Belajar Chaos pada Tata Surya
Sebentar lagi insyaAllah kita sambut Ramadhan dan selanjutnya kita rayakan Idhul Fitri. Akan tetapi, ada sedikit kegundahan di kalangan ummat, yaitu apakah nanti seluruh ummat Islam Indonesia dapat merayakan hari Fitri nanti secara bersama ?, mudah-mudahan. Tetapi bagaimana kalau terjadi perbedaan satu Syawal, seperti beberapa tahun sebelumnya ?. Itulah tujuan utama tulisan ini, yaitu agar kita semua dapat memandang perbedaan antara hisab (simulasi) dan ru’yat (observasi) sebagai basis penentuan satu Syawal dari kacamata ilmiah sebagaimana mestinya, sewajarnya.
Mengapa Belajar Chaos
Mengapa perlu belajar chaos ?. Dipilihnya belajar chaos ini karena chaos baru saja menjadi sebuah ikon ilmu pengetahuan baru yang telah dapat merubah cara pandang masyarakat dunia terhadap perilaku manusia dan alam semesta. Dengan diketahuinya chaos, para ilmuwan dunia mulai merubah cara pandangnya terhadap dinamika alam raya, yang dahulunya menganggap semua di alam bergerak secara periodik, sehingga jagad raya diumpamakannya sebagai jam raksasa (Big Clock), berubah menjadi alam bergerak (berubah) secara tak periodik. Ini tentunya berarti telah meruntuhkan mitos jam raksasa atau sering disebut Newton’s Clock tersebut. Perlu kita ketahui pula bahwa perubahan sudut pandang para ilmuwan dunia itu terjadi belum lama, yaitu di sekitar akhir millennium (meskipun diartikelkan oleh Lorenz tahun 1972). Jadi, ini juga salah satu alasan lain mengapa chaos ini perlu kita ketahui bersama. Mudah-mudahan kita juga ikut terbuka pandangan sehingga hasil belajar ini bisa bermanfaat untuk menyikapi jika benar-benar terjadi perbedaan satu Syawal 1429 H nanti.
Chaos Pada Tata Surya
Apakah chaos itu ?. Berdasar salah satu sifatnya, secara praktis chaos dapat diartikan perubahan yang tak periodik (seperti diulang, tapi tidak benar-benar terulang). Lalu, apakah sistem tata surya bergerak secara chaotic ?. Baru saja, tepatnya bersamaan dengan runtuhnya paham Newton’s Clock, diketahui bahwa tata surya memang bergerak secara chaotic (Laskar, 2003). Apa bukti tata surya bergerak secara chaotic ?. Masih segar ingatan kita bahwa Pluto telah dikeluarkan oleh para ilmuwan dari daftar anggota tata surya, mengapa ?, salah satu alasannya adalah bahwa orbit Pluto sesekali atau beberapa kali memotong orbit Neptunus. Mengapa dapat memotong orbit tetangganya ?, karena orbit Pluto sangat berubah-ubah secara tak periodik alias chaotic (Murray, 2006).
Bagaimana dengan planet-planet tata surya lainnya ?. Pada sistem tata surya ternyata juga terjadi chaotic, tetapi dengan berbagai tingkat ke-chaos-annya. Jika matahari sebagai referensi, maka planet-planet yang mengelilinginya akan memiliki derajad chaotic yang semakin tinggi jika dia memiliki massa yang semakin kecil dan/atau jarak yang semakin dekat terhadapnya. Jadi, jika diabaikan massa, Merkurius memiliki derajad chaotic yang tinggi. Begitu juga jika diabaikan jarak, maka Pluto memiliki derajad chaotic yang tinggi pula. Akibat derajad chaotic Pluto ternyata yang paling tinggi (paling aneh) dari planet lainnya, maka Pluto lebih dulu di drop-out dari tata surya.
Terus, bagaimana dengan Bumi ?, alhamdulillah, Bumi tidak seringan Pluto, juga tidak sedekat Merkurius terhadap Matahari. Pada kenyataannya, Bumi juga mengalami chaos, akan tetapi derajad chaosnya Bumi menurut Laskar (2003) adalah pada level yang lemah. Bulan ?, ternyata sama dengan Bumi terhadap Matahari, Bulan terhadap Bumi juga mengalami chaos yang lemah. Belakangan diketahui pula bahwa lemahnya chaotic Bumi terhadap Matahari juga akibat efek balancingnya Bulan sebagai satelit Bumi. Andaikan Bumi tidak memiliki Bulan, maka chaosnya Bumi tidak jauh beda dengan chaosnya Merkurius atau Venus terhadap Matahari.
Jadi, gerakan planet-planet berikut satelitnya yang sebelumnya kita yakini membentuk lintasan rigid yang periodik, sekarang diketahui ternyata tidak demikian kejadiaanya. Ternyata bentuk orbit-orbit Bumi terhadap Matahari tiap-tiap tahun, juga bentuk orbit-orbit Bulan terhadap Bumi tiap-tiap bulan adalah seperti diulang (global stability) tapi tidak benar-benar terulang (local instability). Lebih praktis, bisa dikatakan serupa tetapi tidak benar-benar sama. Fenomena ini analog dengan fractal (chaos pada geometri) kita, manusia, yang serupa (sama-sama punya hidung, telinga, mata, dan sebagainya), tetapi pada tiap-tiap individu tidak ada yang memiliki bentuk wajah yang benar-benar sama, pada pasangan kembar sekalipun. Ketidaksamaan bentuk wajah ini bisa dipertegas lagi pada ketidaksamaan bentuk pola sidik jari, susunan gigi, DNA dan seterusnya. Semacam inilah ketidakterulangan bentuk orbit-orbit Bumi tiap-tiap tahun dan bentuk orbit-orbit Bulan tiap-tiap bulan diatas.
Halusnya chaotic (perubahan bentuk orbit) yang dialami Bumi dan Bulan ini menyebabkan kita hampir tidak merasakan perubahannya. Ini juga sama dengan kejadian pada pulau yang kita injak. Kita tidak dapat merasakan kalau pulau yang diatas lempengan tektonik ini bergerak (seperti yang diterangkan Al Qur’an) karena begitu halus gerakannya, seperti kecepatan pemanjangan kuku kita. Tetapi walaupun sangat halus, gerakan relatif antar lempeng tektonik yang ada di Bumi ini adalah chaos juga (Wikipedia, 2007). Ini terbukti kita tidak dapat memprediksi kapan gempa tektonik terjadi akibat geseran atau tumbukan antar lempengan tersebut karena memang gerakannya tidak (benar-benar) periodik alias chaotic.
Sifat Chaos Lainnya
Selanjutnya, selain ke-takperiodik-an, pada sistem yang chaotic juga diketahui bahwa meskipun diawali dari perubahan (perbedaan) yang sangat kecil, dengan terjadinya tumpukan perulangan yang tidak benar-benar terulang ini, maka pada perjalanan prosesnya perubahan sangat kecil tersebut dapat menimbulkan dampak berupa perubahan yang sangat besar (ekstrim), yang juga sangat unpredictable. Inilah sifat chaos yang berikutnya, yaitu sensitif terhadap kondisi awal. Hal ekstrim ini bisa terjadi seperti cuaca di Bumi, yang juga chaos, bisa terjadi (satu atau beberapa hari) hujan di musim kemarau, atau terjadi panas terik di dalam musim hujan. Sensitivitas inilah yang perlu kita waspadai bersama. Jika ketidakterulangan ekstrim itu terjadi pada peredaran Matahari, Bumi dan Bulan pada saat ini, maka hasil hitungan awal bulan berdasar simulasi pada saat ini menjadi lebih tidak akurat. Contoh ketidakterulangan ekstrim (yang lebih ekstrim) adalah memotongnya orbit Pluto pada orbit Neptunus seperti yang telah dibicarakan. Bahkan, contoh yang lebih spektakuler lagi akibat sensitivitasnya chaos pada tata surya ini juga ada, yaitu berbaliknya arah putar rotasi Venus pada tahun 1962 (Correia A, 2001 dan Laskar J, 2003). Jadi jika berada di Venus, kita sudah mendapatkan matahari terbit dari arah sebaliknya. Bumi ?, untungnya tidak se-chaos Pluto atau Venus. Semoga saat Matahari terbit dari barat di Bumi nanti, seperti yang diterangkan Al Hadits, kita bukan golongan yang mendapatinya, naudzubillah.
Bukan Kesalahan Alat Ukur Saja
Sebelum diketahuinya chaos, para ilmuwan sangat terkungkung dengan apa yang disebut Big Clock. Mereka menduga bahwa jika diketahui kondisi awal alam raya, maka kondisi-kondisi berikutnya sampai kondisi akhir alam raya pun dapat diprediksi dengan sangat tepat, persis seperti perputaran jarum jam yang sangat periodik yang dengan sangat mudah kita prediksi kapan jam duabelas tepat, jam empat tepat dan seterusnya. Sehingga saat itu, melesetnya perubahan alam (termasuk orbit planet) dari prediksi, diyakininya sebagai ketidak akuratan alat ukurnya saja. Sekarang, dengan diketahuinya fenomena chaos, mereka sudah mengetahui bahwa semakin tinggi presisi alat ukur, justru semakin diketahui ketidak periodikan obyek alam raya ini, yang berarti melesetnya prediksi tidak saja akibat kesalahan alat ukur (yang selalu ada) tapi juga akibat gerakan obyeknya yang tidak periodik alias chaotic. Sekarang, mereka telah sadar bahwa gerakan alamiah alam raya (ciptaan Nya) tidak sama dengan gerakan jam dinding (buatan manusia).
Simulasi Lintasan Pada Sistem Tiga Bola
Kemudian, bagaimana cara menghitung (mensimulasikan) peredaran Bulan dan Bumi ?. Untuk penghitungan ini ada berbagai cara, tetapi cara yang paling umum dipakai adalah cara yang berbasis pada model tiga bola (three-body model). Model tiga bola adalah sebuah model yang menyatakan hubungan gaya tarik menarik tiga buah benda angkasa yang dianggap sebagai bola, yang dalam hal ini Matahari, Bumi dan Bulan. Dari model tiga bola ini kemudian dibuatlah persamaan, yaitu persamaan tiga bola yang terkenal itu. Berdasar persamaan tiga bola inilah kemudian dibuat penyelesaian. Dimulai dengan memasukkan angka posisi awal bola-bola, kemudian diperoleh posisi-posisi bola berikutnya (secara otomatis oleh komputer) yang membentuk lintasan, sehingga dapat diketahui lintasan Bumi berikut Bulan. Dengan diketahui lintasan ini, maka dengan sangat mudah pula diketahui pada jam dan detik ke berapa awal dan akhir sebuah Hari, Bulan, Tahun, Windu, Abad dan seterusnya secara simulasi.
Hasil penghitungan simulasi seperti diatas (terhadap gerakan alamiah yang sebenarnya) biasanya bisa tepat untuk durasi waktu tertentu, tetapi semakin lama semakin bias terhadap nilai alamiah yang sebenarnya. Ini dikarenakan terdapat beberapa error yang tidak dapat dihindari serta ditambah lagi dengan memang obyek bola yang diamati sendiri juga chaotic, yang otomatis memberi kontribusi pada biasnya hitungan.
Secara model, pemakaian model tiga bola ini merupakan penganggapan hubungan gaya tarik menarik antara Matahari, Bumi dan Bulan adalah semata-mata hubungan ketiganya saja, tidak dipengaruhi oleh planet-planet lainnya. Jadi model tiga bola ini merupakan penyederhanaan dari model celestial mechanic banyak bola (multy-body) dari planet-planet lain yang mestinya juga mempengaruhi gaya tarik-menarik antar ketiganya. Oleh karena itu, penyederhanaan ini tentu membawa konsekwensi logis yaitu ketidak akuratan (error) model.
Akan tetapi, meskipun begitu, pemakaian model tiga-bola ini sudah jauh lebih maju dibanding dengan pemakaian model dua-bola oleh Newton. Sampai akhir hayatnya Newton tidak berhasil menghitung peredaran Bulan terhadap Bumi, atau hitungan dengan konsep model dua-bola menghasilkan lintasan simulasi Bulan terhadap Bumi yang sangat tinggi melesetnya dibanding model tiga bola terhadap lintasan alamiah Bulan.
Kemudian, persamaan tiga bola, apakah memang sederhana ?. Secara analitis, persamaan tiga bola tidaklah sederhana karena persamaan tiga bola memiliki suku diferensial yang nonlinier. Sehingga sampai saat ini belum ada pendekatan analitis yang mampu menyelesaikannya. Alasan ini juga mengapa Newton memakai persamaan dua-bola. Terus, bagaimana menyelesaikan persamaan tersebut ? Cara yang banyak digunakan adalah cara numeris. Sebuah lintasan bola yang melengkung (melingkar) didekati dengan banyak buah garis lurus (sangat) pendek yang saling tersambung. Semakin pendek garis lurus yang dipakai untaian, semakin mendekati lintasan eksak bola yang semestinya. Banyak sekali metode yang ditawarkan untuk membuat untaian garis lurus pendek ini, akan tetapi tidak ada satupun metode yang tidak memiliki ketidak akuratan (error), sehingga sekali lagi, lintasan lengkung bola-bola alamiah yang di inginkan hanyalah bisa didekati. Dengan bantuan komputer generasi baru, error ini dapat dibuat lebih kecil lagi, tetapi tetap saja mustahil dibuat nol, karena sekali lagi lintasan alamiah benda angkasa adalah ciptaanNya sedangkan komputer adalah buatan manusia.
Jadi untuk menghitung lintasan Bumi dan Bulan untuk jangka waktu yang lama terdapat setidaknya dua error dasar diatas sebagai kendala, dan sekarang ditambah satu lagi dengan masalah bahwa lintasan alamiah Bumi dan Bulan adalah chaotic, yang sensitif dan tidak periodik. Inilah penyebab kita hanya mampu mendekati bentuk orbit, bukan menyamai. Problem tiga bola ini ternyata juga berlaku pada model empat-bola bahkan banyak-bola, karena alam raya memiliki jumlah obyek yang tak terhingga yang saling terkait satu dengan lainnya.
Kalau begitu, apakah sangat susah mendekati lintasan alamiah Bumi dan Bulan dengan simulasi (hisab) ?. Untuk menyamai memang sangat susah, sebagian besar ilmuwan mengatakan mustahil, tetapi untuk mendekatinya tidaklah demikian, dengan pendekatan numeris akan dapat dilakukan dengan sangat mudah, karena meskipun chaos tapi chaosnya Bumi dan Bulan, sekali lagi, adalah lemah, sehingga kemungkinan beda memang besar, tetapi besarnya beda biasanya kecil. Bagaimana dengan pendekatan rata-rata ?, rata-rata chaos juga temporer, rata-rata satu periode akan berbeda dengan rata-rata periode berikutnya. Artinya, sekali lagi, kita tetap hanya bisa mendekati rata-ratanya saja, bukan menyamai.
Bagaimana dengan observasi ?. Bukti adanya chaos pada tata surya secara observasi telah diamati oleh Duffet (1987). Ternyata diketahui bahwa satu tahun (revolusi) bumi juga terbukti erratic (tak menentu). Istilah erratic ini dipakai karena pada saat itu istilah chaotic belum familiar digunakan. Pada saat itu pula dikatakannya bahwa belum ada satupun cara penghitungan yang bisa dengan tepat untuk mencapai nilai erratic-alamiahnya peredaran bumi.
Ternyata Kita Juga Bisa Mensimulasikan Sistem Multy-Body
Mensimulasikan persamaan tiga bola yang menghasilkan lintasan periodic sampai chaotic ternyata juga dapat kita lakukan sendiri melalui internet, silahkan dilihat pada http://astro.u-strasbg.fr/~koppen/body , bahkan disini kita bisa men-simulasi-kan model empat-bola sampai banyak-bola. Dengan memasukkan angka kondisi (posisi) awal bola-bola yang kita pilih, tentunya berbagai macam, kita akan dapatkan berbagai lintasan chaotic yang aneh-aneh pula (karena sensitif terhadap kondisi awal). Lintasan aneh tersebut pada sistem dinamis sekarang dinamakan dengan strange attractor. Juga bisa melalui http://www.dynamical-systems.org/threebody , yang ini akan kita dapatkan animasi gerakan tiga bola dari yang periodik sampai chaotic dengan hanya mengisikan massa bola dan jarak awal antar bola-bola. Selamat mencoba.
Sebagai tips praktis bagi kita yang ingin belajar sendiri atau ingin tahu lebih banyak lagi tentang chaos pada tata surya di internet, kita bisa mengetikkan kalimat “chaos in solar system” atau “chaos in three body equation” atau lain sejenisnya pada mesin pencari seperti Google atau lainnya. Selamat menikmati.
Menyikapi Beda Satu Syawal
Lalu bagaimana menyikapi satu Syawal jika memang benar-benar beda ?. Dengan bekal pengetahuan (yang masih sangat terbatas) bahwa tata surya kita bergerak secara chaotic ini, semoga kita semua dapat memahami bahwa terjadinya perbedaan hasil simulasi (hisab) dan observasi (ru’yat) pada peredaran Bumi dan Bulan merupakan sesuatu yang sangat-sangat lumrah, sangat wajar dan sangat ilmiah.
Bagi yang berpegang pada ru’yat, dapat menghormati saudaranya yang berpegang pada hisab melalui pemahaman “orbit bumi dan bulan memang chaotic, tapi chaosnya kan sedikit”. Meskipun ada error, tetapi hasil ikhtiar simulasinya sangat bermanfaat untuk kemaslahatan ummat. Ummat tidak lagi harap-harap cemas tentang kapan datangnya satu Syawal. Juga, dapat ditetapkan pula jadwal-jadwal penting (dan dibuat kalender) lainnya. Hanya saja kita boleh mengingatkan kepada saudara kita ini agar sangat berhati-hati menentukan kondisi awal saat melakukan simulasi. Ini karena sedikit kesalahan pemilihan angka awal simulasi, bisa mengakibatkan yang diprediksi melihat (wujud) hilal misalnya di Tanjung Kodok, ternyata meleset di Bandung (tidak masalah) atau di Aceh (masih tidak masalah) atau tidak ada yang melihat di wilayah Indonesia (bisa jadi masalah), padahal untuk menentukan nilai awal yang benar-benar tepat juga menjadi masalah tersendiri, dimana pada simulasi-simulasi lain nilai-nilai awal ini justru malah sebaiknya diobservasi terlebih dahulu untuk meningkatkan validitasnya. Apalagi, disamping itu semua masih ditambah lagi dengan adanya kemungkinan terjadi ketidakterulangan yang ekstrim, yang susah diprediksi, yang bisa menambah ketidak akuratan yang ekstrim pula pada hasil hitungan.
Bagi yang berpegang pada hisab, dapat menghormati saudaranya yang berpegang pada ru’yat melalui pemahaman “walaupun sedikit, orbit Bumi dan Bulan kan tetap chaos”. Betapa sangat tinggi rasa berserah diri (muslim) dan bertawakkalnya saudara kita ini pada apa-apa (Matahari, Bumi dan Bulan) yang diperjalankan oleh Nya. Meskipun sangat halus perubahannya, seperti kecepatan pemanjangan kuku, bukankah dengan perjalanan waktu antar benua bisa terpisah ribuan kilometer akibat dihanyutkan oleh efek “boom-boom car” nya lempeng-lempeng tektonik yang chaos ?. Hanya saja kita juga boleh mengingatkan kepada saudara kita ini tentang bagaimana kesanggupan meng-istiqomah-i ru’yat ini saat penentuan awal waktu sholat lima waktu, seperti jaman Rasullullah dulu, yang juga belum ada jam dinding. Bukankah jadwal awal waktu sholat lima waktu yang kita pakai sehari-hari (meskipun tidak pernah kita evaluasi) saat ini adalah produk hisab (tahunan/bulanan/harian) ?
Atau, bagaimana kalau kita meniru apa yang biasa dilakukan oleh para ilmuwan dalam mencari kebenaran sebuah nilai. Mereka tidak mempertandingkan simulasi dan eksperimen (observasi, validasi, investigasi, verifikasi dan lainnya), melainkan justru memakai keduanya untuk saling melengkapi. Nilai hasil simulasi yang diperoleh mereka gunakan untuk acuan awal dalam menguji (eksperimen) nilai-nilai lain disekitar nilai hasil simulasi untuk mendapatkan nilai berapa yang benar-benar tepat. Jadi membuat hisab (prediksi) dulu, lalu nilai disekitar hasil hisab dievaluasi dengan ru’yat. Ini mungkin bisa diartikan berikhtiar lalu bertawakkal. Hanya saja perlu diingat, apakah cara seperti ini sudah dibenarkan menurut syar’i ?, atau apakah cara seperti ini justru sudah termasuk ijtihad ?. Ini perlu dikonsultasikan kepada ahlinya.
Jadi kita tidak perlu lagi memfanatiki angka sebuah tanggal, apalagi saling menyalahkan. Bagi yang berlebaran lebih awal, tidak perlu lagi menuding saudaranya yang berlebaran lebih akhir telah berbuat haram karena menganggapnya melakukan puasa di saat Idhul Fitri. Bagi yang berlebaran lebih akhir, tidak perlu lagi menuding saudaranya yang berlebaran lebih awal telah berbuat haram karena menganggapnya sengaja meninggalkan puasa di bulan Ramadhan. Hanya Allah dan RasulNya yang tahu.
Dengan saling menghormati dan mengikhlaskan pada segala niat baik diatas, semoga kita bisa bangun ukhwah seperti yang kita inginkan bersama, selamat menetapkan pilihan sesuai nurani, selamat merayakan Idul Fitri, minal aidin wal fa idzin, mohon ma’af lahir dan batin.
Penulis,
Eko Siswanto
Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya
Referensi,
1. Correia A, Laskar J, 2001. Doctoring the Spin on Venus. Physicsworld.com
2. Duffet P, Smitt, 1987. Practical Astronomy with Your Calculator, Cambridge University.
3. Knill O, 2000. Three Body Problem.
http://www.dynamical-systems.org/threebody
4. Koppen Kiel J, 2006. Three Bodies in Gravitation.
http://astro.u-strasbg.fr/~koppen/body/ThreeBody.html
5. Laskar J, 2003. Chaos in the Solar System, Astronomie et Systemes Dynamiques,
IMCCE-observatorie de Paris.
6. Murray C, 2006. Is the Solar System Stable ?.
http://www.fortunecity.com
7. Wikipedia, 2007. Chaos Theory.
http://en.wikipedia.org
Available Translations : Arabic | Bulgarian | Chinese (Simplified) | Chinese (Traditional) | Croatian | Czech | Danish | Dutch | English | Filipino | Finnish | French | German | Greek | Hebrew | Hindi | Indonesian | Italian | Japanese | Korean | Latvian | Lithuanian | Norwegian | Polish | Portuguese | Romanian | Russian | Serbian | Slovak | Slovenian | Spanish | Swedish | Ukrainian | Vietnamese
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.









on 22 August 2008 @ 7:02
Artinya sistem Tata Surya yang chaos adalah adanya proses Evolusi pada sistem tata surya kita, Yang saya ketahui memang teori pembentukan Bumi yang terjadi selama jutaan tahun adalah suatu proses Evolusi.
Penjelasan Ilmiah sangat dibutuhkan untuk Umat Islam, nah Saya sebagai salah satu Umat Islam juga mengharapkan agar Pemerintah dan Para Ulama bisa memahami penjelasan ini. Artinya perbedaan dalam menentukan 1 Syawal bisa dibicarakan secara Arief dengan penjelasan dan argumen Ilmiah….
Wassalam,
Bahang
on 22 August 2008 @ 7:48
Jadi sampai saat ini untuk 1 syawalnya belum ditentukan. ditempat saya Bogor isunya tanggal 1 September mulai puasa, nanti kalau beda awal dan akhir yang penting saling menghormati rak yo ngono to Maz…..?
on 22 August 2008 @ 10:43
on 22 August 2008 @ 14:25
waduh, tulisanmu, gam.udah panjang materinya njelimet pulak
tak kopi dulu deh, mbacanya belakangan ^^
on 23 August 2008 @ 8:26
perasaanku sama dg toim
…BTW, boleh kenal dengan Eko Siswanto sbg penulisnya? adakah email atau webnya?
on 23 August 2008 @ 13:26
Wah baru tau saya arti dari perbedaan 1 syawal ituh. Bertambah lagi ilmu saya.
on 24 August 2008 @ 9:53
Assalamualaikum,
Perbedaan dalam penentuan awal Syawal adalah sesuatu yang lumprah terjadi,karena sudut pandang yg berbeda. Namun demikian,hendaknya perbedaan ini tdk menjadi perpecahan umat islam.Adalah tugas pemerintah untuk mencari solusi agar perbedaan penentuan awal ramadhan dan Syawal bisa segera terealisai. Amin. Marhaban ya Ramadhan.
Wassalam
on 25 August 2008 @ 13:38
Mudah - mudaan tulisan ini bermanfaat buat kita semua,dan bertambah ilmu kita tentunya.
jangan maunya ribut terus lah wong kita ini saudara koq..ntar di sorakin sama yg lain loh….
on 25 August 2008 @ 13:43
Salam Kenal.
Numpang sosialisasi tentang kajial alquran by HSQ methode ya
Assalaamu’alaykumwarahmatullahiwabarokaatuh
Dengan hormat. Semoga hidayah,kesehatam dan keberkahan senatiasa rahman Allah menyertai kita.amin
Bersama ini perkenankan saya mengundang anda semua darimana pun anda, juga tidak lupa para pengkaji dan pecinta khasanah keilmuan Al Quran, kiranya berkenan mengunjungi web yang bersikan artikel tentang study al quran dengan metode Innovation (HSQ), apa itu metode HSQ dan implementasinya untuk pengembangan keilmuan Al Quran silakan kunjungi :
http://www.studialquran.co.nr
Bagaimana janji Allah bahwa Al Quraan adalah lautan khasanah keilmuan, karena berkandungan Ilmu-itulah Alquran salah satunya memosisikan diri sebagai manual book /panduan untuk memperoleh hudawwarohmah, barokah wassyifak (soluai segala permasalahan kehidupan).
Realita yang disadari oleh manusia Bahwa salah satu pokok problematika kehidupan manusia bersumber dari tiap diri manusia sendiri . karenyalah kini psikologi sebagai salah satu cabang keilmuan yang amat penting, seagai keilmuan yang diimplemetasikan untuk mengatasi permasalahan hambatan dalam menggapai kesuksesan , bilamana psikologi dianggap mumpuni untuk mengatasi problematika kehidupan manusia, tentunya sudah semestinya alquran adalah hudan (sumber solusi dari Illahi yang maha lengkap ), konskwensi logisnya Al Quran juga bisa berbicara tentang psikologi, apa itu psikologi alquran dan bagaimana metode,manfaat dan keilmiahannya berdasarkan index keakurasianya, silahkan anda klik
http://www.psikologialquran.co.cc
Namun kritikan perihal lambatnya web, maaf saya belum bisa menjawabnya karena ini domain gratisan, saya akan sangat beruntung bilamana ada yang bersedia membantu mendesainkan web lebih menarik dan mensosialisasikannya.
Semuanya Free
Juga pada kesempatan ini saya informasikan kepada semua pecinta alquran yang memerlukan software alquran yang berbasis tentang data alquran, seperti jumlah pengulangan suatu kata di alquran dan penafsirannya dari beberbagai mufasir konvensional dan modern bisa di dapat pada kajian rutin bulanan tiap tanggal 7 pukul 19.30.di Bandung, alamat bergilir, berminat software qsoft dan akan mengunjungi kajian alquran dan share tetang alquran berbasis data base dan managemen informatika atau IT Al Quram bisa hubungi saya di 02276061708 atau 081802030299.ingin bersilaturahmi dengan saya bisa kunjungi
http://www.gusiful.co.nr
Billlahittaufiq wal hidayah wassalamulaikum wr wb.
Bandung 17-8- 2008
Saiful Bahrie
Gusiful
_
on 26 August 2008 @ 15:40
aku kira chaos tomat
hehehe
on 26 August 2008 @ 16:26
Artikel yang bagus. Blognya makin banyak iklannya aja. Tambah laris ya. Good luck.
on 26 August 2008 @ 19:23
Artikel yang bagus agam dan jika kita sadar semakin panasnya matahari menyinari alam ini selain dari efek semakin tipisnya penghijauan juga semakin besarnya energi gravitasi matahari untuk menyedot bumi.
Marhaban ya Ramadhan
on 28 August 2008 @ 21:13
Wah, saya kok baru tahu pluto dah bukan anggota tata surya. Buku2 pelajaran sekolah dah direvisi/belum ya?
Oh,ya. Dah hampir bln ramadhan. Selamat menunaikan,ya! Mohon maaf lahir dan batin
on 30 August 2008 @ 22:31
wah manteb nih analisanya panjang dan lama
kayak makala.
sebuah pencerahan tentang berbedaan. dan sepertinya perbedaan itu akan terus berlangsung sepanjang zaman, bisa jadi karna ego dan cara pandang yg emang sulit tuk ktemu.
MARAHABAN YA RAMADHAN
on 9 September 2008 @ 11:18
TEORI chaos menarik perhatian para ilmuwan dunia di tahun 1960-an. Salah satu paper ilmiah yang menandai “kelahiran” topik ini adalah karya dari Edward Lorenz. Meskipun demikian, nama-nama seperti B van der Pol, Duffing, dan M He’non tidak dapat dilupakan dalam proses kelahiran topik ini. Chaos pertama kali terobservasi dalam sebuah sistem yang dikenal dengan nama sistem dinamis. Tidaklah berlebihan jika kelahiran sistem dinamis dikaitkan dengan seorang matematikawan Perancis, Henri Poincare’ pada masa pergantian dari abad ke-19 ke abad ke-20. Pada era itu, perhatian matematikawan terpusat pada pencarian solusi dari suatu sistem. Henri Poincare’ adalah yang pertama kali membangun suatu metode untuk menganalisis sistem tanpa menghitung solusi secara eksplisit dan melahirkan teori modern tentang persamaan diferensial. Dari tulisan Henri Poincare’, dapat disimpulkan bahwa Poincare’ telah mengenal chaos. Pada permulaan abad ke-20, yaitu masa hidup B van der Pol, Duffing, maupun E Lorenz, trend yang berkembang adalah keyakinan bahwa sebuah sistem dapat “berperilaku” sangat liar, namun suatu saat akhirnya sistem akan kembali pada kondisi kesetimbangan. Ini bertentangan sama sekali dengan chaos yang telah dilihat oleh ketiga orang tersebut. Bukan tidak mungkin ada list yang lebih panjang lagi berisi nama-nama orang yang telah melihat fenomena chaos di sistem yang mereka miliki, namun tidak berani memublikasikannya. Edward Lorenz sendiri mendapat reaksi negatif dari rekannya ketika ia dengan penuh semangat menjelaskan fenomena itu, “Ed, alam di mana kita hidup tidak berperilaku seperti yang kau deskripsikan!” Kata seorang profesor Fisika kepada E Lorenz. Ada seorang matematikawan bernama Stephen Smale yang sebenarnya kontra terhadap teori chaos. Tetapi ketika ia membaca paper E Lorenz, ia mulai berpikir tentang kemungkinan selain teorinya sendiri. Akhirnya, ia menciptakan Pemetaan Sepatu Kuda (Horse-shoe map) yang sampai saat ini merupakan bentuk paling sederhana dari sistem yang memuat skenario menuju chaos.
on 11 September 2008 @ 22:43
iya emang..nek tak baca2 ttg asal muasal chaos ini memang sangat menarik. Sebelum Lorenz, memang ada beberapa ilmuwan yang mendahuluinya tahu ttg fenomena chaos, cuma para ilmuwan tersebut tidak berani mengutarakannya. Sebut saja van der pol, dia hanya mengatakan “noisy behaviour” pada tabung lampu temuannya. Duffing menyebutnya dg “cubic spring characteristic” pada getaran pegas nonlinier temuannya. Juga Henry Poincare menyebut “perilaku nonlinier” pada hasil hitungan matematisnya. Lorenz sendiri setelah menemukan perilaku ini tidak berani langsung mempublish temuannya, dia tanyakan kpd seorang teman matematikawannya untuk mengoreksi persamaan yang dibangunnya, ternyata gak ada masalah..trus apakah komputernya…jg ga ada masalah..dan banyak kritikan negatif yg ditujukan kpdnya. oleh krnnya dia baru mempublish temuannya pada thn 1972, meskipun dia tahu tahun 1963..tentang “butterfly effect” (= sensitif thd kondisi awal) temuannya.. Yahh chaos memang sangat menarik..
on 12 September 2008 @ 11:54
Dengan ditemukannya teori chaos ini, semakin menguatkan bahwa perintah untuk mengawali dan megakhiri ibadah Syaum Romadhon adalah dengan “ru’yatul hilal” seperti termaktub dalam hadits.
Untuk lebih jelasnya saya kutip tanya-jawab di:
http://hizbut-tahrir.or.id/2007/10/01/haruskah-awal-dan-akhir-ramadhan-ditentukan-dengan-rukyat/
Haruskah Awal dan Akhir Ramadhan Ditentukan Dengan Rukyat
Soal:
Ada yang menyatakan, bahwa menentukan awal-akhir Ramadhan tidak harus dengan rukyat, tetapi bisa dengan hisab (perhitungan astronomi), sebagaimana yang digunakan dalam menentukan waktu shalat. Apakah memang boleh demikian? Jika tidak, mengapa? Bukankah hisab boleh digunakan dalam menentukan waktu shalat, berarti seharusnya boleh juga digunakan untuk menentukan awal-akhir Ramadhan?
Jawab:
Untuk menjelaskan boleh-tidaknya hal di atas, kami akan menjelaskan beberapa ketentuan sebagai berikut:
Pertama: Allah Swt. telah meminta kita agar beribadah sebagaimana yang Dia perintahkan. Jika kita beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang Dia perintahkan, berarti kita telah melakukan kesalahan meskipun apa yang kita lakukan itu kita anggap baik dan benar.
Kedua: Allah Swt. telah memerintahkan kita berpuasa dan berhari raya karena melihat hilal (rukyat al-hilal). Dia juga telah menjadikan rukyat sebagai sebab berpuasa dan berhari raya:
????????? ???????????? ????????????? ????????????
Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berhari rayalah kalian karena melihatnya. (HR. Muslim)
Jika kita telah melihat hilal Ramadhan, kita berpuasa; jika kita melihat hilal Syawal, kita pun berhari raya.
Ketiga: Jika kita tidak mampu melihat hilal Syawal, misalnya karena mendung benar-benar telah menyelimutinya, sekalipun hilal tersebut nyata-nyata ada, maka kenyataannya kita tidak akan berpuasa dan berhari raya karena alasan awal bulan. Sebab, hadisnya dengan tegas menyatakan:
?????? ???????? ?????????? ????????????? ??????? ?????????
Jika mendung telah menghalangi kalian maka sempurnakanlah (genapkanlah) hitungan bulan Sya‘ban. (HR Muslim)
Keempat: Allah Swt. tidak membebani kita untuk beribadah kepada-Nya dengan cara yang tidak Dia perintahkan. Misalnya, seandainya hisab (perhitungan astronomi) menyatakan bahwa besok secara pasti adalah bulan Ramadhan—dan pada zaman sekarang perhitungan astronomi bisa menetapkan posisi bulan sejak bulan tersebut lahir hingga bulan purnama, kemudian menyusut, serta menghitungnya dari waktu ke waktu—tetapi faktanya kita memang benar-benar tidak bisa melihat hilal tersebut, karena mendung misalnya, maka status orang yang berpuasa (karena perhitungan tersebut) adalah dosa, meski dengan alasan bahwa Ramadhan memang benar-benar telah masuk. Dia tetap dianggap berdosa karena hilal belum bisa dilihat, tetapi dia tetap berpuasa. Padahal seharusnya dia menyempurnakan Sya‘ban menjadi 30 hari. Setelah itu, baru dia berpuasa. Jadi, orang yang berpuasa Ramadhan dalam kondisi seperti ini pada dasarnya berdosa karena dia telah melakukan pelanggaran. Sebaliknya, orang yang menyempurnakan hitungan Sya‘ban dan belum berpuasa—meski hilal tersebut nyata-nyata ada, tetapi tidak terlihat karena tertutup awan—tetap mendapatkan pahala karena mengikuti hadis Nabi di atas.
Kelima: Dari sini tampak dengan jelas, bahwa kita tidak berpuasa dan berhari raya karena faktor bulannya, tetapi karena faktor melihat hilal. Jika kita telah melihatnya maka kita wajib berpuasa. Jika belum melihatnya maka kita pun tidak boleh berpuasa, sekalipun bulan tersebut—menurut perhitungan astronomi—benar-benar telah masuk.
Keenam: Jika ada sejumlah saksi, dan mereka telah memberikan kesaksian terhadap rukyat, maka mereka pun harus diperlakukan sama dengan kasus kesaksian yang lain. Jika saksinya Muslim dan tidak Fasik maka kesaksiannya bisa diterima. Jika saksi tersebut tampaknya bukan Muslim, dan tidak adil, atau fasik, maka kesaksiannya tidak boleh diterima.
Keenam: Penetapan kefasikan saksi juga harus dilakukan melalui pembuktian syar‘i, bukan berdasarkan perhitungan astronomi. Dengan kata lain, perhitungan tersebut tidak bisa digunakan untuk membangun hujjah (argumentasi). Misalnya, Anda mengatakan, “Beberapa jam lalu telah terjadi lahirnya anak bulan sehingga sekarang tidak bisa dilihat…” Memang, ada perbedaan pendapat di kalangan ahli astronomi tentang tenggat waktu setelah lahirnya anak bulan yang memungkinkan dilakukannya rukyat. Jadi, kesaksian yang menjadi saksi perhitungan astronomi tersebut tidak boleh dijadikan hujjah, tetapi perhitungannya bisa dibahas, dan dinyatakan benar setelah melihat hilal. Dia juga boleh ditanya, di mana hilal tersebut muncul, sementara yang lain menyaksikannya secara langsung. Begitu seterusnya. Setelah itu, kesaksian rukyat tersebut diterima atau ditolak berdasarkan prinsip ini.
Ketujuh: Siapa saja yang menelaah nas-nas yang menyatakan hukum puasa, pasti akan menemukan adanya perbedaan dengan nas-nas yang menyatakan hukum shalat. Puasa dan hari raya telah dihubungkan dengan rukyat:
????????? ???????????? ????????????? ????????????
Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berhari rayalah kalian karena melihatnya. (HR Muslim).
?????? ?????? ???????? ????????? ????????????
Siapa saja di antara kalian yang menyaksikan bulan (hilal Ramadhan) maka hendaknya dia berpuasa. (QS al-Baqarah [a2]: 185).
Jadi, yang menentukan (puasa dan hari raya) adalah rukyat. Berbeda dengan nas-nas shalat yang dihubungkan dengan waktu:
?????? ?????????? ?????????? ?????????
Dirikanlah shalat karena matahari telah tergelincir. (QS al-Isra’ [17]: 78).
«????? ??????? ????????? ??????????»
Jika matahari telah tergelincir maka shalatlah kalian. (HR at-Thabrani).
Jadi, praktik shalat memang bergantung pada waktu, dan dengan cara apapun agar waktu shalat itu bisa dibuktikan maka shalat pun bisa dilakukan dengan cara tersebut. Jika Anda melihat matahari untuk melihat waktu zawal (tergelincirnya matahari), atau melihat bayangan agar Anda bisa melihat bayangan benda, apakah sama atau melebihinya, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis-hadis tentang waktu shalat; jika Anda melakukanya dan Anda bisa membuktikan waktu tersebut maka shalat Anda pun sah. Jika Anda tidak melakukannya, tetapi cukup dengan menghitungnya dengan perhitungan astronomi, kemudian Anda tahu bahwa waktu zawal itu jatuh jam ini, kemudian Anda melihat jam Anda, tanpa harus keluar untuk melihat matahari atau bayangan, maka shalat Anda pun sah. Dengan kata lain, waktu tersebut bisa dibuktikan dengan cara apapun. Mengapa? Karena Allah Swt. telah memerintahkan Anda untuk melakukan shalat ketika waktunya masuk, dan menyerahkan kepada Anda untuk melakukan pembuktian masuknya waktu tersebut tanpa memberikan ketentuan detail, tentang bagaimana cara membuktikannya. Berbeda dengan puasa. Allah memerintahkan Anda berpuasa berdasarkan rukyat. Dia pun menentukan sebab (berpuasa dan berhari raya) untuk Anda. Lebih dari itu, Dia menyatakan kepada Anda, “Jika mendung menghalangi rukyat sehingga tidak terlihat maka janganlah Anda berpuasa, meskipun hilal tersebut ada di balik mendung, dan Anda yakin hilal tersebut ada melalui perhitungan astronomi.”
Ketujuh: Allah Swt. adalah Pencipta alam ini. Dialah yang mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya. Pengetahuan tentang pergerakan bintang dan rinciannya adalah anugerah dari Allah kepada umat manusia. Namun, Allah Swt. tidak memerintah kita untuk beribadah dengan berpijak pada perhitungan astronomi, tetapi memerintah kita untuk melakukan rukyat. Karena itulah, sehingga kita pun beribadah kepada-Nya sebagaimana yang Dia perintahkan, dan tidak beribadah kepada-Nya dengan apa yang tidak Dia perintahkan.
Dengan demikian, hanya rukyat-lah satu-satunya penentu dalam berpuasa dan berhari raya, bukan perhitungan astronomi. Karena itu, saya menegaskan, bahwa perhitungan astronomi tidak boleh digunakan untuk berpuasa dan berhari raya; hanya rukyat-lah satu-satunya yang boleh. Sebab, itulah yang dinyatakan dalam nas-nas syariah. Wallâhu a‘lam. [Ust. Hafidz Abdurrahman]
on 12 September 2008 @ 13:44
nambahi eswo. katanya sih kata chaos baru dikenal saat ahli fluida yg bernama aref pada thn ‘82 nemuin chaos pada fluida kental dalam dua tabung konsentris . Jika salah satu tabung diputer, dlm fluida tsb terjadi stretching dan folding meskipun fluida dalam kondisi laminer. sejak temuan ini ktnya kajian2 chaos makin buanyak dan kt chaos semakin populer. nggak gitu tahh ?
on 12 September 2008 @ 14:02
Bagaimana dengan ketepatan prediksi gerhana bulan dalam kurun waktu setidak-tidaknya 10 tahun terakhir? Kalau bisa ada data ketepatannya untuk menguji seberapa jauh penyimpangan metode hisab. Setahu saya dalam 20 tahun terakhir prediksi gerhana bulan yang dipublikasikan media massa selalu tepat. Hanya sayangnya saya tidak pernah mencatat secara detail.
on 13 September 2008 @ 10:44
Salam ukwah, mas khoirul. Saya eko siswanto, penulis artikel diatas..
Terimakasih atas komennya, pertanyaan yg bagus..
Begini, data2 yg mas khoirul maksud, saya tidak punya juga. Akan tetapi, kalau untuk masalah ketepatan prediksi gerhana bulan, saya mungkin bisa memberi sedikit gambaran.
Scr perhitungan, gerhana bulan dg awal bulan tidak dapat disepadankan. Mengapa ? karena pd grhana bulan, posisi penampakannya (scr umum) hanya dibagi dua bagian : grhna bulan total dan grhana bulan sebagian. Grhana bulan sebagian (pada tulisan populer / media massa)tidak merinci, misalnya grhana seperlima bulankah?, sepertujuhbelas bulankah?, dst..dst. Sehingga berapapun luasan bulan yg terhalangi bumi akan termasuk GERHANA SEBAGIAN diatas. Jadi menebaknya akan lebih mudah.(=hitungan ini masih hitungan global)
Ini berbeda dg perhitungan awal bulan, dimana posisi bulan dibagi menjadi 30 bagian (kalau pas umurnya 30 hari lho), shg diperlukan ketelitian yg lebih tinggi, atau menebaknya akan relatif lebih sulit. Jadi akan lebih sepadan jika pertanyaannya begini : Kapan terjadi gerhana TEPAT sepertigapuluh bagian bulan?. Apalagi, jika ditambahkan lagi: Kapan terjadi gerhana TEPAT sepertigapuluh bagian bulan TEPAT pd sebuah titik di bumi pd lintang X dan bujur Y? dst..dst. (semakin renik hitungan, nanti akan semakin tampak fenomena chaosnya hasil, krn semakin menuju hitungan local instability).
Kedua, selain yg dirujuk hanya posisi global bulan, proses penghitungan simulasi yg dilakukan biasanya dilakukan tidak jauh2 amat dari prediksi global tsb, artinya angka2 posisi awal ketiga bola yg dimasukkan program simulasi tidak berasal dari 50 thn yg lalu, tapi setengah bulan, atau bahkan utk meningkatkan akurasi prediksinya, sering dilakukan simulasi ulang satu hari atau beberapa hari menjelang gerhana globalnya. Ini berarti, prediksi BESOK GERHANA brdasar angka awal posisi ketiga bola 50 thn lalu atau setahun lalu dibuang (dipotong), digantikan dg prediksi BESOK GERHANA bdsar simulasi dg angka awal hasil observasi sekarang atau kemarin lusa.
Nah kmbali ke esensi masalah. Pemotongan (pembuangan) proses simulasi terdahulu inilah yg juga biasa dilakukan oleh saudara kita yg melakukan hisab pd tiap2 awal/akhir bulan. Jd misalnya meprediksi kapan akhir ramadhan, mk diambil angka awal posisi tiga bola pd awal ramadhan (biasanya dg observasi)kmdian angka ini dimasukkan k program simulasinya, lalu dihasilkan kapan akhir ramadhan. Jd hasil simulasi akhir bulan sya’ban berdasar awal bulan sya’ban dipotong (trancated) atau nggak dipakai, begitu seterusnya tiap2 bulan. Pemotongan ini bisa juga dilakukan tiap awal/akhir tahun, tapi jelas, melesetnya hasil pemotongan tiap tahun akan relatif lebih tinggi drpd pemotongan tiap bulan.
Sehingga, model hisab diatas akan bisa lain ceritanya jika dilakukan berdasar angka awal 50 thn lalu dg TANPA ADA PEMOTONGAN.
###
Akan tetapi mas khoirul, nggak usah risau, kan sudah tertulis jika chaosnya bumi-bulan ini adalah LEMAH, yg jika “diglobalkan” jmlh hari tiap2 bulan produk chaos ini hanya menghasilkan rentang dua hari, yaitu kalau nggak berumur 29 ya 30 hari.
Saya jg berharap, simpangan waktu chaoticnya ketiga bola pd ramadhan kali ini masih masuk pd toleransi yg tidak sampai menghasilkan selisih waktu lebih dari satu hari pd saat dilakukan observasi (rukyat) akhir bulan nanti trhdadp prediksi hisab yg tlh ditetapkan oleh saudara kita, yaitu 30 hari. Shg kita semua dpt beridhul fitri scr bersama-sama…aamiiin.
Demikian, semoga bermanfaat..amiin.
Sekali lagi, salam ukhwah dan jabat erat ..
on 16 September 2008 @ 6:23
Salam ukhwah, mas abu naufal..
terimakasih atas komennya.
Saya akan sedikit merespon komennya mas naufal, dari kacamata ilmiah pula. Sy tdk akan merespon, misalnya : mengapa melihat ‘mathari tlh trgelincir’ dan ‘melihat bulan’ diartikan beda, yg satu diartikan waktu yg lain tidak. Jg ttg dosa/tidak, karena sy bukan ahlinya.
Begini mas naufal, scr ilmiah, memang saya (dan insyaAllah seluruh peneliti juga) akan sependapat kalau hasil observasi lebih valid drpd hasil simulasi jika ditanya : manakah yg lebih valid ?. Akan ttp, sekali lagi, pertanyaan tsb adalah pertanyaan pertandingan.
Sebaliknya mas naufal, saya (insyaAllah seluruh peneliti juga)tidak sependapat kalau ada pernyataan bahwa : simulasi tidaklah penting. Sebab, dg hasil simulasi kita akan sangat terbantu, misalnya untuk menentukan : kapan atau dimana observasi sebaiknya akan mulai dilakukan. Jadi disini simulasi tidak untuk ditandingkan dg observasi, melainkan dipakai untuk “reng-rengan” atau “dasar rencana” kapan kira-kira observasi dilakukan.
Jadi, secara ilmiah, rukyat memang lebih valid, akan tetapi untuk melaksanakan rukyat (untuk kondisi ummat skrng) sangat dibutuhkan hisab.
Maksud saya begini, misalkan “reng-rengan” diatas kita ganti dg KALENDER (krn kalender adalah produk hisab). Terus misalkan didunia ini tidak ada kalender samasekali. Bisa kita bayangkan sekarang, untuk menentukan kapan ru’yat dilakukan agar tidak terlalu lambat atau terlalu dini thd wujudnya hilal awal/akhir ramadhan/syawal tahun depan, kita akan harus “menthelengi” bilangan hari disetiap hari selama setahun penuh. Setelah itu kita harus menthelengi lagi untuk awal syawal tahun depannya lagi..dan lagi..Begitu seterusnya.
Lebih detail lagi mas naufal, jika tidak ada kalender, sy (pribadi) khawatir nanti Allah menambah ujian lagi bagi kita. Maksud saya, jika tidak ada kalender, jangankan untuk “menyepakati” kapan idhul fitri tahun depan, untuk menyepakati kapan hari jum’at saja (dg kondisi ummat skrng yg terlalu sibuk untuk menthelengi bilangan hari serta ditambah lagi dgn berbeda-bedanya daya ingat dan tingkatan lupa) mungkin Allah akan menguji kita dg fenomena begini : “kapan hari jum’at?”. Ada yg jawab,”di malang sudah kemarin”. Tapi ada yg jawab lain,”Lho ditempatku surabaya katanya besok”. Naudzubillah..
Jd menurut saya, menentukan kapan mestinya melakukan ru’yat awal syawal tahun depan tanpa adanya kalender (hisab), bisa diartikan membangun gedung pencakar langit tanpa ada gambar, atau menyeberangi selat madura tanpa kapal (=dgn berenang). Bisa memang .., tapi akan sangat membebani/menyulitkan diri. Bukankah Allah menghendaki kemudahan..
Jd sekali lagi, menurut hemat saya, alangkah baiknya pelaksanaan observasi didahului oleh simulasi, atau dg kata lain, hisab dapat dijadikan “alat bantu” ru’yat.
###
oiya, hampir lupa, dgn tanpa adanya mendungpun, umur bulan memang kadang 29 kadang 30 hari, dan itu sekali lagi membuktikan ketidakperiodikan lintasan bulan, yg untuk mengetahuinya secara otentik sangat dibutuhkan observasi (ru’yat)..
Demikian, semoga bermanfaat..amiin
sekali lagi, salam ukhwah dan jabat erat..
on 16 September 2008 @ 9:47
Assalamualikum wr.wb. Wah saya sangat setuju dengan komentar mas Eko ( hi… bolehkan manggil mas EKO ) memang seharusnyalah kita sebagai saudara sesama muslim tidak perlu lagi mempertandingkan antara Hisab & Rukyat, mungkin akan lebih bijak jika kita menyandingkan antara Hisab dan Rukyat, memang dalam penentuan awal bulan tuntunan yg ada adalah dengan melihat hilal ( Rukyat )namun tidak bisa dipungkiri bahwa hisab juga sangat diperlukan untuk menghitung posisi bulan & matahari sehingga dapat digunakan utnuk penentuan tahun,bulan,tanggal dan waktu sholat karena jika hanya mengandalkan melihat bayangan maka jika mendung kita akan kesulitan menentukan waktu sholat. BTW marilah kita persatukan antar Hisab & Rukyat yaitu menggunakan Hisab sebagai ancang-ancang kapan saat yang tepat untuk melihat Hilal. Karena keterbatasan ilmu kita maka terjadilah perbedaan pendapat tentang hal ini, namun Semoga semua bahasan kita ini tercatat sebagai amalan soleh bagi kita karena telah berusaha untuk mempersatukan umat,dan
Mohon maaf bila ada kekeliruan dari komentar saya ini.
Buat mas Rosyidi semoga website ini banyak kemanfaatannya magi kemaslahatn umat dan terjaga dari keburukan makhul Allah…amin
Wassalamualaikum wr. wb. Salam ukhwah.
on 18 September 2008 @ 7:55
Teori Chaos adalah teori yang menjelaskan gerakan atau dinamika yang kompleks dan tak terduga dari sebuah sistem, tergantung dari kondisi awalnya. Walaupun berlangsung secara acak, sistem yang chaotik nyatanya dapat ditentukan secara matematis. Ini karena sistem yang chaotik juga mengikuti hukum-hukum yang berlaku di alam. Hanya saja, karena sifatnya yang tidak teratur maka pengamat akan melihatnya sebagai peristiwa yang acak. Dalam terminologi matematis, sebuah sistem nonlinear (sistem yang tidak bisa diprediksi berdasarkan perilaku terdahulunya) yang memiliki cukup variabel (besaran yang tidak diketahui), dapat dinyatakan sebagai sebuah sistem yang chaotik.
Sifat chaotik ditemukan pada berbagai sistem yang umum, mulai dari sistem yang sederhana seperti gerak pendulum sampai pada sistem yang kompleks semacam sirkuit elektronik, irama detak jantung, aktifitas listrik pada otak, serta aliran benda cair dan reaksi kimia. Bahkan diduga kuat bahwa sistem ekonomi seperti pergerakan harga di bursa saham, kurs mata uang, sampai harga minyak mentah, merupakan sistem yang chaotik pula. Dengan demikian, chaos juga mulai beranjak dari semata-mata teoritis menjadi ilmu terapan.
Pada awal dekade 1980-an, beberapa eksperimen secara teratur menunjukkan bahwa banyak sistem fisika maupun biologis yang bersifat chaotik. Salah satu sistem semacam itu yang pertama kali ditemukan adalah tetesan air yang mengucur dari sebuah wadah yang bocor. Dalam kondisi tertentu, selang waktu menetesnya air menunjukkan perilaku yang chaotik, sehingga mustahil untuk diprediksi.
Dewasa ini, para ilmuwan telah berusaha untuk mengembangkan aplikasi yang memanfaatkan prinsip chaos. Diantaranya adalah teknik pengontrolan yang dipakai untuk menstabilkan pancaran laser, manipulasi reaksi kimia, menyandikan informasi, hingga mengubah irama detak jantung yang tidak teratur menjadi teratur. Teori chaos juga berperan besar untuk menunjukkan gejala-gejala ekonomi yang berubah-ubah. Fluktuasi kurs mata uang, harga saham, atau harga minyak mentah sebenarnya juga merupakan sebagian dari gejala chaos yang dapat diamati.