dan mendo’akan mereka,…”
“Jadi, cara yang benar adalah dengan menziarahi (pemerintah), menyuratinya dengan cara yang bagus. Nasihatilah para pemimpin, pemerintah, dan kepala suku dengan metode seperti ini. Bukan dengan cara kekerasan dan demonstrasi.” Kata Syeikh Abdul Aziz ibn Baz (Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, edisi ke-38, hal.310)
Ziarah yang dimaksud oleh Syeikh bin baz adalah berkunjung. Ziarah bukan hanya untuk kuburan. Empat ulama diatas tampaknya sudah cukup dalam penjelasan Demonstrasi. Namun bukan berarti hanya ada empat ulama saja yang mengeluarkan fatwa seperti itu. Ada banyak sekali, dan bahkan ada banyak sekali yang komentarnya lebih keras dari yang telah saya tulis diatas.
Islam Mengajarkan Kedamaian Bukan Kekerasan
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl : 125).
Dan tatkala (Allah) ‘Azza wa Jalla mengutus Musa dan Harun kepada Fir’aun, Allah berfirman :
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thoha : 44).
Penulis : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/demonstressy/
Referensi :
Al-Qur’an
Wikipedia
Koran JawaPos, Selasa 22 April 2008
Koran Surya, 12 November 1998, 15 November 1998
Detik.com
Abufadhil
Tausiyah275
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.







on 19 May 2008 @ 19:52
uh, betapa ironisnya negri tercinta ini
btw, themes baru neh
on 19 May 2008 @ 19:55
Betul bro rosyidi.Artikelnya sangat menarik sekali,kalo menurut saya demo itu sah-sah saja,selama tidak ada kekerasan yang terjadi di dalamnya,dan selama demo itu tidak mengganggu ketertiban dan ketentraman masyarakat.

on 19 May 2008 @ 21:36
Kalau saya analisa
, sebenarnya mereka (demonstran)
belajar dari pengalaman saja. mereka mendapat imbalan dari apa yang telah mereka kerjakan. setelah demo biasanya mereka:
1. tambah keren plus beken.
2. tambah uang saku kalau kasusnya spt tulisan cak agam di atas.
3. bisa masuk tipi atau minimal koran lokal..
Dan yg paling penting mereka sering mendapat apa yg mereka inginkan.
Mengikuti hukum “terapi perilaku” sebuah perilaku ketika didapat imbalan akan cenderung terus dilakukan berulang-ulang.
on 19 May 2008 @ 21:41
Kalau saya analisa
, sebenarnya mereka (demonstran)
belajar dari pengalaman saja. mereka mendapat imbalan dari apa yang telah mereka kerjakan. setelah demo biasanya mereka:
1. tambah keren plus beken.
2. tambah uang saku kalau kasusnya spt tulisan cak agam di atas.
3. bisa masuk tipi atau minimal koran lokal..
Dan yg paling penting mereka sering mendapat apa yg mereka inginkan.
Mengikuti hukum “terapi perilaku” sebuah perilaku ketika didapat imbalan akan cenderung terus dilakukan berulang-ulang.
on 19 May 2008 @ 23:17
setuju sama M.Ali.Hardityan.F, kalo mau demo yang damai saja, jangan sampai terjadi kekerasan. masalahnya, demo sering disusupi oleh provokator yang membuat demonya yang awalnya damai jadi kacau
on 20 May 2008 @ 6:21
Sayangnya pemerintah kita agak budeg sehingga bila demo dilakukan dengan damai tidak akan didengar malah cenderung dilecehkan ama wapres.
on 20 May 2008 @ 9:18
klo di negara kita sering demo malah mengganggu stabilitas ekonomi ini yh bikin demo tidak disenangi
on 20 May 2008 @ 9:52
kadang aq jg bingung klo ngliat demo2 gituan, apa sih tujuan mereka koq nglakuin demo itu? pendemo2 itu klo ditanya, jawabannya pun gelagapan
Yang pasti, maunya sih sama2 tau, pemerintah nggak mengusik rakyat dgn kebijakan2-nya yg meresahkan rakyat, rakyat pun patuh ama pemimpin-nya alias gak banyak rewel ^^
on 20 May 2008 @ 13:37
Kalau udah kacau begini siapa yang akan disalahkan…..?
on 20 May 2008 @ 20:47
Mau tanya mas, dalam masa Nabi dulu tuh makenya sistem pemerintahan nya apa ya? Demokrasi apa apa ya?
Kalau kata temenku dulu nun jauh di sana, demokrasi itu awal kehancuran dunia
on 21 May 2008 @ 6:32
Rakyat kita masih ‘bodoh’ dalam berdemokrasi. Mereka masih dengan mudah untuk diperalat oleh kepentingan kelompok tertentu. Kebodohan ditambah dengan kelaparan maka akan sangat klop untuk diadu domba untuk melakukan tindakan anarkis.
Inti dari permasalahan ini adalah : Buat rakyat Indonesia pintar, sehingga ia bisa pintar mencari duit buat makan dan tidak mudah dibodoh bodohi oleh kepentingan tertentu.
on 21 May 2008 @ 9:14
wah..blm pernah demo tuh
on 21 May 2008 @ 11:45
sayangnya demonstrasi di negara kita lebih sering ditunggangi pihak2 tertentu. cukup dikasih 50rb utk makan siang, suruh koar koar & bakar2an di bunderan HI nuntut ini itu, jadi dah.
akhirnya orang2 sdh pesimis duluan, bhw demo sudah pasti ujunr2nya anarkis. pdhl belum tentu semua begitu.
**cape de..
on 21 May 2008 @ 18:54
wah kenapa yg ditonjolkan negatifnya doang? biar imbang sisi positifnya juga dong.. its fair.
on 22 May 2008 @ 3:10
Bener tuh, bagian demonstrasi pakai shalat jenazah itu sudah gak lucu lagi
on 22 May 2008 @ 8:08
iya ya….makin ga jelas aja yg demo. temen2 kampusku jg ngerasa demo2 sekarang caranya udah ga relevan lagi,,ga kayak dulu.. tanya kenapa….
on 22 May 2008 @ 11:07
Lebih baik semua yang kita lakukan sesuai tuntunan Rasulullah biar hidup lebih damai. Demo hanya akan merusak moral bangsa kita yang memang sudah rusak. Karena oknum yang tidak berkompeten memimpin bangsa ini. Semoga akan ada pemimpin yang bisa menaungi rakyatnya dan dapat berbuat adil sehingga kita tidak sibuk mengurusi masalah BBM, pilkada yang bermasalah. Tapi mengurusi anak bangsa ini agar menjadi tonggak bangsa dimasa mendatang.
on 22 May 2008 @ 11:21
tapi tidak semua demonstrasi itu bermasalah dan patut dipermasalahkan lho..
on 22 May 2008 @ 16:55
Gue gak tau yang salah ketik atau emang di sengaja, yang di tulis demonstressy yang di bahas demonstrasi, kali.. demonstrasi bikin qta stesss ya…
on 23 May 2008 @ 7:05
begitulah indonesia.. mungkin blum sadar…
Ok fren damai itu indah peace..
peace..
on 23 May 2008 @ 8:56
Pembahasan yang sangat komprehensif tentang demonstrasi. Gimana kalau postingan ini dibacakan di tengah para demonstran yang berdemonstrasi di depan istana negara? Apa yang terjadi ya?
on 23 May 2008 @ 9:07
Memang serba repot. Demonstrasi di Indonesia sudah identik dengan pengrusakan, kekerasan, dll.
on 23 May 2008 @ 9:21
Saya sepakat BBM naik 28,7 % tapi gaji pejabat dipotong 30%. Supaya adil.
Jadi pejabat juga bisa merasakan, bagaimana nasib rakyat. Jangan cuman setuju BBM naik, tapi giliran gaji dipotong, teriak gak ADIL.
on 23 May 2008 @ 13:12
humm ..
msalah democrazy ..
saya sendiri kurang setuju sama demonstrasi dan demokrasi ..
alasan ..
dua²nya tidak diajarkan Rasulullah ..
on 24 May 2008 @ 3:31
Semoga pada demonstran bisa sadar dan memperbaiki sikapnya.
on 24 May 2008 @ 11:09
Sip,semoga demo yang memakai kekerasan tidak terjadi lagi di tanah air ini
on 24 May 2008 @ 11:17
wah… wah… klo secara gitu (ISLAM) setuju aja mas… mungkin klo kita menganut hukum Isalam ga ada ceritanya polisi pentung-pentungan dengan adik2 Mahasiswa

on 24 May 2008 @ 23:50
Wuih artikelnya menarik. Kalau boleh nambahi, yang penting juga adalah menjaga akhlak di jalan/ditempat. Jangan bercampur baur (ikhwan-akhwat nonmuhrim), dsb.
on 25 May 2008 @ 13:24
artikel yg keren..! memang percuma aja kita mnyuarakan demokrasi-demokrasi.. tapi kita melakukanya dgn anarki.. bukankah pada awalnya mereka menyuarakan demokrasi dgn tujuan yg baik? tapi kl diiringi dgn kekerasan,, ya nggak baik namanya…
on 25 May 2008 @ 15:03
Wah kapan ya Indonesia bisa bersikap sopan..
on 25 May 2008 @ 23:09
Sangat setuju dng Mas Agam
Alangkah indahnya kalo demo dilakukan dng damai…
Tapi ada yg bilang, kalo demo adem ayem tdk bakalan diexpose media
Tdk punya greget, tidak menarik perhatian, kurang menggelora
Apapun alasannya, damai itu indah….
on 27 May 2008 @ 18:24
Kalau menurut saya gini mas…. gak semua orang yang demo tu asal demo aja…. mungkin sebelum melakukan demo mereka udah menempuh jalan damai untuk mengingatkan sang penguasa.. tapi karena sang penguasa menutup mata dan kuping atau apalah istilahnya… Akhirnya keluar lah emosi yang terpendam mereka…. ditambah lagi kelompok-kelompok tertentu yang ngomporin mereka
betul juga kata IMCW, tapi bikin rakyat pinter itu enggak gampang mas…. masih ada kok orang yang disekolahin sampai perguruan tinggi tapi tetap aja masih bisa dibodihin…
Hai rafki… Coba aja kamu bacain di depan orang-orang yang lagi demo…. menurutku kamu nanti dikasih duit sama tu orang-orang yang lagi demo
percaya deh….
on 29 May 2008 @ 4:10
Kalau sedikit2 demo, kapan bisa berkembang
Lagian aku yakin kalo demo yang anarkis adalah hasil rekayasa provokator
dan kalo menurut temenku yang suka demo, mereka malah ngga tau-menau asal usulnya, yang penting ikut teriak-teriak dan lempar-lemparan… 
on 29 May 2008 @ 5:59
Great post! Great post!
Aku baru tau kalo Islam menyarankan untuk tidak demo.
Setiap kali ada berita demo, aku jadi takut kalo kebablasan dan menambah ketegangan situasi negara.
on 29 May 2008 @ 19:21
[...] Demonstrasi Tertib dan Damai 8 views Posted by Agam Rosyidi May 29, 2008 Kirim ke Teman DemonStressy [...]
on 30 May 2008 @ 15:20
[...] Demo di jalanan dengan membakar dan merusak bikin aku gedek-gedek (I dont know the Indonesian word for gedek-gedek hehe..). Aa Gam punya post bagus banget mengenai bagaimana Islam memandang demonstrasi. [...]
on 30 May 2008 @ 16:39
Sip…
on 30 May 2008 @ 20:42
Demo seperti itu tak mencerminkan citra “maha”siswa yang katanya kaum berintelektual tapi
malah menunjukkan sikap barbar
on 4 June 2008 @ 16:29
Setuju banget.Demo masak, hanya itu yang gak bakal rusuh
on 5 June 2008 @ 18:57
ibu sayah suka ngeluh kalo ada demo di jalan..
jadi telat dia mau kesana dan kesini..
on 5 June 2008 @ 22:04
menurut saya pemerintah sekarang itu IMPOTEN. mau diapain juga gak akan berdaya. emang udah lemah.ada beberapa cara untuk memperbaiki kondisi bangsa ini, misalnya:-memberdayakan diri sendiri, dengan usaha sendiri, tidak mengharap kepada pemerintah yang impoten itu karena percuma minta sama mereka.-berusaha menegakkan keadilan lewat jalur politik. memperbaiki pemerintahan dari dalam. setelah kekuasaan diraih, barulah bisa mengeluarkan kebijakan2 yang dapat memperbaiki kondisi bangsa ini.-membentuk ormas yang memberdayakan masyarakat secara ekonomi, pendidikan, dan budaya.jadi, tidak usah menghujat pemerintah, apalgi dengan demo yang malah merusak. kalau mau memperbaiki pemerintahan, lakukan dari dalam. mari kita mulai memperbaiki kondisi bangsa ini dengan memperbaiki diri kita sendiri.bayangkan jika, tidak usah 200juta penduduk Indonesia, 5juta saja penduduk Indonesia secara bersama2 mulai memperbaiki diri sendiri dan orang2 terdekatnya, baik secara ekonomi, moral, pendidikan, maupun budaya. tidakkah dalam waktu beberapa tahun kita sudah kembali menjadi bangsa yang ‘punya gigi’ seperti beberapa dekade lalu?
on 7 June 2008 @ 16:57
demo itukan sebutulnya adalah rasa tidak puas atas apa yang dialami. bukannya menimbulkan masalah baru dengan saling berkelahi, lempar tangan sembunyi batu eh kebalik ya. ya klau demo itu harusnya mencari jalan tengan dengan orang yang membuat maslah
on 11 June 2008 @ 9:36
waspadalah waspadalah
on 12 June 2008 @ 18:29
setubuh. saya trauma sama demonstran
on 16 June 2008 @ 11:34
kebetulan waktu kuliah dulu saya sering demo..
kekerasan sich no way
tapi kalo demo, ga didengerin kayak jaman sekarang ini
wah itu repot….
berantem ayo…hehehe becanda.peace
sekarang harus ada system demokrasi yang lebih efisien dan efektif. karena yang berlaku sekarang gagal total. kekuasaan hanya dikuasai oleh sekelompok orang…sementara rakyat terabaikan…