Ahli Kunci
2,888 views
Seorang ahli kunci ternama bermaksud ingin mewariskan ilmu kepada kedua orang muridnya. Setelah dididik beberapa tahun, kedua murid itu telah mahir dan menguasai beberapa tehnik cara membuka berbagai jenis gembok. Untuk menentukan ahli warisnya, ahli kunci itu bermaksud menguji mereka secara bersamaan.
Disiapkannya dua kotak terkunci, yang didalamnya berisi sebuah barang berharga, yang ditempatkan di dua kamar yang bersebelahan. Si A dan Si B masuk ke dua kamar yang telah disediakan.
Tidak lama kemudian, Si A keluar, dia telah menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Sang guru bertanya, “Wah, begitu cepatnya kamu membuka. Apa isi kotak itu?” Di dalam kotak terletak sebuah permata yang sinarnya indah sekali.
Tak lama kemudian Si B keluar ruangan, kembali pertanyaan yang sama diajukan kepada Si B ” Apa isi kotak yang berhasil kamu buka?”. B menjawab “Aku hanya membuka gembok, dan kemudian keluar, tidak membuka kotak, apalagi melihat isi bungkusan dalam kotak itu”.
Akhirnya diputuskan sang guru, bahwa Si B yang menjadi Ahli warisnya. Keputusan itu tentu tidak diterima oleh Si A. Dengan penasaran ia bertanya “Guru aku lebih cepat membuka gembok daripada Si B, kenapa bukan aku sebagai ahli waris guru?” Profesi kita adalah tukang kunci, tugasnya adalah membantu pemilik yang kuncinya hilang atau rusak agar si pemilik mendapatkan barangnya. Membuka gembok adalah tugas kita. Setelah gembok telah dibuka, kita juga berusaha melihat isinya, itu berarti melanggar moral etika profesi kita sebagai ahli kunci. Tidak peduli apapun pekerjaan kita. Moral etika professional harus dijunjung tinggi, karena tanpa moral etika seorang ahli kunci dengan mudah berganti profesi menjadi pencuri.
Si A mengangguk-angguk puas dengan jawaban sang guru, dia menyadari dimana letak kesalahannya, dan bersyukur telah mendapat pelajaran yang berharga sebelum terjun ke masyarakat. Meskupun ada perasaan kecewa bahwa ia bukan ahli waris yang ditunjuk, ia berjanji pada dirinya sendiri kelak akan menjalankan profesinya dengan dasar moral dan etika.
==
Kita sebagai professional di bidang apapun harus mampu melakukan tugas pekerjaan sesuai dengan lingkup kerja kita. Jika kita tidak mengerti fungsi dan tanggung jawab sebagai professional secara baik dan benar, maka akan mudah bagi kita untuk terjerumus dan melakukan pelanggaran yang tidak semestinya. Bila keahlian tanpa moralitas yang benar, pasti akan menjadikan penjahat-penjahat kelas dunia yang tentunya akan mempermalukan keluarga di kemudian hari.
Politisi yang tidak professional akan dengan mudahnya beralih profesi menjadi koruptor.
Polisi yang tidak professional akan dengan mudahnya beralih profesi menjadi pemungut liar.
Hakim yang tidak professional akan dengan mudahnya menjual belikan kasus.
Hacker yang tidak professional akan dengan mudahnya beralih profesi menjadi cracker.
Dokter yang tidak professional akan dengan mudahnya beralih profesi menjadi penjual resep atau surat izin sakit.
dll.
Ditulis ulang dari CD Audio Andrie Wongso dengan sedikit tambahan oleh : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/ahli-kunci/
Sumber gambar : home.comcast.net
Related Posts (Artikel Terkait) :- Beda Hacker dan Cracker
- Tuntutlah Ilmu ke Cina Bukan Sabda Rasulullah
- Rekor Tidur Selama Satu Tahun Terpecahkan
- Mencairkan Dollar Paypal sebelum 100 dollar
- Ons bukan Ounce
- Cara Melarikan Diri Ketika Kebakaran
- Jangan Gunakan Botol Aqua Berkali-kali
- Sumbangan Untuk Palestina
- Tukeran Link ala MLM
- Sejarah Wajah Michael Jackson

Kirim ke Teman di Facebook










kesimpulannya gimana kuncinya ya. pake kunci beneran ato pake linggis buat bukanya.
blogger yang tidak proffesional bisa jadi apa ya?
blogger yang tidak profesional berpotensi jadi hacker gak ya?
Critane rodo lumayan, kasihan si A nggak dapet warisan,,,,?
kalo ,,, semua sadar akan itu semua,, perselisihan di antara sesama profesi pasti akan tidak ada ,,,
hmm,,, temen² kok mengkaitkan dengan kaum publisher yaa,,,
keren oiii,,,
tp kalo selalu kopas walopun merujuk si penulisnya,, kapan kita bisa berkaryaa prend,,, ?…
sip dah, ntar pinjem CD Andrie Wongso nya Gam
Kalau yang dibukan kunci pagar, nggak apa-apa kan melihat halamannya? Hahaha…
Btw, tulisan yang menarik Mas.
tp kadang napsu manusia mendorong utk ingin mengetahui lebih dan lebih, dan akhirnya ingin memiliki
Tadzkirah yang sangat berharga
Jazakallahu khairan akh…
hihihihi..kirain ahli kunci itu yg doyan bawa2 gembok kemana2 hehehe
…ya ya ya..betul sekali….nice post eniwei.. 
klau noki kena borgol polisi, cukup dengan frame kacamata udah lolos.
pake kunci maya dengan baja…
ceritanya bagus banget
Afwan, Bung Agam, saya kurang sependapat jika kita harus menjadi manusia profesional. Pasalnya, seorang profesional bekerja atas dasar apa yang dibayar. contoh, si “A” adalah pembunuh profresional (bayaran) mendapat perintah dari si “B” untuk membunuh si “C”, kemudian didatangilah si “C”, kemudian si “C” bertanya kepada si “A” siapa yang menyuruh kamu, sekarang aku bayar 2 kali lipatnya. Tentu saja sebagai seorang pembunuh profesional ia ambil tawaran (uangnya) si “C” tapi tentunya ia laksanakan pesanan si “B” untuk membunuh si “C” juga ia kembali ke si “B” kemudian membunuhnya sesuai dengan pesanan si “C”.
Atau contoh lain, sering kita dengar berita di televisi ketika seorang artis beradegan yang tidak sesuai dengan moral & etika (pornoaksi) para artis selalu berlindung di balik kata “Profesional” tuntutan skenario lah, dan sebagainya. Itu betul, mereka bekerja sesuai dengan apa yang dibayarnya. Justru jika si artis itu tidak mengikuti tuntutan skenario untuk melakukan pornoaksi, ia telah berbuat tidak profesional, ia telah melanggar “moral etika profesional”. Kita tidak bisa menyalahkan para artis tersebut yang berkomentar demikian.
Saya lebih sependapat jika kalimat “Moral etika professional harus dijunjung tinggi” sebagai kata lain dari “manusia yang profesional” diganti dengan manusia yang bekerja dengan nilai-nilai “profesionalisme”. Profesionalisme adalah sifat yang dinisbatkan kepada cara bekerja yang profesional.
Sebagai seorang muslim, dalam konteks keduniaan, ketika kita melakukan atau mengerjakan sesuatu tidak harus melulu diukur dengan nilai bayaran dan ini bertentangan dengan istilah profesional yang segala sesuatu mutlak diukur dengan nilai imbalan. Namun, ketika kita bekerja mutlak memiliki nilai-nilai profesionalisme [kata -isme- adalah paham atau nilai-nilai] agar yang kita kerjakan sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) atau ekspektasi.
Syukron. Mudah-mudahan bermanfaat. maaf kepanjangan.
seandainya kode pembuka itu lupa dikemudoian hari bagaimana cara membuka nya