Belajar dari Jepang

6,298 views

copy-paste

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.

japan-flagKantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada “semut” yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam.

Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam “semut-semut” yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus.

Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama – tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan.

Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman.

Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka – para “semut” tersebut – tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standar upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan.

Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb..

Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari “RT, RW, Kelurahan” dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.

Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan “fasilitas” diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali.

Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip “the biggest (service) for the small” yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.

Pameo “kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah” tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini.

Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas – sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusahaan listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut.

Berkali-kali kata “sumimasen” (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan.

Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma “Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja”. Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja -versi Jepang.

Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan – sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan “daijobu” (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal.

Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh – sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu ¥en (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada “pemaksaan” untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu.

Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat “sepele”; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena ‘keriangan’ anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas Supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami.

Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas Supermarket menyahut “daijobu yo” (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas Supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa “everything is ok“.

Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam Supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak -seperti semut.

Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli.

Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas Pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip -ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe -salah satu kota metropolis di Jepang-, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik.

Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang -mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman.

Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) -kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi.

Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.

Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut.

Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan.

Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata.

Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), Shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri -kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum.

Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi roda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan Shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat “tengoklah dulu kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan” mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Alloh anda akan selamat sampai ke seberang -tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.

Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah.

Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan.

Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang.

Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi -apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya.

Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll.

Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit.

Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian.

“Saling Percaya Adalah Kuncinya.”

—-

Tulisan ini sudah tersebar kemilis-milis. Setelah ditelusuri sumbernya adalah Berita IPTEK. Sebenarnya ada menu permohonan izin penggunaan artikel pada website tersebut, tapi karena form perizinanannya rusak sehingga tidak dapat diakses. Penayangan tulisan ini di rosyidi.com dengan tujuan pendidikan bukan komersial, karena itu kami tidak wajib melapor pencantuman hal ini sesuai dengan pasal 2 dalam copy right Berita IPTEK. Namun, jika penulis, Yuli Setyo Indartono, ataupun pihak Berita IPTEK keberatan atas penayangan ini, akan kami hapus artikel ini dari Rosyidi.com. Saat ini kami masih menunggu jawaban dari pihak Berita IPTEK melalui emailnya.

Ditulis oleh : Yuli Setyo Indartono,
Mahasiswa S3 di Graduate School of Science and Technology, Kobe University, Japan. Peneliti Istecs dan Ketua Teknologi Energi INDENI www.indeni.org. E-mail: indartono@yahoo.com

Sumber : Berita IPTEK

Kata Kunci yang sering dicari untuk artikel ini :

belajar dari jepang, Cara belajar orang jepang, pelayanan publik di jepang, suherman rosyidi, cara belajar mahasiswa jepang, metode belajar di jepang, Pelayanan publik di Singapura, cara orang jepang belajar, cara belajar masyarakat jepang, kebiasaan orang jepang, pengertian shinkansen, cara belajar anak jepang, cara belajar pelajar jepang, belajar di jepang, eksistensi administrasi publik di jepang, kebiasaan mahasiswa jepang, sejarah transportasi jepang, pengertian arubaito, kebiasaan baik orang jepang, kebudayan jepang, kebiasaan belajar orang jepang, sistem pemerintahan Jepang, kaugnay na pag aaral sa trapiko, cara belajar di jepang, pelayanan publik jepang, cara belajar pelajar di jepang, motivasi belajar mahasiswa yang sudah berkeluarga, kebiasaan pelajar jepang, kenapa jepang maju, jepang saat ini, kaos kaki jepang, sejarah transportasi di jepang, metode belajar orang jepang, kebiasaan sehari-hari orang jepang, gaya belajar orang jepang, jam belajar orang jepang, cara belajar jepang, semangat siswa jepang, biaya melahirkan di jepang, prinsip belajar orang jepang, semangat belajar mahasiswa jepang, budaya menyeberang di jepang, cara belajar ke negara jepang jepang, cara belajar mahasiswa di jepang, cara anak belajar jujur, pelayanan publik di vietnam, kursus samamoto dari jepang, membandingkan etos kerja islam dengan etos kerja bangsa jepang, mengapa jepang maju, kondisi masyarakat jepang

Related Posts (Artikel Terkait) :
Kirim ke Teman di Facebook
idwebspace

Komentar

48 Komentar pada “Belajar dari Jepang”
  1. jimmy says:

    kirain mas rosyidi yang ke jepang :d
    tapi membaca tulisan di atas, rasanya bagaikan langit dan bumi ya jauhnya keadaan dan pelayanan publik di jepang dan di indonesia..
    entah masih berapa generasi lagi indonesia bisa seperti jepang?

  2. chodirin says:

    aduh, kalo membandingkan dengan indonesia ibarat bumu dengan langit,.. eh ibarat kubangan dengan langit.
    .

  3. yadi says:

    Wah critanya panjang banget , udah pernah ke Jepang belum maz…?

    Rosyidi :Belum pernah. Cuma sering dicertai ama sodaraq.

  4. Vandy says:

    Beda banged ama di indonesia yach…
    Pertamaxxx….[[dnc]]

    Rosyidi :Pertamaxnya telat banget :p
    hehehe.. Kemaren gak tau kenapa banyak yg kejaring akismet. Mungkin gara2 aku kombinasikan akismet ama SK2. Jadi keliatannya blom ada yg komen, padahal semua komen kejaring ama akismet. Sekarang udah normal insyaAllah.

  5. masowen says:

    wah sebegitu tertibnya di jepang ya

  6. Ecko says:

    Emang bangsa Indonesia mau belajar hal baik po? Kebanyakan sih kalo yg gak bener yg cepet-cepet ditiru.:d

  7. Abi Bakar says:

    kita jangan hilang harapan suatu saat negara kita pasti seperti Jepang, namun problemnya suatu saat itu kapan terjadinya…kapan2x :-"

    Rosyidi :Kapapun terjadinya, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari yang terkecil, dan mulailah saat ini juga :D

  8. Logicb0x says:

    Yach beginilah Jepang… Sukur deh Indo gak kayak gtu, coz kita udah kebiasaan dimanja :)

  9. toim says:

    ehehehe…satu lg org yg terpesona akan kebudayaan dan kebiasaaan Jepang :)
    Nice post ;)

  10. :d walah senengnya bisa kuliah di jepang mas :)>-:)>- jadi pengen ikut

    Rosyidi :Bukan aku mas. Aku sendiri juga pengen.

  11. Riyogarta says:

    “Saling Percaya Adalah Kuncinya.”
    Setuju nih, tanpa ini tidak akan ada yang namanya komitmen.

  12. budi says:

    Walaupun belum pernah ke negri sakura, tetapi cerita seperti Mas Yuli tidak kali ini saja saya baca….malahan waktu kuliah dulu, saya pernah “berguru” dengan orang asli Jepang…Dan dari sikap tingkah lakunya tidak jauh berbeda dengan cerita-cerita tersebut….
    Istilah Jawanya “njawani”….Salut…..

  13. caTcode says:

    Woow.., ini mirip dengan cerita2 kartun jepang yg heroik itu. berarti memang benar cerita kartun merupakan gambaran kondisi masyarakat jepang yg sesungguhny.. kpn kita bs spt mereka ya??

    Rosyidi :Kartun apa nih? Kalo menurutku yg bagus ya 1 Litre of Tears. Kehidupan yg penuh semangat.

  14. Edi Psw says:

    Jepang sangat jauh kalau dibandingkan dengan Indonesia. Bukan hanya jaraknya saja yang jauh, kepribadian rakyak indonesia jauh berbeda dengan rakyat jepang. Tidak hanya pada rasa sosialnya saja yang tinggi, sdmnya pun sangat jauh berbeda.

  15. dudi says:

    kalo yang berbau jepang saya sukanya film samurai x mas :d[[dnc]]

  16. Jauhari says:

    Semoga Indonesia bisa seperti ini…..

  17. oRiDo says:

    yups..
    emang bener tuh..
    karakter orang2 jepang emang pantas dipuji dan perlu ditiru..

    ntah kapan yah ornag endonesia bisa seperti itu..
    padahal orang endonesia sempet dijajah yah..
    kok gak bisa niru??
    *tanyakenapa*

  18. cempluk says:

    setelah membaca artikel tulisan mas yuli sampai habis, saya hanya terkagum kagum, salut, bangga, iri pada Jepang…

    subhanallah, sungguh keteraturan, kedisiplinan, kejujuran perlu ada pada diri setiap manusia agar sebuah negara bisa makmur spt Jepang…

  19. Lutfi says:

    Benar2 membuat iri. Dari dulu saya sangat kagum dengan orang Jepang yg SANGAT teratur dan bertambah kekaguman saya terhadap orang jepang setelah membaca artikel ini.:)>-

  20. kus says:

    sampai .. akhir tulisan, aku masih kepikiran dengan si pencatat meteran listrik…. dia bunuh diri gak yah??? :((

    Rosyidi :wah sampe sigitunya. Kalo sekarang sih rasanya Seppuku (biasa kita kenal dengan sebutan Harakiri) sudah jarang dilakukan orang Jepang.
    Kalaupun ada beberapa yang melakukannya itu karena kasus bullying. Di Jepang anak yang “gak bisa apa2″ ato pemalas, ato punya suatu kelemahan, sering kali diolok-olok temannya. Dan karena tak tahan ejekan atau bahkan siksaan teman2nya, akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Itupun sekarang sudah bervariasi. Kebanyakan yang dilakukan sekarang adalah memenuhi mobil yang terturup rapat dengan asap arang yg terbakar. Konon katanya inilah cara yang paling cepat dan tidak menyiksa. Tapi gimanapun juga hidup masih lebih indah ketimbang mati konyol semacam itu.
    Fang Tsu Gang Ji / Apapun yang terjadi Patut disyukuri

  21. noki says:

    jadi ngiri, dulu pernah diberitahu teman. untuk pendidikan semakin tinggi tingkatannya pulang ya semakin malam. karena mereka tidak langsung pulang tp kursus dulu.
    dan lagi untuk pelajar ce’ biasanya kebanyakan memakai kaos kaki putih panjang:x

    Rosyidi :Katanya sodaraq yg S2 disana, memang di Jepang ada semacam tradisi pulang larut malam. Jadi kita akan dikatakan pemalas kalo kerjanya kurang dari 12 jam sehari. So, biasanya mereka berangkat kantor jam 9, pulangnya minimal jam 9 malem juga. Kalo di negara kita tercinta ini terbalik. Justru pengen cepet2 pulang. Pernah juga dapet cerita dari agak lupa siapa yg cerita, wakil dekan I FE UNAIR, Suherman Rosyidi, atau Dosen Anatomi FKG UNAIR drg. Bambang. Beliau cerita kalo di Jepang biasanya pulang malem, begitu sampe Surabaya karena pulang siang jadi bingung mau ngapain. Pengennya kebiasaan baik di Jepang tetep terjaga, tapi akhirnya gak bisa juga gara2 masyarakat Indonesia yang tidak mendukung.

  22. Labyrinth™ says:

    Jadi pengen ke jepang,

    Tapi bagusnya sie pengen jadiin indonesia kayak jepang :d

  23. :-" jadi pengen ke jepang nih

  24. ochim says:

    aduhhh,,, capek bacanya aku prend,,,,
    panjang bangettt,,,, tp jujur mantap isinyaa…

    thank’s infonya prend,,,

  25. Mufid says:

    Memang hebat tuh jepang, udah etos kerjanya tinggi, semangat juangnya juga tinggi dan pantang menyerah pula. Rasanya benar-benar menyesal tinggal di Indonesia. Kenapa yang aku lihat hanya orang-orang yang malas yang maunya enaknya saja?

  26. auliahazza says:

    iya … pada awal2 paragraf dikiranya rosiyidi ke Jepang dan udah nikah. Kalau udah nikah kok ga ngasih tahu aq ya ;)

    Kalau berdagang memang seharusnya begitu, kalau jelek dikasih itu jelek. Kalau ada sesuatu ga beres sama barangnya dikasih tahu kekurangannya.

    Rosyidi :Iya, banyak yg nyangka itu ceritaku. Makanya aku kasih banner besar2 kalo ini copy paste.

  27. Riyogarta says:

    Membaca posting ini, jelas gak salah kalau pada akhirnya Jepang bisa menjadi negara yang maju meskipun sempat hancur di bom atom.
    kapan ya Indonesia memiliki budaya seperti mereka itu :-?

    Rosyidi :Apa perlu dibom atom juga ya :-?

  28. Bambosi says:

    negara yang terdekat ama kita malaysia n singapore aja dah terlalu jauh ninggalin kita…

    Rosyidi :iya. Tapi asal gak dibalik aja, jadi : negara yang terdekat ama kita yg dulu juga daerah kita jauh tertinggal oleh kita. :)>-
    Ya, memang kalo kita pengen maju memang harus melihat yg atas, tapi jangan lupakan yg bawah.

  29. pudakonline says:

    Hm… mestinya kita malu sama mereka, disini para dewan terhormat pada ramai-ramai menaikkan tunjangannya sendiri

  30. Wah Mantap mas Blognya. Ijo-ijo-ijo, kayak iklan di Tivi. :)

    Kunjungan balik mas.. thanks udah mampir.

    Mengenai kemajuan bangsa Jepang. Wah menarik mas.. saya belajar banyak dari postingan mas.

    Sejak masih SMA saya juga sudah suka banget baca buku-buku mengenai Jepang dan Film-Film Jepang.

    Menurut saya budaya mereka keren abiz.

    Indonesia? Yah asal mau belajar dari Negara yang sudah sukses dan mau berubah, pasti bisa!

    Mantap!

    Rosyidi :Iya, bener, Indonesia harus berubah.
    Kalo soal iklan itu baru pasang kemaren koq. Untuk menambah penghasilan aja. Untuk menutupi biaya pengelolaan blog ini :)

  31. kelik says:

    MasyaAllah….

  32. Shani says:

    kapaaaan negeri ini bisa maju seperti japang?? mungkin kalau para pemimpin bangsa sudah pada tobat nasuha kali ya!! dari korupsi,kolusi, dan nepotisme.mudah-mudahan pemimpin yang bejat di beri petunjuk allah swt supaya pada tobat tuh orang dan bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan makmur rakyat sejahtera,aman,damai dan hidup ini menjadi lebih indah amiin..

  33. Good…Good…[[dnc]]

    Keren Jepangnya… :x

  34. Adi says:

    Ceritanya bagus banget

  35. widhie says:

    8->memamng demikian adanya sahabat semuanya….kehidupan di jepang.saya setuju banget sama mas yuli..karena saya juga dinegri sakura.saya kira indonesia taka kan tertinggal bila mau dan mampu memperbaiki sistem yang ada…kenyataan indonesia mampu mengirimkan duta bangsas ke jepang tetapi begitu selesai kurang diperhatikan….sehingga serasa semua sia sia.banyak hal hal yang sederhana sebenarnya yang bisa dipetik dari kehidupan dijepang.secara ego orang jepang memang menampilkan corak ato khas individualnya.tetapi kalo sudah menyangkut kepentingan umum….akan lain ceritanya.tidak seperti individualitas yang mereka miliki.
    saya sering bekerja team work.saling menyemangati sehingga kerjaan tepat dan cepat selesai.

  36. dina says:

    Wah jadi pengen kesana

  37. Indra.Kusuma says:

    Biz baca blog diatas , jd terinspirasi n mw coba praktekin pola hidup sprti i2 ;)

  38. anwar says:

    salut deh sama kebudayan orang jepang. kapan ya bisa dapat istri orang jepang?

  39. dany says:

    :) emang bener2 deh jepang negerinya..top abis rasa pedulinya tuh…kt temen dan kkq yang pernah kuliah di jepang juga sama neh….yang di film2 jdorama sepertinya banyak menceritakan reality jepang yang sebenarnya yach…:)>- seperti yang dijelasin diatas klo pingin seperti jepank mulai deh dari diri sendiri lalu meyebar hehehehe..betul gak teman2…moga diberi kesempatan untuk tinggal di jepank [[dnc]][[dnc]]:d

  40. cari uang says:

    benar sekali bahwa indonesia perlu banyak belajar dari dari negara maju seperti jepang, dan ini penting sekali supaya bangsa indonesia,,,,,semakin maju

    salam

    fikri

    Rosyidi :Yup. Tapi ada kabar baik. Kemungkinan ekonomi Indonesia bisa menyusul Jepang. Silakan baca : http://penuh.info/2009/indonesia-akan-melampaui-ekonomi-jepang/
    Mari kita berjuang bersama untuk mewujudkannya.

  41. dewi says:

    jepang emang keren abiezz !!
    gimana yya bsa sekolah d sanna ??
    hahahh

  42. nano says:

    jepang???? pngeen. . .

  43. memang kita pantas belajar dari jepang…..dalam berbagai hal

  44. Hari says:

    Jepang memang hebat dan sumber belajar yg tak habis-2nya.
    Ijin share- nya. Tks.

  45. Mukhlis Hanif Salam says:

    mas,. izin copas yah,.
    tpi kok nggak bisa yahh :’(

  46. Mukhlis Hanif Salam says:

    hahaiii,.. bisa mas ^^ thanks artikelnya yahh :)

  47. Bebest says:

    Waw Japan is my inpiration. I love japan so much. I will stay in japan if i get chose!

  48. alam says:

    mas tolong mas gimana cara copasnya…! ane mau bikin tugas remed…!

Tulis Opini Anda

Ceritakan semua opini anda tentang artikel ini...
Jika ingin menampilkan foto pada kolom komentar, silakan daftarkan email anda ke : gravatar!

<< Harus diisi dengan angka 3